Home » Book Reviews » 3 star review » The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick

The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick

hugo cabret

Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di Stasiun Kota Paris pada tahun 1930an. Ia bekerja memutar dan merawat kedua puluh tujuh jam yang ada di stasiun itu tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa dialah yang melakukannya. Sebelumnya, Hugo tinggal bersama ayahnya, seorang pembuat jam yang bekerja paruh waktu di sebuah museum tua. Suatu ketika ayah Hugo menemukan barang langka, mesin paling rumit dan paling indah yang pernah dilihatnya—sebuah automaton yang rusak. Automaton itu berbentuk seperti manusia berukuran kecil yang sedang duduk sementara tangannya di atas meja, siap menulis. Ya, automaton yang menakjubkan itu bisa menulis! Malangnya, ayah Hugo meninggal dalam kebakaran museum tua itu, dan meninggalkan Hugo dalam pengawasan saudaranya, Paman Claude. Dari Paman Claude-lah Hugo belajar merawat semua jam di stasiun, dan ketika Paman Claude menghilang Hugo-lah yang melanjutkan pekerjaannya.

Walaupun ayahnya telah tiada, Hugo bertekad memperbaiki automaton itu dengan dengan bermodalkan buku catatan kecil peninggalan sang ayah. Entah bagaimana, ia merasa bahwa si automaton akan menuliskan pesan yang berasal dari ayahnya, jika benda itu sudah diperbaiki. Demi memperbaiki si automaton, Hugo pun mencuri bagian-bagian kecil mesin dari toko mainan milik seorang pria tua bernama Georges di stasiun. Pada suatu hari aksinya ketahuan, dan si pria tua membawa buku catatan kecil milik Hugo dan mengancam akan membakarnya. Hugo mengikuti pria tua itu sampai ke rumahnya, dan bertemu dengan Isabelle, anak baptis si pria tua. Isabelle berjanji untuk mencari buku catatan itu dan memastikan bahwa Papa Georges (alias si pria tua) tidak membakarnya. Dari sanalah Hugo dan Isabelle menjadi sahabat, dan bersama-sama mereka menemukan siapakah sesungguhnya Papa Georges, apa sebenarnya pesan yang disimpan oleh automaton itu dan hubungannya dengan ayah Hugo dan juga Papa Georges. Mereka berdualah yang membuka kunci sebuah rahasia yang tersimpan rapat selama bertahun-tahun…

***

Yang membuat buku ini istimewa tentu saja adalah ilustrasi-ilustrasi karya Brian Selznick yang memenuhi hampir seluruh buku. Goresan-goresannya begitu tajam dan nyata, dan begitu detail sehingga saya merasa bahwa sebagian pekerjaan sinematografer ketika mengadaptasi buku ini ke film sudah dikerjakan oleh Selznick. Keistimewaan yang kedua adalah, buku ini merupakan cara yang sangat bagus untuk memperkenalkan sosok yang sudah lama terlupakan (dalam hal ini Georges Méliès yang merupakan salah satu filmmaker pertama dalam sejarah yang terkenal akan inovasi special effects-nya) khususnya kepada anak-anak. Untuk orang dewasa yang sudah mengetahui sejarah tentang Georges Méliès ataupun yang belum, buku ini juga bisa menjadi pengantar yang cukup menghibur. Untuk cerita maupun gaya penulisannya, bagi saya tidak terlalu istimewa. Dengan adanya banyak gambar, rasanya buku ini cocok untuk anak-anak berusia mulai tujuh tahun, lebih bagus kalau orang tua yang membacakannya dan membimbing sehingga anak tidak perlu pusing akan istilah-istilah mekanis dalam buku dan lebih berkonsentrasi pada ceritanya. Di bawah ini adalah foto beberapa ilustrasi di dalam buku ini:

20130131_200621

20130226_221510

Kalau boleh jujur, saya berpendapat bahwa adaptasi film dari buku ini yang diberi judul Hugo (rilis tahun 2011) lebih bagus daripada bukunya. Walaupun filmnya agak berbeda dengan buku di banyak bagian, misalnya hubungan Hugo dan Isabelle lebih “rukun” di film daripada di buku, karakter Polisi Stasiun di film (diperankan oleh Sacha Baron Cohen) digambarkan lebih lucu dan komikal dan bahkan ada porsi romancenya sedikit, dan juga aura filmnya cenderung lebih ceria sedangkan bukunya lebih gloomy. Film Hugo diisi oleh sederet cast yang mengesankan: aktor kawakan pemenang Oscar Ben Kingsley sebagai Georges Méliès, Jude Law sebagai ayah Hugo, Asa Butterfield sebagai Hugo dan Chloe Grace Moretz sebagai Isabelle, Christopher Lee sebagai Monsieur Labisse, dan disutradarai oleh Martin Scorsese. Film ini adalah nomine Best Motion Picture of the Year Academy Awards tahun 2012, dan menang dalam beberapa kategori, yaitu Best Art Direction, Best Cinematography, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, dan Best Visual Effects. (sumber: IMDb)

Back to the book. After all, I think this book is an amazing way to relive the past, and to give a tribute for someone who shouldn’t be forgotten, someone like Georges Méliès.

Memorable Quotes

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” – Hugo, halaman 388

“Kalau kamu bertanya-tanya dari mana asal mimpi-mimpimu ketika kamu tidur pada malam hari, lihat saja di sekitar sini. Di tempat inilah mimpi-mimpi itu dibuat.” — Georges Méliès, halaman 397

20130226_223946

Lebih banyak tentang Georges Méliès – Wikipedia

***

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2013 tema buku yang adaptasi filmnya masuk nominasi/memenangkan piala Oscar

5th review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 4th review for New Authors Reading Challenge 2013 | 2nd review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Books in France 2013 Reading Challenge | 1st review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction

Detail buku:

The Invention of Hugo Cabret, oleh Brian Selznick
544 halaman, diterbitkan Januari 2012 oleh Mizan Fantasi (pertama kali diterbitkan tahun 2007)
My rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

20 thoughts on “The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick

  1. Sebelumnya, ngga kena siapa tuh Georges Mellies. Malah muridku ngira buku ini a true story of Georges Mellies, karena sosoknya memang ada. Ih, malu aku, gurunya malah ngga ngarti tu Mellies hahaha

  2. Pingback: Books on France 2013 Reading Challenge | Surgabukuku

  3. Pingback: Wrap-Up of Reading Challenges 2013 | Surgabukuku

  4. Kemarin pas ada Kalimantan Selatan Book Fair 2014 langsung masuk ke stand-nya Mizan dan nyelonong sampai rak-rak paling bawah buat nyari buku ini, tapi ternyata enggak ada dan malah ketemu sama Delirium. Padahal sebenarnya kepengin banget sama buku ini. Awal tahu buku ini dari sepupunya Tante yang “dipinjami” temannya beberapa novel fantasi, tetapi hanya bisa menyelesaikan satu bacaan, yaitu buku ini: The Invention Of Hugo Carbet. Saking sukanya sama buku ini, dia minta tolong sama Tante saya kalau nanti misalnya nemu buku minta dikabarin dan yaaaaa Tante saya nemu buku ini. Nah, dari situ Tante cerita-cerita tentang buku ini. Katanya bagus dan pas banget sama saya (enggak tahu kenapa). Tapi, berhubung Tante saya tinggalnya di Jogja dan bukunya pun punya sepupunya, jadi saya berusaha keras untuk mendapatkan novel ini! Selain cerita dari Tante saya, saya juga iseng-iseng baca review-review tentang novel ini. Dan sebagian besar mengatakan jika novel ini bagus.

    Saya sering nonton trailer filmnya, tapi enggak pernah nonton filmnya. Kata Mamah nontonnya nanti aja, barengan sama Tante. Tapi karena Tante saya enggak jadi pulang ke Banjarmasin dan VCD film ini hilang, akhirnya enggak jadi nonton. Hahaha, tragis banget. Tapi tetap, saya kepengin banget punya novel ini, meski pun sudah enggak ada lagi di tokbuk. :((

  5. Udah beli beberapa kali tapi buat hadiah giveaway >.<
    Padahal harusnya disisain dulu ya barang sebiji buat sendiri. Aku pengen baca karena filmnya sukses bikin aku berderai derai air mata…..

  6. saya sering banget denger nama Brian Selznick, mulai dari bukunya yang ini sampe buku terbarunya, Wonderstruck. Tapi saya yang (ngakunya) booklover belum pernah sama sekali baca karya mas Brian 😦
    Saya justru udah nonton film Hugo, tapi baru setengah film entah kenapa rasanya bosan, apa mungkin karena blm pernah baca bukunya jadi enggak mudeng alur ceritanya ya? heheh ._. *booklover plolor* padahal dari komen2 di atas dan dari review kak melisa filmnya lebih bagus dari bukunya :O berarti yg salah saya dong ._.a
    makanya saya berharap kalo suatu saat kesampaian cita-cita baca buku ini, semoga bukunya lebih mudah dimengerti dan (saya berharap) lebih bagus daripada filmnya, dan semoga saya bisa segera menyelesaikan nonton film Hugo yang masih tertunda sampai sekarang 😀

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s