Home » Ini dan Itu » Artikel Buku » Perjalanan Waktu Sang Buku

Perjalanan Waktu Sang Buku

Tulisan ini saya buat beberapa waktu yang lalu untuk mengikuti kuis di blog mbak Truly Rudiono. Walaupun nggak menang, saya tetap ingin share tulisan ini di blog, karena… this is what I feel about how will books and libraries be in the future.

Aku bermimpi kembali ke abad ke-15 di mana Johannes Gutenberg hidup, dan menyelamati beliau karena telah membuat buku tersedia bagi semua orang. Sungguh, inilah ledakan ilmu pengetahuan!

Ah, seandainya beliau tahu apa yang terjadi 6 abad kemudian. Beliau takkan pernah mengira bahwa akan tercipta suatu teknologi baru yang memungkinkan sebuah buku tidak memiliki wujud. Manusia menganggap teknologi ini sebagai upaya pelestarian alam, solusi atas berbagai kendala penyimpanan buku: ruang, debu, rayap, waktu.

Aku membayangkan, dengan agak ngeri, suatu hari di mana semua buku yang ada di dunia telah didigitalisasi, dan buku cetak menjadi barang langka.

Aku membayangkan perpustakaan di masa depan tidak lagi berisi rak-rak penuh buku, yang bisa kusentuh, kucium aromanya, dan kunikmati warna-warni sampulnya. Bahkan mungkin semua orang akan membawa perpustakaan dalam genggaman masing-masing sehingga mereka tidak perlu lagi mengunjungi perpustakaan.

Akupun berseru dalam hatiku: aku rindu… aku rindu…

*sebelumnya dipublish di Notes Facebook

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Waktu Sang Buku

  1. aku kalo ngebayangin masa depan buku seperti itu, rasanya sedih banget…aku sampai sekarang masih tidak berhasil memaksa diri untuk menyukai kindle dsb..ebook..dsb…buku cetak tetap favoritku..rasanya memang bakal sangat rindu jika masa depan buku cetak benar-benar digantikan oleh teknologi..

  2. Memang begitu mbak perkembangan zaman. Berhubung saya alergi debu, n aroma buku bukan bau favorit saya, saya (pribadi, lho ya) nggak terlalu ambil pusing jika suatu hari nanti buku kertas jadi barang langka.

    Ibarat naik mobil dan kereta kuda. Toh jaman sekarang nggak ada lagi yang mau duduk dibelakang (maaf) “bagian belakang kuda”, betapa pun romantisnya.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s