Home » Authors » Irving Stone » Scene on Three #2: Lust for Life

Scene on Three #2: Lust for Life

Jeroen Huijbregts – Rembrandt van Gogh (2013). Image source

Jeroen Huijbregts – Rembrandt van Gogh (2013). Image source

“Apa yang dipikirkan dunia tidak banyak bedanya. Rembrandt harus melukis. Apakah dia melukis dengan baik atau jelek, tidak jadi soal baginya; melukis adalah sarana yang membuatnya menjadi seorang manusia yang utuh. Nilai utama seni, Vincent, terletak pada ekspresi yang diberikannya kepada pelukis. Rembrandt memenuhi apa yang dia ketahui menjadi tujuan hidupnya; itu yang menjadi pembenar baginya. Bahkan kalau karyanya tidak dihargai, dia ribuan kali lebih sukses daripada kalau dia meninggalkan keinginannya dan menjadi pedagang kaya di Amsterdam.”

“Aku mengerti.”

“Kenyataan bahwa karya Rembrandt memberikan kebahagiaan bagi dunia saat ini,” lanjut Mendes, seakan-akan mengikuti jalan berpikirnya sendiri, “sama sekali tak dapat diduga. Kehidupannya sempurna dan sukses ketika dia meninggal, walaupun dia diburu-buru hingga ke kuburannya sendiri. Kisah kehidupannya selesai saat itu, dan itu adalah buku yang ditulis dengan indah. Kualitas ketekunan dan kesetiaannya pada idenya itulah yang terpenting, bukan kualitas karyanya.

Adegan ini diambil dari novel Lust for Life karangan Irving Stone, yang menceritakan kisah kehidupan Vincent Van Gogh. Ini merupakan curahan kebijaksanaan yang diterima Vincent Van Gogh dari Mendes da Costa, kepada siapa Vincent belajar aljabar, bahasa Latin dan Yunani. Saat itu Van Gogh muda masih belum menemukan jati dirinya atau jalan hidupnya, meskipun sedari awal ia sudah menunjukkan minat terhadap seni lukis. Mendes mendorong Vincent untuk memilih jalan hidup sesuai dengan kata hatinya, dan bukan hanya itu, ia juga meyakinkan Vincent bahwa ia akan berhasil dalam apapun yang ia kerjakan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa hidupmu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.”

Ah, seandainya semua guru di dunia ini sebijak dan sama suportifnya seperti Mijnheer da Costa! Ia tidak hanya menurunkan ilmu akademis kepada muridnya, tapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Melalui penggalan singkat dalam novel Lust for Life ini saya jadi semakin memahami, bahwa penting bagi seorang manusia untuk menemukan panggilan hidupnya, dan ketika ia sudah menemukannya, maka selanjutnya ia harus mengerahkan segenap kekuatannya untuk mengerjakan hal itu. Dalam kata-kata yang lebih singkat dan populer:

DO YOUR BEST, AND LET GOD DO THE REST

PROCESS > RESULT

Kadang-kadang kita merasa bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan tidak membuahkan hasil yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan kita. Ingatlah, proses mengerjakannya sebenarnya lebih penting daripada hasil akhir. Di dalam proses tersebut kita mencoba, melakukan kesalahan, bahkan mungkin gagal, namun kita BELAJAR. Dalam suatu perjalanan, bukankah prosesnya yang kita nikmati, bukan saat di mana kita sampai di tujuan akhir?

***

sceneonthree

What’s your Scene on Three this Friday the 13th? 😉 Simak cara mengikuti meme ini sebagai berikut:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).
Advertisements

6 thoughts on “Scene on Three #2: Lust for Life

  1. aahhh.. gua sukaa pilihan ‘scene’-nyaa.. dan ngga hanya ituu, gua juga sukaa alasan di balik pemilihan nih scene ^o^ jadi bertanya2, apa yaa panggilan hidup gua? 🙂

  2. Sering manusia terjebak stereotipe, terjebak kata orang; mungkin orang2 sukses itu pada suatu titik mendapatkan pencerahan seperti scene di atas itu ya

  3. Ahh….jadi pengen re-read buku ini!
    Dan memang, banyak pelukis/penulis/penyanyi, apapun lah yang ketika hidup dan berkarya malah dicemooh, tapi setelah meninggal malah tenar. Kalau kita cuma berpatokan pada suka/tidaknya dunia pada karya kita, akhirnya kita akan jadi budak pasar. Kita harus berani menjadi diri sendiri, karena seperti kata da Costa, prosesnya lah yg memberi makna pada karya kita.

  4. Pingback: Review: Lust for Life, by Irving Stone | Surgabukuku

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s