Home » Book Reviews » 4 star review » Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

sktla

Masyarakat modern pada umumnya sudah terjebak dalam pola hidup yang sibuk, serba tergesa-gesa, dan mobilitas tinggi. Semua orang larut dalam peran sebagai “aktor” dalam kehidupan masing-masing. Hampir tak ada waktu untuk berhenti sejenak untuk sekedar menjadi “penonton” atau “pengamat.” Kumpulan cerita pendek bertajuk “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” (SKTLA) ditulis oleh Maggie Tiojakin setelah melakukan riset yang intens, dengan kata lain beliau mengamati kehidupan manusia dan mencatat detail-detail kecil yang sering terlewatkan oleh kita yang sibuk. Melalui SKTLA, Maggie menuturkan kembali pengalaman-pengalaman yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan satu bumbu istimewa: absurditas. Yang dimaksud dengan absurditas adalah hal-hal yang tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Lantas apa hubungan absurditas dengan pengalaman hidup sehari-hari? Bagi Maggie, semua tentang kehidupan adalah hal yang absurd (hal. 237).

Beberapa judul cerita yang berlatar belakang kehidupan sehari-hari dalam buku ini menyoroti pergumulan hubungan suami-istri. Misalnya dalam cerita Kota Abu-Abu (hal. 64), penulis membenturkan ide tentang comfort zone dengan komitmen sepasang suami-istri, Remos dan Greta, untuk terus hidup bersama. Dalam cerita lainnya, Dia, Pemberani (hal. 138), seorang istri bernama Zaleb terpaksa mengalah dan menuruti kehendak Masaai, sang suami, yang candu terhadap olahraga ekstrim. Sampai pada akhirnya harus ada konsekuensi yang dituai dari aktivitas sarat tantangan yang dilakoni Masaai. Ada juga cerita Tak Ada Badai di Taman Eden (hal. 1) yang mengisahkan konflik batin yang dialami Barney dan Anouk, yang telah mengalami satu peristiwa yang menyebabkan mereka tak lagi sehati sebagai suami-istri. Kemudian ada satu cerita kehidupan sehari-hari yang lebih bersifat individual. Cerita yang seakan-akan memindai pikiran seorang karyawan saat ia sedang mengikuti meeting adalah Jam Kerja (hal. 182). Bayangkan pikiran kita yang melanglang kemana-mana setiap harinya. Kemudian bayangkan bahwa pikiran-pikiran kita “ditelanjangi” dan dituangkan dalam kertas dengan sedemikian jujurnya sampai kita merasa malu membacanya.

Cerita-cerita lainnya menyuguhkan situasi yang tidak biasa, yaitu bencana alam, peperangan dan pembunuhan. Batasan kabur antara yang nyata dan yang khayal menjadi daya tarik cerita Lompat Indah (hal. 28). Ahi, seorang pemuda yang terperangkap banjir di atas genteng rumah, menganggap air yang terus naik adalah tangan-tangan ramah yang siap memeluknya. Sementara cerita dies irae, dies illa (hal. 71), memotret gambaran getir pengalaman penduduk sipil dalam kecamuk peperangan. Kengerian dan depresi dalam masa peperangan juga dapat dirasakan pembaca melalui cerita Kristallnacht (hal. 10), yang disajikan dalam bentuk wawancara dengan seseorang yang mengalami langsung peristiwa penyerangan besar-besaran kepada warga Yahudi di Jerman pada tahun 1938. Cerita berjudul Saksi Mata (hal. 92) juga menarik karena menyorot sungguh fatalnya sikap ketidakpedulian manusia.

Masih ada enam cerita absurd lainnya yang lebih membuat geleng-geleng karena tidak bisa diterima akal sehat. Misalnya Fatima (hal. 41) dan Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (hal. 188). Serta lima cerita bonus dalam bahasa Inggris yang diselipkan penulis selayaknya bonus track dalam album musik. Beberapa cerita pendek dalam SKTLA telah diterbitkan dalam majalah/jurnal antara lain Every Day Fiction, Kompas, Postcard Shorts, dan Writers’ Journal.

Mungkin cerita-cerita pendek dalam buku ini hampir sama absurd atau anehnya dengan, katakanlah, cerita-cerita pendek yang biasanya dimuat di koran atau majalah. Namun SKTLA tetaplah salah satu bukti kepiawaian menulis seorang Maggie Tiojakin dalam menyajikan cerita (pendek) yang kaya detail, emosional, dan dalam beberapa cerita penuh aksi. Setiap cerita dalam buku ini membawa rasa yang berbeda-beda, dan masing-masing menyisakan pertanyaan, yang kalau bukan retrospektif, ya kontemplatif. Seperti yang disampaikan Maggie dalam halaman Tentang SKTLA di akhir buku, tugas beliau adalah bukan untuk menginspirasi, melainkan bertanya. Pada akhirnya Maggie memberi ruang untuk imajinasi pembaca dengan akhir cerita yang menggantung dan tidak tuntas.

Tentang Pengarang
Maggie Tiojakin adalah seorang penulis sekaligus jurnalis yang tulisannya telah dimuat di banyak media lokal maupun internasional. Beberapa karyanya sebagai penulis antara lain kumpulan cerpen Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010, Gramedia Pustaka Utama), serta novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011, Gramedia Pustaka Utama). Selain itu Maggie juga menerjemahkan banyak karya sastra ke dalam bahasa Indonesia, antara lain kumpulan cerita pendek klasik karya Edgar Allan Poe dan Rudyard Kipling (keduanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama). Kecintaannya terhadap cerita pendek klasik jugalah yang mendorong Maggie untuk menerjemahkan banyak cerita pendek klasik mancanegara yang dapat diakses secara gratis dalam situs Fiksi Lotus (www.fiksilotus.com).

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Detail buku:

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Cerita-Cerita Absurd, oleh Maggie Tiojakin
241 halaman, diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

21 thoughts on “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

  1. Iya buku ini beda dengan kumpulan cerita biasanya, walau cerpen tapi kedalaman ceritanya benar-benar membuat kita tersesat di dalamnya. Hebat ya Maggie 🙂

    Reviewnya bagus, Mel!

  2. kalau aku baca cerpen2nya Maggie aku koq merasa seperti baca cerpen yg ditulis oleh orang asing ya? beda dengan cerpen2 penulis lokal, padahal maggie kan penulis lokal. Apa yang membedakannya? nah itu yang susah kuungkapkan 🙂

    • Baru beli bukunya tapi belum dibaca 🙂

      Kalau menurutku, ini karena Maggie sering menulis dan mempublikasikan cerpen-cerpennya di media luar. (Mungkin) Maggie juga besar atau pernah tinggal di sana. Kualitas karyanya pun luar biasa, dengan standar penulis luar pula.

  3. Ketika pertama kali membaca review buku ini, ada keinginan untuk segara membeli buku. Saya sennag membaca buku, terlebih kumpulan cerpen yang ditulis dengan ragam cerita yang tidak sama dalam satu buku. Dan dalam buku Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa karya Meggie menjadi buku yang menceritakan sesuatu yang beda. Tentang ke absurdan, yang katanya dikemas dengan sederhana namun penuh emosi dan aksi. Tetu, saya ingin menikmatinya dan segara melahapnya dalam sekali baca.

  4. reviewnya keren, jadi pengen baca buku ini. dari sudut pandang ku, covernya itu punya nilai seni yang sangat tinggi. selain itu, buku ini adalah buku bergenre adventure yang beda banget!! jujur saya belum pernah baca satupun buku tentang luar angkasa. pengen tahu seperti apa RASA luar angkasa ala meggie ini. s

  5. kenal pertama kali karya maggie karena baca fiksi lotus. nah temanku juga pernah mengisi fiksi lotus. Idenya enggak umum, tapi bikin asik baca dan memang berbeda.. 🙂

  6. Saya ingin buku ini karena butuh bacaan yang unik.. Review ini dan review lain di goodreads bikin saya makin pingin baca buku ini 🙂 Saya ingin tersesat di dunia kumpulan cerita absurd ini 😉

  7. Jujur, saya suka hal-hal yang berbau aneh. Saya lebih suka menyebutnya unik, sesuatu yang ngga biasa (luar biasa). Menurut saya, orang-orang unik itu, dia sangat kreatif. Dia ngga mau melakukan hal-hal yang biasa seperti orang lain sudah lakukan. Dia mencari hal yang ngga biasa buat orang lain. Tapi, sepertinya orang-orang unik itu melakukan hal-hal tersebut tidak sengaja, alami dengan sendirinya.
    Tapi, saya hanya suka hal aneh yang positif. Kalau aneh yang negatif sih, saya ngga suka. Aneh positif misalnya seperti seorang remaja lebih suka baca buku sendirian di kamar seharian, dari pada ikut ibunya ke mall. Tapi, segila apapun saya dengan buku, sampai saat ini, saya lebih memilih untuk ikut ibu ke mall. Hehehehe… Karena saya juga ngga berani sendirian di rumah. Entah kenapa…
    Dan, saya juga anti banget sama kejadian-kejadian yang berbau mistis, yang ujung-ujungnya horor. Karena, saya fobia horor akut. Sampai saat ini, saya ngga pernah nonton film atau baca novel berbau horor. Meski, pernah lihat sebentar pas teman atau keluarga lagi nonton. Tapi, setelah itu, langsung pergi. Hehehehe…
    Dan intinya, saya suka novel yang ceritanya agak aneh dan absurd kalau dibaca. Seperti waktu habis baca novel Perahu Kertas, Kugy si tokoh utama suka nulis surat, dibentuk perahu kertas, lalu dikirim ke Neptunus. Setelah itu, saya sampai saat ini terkontaminasi novel itu, dan sering kirim surat buat Neptunus.
    Jadi, karena saya suka hal-hal aneh, saya jadi kepingin baca buku ini yang katanya aneh dan absurd. Jadi penasaran banget pengin baca… Hehehe
    Maaf ya kak, kalau comment-nya kebanyakan.

  8. Jujur, saya suka hal-hal yang berbau aneh. Saya lebih suka menyebutnya unik, sesuatu yang ngga biasa (luar biasa). Menurut saya, orang-orang unik itu, dia sangat kretif. Dia ngga mau melakukan hal-hal yang biasa seperti orang lain sudah lakukan. Dia mencari hal yang ngga biasa buat orang lain. Tapi, sepertinya orang-orang unik itu melakukan hal-hal tersebut tidak sengaja, alami dengan sendirinya.
    Tapi, saya hanya suka hal aneh yang positif. Kalau aneh yang negatif, saya ngga suka. Aneh positif itu misalnya seperti seorang remaja lebih suka baca buku sendirian di kamar seharian, daripada ikut ibunya ke mall. Tapi, segila apapun saya dengan buku, sampai saat ini, saya lebih memilih untuk ikut ibu ke mall. Hehehee… Sampai sekarang pun, saya belum menemukan remaja yang seperti itu. Malah, remaja-remaja sekarang lebih suka pacaran daripada baca buku. Kalau saya lebih suka baca buku, dong… Belum ada niat buat pacaran… Hehehehe
    Kalau aneh yang negatif itu seperti ngga ngerjain PR. Teman-temannya sibuk ngerjain PR, tapi satu orang pengin aneh sendirian dan ngga ngerjain PR. Ujung-ujungnya dimarahin guru. Itu kan negatif, dan perilaku yang tidak baik.
    Saya juga anti banget sama kejadian-kejadian aneh yang berbau mistis, dan ujung-ujungnya horor. Karena, saya fobia horor akut. Sampai saat ini, saya ngga pernah nonton film atau baca novel berbau horor. Meski, pernah lihat sebentar pas teman atau saudara lagi nonton. Tapi habis itu, langsung pergi. Hehehe
    Dan intinya, saya suka novel yang ceritanya aneh dan absurd tapi enak kalau dibaca. Seperti waktu baca novel Perahu Kertas karya Dewi Leatari, Kugy si tokoh utama suka nulis surat, dibentuk perahu kertas, lalu dikirim ke Neptunus si dewa laut. Setelah itu, saya sampai saat ini terkontaminasi novel itu, dan sering kirim surat buat Neptunus ke laut.
    Jadi, karena saya suka hal-hal aneh, saya kepingin baca buku ini yang katanya aneh dan absurd. Jadi penasaran banget pengin baca.. Hehehe
    Maaf ya kak, kalau comment-nya kebanyakan…

  9. Jujur aja nih kak ya, sebenernya tadi aku cuman mau milih asal salah satu review buat dikomen. Tapi, pas ngeliat list review, ada salah satu judul yang bikin aku penasaran, yaitu Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa. Kebetulan aku buka lewat hp, jadi ngga keliatan coverny. Awalnya aku kira covernya bakalan warna hitam gelap nan suram kayak luar angkasa gitu, ditambah aksen-aksen bintang dan meteor. Eh, ternyata, covernya lucu, dengan ilustrasi orang yang sepertinya emang lagi tersesat 😀 Saat aku baca review buku ini, aku jadi bertanya-tanya pada diriku. Aku absurd ngga sih? Nah dari itulah aku jadi pengen banget baca buku ini. Katanya buku ini membahas tentang ke-absurd-an kehidupan manusia yg mungkin ngga kita sadari, dari sini aku pengen tau, ada ngga hal-hal yang mirip dengan kisahku. Trus judul-judul cerita dalam buku ini juga ada yang aneh-yang aku ngga ngerti maksudnya-jadi aku pengen tau gimana sih ceritanya dan apa maksud judulnya. Sebenarnya dari sedikit penjelasan cerita dalam buku ini yang ada di atas, aku belum nemuin hal yang aneh atau absurd, jadi aku sempet berpikir, sebenarny absurdny dimana? hehe, trus muncul lagi pemikiran, mungkin kalo aku baca buku ini aku tau dimana absurdny 🙂 Setelah ngeliat rating 4 dari kakak, aku semakin ingin baca buku ini. Buku ini juga mau aku pake sebagai cermin tingkah laku 🙂 Oh ya, buku ini ngga ada buruknya ya kak? Dari awal sampai akhir, aku ngga nemuin keburukan buku ini (kecuali akhir yang gantung yg menurutku bukan keburukan hehe). Kalau bisa sih, dikasi juga tentang keburukan buku ini. Bukan untuk ngejelek-jelekin, tapi biar bisa sebagai bahan pertimbangan, hehe. Tapi, reviewnya bagus kok kak, dan setelah baca review ini, aku bener-bener pengen baca buku ini 😀

  10. Uniknya kumcer itu kita engga usah mulai dari halaman 1, kita bisa mulai dari cerita mana aja 😄

    Belum punya bukunya, dan kemaren-kemaren ada yg nawarin dengan harga miring. Nyari dulu reviewnya sebelum beli, dan nemu review ini 😄 Thanks ya, sekarang jadi siap beli 😀

  11. pertama kali kenal maggie tiojakin karena tulisan di fiksi lotus, beneran deh, pertama kali aku nggak paham betul sama cerita “Selama kita tersesat di luar angkasa” antara bingung kok ada kaptennya, apa ini di bawah alam sadar, atau ini emang fantasy. Perlu dicerna perlahan 😀

  12. teman saya pernah cerita ke saya kalau gaya bercerita Maggie Tiojakin itu memang sesuatu. dia bilang kalau itu bisa jadi dikarenakan beliau pernah tinggal di Amerika, dan pengalaman hidup di sana mempengaruhi beliau sehingga deskripsi yang dituangkan dalam ceritanya punya warna sendiri di antara buku-buku Indonesia. harus dibaca untuk menemukan sensasi baru.

    semoga suatu saat bisa beli biar gausah pinjam haha

  13. teman saya pernah cerita ke saya kalau gaya bercerita Maggie Tiojakin itu memang sesuatu. dia bilang kalau itu bisa jadi dikarenakan beliau pernah tinggal di Amerika, dan pengalaman hidup di sana mempengaruhi beliau sehingga deskripsi yang dituangkan dalam ceritanya punya warna sendiri di antara buku-buku Indonesia. harus dibaca untuk menemukan sensasi baru.

    semoga suatu saat bisa beli biar gausah pinjam 😀

  14. Awalnya aku melirik buku ini di salah satu obralan buku di salah satu mall, terus iseng beli karena–well–harganya murah. Tapi, aku malah menjualnya karena emang belum tahu tulisannya pengarang yang satu ini.

    Setelah baca ulasan Mbak Mel, aku jadi pengin baca. Semoga masih banyak di obralan ya! Doakan aku! 😀

    • Maggie keren kok, salah satu penulis Indonesia yang aku suka. Tapi ya gitu, emang tulisannya di buku ini absurd sih. Semoga dapet (lagi) dan semoga suka ya!

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s