Home » Book Reviews » 5 star review » Lust for Life – Irving Stone

Lust for Life – Irving Stone

lust-for-LIFE---smallSeberapa jauh engkau akan berlari demi mengejar panggilan hidup? Vincent Van Gogh (1853-1890) melalui proses yang panjang sebelum menyadari panggilan hidupnya yang sesungguhnya, dan berusaha sampai titik darah penghabisan demi panggilan hidupnya itu, yakni menjadi seorang pelukis. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk melukis, Van Gogh muda sempat menjadi seorang pramuniaga di galeri lukisan Goupil, yang dipimpin oleh pamannya. Namun bukannya menjadi pramuniaga yang baik yang mampu membujuk orang untuk membeli lukisan, Vincent malah dengan terang-terangan menyebut lukisan-lukisan tersebut jelek dan orang-orang yang membelinya sangat bodoh. Kegagalan menjadi seorang pramuniaga lukisan membawa Vincent kepada jalan hidup yang berikutnya, yaitu menjadi seorang pelayan Tuhan mengikuti jejak ayahnya. Vincent kemudian berkutat mempelajari bahasa Latin, bahasa Yunani, aljabar, dan tata bahasa dari seorang pria bernama Mendes da Costa. Beruntung bagi Vincent, Mijnheer da Costa merupakan seorang guru yang sangat bijaksana yang mampu menginspirasi muridnya sekaligus memberikan kebebasan bagi muridnya untuk memilih apa yang hendak ia lakukan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa dirimu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.” – hal. 53

Kata-kata Mendes membuka mata Vincent yang jengah terhadap pendidikan formal yang harus ditempuhnya sebagai pendeta, dan dengan begitu saja pergi kepada Komite Evangelis Belgia yang kemudian menugaskannya ke sebuah desa pertambangan bernama Borinage. Tempat itu dinamakan “desa hitam”, suatu tempat yang suram dan menyedihkan. Vincent mendapati bahwa yang dibutuhkan oleh para penambang yang kotor dan miskin di Borinage lebih daripada firman Tuhan adalah makanan dan pakaian yang layak, serta tempat tinggal yang hangat. Vincent akhirnya memberikan segala miliknya untuk penduduk Borinage, meski kemudian ia sendiri yang harus kelaparan, sakit dan kedinginan.

Menjelang akhir masa tinggalnya di Borinage, Vincent kembali menekuni aktivitas menggambar dan berkat dorongan dari adik terkasihnya, Theo, kali ini Vincent merasa sungguh-sungguh menemukan jati dirinya sebagai pelukis.

“Oh, Theo, selama berbulan-bulan aku berjuang untuk meraih sesuatu, mencoba untuk menggali semua tujuan yang nyata dan arti dari hidupku, dan aku tidak tahu ini! Tapi sekarang ketika aku benar-benar tahu, aku tidak akan patah semangat lagi. Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku.” – hal. 136

Perjalanan panjang kembali dilalui Vincent untuk membuktikan jati dirinya sebagai pelukis. Di Den Haag ia berguru pada Thomas Mauve yang adalah sepupunya sendiri, sementara berbagai pihak mengkritisi lukisannya terlalu kasar dan mentah. Di Paris kemudian Vincent memutuskan untuk mengubah gaya lukisannya menurut aliran impresionis yang memakai warna yang serba cerah dan goresan yang tajam. Semua ini dilaluinya dengan sokongan dana dari Theo. Pindah ke Arles yang panas menyengat, Vincent pun melukis, melukis, dan melukis, sampai-sampai ia menjadi seperti mesin lukis otomatis yang tidak dapat berhenti bekerja.

“Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya. Untuk kehidupan pribadi, dia tidak memilikinya. Dia hanyalah mesin lukis otomatis, buta dengan makanan, cairan, dan cat yang dituangkan setiap pagi, lalu pada malam harinya sebuah kanvas telah selesai dikerjakan. […] Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya. Dia dapat hidup tanpa istri, rumah, dan anak-anak; dia bisa hidup tanpa cinta, persahabatan, dan kesehatan; dia bisa hidup tanpa keamanan, kenyamanan, dan makanan; dia bahkan bisa hidup tanpa Tuhan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya—kekuatan dan kemampuan untuk mencipta.” – hal. 442

Di Arles-lah panggilan hidup Vincent sebagai seorang pelukis mulai menjadi pedang bermata dua. Mungkin ia telah mewujudkan apa yang Mendes da Costa pernah katakan, “pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu”, tapi di sisi lain ia telah bekerja melampaui batas sehingga pelan-pelan kewarasannya terkikis. Saat ia mendekam di rumah sakit jiwa di St. Remy-lah, untuk pertama kalinya Vincent mendengar kabar baik dari Theo: lukisannya yang diberi judul Ladang Anggur yang Merah (The Red Vineyard) terjual dengan harga empat ratus franc. Simak beberapa karya Van Gogh melalui video di bawah ini.

Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh dalam buku setebal 576 halaman ini, saya jadi semakin memahami bahwa hard work really pays off. Kerja keras pasti membuahkan hasil. Dari seorang Vincent Van Gogh saya belajar tentang keyakinan pada diri sendiri bahwa “jika saya merasa bisa melakukannya, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya melakukannya”, juga kegigihan dalam bekerja, dan saya memahami bahwa ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, kalau kita tidak mau menjadi seperti Vincent yang akhirnya “dikonsumsi” oleh pekerjaannya sendiri dan akhirnya kehilangan segala-galanya. Dari adik Vincent, Theo Van Gogh, saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Theo sangat mengasihi kakaknya sehingga ia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menyokong kakaknya, dan bukan hanya itu, Theo tidak menjauhi kakaknya ketika ia mulai sakit mental dan selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara bagi Vincent. Bagi kisah luar biasa yang mengubah cara pandang saya mengenai panggilan hidup dan kasih sayang terhadap sesama ini, saya menghadiahkan lima bintang.

N.B.: buku ini saya baca pada tahun 2013 dan masuk dalam 3 kategori Book Kaleidoscope 2013:

Baca juga: meme Scene on Three yang menggunakan salah satu adegan dalam buku ini.


Detail buku:

Lust for Life, oleh Irving Stone. Penerjemah: Rahmani Astuti, Copy-editor: Anton Kurnia
576 halaman, diterbitkan 2012 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

13 thoughts on “Lust for Life – Irving Stone

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2013: Top 5 Favorite Books | Surgabukuku

  2. Sekilas baca ada kata “pelukis” nya saya langsung tertarik, entah kenapa dari dulu saya selalu kagum sama para pelukis karena mereka bisa melahirkan suatu karya yang luar biasa dan menjalankan apa yang menjadi keinginan hati mereka sendiri walau dengan segala pro dan kontra yang terjadi. Karena menjadi seorang pelukis kadangkala dianggap sebagai profesi yang masih dianggap sebelah mata karena tidak menjanjikan.

    Semakin saya baca review mbak mel ternyata ini tentang kisah hidup seorang pelukis ya.. Jujur saya nggak begitu tahu banyak soal dunia melukis (pelukis, lukisan, dsb) dan saya juga baru tahu dan baru dengar nama Van Gogh. Hanya saja, dari review ini saya seperti menemukan sisi lain dari sekedar buku tentang biografi, maksudnya ada hal-hal yang mungkin nggak saya tahu tentang pencarian jati diri juga cinta kasih kepada sesama yang diselipkan dalam buku ini. Dan agaknya kisah Van Gogh ini sebegitu miris, tergambar dari kalimat ini yang mbak mel tuliskan :

    “Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.”

    saya jadi penasaran pengen baca. Tertarik pengen masuk lebih jauh dalam kisah hidupnya Vincent Van Gogh, merasakan bagaimana perjuangan dan hidupnya yang getir :’))
    Oh iya cover buku ini juga menarik yang menjadi nilai tambah ketertarikan saya terhadap buku ini 😀

  3. tidak semua orang menemukan jalan yang mulus dalam pencarian jati dirinya. terkadang dibutuhkan waktu yang lama untuk menemukannya. kutipan kata2 yang diambil m’mel dalam review ini sangat menginspirasi terutama yg kutipan dari Mijnheer da Costa. intinya pengen banget baca buku ini utk mengambil pelajaran dari kisahnya van gohn ini apalagi kalau di dalamnya juga ada foto2 lukisan dari Van Gogh. pasti keren banget deh. mudah2an menang GA nya m’melmarian ini

  4. Apa ada yang lebih mengharukan daripada perjalanan Vincent Van Goh ini? Terus gimana rasanya kalau kita akan dihargai tapi setelah kita mati? Sumpah, membaca reviewnya, saya akhirnya melihat diri sendiri. Perjuangannya benar-benar menginspirasi. Saya sendiri ingin menjadi penulis dan sampai detik ini hanya tau enak mengkhayalkannya saja. Saya jadi ingin baca buku ini lebih dari apa pun. Bukan untuk gaya-gayaan. Tapi benar, mencari jati diri!! Siapa tahu saya bisa berjuang lebih keras selama dan setelah membaca bukunya. Bahkan saya memulainya perjuangan saya, saat ini juga. Setelah membaca reviewnya. Lebay ya.. Up to you. Toh,hati dan efek membaca, cuma saya dan tuhan yang tahu. Trims, surgabuku untuk reviewnya yang menginspirasi….. Pasha!!!

  5. Pas pertama kali lihat judul novel dan covernya,dalam hati langsung teriak “Aku mau baca ini !”.
    Dari reviewnya aja udah dapet banget kesan seru novel ini.Tapi sayangnya aku masih belum punya nih buku.Aku pengen banget baca kisah hidup Van Gogh yang meyakini bahwa melukis adalah panggilan hidupnya.Mungkin dari situ aku bisa dapat pelajaran berharga bahwa sekalipun kita dikucilkan dan menderita sepanjang hidupnya,namun tak pernah berpaling dari apa yang menjadi jiwanya.

  6. Saya selalu suka baca biografi dari tokoh2 besar baik nasional maupun dunia kalau dibalut dengan kemasan yang seperti bercerita. Soalnya kalo dibuat terlalu formal kesannya terlalu serius dan saya sudah terlalu serius untuk terus membaca tulisan-tulisan serius. He..he..

    Hm..saya jadi tertarik untuk baca buku ini.
    baiklah mungkin akan saya cari buku ini di toko buku segera setelah timbunan saya berkurang 10 dan review baru saya nyampe 10. Ha..ha.. (^_^)v

  7. perasaan dan pengalaman hidup Van Gogh yang tertulis dalam review ini sebagian besarnya sangat mirip dengan yang saya alami belakangan ini baik di rumah atau di tempat umum.jadi timbul perasaan kagum pada Van Gogh yang tetap menghadapi hidupnya dan menjalani hidupnya dengan teguh membuat saya jadi pengen banget baca buku ini buat mempelajari perjuangan dan kegagalan Van Gogh selama hidupnya,badai besar yang menerpanya tetep nggak menjatuhkan semangat dan pandangannya dalam mencapai apa yang selama ini diinginkan dan memang dikejarnya tanpa putus asa,hingga setelah kematiannya baru beliau meraih apa yang selama ini diperjuangkan dan dikejarnya hingga mengorbankan masa-masa hidupnya.dari review saya percaya bahwa buku ini memang menjadi topangan besar dan pelajaran berarti bagi manusia yang mengalami besar dan lebarnya rintangan serta cobaan dalam hidup yang menghambat semangat manusia dan bahkan bisa mendesak agar manusia mengakhiri hidupnya,beliau telah mengubah pandangan setiap orang dan mengajarkan ketegaran menghadapi semua yang melumpuhkan semangat dan kebahagiaan banyak orang.ini pikiran dan perasaan saya yang timbul saat membaca review ini dan menumbuhkan keinginan saya buat baca buku ini 🙂

  8. Saya suka membaca biografi orang-orang terkenal. Dari perjalanan hidup mereka kita bisa tahu bahwa apa yang mereka capai itu melalui proses panjang dan kerja keras. Apalagi Pakdhe Van Gogh ini kan terkenal banget yak, pasti asik membaca kisahnya. Seniman gitu lo, ada bau2 nyentriknya juga hehe.

  9. Apa dibuku ini ditulis keterangan sumber ceritanya dari mana? Maksudku, ini kisah nyata kan apa tertulis sumbernya dari diary, saksi hidup dll

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s