Home » Book Reviews » 3 star review » The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

beekeeperMary Russell baru berusia lima belas tahun ketika ia bertemu dengan Sherlock Holmes untuk pertama kalinya. Dalam suatu pertemuan tanpa sengaja itu Holmes menyadari bahwa ia menemukan “permata yang terpendam”, yakni kecerdasan yang luar biasa yang tak disangkanya bisa ia temukan dalam diri seorang gadis muda. Saat itu Holmes yang sudah pensiun dan sudah memasuki usia paruh baya itu menyibukkan dirinya dengan beternak lebah. Tidak butuh waktu lama bagi Holmes untuk merekrut Mary sebagai muridnya. Mereka mulai bekerjasama dalam menangani berbagai kasus. Kasus yang pertama adalah suami seorang wanita yang tiba-tiba sakit secara mencurigakan, kemudian kasus penculikan seorang putri senator Amerika, dan yang terakhir teror bom yang mengancam nyawa Holmes, Russell, dan juga kawan-kawan dekat Holmes seperti Dr. Watson, Mrs. Hudson, dan juga Mycroft Holmes sehingga mereka harus berpencar ke segala arah demi mengatur strategi menghadapi musuh yang pintar dan licin ini.

[Spoiler Alert!]

Sebagai sebuah novel detektif, buku ini cukup menghibur. Dalam beberapa peristiwa pembaca dapat merasakan simpati yang dalam terhadap karakter Mary Russell yang kehilangan kedua orang tua dan adiknya melalui peristiwa yang sangat mengerikan dan memilukan, dan juga terhadap Sherlock Holmes, yang betapapun brilian otaknya, tetap seorang manusia yang tidak luput dari masa penuaan.

Bagi saya, ide mempertemukan sesosok tokoh detektif selevel Sherlock Holmes yang sudah mencapai usia senior (sekitar 60 tahun) dengan seorang gadis muda pintar yang kemudian menjadi murid dan selanjutnya partnernya—adalah sungguh-sungguh absurd. Namun, event Laurie R. King Read-A-Long yang dihost oleh Fanda bulan lalu membuat saya tertarik untuk membaca buku ini, dan mungkin juga karena faktor covernya yang merah dan mewah.

Dari beberapa novel yang mengambil era Regency (misalnya novel-novel Austen) dan era Victoria, memang pernikahan yang terjadi antara seorang gadis muda dan seorang lelaki yang lebih tua berpuluh-puluh tahun darinya sering terjadi dan mungkin dianggap lazim. Tapi bagaimana dalam setting waktu yang diambil buku ini, yaitu pada tahun 1920-an setelah Perang Dunia Pertama? Bagaimanapun, saya tetap merasa aneh bahwa karakter Mary Russell yang belum genap dua puluh tahun dan Sherlock Holmes yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun bisa memiliki hubungan yang romantis (atau setidaknya dalam buku ini, hampir romantis). Saya akan jauh lebih suka jika Mary Russell murni menjadi murid dan sidekick Sherlock Holmes tanpa membuat mereka menjadi pasangan romantis. Coba bayangkan Mary Russell yang beranjak dewasa memiliki pasangan dan Sherlock Holmes akan berperan menjadi “paman tua yang sok tahu dan selalu ikut campur”. Tak kalah menarik, bukan? Tapi, oh well, saya bukan sang penulis, dan seri ini toh telah diterbitkan sampai buku yang ke-12 (lihat semua serinya di sini).

Satu hal lagi yang saya tidak sukai dari buku ini, adalah adegan saat Holmes ingin mengerjakan sesuatu sendirian dan menolak melibatkan Russell, yang ditanggapi oleh Russell dengan: “Holmes, kau tidak bisa berbuat begini kepadaku. Kau tidak berkata apa-apa kepadaku, kau sama sekali tidak meminta saranku, hanya mendorongku ke sana kemari, mengabaikan segala rencana yang mungkin kumiliki, menyimpan rahasia dariku seakan aku adalah Watson, dan kini kau hendak pergi dan meninggalkanku dengan daftar belanjaan. Pertama-tama kalu menyebutku mitra, lalu kau mulai memperlakukanku seperti pelayan. Bahkan murid magang pun patut diperlakukan lebih baik dari pada itu.” – hal. 280

Dalam adegan yang lain pun Mary Russell menganggap Dr. Watson “tidak berguna” walaupun kemudian ia menyadari bahwa Watson sangat baik hati. Saya bukan pembaca setia seri Sherlock Holmes dan saya tidak tahu seperti apa hubungan Holmes-Watson yang sesungguhnya dalam tulisan Conan Doyle, namun bagi saya karakter Mary Russell dengan terang-terangan merendahkan peran Dr. Watson, and I dislike that. (Iya deh, mungkin ini efek dari terlalu banyak nonton seri Sherlock BBC di mana peran John Watson sangat signifikan bagi partnernya, Sherlock Holmes.)

Di luar hal-hal yang sudah saya sebutkan tersebut, The Beekeeper’s Apprentice tetap sebuah bacaan yang cukup mengasyikkan. Namun maaf sekali kepada Tante Laurie, dalam banyak hal, buku ini not really my cup of tea. Tiga bintang cukuplah buat buku ini.


Detail buku:

The Beekeeper’s Apprentice: Gadis Sherlock Holmes (Mary Russell #1), oleh Laurie R. King
428 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

5 thoughts on “The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

  1. Kalau dari beberapa kasus yang aku baca sih, memang Dr. Watson gak terlalu berperan dalam pemecahan masalah. Dia seperti Hastings bagi Poirot (Poirot masih mengandalkan intuisi Hastings), sehingga aku merasa fungsi Watson sesungguhnya (bagi Doyle) sdeolah-olah untuk menjadi jendela bagi kita untuk mengintip, apa sih yang dilakuin Holmes. Itu kesanku pribadi, dan aku jg belum banyak sih baca Holmes.

    Tapi bagi aku, justru aku jadi mulai suka sama Holmes gara2 seri Mary Russell ini. Bagiku Holmes-nya Doyle hampir gak manusiawi, kurang sentuhan manusiawinya, terlalu ‘too good to be true’.

    • Mungkin bener kalo dari segi pemecahan masalah mungkin Watson nggak banyak membantu Holmes, tapi aku tetep nggak suka cara pandang & sikap Mary Russell terhadap Watson. Disrespectful banget, kalo dia tokoh nyata mungkin udah ku keplak, wkwkwk

  2. Meeeel sama buanget poin2nya sama yang aku rasain… tentang hubungan romantis yang maksa abis (aku beneran ngarep hubungannya guru/murid, trus nanti mary ketemu cowok yang seumuran sama dia), trus tentang mary yang sangat under appreciated watson, aku juga setuju. soalnya aku suka sama watson haha, bahkan sebelum nonton serial sherlock di bbc 😀

  3. Gosh, aku GAGAL ikutan event Mbak Fanda, gegara baca buku ini di awalnya (yah ini kan seri pertama ya harus dibaca di awal dong Winda #dijorokin)
    Aku penggemar Sherlock dari jaman masih ingusan (lebay, ngga ding sejak SMA), dan selama itu aku cuma tahu pasangan Sherlock adalah Watson (selain Irene Adler) – makanya begitu baca Beekeeper, aku berasa kena serangan jantung, ngga rela aja Sherlock sama Rusell #jambakjambak
    Udah gitu, gimana dia menghina kecerdasan Watson, bikin aku sebel-tingkat-dewa, jangan-jangan dia ngga tahu klo Watson itu Dokter?! *sebodohnya dokter dia pasti lebih pintar dari aku* #yaiyalah
    truuusss, Rusell ini sumpah kepedean abis sama kecerdasannya – smartass!
    So, karena jantungku ngga kuat, aku tumpuk lagi Beekeeper di timbunan, belum pengen ngelanjutin baca #tipependendam

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s