Home » Book Reviews » 4 star review » Surabaya Punya Cerita Vol. 1 – Dhahana Adi

Surabaya Punya Cerita Vol. 1 – Dhahana Adi

sby punya ceritaJudul bukunya Surabaya Punya Cerita. Jujur saja, pertama kali saya tahu tentang buku ini (melalui tweet dari @indiebookcorner) saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen dengan setting kota Surabaya. Karena belum pernah baca buku bertemakan Surabaya, maka ketika saya melihat buku ini bertengger manis di rak di salah satu toko buku terbesar di kota saya, (Surabaya, di mana lagi?) tanpa berpikir panjang saya mengambilnya dan memasukkan di kantong belanjaan. Sebelumnya saya tidak tahu menahu tentang blog Surabaya Punya Cerita, dan bahwa artikel-artikel di dalam blog tersebut dituangkan dalam kertas dan tinta dalam buku ini .

Kalau boleh saya jelaskan seperti ini, Surabaya Punya Cerita berisi potongan-potongan sejarah tentang Surabaya yang kebanyakan tak terpublikasikan dan bahkan sudah terlupakan. Bentuknya macam-macam, mulai dari tradisi, tempat bersejarah, tokoh kenamaan, sampai musik dan film. Namun jika buku sejarah biasanya melulu berisi fakta, Surabaya Punya Cerita menyodorkan sejarah melalui cerita-cerita nostalgia.

Melalui beberapa cerita tentang tempat bersejarah di Surabaya, pembaca diajak mengingat kembali, atau disodorkan informasi baru jika sebelumnya tidak tahu, bahwa tempat-tempat tersebut ada sejarahnya. Jalan Baliwerti hari ini mungkin dikenal sebagai sentra pertokoan keramik, namun pada tanggal 10 November 1977, Hari Pahlawan, Baliwerti dipenuhi sekitar tiga ribu pemuda yang melakukan long march menuju Tugu Pahlawan sebagai bentuk protes terhadap degradasi moral dan ketidakadilan sosial yang sedang terjadi. Banyak yang lupa bahwa di dalam Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan, tersimpan makam salah satu pahlawan nasional, Dr. Soetomo. Orang Surabaya pasti tahu bahwa ada areal makam Belanda di Pemakaman Kembang Kuning, tapi mungkin tidak tahu siapa saja tokoh-tokoh penting yang dimakamkan disana. Beberapa diantaranya adalah Alfred Emille Rambaldo, perintis perjalanan udara pertama yang menemukan dan mengembangkan balon udara bermesin tahun 1908-1911; Everdina Bruring, istri dari Dr. Soetomo; dan G. Cosman Citroen yang adalah arsitek Balai Kota Surabaya dan Rumah Sakit Darmo.

Berbagai karya seni dan musik yang berjaya di Surabaya pada jamannya, juga disuguhkan dalam buku ini. Misalnya film nasional berjudul Soerabaia 45 yang rilis pada tahun 1990, yang melibatkan sejumlah insan seni yang tidak bisa dianggap main-main. Grup lawak Srimulat memulai sejarahnya dengan mementaskan dagelan Mataram di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada penghujung tahun 1960an, pada waktu itu masih menggunakan nama Gema Malam Srimulat. Ada The Tielman Brothers yang konon disebut-sebut sebagai salah satu grup band tertua di dunia yang memainkan musik rock n roll sebelum The Beatles, The Rolling Stones, bahkan Led Zeppelin. Band yang dipelopori Andy Tielman ini memadukan genre rock n roll dengan musik khas Indonesia seperti gamelan atau keroncong, hingga akhirnya genre musik ini disebut genre Indorock atau “Indonesian Rock N Roll”. Dari dunia seni rupa, Surabaya memiliki Tedja Suminar, pelukis peranakan Tionghoa yang dikenal njawani. Relief di stadion Gelora 10 November adalah hasil desain sketsa dari pelukis yang menjadikan Surabaya dan Bali sebagai sumber inspirasi utamanya itu. Dan, bukan hanya satu, namun tiga cerita disajikan mengenai Gombloh, musisi asal Kampung Embong Malang Surabaya yang paling dikenal dengan lagu “Di Radio” yang aslinya berjudul “Kugadaikan Cintaku”. Tak ketinggalan cerita tentang dedengkot musik jazz, Bubi Chen.

Masih banyak cerita lain yang tersimpan dalam buku yang relatif tipis ini (204 halaman). Kekurangan buku ini terletak pada editing-nya, yang jika diperhalus lagi bisa lebih enak dibaca, dan banyak foto hitam putih yang ditampilkan beresolusi rendah. Pada awalnya saya menganggap harganya agak kemahalan untuk buku setebal 204 halaman, namun pada akhirnya isi dari buku ini membayar setiap rupiah yang saya keluarkan untuk membelinya. Sayangnya, eksemplar yang saya beli cutting-nya kurang rapi, halaman-halaman buku melampaui batas sampul sekitar 2 mm.

Saya menamatkan buku ini hanya sehari sebelum HUT Surabaya ke-722, 31 Mei lalu, namun baru bisa menuliskan reviewnya sekarang. 😀 Kalau pada awalnya saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen, ternyata setelah menamatkannya buku ini melampaui ekspektasi saya. Sekarang, sedikit banyak saya jadi tahu potongan-potongan sejarah yang terlupakan tentang kota tercinta. Buku ini saya rekomendasikan bagi setiap warga Surabaya, mereka yang punya kenangan dan kesan khusus terhadap Surabaya, juga mereka yang tertarik dengan Surabaya. Dunia perlu tahu, bahwa sejarah dan sisik melik Surabaya penuh warna, dan tidak melulu berkaitan dengan pertempuran 10 November ataupun cerita rakyat Sura dan Baya. Tak sabar menanti Vol. 2 terbit!

Surabaya, kota tak terlupakan

Surabaya, kota tak terlupakan

Telusuri lebih banyak tentang Surabaya Punya Cerita di: Blog | Facebook | Twitter


Detail buku:

Surabaya Punya Cerita Vol. 1, oleh Dhahana Adi
204 halaman, diterbitkan 2014 oleh Indie Book Corner
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

4 thoughts on “Surabaya Punya Cerita Vol. 1 – Dhahana Adi

  1. Waah benar2 buku yang wajib baca untuk warga Surabaya ya. Tapi kalau foto2nya ga bagus jadi pikir-pikir dulu nih kalau mau beli.

    Mbak Mel sudah baca buku Hikajat Soerabaia Tempoe Doeloe karya Dukut Imam Widodo? Aku punya yang dipisah jadi 3 edisi, tapi sudah diterbitkan ulang cuma jadi 1 edisi tebal. Harganya ratusan ribu 😀
    Lalu ada juga buku Monggo Dipun Badhog pengarangnya sama. Ini khusus tentang kuliner2 tempo dulu. Tebel sekali dan harganya ratusan ribu juga. Aku belum punya yang ini T_T

    • Ahaha aku belum baca yang itu, shock pas tau harganya berapa 😀 kalau kuliner jujur aja aku nggak tertarik baca bukunya. Lebih tertarik menikmati langsung (baca: makan) XD

  2. Mba’ ini buku fiksi apa non fiksi?

    dari kovernya yang simpel tapi cukup menarik aku berfikiran ini buku fiksi, tapi setelah baca reviewnya di sini aku kok jadi berpikiran ini buku non fiksi? apalagi ternyata isinya tentang sejarah kota surabaya

    bagaimana cara penutuan tentang sejarah di buku ini, soalnya aku pernah baca buku fiksi tentang sejarah yang kadang alurnya terlalu bosenin, jadi pembaca male mau lanjut baca, tapi di review ini ternyata pembaca dibuat penasaran, wah aku jadi penasaran juga ><

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s