Menerabas Batas: Kisah Tiga Saudari Brontë

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Jurnal Ruang pada tanggal 15 September 2017. https://jurnalruang.com/read/1504500406-menerabas-batas-kisah-tiga-saudari-bronte


bronte sisters

The Brontë Sisters (Anne Brontë; Emily Brontë; Charlotte Brontë) by Patrick Branwell Brontë. Credits: NPG, London

Suatu hari pada musim gugur 1845, di Yorkshire, Inggris, Charlotte Brontë menemukan buku catatan milik adiknya, Emily, berisi puisi yang baru ditulis. Charlotte dan adik-adiknya, Branwell (satu-satunya saudara laki-laki), Emily, dan Anne telah menulis puisi dan kisah-kisah fantasi sejak belia dan terbiasa saling menunjukkan hasil karya masing-masing. Namun, puisi Emily yang dibaca Charlotte hari itu menggerakkan hatinya karena di sana Charlotte melihat perkembangan mengagumkan; bahasa yang padat, tegas, dan kuat. Singkatnya, puisi-puisi Emily tidak seperti puisi yang pada umumnya ditulis oleh perempuan kala itu.

Charlotte, si sulung penuh tekad, menyuarakan kepada saudari-saudarinya bahwa karya-karya mereka layak diterbitkan. Kumpulan puisi terpilih karya Charlotte, Emily, dan Anne diterbitkan dengan biaya sendiri pada 1846, di bawah pseudonim androgini, yaitu Currer, Ellis, dan Acton Bell. Keputusan menggunakan pseudonim ini didorong oleh kesan umum bahwa penulis wanita pada zaman itu kerap dipandang dengan prasangka, belum lagi dengan gaya tulisan dan pemikiran Brontë bersaudari yang tidak ‘feminin’.

Sejarah menunjukkan bahwa kaum perempuan kerap kali dikungkung oleh norma-norma masyarakat yang kental akan budaya patriarki. Hal itu membatasi mereka untuk berkarya dalam level setara dengan laki-laki. Pada era Victoria di Inggris, nyaris segala bidang dikuasai oleh laki-laki, sedangkan perempuan diserahi segala urusan domestik. Perempuan yang cukup beruntung menemukan “keamanan” secara ekonomi dan sosial dalam ikatan pernikahan tidak perlu susah-susah bekerja. Namun, Brontë bersaudara yang lahir sebagai anak-anak seorang pendeta dengan penghasilan tak seberapa mau tak mau harus mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Baik Charlotte, Emily, maupun Anne pernah bekerja sebagai guru di sekolah maupun privat. Branwell, walaupun mempunyai talenta menjanjikan di bidang seni lukis, akhirnya terbukti tidak bisa diandalkan; ia jatuh dalam skandal dan mengalami ketergantungan obat-obatan dan alkohol.

Ketidakpuasan dengan profesi guru dan impitan ekonomi inilah yang mendorong tiga bersaudari Brontë memublikasikan karya mereka. Sayangnya, kumpulan puisi Currer, Ellis, dan Acton Bell yang terbit pada 1846 hanya terjual tiga eksemplar. Pantang menyerah, mereka memutuskan untuk menulis novel. Setahun berikutnya, Jane Eyre karya Currer (Charlotte), Wuthering Heights karya Ellis (Emily), dan Agnes Grey karya Acton (Anne) terbit dengan tingkat kesuksesan yang berbeda-beda. Ketiganya dipuji para kritikus sastra. Namun, Jane Eyre-lah yang menuai pujian paling banyak dan menjadi best seller pada masa itu. Kesuksesan ini membuat orang penasaran akan siapa sesungguhnya “Bell bersaudara”.

Seiring popularitas Jane Eyre, tersiar desas-desus bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell sebenarnya satu orang yang sama. Charlotte dan Anne, tanpa Emily, pergi ke London pada Juli 1848 untuk membuktikan pada penerbit Smith, Elder & Co. bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell adalah tiga pribadi berbeda. Peristiwa penting ini diadaptasi dengan sangat baik dalam film biopik Brontë bersaudari yang dirilis pada 2016 dengan judul “To Walk Invisible”. Di dalam film, George Smith (pemilik penerbitan Smith, Elder & Co.) menatap Charlotte, seorang wanita berpostur tubuh mungil dan gaya busana ‘ndeso’, dengan rasa tidak percaya ketika ia menyatakan bahwa dirinya adalah Currer Bell. Menanggapi ini, Charlotte pun melontarkan pertanyaan tajam, “Apa yang membuat Anda ragu, Mr. Smith? Aksen saya? Jenis kelamin saya? Postur tubuh saya?” Ada sesuatu di dalam pertanyaan dan nada suara Charlotte—determinasi, mungkin—yang membuat Mr. Smith sadar bahwa wanita di depannya benar-benar penulis Jane Eyre.

Jane Eyre, tokoh utama dari novel dengan judul sama itu, digambarkan sebagai figur wanita muda yang secara fisik tidak istimewa tapi memiliki pandangan dan pemikiran melampaui wanita pada umumnya di era Victoria. Walau masa lalunya kelam dan pahit, ia tidak merasa dendam kepada orang-orang yang telah memperlakukannya dengan tidak adil. Ia rindu dipandang setara oleh lawan jenisnya. Ia punya integritas dan harga diri yang membuatnya menolak dijadikan wanita simpanan. Hal-hal inilah yang membuat karakter Jane Eyre begitu dicintai, karena ia membuat “bungkus luar” (kecantikan, kekayaan, popularitas) menjadi sesuatu yang remeh belaka.

Karya-karya Brontë bersaudari merupakan ekspresi kemarahan terhadap profesi guru privat yang kerap direndahkan, dan terhadap kondisi perempuan pada umumnya pada zaman itu yang terisolasi dari kesempatan yang ditawarkan oleh dunia.

Di Indonesia masa kini, nyatanya masih banyak perempuan yang harus takluk di bawah kungkungan norma-norma masyarakat patriarkis. Hal itu membatasi kiprah mereka di berbagai bidang. Padahal kita punya figur-figur perempuan hebat yang prestasinya diakui dunia, seperti Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti. Indonesia bahkan sudah pernah punya presiden perempuan, sesuatu yang belum bisa disamai oleh negara adidaya Amerika Serikat. Begitu umumnya pandangan bahwa tempat perempuan hanya di kasur, dapur, dan sumur, membuat gagasan bahwa kaum perempuan dengan karya-karyanya dalam bidang yang dikuasai kaum pria begitu aneh dan sulit diterima.

Belum lama ini, sebuah meme yang mempertentangkan perempuan yang sekolah tinggi versus yang menikah viral di media sosial. Meme ini seakan kembali menggaungkan anggapan lama, “buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya juga melayani suami dan mengurus anak?” Seakan perempuan yang memilih melajang untuk mengejar cita-cita lebih rendah nilainya daripada perempuan yang fokus berumah tangga. Pada abad kedua puluh satu ini, masihkah relevan membatasi peran perempuan di bidang-bidang tertentu saja?

Jika nyaris dua abad lalu Brontë bersaudari ciut nyali untuk menerbitkan karya-karya mereka karena penulis dianggap sebagai profesi yang hanya sesuai untuk kaum pria, karya-karya mereka tidak akan pernah dikenal dunia dan menginspirasi banyak orang. Sejak awal, mereka telah “menerabas batas” dengan menggunakan pseudonim alih-alih nama asli. Kini, sinar mereka memancar terang: karya-karya mereka diakui sebagai kisah klasik dan diadaptasi dalam pementasan drama serta televisi. Tidak ketinggalan peringatan bicentennial untuk merayakan ulang tahun ke-200 tiga saudari Brontë: bicentennial Charlotte Brontë telah dirayakan pada 2016 lalu, untuk Emily akan dirayakan pada 2018 dan Anne pada 2020. Kediaman keluarga Brontë di Haworth, Yorkshire diubah menjadi Brontë Parsonage Museum yang dikunjungi puluhan ribu orang setiap tahunnya.

Charlotte, Emily, dan Anne tidak diberkati umur panjang; ketiganya meninggal pada usia yang relatif muda. Namun, di masa hidup yang singkat itu mereka berhasil menorehkan nama dalam sejarah. Meskipun harus berkarya di tengah-tengah kondisi keluarga yang tidak ideal, khususnya karena saudara laki-laki mereka, Branwell. Meskipun tinggal di wilayah yang terisolasi. Meskipun ada norma-norma masyarakat yang mengekang mereka dan kaum perempuan pada umumnya. Segala halangan ini tidak menghentikan mereka untuk menelurkan karya yang—walaupun waktu itu mereka tidak mengetahuinya—akan dibaca ratusan tahun kemudian. Dunia kerap memperlakukan perempuan semena-mena. Dan justru karena itulah perempuan harus makin berani berkarya, berani mendobrak. (*)


Referensi:

Artikel

David Barnett. 2017. “Brontë bicentenary: How the literary society is making a comeback from turmoil” dalam independent.co.uk. 7 Juli 2017. Diakses dari http://www.independent.co.uk/news/long_reads/bront-society-bicentenary-charlotte-haworth-kitty-wright-a7829276.html

Judith Shulevitz. 2016. “The Brontës’ Secret” dalam theatlantic.com. Juni 2016. Diakses dari https://www.theatlantic.com/magazine/archive/2016/06/the-Brontës-secret/480726/

Film

“To Walk Invisible: The Brontë Sisters” sebuah film televisi oleh Sally Wainwright, 2016.

Penulis

Melisa Mariani. Penikmat fiksi klasik dan fiksi sejarah yang sedang merambah buku-buku nonfiksi, dan kolektor Jane Eyre.

Advertisements