Dystopia, Polisi Moral, dan Resolusi 2018

1984
Sumber gambar

 

Awal tahun 2017 penjualan novel dystopia 1984 karangan George Orwell meroket, yang konon disebabkan oleh dimulainya administrasi Trump di Amerika Serikat. Publik terhenyak ketika menemukan banyak kemiripan antara gagasan-gagasan Orwell dalam 1984 dengan kebijakan-kebijakan kontroversial Trump. Di Indonesia, khususnya menjelang akhir tahun, beberapa kejadian “berbau dystopia” kembali mengemuka.

Yang pertama, peristiwa main hakim sendiri yang menimpa seorang tukang servis amplifier yang diduga mencuri ampli sebuah musala. Yang bersangkutan dikeroyok dan dibakar massa sebelum akhirnya tewas.

Yang kedua, sepasang pria dan wanita yang diduga melakukan perbuatan asusila, diarak massa dalam keadaan telanjang. Kisah selanjutnya bisa diduga, keduanya tidak terbukti bersalah. Mereka kemudian dinikahkan, tapi siapa yang tahu kapan trauma akibat dipersekusi secara publik bisa hilang dari keduanya.

Yang ketiga, sepasang kakak adik yang keduanya laki-laki sedang melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Seorang ibu yang kebetulan melihatnya menganggap mereka adalah pasangan gay, lalu mengunggah video mereka di media sosial, yang lalu dengan mudahnya menjadi viral. Kakak beradik yang menjadi korban pun mengalami trauma dan tidak berani keluar rumah.

Yang keempat dan terakhir, mahasiswa di sebuah universitas di Jawa Timur yang menggagas kampanye anti asusila bertajuk CELUP (Cekrek.Lapor.Upload) yang mengajak pengguna media sosial untuk public shaming mereka yang kedapatan bermesraan di ruang publik. Mungkin tujuannya baik, tapi caranya tidak etis dan melanggar privasi orang lain.

Dan itu hanya empat contoh kejadian “bau dystopia” yang belum lama terjadi di negeri ini. Dari empat kejadian tersebut, apa benang merahnya? Bahwa sebagian masyarakat kita merasa berhak menjadi “polisi moral” untuk menghakimi sesamanya dan melakukan persekusi tanpa ba-bi-bu, tanpa menyelidiki lebih jauh apakah dugaan yang ditimpakan kepada seseorang itu benar atau tidak. Celaka betul.

Butuh berapa lama lagi untuk para “polisi moral” menjadi “polisi pikiran”? Setelah mengekang kebebasan fisik, tentulah kebebasan berpikirlah yang menjadi target selanjutnya, bukan?

Dalam 1984, tokoh utama Winston Smith hidup dalam dunia yang diawasi penuh oleh teleskrin dan polisi pikiran. Setiap tindakan, bahasa tubuh, dan kata-kata yang keluar dari setiap orang tidak akan luput dari pengawasan, dan sedikit saja tercium gelagat tak-ortodoks (tidak sesuai prinsip Ingsoc yang diusung Oceania), maka bisa dipastikan orang itu akan diuapkan, yang berarti dihapus dari sejarah dan dianggap tidak pernah ada. Siapa saja di mana saja bisa jadi polisi pikiran yang sedang menyamar, yang berarti Winston tidak dapat memercayai siapa pun. Dengan adanya “polisi moral”, bukankah kebebasan kita hilang dan kita pun hidup dengan penuh kecurigaan terhadap sesama?

Satu lagi, dalam 1984 juga ada Hate Week atau Pekan Kebencian, yang mana salah satu dari rangkaian acaranya adalah para anggota Partai berkumpul di lapangan dan meneriakkan keras-keras ujaran-ujaran kebencian kepada musuh Oceania. Terdengar familier? Bedanya, orang zaman now melakukannya di “lapangan” yang luasnya tidak terbatas: Internet.

1984 ditulis sebagai sebuah peringatan, bukan buku manual. Dystopia termasuk genre fiksi, bukan non fiksi. Tapi miris sekali bahwa ada sebagian orang di Indonesia yang punya andil mewujudkan dystopia  di negara ini.

Berkaca dari semuanya ini, resolusi saya untuk tahun 2018 sederhana saja.

Saya mau menjadi manusia yang sungguh-sungguh manusia.

Saya tidak mau menjadi manusia yang mewujudkan dystopia.

Advertisements

2 thoughts on “Dystopia, Polisi Moral, dan Resolusi 2018

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s