Laut Bercerita – Leila S. Chudori

20180505_164925-1-01“Asmara adikku,

Saat ini aku berada di perut laut, menunggu cahaya datang.

Ini sebuah kematian yang sederhana. Terlalu banyak kegelapan. Terlalu penuh dengan kesedihan.

Kegelapan yang kumaksud adalah karena kau tak tahu aku berada di sini dan mencari-cari di mana aku berada. Karena itu, bayangkan saja, namaku Laut, di sanalah tempatku. Di dasar yang gelap, sunyi, diam, dan tanpa suara. Menurut Sang Penyair, kita jangan takut pada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong, demikian ujarnya. Tapi jangan pernah kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputusasaan, dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia…”

 

Buku ini adalah buku Leila S. Chudori kedua yang berhasil saya tamatkan setelah Pulang. Dan ya, saya belum pernah merasa kecewa oleh buku-buku yang ditulis beliau. Dalam buku yang berfokus pada kisah aktivis mahasiswa sampai pada puncaknya pada tahun 1998 ini, Bu Leila mengungkap perjuangan mereka, penderitaan mereka, berbagai siksaan yang harus mereka alami demi Indonesia yang mereka impikan, Indonesia yang bebas tirani. Buku dibagi menjadi dua bagian besar: Biru Laut dan Asmara Jati.

Seperti biasa, tulisan Bu Leila mampu mengaduk-aduk emosi pembaca. Membaca kisah Laut bersama kawan-kawannya; Daniel, Sunu, Alex, Kinan, Bram, dan juga Anjani yang dicintai Laut, pembaca akan merasa geli, gemas, deg-degan, kasihan, dan sedih tiada tara. Kalau hampir di sepanjang buku saya dibuat sesak napas, maka air mata saya tumpah ketika membaca bagaimana keluarga para aktivis yang ‘dihilangkan secara paksa’ itu tetap berharap mereka masih baik-baik saja dan akan segera pulang. Menjelang akhir buku, Bu Leila mengaitkan perjuangan para aktivis dengan Mirabal bersaudari, atau yang lebih dikenal dengan Las Mariposas (the butterflies) dari Republik Dominika. Mereka sama-sama berjuang melawan pemerintahan diktator dan sama-sama dihilangkan secara paksa oleh karena misi yang mereka emban. Pada awal tahun 2018 saya membaca Good Night Stories for Rebel Girls yang memuat sekelumit kisah tentang Mirabal bersaudari. Karena buku tersebut ditujukan untuk anak-anak, maka tidak disebutkan nasib mereka, namun jika pembaca jeli, di bagian bawah ada keterangan bahwa tiga dari empat bersaudari tersebut meninggal di hari yang sama, 25 November 1960. Saya jadi ingin membaca novel yang mengisahkan tentang Mirabal bersaudari ini, yaitu In Time of the Butterflies karya Julia Alvarez.

Kembali lagi ke Laut Bercerita, bagi saya buku ini bukanlah sebuah buku yang mudah dibaca, tapi patut dibaca. Karena setiap orang perlu tahu bahwa kebebasan yang dinikmati warga Indonesia hari ini, baik dalam berdemokrasi, kebebasan mengkritisi pemerintah, dan membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer, itu semua bisa kita nikmati karena ada harga mahal yang sudah dibayar oleh para aktivis. Dan walaupun (mungkin) cerita mereka sudah terbenam di dasar laut, namun tetap menuntut untuk didengarkan.


Detail buku:

Laut Bercerita, oleh Leila S. Chudori

ISBN: 9786024246945

389 halaman, diterbitkan 2017 oleh Kepustakaan Populer Gramedia

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 

 

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s