Kekerasan dan Identitas – Amartya Sen

IMG_20180515_221901_674Tak pelak lagi, buku ini adalah salah satu buku terpenting yang saya baca tahun ini. Kekerasan dan Identitas pertama kali terbit pada tahun 2006, tapi terasa sungguh relevan dengan kondisi Indonesia khususnya pada saat ini. Dalam buku berjudul asli Identity and Violence: The Illusion of Destiny ini, Amartya Sen, penerima Hadiah Nobel Ekonomi pada 1998, menggali konsep yang banyak disalahpahami tentang identitas, dan bagaimana pemahaman tentang  identitas menjadi pemicu kekerasan sektarian yang terjadi hampir di seluruh penjuru dunia. Didukung dengan cakupan pengetahuan dari segi ekonomi, politik, sejarah, sosiologi dan kebudayaan yang mumpuni, Sen mengkaji dan menalar ulang topik-topik seperti globalisasi, multikulturalisme, sejarah pascakolonial, etnisitas sosial, fundamentalisme keagamaan dan terorisme global yang semuanya terkait dengan identitas itu sendiri. Perlu diketahui sebelumnya bahwa saya akan mengutip banyak sekali bagian dari buku di bawah ini (berikut nomor halamannya masing-masing).

Kemajemukan Identitas

Menurut Sen, beragam bentuk pengelompokan orang di dunia dalam satu sistem klasifikasi dominan merupakan  suatu bentuk pengerdilan umat manusia. Bahwa identitas tunggal yang dominan yang dikenakan kepada seseorang (pada umumnya berdasarkan agama, walaupun buku ini juga membahas identitas lainnya, namun secara umum identitas yang dianggap paling dominan adalah agama) adalah sebuah ilusi yang berpotensi memicu konflik. Pada kenyataannya, kita adalah bagian dari berbagai kelompok. Kewarganegaraan kita, tempat tinggal, asal daerah, jenis kelamin, kelas sosial, pilihan politik, profesi, selera musik, dan sebagainya membuat seseorang menjadi bagian dari beragam kelompok, secara serentak. Dengan demikian, tak satu pun di antaranya bisa disebut sebagai satu-satunya identitas atau kategori keanggotaan tunggal bagi orang yang dimaksud. Kita semua terus menentukan pilihan mengenai prioritas yang harus diambil berkenaan dengan afiliasi dan asosiasi kita yang berbeda-beda. (hal. 8-9) Persoalan selanjutnya adalah, apakah kita memiliki kebebasan substansial mengenai proritas manakah yang harus diberikan kepada beragam identitas yang kita miliki secara serempak ini. (hal. 52)

Benturan Antar Peradaban

Sen menantang teori benturan antarperadaban (yang berawal dari buku The Clash of Civilizations and the Remaking of the World Order karya Samuel Huntington) yang mengkotak-kotakkan manusia sebagai bagian dari suatu peradaban (misalnya, bagian dari “dunia Barat”, “dunia Islam”, “dunia Hindu”, atau “dunia Budha”), dan memandang pengkotak-kotakan ini sebagai pengerdilan manusia yang sesungguhnya multidimensi menjadi satu dimensi saja. Pendekatan peradaban cenderung mengabaikan kebhinekaan yang ada dalam tiap-tiap peradaban yang dicontohkan. Misalnya, India digambarkan sebagai “peradaban Hindu”, padahal India memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar ketimbang negara mana pun di dunia kecuali Indonesia, dan hanya berbeda tipis dengan Pakistan (hal 61-62). Dengan menggunakan pendekatan reduksionis yang sama, mudah sekali untuk mengkategorikan Indonesia sebagai “peradaban Islam” karena memiliki jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia. Hal ini bukannya salah, tapi dengan demikian mengabaikan agama-agama lain yang hidup di Indonesia, belum lagi semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang telah menjadi nilai yang dianut bersama oleh (sebagian besar) penduduknya. Heterogenitas afiliasi keagamaan yang mencirikan Indonesia dilupakan begitu saja oleh pendekatan teori peradaban.

Barat dan Anti-Barat

Salah satu poin menarik yang disampaikan Sen dalam buku ini, adalah pemikiran yang menantang konsepsi “anti-Barat”. “…mereka yang menyemai pertikaian global atau kerusuhan sektarian lokal berupaya untuk memaksakan satu identitas tunggal yang mutlak dan kodrati pada diri orang-orang yang direkrut sebagai “pasukan lapangan” untuk menjalankan brutalitas politik. Namun, lebih menyedihkan lagi melihat bahwa pandangan picik tersebut diperkuat oleh penegasan tersirat yang didapat para pejuang anti-Barat itu justru dari teori-teori yang dikembangkan di Barat untuk mengelompokkan warga dunia berdasarkan kategori tunggal.” (hal. 76) Demikian juga apa yang diklaim sebagai “pencapaian peradaban Barat” misalnya demokrasi, bukanlah murni “Barat” tapi juga ikut dibentuk dan dipengaruhi oleh sumbangan berbagai bangsa di dunia sepanjang sejarah. Dalam Bab 5, ditunjukkan bahwa pikiran kaum terjajah yang terobsesi pada relasi tak nyata dengan kekuasaan kolonial bisa menimbulkan dampak, salah satunya, mendorong sikap permusuhan tak perlu terhadap berbagai gagasan global (seperti demokrasi dan kebebasan pribadi) di bawah anggapan keliru bahwa semua itu adalah ide-ide “Barat”. (hal. 116) Selanjutnya, “Kendati dalam pandangan “non-Barat” (atau kadang “anti-Barat”) terkandung niat tulus untuk merdeka dari dominasi kolonial, namun sesungguhnya pandangan tersebut justru menunjukkan kebergantungan penuh pada pihak asing.” (hal.119)

Kesalahpahaman Afiliasi Keagamaan

Hal menarik lainnya terkait dengan afiliasi keagamaan kaum Muslim disampaikan dalam Bab 4: bahwa “…meluasnya penggunaan identitas agama sebagai prinsip klasifikasi utama – atau bahkan satu-satunya—telah melahirkan banyak keserampangan dalam analisis sosial. Utamanya, timbul kesalahpahaman besar ketika orang gagal membedakan antara (1) ragam afiliasi dan loyalitas yang dimiliki oleh orang yang kebetulan Muslim, dan (2) identitas keIslamannya secara khusus. …… beragam orang yang semuanya Muslim itu bisa dan memang bisa memiliki pandangan yang beragam pula dalam berbagai hal lainnya, misalnya nilai-nilai sosial-politik, pendekatan ekonomi dan sastra, keterlibatan profesional dan filosofis, sikap terhadap Barat, dsb. … Berfokus semata pada klasifikasi agama berarti luput mencermati berbagai kecenderungan lain yang dimiliki oleh orang-orang yang kebetulan dari segi agama adalah Muslim.” (hal. 78-79) Selanjutnya (kutipan ini sangat panjang namun saya kira sangat perlu untuk dicantumkan demi pengetahuan bersama) “Identitas keagamaan atau peradaban kita barangkali amat penting, namun identitas tersebut hanyalah satu di antara banyak identitas lainnya. Pertanyaan yang mesti kita ajukan bukan apakah Islam (atau Hindu atau Kristen) adalah agama yang cinta damai atau suka berseteru, melainkan bagaimana seorang Muslim (atau Hindu atau Kristen) yang saleh dapat memadukan keyakinan dan praktek keagamaannya dengan segi-segi lain dari identitas pribadi, komitmen, dan nilai lainnya (misalnya sikap terhadap perdamaian dan peperangan). ……… Ada para tukang pukul sebagaimana ada pula para penjunjung perdamaian di antara penganut setiap agama, dan ketimbang menanyakan mana di antara keduanya yang merupakan “pemeluk sejati” serta mana yang “penyaru belaka”, sepatutnya kita menerima bahwa keyakinan agama seseorang tidak menentukan semua keputusan yang mesti kita ambil dalam hidup…. Baik para pengusung perdamaian dan toleransi maupun para penghasut perseteruan dan intoleransi dapat menjadi bagian dari agama yang sama, dan barangkali dalam pandangan masing-masing, merekalah “pemeluk sejati” tanpa hal ini harus dilihat sebagai kontradiksi. Cakupan identitas keagamaan seseorang tidak menghapuskan semua aspek lain dari pemahaman dan afiliasi orang tersebut.” (hal. 86-87)

Gerakan “Anti-Globalisasi”

Argumentasi berikutnya menjawab suara para penentang globalisasi. “Penolakan mentah-mentah terhadap globalisasi tidak hanya berarti menentang bisnis global, tetapi juga akan memutus alur pergerakan gagasan, pemahaman, dan pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi semua orang di dunia, termasuk kalangan yang paling tidak beruntung. Dengan demikian, penolakan mentah-mentah terhadap globalisasi bisa jadi sangat kontraproduktif.” (hal. 160) Sehingga, apa yang perlu dilakukan bukanlah menihilkan hubungan ekonomi global (karena globalisasi ekonomi kerap dianggap sebagai penyebab utama ketimpangan dan kemiskinan global) tapi membuat manfaat globalisasi itu bisa dinikmati secara lebih adil. (hal. 169) Dapat disimpulkan bahwa “anti-globalisasi” merupakan terminologi yang keliru, karena yang dikritik para penentang globalisasi sesungguhnya adalah inekualitas global. Upaya yang bisa dilakukan adalah diskusi global dengan tujuan mewujudkan tatanan yang lebih berkeadilan bagi kaum yang terampas hak-haknya, serta mengupayakan distribusi kesempatan yang lebih adil dalam perombakan tatanan global. Upaya ini juga bisa memainkan peran menentukan dalam membawa kita menjauh dari pertikaian identitas. (hal. 191)

Multikulturalisme dan Kebebasan Berpikir

Dalam Bab 8, Sen menitikberatkan pada multikulturalisme dengan mengambil contoh kaum imigran yang hidup di Inggris. Bagian yang saya kutip ini menurut saya penting dalam kaitannya dengan upaya menumpas bibit-bibit ekstremisme: “…kerentanan pada pengaruh ekstremisme sektarian ini akan lebih besar bila seseorang dibesarkan dan dididik dalam lingkungan yang juga sektarian (kendati tidak senantiasa menghalalkan kekerasan).” (hal. 211). Bab 9 yang diberi judul Kebebasan Berpikir merangkum seluruh isi buku ini dengan sekali lagi menegaskan, bahwa kekerasan sektarian di seantero dunia ini dilandasi oleh kerancuan konseptual mendasar tentang identitas manusia, yang mengubah manusia multidimensi menjadi makhluk satudimensi. (hal. 224) Mengapa upaya untuk menonjolkan identitas tunggal bisa begitu berhasil, padahal nyatanya kita semua memiliki afiliasi yang majemuk? Dari segi efektivitas, pemupukan delusi tentang singularitas terbukti mudah dimanfaatkan dan digencarkan. Penonjolan identitas tunggal dilakukan dengan cara memilah identitas kelompok seseorang, mengistimewakannya, dan dengan hasutan selektif kelompok digunakan untuk mengobarkan kekerasan. Dengan kata lain, penonjolan identitas tunggal didayagunakan untuk meniadakan kebebasan berpikir dan menihilkan peluang untuk menalar. (hal. 225-226). Lalu bagaimana, menurut Sen, cara menentang dan melawan terorisme? Yakni dengan menonjolkan kekayaan identitas manusia yang beraneka ragam, dan bukan hanya identitas keagamaannya (justru identitas religius inilah yang dieksploitir oleh proses rekrutmen teroris). (hal. 230) Demikian pula pemikiran yang memandang suatu negara sebagai kumpulan komunitas religius dan bukan kumpulan warganegara bukanlah cara yang terbaik untuk membangun masa depan suatu negeri dalam jangka panjang. Bangsa seharusnya dibangun sebagai kesatuan warganegara, bukan sebagai kumpulan etnisitas keagamaan. (hal. 232-233).

Kesimpulan

Dari semua teori dan pemikiran yang telah diungkapkan dalam buku, apa yang dapat kita lakukan secara individu untuk mengurangi kekerasan berbasis identitas?

Yang dapat saya simpulkan adalah sebagai berikut:

Yang pertama-tama harus kita ubah adalah cakrawala pandang kita sendiri. Jangan terkungkung oleh ilusi identitas tunggal yang kaku. Manusia sesungguhnya adalah makhluk multidimensi yang kompleks dan dinamis dan dengan demikian kepadanya tidak mungkin dilekatkan satu identitas tunggal yang dominan saja. Dalam konteks kebangsaan Indonesia, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah memandang orang (termasuk diri kita sendiri) pertama-tama sebagai orang Indonesia dulu, baru seorang Kristen, atau Muslim, atau Hindu, atau Budha, dan sebagainya.

Yang kedua, rasa sakit hati akibat perlakuan masa lalu dan mentalitas bangsa yang terjajah harus dikikis.  Hal ini semakin memperparah kesenjangan dan perbedaan identitas sehingga mudah sekali menyulut emosi dan mempertentangkan antara “Aku vs. Mereka” atau “Me vs. Them”.

Yang ketiga, karena kekerasan di dunia ini seringkali dipupuk oleh kebodohan dan kerancuan pemahaman, serta oleh lemahnya perhatian terhadap ketidakadilan (hal. 103-104), maka hal-hal ini harus diperangi dengan pendidikan.

Ada beragam tindakan yang perlu dilakukan dari pihak pemerintah seperti yang disampaikan di halaman 234, namun setidaknya secara individual kita bisa memulai upaya untuk memutus potensi kekerasan berbasis identitas. Satu lagi kutipan dari halaman 24 saya gunakan sebagai penutup: “Harapan utama bagi terwujudnya harmoni di dunia yang kacau ini justru terletak pada kemajemukan identitas kita, yang saling bersangkut paut dan menentang pemilahan-pemilahan tajam seturut satu garis pengelompokan tunggal yang katanya tak bisa diganggu gugat.” Semoga terwujudnya harmoni di dunia ini bukan hanya sekedar mimpi.


Detail buku:

Kekerasan dan Identitas (judul asli: Identity and Violence: The Illusion of Destiny), oleh Amartya Sen. Diterjemahkan oleh Arif Susanto.

ISBN: 9789791260541

i-xxii + 242 halaman, diterbitkan 2016 oleh Marjin Kiri (pertama kali diterbitkan tahun 2006)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s