Best Literary Hero and Heroine – The Classics Club’s April Meme

The question for The Classics Club’s April meme is:

“Who is hands-down the best literary hero, in your opinion? Likewise, who is the best heroine?”

I will answer for the best literary heroine first.

Ruth Wilson as Jane Eyre in Jane Eyre BBC miniseries, 2006

Ruth Wilson as Jane Eyre in Jane Eyre BBC miniseries, 2006

I love Jane Eyre. I adore her spirit. I adore that Charlotte Brontë made her a heroine that doesn’t need a pretty face, and doesn’t need a man with pretty face as well. I adore her struggle for financial and emotional freedom and her passion to belong somewhere in the world. I love how she doesn’t become bitter despite the world being unfriendly and alienating her. And most of all, I love how the figure of Jane Eyre shows that an independent woman is not one who overpowers man, but one who stands beside man and helps him as an equal companion.

“I am no bird; and no net ensnares me: I am a free human being with an independent will.” – Jane Eyre

As for the best literary hero, I was torn between Pip from Great Expectations and Athos from The Three Musketeers, but in the end my choice goes to Pip.

Douglas Booth as Pip in Great Expectations BBC miniseries, 2011

Douglas Booth as Pip in Great Expectations BBC miniseries, 2011

I am deeply touched by Pip’s persistence to love Estella despite her being cruel to him and deceived him, and in my heart I hope that in the “invisible ending”, Estella would change and finally be bound together with Pip. A typical happily-ever-after ending, you say? Well, after all Pip has been through, don’t you think he deserves it?

“… I had loved Estella dearly and long, and that, although I had lost her and must live a bereaved life, whatever concerned her was still nearer and dearer to me than anything else in the world.” – Pip

 

My review for Jane Eyre by Charlotte Brontë (in Indonesian language)
My review for Great Expectations by Charles Dickens (in English)

Advertisements

Classic Author of April 2012: Charlotte Brontë

“If all the world hated you, and believed you wicked, while your own conscience approved you, and absolved you from guilt, you would not be without friends.”
— Charlotte Brontë

The authoress

Bagaimana rasanya punya saudara sekandung yang sama-sama berprofesi sebagai penulis? Seandainya Charlotte Brontë masih hidup, kita mungkin bisa menanyakan kepadanya. Berikut biografi singkat Charlotte Brontë, pengarang perempuan Inggris era Victoria yang diakui, yang mempunyai tanggal lahir sama dengan pahlawan wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini.

***

CHARLOTTE BRONTË dilahirkan tanggal 21 April 1816 sebagai putri ketiga pasangan Rev. Patrick Brontë dan Maria Branwell. Dua kakak tertua Charlotte adalah Maria dan Elizabeth, sedangkan adik-adiknya antara lain Patrick Branwell, Emily, dan Anne. Ibu mereka meninggal dunia saat Charlotte masih berusia lima tahun. Brontë bersaudara akhirnya diasuh oleh saudara perempuan ibu mereka, Elizabeth Branwell, dan kemudian pada tahun 1824 Charlotte beserta tiga Brontë lainnya: Maria, Elizabeth, dan Emily, dikirimkan ke Clergy Daughters’ School, di Cowan Bridge, Lancashire. Adapun kondisi sekolah ini sangat tidak layak dan berpengaruh buruk pada kesehatan dan perkembangan fisik Charlotte. Dua Brontë tertua, Maria dan Elizabeth meninggal dunia akibat tuberkulosis saat masih berada di sekolah tersebut. Clergy Daughters’ School nantinya dipakai Charlotte sebagai inspirasi sekolah Lowood dalam novel Jane Eyre.

Rumah keluarga Brontë di Haworth, sekarang menjadi Brontë Parsonage Museum

Padang moor di Haworth, yang sering menjadi setting di kisah-kisah karya Brontë bersaudara

Di rumah mereka yang terpencil di Haworth Parsonage, keempat Brontë mulai mengembangkan daya imajinasi mereka; Charlotte dan Branwell menulis kisah tentang suatu kerajaan fiktif dan penghuninya, berjudul “The Tales of Angria”, sementara Emily dan Anne menulis puisi-puisi “kerajaan tetangga” Angria yang diberi judul “Gondal”.

Pada tahun 1842, Charlotte dan Emily belajar di sebuah sekolah asrama di Brussels, di bawah pimpinan Constantin Heger dan istrinya. Charlotte menghabiskan tahun berikutnya dengan perasaan kesepian, rindu rumah, dan cinta tak sampai kepada sang “pak guru”, Mr. Heger. Charlotte menulis surat-surat cinta untuk Heger, yang meskipun telah dibakar, dijual, dipotong-potong, pendeknya dihancurkan; surat-surat cinta tersebut berhasil diselamatkan dan akhirnya diterbitkan oleh The British Library. Pengalaman di sekolah asrama di Brussels tersebut kemudian digunakan oleh Charlotte sebagai inspirasi cerita dalam novel The Professor dan Villette. Selain menulis, Charlotte bekerja sebagai guru dan pengasuh anak.

Portrait by Duyckinick, 1873

Charlotte, Emily, dan Anne menerbitkan kumpulan puisi karya mereka secara independen pada Mei 1846, di bawah nama pena Currer, Ellis, dan Acton Bell. Charlotte mengungkapkan alasan mereka menggunakan nama pena sebagai berikut:

“… while we did not like to declare ourselves women, because — without at that time suspecting that our mode of writing and thinking was not what is called ‘feminine’ – we had a vague impression that authoresses are liable to be looked on with prejudice…”

Setelah manuskrip The Professor ditolak oleh penerbit, Charlotte kemudian mengirimkan manuskrip Jane Eyre pada bulan Agustus 1847. Jane Eyre diterbitkan enam minggu kemudian dan menuai kesuksesan. Beberapa bulan kemudian novel-novel pertama dari kedua saudari Charlotte, Emily (Wuthering Heights), dan Anne (Agnes Grey) juga diterbitkan. Publik mulai penasaran dan curiga mengenai identitas sebenarnya “Currer Bell”, dan timbul kritik tajam yang mengatakan bahwa tulisan Charlotte “kasar”. Kritik yang senada juga dialamatkan terhadap Villette, novel ketiga Charlotte yang dipublikasikan semasa ia masih hidup, dengan tambahan bahwa penggambaran keinginan sang tokoh utama (Lucy Snowe) tidak “feminin” sebagaimana seharusnya.

Charlotte baru menyelesaikan sebagian dari novel keduanya, Shirley, ketika tragedi merundung keluarga Brontë bertubi-tubi. Satu-satunya saudara lelaki Charlotte, Branwell, meninggal dunia akibat bronkhitis kronis pada bulan September 1848, disusul Emily karena tuberkulosis pada bulan Desember, dan Anne karena penyakit yang sama dengan Emily pada bulan Mei tahun berikutnya. Setelah kematian Anne, Charlotte melanjutkan penulisan Shirley dan akhirnya novel tersebut terbit pada bulan Oktober 1849.

Hanya setahun setelah menikahi Arthur Bell Nicholls, Charlotte meninggal dunia pada usia 38 tahun dalam keadaan mengandung pada akhir Maret 1855. Jenazah Charlotte disemayamkan di pemakaman keluarga di The Church of St. Michael and All Angels, Haworth, West Yorkshire, Inggris. Novel pertama yang ditulisnya, The Professor, diterbitkan secara anumerta pada tahun 1857, dan menyusul fragmen “Emma” yang baru ditulisnya sebanyak 20 halaman pada tahun 1860. 143 tahun kemudian, di tahun 2003, fragmen “Emma” diselesaikan oleh penulis Clare Boylan dengan judul Emma Brown: A Novel from the Unfinished Manuscript by Charlotte Brontë. Penulis Jean Rhys juga mempublikasikan karyanya yang berjudul Wide Sargasso Sea, yang menceritakan tentang kehidupan cinta Edward Rochester (tokoh utama pria dalam Jane Eyre) di masa mudanya.

Semasa hidupnya, Charlotte juga membina hubungan pertemanan dengan beberapa sastrawan terkemuka di masa itu, termasuk Elizabeth Gaskell, Harriet Martineau dan William Makepeace Thackeray. Bahkan, Gaskell menuliskan biografi Charlotte setelah yang bersangkutan wafat pada tahun 1855. Biografi dengan judul The Life of Charlotte Brontë tersebut dianggap tidak biasa pada masa itu karena bukannya memfokuskan pada pencapaian-pencapaian subyeknya, Gaskell malah memberikan detail-detail kehidupan pribadi Charlotte dan berusaha menjawab tuduhan para kritikus akan “kekasaran” gaya menulis Charlotte.

L’Ingratitude

Berita terbaru yang dirilis London Review of Books, the Guardian, the Telegraph, dan Huffington Post, menyatakan bahwa sebuah cerita pendek karya Brontë yang telah lama hilang, ditemukan di sebuah museum di Belgia. Cerita pendek yang ditulis dalam bahasa Prancis ini berjudul “L’Ingratitude”, dan rupanya adalah pekerjaan rumah dari Pak Guru Heger yang ditaksir Charlotte setengah mati. Cerita “L’Ingratitude” adalah sebuah alegori tentang seekor tikus muda ceroboh yang melarikan diri dari ayahnya dan mengalami suatu akhir yang sangat menyedihkan. Anda bisa membaca “L’Ingratitude” dalam bahasa Prancis dan Inggris di website London Review of Books di sini, juga mendengarkan cerita tersebut dibacakan oleh aktris Gillian Anderson.

My Brontë collection (sebenarnya saya juga punya buku puisinya tapi ketlisut entah dimana T__T)

Miris rasanya, bila kita melihat kisah hidup tragis (yang semuanya berakhir pada usia muda) dari kakak-beradik Brontë. Namun yang patut dikagumi adalah dalam masa hidup yang pendek, juga dalam keterasingan kehidupan mereka, masing-masing telah menghasilkan karya yang tidak punah sampai saat ini, dan membuat nama mereka diakui sebagai tokoh-tokoh terkemuka dalam sastra Inggris.

Dari berbagai sumber

Useful links:

Charlotte Brontë on Wikipedia
Charlotte Brontë on Poetry Foundation
The Brontë Parsonage Museum & Brontë Society
My review of Charlotte Brontë’s Jane Eyre (in Indonesian)
My review of Emily Brontë’s Wuthering Heights (in Indonesian)

Character Thursday [4] – Polly Home of Villette

Hari Kamis, saatnya Character Thursday!

Minggu ini saya sedang membaca Villette, novel klasik karya Charlotte Brontë. Beliau yang menulis roman klasik terkenal Jane Eyre.

Salah satu tokoh yang saya pilih untuk Character Thursday minggu ini dari novel tersebut adalah:

Polly Home

Paulina Mary “Polly” Home yang di awal buku diceritakan berumur tak lebih dari enam tahun, adalah seorang gadis kecil yang tidak biasa. Tidak biasa karena ia tidak seperti kebanyakan anak kecil, yang umumnya spontan, terbuka, tidak menahan diri, dan cenderung agak ceroboh. Sebagai seorang gadis kecil, Polly sangat rapi dan penuh tata krama, suka melayani (misalnya menuangkan teh bagi ayahnya), juga penuh pertimbangan dan tidak mudah akrab dengan orang lain. Polly yang bertubuh mungil adalah anak perempuan satu-satunya Mr. Home, seorang pria yang baru ditinggal mati istrinya. Karena duka yang mendalam, Mr. Home memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke luar negeri dan menitipkan Polly ke rumah kerabatnya, Mrs. Bretton. Polly kecil yang homesick, seperti burung yang kehilangan pohon untuk bertengger ketika ditinggal oleh ayahnya yang sangat ia sayangi. Di kediaman Mrs. Bretton, Polly juga berinteraksi dengan Lucy Snowe (sang tokoh utama yang belum banyak diceritakan jati dirinya pada bab-bab awal), dan anak lelaki Mrs. Bretton yang berusia enam belas tahun, John Graham Bretton (yang dipanggil Polly dengan “Mr. Graham”).

Awalnya Polly acuh tak acuh menanggapi Graham yang terus-terusan berusaha menggodanya, tapi lama kelamaan, setelah kunjungan singkat Mr. Home di kediaman Mrs. Bretton, Polly makin lengket dengan Graham, bahkan ngambek ketika dicuekin Graham suatu hari saat teman-teman Graham datang mengunjunginya.

SPOILER ALERT! Hubungan Polly-Graham nantinya akan berkembang menjadi… well, I think you can guess! 😀

Berikut ini deskripsi mengenai tokoh Polly dari buku:

“… she appeared exceedingly tiny, but was a neat, completely fashioned little figure, light, slight, and straight. Seated on my godmother’s ample lap, she looked a mere doll; her neck, delicate as wax, her head of silky curls, increased, I thought, the resemblance.”

(Graham) “Mama, I believe that creature is a changeling: she is a perfect cabinet of oddities, but I should be dull without her: she amuses me a great deal more than you or Lucy Snowe.”

Gambar di bawah ini rasanya cukup mencerminkan tokoh Polly ketika masih kecil:

Fernand Khnopff, Jeanne Kéfer, 1885. Pic taken from http://artstor.wordpress.com/2011/10/14/artstor-staff-pick-of-the-week-18/

***

Character Thursday

  • Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
  • Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
  • Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
  • Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

  1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
  2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
  3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
  4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
  5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Nah, siapa Character Thursday mu minggu ini? Jangan lupa tinggalkan link di post ini ya!

Jane Eyre – Charlotte Brontë

“Aku tak pernah berniat mencintainya, pembaca tahu aku sudah berjuang keras untuk mencabut benih-benih cinta di dalam jiwaku, tapi sekarang, saat aku melihatnya lagi, benih-benih itu langsung bertumbuh, hijau dan kuat! Dia membuatku mencintainya tanpa memandangku.”

 


Apa yang anda harapkan dari sebuah novel roman? Tokoh-tokoh utama yang ganteng dan cantik, cinta menggebu-gebu yang terhalang, namun pada akhirnya tinggal landas dalam akhir bahagia dimana sang pangeran datang menjemput sang putri dengan mengendarai kuda putih?

Jika itu yang anda cari ketika memutuskan membaca Jane Eyre, maka siap-siaplah kecewa. Pada setengah bagian buku pertama hampir pasti anda akan dibuat bosan dengan kisah masa kecil dan masa remaja Jane, yang sedih dan muram.

Namun sebelum kita melangkah lebih lanjut, sebaiknya saya memperkenalkan lebih dahulu siapa Jane Eyre kepada kita semua.

Jane Eyre adalah seorang gadis yatim piatu, anak perempuan dari pasangan seorang pendeta yang miskin dan seorang wanita terhormat dari keluarga bangsawan. Orangtua Jane meninggal dunia saat ia masih kecil, dan ibunya menulis wasiat agar Jane dirawat oleh kakak perempuannya, yaitu Mrs. Reed.

Mrs. Reed, janda dengan seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan, amat membenci Jane. Praktis selama hidup di Gateshead (rumah keluarga Reed), Jane kecil menderita oleh perlakuan kejam bibi dan sepupu-sepupunya, juga oleh hampir semua pelayan di rumah itu. Penampilan fisiknya yang ”tidak cantik maupun menarik”, dijadikan alasan bagi seluruh penghuni Gateshead untuk membencinya dan menganggapnya duri dalam daging keluarga Reed yang terhormat.

Di usianya yang kesepuluh, bibinya yang sudah tidak tahan dengan kehadiran Jane di tengah-tengah rumahnya, mengirimnya ke sekolah khusus anak perempuan, Lowood. Di Lowood nasib Jane tidak berubah menjadi lebih baik, karena Mr. Brocklehurst, seorang pendeta sekaligus bendahara Lowood, adalah seorang pria yang berkeras agar murid-murid Lowood ”diajarkan arti menderita sejak dini” agar mereka ”tidak terbiasa manja”. Namun yang dilakukan Mr. Brocklehurst bukannya mendidik tapi menyengsarakan hidup murid-murid, yang mau tak mau melewatkan hari-hari mereka di Lowood dengan pakaian terlalu sederhana, sangat sedikit air untuk mencuci muka, kedinginan di malam hari, dan yang terparah adalah makanan yang tak bermutu apalagi bergizi. Lambat laun lingkungan di Lowood menjadi semakin tidak sehat dan wabah tifus akhirnya merajalela dan membunuh separuh murid Lowood. Jane lolos dari maut saat itu, ia melewatkan delapan tahun di Lowood, enam tahun sebagai murid dan dua tahun sebagai guru.

Jane yang saat itu berusia delapan belas tahun, merasa bahwa sudah saatnya ia meninggalkan Lowood dan mencari kehidupan yang baru, karena pada dasarnya Jane adalah orang yang tidak mau berhenti pada satu titik; ia mau melihat dunia, bertemu dengan orang-orang yang berbeda-beda wataknya, dan mengecap pengalaman-pengalaman baru yang baik baginya. Maka nasib membawanya ke Thornfield Hall, dimana ia menjadi guru pribadi seorang gadis Prancis kecil bernama Adele, yang adalah anak asuh seorang tuan tanah yang kaya namun eksentrik, Mr. Rochester.

Mr. Rochester bukanlah pria yang tampan, namun lambat laun Jane terpikat oleh karisma dan keeksentrikan yang ditunjukkan majikannya itu, serta kekuatan sifat-sifatnya yang mengalahkan kekurangan fisik yang dimilikinya. Mr. Rochester yang dua puluh tahun lebih tua dari Jane itu juga melihat keistimewaan di dalam diri Jane, yang meskipun ”sangat biasa”, namun memiliki semangat, kekuatan, kecerdasan, kepekaan, bahkan kekeraskepalaan yang tidak ditunjukkan wanita-wanita cantik dan terhormat yang telah lalu lalang dalam hidup Mr. Rochester.

Poster film Jane Eyre (rilis di Amerika Serikat Maret 2011)

Singkat cerita, Mr. Rochester memutuskan untuk melamar Jane, tanpa peduli perkataan orang lain, tanpa menimbang untung dan rugi (karena pernikahan pada masa itu seringkali memperhitungkan masalah koneksi yang memberikan keuntungan bagi salah satu atau kedua belah pihak). Mr. Rochester merasa telah menemukan pasangan yang sebanding dengannya dari segi prinsip dan cara pandang terhadap hidup, seorang wanita yang benar-benar mengerti dirinya dan mencintai dia apa adanya. Namun malang, hari itu tidak pernah terjadi pernikahan antara Mr. Rochester dan Jane, oleh karena misteri besar yang melingkupi Thornfield Hall yang kelam akhirnya tersingkap!

Jane melarikan diri dari tuan dan kekasih yang dicintainya itu oleh karena peristiwa ini, dan melanjutkan hidup. Walau sebelumnya sempat miskin dan terlunta-lunta, ia diselamatkan oleh sebuah keluarga yang terdiri dari seorang pendeta pria muda dan dua adik perempuannya. Belakangan, terungkap bahwa ketiga orang ini, St. John, Diana dan Mary Rivers, adalah saudara-saudara sepupu Jane. Betapa bahagianya Jane menemukan keluarga yang selama ini ia rindukan untuk miliki! Namun hari-hari Jane masih diisi oleh kenangan pahit dan kerinduan kepada Mr. Rochester, yang tak berhasil diketahui kabar dan keberadaannya. Sementara itu, St. John Rivers sang pendeta muda dan sepupu Jane, mendesaknya untuk mendampinginya pergi ke India sebagai misionaris. Tawaran ini sangat menarik bagi Jane yang mendambakan melihat dunia, namun membayangkan harus meninggalkan tanah kelahiran sekaligus tempat kenangannya akan Mr. Rochester yang tak bisa diraihnya sangat memberati hati Jane. Pilihan mana yang akan diambil Jane?

###

Jane Eyre adalah roman klasik abad sembilan belas, buah karya Charlotte Brontë (1816-1855), yang bersama dua adik perempuannya, Emily dan Anne, dikenal sebagai trio penyair dan novelis wanita yang mempunyai pengaruh besar dalam dunia kesusasteraan Inggris.

Kekuatan penceritaan Charlotte Brontë terletak pada penjabaran emosi, pemikiran, dan karakter tokoh-tokoh di dalam cerita, yang disampaikan dengan sangat detail dan mendalam. Karakter kedua tokoh utama, Jane dan Mr. Rochester, terutama, membuat saya jatuh cinta. Karena sang penulis dengan lihainya mengemas kedua karakter ini begitu rupa sehingga saya terpesona dengan kekuatan karakter mereka yang jauh melampaui ”bungkus” luarnya. Betapa sesungguhnya penampilan fisik dan harta, untuk menilai kekuatan seorang manusia, berada di tempat kedua!

Tokoh-tokoh lainnya dalam Jane Eyre juga tak sembarang ”numpang lewat”, ada banyak karakter yang bisa meninggalkan kesan yang kuat di hati pembaca, misalnya Mrs. Reed yang sampai nafas terakhirnya tak mau melepaskan diri dari kebencian, Blanche Ingram si gadis bangsawan yang cantik namun sangat sombong dan selalu meremehkan orang lain. Karakter yang paling membuat saya sebal adalah St. John, si pendeta yang memaksakan kehendaknya kepada Jane dengan membawa-bawa nama Tuhan.

Karena ini merupakan novel klasik, maka jangan berharap ada banyak adegan romantis fisik dalam buku ini. Namun sebaliknya, cinta yang berusaha ditorehkan oleh penulis melalui buku ini adalah sungguh-sungguh cinta sejati; yang tanpa syarat, yang melampaui batas-batas adat, kebiasaan, dan pandangan yang dibuat manusia.

“Aku menganggap diriku sangat diberkati — melebihi yang bisa diungkapkan dengan kata-kata; karena aku adalah hidup suamiku, sama seperti dia adalah hidupku. Tidak ada wanita yang lebih dekat dengan pasangannya daripada aku: secara mutlak hidup sebagai tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya. Aku tidak pernah lelah hidup bersama Edward: dia tak pernah lelah bersamaku, sebagaimana kami tak pernah lelah dengan denyut jantung yang berdetak dalam dada kami masing-masing.”


Detail buku :
“Jane Eyre”, oleh Charlotte Brontë
688 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥