Jane Austen, Love Her or Hate Her? – The Classics Club’s March meme

The question for The Classics Club’s March meme is:

Do you love Jane Austen or want to “dig her up and beat her over the skull with her own shin-bone”? (Phrase borrowed from Mark Twain).

1. Why? (for either answer)?

2. Favorite and/or least favorite Austen novel?


Honestly, I can’t decide just yet. I have only read two books of her; the first was Pride in Prejudice in Indonesian translation. With this one I had bad experience, since the translation failed to bring the atmosphere of Austen’s Regency England, and to be honest, I think that it was flat and boring. And then I tried reading Northanger Abbey, which I liked better than Pride and Prejudice, but still I didn’t go further than giving it three out of five stars.

Jane Austen

For me, Austen is 19th century chick lit. But, please allow me to say that “To every kind a book there is a season, a time to read Austen and a time to read Dickens, a time to read Twain and a time to read Brontë, a time to read Shakespeare and a time to read Poe, a time to read Hodgson Burnett and a time to read Conan Doyle, a time to read Montgomery and a time to read Wilde, a time to read Kipling and a time to read Hemingway.”

(If there was a Bible of classics literature then Ecclesiastes 3 should sound like the above)

Blame it on Joe Wright AND Matthew Macfadyen that I should love the 2005 adaptation of Pride and Prejudice. (Now, do you think that disliking a book and at the same time loving its adaptation is impossible? It happens to me.) I also watched the 2007 BBC miniseries of Northanger Abbey, which I also liked a lot more than the book. And I watched two versions of Sense and Sensibility; the 1995 adaptation and the 2008 BBC miniseries. And one more, the 2007 TV movie of Persuasion, which I enjoyed the least from all the titles I mentioned above.

Watching an adaptation of Pride and Prejudice made me want to give another chance to Ms. Austen, lest at first I couldn’t enjoy her writing because of the limitations of translation. And I currently have a copy of Sense and Sensibility waiting to be read. I have a feeling that it would be my favorite of all Austen’s novels, because from watching the adaptations I learned that I love the story, and it relates to my personal life. As for other titles from Ms. Austen, I haven’t had interest in them yet.

Last of all, it won’t be complete discussing Austen without mentioning her fictional heroes. I mean, they are like Disney princes to me with all their charm and good looks and in some of them, great wealth. Add charismatic actors to play these Austen’s heroes and you get ladies swooning.

My Top 3 Austen Heroes:


Edward Ferrars from Sense and Sensibility as portrayed by Dan Stevens in 2008 BBC miniseries

Film Title: Pride and Prejudice.
Fitzwilliam Darcy from Pride and Prejudice as portrayed by Matthew Macfadyen in 2005 movie adaptation

Henry Tilney from Northanger Abbey as portrayed by JJ Feild in 2007 BBC miniseries

Okay, I slipped a little bit of fangirling in this meme post, my bad. 😛 However, if you want to know more about Jane Austen’s heroes, you might enjoy reading this post. Now let us go back to the main question, do I love or hate Jane Austen? I am still in between about her novels. But in the case of the adaptations of her novels, I would say LOVE, well, at least the titles I have mentioned above. 😉


Northanger Abbey – Jane Austen

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Sang heroine dalam kisah ini adalah Catherine Morland, seorang gadis tujuh belas tahun yang naif dan tidak berpengalaman, serta hobi membaca terutama novel-novel gothic. Ia belum pernah mencicipi dunia di luar kampung halamannya di Fullerton. Sampai suatu ketika Mr. dan Mrs. Allen, teman dekat keluarga Morland; mengundang Catherine untuk menghabiskan waktu beberapa bulan bersama mereka di Bath, suatu kota peristirahatan bagi sebagian warga Inggris kalangan atas. Di Bath, Catherine berkenalan dengan beberapa orang, antara lain Isabella dan John Thorpe, anak-anak dari Mrs. Thorpe yang adalah kawan sekolah Mrs. Allen. Ia juga berkenalan dengan seorang pemuda karismatik bernama Henry Tilney, dan nantinya dengan Eleanor Tilney, adik dari Henry. Setelah menghabiskan beberapa bulan di Bath, Catherine diundang ke kediaman keluarga Tilney, yaitu Northanger Abbey yang dulunya adalah biara. Di biara yang besar dengan banyak ruangan misterius inilah pikiran Catherine bergolak dalam imajinasi yang mencekam, sebagaimana novel-novel gothic yang begitu dicintainya.

Kisah Northanger Abbey terbagi menjadi 2 tema utama, yaitu:

1. Pertumbuhan menuju kedewasaan yang dialami karakter utama, yaitu Catherine. Inilah mengapa Northanger Abbey dikategorikan dalam genre bildungsroman (a story about coming-of-age). Setelah berinteraksi dengan beberapa karakter di dalam buku, watak Catherine yang aslinya naif dan polos mulai berkembang. Perubahan dalam watak Catherine terutama disebabkan oleh interaksinya dengan kakak-beradik Thorpe, yang pada awalnya menempatkan diri sebagai kawan sejati Catherine, namun sebenarnya mereka tidak tulus dan manipulatif.

Catherine, dalam perjalanannya menuju kedewasaan, pelan-pelan mulai mengasah kemampuan membaca karakter orang lain, dan bukan hanya membaca buku.

2. Kegemaran membaca yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Dalam kasus ini adalah Catherine yang hobi membaca novel-novel gothic. Peristiwa-peristiwa yang dibacanya di dalam novel-novel tersebut membekas begitu rupa di dalam pikirannya dan menghasilkan imajinasi yang overaktif. Batasan antara fantasi dan kenyataan menjadi kabur, dan akibatnya hubungannya dengan orang lain (dalam hal ini Henry Tilney yang dicintai Catherine) jadi rusak. Northanger Abbey merupakan gothic parody, yaitu parodi dari novel-novel gothic yang sedang booming pada masa Austen hidup. Secara spesifik Austen menyebut The Mysteries of Udolpho karya Ann Radcliffe, yang menjadi bacaan Catherine sepanjang buku ini dan yang membuat imajinasi Catherine melambung tinggi. Mungkin rumus yang ada di pikirannya adalah: an old building = history and mysteries to be unveiled = a hidden villain. Secara keseluruhan, adegan-adegan mencekam khas novel gothic hanya ada sedikit di dalam buku.

Tema-tema lain yang hendak disorot Austen antara lain norma-norma sosial pada masa itu, posisi seorang wanita di masyarakat, dan materialitas yang begitu mencolok, apalagi kalau menyangkut pernikahan.

Simak beberapa petikan dari buku sebagai berikut:

[Kritik Austen mengenai kaum perempuan pada masanya, yang cenderung fokus pada hal yang sia-sia, misalnya penampilan]

“It would be mortifying to the feelings of many ladies, could they be made to understand how little the heart of man is affected by what is costly or new in their attire; how little it is biased by the texture of their muslin, and how unsusceptible of peculiar tenderness towards the spotted, the sprigged, the mull, or the jackonet. Woman is fine for her own satisfaction alone. No man will admire her the more, no woman will like her the better for it. Neatness and fashion are enough for the former, and a something of shabbiness or impropriety will be most endearing to the latter.”

[Menyangkut keberadaan novel yang cenderung diremehkan, terutama oleh kalangan kelas atas. Masyarakat Inggris abad 18 cenderung mengganggap novel sebagai sarana hiburan semata dan bukannya sebuah karya seni yang serius]

“And what are you reading, Miss—?” “Oh! it is only a novel!” replies the young lady… in short, only some work in which the greatest powers of the mind are displayed, in which the most thorough knowledge of human nature, the happiest delineation of its varieties, the liveliest effusions of wit and humor are conveyed to the world in the best chosen language.”

 Hal ini dijawab oleh Austen dengan dialog antara Catherine-Henry sebagai berikut:

“But you never read novels, I dare say?”

“Why not?”

“Because they are not clever enough for you—gentlemen read better books.”

“The person, be it a gentleman or lady, who has not pleasure in a good novel, must be intolerably stupid. I have read all Mrs. Radcliffe’s works, and most of them with great pleasure. The Mysteries of Udolpho, when I had once begun it, I could not lay down again; I remember finishing it in two days—my hair standing on end the whole time.”

Perkembangan hubungan Catherine-Henry diceritakan dengan menarik. Karakter Catherine dipertemukan dengan Henry yang jauh lebih dewasa, cerdas, simpatik, dan boleh dibilang sabar dan instruktif pada Catherine yang masih kekanak-kanakan. Dialog mereka seringkali membuat tertawa, atau sedikitnya gemes. 🙂

“…it is a nice book, and why should not I call it so?”

“Very true,” said Henry, “and this is a very nice day, and we are taking a very nice walk, and you are two very nice young ladies. Oh! It is a very nice word indeed! It does for everything. Originally perhaps it was applied only to express neatness, propriety, delicacy, or refinement—people were nice in their dress, in their sentiments, or their choice. But now every commendation on every subject is compromised in that one word.”


It was no effect to Catherine to believe that Henry Tilney could never be wrong. His manner might sometimes surprise, but his meaning must always be just; and what she did not understand, she was almost as ready to admire, as what she did.

Wah, saya rasanya paham mengapa Catherine jatuh cinta kepada Henry. 😀

Kesimpulan yang saya ambil setelah membaca buku yang ditulis Austen pada awal karirnya (ditulis sekitar tahun 1798–1799, dan diterbitkan secara anumerta di tahun 1817), dan notabene merupakan novel Austen yang “dipandang sebelah mata” oleh kebanyakan orang:

Fokus dalam buku ini tidak jelas. Begitu banyak unsur dan tema yang dikemukakan Austen sehingga satu novel tidak menyampaikan satu tema yang utuh, namun beberapa tema. Mungkin “ketidakfokusan” ini bisa dimaklumi karena novel ini merupakan salah satu karya Austen yang pertama. Namun, membaca buku ini  tetap menyenangkan, karena banyak adegan yang lucu, ditambah beberapa adegan yang menegangkan; serta pembaca juga beroleh banyak wawasan mengenai praktik sosial yang terjadi pada masa tersebut. Saya juga sangat menyukai adaptasi Northanger Abbey oleh PBS Masterpiece versi tahun 2007. Di dalam miniseri yang dibintangi Felicity Jones, JJ Feild, dan Carey Mulligan ini lebih banyak adegan menegangkan yang merupakan visualisasi imajinasi Catherine.

#postingbersama BBI 29 Juni 2012 tema buku gothic

Baca juga:
Visual Tour on Northanger Abbey
Post mengenai karakter Isabella dan John Thorpe

Detail buku:
“Northanger Abbey”, oleh Jane Austen
256 halaman, diterbitkan Februari 2008 oleh Signet Classics (pertama kali diterbitkan tahun 1817)
My rating: ♥ ♥ ♥


Being at the same time a bildungsroman and a gothic parody, Northanger Abbey quite confused me for not having a single theme. To be honest I expect more of the gothic stuff, but then I realize that Austen meant this work to be a parody of gothic novels, specifically Ann Radcliffe’s The Mysteries of Udolpho. I also learned a great deal about social norms, materiality and marriage, women’s position and the 18th century England’s underestimation of novels. But, I have to say, I enjoyed the witty book, finished it within a few days (and quite falling in love too with Henry Tilney, LOL! I gave the book 3 stars. Someday I might read The Mysteries of Udolpho. And I loved PBS Masterpiece’s 2007 adaptation of Northanger Abbey, a lot of action in it (visualizations of Catherine’s imagination).

7th review for The Classics Club Project, 3rd review for The Classic Bribe

Character Thursday [8]: The Thorpes of Northanger Abbey

Isabella & John Thorpe, from Northanger Abbey

Pernah punya kawan yang menyebalkan? Catherine Morland masih sangat muda, tujuh belas tahun, ketika mengenal Isabella Thorpe, dan kakak lelakinya, John Thorpe. Mula-mulanya Isabella bersikap sangat manis pada Catherine, sehingga Catherine yang polos tidak mempunyai pikiran buruk apapun terhadap Isabella, dan mereka pun menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Lama-lama, terbongkarlah watak Isabella yang asli, yaitu orang yang ceroboh dalam berkata-kata, tidak jujur, tidak setia, dan egois. Kakaknya tak kalah menyebalkan. Dari awal kisah ia sudah menunjukkan temperamen dan kata-kata yang kasar. Ia juga pemaksa dan sangat lancang.

Isabella Thorpe, the nineteenth-century mean girl.
Character played by Carey Mulligan

Berikut beberapa kutipan dari buku yang menunjukkan betapa menyebalkannya kakak-beradik Thorpe:

[Isabella dan opininya mengenai kaum pria]:

“Oh! They give themselves such airs. They are the most conceited creatures in the world, and think themselves of such importance!”

[Catherine sudah terlanjur membuat janji dengan kakak-beradik Tilney, ketika tiba-tiba Isabella dan John datang untuk mengajaknya pergi. Catherine berusaha sebisa mungkin menolak mereka, karena sudah terikat janji dengan kakak-beradik Tilney, tapi Isabella dan John tidak bisa menerima kata tidak]:

But Isabella became only more and more urgent, calling her in the most affectionate manner, addressing her by the most endearing names. She was sure her dearest, sweetest Catherine would not seriously refuse such a trifling request to a friend who loved her so dearly. (…) Isabella then tried another method. (…) “I cannot help being jealous, Catherine, when I see myself slighted for strangers, I, who love you so excessively! (…) But I believe my feelings are stronger than anybody’s; I am sure they are too strong for my own peace; and to see myself supplanted in your friendship by strangers does cut me to the quick, I own. These Tilneys seem to swallow up everything else.” Catherine though this reproach equally strange and unkind. (…) Isabella appeared to her ungenerous and selfish, regardless of everything but her own gratification.

John Thorpe. Should we judge him by his face?
Character played by William Beck

[Saat John Thorpe bersikap lancang, memberitahu Miss Tilney bahwa Catherine membatalkan janjinya dengan mereka, tanpa sepengetahuan dan seijin Catherine]:

“Well, I have settled the matter, and now we may all go tomorrow with a safe conscience. I have been to Miss Tilney, and made your excuses.”

“You have not!” cried Catherine.

“I have, upon my soul.”

Uh, saya punya alasan yang kuat untuk sebal pada 2 karakter ini, kan?


Character Thursday

  • Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
  • Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
  • Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
  • Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

  1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
  2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
  3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
  4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di post ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
  5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Nah, siapa Character Thursday mu minggu ini?

Visual Tour on Northanger Abbey

This is my entry for A Classics Challenge’s June prompt. The theme this month is Visual Tour, which I did with my latest classics read, Jane Austen’s Northanger Abbey.

What exactly is a Visual Tour?

A series of images that closely represents how you see the scene or description. It doesn’t have to absolutely follow the text but it must reflect the mood. Please be sure to include the quote you are referencing. – from November’s Autumn’s original post

Here I go–

“The morrow brought a very sober-looking morning, the sun making only a few efforts to appear, and Catherine augured from it everything most favourable to her wishes.” – page 84

“They determined on walking around Beechen Cliff, that noble hill whose beautiful verdure and hanging coppice render it so striking an object from almost every opening in Bath.” – page 107

“…and the pump-room to be attended, where they paraded up and down for an hour, looking at everybody and speaking to no one.” – page 31

“As they drew near the end of their journey, her impatience for a sight of the abbey—for some time suspended by his conversation on subjects very different—returned in full force, and every bend in the road was expected with solemn awe to afford a glimpse of its massy walls of grey stone, rising amidst a grove of ancient oaks, with the last beams of the sun playing in beautiful splendor on its high Gothic windows.” – page 154

“It was a narrow winding path through a thick grove of Scotch firs…” — page 171

Pride and Prejudice – Jane Austen

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”

Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.

Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda-beda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.

Suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet yang sangat ingin anak-anak perempuannya segera menikah, terutama si sulung Jane, begitu bersemangat mendengar kedatangan Mr. Bingley. Kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.

Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy. Pada bagian akhir cerita, ketika suatu masalah pelik menimpa keluarga Bennet, akhirnya Elizabeth pun dapat melihat kebaikan yang tersembunyi dalam diri Mr. Darcy, dan juga mulai membuka hatinya terhadap pria itu.


Saya banyak menyenangi novel-novel klasik, dan meskipun bukan penikmat roman, saya sangat menikmati membaca Jane Eyre karangan Charlotte Bronte. Ketika memutuskan membaca Pride and Prejudice, karya paling terkenal dari novelis roman ternama Jane Austen, saya berharap banyak bahwa novel ini, setidaknya, akan sebagus Jane Eyre. Ternyata saya sangat kecewa setelah membacanya. Isi Pride and Prejudice sangat mencerminkan judulnya (yang bila diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berarti Harga Diri dan Prasangka), diuraikan penulis menjadi 585 halaman dalam versi terjemahan Indonesianya. Ceritanya, walau tidak bisa dibilang beralur lamban, namun datar-datar saja, cenderung hambar, tanpa ada konflik yang berarti, dan sangat mudah ditebak. Kebanyakan hanya berkisah tentang kunjungan Mr. X ke tempat Y, pesta di Z, dan tokoh-tokoh yang mengagumi rumah yang mereka kunjungi, melontarkan pujian untuk entah taman atau perabotnya, dan tentu saja percakapan-percakapan panjang nan ngalor ngidul yang terjadi antar tokohnya. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”

Hal yang menarik mengenai Pride and Prejudice bahwa di Indonesia ini ada tiga penerbit yang hampir secara bersamaan merilis versi terjemahannya. Yang pertama adalah penerbit Bukune, yang kedua Qanita (Mizan Group) yaitu versi yang saya baca ini, dan yang terakhir Gramedia Pustaka Utama, yang sedianya akan terbit pertengahan tahun 2011. Tertarik membandingkannya? Kalau saya sih, jujur, angkat tangan. Nyerah. ;-P

Detail buku:
“Pride and Prejudice”, oleh Jane Austen
585 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating : ♥ ♥