How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

tolstoyBuku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

Detail buku:
How Much Land Does A Man Need?, oleh Leo Tolstoy
64 halaman, diterbitkan 2015 oleh Penguin Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Adaptation Review: Anna Karenina (2012)

anna-karenina-poster03

In 1874, in the Imperial Russia, the aristocratic Anna Karenina travels from Saint Petersburg to Moscow to save the marriage of her brother Prince Oblonsky, who had had a love affair with his housemaid. Anna Karenina has a cold marriage with her husband, Count Alexei Karenin, and they have a son. Anna meets the cavalry officer Count Vronsky at the train station and they feel attracted by each other. Soon she learns that Vronsky will propose Kitty, who is the younger sister of her sister-in-law Dolly. Anna satisfactorily resolves the infidelity case of her brother and Kitty invites her to stay for the ball. However, Anna Karenina and Vronsky dance in the ball, calling the attention of the conservative society. Soon they have a love affair that will lead Anna Karenina to a tragic fate. (source: IMDb)


The Philosophy of Anna Karenina

If so many men, so many minds, certainly so many hearts, so many kinds of love. – Leo Tolstoy

 

Kutipan diatas merangkum apa yang ingin disampaikan sang pengarang dalam Anna Karenina. Di dalam kisah Anna Karenina ada cinta dalam berbagai jenis dan bentuknya; yang dalam bahasa Yunani dikenal melalui empat istilah: STORGE, EROS, PHILEO, dan AGAPE. Di dalam film, cinta kasih orang tua terhadap anak-anaknya dan sebaliknya (Storge) ditunjukkan oleh Anna terhadap putranya Seriozha dan juga oleh beberapa karakter lain. Asmara antara pria dan wanita (Eros) nampak dalam hubungan terlarang Anna dan Vronsky. Kasih antara sahabat atau saudara (Phileo) ditunjukkan oleh dua orang yang berbeda karakter, Oblonsky dan Levin, yang dikisahkan tetap berteman baik meski memiliki prinsip yang berbeda. Dan yang terakhir, kasih Agape yang selfless dan rela berkorban ditunjukkan oleh karakter Kitty yang rela melayani seseorang yang dianggap hina oleh masyarakat.

Turning the Book Into a Work of Art

Kemewahan versus kesederhanaan, kehidupan bangsawan versus kehidupan petani, serta kesetiaan versus ketidaksetiaan yang disorot dalam kisah Anna Karenina diterjemahkan ke dalam film dengan apik oleh sutradara Joe Wright. Dari awal saya mendengar bahwa adaptasi film terbaru Anna Karenina akan digarap oleh Joe Wright, saya sangat excited dan tidak sabar untuk segera menontonnya. Ini karena saya menikmati dua film garapannya yang lain, Pride and Prejudice (2005) dan Atonement (2007) yang kebetulan kedua-duanya juga merupakan adaptasi dari novel. Dan benar saja, Joe Wright sekali lagi memesona saya lewat Anna Karenina. Terutama karena film Anna Karenina disuguhkan dalam visual yang unik—penonton seakan-akan melihat film di dalam setting teater—atau malah sebaliknya, teater dalam film? Yang manapun itu, visual art, sinematografi, setting, dan juga desain kostum dalam Anna Karenina sungguh-sungguh stunning, didukung pula oleh penulisan skenario oleh Tom Stoppard dan soundtrack lagu folk Rusia. Namun setting teater dalam film juga seakan menjadi bumerang bagi film ini, karena beberapa adegan tampak didramatisir secara berlebihan dan menjadi sangat ”opera sabun”. Namun bagi penggemar period drama, menurut saya Anna Karenina cukup memanjakan selera.

anna-karenina-picture02

anna-karenina04

Cast Review

Sekarang saya mau mengomentari cast-nya. Saya pernah berkata bahwa saya bosan melihat Keira Knightley. I mean, I saw her in so many movies already. Dan jelas-jelas Keira adalah aktris favorit Joe Wright, karena selain dalam Anna Karenina, ia juga muncul dalam dua film yang sebutkan tadi, Pride and Prejudice dan Atonement. I have to say that despite her appearances, she didn’t disappoint in this movie. Satu saja kekurangan Keira, yaitu terlalu kurus! Dan setelah ini sepertinya saya akan absen menonton film-film yang ada Keira Knightley di dalamnya, sampai entah kapan…

anna-karenina-poster04

Kemudian saya dikejutkan oleh Jude Law yang kali ini memerankan Karenin suami Anna, sosok seorang pria berumur yang serius dan kaku, seseorang yang menjaga betul martabat keluarganya. They made Jude Law look unattractive. Jude Law, ladies and gentlemen.

anna-karenina-poster05

Aaron Taylor-Johnson yang memerankan Count Vronsky, malah menurut saya kurang greget aktingnya. Walaupun Aaron dan Keira cukup sukses membangun tensi dalam adegan demi adegan sampai akhirnya mereka resmi menjadi pasangan selingkuh, but I don’t think they look good together…

anna-karenina-poster06

 Dalam film ini juga ada aktor favorit saya, Matthew Macfadyen, yang memerankan Oblonsky, kakak Anna yang tukang selingkuh (bedanya sama Anna yang cuma selingkuh satu kali, Oblonsky selingkuh berkali-kali). Penampilan Matthew di Anna Karenina nggak banget, tambun dan berkumis gede. Tapi cocok lah ya dengan peran Oblonsky yang dibawakannya. Dan akting Matthew dalam film ini sungguh-sungguh lucu dan komikal, nggak jadi sebel deh padahal doi tukang selingkuh. 😛

Ada juga Domhnall Gleeson yang kita kenal sebagai Bill Weasley dalam franchise film Harry Potter. Domhnall berperan sebagai Levin, sahabat Oblonsky yang jatuh cinta kepada Kitty, adik ipar Oblonsky. Kisah cinta Levin dan Kitty sungguh kontras dengan kisah cinta Anna dan Vronsky yang berakhir tragis. Levin awalnya ditolak oleh Kitty, namun berbagai kejadian mendewasakan karakter Kitty dan pada akhirnya ia menerima cinta Levin. Domhnall cukup sukses menghidupkan karakter Levin yang pekerja keras, sederhana, dan setia, chemistrynya dengan Alicia Vikander pemeran Kitty juga dapet. What a sweet couple. Tapi saya penasaran mengapa tidak ada kissing scene sama sekali untuk mereka? Apakah untuk menegaskan “cinta murni” (kalau memang bisa dikatakan begitu) yang mereka miliki? Oh whatever, I want a sweet kissing scene between Levin and Kitty, because honestly, Anna and Vronsky made me sick.

anna-karenina09

Memorable Quotes:

Anna: “If you have any thought for me you will give me back my peace!”
Vronsky: “ There can be no peace for us, only misery, and the greatest happiness.”

Levin: “Kitty is of the heavens, an angel. And I am of the earth. But then I thought and thought, and there’s no life for me without her.”

Vronsky: “I love you.”
Anna: “Why?”
Vronsky: “ You can’t ask why about love.”

Last Words

Jangan kaget kalau mendengar beberapa penggal dialog dalam bahasa Prancis, karena kehidupan kaum aristokrat di Rusia pada akhir abad 19 memang sangat dipengaruhi oleh Prancis. Saya suka bagaimana sutradara Joe Wright menggambarkan kehidupan sosial kaum aristokrat Rusia pada zaman itu seperti di atas panggung sandiwara dan bagaimana Levin “keluar” dari panggung sandiwara tersebut sebagai satu-satunya karakter utama yang menggambarkan kemurnian dan kedekatan dengan dunia nyata. Anna Karenina mendapat 4 nominasi dalam Oscar 2013 namun sayangnya hanya membawa pulang 1 piala Oscar untuk kategori Best Achievement in Costume Design. Film berdurasi 2 jam 9 menit ini punya beberapa titik bosan seperti layaknya film drama pada umumnya, namun tetap merupakan sebuah work of art yang sayang untuk dilewatkan.

Gambar-gambar yang digunakan dalam post ini diambil dari sini.

Average rating on IMDb: 6,7 out of 10 Anna Karenina (2012) on IMDb
//

My rating: 7,5 out of 10

Awards: Won 2013 Academy Awards for Best Achievement in Costume Design (for Jacqueline Durran). Nominated for Best Achievement in Cinematography, Best Achievement in Production Design, and Best Achievement in Music Written for Motion Pictures (Original Score). Won 2013 BAFTA Film Award for Best Costume Design. Won 2013 Critics Choice Award for Best Art Direction and Best Costume Design.

Details:

“Anna Karenina”, released September 2012 (UK)
Adapted by Joe Wright from the novel by Leo Tolstoy, Screenplay written by Tom Stoppard
Starring Keira Knightley, Jude Law, Aaron Taylor-Johnson, Matthew Macfadyen, Kelly Macdonald, Domhnall Gleeson, Alicia Vikander, Ruth Wilson, Olivia Williams, Oskar McNamara
Runtime 129 min.

Books Into Movies Monthly Meme Button 1

N.B. : Saya memang hanya pernah membaca Anna Karenina versi simplified (baca reviewnya di sini), dan sejauh yang saya ingat plot di dalam buku yang saya baca sama persis dengan plot di dalam film. Bisa jadi ada perbedaan antara adegan di film dengan adegan aslinya di buku versi unabridged. Post movie review Anna Karenina ini juga disertakan dalam Books Into Movies Monthly Meme yang diadakan oleh blog HobbyBuku’s Classic.

Classic Author of August 2012: Leo Tolstoy

If so many men, so many minds, certainly so many hearts, so many kinds of love.
– Leo Tolstoy

Beliau adalah, tak diragukan lagi, salah satu penulis besar asal Rusia yang paling diingat dunia.

LEO TOLSTOY dilahirkan dengan nama Lev Nikolayevich Tolstoy pada tanggal 9 September 1828 di Yasnaya Polyana, kediaman keluarga Tolstoy di provinsi Tula, Rusia, merupakan anak keempat dari pasangan Count Nikolai Ilyich Tolstoy dan Countess Mariya Tolstaya (Volkonskaya). Yatim piatu sejak usia sangat muda, Tolstoy yang memiliki darah ningrat belajar ilmu hukum dan bahasa di Kazan University pada tahun 1844, namun tidak berlanjut dan beliau kembali ke Yasnaya Polyana dan kemudian banyak menghabiskan waktu di Moskow dan St. Petersburg.

Pada tahun 1851, beliau memutuskan untuk bergabung dalam ketentaraan bersama dengan abangnya di Kaukasus. Pada fase inilah Tolstoy mulai menelurkan karya tulis, yaitu autobiografi dalam trilogi, yang pertama adalah Childhood (1852), kemudian disusul Boyhood (1854) dan Youth (1857). Beliau meninggalkan ketentaraan pada tahun 1855 dan mulai mengembangkan kemampuan sastranya dengan bergabung dalam lingkaran-lingkaran sastrawan di St. Petersburg. Namun, sebagian waktunya tetap ia habiskan di Yasnaya Polyana di mana atas dasar kepedulian sosial ia mendirikan sekolah bagi anak-anak petani di tanah miliknya. Ketika sekolah yang didirikannya tidak berjalan dengan baik, beliau mengadakan perjalanan ke Eropa Barat di mana ia mengkaji dasar-dasar peradaban modern.

Tolstoy menikahi Sophia Andreyevna Bers pada tahun 1862. Sophia yang enam belas tahun lebih muda dari Tolstoy adalah seorang gadis muda terpelajar dan ia memberi Tolstoy 13 orang anak, 5 diantaranya meninggal dalam masa kanak-kanak. Kehidupan rumah tangga mereka tidak bahagia, antara lain disebabkan oleh kejujuran Tolstoy yang mengungkapkan perselingkuhan yang dilakukannya dan perbedaan konsep mengenai tugas seorang istri. Bagaimanapun, Sophia memberi Tolstoy kemudahan dalam proses penulisan beberapa karya, termasuk The Cossacks (1863), War and Peace (1864–69) serta Anna Karenina (1873–76), dengan bertindak sebagai sekretaris, proof-reader dan pengelola keuangan. Dua mahakarya Tolstoy, salah satunya adalah War and Peace yang merupakan prosa epik sangat tebal yang mengetengahkan periode pendudukan Napoleon tahun 1812, sedangkan Anna Karenina adalah kisah tragis seorang wanita bangsawan yang terjebak antara filosofi kebangsawannya dan kemiskinan serta penolakan masyarakat yang harus ditanggungnya akibat perzinahan.

Leo and Sophia Tolstoy at Yasnaya Polyana, source

Perjalanan instrospeksi diri yang menyakitkan menghasilkan pertobatan yang membuat Tolstoy merengkuh ajaran kasih Kekristenan dan penerimaan prinsip pasifisme (anti kekerasan). Tahap-tahap pertobatannya yang terjadi sekitar tahun 1876 dirangkum dalam Confession (1879), dan sepanjang sisa hidupnya beliau berusaha mempraktikkan dan memperkenalkan keyakinan barunya dalam serangkaian karya, antara lain A Short Exposition of the Gospels (1881), What I Believe In (1882), What Then Must We Do? (1886), dan The Law of Love and the Law of Violence (1908).

Tolstoy dikenal sebagai seorang anarkis dalam hal ketidaksetujuannya atas sistem otoritarian yang terjadi di negara maupun gereja. Beliau juga menganggap bahwa aristokrasi merupakan beban bagi rakyat miskin dan mendukung redistribusi kekayaan melalui kepemilikan tanah secara kolektif. Ide-ide inilah yang menciptakan konflik antara dirinya dengan pihak pemerintah dan gereja ortodoks Rusia. Beliau juga terus menyuarakan prinsip anti kekerasan dan kesederhanaan hidup sepanjang hidupnya. Di masa selanjutnya, pemikiran-pemikiran Tolstoy ini banyak mempengaruhi tokoh-tokoh seperti Mahatma Gandhi (yang memang sempat mengadakan hubungan korespondensi dengannya), Martin Luther King Jr, dan lain-lain.

Karya-karyanya yang berikutnya berfokus dalam masalah moral, termasuk novella The Death of Ivan Ilyich (1884), drama The Power of Darkness (1886), dan novel The Kreutzer Sonata (1889). Karya-karya terakhirnya antara lain novel Hadji Murad (1896–1904), Resurrection (1899–1900), serta drama The Living Corpse (dipublikasikan secara anumerta tahun 1911).

Mendekati akhir hidupnya, hubungan dengan istrinya makin memburuk dengan semakin radikalnya keyakinan yang dipegang oleh Tolstoy. Kengototan Tolstoy untuk mempraktekkan keyakinan Kristen dan meninggalkan semua perkara duniawi menyebabkan konflik berat antara dirinya dan istrinya. Anak-anaknya, kecuali putri bungsunya, Alexandra, berpihak pada ibu mereka. Pada tahun 1910, Tolstoy meninggalkan rumah dengan Alexandra tanpa tujuan tertentu. Hawa dingin berakibat buruk pada tubuh Tolstoy yang memang sudah lemah, dan beliau meninggal pada tanggal 20 November 1910 di rumah kepala stasiun kereta api di Astapovo, dan jenazahnya dimakamkan di Yasnaya Polyana.

Tahun terakhir hidup Tolstoy diadaptasi dalam sebuah novel karya Jay Parini dan telah difilmkan dengan judul The Last Station (2009). Dalam film ini Christopher Plummer berperan sebagai Tolstoy dan Helen Mirren berperan sebagai istrinya, Sophia Tolstaya. Dua aktor ini memperoleh nominasi Oscar atas peran dalam film tersebut.

– Dari berbagai sumber

***

Saya sudah menjadi penggemar karya-karya Tolstoy sejak membaca beberapa cerpennya untuk pertama kali. Bagi saya, seorang Leo Tolstoy adalah sosok sastrawan besar yang mampu menuliskan kisah yang sebenarnya sangat sederhana, namun sangat indah dan sarat nilai-nilai moral, cinta kasih dan kemanusiaan. Saya tertantang untuk membaca mahakarya beliau yang super tebal yaitu War and Peace, apalagi disebutkan dalam Wikipedia bahwa penggambaran perang dalam War and Peace terinspirasi dari Les Misérables, salah satu novel favorit saya. Semoga dalam tahun depan cita-cita ini bisa terwujud!

Beberapa review karya Leo Tolstoy:

Anna Karenina (simplified version)
Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada (kumpulan cerpen)
Rumah Tangga yang Bahagia

Anna Karenina – Leo Tolstoy, Simplified Version

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Berangkat dari kehidupan pernikahan yang tidak bahagia, wanita bangsawan yang cantik dan cerdas Anna Karenina terpikat oleh pesona Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan. Mereka pun jatuh dalam perzinahan, sesuatu yang juga dilakukan Oblonsky, kakak laki-laki Anna, terhadap istrinya Dolly. Cerita bergulir dengan menguraikan perkembangan hubungan Anna dan Vronsky, bagaimana mereka memutuskan untuk hidup bersama meskipun Anna belum bercerai dari Karenin, suaminya. Juga pergumulan Anna yang rindu agar putranya, Seriozha, hidup bersamanya dan Vronsky. Dan salah satu hal yang terpenting adalah keteguhan hati Anna yang bertekad tetap memunculkan diri di tengah masyarakat walaupun secara sosial ia telah dikucilkan dan segala pembicaraan tentangnya selalui bernafaskan sentimen negatif. Sampai akhir cerita, Anna berjuang menghadapi segala situasi yang menghimpitnya—sampai pada suatu titik ia memutuskan bahwa ia tidak sanggup lagi.

Kisah tragis Anna dalam Anna Karenina yang dibingkai dalam setting Rusia abad ke-19 ini langsung disandingkan oleh penulis Leo Tolstoy dengan kisah Levin, sahabat Oblonsky, yang meskipun mengalami berbagai hambatan di awal hubungannya dengan perempuan yang dicintainya, Kitty, namun akhirnya mereka menikah dan menjalani kehidupan yang bahagia. Saya membaca versi simplified (disederhanakan) dari Anna Karenina ini karena ingin sekedar mengetahui jalan ceritanya, mumpung versi terbaru filmnya yang dibintangi Keira Knightley sedianya akan mulai tayang November nanti. Beberapa hal yang bisa saya pelajari dari versi sederhana Anna Karenina ini:

1. Pernikahan yang tidak didasari dengan cinta adalah sumber masalah. Pada zaman novel ini ditulis, memang pernikahan yang demikian lazim terjadi, sehingga Tolstoy mengangkat isu ini ke dalam suatu karya tulis yang menunjukkan apa akibatnya jika suatu pernikahan tidak didasari dengan cinta.

2. Deretan karakter dalam novel ini begitu manusiawi. Ambil saja contoh Anna. Pada satu sisi, keteguhan Anna patut diacungi jempol. Sebagai heroine (tokoh utama wanita) yang tidak biasa dalam sebuah novel, Anna memilih untuk berpegang pada prinsipnya sendiri dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, walaupun masyarakat dan keadaan di sekitarnya tidak merestui. Anna juga bukanlah orang yang bebal, saat ia tengah sekarat pun ia memohon pengampunan dari Karenin, suaminya. Dan Karenin, walaupun digambarkan sebagai seorang pria yang kaku dan dingin, memaafkan Anna begitu rupa sampai-sampai saya berandai-andai akan bagaimana jadinya kalau Anna dan Karenin saling mencintai.

3. Ketika memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan seseorang, cinta saja tidak cukup. Perlu ada pengabdian terhadap orang tersebut dan pengorbanan akan kepentingan-kepentingan pribadi. Dua hal ini adalah perwujudan yang lebih sempurna dari perasaan cinta. Sehingga ketika pasangan hidupmu tidak lagi rupawan ataupun menyenangkan, anda tetap akan berada di sisinya, tidak peduli apapun yang terjadi.

“Aku akan selalu mencintaimu, dan jika seseorang mencintai orang lain, ia akan mencintai keseluruhan dari orang itu apa adanya dan bukan hanya apa yang ia sukai dari orang itu.”

*

Tiga bintang untuk Anna Karenina yang meskipun dalam versi telah disederhanakan, tetap banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Apakah suatu saat nanti saya akan membaca Anna Karenina versi unabridged yang setebal bantal itu? Well, why not? 😉

Baca juga: ulasan karakter Anna Karenina

 

Detail buku:
Anna Karenina, oleh Leo Tolstoy
198 halaman, diterbitkan tahun 2005 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1877)
My rating: ♥ ♥ ♥


Review in English:

This is a short review of the simplified version of Anna Karenina. Why the simplified version, you might ask? Well, I found it at a book fair the other day and I was just curious with the storyline of Anna Karenina, I thought that at least I should have read the simplified version before the recent adaptation is out next November. So I bought it and read it within 2 days only (it’s only 198 pages thick). And what I got was the tragic story of Anna, an attractive young woman living in the high society of 19th century Russia. Sick and tired of her cold and boring husband Karenin, Anna seek solace in the arms of a handsome young officer named Count Vronsky. As their affair was going on, Anna still was troubled by her love for her son and Karenin’s, Seriozha. Anna wanted Seriozha to live with her and Vronsky, but Karenin, still wasn’t divorcing Anna, wouldn’t let Seriozha go. In the meantime, Anna was secluded from society as a form of punishment for her act of adultery with Vronsky. But being a rather unusual heroine, Anna was determined to keep her place in society, even though her presence was unwanted and disdained.

The oh-so-glamorous trailer of Anna Karenina (coming up December 2012)

Even though this was only a simplified version, there are a lot of moral values I can take from Anna Karenina. First, marriage without love is the source of trouble. Second, the characters of this novel were so human with their flaws. I was especially impressed in Anna’s determination to live her life in her own way, no matter how disgraced her life was, no matter what society said and think of her. The moment when Anna was dying and begging for forgiveness from Karenin drove me to tears and I wished that she loved her husband instead, so that any of the terrible things wouldn’t happen to her! But hey, there wouldn’t be the Anna Karenina we all know today if she did. Lastly, when you decided to spend your life with someone, love is not enough. You need to devote yourself to your partner and sacrifice your personal matters, so that one day if your partner is no longer pretty or nice, you will still be at his/her side and never leave no matter what happens. So, I gave three out of five stars for the simplified version of Anna Karenina. Will I read the unabridged version someday? Well, why not? I’m honestly tempted to do so.

11th review for The Classics Club Project, 7th review for The Classic Bribe

Character Thursday [9]: Anna Karenina

Mulai minggu lalu, feature Character Thursday di blog Fanda Classiclit punya wajah baru, juga format baru yang memuat poin-poin yang semakin memudahkan kita untuk mendalami sebuah karakter dalam karya fiksi.

 

Nah, minggu ini saya mau membahas karakter utama dari salah satu novel mahakarya sastrawan Rusia Leo Tolstoy, yaitu Anna Karenina. Warning: versi yang saya baca bukan versi yang unabridged tapi hanya versi yang simplified saja, sehingga tulisan di bawah mungkin tidak menggambarkan keseluruhan dari karakter Anna Karenina.

*** SPOILER ALERT! ***

  • Are they protagonist or antagonist?

Anna Karenina adalah karakter protagonis di dalam novel.

  • Who are they? What was their role in the book?

Anna adalah seorang wanita aristokrat yang cantik, berpendidikan, dan mempunyai semangat tinggi yang hidup di Rusia pada abad ke-19. Ia juga dikenal luas dalam pergaulan kaum kelas atas. Anna  menikahi Alexei Karenin, seorang pejabat pemerintahan yang berkarakter dingin dan kaku, dan jauh lebih tua darinya. Walaupun pernikahan mereka tidak bahagia, Karenin dan Anna dikaruniai seorang putra, Seriozha. Saat Anna berselingkuh dengan Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan, ia tercabik antara cintanya kepada Vronsky dan kepada putranya. Di satu sisi, bersama Vronsky ia merasakan kebahagiaan yang tidak dirasakannya saat bersama Karenin, namun di sisi lain ia juga sangat mencintai putranya sehingga tidak rela berpisah darinya.

  • What was your strongest impression on the character(s)? You can quote the dialogue or narration you got the impression from.

Terlepas dari situasi yang menjepitnya, Anna memilih untuk berpegang pada prinsip pribadinya dan tidak membiarkan dirinya hidup dalam kepalsuan. Walaupun ia mengalami pengucilan sosial sebagai sanksi atas perselingkuhannya, Anna tetap berkemauan keras untuk menampakkan dirinya di tengah masyarakat, misalnya dengan pergi ke pertunjukan opera. Hal ini berkebalikan dengan kakak lelakinya, Oblonsky, yang juga terlibat perzinahan namun tidak sekalipun ia membiarkan publik tahu bahwa ia melakukan perbuatan yang tercela.

Selain itu, meskipun dalam keadaan yang tercela, Anna tetap menunjukkan watak yang apa adanya dan masih menunjukkan penghormatan kepada suaminya, saat ia sekarat dan memohon maaf dari Karenin.

“Inilah yang ingin kukatakan padamu. Ada wanita lain di dalam diriku, aku takut padanya; itu adalah dia yang sedang jatuh cinta pada lelaki lain. Aku bukan wanita itu. Sekarang inilah diriku yang sebenarnya, seutuhnya. Aku sekarat sekarang, aku tahu siapa aku ini. Aku hanya menginginkan satu hal—maafkan aku, maafkan aku sepenuhnya!”

Adegan ini cukup menyayat hati, apalagi ketika Karenin dengan lapang dada memberikan maafnya, menunjukkan bahwa sekalipun ia pria yang dingin, ia masih punya hati nurani.

  • How do they develop throughout the book?

Walaupun menyala-nyala pada awalnya, lambat laun cinta antara Anna dan Vronsky pudar juga. Anna yang sebelumnya berpendirian kuat pada prinsip dan kata hatinya, secara psikologis mulai goyah. Ia mencurigai bahwa Vronsky menemui wanita lain dan merasa semakin insecure, apalagi dengan keadaan yang serba tidak menentu: ia belum bercerai dengan Karenin dan ia tidak memiliki hak asuh terhadap putranya. Karena belum bercerai maka Anna pun tidak bisa meresmikan hubungan dengan Vronsky. Diperhadapkan dengan segala situasi ini, Anna pun memilih jalan keluar terakhir yang membebaskannya dari segala penderitaan yang dialaminya.

“Apa yang ia cari sebenarnya dari diriku?” begitu pikirnya. “Bukan cinta, namun hanya sebuah kebanggaan karena berhasil mendapatkanku. Dia telah mengambil segala yang ia dapatkan dariku, dan aku sekarang tidak mau lagi diperalat olehnya.” (…) “Dia adalah segalanya bagiku, dan aku ingin ia memberikan segalanya untukku, namun ia semakin menjauh dariku. Dia telah menghentikan cintanya untukku, dan di mana cinta berakhir, benci akan dimulai.” (…) “Jika aku bisa bercerai dan menjadi isterinya, itu tidak akan mengubah apa pun—tidak akan ada perasaan baru yang timbul.”

  • What lessons or influences you got from them?

Pelajaran yang bisa diambil dari Anna, hanya satu kalimat pendek dan sederhana sih. Don’t be like her! Alias, jangan menjadi seperti dia! Di dalam buku yang saya baca, tidak terlalu dijelaskan mengenai awal pernikahan Anna dan Karenin, namun saya bisa menebak bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan yang direncanakan, dan tidak melibatkan cinta. Inilah yang menjadi akar masalah mengapa akhirnya Anna jatuh ke dalam pelukan Vronsky. Mau tahu akan jadi bagaimana jika suatu pernikahan tidak dilandasi rasa cinta yang kuat? Coba bacalah Anna Karenina! 🙂

Keira Knightley as Anna Karenina

Dalam adaptasi Anna Karenina yang akan rilis November 2012 nanti, karakter Anna diperankan oleh Keira Knightley. Menurut saya sih Keira cocok memerankan Anna, meskipun saya sudah agak bosan melihat Keira, film yang dibintanginya udah banyak banget sih! 😀

 Nah, siapa Character Thursday-mu minggu ini?

Rumah Tangga yang Bahagia – Leo Tolstoy

Baru-baru ini saya menemukan sebuah kutipan menarik dari akun @ihatequotes di Twitter. Jika diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia kira-kira artinya, “Sebuah hubungan yang baik mampu mengeluarkan yang terbaik dari dirimu, menerima yang terburuk dari dirimu, dan lebih lagi mendekatkan Tuhan padamu.”

Mungkin itulah yang dirasakan Marya Alexandrovna atau Masha, seorang gadis yatim piatu 17 tahun, terhadap sosok Sergei Mikhailich, yang adalah teman baik ayahnya sekaligus pelindung bagi Masha dan adiknya, Sonya. Mendung yang meliputi hati Masha ketika satu persatu ayah dan ibunya meninggal dunia perlahan-lahan terkikis oleh kepribadian Sergei Mikhailich yang selalu riang, jujur dan bersahaja. Sergei Mikhailich boleh berusia 36 tahun, namun yang dilihat Masha dalam senyumnya dan matanya yang berseri-seri tak ubahnya kanak-kanak berusia 10 tahun. Walau sebelumnya ia berperan seperti seorang ayah yang bijak bagi Masha, kini Sergei Mikhailich mengajari Masha yang masih belia sedemikian rupa, sehingga Masha bisa menjadi seseorang yang setaraf dengannya, dan hal ini sangat dihargai oleh Masha. Salahkah Masha bila ia jatuh cinta pada pria yang usianya jauh lebih tua darinya? Tak salah lagi, dalam sorot mata dan segala tindak tanduk Sergei Mikhailich, Masha dapat melihat bahwa pria itu juga mencintainya, hanya saja ia sepertinya sulit mengatakannya pada Masha.


“Tetapi mengapa ia tak lantas saja mengatakan cintanya padaku?” Aku merasa heran. “Mengapa dia merasa sulit dan merasa dirinya telah tua, sedangkan semua itu begitu mudah dan indah? Mengapa saat-saat yang segemilang ini dikatakannya telah berlalu dan tak ‘kan kembali?

Suruhlah ia mengatakan ‘aku cinta padamu!’ Suruhlah ia mengucapkannya dalam kata-kata. Suruhlah ia meraih tanganku dalam genggamannya, suruhlah kepalanya merunduk dan berkata ‘aku cinta padamu’. Suruhlah ia tersipu-sipu dan menundukkan kepalanya di hadapanku, dan biarlah kukatakan semuanya. Atau tidak, tak ‘kan kukatakan sepatah kata pun jua — akan kulilitkan lenganku dan kudekapkan badanku padanya dan menangis.”

Singkat cerita, seperti yang jelas tersirat pada judul buku, Masha dan Sergei Mikhailich menikah. Namun disinilah, tantangan yang sesungguhnya dimulai. Bagaimana Sergei Mikhailich, seorang pria yang sudah mapan dan sangat menikmati kehidupan pedesaan yang tenang, menghadapi gelora jiwa masa muda Masha yang jemu akan ketenangan dan mendambakan kegemparan, kehidupan yang hiruk pikuk, dan pergaulan yang penuh hasrat duniawi di kota? Bagaimanakah mereka akan mewujudkan apa yang dinamakan rumah tangga yang bahagia?

Kisah yang sebetulnya sederhana, namun terasa luar biasa indah akibat penceritaan yang kuat. Inilah yang menurut saya menjadi kekuatan karya-karya Leo Tolstoy, yang mana tidak semua penulis mampu melakukannya. Penerjemahan oleh Dodong Djiwapradja yang ‘nyastra’ sekali juga ternyata masih bisa dinikmati oleh saya yang tidak begitu terbiasa dengan gaya bahasa demikian, dan malah saya rasakan semakin menambah keindahan cerita.

Dalam Rumah Tangga yang Bahagia, Tolstoy berusaha menyampaikan bahwa kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah hidup untuk orang lain. Dalam hal rumah tangga, ini tentu berarti pengorbanan masing-masing pihak atas kepentingan diri sendiri, dan hidup bagi suami atau istrinya serta anak-anak mereka. Namun seringkali sifat manusia yang egois lebih dominan sehingga seseorang tak mau berkorban dan akhirnya terjadi konflik dalam rumah tangga, atau pengorbanan tidak terjadi timbal-balik sehingga rumah tangga menjadi timpang. Tolstoy juga menyampaikan bahwa, “Setiap waktu punya bentuk cintanya sendiri-sendiri”. Cinta yang dirasakan sepasang suami istri ketika baru saja menikah dan beberapa tahun setelah itu mungkin berbeda, tapi cinta itu tidak binasa, hanya berubah saja bentuknya. Dan sebetulnya salah satu hal sederhana namun penting untuk menjadi bahagia malah sering kita lupakan, yaitu puas dengan keberadaan pasangan kita, dan puas dengan segala sesuatu yang kita miliki. Pertanyaannya sekarang, mampukah kita hidup seperti itu?


“Satu-satunya kebahagiaan dalam hidup ini ialah hidup untuk orang lain. Aku yakin bahwa kami bersama-sama akan hidup rukun dan bahagia untuk selama-lamanya. Aku tidak melamunkan pergi ke luar negeri, juga tidak memimpikan kemewahan, melainkan hidup yang sama sekali lain hidup rumah tangga yang damai di pedalaman, hidup yang tak henti-hentinya berkorban dan cinta mencintai antara satu dengan lainnya, yang bersamaan dengan itu senantiasa menyadari akan adanya rahmat Tuhan yang Pengasih dan Penyayang dalam menghadapi segala yang bakal tiba.”

Resensi buku ini ditulis dalam rangka #SavePustakaJaya sekaligus baca bareng Blogger Buku Indonesia bulan November 2011. Lebih lanjut tentang Pustaka Jaya klik link ini : Demi Pustaka Jaya

Detail buku:

“Rumah Tangga yang Bahagia” oleh Leo Tolstoy
168 halaman, diterbitkan tahun 2008 oleh Pustaka Jaya
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada – Leo Tolstoy

”Tidak pernah akan ada saat di mana orang tidak perlu saling mengasihi.”

– 1 Korintus 13:8, terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari

***

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang mencintai, karena Tuhan sendiri adalah pribadi yang penuh dengan cinta. Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, demikian judul kumpulan cerita pendek karya Leo Tolstoy ini. Melalui lima cerpen karyanya, pembaca akan diajak merenungkan apakah hidup mereka telah diisi dengan cinta tanpa pamrih kepada sesama.

Tuhan Akan Bertamu ke Rumahku!

Martin Avdeich adalah tokoh utama dalam cerpen pertama yang berjudul sama dengan buku ini. Martin adalah seorang pengrajin sepatu yang telah ditinggal mati oleh istrinya, dan begitu pula anak-anak mereka tidak ada yang bertahan hidup, kecuali seorang bocah lelaki yang dipanggilnya Kapiton. Ketika Kapiton jatuh sakit dan akhirnya juga meninggal dunia, Martin terpuruk dalam keputusasaan dan meninggalkan Tuhan.
Sejak kedatangan tamu seorang biarawan yang menasihatinya untuk hidup bagi Tuhan, hidup Martin pun berubah, ia mulai rajin membaca Kitab Suci dan menjadi seorang pribadi yang menyenangkan.
Suatu malam Martin bermimpi mendengar Tuhan berbicara bahwa Ia akan bertamu ke rumah Martin. Keesokan harinya, dengan hati berdebar-debar ia menanti di tokonya. Ternyata yang muncul adalah seorang lelaki tua yang kedinginan, seorang perempuan yang menggendong anaknya, dan seorang perempuan tua penjual apel. Lalu dimana Tuhan yang begitu dinantikan oleh Martin? Pada akhirnya Martin pun memahami bahwa Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada.

Aku Mengampuni Engkau

Cerpen kedua yang berjudul Tuhan Tahu, tapi Menunggu bercerita tentang seorang saudagar muda bernama Aksionov, yang difitnah melakukan pembunuhan kepada seorang temannya. Aksionov dihukum dera atas kejahatan yang tak dilakukannya itu, kemudian selama dua puluh enam tahun ia menjalani kerja paksa di Siberia. Di penjara ia bertemu dengan pelaku pembunuhan temannya yang sebenarnya. Dan ia pun dihadapkan kepada pilihan untuk mengampuni orang itu atau tidak.

Haus akan Ajaran Tuhan

Perjalanan seorang uskup yang hendak berlayar ke suatu biara yang jauh mengawali cerpen ketiga yang berjudul Tiga Pertapa. Ketika sedang berlayar sang uskup mendengar cerita tentang keberadaan tiga orang pertapa yang tinggal di pulau tidak bernama. Sang uskup pun turun di pulau tersebut dan mengajarkan doa dan pemahaman tentang Kitab Suci kepada tiga lelaki tua yang bijaksana itu.

Hati yang Rela Berkorban demi Orang Lain

Cerpen keempat dan terpanjang di dalam buku ini berjudul Majikan dan Pelayan. Cerpen ini mengisahkan perjalanan seorang pedagang bernama Vasili dengan pelayannya, Nikita, pada suatu malam berbadai salju. Vasili yang aslinya seorang yang berwatak egois dan hanya memikirkan soal keuntungan yang bisa didapatnya lewat berdagang, tersentuh akan kesungguhan yang ditunjukkan pelayannya dalam menyertai sang majikan dalam perjalanan yang dapat membawa maut bagi mereka berdua. Di akhir dari perjalanan itu hanya seorang dari antara mereka berdua yang hidup, sementara yang satunya rela melepaskan hidupnya supaya rekannya tidak mati.

Apalah Arti Ibadahmu?

Dua Lelaki Tua adalah cerpen kelima dan terakhir di dalam buku ini, yang bercerita tentang Efim dan Elisha, dua orang lelaki tua yang bersahabat dan hendak pergi berziarah ke kota suci Yerusalem. Di perjalanan menuju Yerusalem, mereka sampai di suatu daerah yang terkena wabah penyakit dan penduduknya hanya tinggal menunggu maut. Elisha yang awalnya hanya hendak minta air kepada mereka, digerakkan oleh rasa belas kasihan dan membantu orang-orang itu, dengan pikiran bahwa ia bisa segera menyusul Efim. Namun kemudian ia bertanya pada dirinya sendiri, ”Apa gunanya menyeberang lautan untuk mencari Tuhan, bila selama itu aku kehilangan kebenaran yang ada di dalam diriku?” Elisha tinggal beberapa hari di situ dan berbuat lebih banyak lagi untuk orang-orang itu, sehingga ia tidak lagi menyusul Efim, melainkan langsung pulang ke rumahnya dari tempat itu. Sementara itu, Efim terus melanjutkan perjalanannya dan sampai ke Yerusalem. Ia beribadah kepada Tuhan di sana dan menyangka bahwa ia melihat Elisha ada di sana, sedang beribadah kepada Tuhan sama seperti dirinya.
Sepulangnya Efim ke rumahnya, ia mendapati bahwa ternyata Elisha tidak pernah menginjakkan kaki ke Yerusalem, namun ia juga telah beribadah kepada Tuhan, dengan cara menolong sesama yang membutuhkan pertolongannya.

Cerita ini mengingatkan saya pada lagu Kidung Jemaat yang berbunyi demikian:

“Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada hati tulus dan syukur.
Ibadah sejati jadikanlah persembahan. Ibadah sejati kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan, jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.”

###

Itulah kelima cerita pendek yang tertuang di dalam Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, kumpulan cerpen terbaik karya sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy (1828-1910), yang dikenal lewat dua karyanya yang dahsyat, War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873). Buah tulisannya sederhana, namun sarat nilai-nilai religius dan moral yang membawa pembacanya pada perenungan diri sebagai ciptaan Tuhan yang diciptakan untuk mengasihi dan melakukan pekerjaan baik hingga akhir hayat.

Detail buku:

“Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada” oleh Leo Tolstoy
197 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥