Rumah Kertas – Carlos María Domínguez

rumah-kertasSatu kata yang paling pas untuk menggambarkan novella yang hanya setebal 76 halaman ini adalah: Gila. Sinting. Edan. Crazy. Insane. Complete & utter madness. You name it lah…

Buku ini memang tentang orang-orang yang gila. Lebih spesifik lagi; gila buku. Tentang para kolektor buku dan pelahap bacaan yang rakus, yang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membangun ‘kerajaan’ berupa perpustakaan pribadi. Tentang kecemasan mereka yang sudah mengumpulkan begitu banyak buku sehingga tidak tahu lagi mau disimpan dimana buku-buku tersebut. (Don’t I know it!). Tentang sulitnya merawat dan memelihara koleksi buku, ketika jumlahnya sudah bukan lagi sebuah kebanggaan, tetapi mulai menjadi beban. Tentang terbatasnya waktu untuk membaca–padahal waktu-waktu menyepi bersama buku itulah yang paling dirindukan para pecinta buku.

Sekarang saya masuk ke bagian yang ‘gila’. Buku ini bercerita tentang Bluma Lennon, seorang dosen Universitas Cambridge yang meninggal tertabrak mobil, saat sedang asyik membaca buku kumpulan puisi Emily Dickinson. Tentang rekannya yang menerima paket yang dialamatkan kepada Bluma, yang berisi sebuah buku terjemahan Spanyol karya Joseph Conrad, yang dipenuhi serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Tentang penyelidikan yang dilakukan oleh sang rekan, yang membawa dia bertemu orang-orang gila buku lainnya, menelusuri kebiasaan-kebiasaan para bibliofil mulai yang normal hingga yang di luar batas kewajaran, dan menguak kebenaran mengerikan di balik misteri buku Joseph Conrad yang bersalut serpihan semen kering.

Rasanya saya sudah cukup mengungkapkan alasan mengapa buku ini layak dibaca. Bila perlu alasan lain:

1. Buku tentang buku selalu menarik untuk disimak.
2. Mungkin kita tidak akan pernah tahu keberadaan buku ini, boro-boro membacanya, jika tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Karena, saya pernah membaca bahwa Uruguay adalah negara paling kecil kedua di Amerika Selatan. Versi terjemahan buku ini belum lama terbit (September 2016 lalu) dan relatif gampang menemukannya di toko-toko buku terdekat.

Detail buku:
Rumah Kertas (judul asli: La casa de papel), oleh Carlos María Domínguez
76 halaman, diterbitkan 2016 oleh Marjin Kiri
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

tolstoyBuku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

Detail buku:
How Much Land Does A Man Need?, oleh Leo Tolstoy
64 halaman, diterbitkan 2015 oleh Penguin Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

LPM: Literaturia, Surabaya 2 Oktober 2016

Selamat pagi BBI-ers,

Pernah ikutan festival literatur, baik lokal maupun internasional? 😀 Saya sih jarang, haha. Kadang karena di Surabaya sendiri, acara literatur semacam ini jarang dan jaraknya cukup jauh dari rumah saya, dan bikin saya malas berangkat.

Kalian mengenali salah satu pembicara pada poster diatas? Pada tanggal 2 Oktober 2016 kemarin, Kak Melisa Mariani, pemilik blog Surgabukuku, diundang menjadi pembicara pada Literaturia. Literaturia mengusung tagline “The first, biggest, and most diverting literary event in Surabaya”. Di acara ini, Kak Melisa menjadi perwakilan BBI sebagai komunitas perbukuan dan penggemar baca.

Anyway. Dari BBI Surabaya, sayangnya hanya saya yang bisa datang, padahal menurut saya acara ini cukup kece dan menginspirasi. Literaturia digagas oleh grup Surabaya Youth, dan mengusung beberapa jenis acara. Mulai dari coaching class mengenai menulis, Chatterbus bersama Bernard Batubara, baca puisi, dan juga music performance (menurut saya DJ-nya yang ngeremix My Way ganteng sih…) #jadisalahfokus Saya juga hanya berkesempatan mengintip kelas Drop-A-Line bersama Hipwee dan Di-sku-shion yang diadakan sore hari.

Selain Kak Mel, ada beberapa tamu lain sebagai narasumber yaitu Mutia Prawitasari, penulis Teman Imaji, Ivana Kurniawati perwakilan dari Pecandu Buku, dan Akhyari Hananto dari Good News from Indonesia. Dimoderatori oleh Kak Hasan Askari, acara ini berlangsung hangat dengan format diskusi bersama peserta.

Di-sku-shion mengangkat tema dunia perbukuan dan peran komunitas perbukuan dalam masyarakat. Selain itu, disinggung juga mengenai Surabaya sebagai Kota Literasi. Ada banyak cerita menarik dari para narasumber. Mulai dari pengalaman suka dan duka Pecandu Buku yang menyediakan lapak baca di Surabaya. Kisah-kisah pembaca dan juga pengalaman Kak Akhyari di luar negeri, yang jadi membuka mata saya betapa mundurnya negara kita ini. Dari penulis Kak Mutia, ada cerita mengenai penulis-penulis yang ingin terkenal secara instan sehingga buku-bukunya tidak mengikuti proses penerbitan yang benar, dan kondisi kualitas literatur Indonesia saat ini, yang menurut saya sendiri memang memprihatinkan. Kak Mel sendiri bercerita mengenai suka duka menjadi blogger buku.

Ada banyak kendala mengapa literatur dan budaya kita masih tidak berubah. Salah satunya adalah regulasi dan instruksi pemerintah tanpa adanya tindakan langsung dari pemerintah. Ada juga sentilan mengenai sikap pemerintah yang plinplan dan cenderung membiarkan. Pegiat kegiatan semacam ini memang kurang mendapat support dari pemerintah, terbukti dari cerita Kak Ivana kalau Pecandu Buku sering kena gusur. Masyarakat sendiri masih tidak membudayakan bercerita dan membaca yang baik, lagi-lagi terbukti dari banyaknya acara televisi yang tidak mendidik, budaya membajak dan minta gratisan, membicarakan sisi negatif dari sebuah kejadian saja dan tidak berfokus pada sisi positif, dan menjadikan berita-berita jelek (bahkan hoax) viral. Hal-hal ini dianggap menghambat kemajuan bangsa kita.

Kak Mel sedang menceritakan bagaimana buku dapat mengubah cara pandang seseorang

 

Dari diskusi ini juga ada definisi literasi yang menarik menurut para narasumber. Literasi adalah sesuatu yang mencerahkan, membuat kita merasa dan mendaya guna, serta sesuatu yang berproses dalam keberadaannya. Literasi tidak hanya tentang buku, tapi juga berbagai hal yang mengelilingi buku itu sendiri seperti pembaca, penulis, kritikus, dan lain-lain. Saya sendiri setuju dengan definisi ini. Dan saya juga berpendapat Indonesia memiliki banyak sekali PR untuk meningkatkan kualitas literasi, termasuk mengubah pola pemberian informasi sehingga lebih positif 🙂
Semoga kedepannya, kita bisa semakin memajukan dunia literasi di Indonesia dengan hal-hal yang positif, bermutu, dan bermanfaat. Because literacy and books can, literally, change our lives and our mindsets.
Kiri ke Kanan: Hasan Askari, Akhyari Hananto, Melisa Mariani, Mutia Prawitasari, Ivana Kurniawati
Sekian LPM dari saya. Karena saya bikinnya agak buru-buru, maafkan kesalahan dalam penulisan dan juga tata bahasa yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan EYD.
-Nina Ridyananda, The Bookaddict Diaries

Bacaan Liburan Campur Aduk a la Surgabukuku (dan Mini-Reviews)

Banner Posbar 2016Hola!

Post ini dibuat dalam rangka ikutan event Posbar BBI bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday. Di bawah ini adalah daftar bacaan liburan (campur aduk) a la Surgabukuku. Kok campur aduk? Soalnya isinya buku dari macam-macam genre, mulai buku anak, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, sampai sastra klasik.

Ada 2 daftar dalam post ini, yang pertama adalah buku-buku yang pernah saya baca selama liburan (Read on Holiday(s)) dan yang kedua adalah buku-buku yang menurut saya cocok untuk dibaca selama liburan (Recommended Holiday Reads).

 Off we go!

Read on Holiday(s)

Flora & Ulysses: The Illuminated Adventures – Kate DiCamillo

Dibaca: 2 Juli 2016

Saya yakin banyak di antara teman-teman yang sudah tidak asing dengan karya-karya pengarang ini, misalnya The Miraculous Journey of Edward Tulane dan Because of Winn-Dixie. Nah, di buku Flora & Ulysses ini humornya yang lebih ditonjolkan oleh Tante Kate, bukan seperti di buku-buku lainnya yang biasanya menyentuh (baca: bikin mewek).

Tokoh utamanya adalah gadis kecil bernama Flora Belle Buckman, seorang cynic dan nerd yang sudah membaca sampai habis tiap seri komik berjudul Terrible Things Can Happen to You! Suatu hari, tetangga Flora membeli vacuum cleaner berkekuatan “super” yang dinamakan Ulysses 200X. Saking supernya, si vacuum cleaner menyeret Tootie si tetangga ke halaman luar, dan menyedot seekor tupai malang sampai setengah gundul. Eh ternyata, setelah tersedot vaccum cleaner tersebut, si tupai (yang akhirnya diselamatkan oleh Flora Belle dan dinamai Ulysses) jadi memiliki kekuatan super!

Ceritanya agak tak biasa bagi yang sudah familier dengan karya-karya Kate DiCamillo, tapi tetap menghibur, dan tetap ada nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan yang biasanya menjadi sorotan di dalam setiap bukunya. Dan ilustrasi di dalamnya membuat feel-nya seperti membaca novel dan komik dalam 1 buku.

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

Dibaca: 17 Juli 2016

Buku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

Classics for holiday reads? Why not? 😛 Toh buku ini berisi cerita pendek dan menurut saya termasuk ringan untuk dinikmati selama liburan. How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

i capture

I Capture the Castle – Dodie Smith

Dibaca: 22 Mei 2016

Termasuk novel coming-of-age klasik, buku ini menarik karena tokoh-tokohnya yaitu keluarga Mortmain, tinggal di sebuah istana. Bukan, mereka bukan keluarga bangsawan. Jangan bayangkan istana yang megah dengan lusinan pelayan, istana yang mereka tinggali adalah istana yang sudah lama diabaikan, dan malah ada bagian yang hanya tinggal puing-puing. Namun pemandangan di sekitar istana itu sangat indah, dan ada danau yang bisa direnangi saat musim panas. Setiap karakter di dalam novel ini sangat menarik dengan kekhasannya masing-masing, namun yang menjadi sentral adalah kakak-beradik Rose dan Cassandra. Rose yang tertua, paling cantik, dan sudah capek hidup miskin. Cassandra tidak secantik Rose, tapi dialah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang akan kita lihat jatuh cinta dan berkembang menjadi lebih dewasa. Suatu hari, keturunan dari pemilik istana yang mereka tinggali datang. Mereka adalah kakak beradik Simon dan Neil Cotton yang berasal dari Amerika, dan Rose langsung melihat Simon sebagai kesempatan untuk keluar dari hidup keluarganya yang miskin. Sulit meringkas plot novel ini dalam satu paragraf karena untuk novel yang termasuk dalam genre young adult, cerita novel ini cukup kompleks. Namun ada banyak bagian yang menghibur, misalnya ketika Rose dan Cassandra dikejar-kejar karena dikira beruang, padahal mereka hanya mengenakan mantel bulu beruang warisan bibi mereka yang nyentrik. Walaupun saya agak merasa meh dengan endingnya, saya cukup menikmati novel ini, apalagi deskripsi keindahan alamnya yang khas Inggris bikin cocok banget untuk dibaca dalam suasana liburan.

pohon2 sesawi

Pohon-pohon Sesawi – Y.B. Mangunwijaya

Dibaca: 23 Desember 2015

Walaupun disebut sebagai novel, buku yang sesungguhnya berisi beberapa naskah milik Romo Mangun yang tercerai-berai ini lebih terasa seperti kumpulan cerita. Melalui tangan Joko Pinurbo dan Tri Kushardini-lah naskah-naskah ini disunting hingga bisa menjadi buku yang enak dibaca. Saya tadinya agak takut membaca karya Romo Mangun karena takut isinya terlalu “teologis” tapi ternyata ketakutan saya sama sekali tidak terbukti, malah saya sangat menikmati buku yang termasuk out-of-my-comfort-zone ini. Dalam buku ini Romo Mangun menceritakan suka duka kehidupan sebagai Romo di paroki, dengan gaya jenaka yang bisa membuat pembaca terbahak-bahak. Banyak istilah Katolik yang bisa jadi membingungkan pembaca non-Katolik, tapi saya rasa buku ini bisa dibaca semua kalangan (yang berpikiran terbuka). 🙂

Recommended Holiday Reads

Tidak Ada New York Hari Ini – M. Aan Mansyur

Oke, buku ini mungkin adalah buku puisi paling kekinian saat ini. Tapi serius, jika untuk liburan kamu ingin membawa buku yang tipis, gampang dan cepat dibaca maka buku ini pilihan yang tepat. Apalagi jika kamu bepergian dengan kereta atau berjalan-jalan di kota besar (tidak harus New York), foto-foto di dalam buku ini cocok banget untuk menemani liburanmu.

The Penderwicks at Point Mouette – Jeanne Birdsall

Seri The Penderwicks adalah seri buku anak dengan tokoh utama 4 bersaudari: Rosalind, Skye, Jane, dan Batty dan anjing mereka, Hound. Dari keempat buku yang sudah terbit (saya belum membaca buku ke-4), menurut saya yang paling cocok dibaca saat liburan adalah buku ke-3, The Penderwicks at Point Mouette. Ceritanya, Skye, Jane dan Batty berlibur di pantai di Maine dengan bibi Claire dan sahabat mereka Jeffrey, tanpa kehadiran Rosalind saudari mereka yang tertua. Otomatis Skye-lah yang menjadi OAP (oldest available Penderwick) yang bertanggung jawab atas saudari-saudarinya yang lebih muda. Selain usaha keras Skye agar semuanya under control, pembaca juga akan diberi kejutan melalui perkembangan cerita untuk karakter Jeffrey. Selain seri Harry Potter dan Narnia, seri The Penderwicks ini adalah buku anak yang paling saya sukai.

The Penderwicks (buku #1) pernah saya review di sini.

And Then There Were None – Agatha Christie

Bayangkan kamu diundang berlibur ke suatu pulau terpencil bersama 9 orang lainnya, lalu satu demi satu mereka terbunuh dengan mengerikan. Hehehe, semoga jangan pernah terjadi beneran ya, serem. 😄 Nah, jika kamu ingin sedikit ketegangan untuk spice up your holiday, maka buku inilah jawabannya. Buku ini akan bikin kamu jantungan menebak-nebak siapa yang akan mati berikutnya dan siapa pembunuhnya. Tapi tolong jangan buka halaman terakhir sebelum saatnya tiba ya!

And Then There Were None pernah saya review di sini.


Okeeeee, kali berikutnya kamu pergi liburan, mungkin satu atau dua buku dari tujuh buku di atas bisa jadi pilihanmu untuk bacaan liburan. Ciao!

Coloring Book for Adults: FANTASIA – Nicholas F. Chandrawienata

anti-stress-coloring-book-for-adults---fantasiaBukan untuk kali pertama saya menulis review buku mewarnai di blog ini, karena sebelumnya saya pernah mempost review Coloring Book for Adults: BATIK yang dihadiahkan oleh Secret Santa BBI pada akhir tahun 2015 yang lalu.

Nah kali ini, saya ingin mereview buku mewarnai terbitan dalam negeri yang berjudul FANTASIA. Fantasia ini merupakan buku mewarnai favorit saya sejauh ini (saya punya 7 buku mewarnai) dan karena itulah saya merasa ada yang kurang kalau saya belum menuliskan reviewnya, dan membagi kesenangan ini dengan teman-teman sekalian. 🙂

Mari simak Kata Pengantar dalam buku ini:

Semua perkembangan dan kemajuan yang dialami umat manusia berawal dari fantasi.

Fantasi adalah berkat yang diberikan Yang di Atas untuk semua umat manusia.

Sejak kecil kita berfantasi tentang makhluk-makhluk khayalan. Sampai akhirnya makhluk fantasi manusia seperti unicorn, peri, dan naga mendunia dan dikenal banyak orang.

Di dalam buku ini bisa Anda temukan berbagai makhluk fantasi seperti burung phoenix, chimaera, sampai kurcaci. Saya berharap buku ini bisa membantu untuk melepas stres, juga memberikan inspirasi kepada Anda.

Mari kita bersama membangkitkan lagi naluri untuk berfantasi seperti anak kecil. Karena dengan berfantasilah kita sebagai manusia bisa terus berkembang.

Mari berfantasi dan mewarnai!

Faktor utama yang membuat kamu harus punya buku ini adalah ilustrasi-ilustrasi keren karya Nicholas F. Chandrawienata (@nickfilbert) yang mengisi ke-64 halaman buku ini. Menurut saya, style gambarnya khas, garis-garisnya kuat, dan nggak kalah dengan hasil karya para illustrator luar negeri. Dan dari beberapa kali saya mengupload hasil mewarnai buku Fantasia di Instagram, ada beberapa orang (bukan orang Indonesia) yang menanyakan dimana bisa beli buku ini.

Covernya memang terlihat gahar, tapi sebenarnya isinya cukup beragam mulai dari ilustrasi-ilustrasi yang cenderung girlie seperti gambar peri, malaikat, putri duyung dan putri oriental, atau yang cenderung maskulin seperti gambar naga, dewa Zeus, dan bajak laut. Beberapa gambar lain berkesan seram, misalnya gambar scarecrow, tengkorak, dan anjing berkepala tiga. Gambar tiga burung hantu dan magician malah berkesan cute, dan Nick juga menyelipkan dua halaman bergambar Barong Bali dan Garuda sehingga ada sedikit cita rasa Indonesia di buku ini. Salah satu plusnya lagi, detail pada ilustrasi-ilustrasi di buku ini tidak terlalu kecil-kecil jelimet seperti di kebanyakan buku mewarnai, yang malah bisa membuat tambah stres bukannya mengusir stres. Ada beberapa halaman di mana sang illustrator mengajak pewarna untuk menambahkan detail, misalkan di gambar naga dan rusa jantan. Selain itu, kamu bebas berkreasi dan menambahkan detail sendiri jika mau.

Selanjutnya sneak peek beberapa halaman isi buku Fantasia bisa dilihat di gallery di bawah ini. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Ketebalan kertas cukup memadai untuk mewarnai dengan media pensil warna atau crayon, namun hati-hati jika menggunakan spidol/connector pens, pensil warna water soluble dan cat air, karena bisa tembus ke belakang. Perlu diketahui juga bahwa halaman-halaman di buku ini dilengkapi pattern yang memudahkan untuk menyobek halaman, namun bagi mereka yang tidak ingin menyobek halaman hal ini bisa jadi masalah.

Dan berikut ini adalah beberapa hasil mewarnai saya dari buku Fantasia. Ilustrasi-ilustrasi lainnya yang sudah diwarnai bisa kamu intip di Instagram dengan hashtag #fantasiacoloringbook dan #nickfilbert.

Nah, gimana, apakah review singkat dan gambar-gambar yang saya pamerkan sudah cukup membuatmu ingin mewarnai buku Fantasia juga? Mari berkreasi dengan warna dan jangan lupa pamerkan hasil karyamu! 😉

Tentang Ilustrator

Nicholas Filbert Chandrawienata memulai karier di dunia ilustrasi pada tahun 2013 dan kini telah mengerjakan proyek bergengsi di dalam dan luar negeri. Cover novel The Walled City karya Ryan Graudin yang versi terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama juga merupakan salah satu karya Nick. Pada tahun 2015 yang lalu Nick juga pernah menerbitkan mini art book bertajuk Serene yang hanya dicetak terbatas. Mari kita tunggu karya-karya Nick selanjutnya. 😉


Detail buku:

Anti-Stress: Coloring Book for Adults – FANTASIA, oleh Nicholas F. Chandrawienata
64 halaman (26×25 cm), diterbitkan Desember 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 

Alice’s Adventures in Wonderland – Lewis Carroll

alice puffin chalkIt’s strange that even though I have been familiar with the character Alice since childhood (thanks to Disney), I have never actually read the book. While both of the Disney adaptations—the old-school animation and the latest one—are weird, I think the book was even weirder!

Curiouser and curiouser! Alice would say.

Alice, a curious child of seven, thought it was very strange indeed that on a hot day, she should see a White Rabbit that talks and wears a waistcoat and has a watch which he took out from his waistcoat-pocket. Piqued by her own great curiosity, she followed the frantic White Rabbit down a seemingly endless hole. Through the Rabbit-Hole, she was transported to Wonderland, a world in which everything is absurd, fantastical and even ridiculous, and nothing makes sense.

Why is this book so well-loved? I don’t have the answer to that question, but I know that I like this book because:

1. You can never guess what happens next. And Alice as the main character will keep you fascinated. When I decided to read this book I was in need of a sort of escapism, and little did I know that I was in for a treat. This book is a wild journey of imagination.

2. True, this book falls into the “literary nonsense” category, but you can’t help but admire Lewis Carroll’s wordplay. And some parts are just so funny.

Let’s take a look at a passage from The Mock Turtle’s Story:

“I couldn’t afford to learn it,” said the Mock Turtle with a sigh. “I only took the regular course.

“What was that?” inquired Alice.

“Reeling and Writhing, of course, to begin with,” the Mock Turtle replied; “and then the different branches of Arithmetic – Ambition, Distraction, Uglification, and Derision.”

“…Mystery, ancient and modern, with Seography: then Drawling—the Drawling-master was an old conger-eel, that used to come once a week: he taught us Drawling, Stretching, and Fainting in Coils.”

“And how many hours a day did you do lessons?” said Alice, in a hurry to change the subject.

“Ten hours the first day,” said the Mock Turtle, “nine the next, and so on.”

“What a curious plan!” exclaimed Alice.

“That’s the reason they’re called lessons,” the Gryphon remarked: “because they lessen from day to day.”

3. The cover of the edition of Alice’s Adventures in Wonderland I own (published by Puffin Books under the Puffin Chalk series). I mean, the cover alone would have been enough to rate this book 3 stars at least.

To wrap up this nonsense review, I only want to point out that even though I read this book for the first time as an adult, I read it with a mind of a child. I didn’t search for symbols and hidden meanings while reading, because the child in me didn’t need to understand to enjoy the journey.

“It’s no use going back to yesterday, because I was a different person then.”


Book details:

Alice’s Adventures in Wonderland, by Lewis Carroll
160 pages, published 2014 by Puffin Books (first published 1865)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Princess Bride – William Goldman

OLYMPUS DIGITAL CAMERAIt comes to this: I was in need of a light read after spending one and a half month preparing for IELTS. I don’t know exactly why I chose this book—maybe because I suddenly remember my history with The Princess Bride. I first bought The Princess Bride on impulse. The truth is I don’t like fantasy books all that much, and I also didn’t really like the cover, so I sold it to Mbak Dewi (it was a copy with this cover, anyway). Some years later, while casually browsing a pile of used books in a bookshop, I found another copy of The Princess Bride. Having watched the film and seeing that the book has a vintage-looking cover, I decided to buy it. Ha! This time I didn’t regret buying it because in addition to the eyecatching cover, it also has a map. It would make a splendid addition to my collection!

Now, moving on to the story. I will list the characters first.

Buttercup, a Florinese village girl of unmatched beauty.

Westley, an orphaned farm boy who worked (or slaved) for Buttercup’s father.

Prince Humperdinck, a scheming and power-hungry prince who loved hunting above all else.

Count Rugen, Humperdinck’s sidekick and confidant who was obsessed with pain.

Vizzini the brainy Sicilian.

Inigo Montoya the sword-wielding Spaniard.

Fezzik the Turkish giant.

All the Farm Boy ever said to Buttercup was, “As you wish.” Of course what he meant was “I love you” but it took Buttercup some time before she realises this. Not until a visit from Count and Countess Rugen when she saw the Countess seemingly took a fancy of Westley. But just after them realising their true feelings for one another, Westley sailed off to America to seek his fortune, in order to become a man worthy of Buttercup. Buttercup waited and waited, but news came one day that Westley’s ship had been attacked by the Dread Pirate Roberts and he never takes prisoners, which means Westley was dead. Heartbroken, Buttercup accepted marriage proposal from Prince Humperdinck (confused? Hang on a bit) with “I can never love him” in mind. Well, it means death if she said no. So began the preparations of the royal wedding, including months of making the village girl into a princess. One day while riding her horse, a weird trio consisted of Vizzini, Inigo, and Fezzik kidnapped her. But the trio’s plan (or more accurately, Vizzini’s plan, since he was the head of the trio) was threatened by the man in black, who followed them as they were sailing to the neighbouring country of Guilder, up the Cliffs of Insanity to the ravines that led to the Fire Swamp. (I’m going to leave it at this moment, there are so much adventures thereafter, but I don’t want to ruin your fun by spoiling them all.) 😉

Thoughts:

This book is the abriged version of S. Morgenstern’s The Princess Bride, the “good parts” version by William Goldman. (SEE UPDATE AT THE END OF THE POST) I don’t think that this book belongs to the fantasy genre, let alone a fairy tale, even though my copy says “a hot fairy tale”. I think it’s an adventure book with bits of fantastical elements. My copy of The Princess Bride starts with a 29-page introduction, rather too long for my taste. I was tempted to skip it altogether but later realized that it was somewhat necessary to read, that is if you want to know the background on the abridgement of S. Morgenstern’s work by William Goldman. Goldman’s “commentaries” are also scattered all over the book, but mostly they are short so it wouldn’t be a burden to read these additional paragraphs typed in fancy italic. As someone who’s seen the film first then read the book, I must say that I think both are equally entertaining. The film adapted the book very well, from Westley’s wittiness (performed gorgeously by Cary Elwes) to the memorable lines of Inigo (“Hello. My name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die.”)

inigoand of Vizzini (“Inconceivable!”).

inconceivableInigo and Fezzik making rhymes is also my favourite part of both the book and the film. Miracle Max and his wife Valerie were hilarious. The one character I like the least is the princess bride herself, in both the book and the film. However, the book can give you much more interesting scenes that didn’t make it to the film. For example Fezzik and Inigo’s adventure when they went through all five levels of Prince Humperdinck’s Zoo of Death to retrieve Westley was thoroughly explained in the book, while in the film it was reduced to short scenes in the Pit of Despair. The writing feels modern, so it easily falls into the “light reading” category. Of course you need to ignore some stuff if you want to enjoy the book, for example Buttercup accepting Humperdinck, the torture scenes, and how a lump of clay coated in chocolate could bring someone back from the dead. All in all, this is a delightful read. You should read it then watch the film. Or vice versa, I don’t really care. Just read it and watch it, in whatever order you’d like. 🙂

P.S. : I know this review is crap but it doesn’t make the book any less entertaining.

Here is the movie trailer:


Book details:

The Princess Bride, by William Goldman
283 pages, published 1987 by Turtleback Books/Del Rey Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


UPDATE (15 Mar 2016):

I have just found out that S. Morgenstern is not a real author, thanks to Fingerprinttale and Chiipurai who kindly informed me of this. Explanation on Wikipedia: Simon Morgenstern is both a pseudonym and a narrative device invented by Goldman to add another layer to his novel The Princess Bride.[26] He presents his novel as an abridged version of a work by the fictional Morgenstern, an author from the equally fictional country of Florin. The name may be a reference to Johann Carl Simon Morgenstern, who coined the term Bildungsroman. (Read the rest on Wikipedia).

Coloring Book for Adults: BATIK – Yulianto Qin, dan Tebak Secret Santa BBI 2015

buku mewarnai batikDi bulan-bulan terakhir tahun 2015 saya mulai menekuni hobi baru: mewarnai. Semua bermula pada saat saya beruntung memenangkan buku mewarnai My Own World di blog Ren. Setelah itu baru bermunculan buku-buku mewarnai dari penerbit-penerbit lain. Saat Penerbit Gramedia meluncurkan beberapa buku mewarnai, termasuk diantaranya BALI dan menyusul kemudian BATIK, saya memutuskan harus punya keduanya. Alasannya simple: karena khas Indonesia.

BALI sudah terbeli – dan kemudian saya memanfaatkan event tahunan BBI yaitu Secret Santa untuk memasukkan Buku Mewarnai BATIK ke dalam wishlist (setelah mendapat lampu ijo dari PICnya tentu, hehehe). Ternyata Santa yang baik memilih buku ini untuk dihadiahkan kepada saya. Jujur saja sebenarnya saya lebih ingin dapat buku bacaan, tapi senang juga kok pada saat paket berisi BATIK datang beserta bonus dua buah Derwent blender pens di dalamnya. Dan lebih senang lagi rasanya pada saat saya mulai mewarnainya. Thanks to you, Santa! 🙂

Begitulah ceritanya bagaimana saya bisa mendapatkan buku mewarnai BATIK dari Santa. Kenapa saya jelaskan panjang lebar? Karena jujur saja saya bingung mau nulis review seperti apa untuk buku ini, hihihi. Habisnya, ini bukan buku yang untuk dibaca. Baiklah, saya coba saja ya. 😀

Semua yang mengaku orang Indonesia pasti tahu bahwa batik adalah salah satu ikon kebudayaan Indonesia yang sangat kita banggakan. Batik Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada tanggal 2 Oktober 2009, lalu tanggal tersebut ditetapkan pemerintah sebagai Hari Batik Nasional. Nah, berbagai cara pun dilakukan untuk melestarikan batik sebagai salah satu warisan budaya nusantara. Tidak hanya dipakai, orang pun kini bisa ikut ‘membatik’ melalui Buku Mewarnai BATIK hasil karya Yulianto Qin ini. Mungkin tepatnya bukan membatik, tapi hanya memberi warna, karena semua motif batik dan ilustrasi sudah disediakan oleh tangan mahir sang ilustrator.

Ada 61 halaman yang bisa diwarnai, setiap ilustrasi dicetak di atas kertas tebal yang memberi para pewarna area yang luas dan nyaman untuk mewarnai. Dan di bagian akhir buku ada penjelasan Makna Motif Batik yang sangat informatif dan bermanfaat, jadi para pewarna tidak asal mewarnai saja tanpa tahu apa yang sedang diwarnai dan maknanya apa.

Misalnya, halaman 3 memuat motif batik Gurdo. Penjelasannya sebagai berikut: Gurdo berasal dari kata Garudo (Garuda), burung suci tunggangan Batara Wisnu. Motif Gurdo biasanya terdiri atas dua sayap (lar) yang mengembang. Motif ini merupakan simbol pengetahuan dan kejantanan yang menjadi kekuatan untuk memerangi kehidupan.

Selain berbagai macam motif pada kain batik, buku ini juga berisi ilustrasi wayang, ornamen, tarian, dan bahkan aksara Jawa. Misalnya Wayang Gunungan (hal. 1), Wayang Wong (hal. 15, 32, 46), Arjuna Kala (hal. 20), Kalamakara (hal. 31), Wayang Golek Rama Shinta (hal. 36), Penari Bedhoyo (hal. 39), dan berturut-turut Hanacaraka, Datasawala, Padhajayanya dan Magabathanga di halaman 58-61.

Di bawah ini adalah contoh beberapa gambar di dalam Buku Mewarnai BATIK. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Dan di bawah ini 3 gambar yang sudah selesai saya warnai. Hasil mewarnai yang lain bisa dilihat di akun Instagram pribadi saya @melmarian.

Karena di kebanyakan gambar ilustrasinya cukup rumit, maka dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk dapat menyelesaikan mewarnainya. Sampai pada saat review ini ditulis, saya baru menyelesaikan mewarnai 3 gambar saja dari keseluruhan 61 gambar! Tapi tenang saja, saya akan terus mewarnai buku ini kok. Karena saya tidak bisa menggambar dan tidak bisa membatik dengan canting, maka dari itu buku ini—dengan 61 ilustrasi luar biasa di dalamnya—yang bisa memuaskan jiwa (sok mendadak) nyeni saya. Terakhir, apakah saya juga harus memberi rating untuk buku yang tidak saya baca ini? Oh, baiklah. 4 bintang!

Book details:

Coloring Book for Adults: BATIK, oleh Yulianto Qin
65 halaman, diterbitkan tahun 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Tebak Secret Santa

SS2015-1-300x300

Sebelumnya saya sudah posting riddle Santa di sini, tapi mungkin karena telat postingnya dan ternyata foto riddle kurang jelas, jadi nggak ada yang komen, hiks. 😦 Jadi, saya tulis di sini lagi riddle dari Santa ya. Angka-angka sebelum kalimat saya tambahkan untuk penanda.

To: Melisa

1 Lihatlah mereka yang bernafas dan menggoreskan penanya. Satu saja dilihat di mula-mula.

2 Lalu ayo kita pergi!

3 Rencana awal adalah di hari Selasa setelah surga memanggil kita.

4 Bara, Rosa, bagaimanapun sebutannya, terucap sebuah nama.

5 Petualangan siap dimulai, waspadalah saat domba-domba terdiam, itu tanda naga merah siap memangsa.

6 Tujuan kita mungkin ke suatu rimba, bukan di Swedia atau Finlandia, atau Rusia, mungkin tidak jauh dari sana.

7 Singgah di negeri Britania pun bisa, temui sang ahli senjata dan wanita.

8 Ketika jiwa mencapai batas dan raga tertutup debu, kembalilah ke titik awal, sebelum kita memulai lagi.

9 SEJUTA TOPAN BADAI!!!

Brilian ya riddle dari Santa saya? Waktu membaca riddle ini pertama kali saya sudah langsung ngeh kata-kata di dalamnya menunjuk ke buku-buku tertentu. Saya coba “kupas” satu persatu:

Kalimat 3 –> Tuesdays with Morrie, The First Phone Call from Heaven – Mitch Albom

Kalimat 4 –> ???

Kalimat 5 –> The Silence of the Lambs, Red Dragon – Thomas Harris

Kalimat 6 –> Norwegian Wood – Haruki Murakami

Kalimat 7 –> Seri James Bond – Ian Fleming

Kalimat 8 –> Garis Batas, Selimut Debu, Titik Nol – Agustinus Wibowo

Kalimat 9 –> Tintin – Herge

Sedangkan Kalimat 1 bilang “Lihatlah mereka yang bernafas dan menggoreskan penanya. Satu saja dilihat di mula-mula.” Jadi yang harus diperhatikan adalah para pengarang. Dan kalau saya susun huruf pertama dari masing-masing nama pengarang hasilnya seperti ini:

M – ? – T – H – I – A – H

Woah! Sudah bisa ketebak, meskipun saya nggak bisa nebak apa maksudnya Kalimat ke-4 ! 😀

Mbak Muthiah Faris a.k.a. speakercoret, apakah tebakanku benar dan dirimu adalah Santaku?

All the Light We Cannot See – Anthony Doerr

all the light we cannot see

What to expect when you read a historical novel set in wartime? A display of brutality, a spectacle of bravery or cowardice or both, an atmosphere terrorized by bombs and soldiers, and, inevitably, tragic deaths, traumatized survivors. It would be stupid to expect a happy ending from a historical novel set in wartime.

But All the Light We Cannot See is unlike any war-themed historical novels I have read. Some books focus on the relationships (which usually make the tragedy even more depressing), some others on the desperate efforts the characters were making in attempt to get out of a situation, and some books reveal the reality of man when faced with fire; the worst and the best. This book combines all that, and more.

The story revolves around two major characters. First is a sightless French girl named Marie-Laure LeBlanc, daughter of the locksmith of the Museum of Natural History in Paris. Her father made her a model of their neighborhood in Paris and later the city of Saint-Malo, and got her Jules Verne books in Braille for her birthday. When German airplanes began to bomb Paris, she and her father fled to Saint-Malo, a walled city in northern coast of France to stay with her great-uncle, Etienne LeBlanc. It was unknown to Marie that they carried a dangerous treasure with them; an exotic blue diamond worth millions of francs known as the Sea of Flames.

The second major character is Werner Pfennig, a white-haired German boy who grew up in an orphanage with her sister. He liked to fix radios while her sister Jutta was busy making sketches. His intelligence and talent earned him a place in Schulpforta, a special school where the best German boys were trained for the war. Despite the brutality he faced everyday at Schulpforta, he had a heartwarming friendship with a boy named Frederick. Later he was sent for missions to several cities and finally, to Saint-Malo where he crossed paths with Marie-Laure, as the vague details of the story was being unwrapped one by one.

I am usually fascinated by war-themed books, and by the time I saw the cover of this book I was instantly attracted. On the cover it shows a photograph of a walled city by the sea and big skies. It is blue, my favorite color. And the fact that it won Pulitzer Prize for Fiction in 2015 made me set my heart to read it. But what makes this book different? It was very detailed and rather slow-paced that it took me 25 days to finish it. I have never read anything by Anthony Doerr before, but after reading this book I would like to think that he is a scientist with the soul of a storyteller, or maybe the other way around. He poured little details about locks, mollusks, diamonds, radios, birds, light, and science into the story and brought all of them together with a style of writing I find rather romantic.

The brain is locked in total darkness, of course, children, says the voice. It floats in a clear liquid inside the skull, never in the light. And yet the world it constructs in the mind is full of light. It brims with color and movement. So how, children, does the brain, which lives without a spark of light, build for us a world full of light?

War-themed books usually left me emotionally wrecked, but it’s not the same case with this book. It didn’t make me cry, but I am deeply moved by how the characters showed kindness toward each other, even in unlikely times and situations. I found more spark in the minor characters like Frederick and Madame Manec than in characters with bigger roles, but I love Werner Pfennig with all my heart, and wished that somehow, he could be spared of premature death. I am a little irritated when the characters “sees” or “hears”, as if they were relentlessly reminded of the past, whether it was in their near or distant past. Maybe if this happened only to several characters and not almost all of them, I would not be as annoyed. However, I love the way the author wove together the little stories of each characters into one epic and exquisitely written tale of courage and humanity. I give four stars for this book.

“You must never stop believing. That’s the most important thing.” – Madame Manec


Book details:

All the Light We Cannot See, by Anthony Doerr
531 pages, published May 2015 by Simon and Schuster
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Very Good Lives – J.K. Rowling

very good lives

The first thing that crossed my mind when I found out about Very Good Lives was: “What? She has written another book? But Career of Evil will be released soon! I haven’t even read The Casual Vacancy! She positively wants to keep her readers surprised!” And so on… But then I found out that this is a commencement speech she delivered at Harvard, in 2008. Why did it take so long to be published, I do not know. I am thankful it finally got published anyway.

As the title suggests, she pointed out two things in her speech: the benefits of failure and the importance of imagination. Ms. Rowling undoubtedly is no stranger to failure; she endured a failed marriage, rejections from publishers, she knows what poverty means and how it feels. And yet she spoke of the benefits of failure. Seriously, what benefits can you gain from failing?

She wrote (and spoke):

“So why do I talk about the benefits of failure? Simply because failure meant a stripping away of the inessential. I stopped pretending to myself that I was anything other than what I was and began to direct all my energy into finishing the only work that mattered to me. Had I really succeed in anything else, I might never have found the determination to succeed in the one arena where I believe I truly belonged. I was set free, because my greatest fear had been realized, and I was still alive, and I still had a daughter whom I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.”

The second thing she pointed out was the importance of imagination. She was not talking about the magical world of Harry Potter here, but rather about “the power that enables us to empathize with humans whose experiences we have never shared.” Here she shared her experience when she worked at the African research department of Amnesty International, where she caught glimpses of the cruelty, torture, and horrors some people has gone through, people who had the temerity to speak against their governments. She spoke about how the power of human empathy can truly save lives. That human beings have a choice between thinking themselves into other people’s places—the not so fortunate ones—or not to exercise their imaginations at all and close their minds and hearts to any suffering that does not touch them personally.

“If you choose to use your status and influence to raise your voice on behalf of those who have no voice; if you choose to identify not only with the powerful but with the powerless; if you retain the ability to imagine yourself into the lives of those who do not have your advantages, then it will not only be your proud families who celebrate your existence but thousands and millions of people whose reality you have helped change. We do not need magic to transform our world; we carry all the power we need inside ourselves already: we have the power to imagine better.”

She encourages us to not shrink in the face of failure and to do more for our less fortunate neighbors. Truly, this is an inspiring piece of writing, one you can reflect upon, one that has the power to stay with you for years to come, even if you only need about 30 minutes to read it.


Book details:

Very Good Lives: The Fringe Benefits of Failure and the Importance of Imagination, by J.K. Rowling
80 pages, published April 2015 by Little, Brown and Company
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥