Kumcer “1 Negeri, 10 Kisah” – Petra Career Center

1 negeri 10 kisah“Siapa bilang anak-anak muda kita masa bodoh dengan sejarah negeri sendiri?”

Pertanyaan inilah yang dicoba untuk dijawab melalui kumpulan cerpen self-published bertajuk “1 Negeri, 10 Kisah” ini. Jujur, ketika ditawari mengulas buku ini, saya sempat ragu. Masalahnya, saya terbilang jarang membaca buku karya pengarang Indonesia – apalagi yang debutan. Namun ketika diberi tahu bahwa sejarah menjadi tema utama kumcer ini, saya langsung tertarik. Sekali-kali mencoba rasa baru tak apalah. Dan kali ini, tidak ada kekecewaan di ujung pengalaman “icip-icip” ini.

Sejarah bagaimana kumcer ini bisa terbit terbilang menarik. Dimulai dari pelaksanaan Creative Writing Workshop yang diadakan Petra Career Center di Universitas Kristen Petra 28 Mei 2016 lalu, terbentuklah kerjasama antara panitia dan para pembicara workshop untuk mengadakan proyek membuat kumpulan cerpen bersama mahasiswa. Sepuluh cerpen dari mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari berbagai jurusan pun terpilih untuk dipublikasikan. Memang kesepuluh penulis muda ini masih boleh dibilang newbie, tapi karya merekalah yang dipilih oleh dua pembicara workshop yaitu Bapak Ang Tek Khun (Direktur Penerbit Gradien Mediatama) dan Bapak Brilliant Yotenega (Co-founder Nulisbuku.com), serta Jessie Monika selaku perwakilan dan penyelenggara workshop. Kisah selengkapnya tentang latar belakang terbitnya kumcer ini dapat dibaca pada bagian Prakata.

Sepuluh cerpen di dalam buku ini adalah sebagai berikut:

  1. Si Kelinci dan Si Singa, oleh Rina Pricelya Ibrahim

Kisah persahabatan antarsuku di tengah gejolak kerusuhan rasial yang terjadi pada Mei 1998.

“…saat melihat sekitarnya, teman-temannya, atau keluarganya, membenci suku yang berbeda dari mereka, akhirnya mereka belajar untuk membenci suku yang lain. Tapi, seperti mereka bisa belajar untuk membenci, mereka juga bisa belajar untuk saling memahami, kayak Zena dan Freya. Mereka juga harus sadar kalau perbedaan ada supaya kita sama-sama bisa maju, tidak untuk dipermasalahkan.”

  1. Galuh, oleh Monica Agnes

Sekilas seperti kisah Romeo dan Juliet, tapi yang pria adalah prajurit Majapahit, dan yang wanita adalah dayang putri Sunda, dan waktu itu terjadi Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda.

  1. Blue Amy, oleh Yomaldia Alfa Prilly Telussa

Di pedalaman Halmahera, hidup suku Lingon yang orang-orangnya memiliki mata biru dan rambut pirang. Ini secuplik kisah tentang mereka.

  1. Izakod Bekai, Izakod Kai, oleh Mozes Adiguna Setiyono

Berlatar belakang sejarah pembebasan Irian Barat, cerpen ini menyebut seorang tokoh nasional Papua yang mungkin belum banyak dikenal, J.A. Damari.

  1. Mei, oleh Ivonne Muliawati Harsono

Juga mengambil tema Mei 1998, namun kali ini lebih memfokuskan pada trauma yang dialami korban—yang membekas bahkan bertahun-tahun setelah kejadian, dan bermil-mil jauhnya dari tempat peristiwa itu terjadi.

“Aku masih ingat betapa aku dulu menjunjung tinggi rasa nasionalisme. Segala perjuanganku untuk mendekatkan orang-orang keturunan dan pribumi, seperti aku dan Dimas dulu, seakan tidak ada artinya lagi. Di mana negaraku saat aku membutuhkannya? Di mana nasionalisme saat mereka merenggut Mama?

  1. Le Soldat, oleh Natalia Angel

10 November 1945. Warga Surabaya bersiap bertempur melawan penjajah Inggris, termasuk seorang pemuda Prancis bernama Abelard Durand.

  1. Terpendam, oleh Jossy Vania Christiani

Salah satu cerpen yang paling menguras emosi, yang berkisah tentang bagaimana rasanya menjadi warga Tionghoa dan sekaligus keturunan orang yang dituduh pernah terlibat PKI, di zaman modern ini.

  1. Senja di Batavia, oleh Irene Priscilla Wibowo

Melihat jauh ke belakang ke tahun 1740, cerpen ini menengok kehidupan orang Cina yang tinggal di perkampungan di pinggiran Batavia, dan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

  1. Jalesveva di Antara Bintang-Bintang, oleh Yeremia Tulude Ambat

Kisah cinta muda-mudi berlatar belakang kota Surabaya, termasuk beberapa tempat yang terasa sangat familier bagi saya seperti Jalan Jakarta, Jalan Indrapura, hingga Monumen Jalesveva Jayamahe yang berdiri gagah di ujung utara kota Surabaya.

  1. Aku, Kamu, Kita, oleh Clarissa Monica

Cerpen penutup yang mengambil latar belakang kota Solo, dan, sekali lagi, Mei 1998. Kisahnya sederhana tapi memiliki makna yang dalam, tentang pentingnya “kita”, dan bagaimana upaya untuk terus-terusan mempertahankan “ke-aku-an” dapat menghancurkan “kita”, yaitu kepentingan bersama. Cerpen ini terasa relevan sekali dengan kondisi Indonesia sekarang ini…

“Nyali harus bergandengan dengan empati, kemauan untuk menghargai, dan untuk peduli kepada orang lain. Letak keberanian kita sesungguhnya adalah ketika si ‘aku’ itu berani menyingkirkan ke-aku-an, dan bersatu dengan ‘aku-aku’ yang lain menjadi ‘kita’. Dan itulah sumber kekuatan untuk melakukan perubahan bagi Indonesia…”

 


Secara keseluruhan saya menilai buku bercover merah terang ini bagus dan layak direkomendasikan. Cerpen favorit saya? Cerpen no. 5 dan no. 10. Memang ada beberapa penulis yang saya rasakan teknik menulisnya masih mentah, dan ada juga yang style-nya terlalu cheesy bagi selera saya, but still, it’s a good start. Usaha mereka untuk melakukan riset sebelum menulis juga patut diacungi jempol. Buku ini juga dilengkapi dengan profil singkat penulis di akhir masing-masing cerpen, dan ilustrasi yang semakin mempercantik buku.

Pada akhirnya, kumpulan cerpen ini membawa harapan.

Anak muda masih gemar menulis, dan mau berusaha melakukan riset dan membenahi tulisannya hingga matang.

Anak muda masih peduli dengan sejarah dan budaya Indonesia.

Anak muda menyimpan harapan bagi Indonesia yang bersatu, tidak terpecah belah; Indonesia yang kembali ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Dan satu tambahan harapan dari saya, agar langkah UK Petra mempublikasikan kumcer seperti ini diikuti oleh kampus-kampus lain.

Tertarik memiliki kumpulan cerpen “1 Negeri, 10 Kisah” ini? Hubungi CP Fano atau Jessie via SMS ke 081232273747 atau via e-mail ke careercenter@petra.ac.id. Harga Rp 57.000,-


Detail buku:

Kumpulan Cerpen “1 Negeri, 10 Kisah”, oleh Petra Career Center

141 halaman, diterbitkan tahun 2016 secara mandiri melalui Nulisbuku.com

Rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

Book Tag with Athaya Irfan

Haiii! Masih dalam rangka event BBI Share the Love 2017, kali ini saya dan Athaya tuker-tukeran 10 pertanyaan Book Tag, tentunya masih berkaitan tentang buku dan membaca.

Langsung aja, ini dia Book Tag Ahsyek (minjem istilah Aya) dengan Athaya Irfan:

booktagathaya

  1. Lebih suka buku standalone atau series? Alasannya?

Series, kebanyakan yang aku koleksi buku-buku berseri. Untuk aku buku berseri ceritanya lebih seru, rumit, dan berkelanjutan. Terutama buku fantasi macam A Game of Thrones, Bartimeaus, His Dark Material dan Inkheart. Nggak bisa kubayangkan Harry Potter dan A Game of Thrones gimana jadinya kalau dibikin standalone. Hehehe. Makin rumit ceritanya aku makin suka.

  1. Paling suka membaca dimana? (Ruang tamu, kasur, perpustakaan, garasi, dll?)

Paling suka baca di perpustakaan kalau bisa yang hening dan ada pendingin udaranya. Andai aku punya garasi, loteng atau basement pasti aku akan baca disana khusus kalau lagi baca buku horor dan triller. Tapi untuk baca buku romance paling nyaman di kasur, jadi kalau tiba-tiba nangis nggak ada yang lihat. Uhuk.

  1. Series terfavorit?

The Lunar Chronicles-nya Marrisa Meyer. Ada perpaduan retelling princess di dalam buku ini, seperti Cinderella, Red Riding Hood, Rapunzel dan Snow White. Ada tokoh super jahat dan kejam yaitu Ratu Levana. Totalnya ada 4 buku utama, dan beberapa novella untuk pelengkap. Tapi masih belum baca dua judul lagi yang belum kubaca; Fairest dan Stars Above menunggu diterjemahkan.

  1. Adaptasi film dari buku fantasy yang paling kamu suka?

Harry Potter series. Cast, pemilihan lokasi shoot dan semua di filmnya bagus. Bukunya jadi terasa hidup setelah diangkat jadi film. Kalau di urutan kedua dan ketiga aku suka The Hobbit dan Fallen.

  1. Buku thriller yang menurutmu harus dibaca setiap orang?

Murder on Orient Express-nya Agatha Christie.  Ketimbang Agatha aku lebih rekomen Dan Brown. Tapi bagaimanapun oma Agatha Christie dan Arthur Conan Doyle adalah perintis kisah-kisah thriller sampai akhirnya populer. Setiap orang harus baca buku Agatha minimal satu, lalu Dan Brown. Hehehe.  #MaklumPenulisFavorit

  1. Penulis favoritmu, yang dari Indonesia dan luar negeri?

Dari Indonesia, Tere Liye dan Ilana Tan. Luar negeri, Daniel Brown dan Jenny Han. Aku buatin masing-masing sepasang laki-laki dan perempuan ya. .

  1. Buku karya penulis Indonesia yang menurutmu harus diterjemahkan ke bahasa Inggris?

Gadis Penenun Mimpi-nya Gina Gabrielle, Duologi Negeri Para Bedebah-Tere Liye dan Raden Mandasia. Ketiganya punya potensi lebih diapresiasi di luar daripada di dalam negeri. Ditambah lagi masing-masing punya ide cerita yang nggak biasa. Pembaca dunia mesti baca.

  1. Tim Baca 1 Buku Sampai Habis atau Tim Baca Beberapa Buku dalam Sekali Waktu?

Aslinya aku ini pembaca setia, tim 1 Buku Sampai Habis. Sampai sekarang masih seperti itu. Tapi kadang aku menemukan buku yang ternyata nggak aku sukai lalu beralih ke buku lain. Entah itu bisa disebut Tim Baca Beberapa Buku dalam Sekali Waktu atau nggak. Tapi aku mulai meragukan kesetiaanku pada satu buku. LOL.

  1. Favorite quote

“You only get one life. It’s actually your duty to live it as fully as possible.”Me Before You. Buku ini walau alurnya lambat dan adegan yang repetitif tapi eksekusinya berhasil bikin aku terpana dan simpatik sama dua tokoh utamanya yang berakhir tragis.

  1. Book boyfriend

Thorne – The Lunar Chronicles. Thorne menurutku tipikal boyfriend yang nggak ingin terikat tanggung jawab dengan hal semacam cinta, konyol, dan ingin diagungkan sebagai kapten. Thorne muncul di tiga buku tapi paling berkesan di buku keempat. Perasaan cintanya benar-benar diuji disitu. Keren sekali! Khusus untuk Hot boyfriend aku pilih Jai di buku Tiger On My Bed.


bbi-share-the-love

Post ini sekaligus sebagai penutup rangkaian event BBI Share the Love 2017. Senang sekali saya bisa berpartisipasi dalam event ini dan mengakrabkan diri dengan sesama member BBI yang walaupun “pernah tahu” tapi sebelumnya belum pernah ngobrol. Athaya ini seru juga orangnya hehehe. Gara-gara ngobrol dengan Athaya saya jadi pengen kembali coba baca contemporary romance dan fantasy, ya siapa tahu aja ada buku-buku yang bener-bener saya suka kan? Dari beberapa buku yang muncul dalam Book Tag ini, Murder on the Orient Express otomatis masuk dalam daftar wajib-baca saya. Begitu pula dengan buku Raden Mandasia, kayaknya buku ini heboh banget dibicarain dan banyak yang ngasih review bagus. The Lunar Chronicles menarik juga deh, saya beberapa kali baca retelling dongeng dan biasanya suka. Terima kasih atas rekomendasinya, Athaya!

Oya, guest post saya di blog Athaya bisa dibaca di link berikut ini:

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Baca Sastra Klasik

Book Tag with Melmarian

Saya juga sudah menerima kado BBI Share the Love dari Athaya, yang saya posting di bawah ini:

Terima kasih buat BBI, Athaya, dan juga semua pembaca Surgabukuku! Let’s keep sharing the love! ♥ :*

Rumah Kertas – Carlos María Domínguez

rumah-kertasSatu kata yang paling pas untuk menggambarkan novella yang hanya setebal 76 halaman ini adalah: Gila. Sinting. Edan. Crazy. Insane. Complete & utter madness. You name it lah…

Buku ini memang tentang orang-orang yang gila. Lebih spesifik lagi; gila buku. Tentang para kolektor buku dan pelahap bacaan yang rakus, yang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membangun ‘kerajaan’ berupa perpustakaan pribadi. Tentang kecemasan mereka yang sudah mengumpulkan begitu banyak buku sehingga tidak tahu lagi mau disimpan dimana buku-buku tersebut. (Don’t I know it!). Tentang sulitnya merawat dan memelihara koleksi buku, ketika jumlahnya sudah bukan lagi sebuah kebanggaan, tetapi mulai menjadi beban. Tentang terbatasnya waktu untuk membaca–padahal waktu-waktu menyepi bersama buku itulah yang paling dirindukan para pecinta buku.

Sekarang saya masuk ke bagian yang ‘gila’. Buku ini bercerita tentang Bluma Lennon, seorang dosen Universitas Cambridge yang meninggal tertabrak mobil, saat sedang asyik membaca buku kumpulan puisi Emily Dickinson. Tentang rekannya yang menerima paket yang dialamatkan kepada Bluma, yang berisi sebuah buku terjemahan Spanyol karya Joseph Conrad, yang dipenuhi serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Tentang penyelidikan yang dilakukan oleh sang rekan, yang membawa dia bertemu orang-orang gila buku lainnya, menelusuri kebiasaan-kebiasaan para bibliofil mulai yang normal hingga yang di luar batas kewajaran, dan menguak kebenaran mengerikan di balik misteri buku Joseph Conrad yang bersalut serpihan semen kering.

Rasanya saya sudah cukup mengungkapkan alasan mengapa buku ini layak dibaca. Bila perlu alasan lain:

1. Buku tentang buku selalu menarik untuk disimak.
2. Mungkin kita tidak akan pernah tahu keberadaan buku ini, boro-boro membacanya, jika tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Karena, saya pernah membaca bahwa Uruguay adalah negara paling kecil kedua di Amerika Selatan. Versi terjemahan buku ini belum lama terbit (September 2016 lalu) dan relatif gampang menemukannya di toko-toko buku terdekat.

Detail buku:
Rumah Kertas (judul asli: La casa de papel), oleh Carlos María Domínguez
76 halaman, diterbitkan 2016 oleh Marjin Kiri
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

tolstoyBuku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

Detail buku:
How Much Land Does A Man Need?, oleh Leo Tolstoy
64 halaman, diterbitkan 2015 oleh Penguin Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

LPM: Literaturia, Surabaya 2 Oktober 2016

Selamat pagi BBI-ers,

Pernah ikutan festival literatur, baik lokal maupun internasional? 😀 Saya sih jarang, haha. Kadang karena di Surabaya sendiri, acara literatur semacam ini jarang dan jaraknya cukup jauh dari rumah saya, dan bikin saya malas berangkat.

Kalian mengenali salah satu pembicara pada poster diatas? Pada tanggal 2 Oktober 2016 kemarin, Kak Melisa Mariani, pemilik blog Surgabukuku, diundang menjadi pembicara pada Literaturia. Literaturia mengusung tagline “The first, biggest, and most diverting literary event in Surabaya”. Di acara ini, Kak Melisa menjadi perwakilan BBI sebagai komunitas perbukuan dan penggemar baca.

Anyway. Dari BBI Surabaya, sayangnya hanya saya yang bisa datang, padahal menurut saya acara ini cukup kece dan menginspirasi. Literaturia digagas oleh grup Surabaya Youth, dan mengusung beberapa jenis acara. Mulai dari coaching class mengenai menulis, Chatterbus bersama Bernard Batubara, baca puisi, dan juga music performance (menurut saya DJ-nya yang ngeremix My Way ganteng sih…) #jadisalahfokus Saya juga hanya berkesempatan mengintip kelas Drop-A-Line bersama Hipwee dan Di-sku-shion yang diadakan sore hari.

Selain Kak Mel, ada beberapa tamu lain sebagai narasumber yaitu Mutia Prawitasari, penulis Teman Imaji, Ivana Kurniawati perwakilan dari Pecandu Buku, dan Akhyari Hananto dari Good News from Indonesia. Dimoderatori oleh Kak Hasan Askari, acara ini berlangsung hangat dengan format diskusi bersama peserta.

Di-sku-shion mengangkat tema dunia perbukuan dan peran komunitas perbukuan dalam masyarakat. Selain itu, disinggung juga mengenai Surabaya sebagai Kota Literasi. Ada banyak cerita menarik dari para narasumber. Mulai dari pengalaman suka dan duka Pecandu Buku yang menyediakan lapak baca di Surabaya. Kisah-kisah pembaca dan juga pengalaman Kak Akhyari di luar negeri, yang jadi membuka mata saya betapa mundurnya negara kita ini. Dari penulis Kak Mutia, ada cerita mengenai penulis-penulis yang ingin terkenal secara instan sehingga buku-bukunya tidak mengikuti proses penerbitan yang benar, dan kondisi kualitas literatur Indonesia saat ini, yang menurut saya sendiri memang memprihatinkan. Kak Mel sendiri bercerita mengenai suka duka menjadi blogger buku.

Ada banyak kendala mengapa literatur dan budaya kita masih tidak berubah. Salah satunya adalah regulasi dan instruksi pemerintah tanpa adanya tindakan langsung dari pemerintah. Ada juga sentilan mengenai sikap pemerintah yang plinplan dan cenderung membiarkan. Pegiat kegiatan semacam ini memang kurang mendapat support dari pemerintah, terbukti dari cerita Kak Ivana kalau Pecandu Buku sering kena gusur. Masyarakat sendiri masih tidak membudayakan bercerita dan membaca yang baik, lagi-lagi terbukti dari banyaknya acara televisi yang tidak mendidik, budaya membajak dan minta gratisan, membicarakan sisi negatif dari sebuah kejadian saja dan tidak berfokus pada sisi positif, dan menjadikan berita-berita jelek (bahkan hoax) viral. Hal-hal ini dianggap menghambat kemajuan bangsa kita.

Kak Mel sedang menceritakan bagaimana buku dapat mengubah cara pandang seseorang

 

Dari diskusi ini juga ada definisi literasi yang menarik menurut para narasumber. Literasi adalah sesuatu yang mencerahkan, membuat kita merasa dan mendaya guna, serta sesuatu yang berproses dalam keberadaannya. Literasi tidak hanya tentang buku, tapi juga berbagai hal yang mengelilingi buku itu sendiri seperti pembaca, penulis, kritikus, dan lain-lain. Saya sendiri setuju dengan definisi ini. Dan saya juga berpendapat Indonesia memiliki banyak sekali PR untuk meningkatkan kualitas literasi, termasuk mengubah pola pemberian informasi sehingga lebih positif 🙂
Semoga kedepannya, kita bisa semakin memajukan dunia literasi di Indonesia dengan hal-hal yang positif, bermutu, dan bermanfaat. Because literacy and books can, literally, change our lives and our mindsets.
Kiri ke Kanan: Hasan Askari, Akhyari Hananto, Melisa Mariani, Mutia Prawitasari, Ivana Kurniawati
Sekian LPM dari saya. Karena saya bikinnya agak buru-buru, maafkan kesalahan dalam penulisan dan juga tata bahasa yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan EYD.
-Nina Ridyananda, The Bookaddict Diaries

Bacaan Liburan Campur Aduk a la Surgabukuku (dan Mini-Reviews)

Banner Posbar 2016Hola!

Post ini dibuat dalam rangka ikutan event Posbar BBI bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday. Di bawah ini adalah daftar bacaan liburan (campur aduk) a la Surgabukuku. Kok campur aduk? Soalnya isinya buku dari macam-macam genre, mulai buku anak, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, sampai sastra klasik.

Ada 2 daftar dalam post ini, yang pertama adalah buku-buku yang pernah saya baca selama liburan (Read on Holiday(s)) dan yang kedua adalah buku-buku yang menurut saya cocok untuk dibaca selama liburan (Recommended Holiday Reads).

 Off we go!

Read on Holiday(s)

Flora & Ulysses: The Illuminated Adventures – Kate DiCamillo

Dibaca: 2 Juli 2016

Saya yakin banyak di antara teman-teman yang sudah tidak asing dengan karya-karya pengarang ini, misalnya The Miraculous Journey of Edward Tulane dan Because of Winn-Dixie. Nah, di buku Flora & Ulysses ini humornya yang lebih ditonjolkan oleh Tante Kate, bukan seperti di buku-buku lainnya yang biasanya menyentuh (baca: bikin mewek).

Tokoh utamanya adalah gadis kecil bernama Flora Belle Buckman, seorang cynic dan nerd yang sudah membaca sampai habis tiap seri komik berjudul Terrible Things Can Happen to You! Suatu hari, tetangga Flora membeli vacuum cleaner berkekuatan “super” yang dinamakan Ulysses 200X. Saking supernya, si vacuum cleaner menyeret Tootie si tetangga ke halaman luar, dan menyedot seekor tupai malang sampai setengah gundul. Eh ternyata, setelah tersedot vaccum cleaner tersebut, si tupai (yang akhirnya diselamatkan oleh Flora Belle dan dinamai Ulysses) jadi memiliki kekuatan super!

Ceritanya agak tak biasa bagi yang sudah familier dengan karya-karya Kate DiCamillo, tapi tetap menghibur, dan tetap ada nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan yang biasanya menjadi sorotan di dalam setiap bukunya. Dan ilustrasi di dalamnya membuat feel-nya seperti membaca novel dan komik dalam 1 buku.

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

Dibaca: 17 Juli 2016

Buku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

Classics for holiday reads? Why not? 😛 Toh buku ini berisi cerita pendek dan menurut saya termasuk ringan untuk dinikmati selama liburan. How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

i capture

I Capture the Castle – Dodie Smith

Dibaca: 22 Mei 2016

Termasuk novel coming-of-age klasik, buku ini menarik karena tokoh-tokohnya yaitu keluarga Mortmain, tinggal di sebuah istana. Bukan, mereka bukan keluarga bangsawan. Jangan bayangkan istana yang megah dengan lusinan pelayan, istana yang mereka tinggali adalah istana yang sudah lama diabaikan, dan malah ada bagian yang hanya tinggal puing-puing. Namun pemandangan di sekitar istana itu sangat indah, dan ada danau yang bisa direnangi saat musim panas. Setiap karakter di dalam novel ini sangat menarik dengan kekhasannya masing-masing, namun yang menjadi sentral adalah kakak-beradik Rose dan Cassandra. Rose yang tertua, paling cantik, dan sudah capek hidup miskin. Cassandra tidak secantik Rose, tapi dialah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang akan kita lihat jatuh cinta dan berkembang menjadi lebih dewasa. Suatu hari, keturunan dari pemilik istana yang mereka tinggali datang. Mereka adalah kakak beradik Simon dan Neil Cotton yang berasal dari Amerika, dan Rose langsung melihat Simon sebagai kesempatan untuk keluar dari hidup keluarganya yang miskin. Sulit meringkas plot novel ini dalam satu paragraf karena untuk novel yang termasuk dalam genre young adult, cerita novel ini cukup kompleks. Namun ada banyak bagian yang menghibur, misalnya ketika Rose dan Cassandra dikejar-kejar karena dikira beruang, padahal mereka hanya mengenakan mantel bulu beruang warisan bibi mereka yang nyentrik. Walaupun saya agak merasa meh dengan endingnya, saya cukup menikmati novel ini, apalagi deskripsi keindahan alamnya yang khas Inggris bikin cocok banget untuk dibaca dalam suasana liburan.

pohon2 sesawi

Pohon-pohon Sesawi – Y.B. Mangunwijaya

Dibaca: 23 Desember 2015

Walaupun disebut sebagai novel, buku yang sesungguhnya berisi beberapa naskah milik Romo Mangun yang tercerai-berai ini lebih terasa seperti kumpulan cerita. Melalui tangan Joko Pinurbo dan Tri Kushardini-lah naskah-naskah ini disunting hingga bisa menjadi buku yang enak dibaca. Saya tadinya agak takut membaca karya Romo Mangun karena takut isinya terlalu “teologis” tapi ternyata ketakutan saya sama sekali tidak terbukti, malah saya sangat menikmati buku yang termasuk out-of-my-comfort-zone ini. Dalam buku ini Romo Mangun menceritakan suka duka kehidupan sebagai Romo di paroki, dengan gaya jenaka yang bisa membuat pembaca terbahak-bahak. Banyak istilah Katolik yang bisa jadi membingungkan pembaca non-Katolik, tapi saya rasa buku ini bisa dibaca semua kalangan (yang berpikiran terbuka). 🙂

Recommended Holiday Reads

Tidak Ada New York Hari Ini – M. Aan Mansyur

Oke, buku ini mungkin adalah buku puisi paling kekinian saat ini. Tapi serius, jika untuk liburan kamu ingin membawa buku yang tipis, gampang dan cepat dibaca maka buku ini pilihan yang tepat. Apalagi jika kamu bepergian dengan kereta atau berjalan-jalan di kota besar (tidak harus New York), foto-foto di dalam buku ini cocok banget untuk menemani liburanmu.

The Penderwicks at Point Mouette – Jeanne Birdsall

Seri The Penderwicks adalah seri buku anak dengan tokoh utama 4 bersaudari: Rosalind, Skye, Jane, dan Batty dan anjing mereka, Hound. Dari keempat buku yang sudah terbit (saya belum membaca buku ke-4), menurut saya yang paling cocok dibaca saat liburan adalah buku ke-3, The Penderwicks at Point Mouette. Ceritanya, Skye, Jane dan Batty berlibur di pantai di Maine dengan bibi Claire dan sahabat mereka Jeffrey, tanpa kehadiran Rosalind saudari mereka yang tertua. Otomatis Skye-lah yang menjadi OAP (oldest available Penderwick) yang bertanggung jawab atas saudari-saudarinya yang lebih muda. Selain usaha keras Skye agar semuanya under control, pembaca juga akan diberi kejutan melalui perkembangan cerita untuk karakter Jeffrey. Selain seri Harry Potter dan Narnia, seri The Penderwicks ini adalah buku anak yang paling saya sukai.

The Penderwicks (buku #1) pernah saya review di sini.

And Then There Were None – Agatha Christie

Bayangkan kamu diundang berlibur ke suatu pulau terpencil bersama 9 orang lainnya, lalu satu demi satu mereka terbunuh dengan mengerikan. Hehehe, semoga jangan pernah terjadi beneran ya, serem. XD Nah, jika kamu ingin sedikit ketegangan untuk spice up your holiday, maka buku inilah jawabannya. Buku ini akan bikin kamu jantungan menebak-nebak siapa yang akan mati berikutnya dan siapa pembunuhnya. Tapi tolong jangan buka halaman terakhir sebelum saatnya tiba ya!

And Then There Were None pernah saya review di sini.


Okeeeee, kali berikutnya kamu pergi liburan, mungkin satu atau dua buku dari tujuh buku di atas bisa jadi pilihanmu untuk bacaan liburan. Ciao!

Coloring Book for Adults: FANTASIA – Nicholas F. Chandrawienata

anti-stress-coloring-book-for-adults---fantasiaBukan untuk kali pertama saya menulis review buku mewarnai di blog ini, karena sebelumnya saya pernah mempost review Coloring Book for Adults: BATIK yang dihadiahkan oleh Secret Santa BBI pada akhir tahun 2015 yang lalu.

Nah kali ini, saya ingin mereview buku mewarnai terbitan dalam negeri yang berjudul FANTASIA. Fantasia ini merupakan buku mewarnai favorit saya sejauh ini (saya punya 7 buku mewarnai) dan karena itulah saya merasa ada yang kurang kalau saya belum menuliskan reviewnya, dan membagi kesenangan ini dengan teman-teman sekalian. 🙂

Mari simak Kata Pengantar dalam buku ini:

Semua perkembangan dan kemajuan yang dialami umat manusia berawal dari fantasi.

Fantasi adalah berkat yang diberikan Yang di Atas untuk semua umat manusia.

Sejak kecil kita berfantasi tentang makhluk-makhluk khayalan. Sampai akhirnya makhluk fantasi manusia seperti unicorn, peri, dan naga mendunia dan dikenal banyak orang.

Di dalam buku ini bisa Anda temukan berbagai makhluk fantasi seperti burung phoenix, chimaera, sampai kurcaci. Saya berharap buku ini bisa membantu untuk melepas stres, juga memberikan inspirasi kepada Anda.

Mari kita bersama membangkitkan lagi naluri untuk berfantasi seperti anak kecil. Karena dengan berfantasilah kita sebagai manusia bisa terus berkembang.

Mari berfantasi dan mewarnai!

Faktor utama yang membuat kamu harus punya buku ini adalah ilustrasi-ilustrasi keren karya Nicholas F. Chandrawienata (@nickfilbert) yang mengisi ke-64 halaman buku ini. Menurut saya, style gambarnya khas, garis-garisnya kuat, dan nggak kalah dengan hasil karya para illustrator luar negeri. Dan dari beberapa kali saya mengupload hasil mewarnai buku Fantasia di Instagram, ada beberapa orang (bukan orang Indonesia) yang menanyakan dimana bisa beli buku ini.

Covernya memang terlihat gahar, tapi sebenarnya isinya cukup beragam mulai dari ilustrasi-ilustrasi yang cenderung girlie seperti gambar peri, malaikat, putri duyung dan putri oriental, atau yang cenderung maskulin seperti gambar naga, dewa Zeus, dan bajak laut. Beberapa gambar lain berkesan seram, misalnya gambar scarecrow, tengkorak, dan anjing berkepala tiga. Gambar tiga burung hantu dan magician malah berkesan cute, dan Nick juga menyelipkan dua halaman bergambar Barong Bali dan Garuda sehingga ada sedikit cita rasa Indonesia di buku ini. Salah satu plusnya lagi, detail pada ilustrasi-ilustrasi di buku ini tidak terlalu kecil-kecil jelimet seperti di kebanyakan buku mewarnai, yang malah bisa membuat tambah stres bukannya mengusir stres. Ada beberapa halaman di mana sang illustrator mengajak pewarna untuk menambahkan detail, misalkan di gambar naga dan rusa jantan. Selain itu, kamu bebas berkreasi dan menambahkan detail sendiri jika mau.

Selanjutnya sneak peek beberapa halaman isi buku Fantasia bisa dilihat di gallery di bawah ini. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Ketebalan kertas cukup memadai untuk mewarnai dengan media pensil warna atau crayon, namun hati-hati jika menggunakan spidol/connector pens, pensil warna water soluble dan cat air, karena bisa tembus ke belakang. Perlu diketahui juga bahwa halaman-halaman di buku ini dilengkapi pattern yang memudahkan untuk menyobek halaman, namun bagi mereka yang tidak ingin menyobek halaman hal ini bisa jadi masalah.

Dan berikut ini adalah beberapa hasil mewarnai saya dari buku Fantasia. Ilustrasi-ilustrasi lainnya yang sudah diwarnai bisa kamu intip di Instagram dengan hashtag #fantasiacoloringbook dan #nickfilbert.

Nah, gimana, apakah review singkat dan gambar-gambar yang saya pamerkan sudah cukup membuatmu ingin mewarnai buku Fantasia juga? Mari berkreasi dengan warna dan jangan lupa pamerkan hasil karyamu! 😉

Tentang Ilustrator

Nicholas Filbert Chandrawienata memulai karier di dunia ilustrasi pada tahun 2013 dan kini telah mengerjakan proyek bergengsi di dalam dan luar negeri. Cover novel The Walled City karya Ryan Graudin yang versi terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama juga merupakan salah satu karya Nick. Pada tahun 2015 yang lalu Nick juga pernah menerbitkan mini art book bertajuk Serene yang hanya dicetak terbatas. Mari kita tunggu karya-karya Nick selanjutnya. 😉


Detail buku:

Anti-Stress: Coloring Book for Adults – FANTASIA, oleh Nicholas F. Chandrawienata
64 halaman (26×25 cm), diterbitkan Desember 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 

Alice’s Adventures in Wonderland – Lewis Carroll

alice puffin chalkIt’s strange that even though I have been familiar with the character Alice since childhood (thanks to Disney), I have never actually read the book. While both of the Disney adaptations—the old-school animation and the latest one—are weird, I think the book was even weirder!

Curiouser and curiouser! Alice would say.

Alice, a curious child of seven, thought it was very strange indeed that on a hot day, she should see a White Rabbit that talks and wears a waistcoat and has a watch which he took out from his waistcoat-pocket. Piqued by her own great curiosity, she followed the frantic White Rabbit down a seemingly endless hole. Through the Rabbit-Hole, she was transported to Wonderland, a world in which everything is absurd, fantastical and even ridiculous, and nothing makes sense.

Why is this book so well-loved? I don’t have the answer to that question, but I know that I like this book because:

1. You can never guess what happens next. And Alice as the main character will keep you fascinated. When I decided to read this book I was in need of a sort of escapism, and little did I know that I was in for a treat. This book is a wild journey of imagination.

2. True, this book falls into the “literary nonsense” category, but you can’t help but admire Lewis Carroll’s wordplay. And some parts are just so funny.

Let’s take a look at a passage from The Mock Turtle’s Story:

“I couldn’t afford to learn it,” said the Mock Turtle with a sigh. “I only took the regular course.

“What was that?” inquired Alice.

“Reeling and Writhing, of course, to begin with,” the Mock Turtle replied; “and then the different branches of Arithmetic – Ambition, Distraction, Uglification, and Derision.”

“…Mystery, ancient and modern, with Seography: then Drawling—the Drawling-master was an old conger-eel, that used to come once a week: he taught us Drawling, Stretching, and Fainting in Coils.”

“And how many hours a day did you do lessons?” said Alice, in a hurry to change the subject.

“Ten hours the first day,” said the Mock Turtle, “nine the next, and so on.”

“What a curious plan!” exclaimed Alice.

“That’s the reason they’re called lessons,” the Gryphon remarked: “because they lessen from day to day.”

3. The cover of the edition of Alice’s Adventures in Wonderland I own (published by Puffin Books under the Puffin Chalk series). I mean, the cover alone would have been enough to rate this book 3 stars at least.

To wrap up this nonsense review, I only want to point out that even though I read this book for the first time as an adult, I read it with a mind of a child. I didn’t search for symbols and hidden meanings while reading, because the child in me didn’t need to understand to enjoy the journey.

“It’s no use going back to yesterday, because I was a different person then.”


Book details:

Alice’s Adventures in Wonderland, by Lewis Carroll
160 pages, published 2014 by Puffin Books (first published 1865)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Princess Bride – William Goldman

OLYMPUS DIGITAL CAMERAIt comes to this: I was in need of a light read after spending one and a half month preparing for IELTS. I don’t know exactly why I chose this book—maybe because I suddenly remember my history with The Princess Bride. I first bought The Princess Bride on impulse. The truth is I don’t like fantasy books all that much, and I also didn’t really like the cover, so I sold it to Mbak Dewi (it was a copy with this cover, anyway). Some years later, while casually browsing a pile of used books in a bookshop, I found another copy of The Princess Bride. Having watched the film and seeing that the book has a vintage-looking cover, I decided to buy it. Ha! This time I didn’t regret buying it because in addition to the eyecatching cover, it also has a map. It would make a splendid addition to my collection!

Now, moving on to the story. I will list the characters first.

Buttercup, a Florinese village girl of unmatched beauty.

Westley, an orphaned farm boy who worked (or slaved) for Buttercup’s father.

Prince Humperdinck, a scheming and power-hungry prince who loved hunting above all else.

Count Rugen, Humperdinck’s sidekick and confidant who was obsessed with pain.

Vizzini the brainy Sicilian.

Inigo Montoya the sword-wielding Spaniard.

Fezzik the Turkish giant.

All the Farm Boy ever said to Buttercup was, “As you wish.” Of course what he meant was “I love you” but it took Buttercup some time before she realises this. Not until a visit from Count and Countess Rugen when she saw the Countess seemingly took a fancy of Westley. But just after them realising their true feelings for one another, Westley sailed off to America to seek his fortune, in order to become a man worthy of Buttercup. Buttercup waited and waited, but news came one day that Westley’s ship had been attacked by the Dread Pirate Roberts and he never takes prisoners, which means Westley was dead. Heartbroken, Buttercup accepted marriage proposal from Prince Humperdinck (confused? Hang on a bit) with “I can never love him” in mind. Well, it means death if she said no. So began the preparations of the royal wedding, including months of making the village girl into a princess. One day while riding her horse, a weird trio consisted of Vizzini, Inigo, and Fezzik kidnapped her. But the trio’s plan (or more accurately, Vizzini’s plan, since he was the head of the trio) was threatened by the man in black, who followed them as they were sailing to the neighbouring country of Guilder, up the Cliffs of Insanity to the ravines that led to the Fire Swamp. (I’m going to leave it at this moment, there are so much adventures thereafter, but I don’t want to ruin your fun by spoiling them all.) 😉

Thoughts:

This book is the abriged version of S. Morgenstern’s The Princess Bride, the “good parts” version by William Goldman. (SEE UPDATE AT THE END OF THE POST) I don’t think that this book belongs to the fantasy genre, let alone a fairy tale, even though my copy says “a hot fairy tale”. I think it’s an adventure book with bits of fantastical elements. My copy of The Princess Bride starts with a 29-page introduction, rather too long for my taste. I was tempted to skip it altogether but later realized that it was somewhat necessary to read, that is if you want to know the background on the abridgement of S. Morgenstern’s work by William Goldman. Goldman’s “commentaries” are also scattered all over the book, but mostly they are short so it wouldn’t be a burden to read these additional paragraphs typed in fancy italic. As someone who’s seen the film first then read the book, I must say that I think both are equally entertaining. The film adapted the book very well, from Westley’s wittiness (performed gorgeously by Cary Elwes) to the memorable lines of Inigo (“Hello. My name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die.”)

inigoand of Vizzini (“Inconceivable!”).

inconceivableInigo and Fezzik making rhymes is also my favourite part of both the book and the film. Miracle Max and his wife Valerie were hilarious. The one character I like the least is the princess bride herself, in both the book and the film. However, the book can give you much more interesting scenes that didn’t make it to the film. For example Fezzik and Inigo’s adventure when they went through all five levels of Prince Humperdinck’s Zoo of Death to retrieve Westley was thoroughly explained in the book, while in the film it was reduced to short scenes in the Pit of Despair. The writing feels modern, so it easily falls into the “light reading” category. Of course you need to ignore some stuff if you want to enjoy the book, for example Buttercup accepting Humperdinck, the torture scenes, and how a lump of clay coated in chocolate could bring someone back from the dead. All in all, this is a delightful read. You should read it then watch the film. Or vice versa, I don’t really care. Just read it and watch it, in whatever order you’d like. 🙂

P.S. : I know this review is crap but it doesn’t make the book any less entertaining.

Here is the movie trailer:


Book details:

The Princess Bride, by William Goldman
283 pages, published 1987 by Turtleback Books/Del Rey Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


UPDATE (15 Mar 2016):

I have just found out that S. Morgenstern is not a real author, thanks to Fingerprinttale and Chiipurai who kindly informed me of this. Explanation on Wikipedia: Simon Morgenstern is both a pseudonym and a narrative device invented by Goldman to add another layer to his novel The Princess Bride.[26] He presents his novel as an abridged version of a work by the fictional Morgenstern, an author from the equally fictional country of Florin. The name may be a reference to Johann Carl Simon Morgenstern, who coined the term Bildungsroman. (Read the rest on Wikipedia).

Coloring Book for Adults: BATIK – Yulianto Qin, dan Tebak Secret Santa BBI 2015

buku mewarnai batikDi bulan-bulan terakhir tahun 2015 saya mulai menekuni hobi baru: mewarnai. Semua bermula pada saat saya beruntung memenangkan buku mewarnai My Own World di blog Ren. Setelah itu baru bermunculan buku-buku mewarnai dari penerbit-penerbit lain. Saat Penerbit Gramedia meluncurkan beberapa buku mewarnai, termasuk diantaranya BALI dan menyusul kemudian BATIK, saya memutuskan harus punya keduanya. Alasannya simple: karena khas Indonesia.

BALI sudah terbeli – dan kemudian saya memanfaatkan event tahunan BBI yaitu Secret Santa untuk memasukkan Buku Mewarnai BATIK ke dalam wishlist (setelah mendapat lampu ijo dari PICnya tentu, hehehe). Ternyata Santa yang baik memilih buku ini untuk dihadiahkan kepada saya. Jujur saja sebenarnya saya lebih ingin dapat buku bacaan, tapi senang juga kok pada saat paket berisi BATIK datang beserta bonus dua buah Derwent blender pens di dalamnya. Dan lebih senang lagi rasanya pada saat saya mulai mewarnainya. Thanks to you, Santa! 🙂

Begitulah ceritanya bagaimana saya bisa mendapatkan buku mewarnai BATIK dari Santa. Kenapa saya jelaskan panjang lebar? Karena jujur saja saya bingung mau nulis review seperti apa untuk buku ini, hihihi. Habisnya, ini bukan buku yang untuk dibaca. Baiklah, saya coba saja ya. 😀

Semua yang mengaku orang Indonesia pasti tahu bahwa batik adalah salah satu ikon kebudayaan Indonesia yang sangat kita banggakan. Batik Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada tanggal 2 Oktober 2009, lalu tanggal tersebut ditetapkan pemerintah sebagai Hari Batik Nasional. Nah, berbagai cara pun dilakukan untuk melestarikan batik sebagai salah satu warisan budaya nusantara. Tidak hanya dipakai, orang pun kini bisa ikut ‘membatik’ melalui Buku Mewarnai BATIK hasil karya Yulianto Qin ini. Mungkin tepatnya bukan membatik, tapi hanya memberi warna, karena semua motif batik dan ilustrasi sudah disediakan oleh tangan mahir sang ilustrator.

Ada 61 halaman yang bisa diwarnai, setiap ilustrasi dicetak di atas kertas tebal yang memberi para pewarna area yang luas dan nyaman untuk mewarnai. Dan di bagian akhir buku ada penjelasan Makna Motif Batik yang sangat informatif dan bermanfaat, jadi para pewarna tidak asal mewarnai saja tanpa tahu apa yang sedang diwarnai dan maknanya apa.

Misalnya, halaman 3 memuat motif batik Gurdo. Penjelasannya sebagai berikut: Gurdo berasal dari kata Garudo (Garuda), burung suci tunggangan Batara Wisnu. Motif Gurdo biasanya terdiri atas dua sayap (lar) yang mengembang. Motif ini merupakan simbol pengetahuan dan kejantanan yang menjadi kekuatan untuk memerangi kehidupan.

Selain berbagai macam motif pada kain batik, buku ini juga berisi ilustrasi wayang, ornamen, tarian, dan bahkan aksara Jawa. Misalnya Wayang Gunungan (hal. 1), Wayang Wong (hal. 15, 32, 46), Arjuna Kala (hal. 20), Kalamakara (hal. 31), Wayang Golek Rama Shinta (hal. 36), Penari Bedhoyo (hal. 39), dan berturut-turut Hanacaraka, Datasawala, Padhajayanya dan Magabathanga di halaman 58-61.

Di bawah ini adalah contoh beberapa gambar di dalam Buku Mewarnai BATIK. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Dan di bawah ini 3 gambar yang sudah selesai saya warnai. Hasil mewarnai yang lain bisa dilihat di akun Instagram pribadi saya @melmarian.

Karena di kebanyakan gambar ilustrasinya cukup rumit, maka dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk dapat menyelesaikan mewarnainya. Sampai pada saat review ini ditulis, saya baru menyelesaikan mewarnai 3 gambar saja dari keseluruhan 61 gambar! Tapi tenang saja, saya akan terus mewarnai buku ini kok. Karena saya tidak bisa menggambar dan tidak bisa membatik dengan canting, maka dari itu buku ini—dengan 61 ilustrasi luar biasa di dalamnya—yang bisa memuaskan jiwa (sok mendadak) nyeni saya. Terakhir, apakah saya juga harus memberi rating untuk buku yang tidak saya baca ini? Oh, baiklah. 4 bintang!

Book details:

Coloring Book for Adults: BATIK, oleh Yulianto Qin
65 halaman, diterbitkan tahun 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Tebak Secret Santa

SS2015-1-300x300

Sebelumnya saya sudah posting riddle Santa di sini, tapi mungkin karena telat postingnya dan ternyata foto riddle kurang jelas, jadi nggak ada yang komen, hiks. 😦 Jadi, saya tulis di sini lagi riddle dari Santa ya. Angka-angka sebelum kalimat saya tambahkan untuk penanda.

To: Melisa

1 Lihatlah mereka yang bernafas dan menggoreskan penanya. Satu saja dilihat di mula-mula.

2 Lalu ayo kita pergi!

3 Rencana awal adalah di hari Selasa setelah surga memanggil kita.

4 Bara, Rosa, bagaimanapun sebutannya, terucap sebuah nama.

5 Petualangan siap dimulai, waspadalah saat domba-domba terdiam, itu tanda naga merah siap memangsa.

6 Tujuan kita mungkin ke suatu rimba, bukan di Swedia atau Finlandia, atau Rusia, mungkin tidak jauh dari sana.

7 Singgah di negeri Britania pun bisa, temui sang ahli senjata dan wanita.

8 Ketika jiwa mencapai batas dan raga tertutup debu, kembalilah ke titik awal, sebelum kita memulai lagi.

9 SEJUTA TOPAN BADAI!!!

Brilian ya riddle dari Santa saya? Waktu membaca riddle ini pertama kali saya sudah langsung ngeh kata-kata di dalamnya menunjuk ke buku-buku tertentu. Saya coba “kupas” satu persatu:

Kalimat 3 –> Tuesdays with Morrie, The First Phone Call from Heaven – Mitch Albom

Kalimat 4 –> ???

Kalimat 5 –> The Silence of the Lambs, Red Dragon – Thomas Harris

Kalimat 6 –> Norwegian Wood – Haruki Murakami

Kalimat 7 –> Seri James Bond – Ian Fleming

Kalimat 8 –> Garis Batas, Selimut Debu, Titik Nol – Agustinus Wibowo

Kalimat 9 –> Tintin – Herge

Sedangkan Kalimat 1 bilang “Lihatlah mereka yang bernafas dan menggoreskan penanya. Satu saja dilihat di mula-mula.” Jadi yang harus diperhatikan adalah para pengarang. Dan kalau saya susun huruf pertama dari masing-masing nama pengarang hasilnya seperti ini:

M – ? – T – H – I – A – H

Woah! Sudah bisa ketebak, meskipun saya nggak bisa nebak apa maksudnya Kalimat ke-4 ! 😀

Mbak Muthiah Faris a.k.a. speakercoret, apakah tebakanku benar dan dirimu adalah Santaku?