Fiksi Lotus, Vol. 1: Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

[Conclusion in English at the bottom of this post]

Jika buku diibaratkan makanan, maka buku ini tampilannya memikat dan menggugah selera. Diangkat dari situs cerita pendek klasik Fiksi Lotus yang diprakarsai Maggie Tiojakin, Fiksi Lotus Vol. 1 membukukan beberapa cerpen pilihan dari situs tersebut.

Tidak kurang dari 14 cerpen dikumpulkan dalam buku setebal 184 halaman ini, yaitu sebagai berikut:
1. Teka-teki (“The Riddle”) karya Walter De La Mare
2. Ramuan Cinta (“The Chaser”) karya John Collier
3. Sang Ayah (“The Father”) karya Bjornstjerne Bjornson
4. Pemberian Sang Magi (“The Gift of the Magi”) karya O. Henry
5. Menembus Batas (“The Interlopers”) karya Saki
6. Dilema Sang Komandan (“The Upturned Face”) karya Stephen Crane
7. Persinggahan Malam (“A Clean, Well-Lighted Place”) karya Ernest Hemingway
8. Gegap Gempita  (”Rapture”) karya Anton Chekov
9. Charles karya Shirley Jackson
10. Dering Telepon (“The Telephone Call”) karya Dorothy Parker
11. Pesan Sang Kaisar (“A Message from the Emperor”) karya Franz Kafka
12. Republick (“Evil Adored”) karya Naguib Mahfouz
13. Menjelang Fajar (“The Wall”) karya Jean-Paul Sartre
14. Kalung Mutiara (“A String of Beads”) karya W. Somerset Maugham

Dari keempat belas cerpen ini, 2 yang menjadi favorit saya, Sang Ayah karya Bjornstjerne Bjornson dan Pemberian Sang Magi karya O. Henry, sudah pernah saya baca di kumpulan cerpen klasik terjemahan dari penerbit lain. Sang Ayah menceritakan tentang dedikasi seorang ayah kepada putranya tercinta, dari saat putranya baru lahir hingga dewasa. Akhir ceritanya menyentuh dan mendorong pembaca untuk merenung. Sedangkan Pemberian Sang Magi, salah satu karya terbaik O. Henry menurut saya, menceritakan tentang sepasang suami-istri yang hendak memberikan hadiah Natal istimewa kepada pasangannya, meskipun sebenarnya mereka tidak punya uang. Cerpen lainnya yang menarik dari buku ini adalah Menembus Batas karya Saki, yang mengisahkan tentang dua keluarga yang bermusuhan selama tiga generasi. Suatu hari masing-masing kepala keluarga dari dua musuh bebuyutan itu bertemu dalam keadaan yang menentukan hidup dan mati mereka. Cerpen yang ini menunjukkan bahwa sekuat-kuatnya manusia dan rasa benci yang mereka rasakan, alam masih lebih kuat dan sekali alam diijinkan Sang Pencipta untuk memukul manusia, pukulannya tidak tanggung-tanggung. Satu lagi yang membuat saya merenungkan makna kebaikan dan kejahatan adalah cerpen Republick karya Naguib Mahfouz. Agak sulit mendeskripsikan cerpen yang satu ini, yang berusaha menyampaikan pesan bahwa dunia ini tidaklah sempurna, kalaupun kedamaian sempat bertahta untuk beberapa waktu, tidak lama kemudian kejahatan akan kembali merampas keadaan. Betapa samanya dengan kondisi dunia sekarang ini.

Empat cerpen itulah yang punya tempat khusus di hati saya, sementara 10 lainnya bagi saya biasa-biasa saja. Seperti yang saya singgung di awal review, buku yang satu ini tampilannya menggugah selera, namun setelah saya mencicipinya, kok ternyata tidak cocok dengan selera saya. Dalam Kata Pengantar (yang bagi saya merupakan “appetizer” yang memuaskan, tapi ternyata tidak diikuti dengan hidangan utama yang sama memuaskannya), Maggie Tiojakin menguraikan alasan memilih keempat belas cerpen tersebut untuk dikumpulkan dalam Fiksi Lotus Vol. 1, yaitu karena ia ingin mengangkat karya-karya cerpenis yang mungkin kurang terkenal, namun merupakan milestone dalam perkembangan cerita pendek. Dan satu lagi, entah karena saya yang agak o’on atau kurang berjiwa sastra; saya tidak menemukan mata rantai yang menghubungkan keempat belas cerpen dalam buku ini. Cerpen Teka-teki tak ubahnya (atau memang) dongeng anak-anak; sementara Sang Ayah, Pemberian Sang Magi, dan Charles menceritakan hubungan dalam keluarga; beberapa cerpen lainnya bersetting pada masa perang; dan sisanya membawa tema yang acak.

Kesimpulan yang saya ambil adalah; buku ini cocok sekali bagi:
1. Para pecinta cerpen dan followers blog Fiksi Lotus
2. Mereka yang ingin mempelajari cerpen dari sumber-sumber klasik
Jika kamu termasuk salah satu dari dua diatas, maka rasanya buku ini akan cocok bagi kamu. Sedangkan saya, setelah membaca buku ini saya akan berpikir lagi sebelum membaca kumcer keroyokan apapun (baik klasik maupun modern, dan bukannya saya tidak punya kumcer keroyokan di dalam timbunan).

Detail buku:
“Fiksi Lotus Vol. 1: Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia”, diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin
184 halaman, diterbitkan April 2012 (Cetakan I) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥


 

Conclusion:

Fiksi Lotus Vol. 1 is an anthology of classic short stories from various authors including Kafka, Hemingway and Maugham, translated into Indonesian language. It all started with a blog “Fiksi Lotus”, a collection of classic short stories translated into Indonesian language by Maggie Tiojakin. Maggie also translated some short stories by Edgar Allan Poe and it was published under the title “Kisah-kisah Tengah Malam”. However, from the 14 short stories in this anthology, there are only 4 that I really like; “The Father” by Bjornstjerne Bjornson, “The Gift of the Magi” by O. Henry, “The Interlopers” by Saki, and “Evil Adored” by Naguib Mahfouz. Overall, this book would really suit the need of those who want to study short stories from the classic sources, in Indonesian language. Two out of five stars for this book.

4th review for The Classics Club Project

Advertisements

The Wind in the Willows – Kenneth Grahame

Ini cerita tentang empat sahabat, Moly si Tikus Tanah, Ratty si Tikus Air, Katak, dan Tuan Luak. Masing-masing memiliki karakter yang khas, Moly cenderung pemalu, Ratty ramah dan senang berkawan, Katak kaya dan suka menyombongkan diri, dan Tuan Luak yang pendiam dan misterius, namun bijaksana dan sangat peduli akan teman-temannya.

Cerita bergulir dari Tikus Tanah yang meninggalkan sarangnya untuk kemudian tinggal bersama Tikus Air di tepi sungai. Suatu hari di musim salju secara tidak sengaja mereka terdampar di pintu rumah Tuan Luak, yang awalnya terkesan waspada, namun kemudian mempersilakan mereka masuk dengan ramah dan menyuguhi mereka makanan yang hangat. Mereka pun bercakap-cakap tentang Katak yang ceroboh dan suka keasyikan dengan “mainan”nya, jika dulu ia tergila-gila dengan perahu, sejak mengalami kecelakaan ia memilih “bermain” dengan kereta gipsi. Suatu hari ia terpesona akan sebuah mobil balap mengilap yang dipanggil Tut-tut.

Lama-kelamaan Katak menjadi terobsesi terhadap Tut-tut si mobil balap sampai secara tidak sadar ia mencurinya! Katak pun dikejar polisi, dijebloskan ke penjara , melarikan diri dari penjara dengan bantuan anak perempuan sipir, dan melalui berbagai petualangan untuk sampai ke rumahnya yang megah, Puri Katak. Sementara itu, teman-temannya mulai kehabisan akal untuk menasihati si Katak. Mereka ingin Katak menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak hanya menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang. Bisakah mereka mengubah pribadi si Katak yang keras kepala itu?

***

Kisah yang disebut-sebut penuh petualangan dan banyak menyimpan pesan moral ini ternyata tidak banyak menyentuh hati saya. Jika dibilang penuh petualangan, saya lebih condong memilih Manxmouse karya Paul Gallico yang tokoh-tokohnya juga dari dunia hewan. Pesan moral yang bisa saya ambil dari kisah ini adalah:

1. Rumah adalah tempat terbaik di dunia. Kamu bisa bertualang ke mana saja namun pada saatnya pasti kamu akan pulang ke rumah.

Berikut sepenggal kutipan dari halaman 57:

“Malam itu, Tikus Tanah – walau kelelahan – merasa gembira karena telah kembali ke rumah. Namun sebelum dipejamkan, ia membiarkan kedua matanya menjelajahi setiap sudut kamarnya yang lama. Tindakan yang amat sederhana, tapi sangat berarti. Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima.

Sungai adalah tempat bertualang.

Di sini adalah rumahnya.”

2. Jangan abaikan nasihat dari sahabat-sahabat yang peduli akan dirimu. Dengarkan mereka, apa yang mereka katakan mungkin mencegahmu masuk dalam kesulitan.

The Wind in the Willows terjemahan Indonesia yang diterbitkan Mahda Books ini, dengan fisik hardcover, font relatif besar, banyak ilustrasi, dan penerjemahan yang bagus oleh mbak Rini Nurul Badariah rasanya cocok untuk anak-anak yang baru menginjak bangku sekolah dasar.

Review buku ini dibuat dalam rangka merayakan HUT ke-153 Kenneth Grahame (8 Maret 1859 – 8 Maret 2012)
Happy birthday, mas Kenneth! 😀

Detail buku:
“The Wind in the Willows”
, oleh Kenneth Grahame
134 halaman (HC), diterbitkan April 2010 oleh Mahda Books
My rating: ♥ ♥

Treasure Island – Robert Louis Stevenson


“Fifteen men on the dead man’s chest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!
Drink and the devil had done for the rest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!”

Jauh sebelum ada wahana Disneyland (dan kemudian franchise film) Pirates of the Caribbean, novel berjudul Treasure Island karya pengarang Skotlandia, Robert Louis Stevenson, terbit pada bulan Maret 1883. Treasure Island sebenarnya sudah dimuat sebagai cerita bersambung dalam majalah anak-anak Young Folks pada tahun 1881-1882 namun baru dibukukan pada tahun 1883.

Cerita bermula di Penginapan Admiral Benbow yang terletak di tepi laut di barat daya Inggris. Jim Hawkins, putra pemilik Admiral Benbow yang berusia 17 tahun, menjadi penutur cerita utama dan membuka kisah dengan datangnya seorang bajak laut tua bernama Billy Bones yang menetap di Admiral Benbow untuk waktu yang cukup lama. Bones yang mengaku pernah menjadi salah seorang kru almarhum Kapten Flint, seorang bajak laut yang ditakuti, ternyata sedang bersembunyi di Admiral Benbow, terutama dari seorang berkaki satu yang terus ia sebut-sebut kepada Jim agar mewaspadai kedatangan orang tersebut.

Bones mengaku bahwa ia membawa peti bajak laut yang berisi harta dan selembar peta Pulau Harta Karun. Peti bajak laut itulah yang membuat Bones diincar oleh berbagai pihak, seorang pelaut yang dipanggil Black Dog dan seorang buta bernama Pew. Pertemuan dengan Pew mengakibatkan kematian bagi Bones yang sebelumnya memang sudah jatuh sakit. Dengan kematian Bones, Jim dan ibunya mengambil sejumlah uang yang menjadi hak mereka dan gulungan kertas minyak yang diyakini adalah peta Pulau Harta Karun dari peti Bones, dan di tengah-tengah ancaman bajak laut yang mengincar peti tersebut mereka melarikan diri ke tempat yang aman.

Jim selanjutnya membawa peta itu untuk dilihat oleh Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, dan kemudian mereka membentuk kru untuk pergi ke pulau tersebut dengan kapal bernama Hispaniola. Beberapa orang yang menyertai perjalanan mereka antara lain Kapten Smollett sebagai kapten kapal, dan Long John Silver, seorang juru masak kapal berkaki satu. Jim baru menyadari kemudian bahwa Silver-lah orang berkaki satu yang ditakuti Billy Bones. Selanjutnya Silver membantu Hakim Trelawney merekrut pelaut-pelaut untuk menggenapkan jumlah kru kapal yang dibutuhkan.

Setelah mereka sampai di Pulau Harta Karun, Jim yang pada saat itu tertidur di dalam sebuah tong mencuri dengar pembicaraan antara Silver dan beberapa orang dari kru yang telah dipilihnya. Mereka ternyata menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan, merampas harta karun itu dan membunuh orang-orang yang tidak sepihak dengan mereka, termasuk Jim sendiri. Mendengar itu, Jim melarikan diri dan secara tidak sengaja bertemu Ben Gunn, yang juga adalah seorang mantan kru Kapten Flint yang ditinggalkan di Pulau Harta Karun dan tidak bertemu seorang manusia pun selama 3 tahun. Selanjutnya, terjadi pertempuran yang memakan banyak korban antara pihak Hakim Trelawney melawan pihak John Silver memperebutkan harta karun yang terpendam di pulau itu.

###

Salah satu karya klasik yang dikenang sepanjang masa karya Robert Louis Stevenson (1850-1894, juga menulis Kidnapped dan Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde) ini diceritakan melalui 2 sudut pandang, yang pertama dari sudut pandang Jim Hawkins selaku tokoh utama, dan sudut pandang Dr. Livesey. Peralihan kedua sudut pandang sebenarnya cukup mulus karena ada keterangan di bawah judul bab, namun kadang-kadang saya masih suka bingung siapa sebenarnya yang sedang membawakan cerita. Banyaknya tokoh di dalam Treasure Island membuat karakterisasi masing-masing tokoh penting menjadi sekeping-sekeping saja, dan terutama sih saya kurang puas dengan karakter Jim Hawkins sendiri. Di awal sampai pertengahan buku, Jim terkesan seperti ”anak manis”, dan salah rasanya menempatkan dia ditengah-tengah bajak laut yang beringas. Baru kemudian ketika Jim melarikan diri baru mulai kelihatan ”bengalnya”.

Walau saya biasanya menyenangi cover buku-buku terbitan penerbit Atria, untuk cover edisi terjemahan Treasure Island versi Atria ini rasanya terlalu lembut dan kekanak-kanakan untuk sebuah cerita yang aslinya keras dan maskulin. Dan secara keseluruhan, walaupun ceritanya sangat berpotensi untuk menjadi menarik, menurut saya ketegangan tidak cukup berhasil dibangun oleh penulis. Entah apakah ini pengaruh dari terjemahannya atau memang aslinya seperti itu. Rasanya saya lebih memilih untuk menonton filmnya saja… 😉

Detail buku:
“Treasure Island”, oleh Robert Louis Stevenson
345 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥

Scones and Sensibility – Lindsay Eland

Saya ingin menampar Polly Madassa!

Yap, Polly Madassa, seandainya ia benar-benar nyata, pasti adalah gadis dua belas tahun paling menyebalkan di muka bumi. Dia kira dia sudah mengetahui semuanya tentang cinta dengan membaca Pride and Prejudice serta Anne of Green Gables berulang kali. Ia kecanduan segala sesuatu yang berbau romantis, setiap kata yang ia ucapkan (atau pikirkan) selalu berbunga-bunga dengan kata-kata seperti “indah”, “cantik”, “molek”, “anggun”, dan sebagainya.

Sebagai gadis muda yang salah abad, Polly lebih suka mengenakan gaun daripada t-shirt dan jeans, senang menulis dengan pencahayaan lilin menggunakan pena bulu daripada bolpoin, dan lebih memilih mesin tik daripada komputer.

Polly, yang bekerja membantu mengantarkan kue-kue selama musim panas untuk toko roti antik orangtuanya, merasa bahwa sudah panggilan hidupnya untuk membantu kehidupan percintaan orang-orang terdekatnya. Ia jengah melihat kakaknya, Clementine, yang berpacaran dengan cowok bernama Clint, yang menurutnya, kasar dan sama sekali tidak gentleman. Ia sedih melihat sahabat baiknya, Fran Fisk, dan ayahnya, yang telah hidup selama tiga tahun tanpa kehadiran sosok seorang ibu dan istri. Juga ada Mr. Nightquist, seorang kakek dari cucu lelaki yang nakal, yang telah lama ditinggal mati istrinya.

Maka Polly pun mulai menyusun rencana dan mencarikan “kandidat-kandidat” yang cocok bagi Clementine, Mr. Fisk, serta Mr. Nightquist. Yang masuk dalam kriterianya adalah orang-orang yang berpenampilan menawan dan “berbudaya”, kurang lebih seperti Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tokoh-tokoh dalam novel yang telah berulang kali dibacanya. Polly menganggap bahwa segala rencananya akan berjalan lancar, dan semua orang yang dijodohkannya akan “mereguk kebahagiaan cinta yang teramat manis”. Polly sama sekali tak sadar bahwa semua yang dilakukannya bisa mengarah kepada bencana…

###

Sayang sekali, saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai buku ini. Saya sudah membaca Pride and Prejudice yang menjadi “kitab suci” bagi Polly dan saya tidak menyukainya. Bagi saya karakter Elizabeth Bennet terlalu dangkal karena ia menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya dan bagaimana ia membawa dirinya. Hey, orang-orang yang rupawan tak selalu jujur dan baik hati. Dan sebagian orang paling baik di dunia tidak tahu cara membawa diri dengan ramah dan ceria di tengah-tengah orang banyak. Keramahan dan keceriaan bisa saja palsu. Polly, menurut saya, sama dangkalnya dengan Elizabeth. Karena ia dengan terburu-buru menilai seseorang sebelum benar-benar mengenal orang itu. Dan ia juga tidak mengerti bahwa sesuatu yang romantis itu relatif, tergantung pada tiap-tiap orang. Sebagian besar juga karena ia mengira ia tahu yang terbaik bagi orang-orang tercintanya.

Nilai moral dari cerita ini adalah, lebih baik tidak usah ikut campur dalam kehidupan cinta orang lain. Anda juga pasti tidak mau kalau ada orang yang melakukan itu kepada anda. Satu bintang saya berikan untuk gaya penulisan Lindsay Eland yang berhasil memadukan gaya bahasa buku-buku klasik dengan setting masa kini, dan sukses membuat saya sebal (dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh Mbak Uci) dan satu bintang lagi untuk nilai moral yang diberikan buku ini.

Detail buku:

“Scones and Sensibility”, oleh Lindsay Eland
308 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥

Pride and Prejudice – Jane Austen

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”


Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.

Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda-beda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.

Suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet yang sangat ingin anak-anak perempuannya segera menikah, terutama si sulung Jane, begitu bersemangat mendengar kedatangan Mr. Bingley. Kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.

Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy. Pada bagian akhir cerita, ketika suatu masalah pelik menimpa keluarga Bennet, akhirnya Elizabeth pun dapat melihat kebaikan yang tersembunyi dalam diri Mr. Darcy, dan juga mulai membuka hatinya terhadap pria itu.

###

Saya banyak menyenangi novel-novel klasik, dan meskipun bukan penikmat roman, saya sangat menikmati membaca Jane Eyre karangan Charlotte Bronte. Ketika memutuskan membaca Pride and Prejudice, karya paling terkenal dari novelis roman ternama Jane Austen, saya berharap banyak bahwa novel ini, setidaknya, akan sebagus Jane Eyre. Ternyata saya sangat kecewa setelah membacanya. Isi Pride and Prejudice sangat mencerminkan judulnya (yang bila diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berarti Harga Diri dan Prasangka), diuraikan penulis menjadi 585 halaman dalam versi terjemahan Indonesianya. Ceritanya, walau tidak bisa dibilang beralur lamban, namun datar-datar saja, cenderung hambar, tanpa ada konflik yang berarti, dan sangat mudah ditebak. Kebanyakan hanya berkisah tentang kunjungan Mr. X ke tempat Y, pesta di Z, dan tokoh-tokoh yang mengagumi rumah yang mereka kunjungi, melontarkan pujian untuk entah taman atau perabotnya, dan tentu saja percakapan-percakapan panjang nan ngalor ngidul yang terjadi antar tokohnya. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”

Hal yang menarik mengenai Pride and Prejudice bahwa di Indonesia ini ada tiga penerbit yang hampir secara bersamaan merilis versi terjemahannya. Yang pertama adalah penerbit Bukune, yang kedua Qanita (Mizan Group) yaitu versi yang saya baca ini, dan yang terakhir Gramedia Pustaka Utama, yang sedianya akan terbit pertengahan tahun 2011. Tertarik membandingkannya? Kalau saya sih, jujur, angkat tangan. Nyerah. ;-P

Detail buku:
“Pride and Prejudice”, oleh Jane Austen
585 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating : ♥ ♥

Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea) – Ernest Hemingway

Lelaki Tua dan LautLelaki Tua dan Laut by Ernest Hemingway

My rating: 2 of 5 stars

Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea) adalah karya terbaik sastrawan Amerika kenamaan, Ernest Hemingway. Pemenang Nobel Sastra 1954 dan Pulitzer Prize 1953 ini mengisahkan perjuangan seorang nelayan tua yang telah 84 hari melaut tanpa menangkap seekor ikan pun.

Pada hari yang ke-85, ia berangkat dengan penuh optimisme bahwa hari ini bisa jadi hari keberuntungannya dan akhirnya dia tidak akan pulang dari laut dengan tangan kosong.

Hari itu adalah awal dari perjuangan pantang menyerah sang lelaki tua demi menangkap seekor ikan marlin raksasa, dimana dalam proses itu ia menghadapi banyak tantangan dan bahaya. Walaupun tubuh tuanya terus menerus protes selama ia terapung-apung di tengah lautan, ia tidak menyerah sampai kepada penghabisan.

Novel pendek (namun berat) ini ditulis dengan amat detail oleh penulisnya, boleh dibilang dengan alur yang bergerak lamban, yang membuat pembaca bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang nelayan.

View all my reviews

Softcover, 145 pages
Published May 2009 by Serambi Ilmu Semesta (first published 1952)
Price IDR 29.900

A Child Called “It” – Dave Pelzer

A Child Called 'It': Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan HidupA Child Called ‘It’: Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan Hidup by Dave Pelzer

My rating: 2 of 5 stars

Child abuse. Siapapun yang melakukannya adalah orang yang lemah. Mengapa? Karena ia hanya mampu menindas makhluk yang jauh lebih lemah daripadanya. Berhadapan dengan orang yang kekuatannya setara, ia tak bakal mampu berbuat apa-apa.

Memoar korban child abuse, Dave Pelzer, serta bagian pertama dari trilogi kisah hidupnya ini menceritakan siksaan, hinaan, kekejaman yang dilakukan ibu kandungnya sendiri ketika ia masih kecil. Beberapa orang yang telah membaca buku ini bisa jadi ragu-ragu akan kebenaran ceritanya, karena hal-hal yang dilakukan sang ibu kepada Dave kecil sungguh tidak masuk akal dan gila.

Terlepas dari hal itu, bagi saya buku ini membawa dua pesan. Pesan yang pertama adalah bagi para orang tua. Jangan sekali-kali menyiksa anakmu. Didikan bisa saja diberi secara fisik, tapi orang tua yang baik tentunya tahu batasan antara mendidik dan menyiksa.

Pesan yang kedua adalah bagi para korban child abuse, buku ini dapat menjadi penyemangat bagi mereka. Sangat jarang korban child abuse yang berhasil keluar dari traumanya. Kekerasan dan pelecehan yang dialami sejak dini bisa menghantui seluruh hidup si anak sehingga kemauan bertahan hidupnya lemah, ia bertumbuh dengan rasa rendah diri dan mental terganggu. Dave Pelzer, dengan perjuangan keras dan dukungan tanpa henti orang-orang yang mengasihinya, berhasil keluar dari traumanya.

View all my reviews

Softcover, 168 pages
Published 2001 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1992)
Price IDR 34.500

Message In A Bottle – Nicholas Sparks

Pesan dalam Botol (Message In A Bottle)Pesan dalam Botol by Nicholas Sparks

My rating: 2 of 5 stars

 

“Aku ada disini untuk mencintaimu, untuk memelukmu, untuk melindungimu.
Aku ada disini untuk belajar darimu dan untuk merasakan balasan cintamu.
Aku ada disini karena tak ada tempat lain bagiku.”

Itulah sepenggal dari isi surat dalam botol yang ditemukan Theresa Osborne saat joging pagi-pagi di pantai Cape Cod. Kata-kata yang dibacanya begitu menyentuh hati Theresa, yang hidupnya hampa sejak suaminya mengkhianatinya.

Surat itu ditulis oleh seorang lelaki, Garrett, kepada wanita cinta abadinya yang telah tiada, Catherine. Mengikuti keinginan hatinya dan atas saran sahabatnya, Deanna, Theresa pun mencari dan menemukan Garrett. Kemudian takdir pun membawa dua orang kesepian itu ke dalam sesuatu yang tak pernah mereka sangka sebelumnya…

###

Cerita Message in A Bottle sebetulnya biasa saja, dengan karakter-karakter yang tipikal untuk novel roman dan alur cerita yang tidak terlalu sulit ditebak. Saya pun sebetulnya bukan penggemar novel roman, namun karena penasaran dengan karya Nicholas Sparks dan merasa perlu untuk “menjelajah” buku dalam genre-genre yang belum pernah saya sentuh sebelumnya, akhirnya saya membaca buku ini.

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari Message in A Bottle adalah, yang pertama, cinta saja tidak cukup, perlu ada pengorbanan dari masing-masing pihak agar hubungan tetap terpelihara. Garrett tinggal di North Carolina yang jauh dari tempat tinggal Theresa, yaitu di Boston. Garrett dan Theresa punya kehidupan mereka masing-masing; Garrett sangat mencintai laut dan profesinya sebagai instruktur selam, sementara Theresa juga punya karir yang bagus sebagai kolumnis surat kabar dan ia sudah terbiasa tinggal di kota dengan ritme yang cepat. Perlu pengorbanan dari salah satu pihak untuk pindah ke tempat pihak yang lain, bila mereka mau membawa cinta mereka ke tahap yang lebih serius.

Yang kedua, jangan hidup berpegangan pada masa lalu. Karena masa lalu adalah masa lalu. Kau tak bisa hidup pada masa kini dan memandang masa depan dengan penuh pengharapan, jika terus memandang ke masa lalu. Garrett mencintai Theresa, namun karena tak mampu mengenyahkan dan meninggalkan bayangan Catherine yang sudah tiada di belakangnya, akhirnya hubungan mereka pun kandas. Orang yang memiliki cinta sejati pasti ingin pasangannya bahagia, walaupun bersama orang lain dan bukan dirinya.

 

“Ini bukan ucapan selamat berpisah, kasihku. Ini adalah ucapan terima kasihku.
Terima kasih telah mencintaiku dan menerima cintaku.
Tapi terutama terima kasih telah menunjukkan padaku bahwa suatu saat nanti aku akan bisa merelakanmu.”

 

View all my reviews

Softcover, 409 pages
Published 1999 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1998)
Price : IDR 37.000