Kumcer “1 Negeri, 10 Kisah” – Petra Career Center

1 negeri 10 kisah“Siapa bilang anak-anak muda kita masa bodoh dengan sejarah negeri sendiri?”

Pertanyaan inilah yang dicoba untuk dijawab melalui kumpulan cerpen self-published bertajuk “1 Negeri, 10 Kisah” ini. Jujur, ketika ditawari mengulas buku ini, saya sempat ragu. Masalahnya, saya terbilang jarang membaca buku karya pengarang Indonesia – apalagi yang debutan. Namun ketika diberi tahu bahwa sejarah menjadi tema utama kumcer ini, saya langsung tertarik. Sekali-kali mencoba rasa baru tak apalah. Dan kali ini, tidak ada kekecewaan di ujung pengalaman “icip-icip” ini.

Sejarah bagaimana kumcer ini bisa terbit terbilang menarik. Dimulai dari pelaksanaan Creative Writing Workshop yang diadakan Petra Career Center di Universitas Kristen Petra 28 Mei 2016 lalu, terbentuklah kerjasama antara panitia dan para pembicara workshop untuk mengadakan proyek membuat kumpulan cerpen bersama mahasiswa. Sepuluh cerpen dari mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari berbagai jurusan pun terpilih untuk dipublikasikan. Memang kesepuluh penulis muda ini masih boleh dibilang newbie, tapi karya merekalah yang dipilih oleh dua pembicara workshop yaitu Bapak Ang Tek Khun (Direktur Penerbit Gradien Mediatama) dan Bapak Brilliant Yotenega (Co-founder Nulisbuku.com), serta Jessie Monika selaku perwakilan dan penyelenggara workshop. Kisah selengkapnya tentang latar belakang terbitnya kumcer ini dapat dibaca pada bagian Prakata.

Sepuluh cerpen di dalam buku ini adalah sebagai berikut:

  1. Si Kelinci dan Si Singa, oleh Rina Pricelya Ibrahim

Kisah persahabatan antarsuku di tengah gejolak kerusuhan rasial yang terjadi pada Mei 1998.

“…saat melihat sekitarnya, teman-temannya, atau keluarganya, membenci suku yang berbeda dari mereka, akhirnya mereka belajar untuk membenci suku yang lain. Tapi, seperti mereka bisa belajar untuk membenci, mereka juga bisa belajar untuk saling memahami, kayak Zena dan Freya. Mereka juga harus sadar kalau perbedaan ada supaya kita sama-sama bisa maju, tidak untuk dipermasalahkan.”

  1. Galuh, oleh Monica Agnes

Sekilas seperti kisah Romeo dan Juliet, tapi yang pria adalah prajurit Majapahit, dan yang wanita adalah dayang putri Sunda, dan waktu itu terjadi Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda.

  1. Blue Amy, oleh Yomaldia Alfa Prilly Telussa

Di pedalaman Halmahera, hidup suku Lingon yang orang-orangnya memiliki mata biru dan rambut pirang. Ini secuplik kisah tentang mereka.

  1. Izakod Bekai, Izakod Kai, oleh Mozes Adiguna Setiyono

Berlatar belakang sejarah pembebasan Irian Barat, cerpen ini menyebut seorang tokoh nasional Papua yang mungkin belum banyak dikenal, J.A. Damari.

  1. Mei, oleh Ivonne Muliawati Harsono

Juga mengambil tema Mei 1998, namun kali ini lebih memfokuskan pada trauma yang dialami korban—yang membekas bahkan bertahun-tahun setelah kejadian, dan bermil-mil jauhnya dari tempat peristiwa itu terjadi.

“Aku masih ingat betapa aku dulu menjunjung tinggi rasa nasionalisme. Segala perjuanganku untuk mendekatkan orang-orang keturunan dan pribumi, seperti aku dan Dimas dulu, seakan tidak ada artinya lagi. Di mana negaraku saat aku membutuhkannya? Di mana nasionalisme saat mereka merenggut Mama?

  1. Le Soldat, oleh Natalia Angel

10 November 1945. Warga Surabaya bersiap bertempur melawan penjajah Inggris, termasuk seorang pemuda Prancis bernama Abelard Durand.

  1. Terpendam, oleh Jossy Vania Christiani

Salah satu cerpen yang paling menguras emosi, yang berkisah tentang bagaimana rasanya menjadi warga Tionghoa dan sekaligus keturunan orang yang dituduh pernah terlibat PKI, di zaman modern ini.

  1. Senja di Batavia, oleh Irene Priscilla Wibowo

Melihat jauh ke belakang ke tahun 1740, cerpen ini menengok kehidupan orang Cina yang tinggal di perkampungan di pinggiran Batavia, dan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

  1. Jalesveva di Antara Bintang-Bintang, oleh Yeremia Tulude Ambat

Kisah cinta muda-mudi berlatar belakang kota Surabaya, termasuk beberapa tempat yang terasa sangat familier bagi saya seperti Jalan Jakarta, Jalan Indrapura, hingga Monumen Jalesveva Jayamahe yang berdiri gagah di ujung utara kota Surabaya.

  1. Aku, Kamu, Kita, oleh Clarissa Monica

Cerpen penutup yang mengambil latar belakang kota Solo, dan, sekali lagi, Mei 1998. Kisahnya sederhana tapi memiliki makna yang dalam, tentang pentingnya “kita”, dan bagaimana upaya untuk terus-terusan mempertahankan “ke-aku-an” dapat menghancurkan “kita”, yaitu kepentingan bersama. Cerpen ini terasa relevan sekali dengan kondisi Indonesia sekarang ini…

“Nyali harus bergandengan dengan empati, kemauan untuk menghargai, dan untuk peduli kepada orang lain. Letak keberanian kita sesungguhnya adalah ketika si ‘aku’ itu berani menyingkirkan ke-aku-an, dan bersatu dengan ‘aku-aku’ yang lain menjadi ‘kita’. Dan itulah sumber kekuatan untuk melakukan perubahan bagi Indonesia…”

 


Secara keseluruhan saya menilai buku bercover merah terang ini bagus dan layak direkomendasikan. Cerpen favorit saya? Cerpen no. 5 dan no. 10. Memang ada beberapa penulis yang saya rasakan teknik menulisnya masih mentah, dan ada juga yang style-nya terlalu cheesy bagi selera saya, but still, it’s a good start. Usaha mereka untuk melakukan riset sebelum menulis juga patut diacungi jempol. Buku ini juga dilengkapi dengan profil singkat penulis di akhir masing-masing cerpen, dan ilustrasi yang semakin mempercantik buku.

Pada akhirnya, kumpulan cerpen ini membawa harapan.

Anak muda masih gemar menulis, dan mau berusaha melakukan riset dan membenahi tulisannya hingga matang.

Anak muda masih peduli dengan sejarah dan budaya Indonesia.

Anak muda menyimpan harapan bagi Indonesia yang bersatu, tidak terpecah belah; Indonesia yang kembali ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Dan satu tambahan harapan dari saya, agar langkah UK Petra mempublikasikan kumcer seperti ini diikuti oleh kampus-kampus lain.

Tertarik memiliki kumpulan cerpen “1 Negeri, 10 Kisah” ini? Hubungi CP Fano atau Jessie via SMS ke 081232273747 atau via e-mail ke careercenter@petra.ac.id. Harga Rp 57.000,-


Detail buku:

Kumpulan Cerpen “1 Negeri, 10 Kisah”, oleh Petra Career Center

141 halaman, diterbitkan tahun 2016 secara mandiri melalui Nulisbuku.com

Rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

Alice’s Adventures in Wonderland – Lewis Carroll

alice puffin chalkIt’s strange that even though I have been familiar with the character Alice since childhood (thanks to Disney), I have never actually read the book. While both of the Disney adaptations—the old-school animation and the latest one—are weird, I think the book was even weirder!

Curiouser and curiouser! Alice would say.

Alice, a curious child of seven, thought it was very strange indeed that on a hot day, she should see a White Rabbit that talks and wears a waistcoat and has a watch which he took out from his waistcoat-pocket. Piqued by her own great curiosity, she followed the frantic White Rabbit down a seemingly endless hole. Through the Rabbit-Hole, she was transported to Wonderland, a world in which everything is absurd, fantastical and even ridiculous, and nothing makes sense.

Why is this book so well-loved? I don’t have the answer to that question, but I know that I like this book because:

1. You can never guess what happens next. And Alice as the main character will keep you fascinated. When I decided to read this book I was in need of a sort of escapism, and little did I know that I was in for a treat. This book is a wild journey of imagination.

2. True, this book falls into the “literary nonsense” category, but you can’t help but admire Lewis Carroll’s wordplay. And some parts are just so funny.

Let’s take a look at a passage from The Mock Turtle’s Story:

“I couldn’t afford to learn it,” said the Mock Turtle with a sigh. “I only took the regular course.

“What was that?” inquired Alice.

“Reeling and Writhing, of course, to begin with,” the Mock Turtle replied; “and then the different branches of Arithmetic – Ambition, Distraction, Uglification, and Derision.”

“…Mystery, ancient and modern, with Seography: then Drawling—the Drawling-master was an old conger-eel, that used to come once a week: he taught us Drawling, Stretching, and Fainting in Coils.”

“And how many hours a day did you do lessons?” said Alice, in a hurry to change the subject.

“Ten hours the first day,” said the Mock Turtle, “nine the next, and so on.”

“What a curious plan!” exclaimed Alice.

“That’s the reason they’re called lessons,” the Gryphon remarked: “because they lessen from day to day.”

3. The cover of the edition of Alice’s Adventures in Wonderland I own (published by Puffin Books under the Puffin Chalk series). I mean, the cover alone would have been enough to rate this book 3 stars at least.

To wrap up this nonsense review, I only want to point out that even though I read this book for the first time as an adult, I read it with a mind of a child. I didn’t search for symbols and hidden meanings while reading, because the child in me didn’t need to understand to enjoy the journey.

“It’s no use going back to yesterday, because I was a different person then.”


Book details:

Alice’s Adventures in Wonderland, by Lewis Carroll
160 pages, published 2014 by Puffin Books (first published 1865)
My rating: ♥ ♥ ♥

Suite Française – Irène Némirovsky

suite francaiseDisebut-sebut sebagai proyek paling ambisius dari penulis Prancis kelahiran Ukraina Irène Némirovsky, Suite Française berusaha menggambarkan penderitaan masyarakat Prancis—semendetail mungkin –pada sebuah kurun waktu dari Perang Dunia II. Lebih lanjut, Suite Française membawa sederetan karakter yang mewakili masyarakat Prancis dari berbagai kelas sosial.

Badai di Bulan Juni

Bagian pertama novel ini diberi judul “Badai di Bulan Juni”, mengambil waktu mulai dari bulan Juni 1940 saat tentara Jerman memulai pendudukan atas Prancis . Berikut ini adalah karakter-karakter yang ada di dalamnya:

Yang pertama ada keluarga Péricand, keluarga kaya dan terhormat. Philippe, anak lelaki tertua pasangan Péricand adalah seorang pendeta, adiknya Hubert remaja delapan belas tahun yang masih kekanak-kanakan, dan tiga adik mereka, Bernard, Jacqueline, dan Emmanuel masih kecil-kecil. Kakek Péricand , sang ahli waris keluarga Maltête dari Lyon, sudah cacat dan duduk di kursi roda. Dengan kekayaan yang mereka miliki, keluarga Péricand selalu menyisihkan sebagian untuk amal sesuai dengan kewajiban penganut Kristen yang baik, demikian kata Madame Péricand.

Kemudian ada penulis Gabriel Corte, kaya dan terkenal, namun sangat sombong. Corte punya banyak wanita simpanan, namun hanya satu yang “resmi”, yaitu Florence. Mewakili rakyat kelas menengah, ada pasangan Michaud yang sederhana dan hidup dengan harmonis. Maurice sang suami bekerja sebagai karyawan bagian keuangan dan Jeanne sang istri sekretaris di bank yang dipimpin Monsieur Corbin. Pasangan Michaud memiliki seorang putra, Jean-Marie, yang ikut berperang membela Prancis. Dan juga ada Charles Langelet, seorang pria kaya kolektor barang-barang indah, yang dikenal sangat kikir.

Baik keluarga Péricand, Gabriel Corte dan Florence, pasangan Michaud, Monsieur Corbin dan wanita simpanannya, dan juga Charles Langelet mempunyai misi yang sama: pergi sejauh mungkin dari Paris karena kota itu akan diduduki tentara Jerman. Dari sini pembaca diajak menelusuri apa saja yang dialami para tokoh saat mereka pergi meninggalkan Paris. Yang kaya berusaha membawa sebanyak mungkin harta benda dan makanan yang mereka miliki, dan membawa mobil, tentu saja, walaupun persediaan bensin menipis. Sementara itu, pasangan Michaud yang tidak mendapat tumpangan di mobil Monsieur Corbin terpaksa pergi berjalan kaki, menyeret koper-koper berat dalam cuaca bulan Juni yang panas.

Mereka berusaha pergi dari Paris ke tempat tujuan masing-masing, di tengah ancaman bom dan tembakan dari pesawat-pesawat Jerman, belum lagi ancaman perampokan dari sesama warga sipil. Segalanya kacau balau. Dihadapkan dengan situasi yang sulit, barulah terungkap sifat asli masing-masing karakter. Madame Péricand yang selalu mengajari anak-anaknya untuk menolong orang lain, malah marah-marah ketika melihat dua anaknya membagi-bagikan permen dan cokelat dengan orang-orang di sekitar mereka. Maurice dan Jeanne Michaud menanggung beban mereka dengan cukup sabar, namun Jeanne dihantui ketakutan bahwa putra tercintanya tak selamat. Gabriel Corte dengan angkuh menolak kamar hotel yang baginya kurang nyaman, padahal ada sepuluh keluarga pengungsi lainnya yang memohon-mohon supaya diberikan kamar itu. Charles Langelet yang kehabisan bensin di tengah perjalanan tega mencuri mobil sepasang orang muda. Sementara itu Jean-Marie yang terluka, ditemukan dan dirawat oleh keluarga petani yang memiliki dua orang putri, yang pertama putri kandung dan yang satunya lagi putri angkat: Cécile dan Madeleine.

Dolce

Bagian kedua yang berjudul “Dolce” menceritakan bulan-bulan pertama pendudukan Jerman di Prancis. Ada beberapa karakter baru, antara lain:

Keluarga Angellier dari kaum borjuis, yang terdiri dari Madame Angellier dan menantu perempuannya, Lucile. Gaston, anak lelaki Madame Angellier dan suami Lucile, ikut berperang dan sedang ditawan oleh Jerman. Madame Angellier seorang wanita yang otoriter dan dominan, sedangkan Lucile yang cantik penyendiri dan kutu buku. Kedua wanita yang bertolak belakang ini tinggal di sebuah rumah indah di Bussy, desa yang pada saat itu diduduki tentara Jerman. Seperti di banyak rumah lainnya, mereka harus menerima seorang perwira Jerman untuk tinggal dalam rumah mereka.

Perwira Jerman yang tinggal di rumah Angellier bernama Bruno von Falk, pemuda tampan dengan mata besar dan rambut pirang. Walau pada mulanya Lucile bersikap kaku terhadap “musuh dalam selimut” ini, namun keramahan Bruno membuatnya luluh dan akhirnya mereka pun berteman. Hubungan pertemanan ini lambat laun berubah menjadi sesuatu yang lain… apalagi karena Lucile tak benar-benar mencintai suaminya yang serong. Hal ini tak luput dari pengamatan Madame Angellier yang merasa Lucile telah mengkhianati putranya.

Vicomte dan Vicomtesse de Montmort adalah sepasang bangsawan yang hipokrit. Sang Vicomtesse berseru di depan murid-murid sekolah supaya mereka “bermurah hati” dan “tidak memikirkan diri sendiri”, sementara ia sendiri memakai sepatu seharga delapan ratus lima puluh franc. Ada kebencian turun temurun antara keluarga Sabarie dan keluarga Montmort.

Keluarga Sabarie—keluarga petani yang merawat Jean-Marie Michaud—kembali muncul dalam bagian kedua novel ini. Madeleine sudah menikah dengan Benoît, putra keluarga Sabarie, meskipun ia masih mencintai Jean-Marie. Karena pertikaian dengan perwira Jerman yang tinggal di rumah mereka (Benoît cemburu buta melihat perwira itu menggoda istrinya), Benoît melarikan diri dan akhirnya bersembunyi di rumah keluarga Angellier. Madame Angellier yang notabene kelasnya jauh diatas Benoît, menerimanya demi membantu sesama orang Prancis.

Thoughts:

Jika pada Badai di Bulan Juni cerita mengalir lebih cepat dan dengan tone yang gelap, dalam Dolce cerita mengalir dengan lebih lambat dan tidak segelap bagian pertama, karena dalam Dolce pembaca melihat para tentara Jerman membangun hubungan baik dengan warga desa (entah tulus atau tidak), sampai-sampai warga desa menyesali saat kepergian mereka, dengan alasan jika mereka diduduki tentara lain lagi, belum tentu sikap tentara baru itu akan sebaik tentara Jerman yang pernah menduduki desa mereka.

Dalam Badai di Bulan Juni diperlihatkan bagaimana sebagian besar karakter bersikap buruk dan moralnya merosot, sementara kebaikan ditonjolkan oleh pasangan Michaud yang meski menderita, namun mereka tetap tulus, sabar dan nrimo. Hubungan yang harmonis antara pasangan suami istri Michaud cukup dapat menghangatkan hati pembaca, apalagi ketika mereka dihajar dengan hadiah yang manis pada akhir bagian pertama.

Hal paling menarik dalam Dolce mungkin adalah hubungan yang berkembang antara Lucile dan Bruno von Falk. Lucile yang sudah muak dengan suasana perang menemukan seorang teman dalam diri Bruno, dan memandangnya sepenuhnya sebagai seorang manusia yang bisa diajak berbicara dan berbagi; seragam hijau tentara Jerman yang dipakai Bruno diabaikan oleh mata Lucile.

“Tentu dalam perang,” katanya kepada dirinya sendiri, “ada tahanan perang, janda, penderitaan, kelaparan, pendudukan. Lalu, kenapa? Aku tak pernah melakukan hal yang salah. Dia seorang teman yang patut dihargai, buku, musik, percakapan-percakapan panjang kami, berjalan-jalan bersama di Hutan Maie… Yang menjadikan hal ini sebagai hal yang tak patut dilakukan adalah perang ini, penderitaan universal ini. Tetapi ia tak lebih bertanggung jawab daripada aku! Ini bukan salah kami. Kalau saja mereka membiarkan kami… Kalau saja mereka membiarkan saja kami!”

Pada akhirnya Lucile memutuskan bahwa meski perang yang kejam mengubah banyak hal, namun ia ingin kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, ia punya hak menentukan nasibnya sendiri. Ia memutuskan bahwa ia tak peduli bahwa negaranya dan negara si perwira saling berperang, karena kenyataannya Lucile dan Bruno bersahabat. Semua itu tidak salah… yang menjadikan salah adalah adanya perang yang memborbardir kedamaian antar manusia.

Mungkin, daya tarik paling utama dari Suite Française adalah fakta bahwa novel ini tidak selesai. Sang penulis, dalam catatan-catatan pribadi yang dilampirkan dalam apendiks, mengungkapkan rencananya untuk menulis novel dalam lima volume dengan total sekitar 1.600 halaman. Melalui apendiks kita tahu bahwa Irène Némirovsky tidak main-main dalam menulis, ia punya pemahaman memadai tentang keadaan politik dan sosial Prancis sebagai modal untuk menulis buku mahakaryanya. Walaupun tahu ajalnya sudah mendekat, ia tidak berhenti menulis. Dan penulisannya memang cantik meskipun terjemahannya (atau editannya, atau keduanya) kurang mampu mempertahankan kecantikan tulisan aslinya. Pada banyak bagian saya menemukan terjemahan yang aneh dan editan yang berantakan.

Kisah tentang sang penulis sendiri juga tak kalah menariknya (baca Prakata pada apendiks): beliau adalah seorang Yahudi yang ditangkap Jerman bulan Juli 1942 dan kelak tewas di kamar gas (dengan demikian meninggalkan Suite Française tidak terselesaikan). Diceritakan juga bagaimana manuskrip Suite Française selamat berkat Denise, putri Némirovsky dan baru dipublikasikan enam puluh tahun kemudian. Seandainya novel ini selesai, bukan tidak mungkin Suite Française bisa menyaingi kebesaran War and Peace karya Leo Tolstoy. Namun takdir sudah berkata lain, dan kita harus puas dengan dua bagian novel yang memberi kita sekilas pemahaman tentang perasaan dan penderitaan rakyat sipil Prancis saat Perang Dunia II berkecamuk, khususnya pada awal pendudukan Jerman di Prancis.


suite_francaise_12sht_f-page-001

Suite Française sudah difilmkan dengan bintang Michelle Williams sebagai Lucile Angellier, Matthias Schoenaerts sebagai Bruno von Falk dan Kristin Scott Thomas sebagai Madame Angellier. Bagaimana film ini mengembangkan cerita dari novelnya yang tidak selesai? Kita lihat saja nanti…

2nd review for Project Baca Buku Cetak | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Read Big Challenge 2015


Detail buku:

Suite Française, oleh Irène Némirovsky
642 halaman, diterbitkan 2011 oleh Penerbit Qanita (Mizan Group) (pertama kali diterbitkan 2004)
My rating: ♥ ♥ ♥

Beyond Sherlock Holmes – Muthia Esfand

beyond sherlock holmesSaya harus mengakui bahwa yang menjadi ide disusunnya buku ini sangat menarik. Apakah para pengarang kisah detektif terkenal sehebat tokoh-tokoh fiksi yang mereka ciptakan dalam memecahkan suatu kasus misteri? Apakah mereka juga pernah terlibat langsung dalam suatu kejadian misterius sehingga dapat menuangkannya dengan begitu piawai di atas kertas?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memenuhi benak penyusun buku Beyond Sherlock Holmes: Kisah Nyata Penulis Detektif Dunia Memecahkan Kasus Hukum sehingga buku ini bisa hadir di tangan pembaca. Ada tujuh kasus yang disorot dalam buku ini, masing-masing melibatkan nama-nama pengarang novel detektif terkenal dunia, antara lain:

Sir Arthur Conan Doyle dan Misteri Pembunuhan di Queens Terrace

Seorang perempuan kaya berusia senja ditemukan tewas di flatnya karena dipukul benda tumpul. Kasus ini membingungkan semua orang karena Miss Gilchrist tua dikenal sebagai kolektor perhiasan mewah, namun ketika peristiwa pembunuhan terjadi, benda yang hilang hanyalah sebuah bros permata kecil bersama beberapa dokumen penting. Apa yang menjadi motif pembunuhan ini? Dan siapa pelakunya? Sir Arthur Conan Doyle kemudian melibatkan diri dalam pemecahan kasus ini dengan berusaha membuktikan bahwa terdakwa yang ditangkap polisi atas kasus ini sebenarnya tidak bersalah.

Misteri 11 Hari Menghilangnya Agatha Christie

Bagi para penggemar Agatha Christie, kasus ini pastilah menjadi salah satu detail mengenai kehidupan Agatha Christie yang paling sensasional sekaligus misterius. Suatu pagi di musim dingin tahun 1926, mobil Mrs. Christie ditemukan di sekitar daerah Guildford, sebelah barat daya London, oleh seorang pemuda gipsi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pengemudi mobil. Peristiwa menghilangnya Queen of Crime ini menghebohkan seantero Inggris sampai 15.000 orang relawan ikut sibuk membantu aparat polisi mencari Mrs. Christie, demi imbalan 100 poundsterling. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Agatha Christie merilis salah satu novel terbaiknya, The Murder of Roger Ackroyd. Banyak pihak kemudian berasumsi bahwa peristiwa menghilang ini hanya akal-akalan promosi supaya novelnya semakin laris.

Sir Arthur Conan Doyle dan Skandal Great Wryley

Tahun 1906 boleh dibilang adalah tahun vakum bagi Conan Doyle. Saat itu beliau lebih sibuk mencoba menggali kasus George Edalji, seorang pengacara keturunan India yang dipenjarakan karena tuduhan membunuh dan memutilasi sejumlah hewan ternak pada tahun 1903. Berkat petisi yang ditandatangani sepuluh ribu orang, Edalji akhirnya hanya menjalani tiga tahun dari hukuman yang semestinya berlangsung tujuh tahun. Namun nama baiknya tidak dipulihkan dan ia tidak bisa meneruskan karir sebagai pengacara. Conan Doyle, yang percaya bahwa pria itu tidak bersalah, berusaha mengumpulkan fakta yang dapat membersihkan nama Edalji.

PD James vs. Dorothy L. Sayers: Pembunuhan Brutal di Anfield

Pembunuhan misterius pada kenyataannya dapat terjadi dimanapun, bahkan dalam rumah “bermartabat” yang ada di Anfield, Liverpool. Kasus pembunuhan brutal Julia Wallace di dalam rumahnya sendiri adalah salah satu kasus yang sampai saat ini tidak terpecahkan. Suami Julia, William Herbert Wallace, ditetapkan menjadi tersangka utama pembunuhan tersebut, namun ia akhirnya dibebaskan melalui banding. Dua orang pengarang novel misteri, Dorothy L. Sayers dan PD James,  menulis analisis versi masing-masing yang mencoba memecahkan kasus ini.

Patricia Cornwell dan DNA Sang Pencabik

Jack the Ripper adalah sosok pembunuh sadis yang sampai saat ini namanya masih membuat bulu roma meremang. Betapa tidak, setelah membunuh korbannya, pembunuh yang beroperasi di Distrik Whitechapel di London tahun 1800-an ini selalu mencabik lalu mengambil satu atau beberapa organ tubuh korbannya. Yang masih menjadi misteri, siapakah sesungguhnya Jack the Ripper? Banyak orang saling berlomba untuk menyelidiki jati diri Sang Pencabik. Salah satunya adalah pengarang novel kriminal Patricia Cornwell. Yang dilakukan Cornwell tidak tanggung-tanggung, ia membeli beberapa lukisan dengan obyek Jack the Ripper untuk melakukan tes DNA. Ia mencurigai bahwa sang pelukis, Walter Sickert, adalah Jack the Ripper.

Edgar Allan Poe dan Kasus Ganjil Mary Rogers

Yang ini adalah salah satu contoh kasus nyata yang kemudian “difiksikan”. Si cantik Mary Rogers yang tinggal di New York, pernah menghilang dua kali, yakni pada tanggal 4 Oktober 1838 dan 25 Juli 1841. Kalau pada peristiwa menghilang yang pertama kali Mary kembali tanpa cacat, pada peristiwa menghilang yang kedua ia baru ditemukan 3 hari kemudian, terapung di sebuah sungai dalam keadaan tak bernyawa. Publik langsung mencurigai bahwa Daniel Payne, tunangan Mary sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Namun kecurigaan ini patah ketika Daniel ditemukan tewas bunuh diri beberapa bulan setelahnya. Kasus yang tidak pernah terpecahkan ini kemudian difiksikan oleh Edgar Allan Poe dengan judul The Mystery of Marie Rogêt, diterbitkan tiga seri dalam majalah Snowden’s Ladies’ Companion tahun 1842-1843.

Steve Hodel dan Kasus Horor Black Dahlia

Pembunuhan sadis dan wanita cantik adalah kombinasi yang bisa menggegerkan seluruh negeri. Kali ini yang menjadi korban adalah Elizabeth Short, seorang aktris cantik yang mayatnya ditemukan tanpa busana dan terpotong menjadi dua bagian. Konon julukan “Black Dahlia” berasal dari berita yang mengatakan bahwa pakaian terakhir yang dikenakan Elizabeth Short adalah rok mini ketat dan blus tipis. Bertahun-tahun kemudian, kasus ini diselidiki ulang oleh Steve Hodel, yang adalah putra dari George Hodel yang pernah menjadi tersangka pembunuh Black Dahlia.


Saya sebenarnya bukan penggemar berat novel detektif. Saya hanya pernah membaca satu kumpulan cerita Sherlock Holmes, dua judul novel Agatha Christie, dan beberapa novel detektif lain, misalnya karya Jeffery Deaver dan The Cuckoo’s Calling-nya Robert Galbraith alias. J.K. Rowling. Namun saya mengakui membaca novel detektif itu mengasyikkan, karena pembaca akan ikut deg-degan saat tokoh detektif jagoan dalam novel berusaha memecahkan sebuah kasus. Belum lagi jika sang pengarang dengan briliannya “menipu” mentah-mentah para pembaca dengan ending yang tak terduga. Nah, buku ini mengupas sisi lain dari para pengarang novel detektif terkenal tersebut, khususnya dalam keterlibatan mereka dalam kasus misterius yang benar-benar pernah terjadi. Membaca buku ini mengasyikkan karena kita diajak menelusuri kasus-kasus tersebut. Buku ini juga dilengkapi dengan salinan dokumen terkait misalnya surat-surat, arsip surat kabar, peta lokasi kejadian, foto korban, foto tersangka, foto TKP, dan sebagainya. Bahkan ada beberapa area kosong yang disediakan bagi pembaca untuk menulis “temuan”. Hanya saja, ada beberapa kekurangan yang saya temukan dalam buku ini:

Halaman 53: “Jumat pagi, 3 Desember 1926, setelah naik ke lantai atas rumahnya untuk memberikan kecupan selamat tidur kepada putri tunggalnya, Rosalind, sekitar pukul 21.45 Agatha Christie terlihat memacu mobil Morris Cowley hijau meninggalkan rumahnya di Styles.” Sebentar, Jumat pagi?

Halaman 120, New York salah ketik menjadi “Ney York”.

Ada beberapa bagian yang membuat saya “salah fokus” alias kenikmatan membaca saya jadi sedikit terganggu:

Halaman 72-73: “Darah yang mengalir dalam diri Sharpuji sepenuhnya darah India-Parsi dan, yeah, nyaris seperti Hermione dalam Harry Potter, ada saja orang-orang yang menganggapnya berstatus ‘darah lumpur’.” Menurut saya penulis dapat menyampaikan maksudnya mengenai status keturunan campur Sharpuji Edalji tanpa harus menyebut-nyebut Hermione.

Halaman 122: “Bayangan Mary mungkin saja mengalami kecelakaan, mulai berkecamuk dalam kepala sang ibu. Itulah luar biasanya seorang ibu, apa-apa yang membuat buah hatinya menderita, dirasakannya dua kali lipat lebih dalam. Beri hormat pada seluruh ibu di muka bumi.Hmmm, dua kalimat yang saya garis bawahi itu kok rasanya tidak pada tempatnya, tidak cocok dengan isi buku ini secara keseluruhan.

Yang terakhir, halaman dedikasi yang letaknya di akhir buku (yang ini bukan kekurangan, sih, hanya aneh saja.)

Selain memperkaya pengetahuan pembaca, buku ini juga menyodorkan fakta bahwa ada banyak sekali kasus yang tak pernah terpecahkan sampai saat ini. Ternyata memang yang namanya misteri tak selalu bisa terjawab!


N.B.: Terima kasih buat Penerbit Visimedia dan bapak peri BBI Dion Yulianto buat kesempatan mereview buku ini. Sekedar informasi, buku ini adalah buku buntelan pertama yang saya terima sejak tahun 2012, dan post ini adalah post review pertama yang saya tulis sejak bulan Februari 2014. So, again, thanks. 🙂


Detail buku:

Beyond Sherlock Holmes: Kisah Nyata Penulis Detektif Dunia Memecahkan Kasus Hukum, oleh Muthia Esfand
158 halaman, diterbitkan 2014 oleh Penerbit Visimedia
My rating: ♥ ♥ ♥

The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

beekeeperMary Russell baru berusia lima belas tahun ketika ia bertemu dengan Sherlock Holmes untuk pertama kalinya. Dalam suatu pertemuan tanpa sengaja itu Holmes menyadari bahwa ia menemukan “permata yang terpendam”, yakni kecerdasan yang luar biasa yang tak disangkanya bisa ia temukan dalam diri seorang gadis muda. Saat itu Holmes yang sudah pensiun dan sudah memasuki usia paruh baya itu menyibukkan dirinya dengan beternak lebah. Tidak butuh waktu lama bagi Holmes untuk merekrut Mary sebagai muridnya. Mereka mulai bekerjasama dalam menangani berbagai kasus. Kasus yang pertama adalah suami seorang wanita yang tiba-tiba sakit secara mencurigakan, kemudian kasus penculikan seorang putri senator Amerika, dan yang terakhir teror bom yang mengancam nyawa Holmes, Russell, dan juga kawan-kawan dekat Holmes seperti Dr. Watson, Mrs. Hudson, dan juga Mycroft Holmes sehingga mereka harus berpencar ke segala arah demi mengatur strategi menghadapi musuh yang pintar dan licin ini.

[Spoiler Alert!]

Sebagai sebuah novel detektif, buku ini cukup menghibur. Dalam beberapa peristiwa pembaca dapat merasakan simpati yang dalam terhadap karakter Mary Russell yang kehilangan kedua orang tua dan adiknya melalui peristiwa yang sangat mengerikan dan memilukan, dan juga terhadap Sherlock Holmes, yang betapapun brilian otaknya, tetap seorang manusia yang tidak luput dari masa penuaan.

Bagi saya, ide mempertemukan sesosok tokoh detektif selevel Sherlock Holmes yang sudah mencapai usia senior (sekitar 60 tahun) dengan seorang gadis muda pintar yang kemudian menjadi murid dan selanjutnya partnernya—adalah sungguh-sungguh absurd. Namun, event Laurie R. King Read-A-Long yang dihost oleh Fanda bulan lalu membuat saya tertarik untuk membaca buku ini, dan mungkin juga karena faktor covernya yang merah dan mewah.

Dari beberapa novel yang mengambil era Regency (misalnya novel-novel Austen) dan era Victoria, memang pernikahan yang terjadi antara seorang gadis muda dan seorang lelaki yang lebih tua berpuluh-puluh tahun darinya sering terjadi dan mungkin dianggap lazim. Tapi bagaimana dalam setting waktu yang diambil buku ini, yaitu pada tahun 1920-an setelah Perang Dunia Pertama? Bagaimanapun, saya tetap merasa aneh bahwa karakter Mary Russell yang belum genap dua puluh tahun dan Sherlock Holmes yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun bisa memiliki hubungan yang romantis (atau setidaknya dalam buku ini, hampir romantis). Saya akan jauh lebih suka jika Mary Russell murni menjadi murid dan sidekick Sherlock Holmes tanpa membuat mereka menjadi pasangan romantis. Coba bayangkan Mary Russell yang beranjak dewasa memiliki pasangan dan Sherlock Holmes akan berperan menjadi “paman tua yang sok tahu dan selalu ikut campur”. Tak kalah menarik, bukan? Tapi, oh well, saya bukan sang penulis, dan seri ini toh telah diterbitkan sampai buku yang ke-12 (lihat semua serinya di sini).

Satu hal lagi yang saya tidak sukai dari buku ini, adalah adegan saat Holmes ingin mengerjakan sesuatu sendirian dan menolak melibatkan Russell, yang ditanggapi oleh Russell dengan: “Holmes, kau tidak bisa berbuat begini kepadaku. Kau tidak berkata apa-apa kepadaku, kau sama sekali tidak meminta saranku, hanya mendorongku ke sana kemari, mengabaikan segala rencana yang mungkin kumiliki, menyimpan rahasia dariku seakan aku adalah Watson, dan kini kau hendak pergi dan meninggalkanku dengan daftar belanjaan. Pertama-tama kalu menyebutku mitra, lalu kau mulai memperlakukanku seperti pelayan. Bahkan murid magang pun patut diperlakukan lebih baik dari pada itu.” – hal. 280

Dalam adegan yang lain pun Mary Russell menganggap Dr. Watson “tidak berguna” walaupun kemudian ia menyadari bahwa Watson sangat baik hati. Saya bukan pembaca setia seri Sherlock Holmes dan saya tidak tahu seperti apa hubungan Holmes-Watson yang sesungguhnya dalam tulisan Conan Doyle, namun bagi saya karakter Mary Russell dengan terang-terangan merendahkan peran Dr. Watson, and I dislike that. (Iya deh, mungkin ini efek dari terlalu banyak nonton seri Sherlock BBC di mana peran John Watson sangat signifikan bagi partnernya, Sherlock Holmes.)

Di luar hal-hal yang sudah saya sebutkan tersebut, The Beekeeper’s Apprentice tetap sebuah bacaan yang cukup mengasyikkan. Namun maaf sekali kepada Tante Laurie, dalam banyak hal, buku ini not really my cup of tea. Tiga bintang cukuplah buat buku ini.


Detail buku:

The Beekeeper’s Apprentice: Gadis Sherlock Holmes (Mary Russell #1), oleh Laurie R. King
428 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥

Matilda – Roald Dahl

matilda book coverOnce upon a time, there lived a reader. Her name was Matilda. No, Matilda wasn’t just a common reader. She began reading at the age of three, and at the age of four she devoured all newspapers and magazines she could find laying around her house, along with one cooking book that happened to be the only book in the household. Poor Matilda, being a child so bright in a dreadfully unsupportive family, she had to find her own way to the library, the place where she could find all the books she wanted to read. Voila, after devouring every children’s books in the library’s collection, this magical child managed to read these books before she even turned five years old:

Nicholas Nickleby by Charles Dickens
Oliver Twist by Charles Dickens
Jane Eyre by Charlotte Bronte
Pride and Prejudice by Jane Austen
Tess of D’Urbervilles by Thomas Hardy
Gone to Earth by Mary Webb
Kim by Rudyard Kipling
The Invisible Man by H.G. Wells
The Old Man and the Sea by Ernest Hemingway
The Sound and the Fury by William Faulkner
The Grapes of Wrath by John Steinbeck
The Good Companions by J.B. Priestley
Brighton Rock by Graham Greene
Animal Farm by George Orwell

Hard to believe, I know. But the story does not end there. We can say that it was Mr. and Mrs Wormwood’s fault that Matilda entered school quite late. They were Matilda’s parents, and they didn’t give a damn about their daughter’s education. So at age five and a half Matilda went to school for the first time. Crunchem Hall, the name of the school, was the place where you can find the biggest, most ridiculous contrast ever between two people. The headmistress of Crunchem Hall was called Miss Trunchbull, and there is only one word that could define her best: a nightmare. She was a gigantic monster, a terror, a menace. She enjoyed punishing children in such a horrifying and unexplainable way that the parents would not believe if their children told them about the headmistress. Meanwhile, the exact opposite of Miss Trunchbull took the form of a Miss Honey, Matilda’s teacher. She was a slim-figured young woman who was mild and quiet. Later on, Miss Honey would recognize the extraordinary talent that Matilda possessed. As their friendship grows, Matilda would learn that Miss Trunchbull was the one who is responsible for Miss Honey’s miserable life. Using her newly found “superpower”, Matilda arranged a plan to take revenge on Miss Trunchbull for what she has done to Miss Honey.

My Thoughts—Spoiler Alert!

For children, this book could be enjoyable since logic won’t spoil the fun. They won’t think about how on earth stupid people like Mr. and Mrs Wormwood could have a daughter as bright as Matilda. And maybe they won’t wonder why the antagonist has a horrible name like Trunchbull and the protagonist has a name so sweet and innocent like Honey. For most people, this book might be an innocent reading, a quick stroll into childhood. I like it that Matilda found comfort in books, when she was feeling depressed living with family who are so different from herself. But in the book I also found some things that I object, especially in the matter of family relationships. Maybe because, thankfully, I grew up in an encouraging and loving family, I never felt what Matilda felt. I just couldn’t get the idea of punishing your parents, no matter how irritating they are. And the ending as well, I just couldn’t get it. I mean okay, Matilda’s finally got her happily-ever-after, but why must the author broke the relationship between her and her family? Couldn’t he make them (Matilda’s family) change instead? Well, maybe I have taken the book a little bit too seriously, but this is what I think of it. On the other hand, this book could be a gentle reminder to ignorant parents. They should be able to see that a child is a human being who deserves their attention, and sometimes children are capable of things beyond older people’s comprehension.

In the end, MAYBE this is the message of Matilda:

Family is people whom you should always go home to if they are good people.
If they are bad people, then you can go home to other people who are nicer to you, form a bond with them, not by blood, but by heart.

P.S.: “MAYBE” means even though I wrote these words, it doesn’t mean that I agree with it.

27th review for The Classics Club Project / 8th review for Books in English Reading Challenge 2013 / 11th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 / 7th review for New Authors Reading Challenge 2013 / 3rd review for Fun Year with Children’s Literature event

Book details:

Matilda, by Roald Dahl
240 pages, published March 1992 by Heinemann (first published August 1988)
My rating: ♥ ♥ ♥


Movie Review:

matilda darls chickens
If you enjoy Home Alone franchise, then you would probably like the 1996 adaptation of Matilda as well. Directed by Danny DeVito, the movie is quite faithful to the original story, and was successful in bringing into life the abominable Miss Trunchbull and also the delicate Miss Honey. Matilda was pictured older than she actually was in the book (and rather gloomier than in the book, I think). One major difference between the book and the movie is that in the movie Matilda still has her powers after the whole business with Miss Trunchbull was over. In the book, she lost her powers—and she was glad about it. I think I prefer the ending in the book than in the movie.

Matilda (1996) on IMDb

The Great Gatsby – F. Scott Fitzgerald

great gatsby

The Great Gatsby portrays the life of thriving generation of 1920s America in high splendor and endless glittering parties. Nick Carraway, the narrator, was a bond man who recently moved to New York and resides in the West Egg district of Long Island, and was neighbor to one young rich man named Jay Gatsby. The story starts when Nick went to East Egg district one night to dine with his cousin, Daisy, and her husband Tom Buchanan. From another girl who was present at the dinner, Jordan Baker, Nick learned about the turbulent marriage of Tom and Daisy and that Tom has a mistress. Myrtle Wilson, Tom’s mistress, lived in the valley of ashes, a gray industrial dumping ground between West Egg and New York City. Nick’s curiosity and fascination about his mysterious neighbor was answered when Gatsby eventually invited Nick to one of his parties. There Nick would learn that Gatsby and Daisy were once sweethearts. A reunion was set between Gatsby and Daisy in Nick’s house, where the two young lovebirds rekindled their romantic relationship. Their affair would soon raise suspicion from Tom, who would not have his wife cheating on him while he was involved in an extramarital affair himself. The confrontation between Tom and Gatsby reached its peak when Tom let Gatsby drove his wife back home to East Egg in his luxurious car, and then an unwanted accident happened. In the aftermath, the corruption, moral decay, carelessness, hypocrisy, and superficiality of the people surrounding him; all came crystal clear before Nick’s eyes.

The Jazz Age party. Image source

The novel took place when the First World War had just ended and America has never been more prosperous, a time called “The Jazz Age”, which later ends in the Great Depression. The problem with these rich people in this time was; they became so consummated in their wealth that they grew careless, superficial and pleasure-seeking. Not one, I repeat, not one of the characters in this novel is likeable to me. Tom Buchanan was a bad-mannered libertine and his wife Daisy a shallow, foolish girl. The cynical Jordan Baker had enough nerve to drive carelessly and taking other people’s safety for granted. Meyer Wolfsheim, the Jewish man who wore human molars as cuff buttons, was cowardly and deceiving. Even Gatsby, he isn’t so “great” as in the title of the novel. Yes, he is “great” in his optimistic spirit to pursue his dream, which is winning Daisy back, but to be able to win Daisy he would have to climb to her social status, and to do that he need to make a fortune in dishonest, fraudulent ways. The only “clean” character was Nick Carraway, who stayed on Gatsby’s side to the very end, when not another soul would come into the marred picture.

This book is probably the most difficult book that I have read that only has less than 150 pages. The narrative was written beautifully—yet I felt the great need to read many passages more than twice, check dictionary and even consult the Internet to attempt to fully comprehend what Fitzgerald was trying to say. And even in the end, I can’t say that I can now fully comprehend The Great Gatsby.  But at least, thanks to Sparknotes and Fanda’s chapter posts, I came to understand some confusing passages and symbols depicted in the novel. In spite of entertaining, this novel would make you think hard. Finally, I think The Great Gatsby is great because it bravely shows the ugly truth of man, and in the end still encourages optimism in the powerful words of the last passage of the novel.

Gatsby believed in the green light, the orgastic future that year by year recedes before us. It eluded us then, but that’s no matter—tomorrow we will run faster, stretch out our arms farther. . . . And then one fine morning—
So we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past.

 

For the finest novel by The Great Fitzgerald, I gave three stars.

***

* I read this book together with Fanda, Astrid, Dessy, Althesia, Listra, Vaan, Dani, Sulis, and Melissa (Avid Reader) *

26th review for The Classics Club Project / 7th review for Books in English Reading Challenge 2013 / 3rd review for 2013 TBR Pile Challenge / 3rd review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction /6th review for New Authors Reading Challenge 2013

Book details:

The Great Gatsby, by F. Scott Fitzgerald
122 pages, published December 1993 by Wordsworth Classics/Wordsworth Editions Ltd (first published 1925)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick

hugo cabret

Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di Stasiun Kota Paris pada tahun 1930an. Ia bekerja memutar dan merawat kedua puluh tujuh jam yang ada di stasiun itu tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa dialah yang melakukannya. Sebelumnya, Hugo tinggal bersama ayahnya, seorang pembuat jam yang bekerja paruh waktu di sebuah museum tua. Suatu ketika ayah Hugo menemukan barang langka, mesin paling rumit dan paling indah yang pernah dilihatnya—sebuah automaton yang rusak. Automaton itu berbentuk seperti manusia berukuran kecil yang sedang duduk sementara tangannya di atas meja, siap menulis. Ya, automaton yang menakjubkan itu bisa menulis! Malangnya, ayah Hugo meninggal dalam kebakaran museum tua itu, dan meninggalkan Hugo dalam pengawasan saudaranya, Paman Claude. Dari Paman Claude-lah Hugo belajar merawat semua jam di stasiun, dan ketika Paman Claude menghilang Hugo-lah yang melanjutkan pekerjaannya.

Walaupun ayahnya telah tiada, Hugo bertekad memperbaiki automaton itu dengan dengan bermodalkan buku catatan kecil peninggalan sang ayah. Entah bagaimana, ia merasa bahwa si automaton akan menuliskan pesan yang berasal dari ayahnya, jika benda itu sudah diperbaiki. Demi memperbaiki si automaton, Hugo pun mencuri bagian-bagian kecil mesin dari toko mainan milik seorang pria tua bernama Georges di stasiun. Pada suatu hari aksinya ketahuan, dan si pria tua membawa buku catatan kecil milik Hugo dan mengancam akan membakarnya. Hugo mengikuti pria tua itu sampai ke rumahnya, dan bertemu dengan Isabelle, anak baptis si pria tua. Isabelle berjanji untuk mencari buku catatan itu dan memastikan bahwa Papa Georges (alias si pria tua) tidak membakarnya. Dari sanalah Hugo dan Isabelle menjadi sahabat, dan bersama-sama mereka menemukan siapakah sesungguhnya Papa Georges, apa sebenarnya pesan yang disimpan oleh automaton itu dan hubungannya dengan ayah Hugo dan juga Papa Georges. Mereka berdualah yang membuka kunci sebuah rahasia yang tersimpan rapat selama bertahun-tahun…

***

Yang membuat buku ini istimewa tentu saja adalah ilustrasi-ilustrasi karya Brian Selznick yang memenuhi hampir seluruh buku. Goresan-goresannya begitu tajam dan nyata, dan begitu detail sehingga saya merasa bahwa sebagian pekerjaan sinematografer ketika mengadaptasi buku ini ke film sudah dikerjakan oleh Selznick. Keistimewaan yang kedua adalah, buku ini merupakan cara yang sangat bagus untuk memperkenalkan sosok yang sudah lama terlupakan (dalam hal ini Georges Méliès yang merupakan salah satu filmmaker pertama dalam sejarah yang terkenal akan inovasi special effects-nya) khususnya kepada anak-anak. Untuk orang dewasa yang sudah mengetahui sejarah tentang Georges Méliès ataupun yang belum, buku ini juga bisa menjadi pengantar yang cukup menghibur. Untuk cerita maupun gaya penulisannya, bagi saya tidak terlalu istimewa. Dengan adanya banyak gambar, rasanya buku ini cocok untuk anak-anak berusia mulai tujuh tahun, lebih bagus kalau orang tua yang membacakannya dan membimbing sehingga anak tidak perlu pusing akan istilah-istilah mekanis dalam buku dan lebih berkonsentrasi pada ceritanya. Di bawah ini adalah foto beberapa ilustrasi di dalam buku ini:

20130131_200621

20130226_221510

Kalau boleh jujur, saya berpendapat bahwa adaptasi film dari buku ini yang diberi judul Hugo (rilis tahun 2011) lebih bagus daripada bukunya. Walaupun filmnya agak berbeda dengan buku di banyak bagian, misalnya hubungan Hugo dan Isabelle lebih “rukun” di film daripada di buku, karakter Polisi Stasiun di film (diperankan oleh Sacha Baron Cohen) digambarkan lebih lucu dan komikal dan bahkan ada porsi romancenya sedikit, dan juga aura filmnya cenderung lebih ceria sedangkan bukunya lebih gloomy. Film Hugo diisi oleh sederet cast yang mengesankan: aktor kawakan pemenang Oscar Ben Kingsley sebagai Georges Méliès, Jude Law sebagai ayah Hugo, Asa Butterfield sebagai Hugo dan Chloe Grace Moretz sebagai Isabelle, Christopher Lee sebagai Monsieur Labisse, dan disutradarai oleh Martin Scorsese. Film ini adalah nomine Best Motion Picture of the Year Academy Awards tahun 2012, dan menang dalam beberapa kategori, yaitu Best Art Direction, Best Cinematography, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, dan Best Visual Effects. (sumber: IMDb)

Back to the book. After all, I think this book is an amazing way to relive the past, and to give a tribute for someone who shouldn’t be forgotten, someone like Georges Méliès.

Memorable Quotes

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” – Hugo, halaman 388

“Kalau kamu bertanya-tanya dari mana asal mimpi-mimpimu ketika kamu tidur pada malam hari, lihat saja di sekitar sini. Di tempat inilah mimpi-mimpi itu dibuat.” — Georges Méliès, halaman 397

20130226_223946

Lebih banyak tentang Georges Méliès – Wikipedia

***

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2013 tema buku yang adaptasi filmnya masuk nominasi/memenangkan piala Oscar

5th review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 4th review for New Authors Reading Challenge 2013 | 2nd review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Books in France 2013 Reading Challenge | 1st review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction

Detail buku:

The Invention of Hugo Cabret, oleh Brian Selznick
544 halaman, diterbitkan Januari 2012 oleh Mizan Fantasi (pertama kali diterbitkan tahun 2007)
My rating: ♥ ♥ ♥

Fahrenheit 451 – Ray Bradbury

fahrenheit451

Fahrenheit 451 – the temperature at which book paper catches fire, and burns…

In the time where Guy Montag lives, the job of a fireman is not to stop a building to be caught in fire, but to start the fire. It was Montag’s job, along with all firemen, to burn houses that kept books inside. Montag was a man who lived the official firemen slogan to the fullest: “Monday burn Millay, Wednesday burn Whitman, Friday Faulkner, burn ‘em to ashes, then burn the ashes.” Well, Montag was a good fireman for ten years, until he met Clarisse McClellan, a weird seventeen-year-old girl whose family recently moved next door. An odd short rendezvous with Clarisse got Montag thinking, that a long time ago there was different time when books are not forbidden, people were not afraid and firemen had a different mission than what he does at present time. One simple question from Clarisse, “Are you happy?” led the reader to what kind of life Montag was having; empty, cold and dead. Love has withered. The human relationships have vanished. Nobody cares about each other anymore. “Family” was the television screens people installed in parlor walls of their houses. Human beings were merely empty heads and empty souls.

“Last night I thought about all the kerosene I’ve used in the past ten years. And I thought about books. And for the first time I realized that a man was behind each one of the books. A man had to think them up. A man had to take a long time to put them down on paper. And I’d never even thought that thought before.” He got out of bed.

“It took some man a lifetime maybe to put some of his thoughts down, looking around at the world and life, and then I come along in two minutes and boom! It’s all over.” – p. 51-52

Out of desperation, Montag decided to do something completely mad: steal a book from a fire and then search for an old acquaintance: a retired professor named Faber. Together they made up an impossible plan to relive the vanished books. Needless to say that Montag’s little game with fire made him caught the fire. Captain Beatty the chief fireman has been sniffing the strange conduct of Montag and arranged to burn Montag’s house and to chase him down. Montag ran away to the river and came to a dark land in the wilderness. There he met a few people who kept the books like Plato’s Republic and Gulliver’s Travels and books by Charles Darwin and Einstein and Schopenhauer and Albert Schweitzer and many others, not in print and papers but in their heads. It was in their hands the answer to the question: Is there any future for books?

***

I had one question before I start reading this book. It was: what is this book trying to tell the reader? And then after I finished reading it, that one question exploded to many; I was puzzled and confused. One great mystery for me is who Captain Beatty really was. I mean, his mind was obviously well-fed with books, and he talked like he loved books, but yet he burned them. And then what become of Clarisse? Her character was so much like a light in the dark that I longed to see her again throughout the book, but she never showed up. And then the ending. I felt like I want to shout, “Is that it?” In short, I cannot fully understand this book, with its lack of background details and such a weird style of writing (at least for me). But this book got some very good lines that we should never forget.

Faber sniffed the book. “Do you know that books smell like nutmeg or some spice from a foreign land? I loved to smell them when I was a boy. Lord, there were a lot of lovely books once, before we let them go.” – p. 81

“Books were only one type of receptacle where we stored a lot of things we were afraid we might forget. There is nothing magical in them at all. The magic is only in what books say, how they stitched the patches of the universe together into one garment for us.” – p. 82-83

“Do you know why books such as this are so important? Because they have quality. And what does the word quality mean? To me it means texture. This book has pores. It has features. This book can go under the microscope. You’d find life under the glass, streaming past in infinite profusion. The more pores, the more truthfully recorded details of life per square inch you can get on a sheet of paper, the more ‘literary’ you are. That’s my definition, anyway. Telling detail. Fresh detail. The good writers touch life often. The mediocre ones run a quick hand over her. The bad ones rape her and leave her for the flies.” – p. 83

What to conclude from those passages? I can only take a personal conclusion. Someone said to me once, “Read good books.” Henry David Thoreau once said, “Read the best books first, or you may not have a chance to read them at all.” Thanks, Mr. Bradbury, for reminding me about that.

Special thanks to Astrid for lending me this book. 😉

***

22nd review for The Classics Club Project | 3rd review for New Authors Reading Challenge 2013 | 2nd review for Books in English Reading Challenge 2013 | 3rd review for Back to the Classics 2013

Book details:

Fahrenheit 451, by Ray Bradbury
190 pages, published 2003 by Del Rey Books (Random House Publishing Group), first published on 1953
My rating: ♥ ♥ ♥

Therese Raquin – Émile Zola

therese raquin[Review in Bahasa Indonesia and English]

Sebuah novel klasik yang diberi judul nama seorang perempuan – misalnya Jane Eyre, Anne of Green Gables, atau Emma, biasanya mengisahkan perjuangan atau perkembangan karakter yang dialami si tokoh utama dalam hidupnya. Tapi buku ini tidak menceritakan tentang perjuangan ataupun perkembangan karakter seperti yang diceritakan dalam tiga buku diatas.

Therese Raquin yang dilahirkan dari ayah Perancis dan ibu Algeria, sejak masih kecil ditinggalkan oleh ayahnya ke dalam pengasuhan Madame Raquin. Jadilah Therese tumbuh besar bersama sepupu laki-lakinya yang ringkih dan sakit-sakitan, Camille. Karena kondisi fisik yang lemah itulah, Madame Raquin sangat memanjakan anak lelakinya sehingga Camille tumbuh menjadi seorang pemuda yang manja dan egosentris. Saat mereka dewasa, Madame Raquin menikahkan mereka berdua. Demi penghidupan yang lebih baik, keluarga Raquin pindah dari Vernon ke Paris, tepatnya di Selasar du Pont-Neuf yang lembap, gelap, dan kumuh. Kondisi ini sebenarnya membuat sesak Therese, ditambah lagi dengan mempunyai seorang suami yang pucat dan lembek. Namun Therese telah terbiasa bersikap dingin, acuh tak acuh, dan menunjukkan kepatuhan yang pasif.

Keadaan berubah setelah Camille mengundang teman kerjanya, Laurent, ke rumahnya. Bersama-sama dengan Grivet dan Michaud, mereka menghabiskan setiap Kamis malam di rumah keluarga Raquin, makan malam dan main domino. Therese memandang Laurent dengan ketertarikan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya; jika dibandingkan dengan suaminya, Laurent tampak gagah perkasa, dengan otot-otot kekar dan leher tebal. Singkat kata, Laurent kemudian menyambar kesempatan saat ia ditinggal berduaan saja dengan Therese dan perselingkuhan mereka yang kotor dan keji pun dimulai. Hubungan mereka berdua didasarkan oleh nafsu yang membabi buta— dan Therese merasa seakan ia dibangunkan dari tidur panjang setelah berhubungan dengan Laurent, sementara Laurent sendiri mendapat pelampiasan nafsunya secara gratis, karena ia tidak mampu lagi membayar pelacur untuk memuaskannya. Mengapa keji? Karena perselingkuhan itu kemudian mendorong mereka untuk membunuh Camille. Dan setelah pembunuhan itu dilakukan, apakah mereka bisa hidup bersama dengan bahagia? Ataukah justru hantu Camille bangkit dari kubur, dan menempatkan dirinya setiap malam di atas ranjang di antara Therese dan Laurent?

***

Therese Raquin bukanlah sebuah kisah yang gampang dinikmati. Tidak ada satupun dari para karakter yang mendapat simpati dari saya, boleh dikata saya benci dan jijik terhadap mereka semua. Namun, saya tak dapat menyangkal bahwa buku ini ditulis dengan luar biasa bagus. Dalam pendahuluan penulis menjelaskan, bahwa novel ini dituliskan untuk mempelajari watak dan bukannya tokoh. Di mana Laurent adalah seorang sanguinis, Therese seorang melankolis dan Camille seorang phlegmatis. Setelah membacanya saya pun paham bahwa Therese Raquin bukan sekedar novel yang mengumbar adegan tak senonoh, tapi merupakan hasil penelitian sang penulis terhadap sifat-sifat terburuk manusia, sifat-sifat yang (maaf) menyerupai binatang. Kedengaran mengerikan? Ya, memang. Namun suatu saat saya ingin membaca buku ini lagi, siapa tahu saya mendapatkan pemahaman dari segi yang lain yang tidak saya dapatkan ketika selesai membacanya untuk pertama kali. Dan sebenci-bencinya saya dengan para karakter dalam novel ini, saya merasa penulis seakan berkata kepada saya, “ya seperti ini lho manusia.” Dan kemudian perasaan benci dan jijik saya agak dilunturkan oleh rasa iba.

Segala detail yang ada dituliskan supaya pembaca bukan hanya membayangkan, namun benar-benar hidup di Selasar du Pont-Neuf yang gelap dan lembap itu, menyaksikan perselingkuhan menjijikkan Therese dan Laurent, dan bagaimana pembunuhan yang mereka lakukan menghancurkan segala yang mereka miliki sampai tak tersisa. Buku ini bagi saya memberi salah satu bukti bahwa “upah dosa adalah maut”; pembaca dibawa menyaksikan bagaimana dosa yang setitik berakibat dosa yang lebih besar dan pada akhirnya melemparkan mereka pada kehancuran. Tiga bintang untuk drama keji yang ditulis Émile Zola dengan brilian.

Detail buku:

Therese Raquin, oleh Émile Zola
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Julanda Tantani
336 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1867)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Review in English:

Therese Raquin—a novel intended by its author to be an observation of temperaments, not characters—is a novel I loathe for its characters and story, and at the same time I love for the author’s brilliant writing. It tells us about a young woman, Therese Raquin, who was raised by her aunt and then by the time she was an adult, her aunt made her married her sickly cousin Camille. The life of the Raquins was once quite normal and peaceful, before Laurent, Camille’s friend from work, came into the picture. Being a farmer’s son, Laurent was muscular and had a thick neck, which Therese couldn’t stop looking at. Shortly, Therese and Laurent engaged in a brutal, filthy, and sickening affair that soon encouraged them to murder Camille so they can be “together”. What happened after the murder was not a bit close to what they wanted. The murder lived on between them, and the dead body of the drowned Camille appeared to them and took his place on the bed between Laurent and Therese. So what’s so special about Emile Zola’s writing? It was so detailed that I felt like I really lived between the Raquins in the Passage du Pont-Neuf and witnessed Therese and Laurent’s dirty deeds. But no matter how bad I hated the characters in this novel, I felt as if the author spoke to me, “this is what human is like.” Then my hate and disgust for the characters was slightly faded by pity. I think that this novel is also proof of “Death is the penalty of sin”. I saw how sin dragged the characters into even bigger sin, and finally to destruction. For this cruel drama that actually has a deep meaning, I gave three stars.


 

20th review for The Classics Club Project | 2nd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 1st review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for Back to the Classics 2013


 A Note to My Secret Santa:

Buku ini mungkin bukan buku favoritku, tapi aku senang kamu ngasih buku ini karena akhirnya aku bisa “kenalan” dengan Émile Zola, sesuatu yang pengen kulakukan sejak lama. Dan tentu saja buku ini melengkapi koleksi novel klasik Gramedia berstempel mawar merah punyaku! So, thanks to you. #ketjup. Terima kasih juga untuk buku satunya, Letter to My Daughter nya Maya Angelou yang sudah kubaca tapi belum kutulis reviewnya. Menyusul ya! Dan, menebak siapa sebenarnya kamu membuat aku bingung. Yang pertama, resi yang berasal dari Tangerang sepertinya nggak ngasih clue yang membantu. Lalu di dalam riddlemu (riddle dari Santa sudah kuposting di sini) ada beberapa karakter fiksi: Hannibal Lecter (as in, “Hannibal Rising”, tapi beneran deh aku nggak tahu apa artinya itu) lalu Baudelaire bersaudara, Lester McKinley, Harry Potter, Sirius Black, dan Peter Pan. Dari sederetan nama ini aku mengambil nama yang paling asing buatku untuk “diselidiki”, yaitu Lester McKinley. Dan hasil penyelidikanku menyatakan bahwa seorang BBI-er yang suka sama Lester McKinley adalah Santaku, dan dia adalah….

Asriani “Ally” Purnama

Bener nggak sih? Kalo bener, berarti kamu Santaku untuk 2 tahun berturut-turut dong? *koprol sambil bilang WOW* Eniwei, event Secret Santa 2012 seru banget deh, makasih buat duet koordinator Ndari dan Oky. Thumbs up!