Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) 😛

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. 🙂

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! 🙂

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*

The Adventures of Tom Sawyer – Mark Twain

tom sawyer

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Seluruh kepribadian seorang Tom Sawyer bisa disingkat dalam dua kata: anak bandel. Lihat saja bagaimana ia mengerjai temannya Ben Rogers yang sedang lewat sambil menggigit apel ketika Tom sedang melabur pagar di hari Sabtu di musim panas (hukuman dari Bibi Polly karena kenakalannya). Dengan siasat cerdik, akhirnya Ben yang bekerja melabur pagar sementara Tom bersantai dan menghabiskan apelnya. Lihat saja bagaimana dengan siasat cerdik lainnya, Tom berhasil mendapatkan sebuah Alkitab tanpa harus menghapalkan isinya, seperti yang telah anak-anak lainnya lakukan. Dan lihat saja bagaimana Tom dan sahabatnya Huckleberry Finn nekat mendatangi pemakaman pada tengah malam gara-gara percaya takhayul, dan tidak sengaja menjadi saksi sebuah perampokan makam dan sebuah pembunuhan. Dan tidak hanya itu… ternyata gerombolan penjahat itu menyembunyikan sejumlah harta rampasan entah dimana. Biarpun merasa takut setengah mati terhadap Joe Indian yang melakukan pembunuhan di makam, Tom dan Huck berniat untuk menemukan harta itu. Juga ada cerita petualangan Tom dan kawan-kawan bermain “menjadi bajak laut”, dan juga kisah cinta monyet yang bikin gemes antara Tom dan anak perempuan hakim setempat, Becky Thatcher.

Ya, Tom memang anak bandel. Tapi, jangan berpikiran buruk dulu ketika mendengar kata “anak bandel.” Tom sesungguhnya hanya seorang bocah lelaki yang, ehm… agak kelebihan energi? Suka berkhayal? Punya rasa ingin tahu yang besar (alias kepo)? Pemberani (bahkan cenderung nekat)? Tukang cari perhatian? Yah, sesungguhnya jika kita membaca kisah Tom, pasti kita bisa menemukan sebagian dari diri kita saat masih kecil. Saat masih kecil kita juga suka kelebihan energi, suka berkhayal, suka kepo, kadang-kadang nekat dan suka cari perhatian. Sungguh, ini salah satu buku yang membuat saya kangen akan masa kecil.

Google doodle tanggal 30 November 2011, memperingati HUT Mark Twain ke-176

Google doodle tanggal 30 November 2011, memperingati HUT Mark Twain ke-176

Moral of the story? Kalau seorang anak bandel, belum tentu berarti ia jahat. Hanya memang perlu pendekatan khusus untuk meladeni anak seperti ini (pendekatan yang bagaimana? Saya sendiri nggak tahu, belum pernah punya anak sih! :D). Yang jelas membatasi seorang anak secara berlebihan sama sekali bukan solusinya. Kalau kata iklan sabun cuci “nggak kotor, nggak belajar!” demikian juga kalau seorang anak sedikit-sedikit tidak boleh ini tidak boleh itu, maka ketika ia tumbuh besar bisa jadi ia menjadi penakut, kurang kreatif, atau kurang pergaulan. Saya suka dengan karakter Bibi Polly yang di satu sisi sangat tegas dan ketat terhadap Tom, tapi sebenarnya ia sangat menyayangi anak lelaki tersebut.

1360676368606

bookmarknya lucu!

Ada beberapa versi terjemahan The Adventures of Tom Sawyer yang diterbitkan beberapa penerbit yang berbeda di Indonesia, namun pilihan saya jatuh kepada versi Penerbit Atria semata-mata karena (jujur saja) covernya yang lebih menarik dari 2 versi Tom Sawyer terbitan penerbit lain. Cover versi Atria lebih berwarna dan menarik di mata anak-anak, dan ilustrasi Tom di cover dan bookmark betul-betul punya ekspresi “bandel”. Terjemahannya tidak mengecewakan, hanya saja ada kesalahan di halaman 118, “Tom dan Sid” seharusnya “Tom dan Huck”. Sayangnya, Atria tidak menerbitkan terjemahan The Adventures of Huckleberry Finn yang boleh dibilang adalah sekuel dari Tom Sawyer (walaupun masing-masing buku bisa dibaca secara independen). Mark Twain sukses besar dalam menggali pikiran seorang bocah lelaki dan menuangkannya di atas kertas. Saya suka banget gaya penulisannya yang witty. Secara keseluruhan, buku ini sangat menghibur baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Karena ada sedikit konten kekerasan di dalamnya, dan belum lagi berbagai macam kebandelan Tom, maka menurut saya buku ini cocok dibaca anak-anak berusia 11 tahun ke atas.

Detail buku:

The Adventures of Tom Sawyer, oleh Mark Twain
386 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1876)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

 


Review in English:

Tom Sawyer. What a naughty little boy. Just see how he tricked his friend Ben Rogers who was passing by when Tom was painting the fence. It was a punishment from Aunt Polly that Tom must do, but with a clever trick Tom got Ben to do his work while he ate Ben’s apple. And just see how Tom managed to get a Bible without having to memorize its verses, like other children did. And just see how belief in superstition made Tom and his friend Huckleberry Finn came to a graveyard in midnight just in time to be witnesses of a grave robbery, and a murder. That’s not all, the grave robbers turned out to keep a hidden treasure somewhere, and despite being afraid of Joe Indian who committed the murder, they made up a plan to search for the treasure. There was also the story about Tom and his friends’ adventure as “pirates” and the story about Tom’s crush, the cute and irresistible Becky Thatcher.

Moral of the story? A naughty boy doesn’t necessarily mean that he’s evil. Kids will be kids, sometimes they have too much energy, too much imagination, too much curiosity, too much nerve, and they need attention. Reading this made me miss childhood very much, and I can find myself in Tom: I was once had too much energy, imagination, and curiosity, and even though I didn’t have Tom’s nerve, I was once an ultimate attention-seeker. Honest. Hahaha. Overall, The Adventures of Tom Sawyer is a really entertaining read to both children and adults. Btw, I love the cover of the Indonesian version I read. You can see Tom’s naughty face on it. Do you agree?


21st review for The Classics Club Project | 3rd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013  | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for 2013 TBR Pile Challenge | 1st review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Back to the Classics 2013

Therese Raquin – Émile Zola

therese raquin[Review in Bahasa Indonesia and English]

Sebuah novel klasik yang diberi judul nama seorang perempuan – misalnya Jane Eyre, Anne of Green Gables, atau Emma, biasanya mengisahkan perjuangan atau perkembangan karakter yang dialami si tokoh utama dalam hidupnya. Tapi buku ini tidak menceritakan tentang perjuangan ataupun perkembangan karakter seperti yang diceritakan dalam tiga buku diatas.

Therese Raquin yang dilahirkan dari ayah Perancis dan ibu Algeria, sejak masih kecil ditinggalkan oleh ayahnya ke dalam pengasuhan Madame Raquin. Jadilah Therese tumbuh besar bersama sepupu laki-lakinya yang ringkih dan sakit-sakitan, Camille. Karena kondisi fisik yang lemah itulah, Madame Raquin sangat memanjakan anak lelakinya sehingga Camille tumbuh menjadi seorang pemuda yang manja dan egosentris. Saat mereka dewasa, Madame Raquin menikahkan mereka berdua. Demi penghidupan yang lebih baik, keluarga Raquin pindah dari Vernon ke Paris, tepatnya di Selasar du Pont-Neuf yang lembap, gelap, dan kumuh. Kondisi ini sebenarnya membuat sesak Therese, ditambah lagi dengan mempunyai seorang suami yang pucat dan lembek. Namun Therese telah terbiasa bersikap dingin, acuh tak acuh, dan menunjukkan kepatuhan yang pasif.

Keadaan berubah setelah Camille mengundang teman kerjanya, Laurent, ke rumahnya. Bersama-sama dengan Grivet dan Michaud, mereka menghabiskan setiap Kamis malam di rumah keluarga Raquin, makan malam dan main domino. Therese memandang Laurent dengan ketertarikan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya; jika dibandingkan dengan suaminya, Laurent tampak gagah perkasa, dengan otot-otot kekar dan leher tebal. Singkat kata, Laurent kemudian menyambar kesempatan saat ia ditinggal berduaan saja dengan Therese dan perselingkuhan mereka yang kotor dan keji pun dimulai. Hubungan mereka berdua didasarkan oleh nafsu yang membabi buta— dan Therese merasa seakan ia dibangunkan dari tidur panjang setelah berhubungan dengan Laurent, sementara Laurent sendiri mendapat pelampiasan nafsunya secara gratis, karena ia tidak mampu lagi membayar pelacur untuk memuaskannya. Mengapa keji? Karena perselingkuhan itu kemudian mendorong mereka untuk membunuh Camille. Dan setelah pembunuhan itu dilakukan, apakah mereka bisa hidup bersama dengan bahagia? Ataukah justru hantu Camille bangkit dari kubur, dan menempatkan dirinya setiap malam di atas ranjang di antara Therese dan Laurent?

***

Therese Raquin bukanlah sebuah kisah yang gampang dinikmati. Tidak ada satupun dari para karakter yang mendapat simpati dari saya, boleh dikata saya benci dan jijik terhadap mereka semua. Namun, saya tak dapat menyangkal bahwa buku ini ditulis dengan luar biasa bagus. Dalam pendahuluan penulis menjelaskan, bahwa novel ini dituliskan untuk mempelajari watak dan bukannya tokoh. Di mana Laurent adalah seorang sanguinis, Therese seorang melankolis dan Camille seorang phlegmatis. Setelah membacanya saya pun paham bahwa Therese Raquin bukan sekedar novel yang mengumbar adegan tak senonoh, tapi merupakan hasil penelitian sang penulis terhadap sifat-sifat terburuk manusia, sifat-sifat yang (maaf) menyerupai binatang. Kedengaran mengerikan? Ya, memang. Namun suatu saat saya ingin membaca buku ini lagi, siapa tahu saya mendapatkan pemahaman dari segi yang lain yang tidak saya dapatkan ketika selesai membacanya untuk pertama kali. Dan sebenci-bencinya saya dengan para karakter dalam novel ini, saya merasa penulis seakan berkata kepada saya, “ya seperti ini lho manusia.” Dan kemudian perasaan benci dan jijik saya agak dilunturkan oleh rasa iba.

Segala detail yang ada dituliskan supaya pembaca bukan hanya membayangkan, namun benar-benar hidup di Selasar du Pont-Neuf yang gelap dan lembap itu, menyaksikan perselingkuhan menjijikkan Therese dan Laurent, dan bagaimana pembunuhan yang mereka lakukan menghancurkan segala yang mereka miliki sampai tak tersisa. Buku ini bagi saya memberi salah satu bukti bahwa “upah dosa adalah maut”; pembaca dibawa menyaksikan bagaimana dosa yang setitik berakibat dosa yang lebih besar dan pada akhirnya melemparkan mereka pada kehancuran. Tiga bintang untuk drama keji yang ditulis Émile Zola dengan brilian.

Detail buku:

Therese Raquin, oleh Émile Zola
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Julanda Tantani
336 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1867)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Review in English:

Therese Raquin—a novel intended by its author to be an observation of temperaments, not characters—is a novel I loathe for its characters and story, and at the same time I love for the author’s brilliant writing. It tells us about a young woman, Therese Raquin, who was raised by her aunt and then by the time she was an adult, her aunt made her married her sickly cousin Camille. The life of the Raquins was once quite normal and peaceful, before Laurent, Camille’s friend from work, came into the picture. Being a farmer’s son, Laurent was muscular and had a thick neck, which Therese couldn’t stop looking at. Shortly, Therese and Laurent engaged in a brutal, filthy, and sickening affair that soon encouraged them to murder Camille so they can be “together”. What happened after the murder was not a bit close to what they wanted. The murder lived on between them, and the dead body of the drowned Camille appeared to them and took his place on the bed between Laurent and Therese. So what’s so special about Emile Zola’s writing? It was so detailed that I felt like I really lived between the Raquins in the Passage du Pont-Neuf and witnessed Therese and Laurent’s dirty deeds. But no matter how bad I hated the characters in this novel, I felt as if the author spoke to me, “this is what human is like.” Then my hate and disgust for the characters was slightly faded by pity. I think that this novel is also proof of “Death is the penalty of sin”. I saw how sin dragged the characters into even bigger sin, and finally to destruction. For this cruel drama that actually has a deep meaning, I gave three stars.


 

20th review for The Classics Club Project | 2nd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 1st review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for Back to the Classics 2013


 A Note to My Secret Santa:

Buku ini mungkin bukan buku favoritku, tapi aku senang kamu ngasih buku ini karena akhirnya aku bisa “kenalan” dengan Émile Zola, sesuatu yang pengen kulakukan sejak lama. Dan tentu saja buku ini melengkapi koleksi novel klasik Gramedia berstempel mawar merah punyaku! So, thanks to you. #ketjup. Terima kasih juga untuk buku satunya, Letter to My Daughter nya Maya Angelou yang sudah kubaca tapi belum kutulis reviewnya. Menyusul ya! Dan, menebak siapa sebenarnya kamu membuat aku bingung. Yang pertama, resi yang berasal dari Tangerang sepertinya nggak ngasih clue yang membantu. Lalu di dalam riddlemu (riddle dari Santa sudah kuposting di sini) ada beberapa karakter fiksi: Hannibal Lecter (as in, “Hannibal Rising”, tapi beneran deh aku nggak tahu apa artinya itu) lalu Baudelaire bersaudara, Lester McKinley, Harry Potter, Sirius Black, dan Peter Pan. Dari sederetan nama ini aku mengambil nama yang paling asing buatku untuk “diselidiki”, yaitu Lester McKinley. Dan hasil penyelidikanku menyatakan bahwa seorang BBI-er yang suka sama Lester McKinley adalah Santaku, dan dia adalah….

Asriani “Ally” Purnama

Bener nggak sih? Kalo bener, berarti kamu Santaku untuk 2 tahun berturut-turut dong? *koprol sambil bilang WOW* Eniwei, event Secret Santa 2012 seru banget deh, makasih buat duet koordinator Ndari dan Oky. Thumbs up!

A Christmas Carol – Charles Dickens, and The Classics Club’s December meme

Christmas Books by Charles Dickens

[Review in Bahasa Indonesia and English (plus the answer to The Classics Club’s December meme question!)]

A Christmas Carol mungkin adalah cerita Natal yang paling diingat sepanjang masa, kecuali kisah tentang kelahiran Juruselamat itu sendiri. Ebenezer Scrooge adalah seorang pria tua yang hidup di London di era Victoria. Satu fakta mencengangkan mengenai Mr. Scrooge selain bahwa ia luar biasa kikir, adalah bahwa ia membenci Natal. Berikut adalah petikan percakapan Scrooge dengan sang keponakan Fred:

“A merry Christmas, uncle! God save you!” cried a cheerful voice. It was the voice of Scrooge’s nephew, who came upon him so quickly as this was the first intimation he had of his approach.

“Bah!” said Scrooge. “Humbug!”

“Christmas a humbug, uncle!” said Scrooge’s nephew. “You don’t mean that, I am sure?”

“I do,” said Scrooge. “Merry Christmas! What right have you to be merry? What reason have you to be merry? You’re poor enough.”

“Come then,” returned the nephew gaily. “What right have you to be dismal? What reason have you to be morose? You’re rich enough.”

Malam itu, di Malam Natal, hantu Marley menampakkan diri kepada Scrooge. Marley adalah partner kerja Scrooge yang telah meninggal dunia. Hantu Marley memperingatkan bahwa Scrooge akan didatangi oleh tiga sosok hantu; Hantu Natal Masa Lalu (Ghost of Christmas Past), Hantu Natal Masa Kini (Ghost of Christmas Present), dan Hantu Natal Masa Depan (Ghost of Christmas Yet to Come). Setiap hantu akan membawa Scrooge dalam perjalanan menembus waktu dan tempat, di mana ia akan memperoleh pelajaran untuk mengubah dirinya, bagaimana ia bersikap terhadap orang lain, dan bagaimana ia menggunakan uang yang dimilikinya untuk membantu mereka yang miskin. Cerita yang pendek, mudah ditebak (kurang lebih karena kita sudah mendengarnya disampaikan dalam berbagai versi yang lebih mudah dicerna) dan ditulis dalam gaya cerita khas Dickens yang kadang memusingkan (saya membacanya dalam bahasa Inggris), namun A Christmas Carol tetaplah sebuah cerita yang tidak bisa didepak dari memori saya.

“I will honour Christmas in my heart, and try to keep it all the year. I will live in the Past, the Present, and the Future. The Spirits of all Three shall strive within me. I will not shut out the lessons that they teach.”

Sekedar info, perkenalan pertama saya dengan A Christmas Carol adalah melalui sebuah buku anak-anak dengan tokoh-tokoh Disney yaitu Miki Tikus dan kawan-kawan. Gober Bebek sebagai Ebenezer Scrooge, Miki sebagai Bob Crachit, Donal tentu saja jadi Fred sang keponakan, dan Hantu Marley adalah Gufi #brbngakakdulu XD Sayangnya saya tidak bisa menemukan buku yang berjudul asli Disney’s Mickey’s Christmas Carol ini di rak buku keluarga. Sepertinya sih sudah diwariskan ke salah satu keponakan saya.

christmas_carol movie

Versi adaptasi A Christmas Carol yang paling terkenal adalah film animasi yang dirilis tahun 2009 besutan Robert Zemeckis. Tidak kurang dari tiga nama beken ada dalam daftar pengisi suara. Yang pertama tidak lain adalah Jim Carrey sang aktor serba bisa, yang dalam film ini mengisi suara Scrooge (termasuk Scrooge kecil, Scrooge muda dan Scrooge tua) dan ketiga hantu (walaupun hantu ketiga rasanya nggak ngomong apa-apa). Kemudian Gary Oldman yang menyuarakan karakter karyawan Scrooge yang miskin tapi punya keluarga besar, Bob Crachit. Tidak hanya itu, pemeran Sirius Black di seri Harry Potter ini juga mengisi suara Marley dan Tiny Tim. Yang terakhir adalah Colin Firth yang mengisi suara keponakan Scrooge, Fred. Menurut saya film ini adalah adaptasi yang bagus, apalagi dialog-dialognya banyak yang sama persis dengan di buku. Entah kenapa rating film ini di IMDb hanya 6.8…?

Saya sebenarnya membaca A Christmas Carol sebagai bagian dari The Christmas Books yang memuat tiga cerita pendek bertema Natal karya Charles Dickens. Dua cerita lainnya berjudul The Chimes dan The Cricket on the Hearth. Namun saya masih malas baca dua cerita yang lain, jadi setor review untuk A Christmas Carol saja dulu yah. Empat bintang buat kisah pertobatan Scrooge! 🙂


Review in English + The Classics Club’s December meme:

A Christmas Carol is, no doubt, the most remembered story about Christmas other than the nativity story itself. Set in Victorian England, the story tells us about the old miser Ebenezer Scrooge, a stingy man who hated Christmas. Then at Christmas Eve, his late work partner Marley came to him in a shape of a ghost to warn him of the coming of three ghosts of Christmas: Ghost of Christmas Past, Ghost of Christmas Present, and Ghost of Christmas Yet to Come. They would take Scrooge in a journey beyond time and space, a journey to self redemption.

I love the animated adaptation of A Christmas Carol (2009) directed by Robert Zemeckis, with Jim Carrey as Scrooge. I think that this adaptation is good because the dialogues hadn’t been changed much from the book. However, I don’t know why the rating for this movie on IMDb is only 6.8.

My first acquaintance with A Christmas Carol was with a children book called Disney’s Mickey’s Christmas Carol, in which Scrooge McDuck was Ebenezer Scrooge (of course), Mickey Mouse was Bob Crachit, and Goofy was the ghost of Marley (sorry, I have to laugh at this. Hahahaha.) The book was given to me as a child. Unfortunately, I can’t find the book on the family’s bookshelves now, probably it has been given to one of my nephews and nieces. And this, to answer The Classics Club’s December meme question, was my favorite memory about A Christmas Carol.

christmascarol1

A scene from Disney’s Mickey’s Christmas Carol

Now, after reading the original story, though it was written in sometimes confusing Victorian style, made my love for it even bigger. Four stars for a Christmas story that will always remain in my memory.

Book details:

A Christmas Carol, by Charles Dickens, first published 1843
Read as a part of The Christmas Books, 234 pages, published 2007 by Penguin Popular Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

18th review for The Classics Club Project


This post is also a late entry for the event Dickens in December. (Button below)

dickens-button-01-resized

A Tree Grows in Brooklyn – Betty Smith

a tree grows in brooklyn

[Review in Bahasa Indonesia and English]

DESKRIPSI KEHIDUPAN MISKIN. Itu yang ada di benak saya ketika selesai membaca separuh buku tebal ini. Seperti yang disampaikan di Kata Pengantar yang ditulis oleh Anna Quindlen, A Tree Grows in Brooklyn memang bukanlah buku yang mentereng. Dalam arti, jika disandingkan dengan buku-buku klasik lain, buku ini lebih mirip potret kaum imigran di Amerika pada awal abad 20. Plot Tree pun tidak dapat disimpulkan dalam satu kalimat, karena banyaknya detail yang disampaikan; detail-detail yang berlangsung pelan, pasti, dan penuh liku, sama seperti kehidupan itu sendiri.

Tree dibuka dalam adegan di musim panas di New York tahun 1912 yang mana dua orang kakak-beradik, Francie dan Neeley Nolan, melakukan kegiatan yang bisa kita sebut “berbelanja”. Bedanya, kegiatan berbelanja mereka didahului dengan instruksi mendetail dari ibu mereka, Katie, dan dengan budget yang amat terbatas. Dari sana pembaca akan dibawa mengenal para tokoh: Mary Rommely, ibu ketiga gadis Rommely; Sissy, Evy, dan Katie; Katie Rommely (yang kemudian menjadi Katie Nolan) ibu Francie dan Neeley, sosok wanita tegar dan pekerja keras; Johnny Nolan suami Katie yang tampan dan jago bernyanyi namun tukang mabuk, dan juga lebih dalam mengenai Francie dan Neeley. Dikisahkan bagaimana Katie, dengan arahan Mary Rommely, mewajibkan anak-anaknya untuk membaca satu halaman Alkitab dan satu halaman Shakespeare setiap malam. Dikisahkan bagaimana kerja keras Katie untuk membiayai pendidikan bagi anak-anaknya, walau dengan kondisi terhimpit kemiskinan. Dan bagaimana mereka menabung dalam celengan kaleng yang dipaku di bagian dalam laci. Francie yang suka mengamati lingkungan sekitar, suka membaca (ia bertekad membaca satu buku sehari dan rajin mengunjungi perpustakaan) dan kemudian menulis, dan seperti remaja lainnya, bergumul untuk bisa diterima dalam pergaulan.

“Kuncinya ada dalam menulis dan membaca. Kau bisa membaca. Setiap hari, kau harus membacakan satu halaman dari buku yang bagus untuk anakmu. Setiap hari, sampai anak itu belajar membaca. Lalu dia harus membaca setiap hari, aku tahu itu rahasianya.”

Buku ini mengumpulkan detail-detail kehidupan sehari-hari yang nyata dan alami, hal-hal yang sebenarnya “biasa” dikisahkan dengan cantik oleh Betty Smith. Untungnya juga gaya penceritaan yang mengalir dengan enak sangat membantu saya menikmati buku setebal 664 halaman ini walau kadang plotnya terasa lambat, namun tidak membosankan. Pendapat saya tentang penulis wanita Amerika pun berubah setelah membaca novel biografis seorang Betty Smith. (Saya agak kurang sreg dengan karya-karya L.M. Montgomery dan Louisa May Alcott, yang menurut saya too sweet for my taste).

Penerbit Gramedia juga membungkus buku ini dengan cover yang cantik, namun menurut saya kurang pas menggambarkan isi buku (nggak ada kesan “miskin” sama sekali). Buku ini adalah bukti nyata bahwa hal-hal yang sederhanapun bisa jadi indah dan bermakna. Dan sayapun bisa mencoret kata “miskin” dalam kalimat pertama review ini, menjadi DESKRIPSI KEHIDUPAN. Karena dua kata inilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang berusaha disampaikan oleh A Tree Grows in Brooklyn.

“Segala sesuatu berjuang untuk hidup. Lihat pohon di luar yang tumbuh dekat selokan itu. Pohon itu tidak mendapat sinar matahari, dan hanya kena air kalau hujan. Pohon itu tumbuh dari tanah kering. Dan pohon itu kuat karena perjuangan kerasnya untuk hidup membuatnya kuat. Anak-anakku akan kuat seperti itu.”

Detail buku:

Sebatang Pohon Tumbun di Brooklyn (judul asli: A Tree Grows in Brooklyn), oleh Betty Smith
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rosemary Kesauly
664 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1943)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

N.B.: Terima kasih untuk yang namanya tidak boleh disebut, sudah menghadiahkan buku ini. Maaf kalo lama baru direview. 😀


Review in English:

A Description of Poor Living. That’s what I had in mind when I got to the middle of the book. The main focus of the book set on the beginning of 20th century in America was about how a family struggles from poverty. And how a determined mother, Katie Nolan, strived to get education for her two children; Francie and Neeley. The book is thick, full of stories of everyday life, and the plot is slow sometimes, but Betty Smith’s writing style made it flowing beautifully. It is not a kind of book that comes with a “BOOM” or a “BANG” but from its simplicity, from its lessons, I can say that this is a great book, a kind of book that you can (and should) read over and over again in your life. And finally I can cross out the word “poor” from the first sentence of this review, which leaves “A Description of Living.” Because that is what A Tree Grows in Brooklyn is all about.

17th review for The Classics Club Project

Gulliver’s Travels to Lilliput and Brobdingnag – Jonathan Swift

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Ketika mendengar “Gulliver’s Travels, yang terbayang di benak orang pastilah sesosok pria yang terjebak di Negeri Lilliput. Namun sesungguhnya, buku Gulliver’s Travels sendiri terdiri dari empat kisah perjalanan, sebagai berikut:

  • A Voyage to Lilliput
  • A Voyage to Brobdingnag
  • A Voyage to Laputa, Balnibarbi, Luggnagg, Glubbdubdrib, and Japan
  • A Voyage to the Country of the Houyhnhnms

Dua diantaranya yaitu Perjalanan ke Negeri Lilliput (negeri orang berukuran mini) dan Negeri Brobdingnag (negeri raksasa) dihimpun dalam buku yang saya baca ini. Pada awal buku, dijelaskan mengenai latar belakang Lemuel Gulliver, pekerjaan dan bidang yang ia tekuni, serta bagaimana ia memulai perjalanannya. Dikisahkan bahwa Gulliver adalah seorang pria yang gemar melakukan perjalanan. Sisanya, adalah berbagai hal yang dialami Gulliver selama berada di Negeri Lilliput dan Negeri Brobdingnag, yang mana plotnya tidak akan banyak saya bocorkan disini, lebih seru membacanya sendiri! 🙂

Jonathan Swift menulis Gulliver’s Travels dengan mendetail dan terasa realistis. Dari POV Gulliver, kita seperti membaca buku harian sang tokoh, lengkap dengan tanggal-tanggal kejadian dan urutan peristiwa yang dialaminya. Swift juga menciptakan bahasa yang digunakan penduduk Lilliput maupun Brobdignag.  Di negeri Lilliput, Gulliver dipanggil dengan sebutan Quinbus Flestrin yang berarti “Manusia Gunung Besar”. Walau pada awal kemunculannya Gulliver ditakuti rakyat Lilliput dan dianggap sebagai monster, lambat laun ia menjalin hubungan baik dengan Raja Lilliput dan beroleh kepercayaan dari Yang Mulia. Dengan sederetan syarat, termasuk bersedia membantu melawan musuh Lilliput yaitu Pulau Blefuscu, Gulliver dapat hidup di tengah-tengah rakyat Lilliput dan mendapatkan daging dan minuman sebanyak jatah 1.728 orang-orang Lilliput setiap harinya. Satu hal yang kocak adalah konflik berdarah selama bertahun-tahun antara Lilliput dan Blefuscu, yang ternyata didasari oleh persoalan remeh: masalah memecahkan telur! Dua kubu yang beroposisi adalah kubu yang memecahkan telur dari ujung yang lebih lebar (dikenal dengan kelompok Ujung-Lebar) dan kubu yang memecahkan telur dari ujung yang lebih lancip (dikenal dengan kelompok Ujung-Lancip). Menggelikan, bukan?

Pengalaman yang jauh berbeda dialami Gulliver ketika terdampar di Negeri Brobdingnag. Kali ini, Gulliver adalah manusia yang tak lebih besar daripada serangga diantara para raksasa yang menghuni Brobdingnag. Dengan ukuran sekecil itu, nyawa Gulliver terancam. Namun di tangan seorang gadis kecil anak petani yang merawat dan menjaganya dengan penuh kasih sayang, Gulliver dapat merasa aman. Gadis kecil yang dipanggil Glumdalclitch alias “perawat kecil” itu memberi nama Grildrig (yang artinya manekin) kepada Gulliver. Gulliver merasakan hari-hari yang melelahkan saat dipamerkan di kota, sampai suatu hari utusan dari istana datang dan membawa Gulliver beserta perawat kecilnya ke istana. Karena Gulliver terlalu kecil untuk memakai barang-barang yang ada di Brobdingnag, sebuah kotak kecil diciptakan sebagai “rumah” sekaligus alat untuk membawanya kemana-mana. Selama di Brobdingnag, Gulliver mengalami banyak hal termasuk kejatuhan embun yang berukuran hampir seribu delapan ratus kali ukuran embun Eropa, yang menyebabkan tubuhnya memar dan harus tinggal di tempat tidur selama sepuluh hari. Selama di Lilliput maupun Brobdingnag, Gulliver mempelajari bahasa, kebiasaan masyarakat setempat, sejarah, seni, dan juga sistem pendidikan yang berlaku di negara mereka. Apakah Gulliver bisa pulang kepada istri dan anak-anaknya setelah mengalami petualangan-petualangan tak terbayangkan di Lilliput dan Brobdingnag? Jawabannya adalah ya! Ia kemudian bepergian ke tempat-tempat aneh lain, yang sayangnya tidak ikut diterjemahkan dalam buku ini. Di balik empat perjalanan Gulliver, tersimpan satir tajam untuk pemerintahan Inggris dan Eropa pada masa itu. Terjemahan yang digarap Zuniriang Hendrato dalam buku ini tidak buruk, namun sayangnya editing dan proofreadingnya masih “longgar” dalam banyak bagian. Karena cerita Gulliver’s Travels sangat menarik dan mudah dibaca, maka empat bintang untuk buku ini.

“…aku dapat melihat bahwa mustahil seseorang dipertimbangkan secara serius bila ukuran tubuh mereka sangat berbeda. Aku sering memperhatikan hal ini juga terjadi di Inggris setelah kepulanganku. Bila seseorang berusaha untuk membuat dirinya sendiri penting, namun ia hanya berasal dari keluarga biasa dengan sedikit uang dan pendidikan, maka ia hanya akan dilihat sebagai orang tolol. Ia juga akan menjadi bahan tertawaan.”

Tentang Pengarang:

Jonathan Swift lahir di Dublin, Irlandia pada tanggal 30 November 1667. Setelah mengecap berbagai karir; sebagai sekretaris seorang politisi, menjadi pastor, kemudian editor jurnal politik, pada tahun 1714 ia diangkat menjadi Kepala Katedral St. Patrick di Dublin. Karyanya yang paling terkenal, Gulliver’s Travels yang terbagi menjadi empat bagian kisah perjalanan Lemuel Gulliver, pertama kali diterbitkan pada tahun 1726. Swift dikenal sebagai penentang kekerasan dalam segala bentuk. Fiksi dan satir digunakannya untuk menarik perhatian terhadap masalah politik pada masanya. Ia meninggal dunia pada tahun 1745.

Detail buku:

Gulliver’s Travels: Perjalanan Gulliver ke Negeri Liliput dan Negeri Brobdingnag (judul asli: Gulliver’s Travels: A Voyage to Lilliput and A Voyage to Brobdingnag), oleh Jonathan Swift
127 halaman, diterbitkan tahun 2007 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1726)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Review in English:

Gulliver’s Travels is so far the most interesting classic adventure I have ever read. Not just because of the idea of journeys to strange and desolate places, but because of Jonathan Swift’s writing style that is realistic and rich with details. Gulliver’s Travels, the most famous work by Jonathan Swift, is divided into four parts: A Voyage to Lilliput; A Voyage to Brobdingnag; A Voyage to Laputa, Balnibarbi, Luggnagg, Glubbdubdrib, and Japan; and A Voyage to the Country of the Houyhnhnms. But unfortunately, the edition I read only covered two parts: A Voyage to Lilliput and A Voyage to Brobdingnag. I would love to read the other two parts too! (And I don’t let myself to read the synopsis of the other two parts, because that, I think, would spoil the fun! :p)  About Jonathan Swift (1667-1745) : he was an Irish author, clergyman and satirist. He used fiction and satire to attract people into the political situations in his era.

Note: Okay this review is very brief, but I seriously think that Gulliver’s Travels is the type of book that you should read with knowing almost nothing about it at first. Because I really enjoyed this book, therefore, four stars.

14th review for The Classics Club Project

Nineteen-Eighty Four – George Orwell

[Review in Bahasa Indonesia and English]

“Kalau kamu ingin potret tentang masa depan itu, bayangkanlah sepatu bot yang menginjak wajah manusia—selama-lamanya.”

Selamat datang di Oceania. Tempat dimana Bung Besar berkuasa. Tempat dimana PERANG IALAH DAMAI, KEBEBASAN ADALAH PERBUDAKAN, dan KEBODOHAN IALAH KEKUATAN. Tempat dimana segala gerak-gerikmu diawasi oleh teleskrin. Tempat dimana perbendaharaan kata dalam bahasa diciutkan begitu rupa sehingga setiap kata yang melawan ortodoksi (kepatuhan penuh kepada Bung Besar) dipangkas habis.

Di Oceania inilah, tepatnya di London, Winston Smith hidup. Sebagai pegawai tekun dan andal yang bekerja di Kementerian Catatan dan sebagai anggota Partai Luar, Winston menghabiskan setiap hari dalam hidupnya menulis ulang artikel di koran The Times sehingga selalu seturut dengan agenda Partai. Hidup di Oceania yang terus menerus berperang, dalam pengawasan pemerintah yang maha hadir alias omnipresent, dan pengekangan individualisme dan kebebasan berpikir di bawah prinsip Sosing atau Ingsoc (English Socialism), suatu waktu Winston tidak kuasa menahan pemikiran mengenai suatu dunia sebelum Bung Besar berkuasa. Suatu dunia yang lain dengan dunia yang sekarang ini dikenalnya.

Winston menaruh harapan kepada O’Brien, salah satu anggota Partai Inti yang dicurigai Winston mempunyai pemikiran tak-ortodoks, dan adalah pengikut Emmanuel Goldstein yang menolak tirani Bung Besar, yang adalah pimpinan gerakan pemberontakan yang disebut Persaudaraan yang tidak jelas keberadaannya. O’Brien pernah berkata pada Winston, “Kita akan bertemu di tempat yang tidak ada kegelapan.” Seandainya saja Winston menemukan cara untuk berbicara kepada O’Brien mengenai mimpi yang dipendamnya! Namun dengan adanya teleskrin dan Polisi Pikiran yang mengawasi setiap tindakan, bahasa tubuh, dan kata-kata yang keluar dari mulut setiap orang, Winston mati kutu. Sedikit saja teleskrin mencium gelagat tak-ortodoks dari perilaku seseorang, itu bisa berarti orang tersebut akan diuapkan, yang berarti dihapus dari sejarah dan dianggap tidak pernah ada.

Pada suatu waktu, Winston dan rekan wanitanya Julia berkesempatan menghadap O’Brien tanpa diawasi teleskrin. Apakah O’Brien hendak mengundang mereka bergabung dalam Persaudaraan? Apakah Winston akan berperan dalam rencana penggulingan Bung Besar? Akankah Oceania pada akhirnya bebas?

“Kamu sadari bahwa masa silam, mulai dari kemarin, sudah sungguh-sungguh dihapus? […] Kita sudah tidak tahu apa-apa sama sekali tentang Revolusi dan tahun-tahun sebelum Revolusi. Semua catatan sudah dimusnahkan atau dipalsukan, setiap buku sudah ditulis ulang, setiap gambar telah dilukis atau dicat ulang, setiap patung dan jalan dan bangunan diberi nama baru, setiap hari dan tanggal kejadian sudah diubah. Dan proses itu terus berlangsung hari demi hari dan menit demi menit. Sejarah sudah berhenti. Tidak ada apa-apa lagi, kecuali suatu masa kini tanpa akhir yang di dalamnya Partai selalu benar.”

 

Tentang bahasa Newspeak:

Tidakkah kamu lihat bahwa seluruh tujuan Newspeak ialah menyempitkan lingkup pemikiran? Pada akhirnya nanti kita akan membuat kejahatan pikiran sungguh-sungguh tidak mungkin, karena tidak akan ada kata untuk mengungkapkannya. Setiap konsep yang diperlukan akan diungkapkan dengan satu kata saja, yang maknanya didefinisikan secara ketat dan kaku dan segala pengertian embel-embelnya dihapus dan dilupakan. […] Setiap tahun jumlah kata menyusut dan makin menyusut, dan lingkup kesadaran selalu dipersempit. Bahkan sekarang pun, tentunya, tidak ada dalih untuk melakukan kejahatan pikiran. Ini cuma soal disiplin diri, pengendalian realitas. Tapi pada akhirnya itu semua tidak perlu lagi. Revolusi akan rampung ketika bahasanya sempurna. Newspeak adalah Sosing dan Sosing adalah Newspeak.” […] “Menjelang 2050—lebih awal lagi mungkin—segala pengetahuan yang ada tentang Oldspeak sudah akan lenyap. Seluruh pustaka masa lalu sudah akan dihancurkan. Chaucer, Shakespeare, Milton, Byron—semuanya hanya akan ada dalam versi Newspeak-nya, tidak hanya berubah menjadi sesuatu yang lain tetapi sungguh-sungguh dijadikan sesuatu yang bertentangan dengan versi sebelumnya.”

Novel bergenre literary political fiction dan dystopian science-fiction yang pertama kali terbit tahun 1949 ini ditulis oleh George Orwell sebagai ramalan akan masa depan, dan merupakan satir tajam terhadap totalitarianisme. Orwell mengungkapkan berbahayanya kediktatoran pemerintah, baik yang beraliran kiri maupun kanan, melalui gambaran yang tak terbayangkan dan mengerikan mengenai Oceania, Sosing, bahasa Newspeak, konsep pikir-ganda (doublethink) dan Bung Besar (Big Brother). Buku yang sempat dilarang beredar di beberapa negara atas kontroversinya ini termasuk dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die, yang menjadi tema posting bareng BBI bulan Agustus. Dan apakah saya setuju bahwa buku ini harus dibaca sebelum anda menemui ajal? Jawabnya: ya. Karena menurut saya karya fiksi ini ada, sebagai suatu langkah peringatan, kalau tidak bisa disebut pencegahan, agar situasi di dalamnya jangan sampai terjadi di dunia nyata.

#postingbareng BBI bulan Agustus 2012 tema 1001 Books You Must Read Before You Die

Baca juga: Lasting Impression on Nineteen-Eighty Four (Eng)
Classic Author of July 2012: George Orwell (Ind)
Ulasan karakter Big Brother (Ind)

Detail buku:
Nineteen-Eighty-Four (1984), oleh George Orwell
585 halaman, diterbitkan tahun 2003 oleh Bentang Pustaka (pertama kali diterbitkan tahun 1949)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥


Review in English:

Welcome to Oceania. A world where Big Brother rules over everything and dictates everything. A world where WAR IS PEACE, FREEDOM IS SLAVERY, IGNORANCE IS STRENGTH. A world where you’re being watched 24 hours a day, 7 days a week. A world where there is no place for individualism and freedom to think, to act, to speak. A world where humanity is dead. George Orwell wrote this literary political and dystopian science-fiction novel as a grim picture of the future. Through this sharp satire to totalitarianism, Orwell pointed out the danger of dictatorial government whether it is left or right ideology in a depressing, frightening, and unimaginable description of Oceania, Ingsoc, Newspeak language, the concept of doublethink, and Big Brother himself. The book that has been widely banned for its controversial ideas is in the 1001 Books You Must Read Before You Die list. And do I, as a reader, agree that Nineteen-Eighty Four should be read before I die? The answer is yes. Because I think George Orwell meant this work to be a word of caution, if not prevention, so that the situation in his novel won’t come into reality.

12th review for The Classics Club Project, 8th review for The Classic Bribe

Anna Karenina – Leo Tolstoy, Simplified Version

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Berangkat dari kehidupan pernikahan yang tidak bahagia, wanita bangsawan yang cantik dan cerdas Anna Karenina terpikat oleh pesona Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan. Mereka pun jatuh dalam perzinahan, sesuatu yang juga dilakukan Oblonsky, kakak laki-laki Anna, terhadap istrinya Dolly. Cerita bergulir dengan menguraikan perkembangan hubungan Anna dan Vronsky, bagaimana mereka memutuskan untuk hidup bersama meskipun Anna belum bercerai dari Karenin, suaminya. Juga pergumulan Anna yang rindu agar putranya, Seriozha, hidup bersamanya dan Vronsky. Dan salah satu hal yang terpenting adalah keteguhan hati Anna yang bertekad tetap memunculkan diri di tengah masyarakat walaupun secara sosial ia telah dikucilkan dan segala pembicaraan tentangnya selalui bernafaskan sentimen negatif. Sampai akhir cerita, Anna berjuang menghadapi segala situasi yang menghimpitnya—sampai pada suatu titik ia memutuskan bahwa ia tidak sanggup lagi.

Kisah tragis Anna dalam Anna Karenina yang dibingkai dalam setting Rusia abad ke-19 ini langsung disandingkan oleh penulis Leo Tolstoy dengan kisah Levin, sahabat Oblonsky, yang meskipun mengalami berbagai hambatan di awal hubungannya dengan perempuan yang dicintainya, Kitty, namun akhirnya mereka menikah dan menjalani kehidupan yang bahagia. Saya membaca versi simplified (disederhanakan) dari Anna Karenina ini karena ingin sekedar mengetahui jalan ceritanya, mumpung versi terbaru filmnya yang dibintangi Keira Knightley sedianya akan mulai tayang November nanti. Beberapa hal yang bisa saya pelajari dari versi sederhana Anna Karenina ini:

1. Pernikahan yang tidak didasari dengan cinta adalah sumber masalah. Pada zaman novel ini ditulis, memang pernikahan yang demikian lazim terjadi, sehingga Tolstoy mengangkat isu ini ke dalam suatu karya tulis yang menunjukkan apa akibatnya jika suatu pernikahan tidak didasari dengan cinta.

2. Deretan karakter dalam novel ini begitu manusiawi. Ambil saja contoh Anna. Pada satu sisi, keteguhan Anna patut diacungi jempol. Sebagai heroine (tokoh utama wanita) yang tidak biasa dalam sebuah novel, Anna memilih untuk berpegang pada prinsipnya sendiri dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, walaupun masyarakat dan keadaan di sekitarnya tidak merestui. Anna juga bukanlah orang yang bebal, saat ia tengah sekarat pun ia memohon pengampunan dari Karenin, suaminya. Dan Karenin, walaupun digambarkan sebagai seorang pria yang kaku dan dingin, memaafkan Anna begitu rupa sampai-sampai saya berandai-andai akan bagaimana jadinya kalau Anna dan Karenin saling mencintai.

3. Ketika memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan seseorang, cinta saja tidak cukup. Perlu ada pengabdian terhadap orang tersebut dan pengorbanan akan kepentingan-kepentingan pribadi. Dua hal ini adalah perwujudan yang lebih sempurna dari perasaan cinta. Sehingga ketika pasangan hidupmu tidak lagi rupawan ataupun menyenangkan, anda tetap akan berada di sisinya, tidak peduli apapun yang terjadi.

“Aku akan selalu mencintaimu, dan jika seseorang mencintai orang lain, ia akan mencintai keseluruhan dari orang itu apa adanya dan bukan hanya apa yang ia sukai dari orang itu.”

*

Tiga bintang untuk Anna Karenina yang meskipun dalam versi telah disederhanakan, tetap banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Apakah suatu saat nanti saya akan membaca Anna Karenina versi unabridged yang setebal bantal itu? Well, why not? 😉

Baca juga: ulasan karakter Anna Karenina

 

Detail buku:
Anna Karenina, oleh Leo Tolstoy
198 halaman, diterbitkan tahun 2005 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1877)
My rating: ♥ ♥ ♥


Review in English:

This is a short review of the simplified version of Anna Karenina. Why the simplified version, you might ask? Well, I found it at a book fair the other day and I was just curious with the storyline of Anna Karenina, I thought that at least I should have read the simplified version before the recent adaptation is out next November. So I bought it and read it within 2 days only (it’s only 198 pages thick). And what I got was the tragic story of Anna, an attractive young woman living in the high society of 19th century Russia. Sick and tired of her cold and boring husband Karenin, Anna seek solace in the arms of a handsome young officer named Count Vronsky. As their affair was going on, Anna still was troubled by her love for her son and Karenin’s, Seriozha. Anna wanted Seriozha to live with her and Vronsky, but Karenin, still wasn’t divorcing Anna, wouldn’t let Seriozha go. In the meantime, Anna was secluded from society as a form of punishment for her act of adultery with Vronsky. But being a rather unusual heroine, Anna was determined to keep her place in society, even though her presence was unwanted and disdained.

The oh-so-glamorous trailer of Anna Karenina (coming up December 2012)

Even though this was only a simplified version, there are a lot of moral values I can take from Anna Karenina. First, marriage without love is the source of trouble. Second, the characters of this novel were so human with their flaws. I was especially impressed in Anna’s determination to live her life in her own way, no matter how disgraced her life was, no matter what society said and think of her. The moment when Anna was dying and begging for forgiveness from Karenin drove me to tears and I wished that she loved her husband instead, so that any of the terrible things wouldn’t happen to her! But hey, there wouldn’t be the Anna Karenina we all know today if she did. Lastly, when you decided to spend your life with someone, love is not enough. You need to devote yourself to your partner and sacrifice your personal matters, so that one day if your partner is no longer pretty or nice, you will still be at his/her side and never leave no matter what happens. So, I gave three out of five stars for the simplified version of Anna Karenina. Will I read the unabridged version someday? Well, why not? I’m honestly tempted to do so.

11th review for The Classics Club Project, 7th review for The Classic Bribe

The Jungle Book – Rudyard Kipling, and a Wrap-Up for A Victorian Celebration!

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Ini review yang harusnya ditulis berbulan-bulan yang lalu, tapi better late than never kan ya? 😉

Awalnya sukar untuk menghilangkan kesan “Disney-ish” dalam benak saya terhadap buku ini, apalagi karena covernya memang mengadaptasi film kartun The Jungle Book versi Disney. Namun ketika saya mulai membacanya, saya pun larut dalam suatu Rimba ciptaan Rudyard Kipling yang begitu liar dan begitu nyata.

Buku yang memuat gabungan cerpen dan puisi ini dibuka dengan ditemukannya bayi manusia di hutan rimba, yang kita kenal dengan nama Mowgli. Dalam cerpen Mowgli dan Saudara Serigala, anak manusia yang dimangsa oleh Shere Khan si Harimau Pincang dibela mati-matian oleh Mama dan Papa Serigala, dan malah nantinya merekalah yang membesarkan Mowgli yang licin tak berbulu. Tumbuh besar di Bukit Batuan di tengah-tengah saudara-saudara serigala, Mowgli diajarkan bagaimana hidup di Rimba oleh Beruang Hitam Baloo dan Macan Kumbang Hitam Bagheera. Pada saatnya nanti (di cerpen Harimau Harimau), Mowgli harus berhadapan sendiri dengan Shere Khan, yang dari awal sudah menetapkan hati untuk menghabisi Mowgli. Di dalam cerita Mowgli juga bertemu dengan Kaa, si ular piton sepanjang tiga puluh kaki yang ditakuti kaum monyet, namun sebenarnya baik hati dan ikut andil menyelamatkan nyawa Mowgli.

“Kita ini satu darah, kau dan aku,” jawab Mowgli. “Aku berutang nyawa padamu, malam ini. Buruanku akan menjadi buruanmu jika kau lapar, wahai Kaa.”

Klimaks kisah Mowgli diceritakan dengan gemilang dalam adegan pertarungan menegangkan antara Mowgli dan Shere Khan. Di cerita yang lain, Mowgli dikisahkan kembali hidup di desa bersama dengan saudara-saudara manusianya, tetapi ia tidak merasa betah dan rindu kembali ke Rimba, rindu saudara-saudara serigalanya. Mowgli tidak mengerti sistem kasta yang berlaku di dunia manusia, sehingga ia gampang saja mengulurkan tangan untuk membantu seorang pembuat tembikar yang kastanya lebih rendah daripadanya.

Tidak semua bagian dari The Jungle Book berkisah tentang Mowgli. Dalam cerpen Anjing Laut Putih, Kipling menceritakan tentang Kotick, seekor bayi anjing laut berkulit putih, di tengah suasana migrasi para anjing laut. Saat Kotick sudah lebih dewasa, ia berkeinginan untuk mencari pulau yang baru untuk migrasi yang jauh dari manusia. Walau sempat menemui pertentangan anjing laut-anjing laut lain, dengan berusaha keras akhirnya ia mampu mewujudkan cita-citanya.

Beirkutnya cerpen “Rikki-Tikki-Tavi” yang menceritakan petualangan Rikki-tikki-tavi, seekor mongoose, yang berjuang melindungi tuannya, keluarga manusia yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki bernama Teddy, dari serangan ular kobra Nag dan Nagaina. Buku ditutup dengan cerpen Toomai Sang Penakluk Gajah. Toomai Mungil dikisahkan sangat beruntung karena bisa menyaksikan Tarian Para Gajah di jantung Bukit Garo, sesuatu yang tidak pernah disaksikan manusia manapun sebelumnya!

Dari semua puisi di buku ini, yang dibawah ini termasuk favorit saya (“Perburuan Kaa”)

Macan cintai tutulnya,
Banteng bangga pada tanduknya.
Waspadalah, bagaimana ia sembunyi
itulah kekuatannya.
Kau tahu sapi bisa menendangmu,
tanduk tebal Sambhur menerjangmu
Tak perlu kami kau beritahu,
kami tahu sedari sepuluh musim lalu.
Jangan sakiti anak si hewan liar,
anggaplah ia saudara
Walau kecil dan montok,
Beruanglah ibunda mereka
“Tak ada yang kalahkan kami!” ujar si kecil
bangga saat pertama berburu
Rimba begitu luas dan ia begitu mungil.
Ajari ia diam dan tak sok tahu.

Walaupun berkisah tentang binatang, ada banyak nilai moral yang bisa diambil pembaca dari fabel ini. Misalnya tentang persaudaraan serigala yang begitu erat dan kuat, juga Hukum Rimba yang diceritakan adil bagi semua pihak. Tiga bintang bagi Rimba ciptaan Rudyard Kipling. Juga karena terjemahan oleh Anggun Prameswari yang enak dibaca. Jujur saja sebenarnya saya kurang suka cover “Disney-ish” buku ini, tapi OK lah kalau memang menyasar ke segmen anak-anak.

Detail buku:
“The Jungle Book”, oleh Rudyard Kipling
246 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1894)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

 At first it was hard to get rid the “Disney-ish” aura from this book. But as I started reading, I found that the author is drowning me into a world, to be more specific a Jungle, where it all felt wild and strangely real. This book contains short stories and poems, which the first short story introduced us to Mowgli, a son of man that was raised by wolves in the Jungle. In order to defeat his enemy, the tiger Shere Khan, Mowgli was being taught how to to live in the jungle and to fight by Bagheera the black panther and Baloo the bear. There are other stories that don’t tell readers about Mowgli, like The White Seal, Rikki-Tikki-Tavi, and Toomai of the Elephants. This work of fable has a moral tone that we humans could learn from. Take the strong bond of brotherhood of the wolves, and how The Rule of the Jungle is fair to every living being in it. Overall, I gave three stars for Rudyard Kipling’s The Jungle Book.

10th review for The Classics Club Project, 4th review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classic Bribe


This post also marks my wrap-up for A Victorian Celebration.

From the 9 books I intended to read at the beginning of the event, I was only able to finish 5:

The Happy Prince by Oscar Wilde

Little Lord Fauntleroy by Frances Hodgson Burnett

Just So Stories by Rudyard Kipling

The Jungle Book by Rudyard Kipling

And one non-English Victorian novel, which is Anna Karenina by Leo Tolstoy. I haven’t got enough time to write its review, along with a review of Great Expectations BBC miniseries (2011) that I intend to write also. I’ll be writing them very soon!

I also wrote one author focus on Rudyard Kipling (in Bahasa) for A Victorian Celebration. I’m glad I joined this event, even though I haven’t had enough time to finish all the books in my reading list, and honestly I’m still having difficulties in understanding some Victorian idioms (like those in Charlotte Brontë’s Villette). But well, that won’t keep me from reading more of them Victorian works! So you see, A Victorian Celebration isn’t over for me yet! 😉

Just So Stories – Rudyard Kipling

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Adakah buku yang membuatmu ingin mengulang kembali masa kanak-kanak? Setelah membaca buku yang satu ini, saya jadi berangan-angan kembali menjadi anak kecil, mendengarkan cerita-cerita ini dibacakan oleh ayah atau ibu saya sebagai dongeng pengantar tidur.

Kenapa paus tidak memakan manusia? Tahukah kamu bagaimana unta mendapatkan punuknya? Atau dari mana macan mendapatkan tutulnya? Mengapa gajah punya belalai yang panjang? Mengapa kanguru melompat dengan kaki belakangnya? Dan tahukah kamu tentang asal muasal alfabet? Pembaca akan dibuat geleng-geleng oleh kejeniusan Rudyard Kipling dalam buku setebal 160 halaman ini. Setiap cerpen dalam buku ini diakhiri dengan puisi  yang jenaka.

Berikut ini adalah dua belas judul cerpen yang terkandung dalam Just So Stories:

  1. Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia (How the Whale Got His Throat)
  2. Bagaimana Unta Mendapat Punuknya (How the Camel Got His Hump)
  3. Kenapa Kulit Badak Penuh Lipatan (How the Rhinoceros Got His Skin)
  4. Dari Mana Macan Mendapat Tutulnya (How the Leopard Got His Spots)
  5. Kisah Si Anak Gajah (The Elephant’s Child)
  6. Tuntutan Seekor Kanguru (The Sing-song of Old Man Kangaroo)
  7. Asal-Muasal Armadilo (The Beginning of the Armadillos)
  8. Surat Bergambar (How the First Letter was Written)
  9. Bagaimana Alfabet Dirumuskan (How the Alphabet was Made)
  10. Kepiting dan Lautan Luas (The Crab that Played with the Sea)
  11. Kucing Penyendiri (The Cat that Walked by Himself)
  12. Entakan Kaki Kupu-Kupu (The Butterfly that Stamped)

Dua belas pourquoi stories (cerita yang mengisahkan asal-usul sesuatu) karya  Kipling dalam kumcer Just So Stories ini pertama kali terbit tahun 1902. Edisi asli Just So Stories juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi goresan tangan Kipling sendiri. Sekarang, 110 tahun kemudian, Just So Stories bisa dinikmati dalam bahasa Indonesia (diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin, yang juga menerjemahkan Kisah-kisah Tengah Malam dan Fiksi Lotus Vol. 1) lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar ulang oleh Staven Andersen.

Mengapa harus digambar ulang? Setelah membandingkan dengan ilustrasi karya Kipling yang asli, saya mengambil kesimpulan bahwa dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar ulang, Just So Stories tampil lebih segar dan menarik.

Perhatikan perbandingan ilustrasi asli karya Kipling dan reinterpretasi oleh Staven Andersen di bawah ini.

Ilustrasi oleh Rudyard Kipling

Ilustrasi oleh Staven Andersen

Kipling bahkan menyebutkan beberapa nama pulau di Indonesia pada cerpen Kepiting dan Lautan Luas.

”Kun?”* tanya Penyu.

”Payah kun,”** kata Penyihir Tua; dan ia meniup pasir dan bebatuan itu hingga jatuh ke laut dan menjadi gugusan pulau yang indah, dan yang bernama Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Jawa, berikut pulau lain yang berada di sekitar daerah kepulauan Malaka. Kalian bisa mencari lokasi ini di peta!

* ”Apakah benar begini?”
** ”Sudah cukup benar.”

Hetih Rusli sang editor boleh berkata bahwa Just So Stories adalah hasil ”proyek senang-senang” yang dikerjakan bersama dengan penerjemah dan ilustrator, namun hasilnya saya pun bersenang-senang dan sangat menikmati membaca buku ini dari awal hingga akhir. Saya bisa membuka buku ini lagi minggu depan, lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi tanpa merasa bosan dengan isinya. Tiga bintang untuk kejeniusan om Rudyard Kipling, satu bintang untuk terjemahan mbak Maggie Tiojakin dan editan mbak Hetih Rusli yang apik, dan satu lagi bintang untuk Staven Andersen yang sudah menggoreskan ilustrasi-ilustrasi yang ciamik!

Rudyard Kipling (1865-1936) adalah novelis, cerpenis, penyair, dan jurnalis asal Inggris yang terkenal dengan kisah-kisah fabel dalam kumpulan cerita pendek The Jungle Book. Beliau meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1907. Lebih lanjut mengenai Rudyard Kipling baca di sini.

Detail buku:
“Just So Stories” (“Sekadar Cerita”), oleh Rudyard Kipling
160 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1902)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 


Conclusion:

Is there any book that makes you want to repeat childhood? After reading this book, I wish I could go back being a child and listen to my dad or mom reading aloud this book while I’m tucked in bed, getting ready to sleep. I just love these twelve hilarious pourquoi stories Rudyard Kipling wrote, along with the poems at the end of every short story.

This is the poem at the end of The Crab That Played with the Sea:

To Penang instead of Lagos,
Or a fat Shaw-Savill bore
Passengers to Singapore,
Or a White Star were to try a
Little trip to Sourabaya,
Or a B.S.A. went on
Past Natal to Cheribon,
Then great Mr. Lloyds would come
With a wire and drag them home!

Could it be that Kipling mentioned my hometown in this poem? Because here in Indonesia I live in a city called Surabaya. (wonder where in the world is Surabaya? Check out the map below!)

In this short story Kipling also mentioned a few islands of Indonesia as follows:

‘Kun?’ said All-the-Turtle-there-was.

‘Payah kun,’ said the Eldest Magician; and he breathed upon the sand and the rocks, where they had fallen in the sea, and they became the most beautiful islands of Borneo, Celebes, Sumatra, Java, and the rest of the Malay Archipelago, and you can look them out on the map!

I just love that.

In the Indonesian version of Just So Stories, Kipling’s original illustrations were re-interpreted by a local illustrator, Staven Andersen, and I must say that he did one hell of a job! (see the comparison at the middle of the post)

I could reread this book next week, five years from now, or ten years from now without feeling bored of its contents. Five stars for a book that I read with delightful enjoyment from the first until the last page.

Read Just So Stories online here –> http://boop.org/jan/justso/

9th review for The Classics Club Project, 3rd review for A Victorian Celebration, 5th review for The Classic Bribe