Bacaan Liburan Campur Aduk a la Surgabukuku (dan Mini-Reviews)

Banner Posbar 2016Hola!

Post ini dibuat dalam rangka ikutan event Posbar BBI bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday. Di bawah ini adalah daftar bacaan liburan (campur aduk) a la Surgabukuku. Kok campur aduk? Soalnya isinya buku dari macam-macam genre, mulai buku anak, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, sampai sastra klasik.

Ada 2 daftar dalam post ini, yang pertama adalah buku-buku yang pernah saya baca selama liburan (Read on Holiday(s)) dan yang kedua adalah buku-buku yang menurut saya cocok untuk dibaca selama liburan (Recommended Holiday Reads).

 Off we go!

Read on Holiday(s)

Flora & Ulysses: The Illuminated Adventures – Kate DiCamillo

Dibaca: 2 Juli 2016

Saya yakin banyak di antara teman-teman yang sudah tidak asing dengan karya-karya pengarang ini, misalnya The Miraculous Journey of Edward Tulane dan Because of Winn-Dixie. Nah, di buku Flora & Ulysses ini humornya yang lebih ditonjolkan oleh Tante Kate, bukan seperti di buku-buku lainnya yang biasanya menyentuh (baca: bikin mewek).

Tokoh utamanya adalah gadis kecil bernama Flora Belle Buckman, seorang cynic dan nerd yang sudah membaca sampai habis tiap seri komik berjudul Terrible Things Can Happen to You! Suatu hari, tetangga Flora membeli vacuum cleaner berkekuatan “super” yang dinamakan Ulysses 200X. Saking supernya, si vacuum cleaner menyeret Tootie si tetangga ke halaman luar, dan menyedot seekor tupai malang sampai setengah gundul. Eh ternyata, setelah tersedot vaccum cleaner tersebut, si tupai (yang akhirnya diselamatkan oleh Flora Belle dan dinamai Ulysses) jadi memiliki kekuatan super!

Ceritanya agak tak biasa bagi yang sudah familier dengan karya-karya Kate DiCamillo, tapi tetap menghibur, dan tetap ada nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan yang biasanya menjadi sorotan di dalam setiap bukunya. Dan ilustrasi di dalamnya membuat feel-nya seperti membaca novel dan komik dalam 1 buku.

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

Dibaca: 17 Juli 2016

Buku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

Classics for holiday reads? Why not? 😛 Toh buku ini berisi cerita pendek dan menurut saya termasuk ringan untuk dinikmati selama liburan. How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

i capture

I Capture the Castle – Dodie Smith

Dibaca: 22 Mei 2016

Termasuk novel coming-of-age klasik, buku ini menarik karena tokoh-tokohnya yaitu keluarga Mortmain, tinggal di sebuah istana. Bukan, mereka bukan keluarga bangsawan. Jangan bayangkan istana yang megah dengan lusinan pelayan, istana yang mereka tinggali adalah istana yang sudah lama diabaikan, dan malah ada bagian yang hanya tinggal puing-puing. Namun pemandangan di sekitar istana itu sangat indah, dan ada danau yang bisa direnangi saat musim panas. Setiap karakter di dalam novel ini sangat menarik dengan kekhasannya masing-masing, namun yang menjadi sentral adalah kakak-beradik Rose dan Cassandra. Rose yang tertua, paling cantik, dan sudah capek hidup miskin. Cassandra tidak secantik Rose, tapi dialah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang akan kita lihat jatuh cinta dan berkembang menjadi lebih dewasa. Suatu hari, keturunan dari pemilik istana yang mereka tinggali datang. Mereka adalah kakak beradik Simon dan Neil Cotton yang berasal dari Amerika, dan Rose langsung melihat Simon sebagai kesempatan untuk keluar dari hidup keluarganya yang miskin. Sulit meringkas plot novel ini dalam satu paragraf karena untuk novel yang termasuk dalam genre young adult, cerita novel ini cukup kompleks. Namun ada banyak bagian yang menghibur, misalnya ketika Rose dan Cassandra dikejar-kejar karena dikira beruang, padahal mereka hanya mengenakan mantel bulu beruang warisan bibi mereka yang nyentrik. Walaupun saya agak merasa meh dengan endingnya, saya cukup menikmati novel ini, apalagi deskripsi keindahan alamnya yang khas Inggris bikin cocok banget untuk dibaca dalam suasana liburan.

pohon2 sesawi

Pohon-pohon Sesawi – Y.B. Mangunwijaya

Dibaca: 23 Desember 2015

Walaupun disebut sebagai novel, buku yang sesungguhnya berisi beberapa naskah milik Romo Mangun yang tercerai-berai ini lebih terasa seperti kumpulan cerita. Melalui tangan Joko Pinurbo dan Tri Kushardini-lah naskah-naskah ini disunting hingga bisa menjadi buku yang enak dibaca. Saya tadinya agak takut membaca karya Romo Mangun karena takut isinya terlalu “teologis” tapi ternyata ketakutan saya sama sekali tidak terbukti, malah saya sangat menikmati buku yang termasuk out-of-my-comfort-zone ini. Dalam buku ini Romo Mangun menceritakan suka duka kehidupan sebagai Romo di paroki, dengan gaya jenaka yang bisa membuat pembaca terbahak-bahak. Banyak istilah Katolik yang bisa jadi membingungkan pembaca non-Katolik, tapi saya rasa buku ini bisa dibaca semua kalangan (yang berpikiran terbuka). 🙂

Recommended Holiday Reads

Tidak Ada New York Hari Ini – M. Aan Mansyur

Oke, buku ini mungkin adalah buku puisi paling kekinian saat ini. Tapi serius, jika untuk liburan kamu ingin membawa buku yang tipis, gampang dan cepat dibaca maka buku ini pilihan yang tepat. Apalagi jika kamu bepergian dengan kereta atau berjalan-jalan di kota besar (tidak harus New York), foto-foto di dalam buku ini cocok banget untuk menemani liburanmu.

The Penderwicks at Point Mouette – Jeanne Birdsall

Seri The Penderwicks adalah seri buku anak dengan tokoh utama 4 bersaudari: Rosalind, Skye, Jane, dan Batty dan anjing mereka, Hound. Dari keempat buku yang sudah terbit (saya belum membaca buku ke-4), menurut saya yang paling cocok dibaca saat liburan adalah buku ke-3, The Penderwicks at Point Mouette. Ceritanya, Skye, Jane dan Batty berlibur di pantai di Maine dengan bibi Claire dan sahabat mereka Jeffrey, tanpa kehadiran Rosalind saudari mereka yang tertua. Otomatis Skye-lah yang menjadi OAP (oldest available Penderwick) yang bertanggung jawab atas saudari-saudarinya yang lebih muda. Selain usaha keras Skye agar semuanya under control, pembaca juga akan diberi kejutan melalui perkembangan cerita untuk karakter Jeffrey. Selain seri Harry Potter dan Narnia, seri The Penderwicks ini adalah buku anak yang paling saya sukai.

The Penderwicks (buku #1) pernah saya review di sini.

And Then There Were None – Agatha Christie

Bayangkan kamu diundang berlibur ke suatu pulau terpencil bersama 9 orang lainnya, lalu satu demi satu mereka terbunuh dengan mengerikan. Hehehe, semoga jangan pernah terjadi beneran ya, serem. XD Nah, jika kamu ingin sedikit ketegangan untuk spice up your holiday, maka buku inilah jawabannya. Buku ini akan bikin kamu jantungan menebak-nebak siapa yang akan mati berikutnya dan siapa pembunuhnya. Tapi tolong jangan buka halaman terakhir sebelum saatnya tiba ya!

And Then There Were None pernah saya review di sini.


Okeeeee, kali berikutnya kamu pergi liburan, mungkin satu atau dua buku dari tujuh buku di atas bisa jadi pilihanmu untuk bacaan liburan. Ciao!

Reading is What Brings Us Together, Not What Tears Us Apart

Very recently I’ve just had an upsetting experience which led to a decision to quit a book community. This was because one person within the community insists upon greeting fellow members in a certain religion’s way (this person did this not once or twice but daily, and it’s not a simple greeting), and even sometimes brought up religious topics in conversations. I found this both annoying and inappropriate, so I voiced my thoughts to the rest of the community: I think one should use neutral expressions in a public community. I thought that this (community) should be a public place where everyone from every religious and cultural background could belong and feel welcomed. It turned out that (probably) I was the only person objecting the matter, so leaving seemed like the best decision. Maybe you think I should be more lenient, but I see no point in holding my place in a community I no longer feel comfortable in.

I don’t know about you, but the more I read, the more I am able to be tolerant towards people who are different from me. But I have my limits, just like everybody else does. In fact, I never had this kind of problem in any communities I have been a part in. In book communities, people come from every religious, cultural, economic and social background to gather for one common purpose: the love for reading and the mission to spread that love. We are different in many, many ways, but the love for reading is what makes us one. Being a part of a book community enables me to learn and accept other people’s views and opinions (even though I may not always agree with them), to place myself in another’s shoes and to maintain friendships in spite of differences. I’d like to think that diversity is an asset to a public community. Think of a rainbow without the color blue. It would not be called a rainbow.

Just a few days ago, on 17 May, Indonesia celebrated National Book Day. But this celebration was tainted with the current sweeping and banning of books that are considered leftist/promoting communism.[1] I don’t think that the banning would be a wise action considering the fact that Indonesia stands on the 60th position from 61 countries in world literacy rankings, according to the study conducted by Central Connecticut State University.[2] Sans the banning, only 10% Indonesians show interest in reading and average Indonesians only read 2-3 books per year. Compare this to developed countries where people read 20-30 books a year.[3] Book banning will only worsen Indonesia’s already low literacy rate.

And how, you may ask, can reading bring us together while there are millions of books out there and each one of them is different? We read to improve our minds, and with the right books, our entire person can also be improved. As an improved person, we are able to place ourselves in our surroundings and act accordingly, while using our minds to contribute to the common goal. A nation will benefit more if its people are well read. And since Indonesia is a developing country with a pitiful literacy rate, I’d say it is urgent for the people of Indonesia to start loving reading today.

Read this also: http://www.dw.com/id/pramoedya-srigala-jahat-dan-pemberangusan-buku/a-19251651?maca=id-Facebook-sharing

And watch this: https://www.youtube.com/watch?v=_o2DylQ3sDY

This post is also published for the event Posting Bareng BBI 2016: #BBIHariBukuNasional

Banner Posbar 2016

Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) 😛

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. 🙂

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! 🙂

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*

Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSCDalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

Belum banyak buku fiksi Indonesia yang saya baca, tapi mungkin Pulang adalah salah satu yang terbaik. Cerita mengalir begitu saja dan terasa nyata sehingga saya lupa kalau saya sedang membaca novel. Diksinya indah, blak-blakan di beberapa bagian, dan saya bisa sungguh-sungguh merasakan keberadaan dan emosi para karakter utama. Saya suka betapa novel ini begitu Indonesia (termasuk pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget), padahal banyak petikan percakapan dalam bahasa Prancis juga. Saya suka Dimas Suryo yang doyan melahap literatur klasik, sesuatu yang juga ia tularkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya yang membuat novel ini kurang lengkap, mungkin, adalah film dokumenter karya Lintang yang tidak disebut-sebut lagi pada akhir buku. Saya sangat ingin menonton film itu. Nah, saya sudah bilang tadi kan kalau saya lupa kalau Pulang hanya sebuah novel? Bagi yang ingin mencoba baca buku ini, jangan takut karena buku ini “kelihatan” berat, sebenarnya nggak seberat itu kok.

Rasanya sulit sekali untuk menunjukkan di dalam review, apa yang membuat buku ini begitu bagus di mata saya. Walaupun buku ini kental nuansa romance-nya, bagi saya itu tak menjadi masalah karena konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini. Yang jelas, novel ini membuat saya makin mencintai Indonesia. Novel ini membuat saya ingin menelusuri kembali sejarah Indonesia, walaupun mungkin apa yang saya baca tidak bisa mutlak dipercayai sebagai suatu kebenaran.

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2014 tema Historical Fiction Indonesia


Detail buku:

Pulang, oleh Leila S. Chudori
464 halaman, diterbitkan Desember 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Great Gatsby – F. Scott Fitzgerald

great gatsby

The Great Gatsby portrays the life of thriving generation of 1920s America in high splendor and endless glittering parties. Nick Carraway, the narrator, was a bond man who recently moved to New York and resides in the West Egg district of Long Island, and was neighbor to one young rich man named Jay Gatsby. The story starts when Nick went to East Egg district one night to dine with his cousin, Daisy, and her husband Tom Buchanan. From another girl who was present at the dinner, Jordan Baker, Nick learned about the turbulent marriage of Tom and Daisy and that Tom has a mistress. Myrtle Wilson, Tom’s mistress, lived in the valley of ashes, a gray industrial dumping ground between West Egg and New York City. Nick’s curiosity and fascination about his mysterious neighbor was answered when Gatsby eventually invited Nick to one of his parties. There Nick would learn that Gatsby and Daisy were once sweethearts. A reunion was set between Gatsby and Daisy in Nick’s house, where the two young lovebirds rekindled their romantic relationship. Their affair would soon raise suspicion from Tom, who would not have his wife cheating on him while he was involved in an extramarital affair himself. The confrontation between Tom and Gatsby reached its peak when Tom let Gatsby drove his wife back home to East Egg in his luxurious car, and then an unwanted accident happened. In the aftermath, the corruption, moral decay, carelessness, hypocrisy, and superficiality of the people surrounding him; all came crystal clear before Nick’s eyes.

The Jazz Age party. Image source

The novel took place when the First World War had just ended and America has never been more prosperous, a time called “The Jazz Age”, which later ends in the Great Depression. The problem with these rich people in this time was; they became so consummated in their wealth that they grew careless, superficial and pleasure-seeking. Not one, I repeat, not one of the characters in this novel is likeable to me. Tom Buchanan was a bad-mannered libertine and his wife Daisy a shallow, foolish girl. The cynical Jordan Baker had enough nerve to drive carelessly and taking other people’s safety for granted. Meyer Wolfsheim, the Jewish man who wore human molars as cuff buttons, was cowardly and deceiving. Even Gatsby, he isn’t so “great” as in the title of the novel. Yes, he is “great” in his optimistic spirit to pursue his dream, which is winning Daisy back, but to be able to win Daisy he would have to climb to her social status, and to do that he need to make a fortune in dishonest, fraudulent ways. The only “clean” character was Nick Carraway, who stayed on Gatsby’s side to the very end, when not another soul would come into the marred picture.

This book is probably the most difficult book that I have read that only has less than 150 pages. The narrative was written beautifully—yet I felt the great need to read many passages more than twice, check dictionary and even consult the Internet to attempt to fully comprehend what Fitzgerald was trying to say. And even in the end, I can’t say that I can now fully comprehend The Great Gatsby.  But at least, thanks to Sparknotes and Fanda’s chapter posts, I came to understand some confusing passages and symbols depicted in the novel. In spite of entertaining, this novel would make you think hard. Finally, I think The Great Gatsby is great because it bravely shows the ugly truth of man, and in the end still encourages optimism in the powerful words of the last passage of the novel.

Gatsby believed in the green light, the orgastic future that year by year recedes before us. It eluded us then, but that’s no matter—tomorrow we will run faster, stretch out our arms farther. . . . And then one fine morning—
So we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past.

 

For the finest novel by The Great Fitzgerald, I gave three stars.

***

* I read this book together with Fanda, Astrid, Dessy, Althesia, Listra, Vaan, Dani, Sulis, and Melissa (Avid Reader) *

26th review for The Classics Club Project / 7th review for Books in English Reading Challenge 2013 / 3rd review for 2013 TBR Pile Challenge / 3rd review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction /6th review for New Authors Reading Challenge 2013

Book details:

The Great Gatsby, by F. Scott Fitzgerald
122 pages, published December 1993 by Wordsworth Classics/Wordsworth Editions Ltd (first published 1925)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Shadow of the Wind – Carlos Ruiz Zafón

shadow of the wind“Once, in my father’s bookshop, I heard a regular customer say that few things leave a deeper mark on a reader than the first book that finds a way into his heart.”

Semuanya bermula dari suatu pagi di awal musim panas 1945, ketika luka-luka akibat perang masih segar dan terbuka. Daniel Sempere, bocah berusia sepuluh tahun putra seorang pemilik toko buku, dibawa oleh ayahnya mengunjungi suatu tempat bernama Cemetery of Forgotten Books. Di suatu tempat di Barcelona, terkubur buku-buku yang terlupakan. Buku-buku yang tak lagi mempunyai rumah karena penutupan perpustakaan atau toko buku, semuanya dibawa ke tempat ini. Dan menurut tradisi, setiap orang yang pertama kali mengunjungi Cemetery of Forgotten Books boleh memilih satu buku untuk dimilikinya, untuk seterusnya dijaga agar tidak hilang selamanya. Dan dari ribuan buku yang tersimpan di dalam Cemetery of Forgotten Books, Daniel memilih satu buku berjudul The Shadow of the Wind, karya Julian Carax. Buku tersebut menyentuh hati Daniel sedemikian rupa sehingga, ia memutuskan untuk mencari buku-buku karya Carax yang lain dan berniat membaca semuanya, dan menyelidiki lebih jauh mengenai sang penulis. Betapa kagetnya ia ketika menemukan bahwa karya-karya Carax yang lain telah dibakar dengan sengaja dan satu-satunya kopi The Shadow of the Wind yang masih ada adalah yang dimilikinya. Informasi ini didapat Daniel dari Gustavo Barcelo, seorang penjual buku bekas yang eksentrik. Di rumah Barcelo juga Daniel bertemu dengan Clara, keponakan Barcelo. Gadis ini secantik malaikat, namun pucat dan lemah. Ia juga buta. Dari Clara-lah Daniel kemudian mendapat informasi yang lebih lengkap mengenai Carax, bagaimana buku-buku karyanya hanya dicetak dalam jumlah yang sangat sedikit, dan bagaimana penulis muda itu menemui kematian yang tragis hanya sesaat sebelum pernikahannya. Juga tentang rumor yang beredar bahwa ada seseorang yang mencari karya-karya Carax di setiap perpustakaan dan toko buku, membeli atau mencuri buku-buku tersebut, dan kemudian membakar setiap kopi yang masih ada.

Pada hari ulang tahunnya yang keenam belas, Daniel yang merasa kecewa karena Clara tidak bisa menghadiri pesta ulang tahunnya, lari keluar dari rumah dalam kegelapan malam dan bertemu orang misterius dengan wajah terbakar yang menginginkan novel The Shadow of the Wind yang dimiliki Daniel. Orang ini mengaku bernama Lain Coubert. Nama itu adalah nama iblis dalam novel The Shadow of the Wind. Mungkinkah kisah dalam The Shadow of the Wind sedang terwujud dalam kehidupan Daniel? Daniel bersama rekannya Fermin Romero de Torres kemudian menyusuri Barcelona demi menyelidiki asal-usul Julian Carax. Di antara bangunan-bangunan tua di Barcelona dan juga debu yang menyelimuti buku-buku di Cemetery of Forgotten Books, sedikit demi sedikit kebenaran mengenai jati diri sang penulis misterius Julian Carax tersibak. Dikisahkan bahwa Julian Carax adalah putra seorang pembuat topi, Antony Fortuny dengan seorang wanita berkebangsaan Prancis, Sophie Carax. Julian kemudian jatuh cinta kepada Penelope Aldaya, putri satu-satunya Don Ricardo Aldaya yang kaya raya, yaitu orang yang bermurah hati mensponsori pendidikan Julian. Don Ricardo Aldaya marah besar ketika ia mengetahui hubungan antara Julian dan putrinya dan hendak memisahkan mereka berdua untuk selamanya. Rencana kawin lari yang dirancang oleh sahabat Julian, Miquel Moliner pun harus gagal karena campur tangan Don Ricardo. Julian kemudian pergi ke Paris dan memulai karir sebagai penulis. Namun, kenangan tentang Penelope terus menerus menghantuinya dan akhirnya ia memutuskan kembali ke Barcelona, tempat dimana seorang Julian Carax, disusul oleh buku-bukunya, satu persatu lenyap tanpa jejak.

***

Sebenarnya saya sudah cukup lama mengetahui tentang buku ini dan bahwa buku ini sudah diterjemahkan oleh Barokah Ruziati atau Mbak Uci, namun entah mengapa sampai sekarang versi terjemahannya belum terbit juga. Kalau sudah terbit nanti sepertinya saya akan beli untuk koleksi. 😉 Makasih buat Mbak Astrid yang sudah meminjamkan bukunya sehingga rasa penasaran saya akan buku The Shadow of the Wind bisa terpuaskan.

Buku ini menyimpan cerita dalam cerita, tentang misteri, aib, rahasia, dan cinta terlarang. Bertaburan tokoh-tokoh yang tak jauh dengan buku (pecinta buku, pemilik toko buku, kolektor buku, dan sebagainya), dan dengan gaya penceritaan yang memesona, nafas novel gothic, setting Barcelona yang eksotik, dan alur yang mengalir lancar dan menegangkan, buku ini membuat saya mampu menghabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu padahal biasanya saya lelet banget kalau harus membaca buku dalam bahasa Inggris. Buku ini bagus, namun ada beberapa kejanggalan dan hal yang saya tidak suka  yang membuat saya terpaksa memberi buku ini empat bintang, dan bukannya lima:

  1. Bab di dalam buku ini dipisahkan secara kronologis. Misalnya bab “Days of the Ashes” berlangsung antara tahun 1945-1949, dan bab “An Empty Plate” pada tahun 1950. Namun yang janggal adalah akhir bab “True to Character” (1951-1953) langsung dilanjutkan di bab “City of Shadows” (1954) pada “hari berikutnya”, anehnya tanpa menyebut bahwa diantara kedua bab itu telah terjadi pergantian tahun. Mungkin hal ini terjadi juga di bab-bab selanjutnya, tapi yang paling saya ingat adalah bab ini.
  2. Karakter Lain Coubert dikisahkan mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Sungguh aneh bagaimana ia bisa bertahan hidup begitu lama dan beraktivitas selayaknya manusia normal.
  3. Ada beberapa hal yang tidak saya sukai mengenai endingnya. [SPOILER ALERT!] Pertama, bahwa Lain Coubert tetap bertahan hidup sampai di akhir buku. Selain tidak masuk akal bahwa ia mengelak dari maut dua kali, dan bahwa ia hidup dengan kondisi sekujur tubuh terbakar, bagi saya jauh lebih baik jika setelah melalui klimaks, karakter ini akhirnya tiada dalam damai. Yang kedua, saya tidak suka karakter yang terpaksa harus berkeluarga pada usia masih belasan tahun akibat “kecelakaan”, dan tidak dikisahkan segala susah payah yang harusnya mewarnai kehidupan keluarga muda tersebut. Bagi saya itu sama saja dengan mengatakan, “It’s okay to have sex and have children in your young age.”

Di luar ketiga hal diatas, novel The Shadow of the Wind hampir bisa dikatakan sempurna. Dilengkapi juga dengan bagian “A Walk in the Footsteps of The Shadow of the Wind” dengan peta Barcelona dan guide bagi pembaca yang ingin benar-benar menyusuri Barcelona dan melihat setiap tempat yang dijadikan setting dalam novel The Shadow of the Wind. What a brilliant idea. Buku ini juga menyimpan banyak Memorable Quotes yang menawan hati seperti berikut ini:

“Someone once said that the moment you stop to think about whether you love someone, you’ve already stopped loving that person forever.”

 “The nurse knew that those who really love, love in silence, with deeds and not with words.”

“Books are mirrors: you only see in them what you already have inside you.”

(Baca juga Quote mengenai the Cemetery on Forgotten Books di sini.)

5th review for Books in English Reading Challenge 2013 | / 3rd review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction / 6th review for New Authors Reading Challenge 2013

N.B.: Buku ini saya baca dalam bahasa Inggris namun reviewnya ditulis dalam bahasa Indonesia untuk ikut #postingbareng BBI bulan April 2013 tema Buku tentang Buku dan masih dalam rangkaian HUT ke-2 BBI.

Detail buku:

The Shadow of the Wind (judul asli: La sombra del viento), oleh Carlos Ruiz Zafón
Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Lucia Graves
487 halaman, diterbitkan Januari 2005 oleh Penguin Books (pertama kali diterbitkan tahun 2001)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick

hugo cabret

Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di Stasiun Kota Paris pada tahun 1930an. Ia bekerja memutar dan merawat kedua puluh tujuh jam yang ada di stasiun itu tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa dialah yang melakukannya. Sebelumnya, Hugo tinggal bersama ayahnya, seorang pembuat jam yang bekerja paruh waktu di sebuah museum tua. Suatu ketika ayah Hugo menemukan barang langka, mesin paling rumit dan paling indah yang pernah dilihatnya—sebuah automaton yang rusak. Automaton itu berbentuk seperti manusia berukuran kecil yang sedang duduk sementara tangannya di atas meja, siap menulis. Ya, automaton yang menakjubkan itu bisa menulis! Malangnya, ayah Hugo meninggal dalam kebakaran museum tua itu, dan meninggalkan Hugo dalam pengawasan saudaranya, Paman Claude. Dari Paman Claude-lah Hugo belajar merawat semua jam di stasiun, dan ketika Paman Claude menghilang Hugo-lah yang melanjutkan pekerjaannya.

Walaupun ayahnya telah tiada, Hugo bertekad memperbaiki automaton itu dengan dengan bermodalkan buku catatan kecil peninggalan sang ayah. Entah bagaimana, ia merasa bahwa si automaton akan menuliskan pesan yang berasal dari ayahnya, jika benda itu sudah diperbaiki. Demi memperbaiki si automaton, Hugo pun mencuri bagian-bagian kecil mesin dari toko mainan milik seorang pria tua bernama Georges di stasiun. Pada suatu hari aksinya ketahuan, dan si pria tua membawa buku catatan kecil milik Hugo dan mengancam akan membakarnya. Hugo mengikuti pria tua itu sampai ke rumahnya, dan bertemu dengan Isabelle, anak baptis si pria tua. Isabelle berjanji untuk mencari buku catatan itu dan memastikan bahwa Papa Georges (alias si pria tua) tidak membakarnya. Dari sanalah Hugo dan Isabelle menjadi sahabat, dan bersama-sama mereka menemukan siapakah sesungguhnya Papa Georges, apa sebenarnya pesan yang disimpan oleh automaton itu dan hubungannya dengan ayah Hugo dan juga Papa Georges. Mereka berdualah yang membuka kunci sebuah rahasia yang tersimpan rapat selama bertahun-tahun…

***

Yang membuat buku ini istimewa tentu saja adalah ilustrasi-ilustrasi karya Brian Selznick yang memenuhi hampir seluruh buku. Goresan-goresannya begitu tajam dan nyata, dan begitu detail sehingga saya merasa bahwa sebagian pekerjaan sinematografer ketika mengadaptasi buku ini ke film sudah dikerjakan oleh Selznick. Keistimewaan yang kedua adalah, buku ini merupakan cara yang sangat bagus untuk memperkenalkan sosok yang sudah lama terlupakan (dalam hal ini Georges Méliès yang merupakan salah satu filmmaker pertama dalam sejarah yang terkenal akan inovasi special effects-nya) khususnya kepada anak-anak. Untuk orang dewasa yang sudah mengetahui sejarah tentang Georges Méliès ataupun yang belum, buku ini juga bisa menjadi pengantar yang cukup menghibur. Untuk cerita maupun gaya penulisannya, bagi saya tidak terlalu istimewa. Dengan adanya banyak gambar, rasanya buku ini cocok untuk anak-anak berusia mulai tujuh tahun, lebih bagus kalau orang tua yang membacakannya dan membimbing sehingga anak tidak perlu pusing akan istilah-istilah mekanis dalam buku dan lebih berkonsentrasi pada ceritanya. Di bawah ini adalah foto beberapa ilustrasi di dalam buku ini:

20130131_200621

20130226_221510

Kalau boleh jujur, saya berpendapat bahwa adaptasi film dari buku ini yang diberi judul Hugo (rilis tahun 2011) lebih bagus daripada bukunya. Walaupun filmnya agak berbeda dengan buku di banyak bagian, misalnya hubungan Hugo dan Isabelle lebih “rukun” di film daripada di buku, karakter Polisi Stasiun di film (diperankan oleh Sacha Baron Cohen) digambarkan lebih lucu dan komikal dan bahkan ada porsi romancenya sedikit, dan juga aura filmnya cenderung lebih ceria sedangkan bukunya lebih gloomy. Film Hugo diisi oleh sederet cast yang mengesankan: aktor kawakan pemenang Oscar Ben Kingsley sebagai Georges Méliès, Jude Law sebagai ayah Hugo, Asa Butterfield sebagai Hugo dan Chloe Grace Moretz sebagai Isabelle, Christopher Lee sebagai Monsieur Labisse, dan disutradarai oleh Martin Scorsese. Film ini adalah nomine Best Motion Picture of the Year Academy Awards tahun 2012, dan menang dalam beberapa kategori, yaitu Best Art Direction, Best Cinematography, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, dan Best Visual Effects. (sumber: IMDb)

Back to the book. After all, I think this book is an amazing way to relive the past, and to give a tribute for someone who shouldn’t be forgotten, someone like Georges Méliès.

Memorable Quotes

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” – Hugo, halaman 388

“Kalau kamu bertanya-tanya dari mana asal mimpi-mimpimu ketika kamu tidur pada malam hari, lihat saja di sekitar sini. Di tempat inilah mimpi-mimpi itu dibuat.” — Georges Méliès, halaman 397

20130226_223946

Lebih banyak tentang Georges Méliès – Wikipedia

***

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2013 tema buku yang adaptasi filmnya masuk nominasi/memenangkan piala Oscar

5th review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 4th review for New Authors Reading Challenge 2013 | 2nd review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Books in France 2013 Reading Challenge | 1st review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction

Detail buku:

The Invention of Hugo Cabret, oleh Brian Selznick
544 halaman, diterbitkan Januari 2012 oleh Mizan Fantasi (pertama kali diterbitkan tahun 2007)
My rating: ♥ ♥ ♥

Therese Raquin – Émile Zola

therese raquin[Review in Bahasa Indonesia and English]

Sebuah novel klasik yang diberi judul nama seorang perempuan – misalnya Jane Eyre, Anne of Green Gables, atau Emma, biasanya mengisahkan perjuangan atau perkembangan karakter yang dialami si tokoh utama dalam hidupnya. Tapi buku ini tidak menceritakan tentang perjuangan ataupun perkembangan karakter seperti yang diceritakan dalam tiga buku diatas.

Therese Raquin yang dilahirkan dari ayah Perancis dan ibu Algeria, sejak masih kecil ditinggalkan oleh ayahnya ke dalam pengasuhan Madame Raquin. Jadilah Therese tumbuh besar bersama sepupu laki-lakinya yang ringkih dan sakit-sakitan, Camille. Karena kondisi fisik yang lemah itulah, Madame Raquin sangat memanjakan anak lelakinya sehingga Camille tumbuh menjadi seorang pemuda yang manja dan egosentris. Saat mereka dewasa, Madame Raquin menikahkan mereka berdua. Demi penghidupan yang lebih baik, keluarga Raquin pindah dari Vernon ke Paris, tepatnya di Selasar du Pont-Neuf yang lembap, gelap, dan kumuh. Kondisi ini sebenarnya membuat sesak Therese, ditambah lagi dengan mempunyai seorang suami yang pucat dan lembek. Namun Therese telah terbiasa bersikap dingin, acuh tak acuh, dan menunjukkan kepatuhan yang pasif.

Keadaan berubah setelah Camille mengundang teman kerjanya, Laurent, ke rumahnya. Bersama-sama dengan Grivet dan Michaud, mereka menghabiskan setiap Kamis malam di rumah keluarga Raquin, makan malam dan main domino. Therese memandang Laurent dengan ketertarikan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya; jika dibandingkan dengan suaminya, Laurent tampak gagah perkasa, dengan otot-otot kekar dan leher tebal. Singkat kata, Laurent kemudian menyambar kesempatan saat ia ditinggal berduaan saja dengan Therese dan perselingkuhan mereka yang kotor dan keji pun dimulai. Hubungan mereka berdua didasarkan oleh nafsu yang membabi buta— dan Therese merasa seakan ia dibangunkan dari tidur panjang setelah berhubungan dengan Laurent, sementara Laurent sendiri mendapat pelampiasan nafsunya secara gratis, karena ia tidak mampu lagi membayar pelacur untuk memuaskannya. Mengapa keji? Karena perselingkuhan itu kemudian mendorong mereka untuk membunuh Camille. Dan setelah pembunuhan itu dilakukan, apakah mereka bisa hidup bersama dengan bahagia? Ataukah justru hantu Camille bangkit dari kubur, dan menempatkan dirinya setiap malam di atas ranjang di antara Therese dan Laurent?

***

Therese Raquin bukanlah sebuah kisah yang gampang dinikmati. Tidak ada satupun dari para karakter yang mendapat simpati dari saya, boleh dikata saya benci dan jijik terhadap mereka semua. Namun, saya tak dapat menyangkal bahwa buku ini ditulis dengan luar biasa bagus. Dalam pendahuluan penulis menjelaskan, bahwa novel ini dituliskan untuk mempelajari watak dan bukannya tokoh. Di mana Laurent adalah seorang sanguinis, Therese seorang melankolis dan Camille seorang phlegmatis. Setelah membacanya saya pun paham bahwa Therese Raquin bukan sekedar novel yang mengumbar adegan tak senonoh, tapi merupakan hasil penelitian sang penulis terhadap sifat-sifat terburuk manusia, sifat-sifat yang (maaf) menyerupai binatang. Kedengaran mengerikan? Ya, memang. Namun suatu saat saya ingin membaca buku ini lagi, siapa tahu saya mendapatkan pemahaman dari segi yang lain yang tidak saya dapatkan ketika selesai membacanya untuk pertama kali. Dan sebenci-bencinya saya dengan para karakter dalam novel ini, saya merasa penulis seakan berkata kepada saya, “ya seperti ini lho manusia.” Dan kemudian perasaan benci dan jijik saya agak dilunturkan oleh rasa iba.

Segala detail yang ada dituliskan supaya pembaca bukan hanya membayangkan, namun benar-benar hidup di Selasar du Pont-Neuf yang gelap dan lembap itu, menyaksikan perselingkuhan menjijikkan Therese dan Laurent, dan bagaimana pembunuhan yang mereka lakukan menghancurkan segala yang mereka miliki sampai tak tersisa. Buku ini bagi saya memberi salah satu bukti bahwa “upah dosa adalah maut”; pembaca dibawa menyaksikan bagaimana dosa yang setitik berakibat dosa yang lebih besar dan pada akhirnya melemparkan mereka pada kehancuran. Tiga bintang untuk drama keji yang ditulis Émile Zola dengan brilian.

Detail buku:

Therese Raquin, oleh Émile Zola
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Julanda Tantani
336 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1867)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Review in English:

Therese Raquin—a novel intended by its author to be an observation of temperaments, not characters—is a novel I loathe for its characters and story, and at the same time I love for the author’s brilliant writing. It tells us about a young woman, Therese Raquin, who was raised by her aunt and then by the time she was an adult, her aunt made her married her sickly cousin Camille. The life of the Raquins was once quite normal and peaceful, before Laurent, Camille’s friend from work, came into the picture. Being a farmer’s son, Laurent was muscular and had a thick neck, which Therese couldn’t stop looking at. Shortly, Therese and Laurent engaged in a brutal, filthy, and sickening affair that soon encouraged them to murder Camille so they can be “together”. What happened after the murder was not a bit close to what they wanted. The murder lived on between them, and the dead body of the drowned Camille appeared to them and took his place on the bed between Laurent and Therese. So what’s so special about Emile Zola’s writing? It was so detailed that I felt like I really lived between the Raquins in the Passage du Pont-Neuf and witnessed Therese and Laurent’s dirty deeds. But no matter how bad I hated the characters in this novel, I felt as if the author spoke to me, “this is what human is like.” Then my hate and disgust for the characters was slightly faded by pity. I think that this novel is also proof of “Death is the penalty of sin”. I saw how sin dragged the characters into even bigger sin, and finally to destruction. For this cruel drama that actually has a deep meaning, I gave three stars.


 

20th review for The Classics Club Project | 2nd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 1st review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for Back to the Classics 2013


 A Note to My Secret Santa:

Buku ini mungkin bukan buku favoritku, tapi aku senang kamu ngasih buku ini karena akhirnya aku bisa “kenalan” dengan Émile Zola, sesuatu yang pengen kulakukan sejak lama. Dan tentu saja buku ini melengkapi koleksi novel klasik Gramedia berstempel mawar merah punyaku! So, thanks to you. #ketjup. Terima kasih juga untuk buku satunya, Letter to My Daughter nya Maya Angelou yang sudah kubaca tapi belum kutulis reviewnya. Menyusul ya! Dan, menebak siapa sebenarnya kamu membuat aku bingung. Yang pertama, resi yang berasal dari Tangerang sepertinya nggak ngasih clue yang membantu. Lalu di dalam riddlemu (riddle dari Santa sudah kuposting di sini) ada beberapa karakter fiksi: Hannibal Lecter (as in, “Hannibal Rising”, tapi beneran deh aku nggak tahu apa artinya itu) lalu Baudelaire bersaudara, Lester McKinley, Harry Potter, Sirius Black, dan Peter Pan. Dari sederetan nama ini aku mengambil nama yang paling asing buatku untuk “diselidiki”, yaitu Lester McKinley. Dan hasil penyelidikanku menyatakan bahwa seorang BBI-er yang suka sama Lester McKinley adalah Santaku, dan dia adalah….

Asriani “Ally” Purnama

Bener nggak sih? Kalo bener, berarti kamu Santaku untuk 2 tahun berturut-turut dong? *koprol sambil bilang WOW* Eniwei, event Secret Santa 2012 seru banget deh, makasih buat duet koordinator Ndari dan Oky. Thumbs up!

Our Town – Thornton Wilder

ourtown

Oh, earth, you’re too wonderful for anybody to realize you. Do any human beings ever realize life while they live it? – every, every minute?

*

The play I chose for LRP event this month presents the events of everyday life in a way that underscores their value and their importance. We tend to hurry up with our lives: get this and that done, and suddenly day after day passes with little meaning or none at all. Hardly ever we take time to enjoy life as it is; to cherish every moment no matter how small that moment is, moments with those we love. Therefore the playwright Thornton Wilder wrote Our Town to remind us to be aware with the smallest events of our lives. He knew that those events, little and often ignored they are, sometimes have a meaning that surpass the “big” events. He knew that those are the things we would miss having.

The story of Our Town narrates the story of two families living in a small town, Grover’s Corners, New Hampshire. There is Dr. Frank Gibbs, the town doctor, with his wife Julia and two children: George and Rebecca. Then there is the newspaper editor Mr. Charles Webb, with his wife Myrtle and two children: Wally and Emily. We will learn a lot about Grover’s Corners and how everyday life in the year 1901 was lead there in the first act. George and Emily were both sixteen in the first act. Emily, who was the brightest girl in her class, was helping George to do his math homework while Julia Gibbs talked to her husband about getting a vacation abroad. She was about to receive a considerable amount of money and she said, It seems to me that once in your life before you die you ought to see a country where they don’t talk in English and don’t even want to.” Sadly, she never got the vacation she wanted.

Here we move on to the second act. The time was July 7, 1904. The day was George and Emily’s wedding day. Yes, they got closer to each other; we saw a hint of it on the first act. We will see a little bit of flashback on the second act; when George was about to leave for college, Emily showed her worries about him and after a heart-to-heart conversation they confessed that they were in love with each other. Some wedding jitters, some nervousness, some reminiscence of Frank and Julia’s wedding day years before, and then George and Emily were married.

The third and last act is the critical part of the play. The time was 1913 and the scene was the burial of Emily, who died of childbirth. When the living was mourning, the dead took seats on a part of the stage: Julia Gibbs has been dead for some years now, along with a supporting character, Mr. Stimson who was a choir director of the town’s church and a drunk. The dead conversed about how little the living notice each other and the happiness they feel in the company of loved ones. Their eyes were open while the eyes of the living were shut. Living people are blind.

“That’s what it was to be alive. To move about in a cloud of ignorance; to go up and down trampling on the feelings of those . . . of those about you. To spend and waste time as though you had a million years. To be always at the mercy of one self-centered passion, or another. Now you know – that’s the happy existence you wanted to go back to. Ignorance and blindness.” (Mr. Stimson, Act III, p.109)

“We all know that something is eternal. And it ain’t houses and it ain’t names, and it ain’t earth, and it ain’t even the stars . . . everybody knows in their bones that something is eternal, and that something has to do with human beings. All the grandest people ever lived have been telling us that for five thousand years and yet you’d be surprised how people are always losing hold of it. There’s something way down deep that’s eternal about every human being.” (Stage Manager, Act III, p.87-88)

*

So that was it. Act I tells about Daily Life. Act II about Love and Marriage. And Act III about Death. All three happens to every living human being, except marriage. I was surprised when I finished reading this play. I mean, I  love The Bridge of San Luis Rey, which was a Pulitzer-winning novel from the author. So I shouldn’t be surprised if I happen to like this play, but again Mr. Wilder got me thinking and contemplating on my own life after reading his work. I’d like to say, “Mr. Wilder, you did it again!” I am really in love with the works of an author who won three Pulitzer Prizes in his life; for The Bridge of San Luis Rey (1927, fiction), Our Town (1938, play/drama), and The Skin of Our Teeth (1942, play/drama). I’m so glad that this play is the very first book I read in 2013 and I will be reading The Skin of Our Teeth for LRP event next July.

Our Town was short, simple, familiar. But it moves me in a way that I know I should read this play over and over again. When life gets too hectic and I need to “stop” for a while. I don’t want to be blind; I want to see the beauty of things, the beauty of every moment. That way I can give thanks to the Lord every minute of every day.

3rd review for Let’s Read Plays event| 19th review for The Classics Club Project| 1st review for Books in English Reading Challenge 2013

#bacabareng BBI bulan Januari 2013 tema pemenang Pulitzer

Book details:

Our Town, by Thornton Wilder
103 pages e-book (first published 1938)
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Time Keeper – Mitch Albom

time keeper

Time is what we want most, but what we use worst.– William Penn

 

Ini sebuah kisah tentang WAKTU.

Yang diceritakan melalui sudut pandang tiga manusia:

Manusia pertama yang menghitung waktu,

Manusia yang menginginkan terlalu banyak waktu,

Dan manusia yang ingin semua waktu yang dimilikinya cepat berakhir.

Seorang manusia dari zaman menara Babel didirikan,

Dan dua orang manusia di zaman modern.

Satu orang yang mengira ia bisa mencurangi Kematian,

Satu orang lagi yang mengira ia punya hak untuk mengundang Kematian.

Dan bapa dari waktu, yang akan meneruskan pelajaran yang telah dikecapnya kepada kedua orang itu.

“Mengertikah kau sekarang?” tanyanya. “Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya.”

[…]

“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”

“Mengapa?”

“Supaya setiap hari itu berharga.”

***

Buku ini bukan masterpiece seorang Mitch Albom, namun seperti buku-buku lainnya, nilai moral yang ingin disampaikan penulis melalui buku ini melesat tepat ke sasaran. Melalui bahasa yang sederhana dan alur yang mengalir, Albom mengajak pembaca untuk merenungkan kembali bagaimana menggunakan waktu. Karena itu, saya memberi empat bintang untuk buku ini, lebih tinggi daripada novel Albom yang lain yaitu The Five People You Meet in Heaven.

I need about 3 hours to read this book,

An hour to write its review;

But the lesson it has told me will last forever.

 ###

#postingbareng BBI bulan Oktober 2012 tema karya-karya Mitch Albom

Detail buku:

Sang Penjaga Waktu (judul asli: The Time Keeper), oleh Mitch Albom
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Tanti Lesmana
312 halaman, diterbitkan Oktober 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan September 2012)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥