Rumah Kertas – Carlos María Domínguez

rumah-kertasSatu kata yang paling pas untuk menggambarkan novella yang hanya setebal 76 halaman ini adalah: Gila. Sinting. Edan. Crazy. Insane. Complete & utter madness. You name it lah…

Buku ini memang tentang orang-orang yang gila. Lebih spesifik lagi; gila buku. Tentang para kolektor buku dan pelahap bacaan yang rakus, yang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membangun ‘kerajaan’ berupa perpustakaan pribadi. Tentang kecemasan mereka yang sudah mengumpulkan begitu banyak buku sehingga tidak tahu lagi mau disimpan dimana buku-buku tersebut. (Don’t I know it!). Tentang sulitnya merawat dan memelihara koleksi buku, ketika jumlahnya sudah bukan lagi sebuah kebanggaan, tetapi mulai menjadi beban. Tentang terbatasnya waktu untuk membaca–padahal waktu-waktu menyepi bersama buku itulah yang paling dirindukan para pecinta buku.

Sekarang saya masuk ke bagian yang ‘gila’. Buku ini bercerita tentang Bluma Lennon, seorang dosen Universitas Cambridge yang meninggal tertabrak mobil, saat sedang asyik membaca buku kumpulan puisi Emily Dickinson. Tentang rekannya yang menerima paket yang dialamatkan kepada Bluma, yang berisi sebuah buku terjemahan Spanyol karya Joseph Conrad, yang dipenuhi serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Tentang penyelidikan yang dilakukan oleh sang rekan, yang membawa dia bertemu orang-orang gila buku lainnya, menelusuri kebiasaan-kebiasaan para bibliofil mulai yang normal hingga yang di luar batas kewajaran, dan menguak kebenaran mengerikan di balik misteri buku Joseph Conrad yang bersalut serpihan semen kering.

Rasanya saya sudah cukup mengungkapkan alasan mengapa buku ini layak dibaca. Bila perlu alasan lain:

1. Buku tentang buku selalu menarik untuk disimak.
2. Mungkin kita tidak akan pernah tahu keberadaan buku ini, boro-boro membacanya, jika tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Karena, saya pernah membaca bahwa Uruguay adalah negara paling kecil kedua di Amerika Selatan. Versi terjemahan buku ini belum lama terbit (September 2016 lalu) dan relatif gampang menemukannya di toko-toko buku terdekat.

Detail buku:
Rumah Kertas (judul asli: La casa de papel), oleh Carlos María Domínguez
76 halaman, diterbitkan 2016 oleh Marjin Kiri
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

All the Light We Cannot See – Anthony Doerr

all the light we cannot see

What to expect when you read a historical novel set in wartime? A display of brutality, a spectacle of bravery or cowardice or both, an atmosphere terrorized by bombs and soldiers, and, inevitably, tragic deaths, traumatized survivors. It would be stupid to expect a happy ending from a historical novel set in wartime.

But All the Light We Cannot See is unlike any war-themed historical novels I have read. Some books focus on the relationships (which usually make the tragedy even more depressing), some others on the desperate efforts the characters were making in attempt to get out of a situation, and some books reveal the reality of man when faced with fire; the worst and the best. This book combines all that, and more.

The story revolves around two major characters. First is a sightless French girl named Marie-Laure LeBlanc, daughter of the locksmith of the Museum of Natural History in Paris. Her father made her a model of their neighborhood in Paris and later the city of Saint-Malo, and got her Jules Verne books in Braille for her birthday. When German airplanes began to bomb Paris, she and her father fled to Saint-Malo, a walled city in northern coast of France to stay with her great-uncle, Etienne LeBlanc. It was unknown to Marie that they carried a dangerous treasure with them; an exotic blue diamond worth millions of francs known as the Sea of Flames.

The second major character is Werner Pfennig, a white-haired German boy who grew up in an orphanage with her sister. He liked to fix radios while her sister Jutta was busy making sketches. His intelligence and talent earned him a place in Schulpforta, a special school where the best German boys were trained for the war. Despite the brutality he faced everyday at Schulpforta, he had a heartwarming friendship with a boy named Frederick. Later he was sent for missions to several cities and finally, to Saint-Malo where he crossed paths with Marie-Laure, as the vague details of the story was being unwrapped one by one.

I am usually fascinated by war-themed books, and by the time I saw the cover of this book I was instantly attracted. On the cover it shows a photograph of a walled city by the sea and big skies. It is blue, my favorite color. And the fact that it won Pulitzer Prize for Fiction in 2015 made me set my heart to read it. But what makes this book different? It was very detailed and rather slow-paced that it took me 25 days to finish it. I have never read anything by Anthony Doerr before, but after reading this book I would like to think that he is a scientist with the soul of a storyteller, or maybe the other way around. He poured little details about locks, mollusks, diamonds, radios, birds, light, and science into the story and brought all of them together with a style of writing I find rather romantic.

The brain is locked in total darkness, of course, children, says the voice. It floats in a clear liquid inside the skull, never in the light. And yet the world it constructs in the mind is full of light. It brims with color and movement. So how, children, does the brain, which lives without a spark of light, build for us a world full of light?

War-themed books usually left me emotionally wrecked, but it’s not the same case with this book. It didn’t make me cry, but I am deeply moved by how the characters showed kindness toward each other, even in unlikely times and situations. I found more spark in the minor characters like Frederick and Madame Manec than in characters with bigger roles, but I love Werner Pfennig with all my heart, and wished that somehow, he could be spared of premature death. I am a little irritated when the characters “sees” or “hears”, as if they were relentlessly reminded of the past, whether it was in their near or distant past. Maybe if this happened only to several characters and not almost all of them, I would not be as annoyed. However, I love the way the author wove together the little stories of each characters into one epic and exquisitely written tale of courage and humanity. I give four stars for this book.

“You must never stop believing. That’s the most important thing.” – Madame Manec


Book details:

All the Light We Cannot See, by Anthony Doerr
531 pages, published May 2015 by Simon and Schuster
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSCDalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

Belum banyak buku fiksi Indonesia yang saya baca, tapi mungkin Pulang adalah salah satu yang terbaik. Cerita mengalir begitu saja dan terasa nyata sehingga saya lupa kalau saya sedang membaca novel. Diksinya indah, blak-blakan di beberapa bagian, dan saya bisa sungguh-sungguh merasakan keberadaan dan emosi para karakter utama. Saya suka betapa novel ini begitu Indonesia (termasuk pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget), padahal banyak petikan percakapan dalam bahasa Prancis juga. Saya suka Dimas Suryo yang doyan melahap literatur klasik, sesuatu yang juga ia tularkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya yang membuat novel ini kurang lengkap, mungkin, adalah film dokumenter karya Lintang yang tidak disebut-sebut lagi pada akhir buku. Saya sangat ingin menonton film itu. Nah, saya sudah bilang tadi kan kalau saya lupa kalau Pulang hanya sebuah novel? Bagi yang ingin mencoba baca buku ini, jangan takut karena buku ini “kelihatan” berat, sebenarnya nggak seberat itu kok.

Rasanya sulit sekali untuk menunjukkan di dalam review, apa yang membuat buku ini begitu bagus di mata saya. Walaupun buku ini kental nuansa romance-nya, bagi saya itu tak menjadi masalah karena konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini. Yang jelas, novel ini membuat saya makin mencintai Indonesia. Novel ini membuat saya ingin menelusuri kembali sejarah Indonesia, walaupun mungkin apa yang saya baca tidak bisa mutlak dipercayai sebagai suatu kebenaran.

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2014 tema Historical Fiction Indonesia


Detail buku:

Pulang, oleh Leila S. Chudori
464 halaman, diterbitkan Desember 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Lust for Life – Irving Stone

lust-for-LIFE---smallSeberapa jauh engkau akan berlari demi mengejar panggilan hidup? Vincent Van Gogh (1853-1890) melalui proses yang panjang sebelum menyadari panggilan hidupnya yang sesungguhnya, dan berusaha sampai titik darah penghabisan demi panggilan hidupnya itu, yakni menjadi seorang pelukis. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk melukis, Van Gogh muda sempat menjadi seorang pramuniaga di galeri lukisan Goupil, yang dipimpin oleh pamannya. Namun bukannya menjadi pramuniaga yang baik yang mampu membujuk orang untuk membeli lukisan, Vincent malah dengan terang-terangan menyebut lukisan-lukisan tersebut jelek dan orang-orang yang membelinya sangat bodoh. Kegagalan menjadi seorang pramuniaga lukisan membawa Vincent kepada jalan hidup yang berikutnya, yaitu menjadi seorang pelayan Tuhan mengikuti jejak ayahnya. Vincent kemudian berkutat mempelajari bahasa Latin, bahasa Yunani, aljabar, dan tata bahasa dari seorang pria bernama Mendes da Costa. Beruntung bagi Vincent, Mijnheer da Costa merupakan seorang guru yang sangat bijaksana yang mampu menginspirasi muridnya sekaligus memberikan kebebasan bagi muridnya untuk memilih apa yang hendak ia lakukan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa dirimu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.” – hal. 53

Kata-kata Mendes membuka mata Vincent yang jengah terhadap pendidikan formal yang harus ditempuhnya sebagai pendeta, dan dengan begitu saja pergi kepada Komite Evangelis Belgia yang kemudian menugaskannya ke sebuah desa pertambangan bernama Borinage. Tempat itu dinamakan “desa hitam”, suatu tempat yang suram dan menyedihkan. Vincent mendapati bahwa yang dibutuhkan oleh para penambang yang kotor dan miskin di Borinage lebih daripada firman Tuhan adalah makanan dan pakaian yang layak, serta tempat tinggal yang hangat. Vincent akhirnya memberikan segala miliknya untuk penduduk Borinage, meski kemudian ia sendiri yang harus kelaparan, sakit dan kedinginan.

Menjelang akhir masa tinggalnya di Borinage, Vincent kembali menekuni aktivitas menggambar dan berkat dorongan dari adik terkasihnya, Theo, kali ini Vincent merasa sungguh-sungguh menemukan jati dirinya sebagai pelukis.

“Oh, Theo, selama berbulan-bulan aku berjuang untuk meraih sesuatu, mencoba untuk menggali semua tujuan yang nyata dan arti dari hidupku, dan aku tidak tahu ini! Tapi sekarang ketika aku benar-benar tahu, aku tidak akan patah semangat lagi. Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku.” – hal. 136

Perjalanan panjang kembali dilalui Vincent untuk membuktikan jati dirinya sebagai pelukis. Di Den Haag ia berguru pada Thomas Mauve yang adalah sepupunya sendiri, sementara berbagai pihak mengkritisi lukisannya terlalu kasar dan mentah. Di Paris kemudian Vincent memutuskan untuk mengubah gaya lukisannya menurut aliran impresionis yang memakai warna yang serba cerah dan goresan yang tajam. Semua ini dilaluinya dengan sokongan dana dari Theo. Pindah ke Arles yang panas menyengat, Vincent pun melukis, melukis, dan melukis, sampai-sampai ia menjadi seperti mesin lukis otomatis yang tidak dapat berhenti bekerja.

“Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya. Untuk kehidupan pribadi, dia tidak memilikinya. Dia hanyalah mesin lukis otomatis, buta dengan makanan, cairan, dan cat yang dituangkan setiap pagi, lalu pada malam harinya sebuah kanvas telah selesai dikerjakan. […] Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya. Dia dapat hidup tanpa istri, rumah, dan anak-anak; dia bisa hidup tanpa cinta, persahabatan, dan kesehatan; dia bisa hidup tanpa keamanan, kenyamanan, dan makanan; dia bahkan bisa hidup tanpa Tuhan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya—kekuatan dan kemampuan untuk mencipta.” – hal. 442

Di Arles-lah panggilan hidup Vincent sebagai seorang pelukis mulai menjadi pedang bermata dua. Mungkin ia telah mewujudkan apa yang Mendes da Costa pernah katakan, “pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu”, tapi di sisi lain ia telah bekerja melampaui batas sehingga pelan-pelan kewarasannya terkikis. Saat ia mendekam di rumah sakit jiwa di St. Remy-lah, untuk pertama kalinya Vincent mendengar kabar baik dari Theo: lukisannya yang diberi judul Ladang Anggur yang Merah (The Red Vineyard) terjual dengan harga empat ratus franc. Simak beberapa karya Van Gogh melalui video di bawah ini.

Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh dalam buku setebal 576 halaman ini, saya jadi semakin memahami bahwa hard work really pays off. Kerja keras pasti membuahkan hasil. Dari seorang Vincent Van Gogh saya belajar tentang keyakinan pada diri sendiri bahwa “jika saya merasa bisa melakukannya, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya melakukannya”, juga kegigihan dalam bekerja, dan saya memahami bahwa ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, kalau kita tidak mau menjadi seperti Vincent yang akhirnya “dikonsumsi” oleh pekerjaannya sendiri dan akhirnya kehilangan segala-galanya. Dari adik Vincent, Theo Van Gogh, saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Theo sangat mengasihi kakaknya sehingga ia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menyokong kakaknya, dan bukan hanya itu, Theo tidak menjauhi kakaknya ketika ia mulai sakit mental dan selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara bagi Vincent. Bagi kisah luar biasa yang mengubah cara pandang saya mengenai panggilan hidup dan kasih sayang terhadap sesama ini, saya menghadiahkan lima bintang.

N.B.: buku ini saya baca pada tahun 2013 dan masuk dalam 3 kategori Book Kaleidoscope 2013:

Baca juga: meme Scene on Three yang menggunakan salah satu adegan dalam buku ini.


Detail buku:

Lust for Life, oleh Irving Stone. Penerjemah: Rahmani Astuti, Copy-editor: Anton Kurnia
576 halaman, diterbitkan 2012 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Shadow of the Wind – Carlos Ruiz Zafón

shadow of the wind“Once, in my father’s bookshop, I heard a regular customer say that few things leave a deeper mark on a reader than the first book that finds a way into his heart.”

Semuanya bermula dari suatu pagi di awal musim panas 1945, ketika luka-luka akibat perang masih segar dan terbuka. Daniel Sempere, bocah berusia sepuluh tahun putra seorang pemilik toko buku, dibawa oleh ayahnya mengunjungi suatu tempat bernama Cemetery of Forgotten Books. Di suatu tempat di Barcelona, terkubur buku-buku yang terlupakan. Buku-buku yang tak lagi mempunyai rumah karena penutupan perpustakaan atau toko buku, semuanya dibawa ke tempat ini. Dan menurut tradisi, setiap orang yang pertama kali mengunjungi Cemetery of Forgotten Books boleh memilih satu buku untuk dimilikinya, untuk seterusnya dijaga agar tidak hilang selamanya. Dan dari ribuan buku yang tersimpan di dalam Cemetery of Forgotten Books, Daniel memilih satu buku berjudul The Shadow of the Wind, karya Julian Carax. Buku tersebut menyentuh hati Daniel sedemikian rupa sehingga, ia memutuskan untuk mencari buku-buku karya Carax yang lain dan berniat membaca semuanya, dan menyelidiki lebih jauh mengenai sang penulis. Betapa kagetnya ia ketika menemukan bahwa karya-karya Carax yang lain telah dibakar dengan sengaja dan satu-satunya kopi The Shadow of the Wind yang masih ada adalah yang dimilikinya. Informasi ini didapat Daniel dari Gustavo Barcelo, seorang penjual buku bekas yang eksentrik. Di rumah Barcelo juga Daniel bertemu dengan Clara, keponakan Barcelo. Gadis ini secantik malaikat, namun pucat dan lemah. Ia juga buta. Dari Clara-lah Daniel kemudian mendapat informasi yang lebih lengkap mengenai Carax, bagaimana buku-buku karyanya hanya dicetak dalam jumlah yang sangat sedikit, dan bagaimana penulis muda itu menemui kematian yang tragis hanya sesaat sebelum pernikahannya. Juga tentang rumor yang beredar bahwa ada seseorang yang mencari karya-karya Carax di setiap perpustakaan dan toko buku, membeli atau mencuri buku-buku tersebut, dan kemudian membakar setiap kopi yang masih ada.

Pada hari ulang tahunnya yang keenam belas, Daniel yang merasa kecewa karena Clara tidak bisa menghadiri pesta ulang tahunnya, lari keluar dari rumah dalam kegelapan malam dan bertemu orang misterius dengan wajah terbakar yang menginginkan novel The Shadow of the Wind yang dimiliki Daniel. Orang ini mengaku bernama Lain Coubert. Nama itu adalah nama iblis dalam novel The Shadow of the Wind. Mungkinkah kisah dalam The Shadow of the Wind sedang terwujud dalam kehidupan Daniel? Daniel bersama rekannya Fermin Romero de Torres kemudian menyusuri Barcelona demi menyelidiki asal-usul Julian Carax. Di antara bangunan-bangunan tua di Barcelona dan juga debu yang menyelimuti buku-buku di Cemetery of Forgotten Books, sedikit demi sedikit kebenaran mengenai jati diri sang penulis misterius Julian Carax tersibak. Dikisahkan bahwa Julian Carax adalah putra seorang pembuat topi, Antony Fortuny dengan seorang wanita berkebangsaan Prancis, Sophie Carax. Julian kemudian jatuh cinta kepada Penelope Aldaya, putri satu-satunya Don Ricardo Aldaya yang kaya raya, yaitu orang yang bermurah hati mensponsori pendidikan Julian. Don Ricardo Aldaya marah besar ketika ia mengetahui hubungan antara Julian dan putrinya dan hendak memisahkan mereka berdua untuk selamanya. Rencana kawin lari yang dirancang oleh sahabat Julian, Miquel Moliner pun harus gagal karena campur tangan Don Ricardo. Julian kemudian pergi ke Paris dan memulai karir sebagai penulis. Namun, kenangan tentang Penelope terus menerus menghantuinya dan akhirnya ia memutuskan kembali ke Barcelona, tempat dimana seorang Julian Carax, disusul oleh buku-bukunya, satu persatu lenyap tanpa jejak.

***

Sebenarnya saya sudah cukup lama mengetahui tentang buku ini dan bahwa buku ini sudah diterjemahkan oleh Barokah Ruziati atau Mbak Uci, namun entah mengapa sampai sekarang versi terjemahannya belum terbit juga. Kalau sudah terbit nanti sepertinya saya akan beli untuk koleksi. 😉 Makasih buat Mbak Astrid yang sudah meminjamkan bukunya sehingga rasa penasaran saya akan buku The Shadow of the Wind bisa terpuaskan.

Buku ini menyimpan cerita dalam cerita, tentang misteri, aib, rahasia, dan cinta terlarang. Bertaburan tokoh-tokoh yang tak jauh dengan buku (pecinta buku, pemilik toko buku, kolektor buku, dan sebagainya), dan dengan gaya penceritaan yang memesona, nafas novel gothic, setting Barcelona yang eksotik, dan alur yang mengalir lancar dan menegangkan, buku ini membuat saya mampu menghabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu padahal biasanya saya lelet banget kalau harus membaca buku dalam bahasa Inggris. Buku ini bagus, namun ada beberapa kejanggalan dan hal yang saya tidak suka  yang membuat saya terpaksa memberi buku ini empat bintang, dan bukannya lima:

  1. Bab di dalam buku ini dipisahkan secara kronologis. Misalnya bab “Days of the Ashes” berlangsung antara tahun 1945-1949, dan bab “An Empty Plate” pada tahun 1950. Namun yang janggal adalah akhir bab “True to Character” (1951-1953) langsung dilanjutkan di bab “City of Shadows” (1954) pada “hari berikutnya”, anehnya tanpa menyebut bahwa diantara kedua bab itu telah terjadi pergantian tahun. Mungkin hal ini terjadi juga di bab-bab selanjutnya, tapi yang paling saya ingat adalah bab ini.
  2. Karakter Lain Coubert dikisahkan mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Sungguh aneh bagaimana ia bisa bertahan hidup begitu lama dan beraktivitas selayaknya manusia normal.
  3. Ada beberapa hal yang tidak saya sukai mengenai endingnya. [SPOILER ALERT!] Pertama, bahwa Lain Coubert tetap bertahan hidup sampai di akhir buku. Selain tidak masuk akal bahwa ia mengelak dari maut dua kali, dan bahwa ia hidup dengan kondisi sekujur tubuh terbakar, bagi saya jauh lebih baik jika setelah melalui klimaks, karakter ini akhirnya tiada dalam damai. Yang kedua, saya tidak suka karakter yang terpaksa harus berkeluarga pada usia masih belasan tahun akibat “kecelakaan”, dan tidak dikisahkan segala susah payah yang harusnya mewarnai kehidupan keluarga muda tersebut. Bagi saya itu sama saja dengan mengatakan, “It’s okay to have sex and have children in your young age.”

Di luar ketiga hal diatas, novel The Shadow of the Wind hampir bisa dikatakan sempurna. Dilengkapi juga dengan bagian “A Walk in the Footsteps of The Shadow of the Wind” dengan peta Barcelona dan guide bagi pembaca yang ingin benar-benar menyusuri Barcelona dan melihat setiap tempat yang dijadikan setting dalam novel The Shadow of the Wind. What a brilliant idea. Buku ini juga menyimpan banyak Memorable Quotes yang menawan hati seperti berikut ini:

“Someone once said that the moment you stop to think about whether you love someone, you’ve already stopped loving that person forever.”

 “The nurse knew that those who really love, love in silence, with deeds and not with words.”

“Books are mirrors: you only see in them what you already have inside you.”

(Baca juga Quote mengenai the Cemetery on Forgotten Books di sini.)

5th review for Books in English Reading Challenge 2013 | / 3rd review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction / 6th review for New Authors Reading Challenge 2013

N.B.: Buku ini saya baca dalam bahasa Inggris namun reviewnya ditulis dalam bahasa Indonesia untuk ikut #postingbareng BBI bulan April 2013 tema Buku tentang Buku dan masih dalam rangkaian HUT ke-2 BBI.

Detail buku:

The Shadow of the Wind (judul asli: La sombra del viento), oleh Carlos Ruiz Zafón
Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Lucia Graves
487 halaman, diterbitkan Januari 2005 oleh Penguin Books (pertama kali diterbitkan tahun 2001)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Therese Raquin – Émile Zola

therese raquin[Review in Bahasa Indonesia and English]

Sebuah novel klasik yang diberi judul nama seorang perempuan – misalnya Jane Eyre, Anne of Green Gables, atau Emma, biasanya mengisahkan perjuangan atau perkembangan karakter yang dialami si tokoh utama dalam hidupnya. Tapi buku ini tidak menceritakan tentang perjuangan ataupun perkembangan karakter seperti yang diceritakan dalam tiga buku diatas.

Therese Raquin yang dilahirkan dari ayah Perancis dan ibu Algeria, sejak masih kecil ditinggalkan oleh ayahnya ke dalam pengasuhan Madame Raquin. Jadilah Therese tumbuh besar bersama sepupu laki-lakinya yang ringkih dan sakit-sakitan, Camille. Karena kondisi fisik yang lemah itulah, Madame Raquin sangat memanjakan anak lelakinya sehingga Camille tumbuh menjadi seorang pemuda yang manja dan egosentris. Saat mereka dewasa, Madame Raquin menikahkan mereka berdua. Demi penghidupan yang lebih baik, keluarga Raquin pindah dari Vernon ke Paris, tepatnya di Selasar du Pont-Neuf yang lembap, gelap, dan kumuh. Kondisi ini sebenarnya membuat sesak Therese, ditambah lagi dengan mempunyai seorang suami yang pucat dan lembek. Namun Therese telah terbiasa bersikap dingin, acuh tak acuh, dan menunjukkan kepatuhan yang pasif.

Keadaan berubah setelah Camille mengundang teman kerjanya, Laurent, ke rumahnya. Bersama-sama dengan Grivet dan Michaud, mereka menghabiskan setiap Kamis malam di rumah keluarga Raquin, makan malam dan main domino. Therese memandang Laurent dengan ketertarikan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya; jika dibandingkan dengan suaminya, Laurent tampak gagah perkasa, dengan otot-otot kekar dan leher tebal. Singkat kata, Laurent kemudian menyambar kesempatan saat ia ditinggal berduaan saja dengan Therese dan perselingkuhan mereka yang kotor dan keji pun dimulai. Hubungan mereka berdua didasarkan oleh nafsu yang membabi buta— dan Therese merasa seakan ia dibangunkan dari tidur panjang setelah berhubungan dengan Laurent, sementara Laurent sendiri mendapat pelampiasan nafsunya secara gratis, karena ia tidak mampu lagi membayar pelacur untuk memuaskannya. Mengapa keji? Karena perselingkuhan itu kemudian mendorong mereka untuk membunuh Camille. Dan setelah pembunuhan itu dilakukan, apakah mereka bisa hidup bersama dengan bahagia? Ataukah justru hantu Camille bangkit dari kubur, dan menempatkan dirinya setiap malam di atas ranjang di antara Therese dan Laurent?

***

Therese Raquin bukanlah sebuah kisah yang gampang dinikmati. Tidak ada satupun dari para karakter yang mendapat simpati dari saya, boleh dikata saya benci dan jijik terhadap mereka semua. Namun, saya tak dapat menyangkal bahwa buku ini ditulis dengan luar biasa bagus. Dalam pendahuluan penulis menjelaskan, bahwa novel ini dituliskan untuk mempelajari watak dan bukannya tokoh. Di mana Laurent adalah seorang sanguinis, Therese seorang melankolis dan Camille seorang phlegmatis. Setelah membacanya saya pun paham bahwa Therese Raquin bukan sekedar novel yang mengumbar adegan tak senonoh, tapi merupakan hasil penelitian sang penulis terhadap sifat-sifat terburuk manusia, sifat-sifat yang (maaf) menyerupai binatang. Kedengaran mengerikan? Ya, memang. Namun suatu saat saya ingin membaca buku ini lagi, siapa tahu saya mendapatkan pemahaman dari segi yang lain yang tidak saya dapatkan ketika selesai membacanya untuk pertama kali. Dan sebenci-bencinya saya dengan para karakter dalam novel ini, saya merasa penulis seakan berkata kepada saya, “ya seperti ini lho manusia.” Dan kemudian perasaan benci dan jijik saya agak dilunturkan oleh rasa iba.

Segala detail yang ada dituliskan supaya pembaca bukan hanya membayangkan, namun benar-benar hidup di Selasar du Pont-Neuf yang gelap dan lembap itu, menyaksikan perselingkuhan menjijikkan Therese dan Laurent, dan bagaimana pembunuhan yang mereka lakukan menghancurkan segala yang mereka miliki sampai tak tersisa. Buku ini bagi saya memberi salah satu bukti bahwa “upah dosa adalah maut”; pembaca dibawa menyaksikan bagaimana dosa yang setitik berakibat dosa yang lebih besar dan pada akhirnya melemparkan mereka pada kehancuran. Tiga bintang untuk drama keji yang ditulis Émile Zola dengan brilian.

Detail buku:

Therese Raquin, oleh Émile Zola
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Julanda Tantani
336 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1867)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Review in English:

Therese Raquin—a novel intended by its author to be an observation of temperaments, not characters—is a novel I loathe for its characters and story, and at the same time I love for the author’s brilliant writing. It tells us about a young woman, Therese Raquin, who was raised by her aunt and then by the time she was an adult, her aunt made her married her sickly cousin Camille. The life of the Raquins was once quite normal and peaceful, before Laurent, Camille’s friend from work, came into the picture. Being a farmer’s son, Laurent was muscular and had a thick neck, which Therese couldn’t stop looking at. Shortly, Therese and Laurent engaged in a brutal, filthy, and sickening affair that soon encouraged them to murder Camille so they can be “together”. What happened after the murder was not a bit close to what they wanted. The murder lived on between them, and the dead body of the drowned Camille appeared to them and took his place on the bed between Laurent and Therese. So what’s so special about Emile Zola’s writing? It was so detailed that I felt like I really lived between the Raquins in the Passage du Pont-Neuf and witnessed Therese and Laurent’s dirty deeds. But no matter how bad I hated the characters in this novel, I felt as if the author spoke to me, “this is what human is like.” Then my hate and disgust for the characters was slightly faded by pity. I think that this novel is also proof of “Death is the penalty of sin”. I saw how sin dragged the characters into even bigger sin, and finally to destruction. For this cruel drama that actually has a deep meaning, I gave three stars.


 

20th review for The Classics Club Project | 2nd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 1st review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for Back to the Classics 2013


 A Note to My Secret Santa:

Buku ini mungkin bukan buku favoritku, tapi aku senang kamu ngasih buku ini karena akhirnya aku bisa “kenalan” dengan Émile Zola, sesuatu yang pengen kulakukan sejak lama. Dan tentu saja buku ini melengkapi koleksi novel klasik Gramedia berstempel mawar merah punyaku! So, thanks to you. #ketjup. Terima kasih juga untuk buku satunya, Letter to My Daughter nya Maya Angelou yang sudah kubaca tapi belum kutulis reviewnya. Menyusul ya! Dan, menebak siapa sebenarnya kamu membuat aku bingung. Yang pertama, resi yang berasal dari Tangerang sepertinya nggak ngasih clue yang membantu. Lalu di dalam riddlemu (riddle dari Santa sudah kuposting di sini) ada beberapa karakter fiksi: Hannibal Lecter (as in, “Hannibal Rising”, tapi beneran deh aku nggak tahu apa artinya itu) lalu Baudelaire bersaudara, Lester McKinley, Harry Potter, Sirius Black, dan Peter Pan. Dari sederetan nama ini aku mengambil nama yang paling asing buatku untuk “diselidiki”, yaitu Lester McKinley. Dan hasil penyelidikanku menyatakan bahwa seorang BBI-er yang suka sama Lester McKinley adalah Santaku, dan dia adalah….

Asriani “Ally” Purnama

Bener nggak sih? Kalo bener, berarti kamu Santaku untuk 2 tahun berturut-turut dong? *koprol sambil bilang WOW* Eniwei, event Secret Santa 2012 seru banget deh, makasih buat duet koordinator Ndari dan Oky. Thumbs up!

Nineteen-Eighty Four – George Orwell

[Review in Bahasa Indonesia and English]

“Kalau kamu ingin potret tentang masa depan itu, bayangkanlah sepatu bot yang menginjak wajah manusia—selama-lamanya.”

Selamat datang di Oceania. Tempat dimana Bung Besar berkuasa. Tempat dimana PERANG IALAH DAMAI, KEBEBASAN ADALAH PERBUDAKAN, dan KEBODOHAN IALAH KEKUATAN. Tempat dimana segala gerak-gerikmu diawasi oleh teleskrin. Tempat dimana perbendaharaan kata dalam bahasa diciutkan begitu rupa sehingga setiap kata yang melawan ortodoksi (kepatuhan penuh kepada Bung Besar) dipangkas habis.

Di Oceania inilah, tepatnya di London, Winston Smith hidup. Sebagai pegawai tekun dan andal yang bekerja di Kementerian Catatan dan sebagai anggota Partai Luar, Winston menghabiskan setiap hari dalam hidupnya menulis ulang artikel di koran The Times sehingga selalu seturut dengan agenda Partai. Hidup di Oceania yang terus menerus berperang, dalam pengawasan pemerintah yang maha hadir alias omnipresent, dan pengekangan individualisme dan kebebasan berpikir di bawah prinsip Sosing atau Ingsoc (English Socialism), suatu waktu Winston tidak kuasa menahan pemikiran mengenai suatu dunia sebelum Bung Besar berkuasa. Suatu dunia yang lain dengan dunia yang sekarang ini dikenalnya.

Winston menaruh harapan kepada O’Brien, salah satu anggota Partai Inti yang dicurigai Winston mempunyai pemikiran tak-ortodoks, dan adalah pengikut Emmanuel Goldstein yang menolak tirani Bung Besar, yang adalah pimpinan gerakan pemberontakan yang disebut Persaudaraan yang tidak jelas keberadaannya. O’Brien pernah berkata pada Winston, “Kita akan bertemu di tempat yang tidak ada kegelapan.” Seandainya saja Winston menemukan cara untuk berbicara kepada O’Brien mengenai mimpi yang dipendamnya! Namun dengan adanya teleskrin dan Polisi Pikiran yang mengawasi setiap tindakan, bahasa tubuh, dan kata-kata yang keluar dari mulut setiap orang, Winston mati kutu. Sedikit saja teleskrin mencium gelagat tak-ortodoks dari perilaku seseorang, itu bisa berarti orang tersebut akan diuapkan, yang berarti dihapus dari sejarah dan dianggap tidak pernah ada.

Pada suatu waktu, Winston dan rekan wanitanya Julia berkesempatan menghadap O’Brien tanpa diawasi teleskrin. Apakah O’Brien hendak mengundang mereka bergabung dalam Persaudaraan? Apakah Winston akan berperan dalam rencana penggulingan Bung Besar? Akankah Oceania pada akhirnya bebas?

“Kamu sadari bahwa masa silam, mulai dari kemarin, sudah sungguh-sungguh dihapus? […] Kita sudah tidak tahu apa-apa sama sekali tentang Revolusi dan tahun-tahun sebelum Revolusi. Semua catatan sudah dimusnahkan atau dipalsukan, setiap buku sudah ditulis ulang, setiap gambar telah dilukis atau dicat ulang, setiap patung dan jalan dan bangunan diberi nama baru, setiap hari dan tanggal kejadian sudah diubah. Dan proses itu terus berlangsung hari demi hari dan menit demi menit. Sejarah sudah berhenti. Tidak ada apa-apa lagi, kecuali suatu masa kini tanpa akhir yang di dalamnya Partai selalu benar.”

 

Tentang bahasa Newspeak:

Tidakkah kamu lihat bahwa seluruh tujuan Newspeak ialah menyempitkan lingkup pemikiran? Pada akhirnya nanti kita akan membuat kejahatan pikiran sungguh-sungguh tidak mungkin, karena tidak akan ada kata untuk mengungkapkannya. Setiap konsep yang diperlukan akan diungkapkan dengan satu kata saja, yang maknanya didefinisikan secara ketat dan kaku dan segala pengertian embel-embelnya dihapus dan dilupakan. […] Setiap tahun jumlah kata menyusut dan makin menyusut, dan lingkup kesadaran selalu dipersempit. Bahkan sekarang pun, tentunya, tidak ada dalih untuk melakukan kejahatan pikiran. Ini cuma soal disiplin diri, pengendalian realitas. Tapi pada akhirnya itu semua tidak perlu lagi. Revolusi akan rampung ketika bahasanya sempurna. Newspeak adalah Sosing dan Sosing adalah Newspeak.” […] “Menjelang 2050—lebih awal lagi mungkin—segala pengetahuan yang ada tentang Oldspeak sudah akan lenyap. Seluruh pustaka masa lalu sudah akan dihancurkan. Chaucer, Shakespeare, Milton, Byron—semuanya hanya akan ada dalam versi Newspeak-nya, tidak hanya berubah menjadi sesuatu yang lain tetapi sungguh-sungguh dijadikan sesuatu yang bertentangan dengan versi sebelumnya.”

Novel bergenre literary political fiction dan dystopian science-fiction yang pertama kali terbit tahun 1949 ini ditulis oleh George Orwell sebagai ramalan akan masa depan, dan merupakan satir tajam terhadap totalitarianisme. Orwell mengungkapkan berbahayanya kediktatoran pemerintah, baik yang beraliran kiri maupun kanan, melalui gambaran yang tak terbayangkan dan mengerikan mengenai Oceania, Sosing, bahasa Newspeak, konsep pikir-ganda (doublethink) dan Bung Besar (Big Brother). Buku yang sempat dilarang beredar di beberapa negara atas kontroversinya ini termasuk dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die, yang menjadi tema posting bareng BBI bulan Agustus. Dan apakah saya setuju bahwa buku ini harus dibaca sebelum anda menemui ajal? Jawabnya: ya. Karena menurut saya karya fiksi ini ada, sebagai suatu langkah peringatan, kalau tidak bisa disebut pencegahan, agar situasi di dalamnya jangan sampai terjadi di dunia nyata.

#postingbareng BBI bulan Agustus 2012 tema 1001 Books You Must Read Before You Die

Baca juga: Lasting Impression on Nineteen-Eighty Four (Eng)
Classic Author of July 2012: George Orwell (Ind)
Ulasan karakter Big Brother (Ind)

Detail buku:
Nineteen-Eighty-Four (1984), oleh George Orwell
585 halaman, diterbitkan tahun 2003 oleh Bentang Pustaka (pertama kali diterbitkan tahun 1949)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥


Review in English:

Welcome to Oceania. A world where Big Brother rules over everything and dictates everything. A world where WAR IS PEACE, FREEDOM IS SLAVERY, IGNORANCE IS STRENGTH. A world where you’re being watched 24 hours a day, 7 days a week. A world where there is no place for individualism and freedom to think, to act, to speak. A world where humanity is dead. George Orwell wrote this literary political and dystopian science-fiction novel as a grim picture of the future. Through this sharp satire to totalitarianism, Orwell pointed out the danger of dictatorial government whether it is left or right ideology in a depressing, frightening, and unimaginable description of Oceania, Ingsoc, Newspeak language, the concept of doublethink, and Big Brother himself. The book that has been widely banned for its controversial ideas is in the 1001 Books You Must Read Before You Die list. And do I, as a reader, agree that Nineteen-Eighty Four should be read before I die? The answer is yes. Because I think George Orwell meant this work to be a word of caution, if not prevention, so that the situation in his novel won’t come into reality.

12th review for The Classics Club Project, 8th review for The Classic Bribe

Anna Karenina – Leo Tolstoy, Simplified Version

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Berangkat dari kehidupan pernikahan yang tidak bahagia, wanita bangsawan yang cantik dan cerdas Anna Karenina terpikat oleh pesona Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan. Mereka pun jatuh dalam perzinahan, sesuatu yang juga dilakukan Oblonsky, kakak laki-laki Anna, terhadap istrinya Dolly. Cerita bergulir dengan menguraikan perkembangan hubungan Anna dan Vronsky, bagaimana mereka memutuskan untuk hidup bersama meskipun Anna belum bercerai dari Karenin, suaminya. Juga pergumulan Anna yang rindu agar putranya, Seriozha, hidup bersamanya dan Vronsky. Dan salah satu hal yang terpenting adalah keteguhan hati Anna yang bertekad tetap memunculkan diri di tengah masyarakat walaupun secara sosial ia telah dikucilkan dan segala pembicaraan tentangnya selalui bernafaskan sentimen negatif. Sampai akhir cerita, Anna berjuang menghadapi segala situasi yang menghimpitnya—sampai pada suatu titik ia memutuskan bahwa ia tidak sanggup lagi.

Kisah tragis Anna dalam Anna Karenina yang dibingkai dalam setting Rusia abad ke-19 ini langsung disandingkan oleh penulis Leo Tolstoy dengan kisah Levin, sahabat Oblonsky, yang meskipun mengalami berbagai hambatan di awal hubungannya dengan perempuan yang dicintainya, Kitty, namun akhirnya mereka menikah dan menjalani kehidupan yang bahagia. Saya membaca versi simplified (disederhanakan) dari Anna Karenina ini karena ingin sekedar mengetahui jalan ceritanya, mumpung versi terbaru filmnya yang dibintangi Keira Knightley sedianya akan mulai tayang November nanti. Beberapa hal yang bisa saya pelajari dari versi sederhana Anna Karenina ini:

1. Pernikahan yang tidak didasari dengan cinta adalah sumber masalah. Pada zaman novel ini ditulis, memang pernikahan yang demikian lazim terjadi, sehingga Tolstoy mengangkat isu ini ke dalam suatu karya tulis yang menunjukkan apa akibatnya jika suatu pernikahan tidak didasari dengan cinta.

2. Deretan karakter dalam novel ini begitu manusiawi. Ambil saja contoh Anna. Pada satu sisi, keteguhan Anna patut diacungi jempol. Sebagai heroine (tokoh utama wanita) yang tidak biasa dalam sebuah novel, Anna memilih untuk berpegang pada prinsipnya sendiri dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, walaupun masyarakat dan keadaan di sekitarnya tidak merestui. Anna juga bukanlah orang yang bebal, saat ia tengah sekarat pun ia memohon pengampunan dari Karenin, suaminya. Dan Karenin, walaupun digambarkan sebagai seorang pria yang kaku dan dingin, memaafkan Anna begitu rupa sampai-sampai saya berandai-andai akan bagaimana jadinya kalau Anna dan Karenin saling mencintai.

3. Ketika memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan seseorang, cinta saja tidak cukup. Perlu ada pengabdian terhadap orang tersebut dan pengorbanan akan kepentingan-kepentingan pribadi. Dua hal ini adalah perwujudan yang lebih sempurna dari perasaan cinta. Sehingga ketika pasangan hidupmu tidak lagi rupawan ataupun menyenangkan, anda tetap akan berada di sisinya, tidak peduli apapun yang terjadi.

“Aku akan selalu mencintaimu, dan jika seseorang mencintai orang lain, ia akan mencintai keseluruhan dari orang itu apa adanya dan bukan hanya apa yang ia sukai dari orang itu.”

*

Tiga bintang untuk Anna Karenina yang meskipun dalam versi telah disederhanakan, tetap banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Apakah suatu saat nanti saya akan membaca Anna Karenina versi unabridged yang setebal bantal itu? Well, why not? 😉

Baca juga: ulasan karakter Anna Karenina

 

Detail buku:
Anna Karenina, oleh Leo Tolstoy
198 halaman, diterbitkan tahun 2005 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1877)
My rating: ♥ ♥ ♥


Review in English:

This is a short review of the simplified version of Anna Karenina. Why the simplified version, you might ask? Well, I found it at a book fair the other day and I was just curious with the storyline of Anna Karenina, I thought that at least I should have read the simplified version before the recent adaptation is out next November. So I bought it and read it within 2 days only (it’s only 198 pages thick). And what I got was the tragic story of Anna, an attractive young woman living in the high society of 19th century Russia. Sick and tired of her cold and boring husband Karenin, Anna seek solace in the arms of a handsome young officer named Count Vronsky. As their affair was going on, Anna still was troubled by her love for her son and Karenin’s, Seriozha. Anna wanted Seriozha to live with her and Vronsky, but Karenin, still wasn’t divorcing Anna, wouldn’t let Seriozha go. In the meantime, Anna was secluded from society as a form of punishment for her act of adultery with Vronsky. But being a rather unusual heroine, Anna was determined to keep her place in society, even though her presence was unwanted and disdained.

The oh-so-glamorous trailer of Anna Karenina (coming up December 2012)

Even though this was only a simplified version, there are a lot of moral values I can take from Anna Karenina. First, marriage without love is the source of trouble. Second, the characters of this novel were so human with their flaws. I was especially impressed in Anna’s determination to live her life in her own way, no matter how disgraced her life was, no matter what society said and think of her. The moment when Anna was dying and begging for forgiveness from Karenin drove me to tears and I wished that she loved her husband instead, so that any of the terrible things wouldn’t happen to her! But hey, there wouldn’t be the Anna Karenina we all know today if she did. Lastly, when you decided to spend your life with someone, love is not enough. You need to devote yourself to your partner and sacrifice your personal matters, so that one day if your partner is no longer pretty or nice, you will still be at his/her side and never leave no matter what happens. So, I gave three out of five stars for the simplified version of Anna Karenina. Will I read the unabridged version someday? Well, why not? I’m honestly tempted to do so.

11th review for The Classics Club Project, 7th review for The Classic Bribe

The Reader – Bernhard Schlink

Pemuda lima belas tahun Michael Berg, ditolong oleh seorang perempuan tak dikenal ketika muntah-muntah di jalan Bahnhofstrasse akibat penyakit kuning. Ia begitu terkesan akan pertemuannya dengan perempuan yang berumur dua kali usianya itu, sehingga ia kembali ke pintu rumah perempuan itu dan merasakan ketertarikan fisik ketika ia melihat si perempuan berganti pakaian. Singkat cerita, Michael telah jatuh cinta dan tidur dengan perempuan itu bahkan sebelum mengetahui nama depannya.

Cerita berlanjut dengan hubungan diam-diam Michael dan Frau Schmitz (belakangan Michael baru mengetahui nama depannya, yaitu Hanna), pertemuan-pertemuan yang dihabiskan dengan berhubungan badan dan Michael membacakan banyak buku untuk Hanna. Hanna tidak pernah mau membaca buku sendiri, ia selalu minta Michael untuk membacakan buku-buku itu keras-keras. Seringkali Michael merasa bahwa ada dinding yang masih berdiri teguh antara dirinya dan Hanna, seakan-akan Hanna tak sepenuhnya jujur dengannya. Mereka sebetulnya sama saja seperti pasangan-pasangan lain, hanya dengan beda usia yang terpaut jauh dan hubungan yang dijalani secara diam-diam. Dengan segala gejolak hubungan percintaan yang mewarnai kisah mereka, Michael harus menerima kenyataan bahwa suatu hari Hanna pergi begitu saja dan lenyap dari hidupnya.

Michael bertemu Hanna lagi sebagai mahasiswa hukum, dan Hanna sebagai pesakitan di kursi pengadilan. Ternyata Hanna terlibat suatu kejahatan yang disembunyikannya rapat-rapat dari siapapun, kejahatan yang berkaitan dengan rezim Third Reich di Jerman, alias Nazi di bawah pimpinan Hitler. Hanna juga cenderung pasrah menerima saja segala putusan yang hendak dijatuhkan padanya. Michael hendak menolongnya, namun jelas bahwa Hanna tidak mau ditolong.

Bayangkan saja seseorang dengan sengaja berlari kencang menuju kehancurannya sendiri dan kau bisa menyelamatkannya—apakah kau akan datang dan menyelamatkannya?

Akhirnya Michael menyaksikan Hanna dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa mampu berbuat apa-apa dan waktu pun berlalu, Michael bertumbuh menjadi seorang pria muda yang mempunyai pekerjaan dan istri, namun ia tidak pernah bisa melenyapkan Hanna dari benaknya. Ia mulai membaca Odyssey lagi, salah satu buku yang pernah dibacakannya untuk Hanna, kemudian merekam suaranya dalam kaset dan mengirimkannya kepada Hanna. Setelah bertahun-tahun, hanya itulah bentuk komunikasi mereka berdua. Michael tidak melampirkan surat apapun ataupun menyampaikan pesan dalam kaset yang dikirimnya. Suatu hari ia menerima balasan dari Hanna, dengan tulisan yang ditekan keras-keras pada kertas: “Jungchen, cerita terakhir bagus sekali. Terima kasih, Hanna.” Ini adalah salah satu bagian favorit saya dalam buku, karena bagian ini menceritakan perjuangan Hanna untuk mengatasi kelemahannya (yaitu buta huruf), dan mengambil satu langkah lebih maju, walaupun boleh dikatakan sudah terlambat baginya. Satu langkah yang diambil seorang manusia pada titik tertentu dalam hidupnya, betapapun kecil langkah itu, betapapun seakan sudah terlambat: selalu ada makna yang tersimpan di dalamnya, yang bisa dibawa sampai pada akhir perjalanan.

***

Membaca buku yang ditulis Bernhard Schlink ini seakan-akan seperti membaca buku harian Michael, di mana ia menuangkan segala rasa hatinya, kegelisahannya, cintanya untuk Hanna, yang masih ada sampai akhir cerita, walaupun bentuknya sudah berbeda. Menurut saya buku ini adalah gabungan roman dan historical fiction yang ditulis dengan gaya kontemplatif. Artinya banyak hal yang bisa direnungkan lewat membaca buku ini. Seperti halnya hubungan antara Michael-Hanna, walapun “tabu” tapi dilukiskan dengan sangat gamblang dan manusiawi. Dari sisi sejarahnya, kita mendapatkan sekelumit gambaran mengenai keadaan Jerman pasca rezim Hitler. Kita melihat dua sisi dari orang-orang Jerman: mereka yang takluk di bawah kekuasaan Hitler karena mempunyai ide yang sama, dan mereka yang takluk karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Kita melihat Jerman sebagai suatu bangsa yang baru saja merasakan pukulan telak; apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya? Dari sisi humanitas yang lebih mendalam, kita belajar bahwa bagaimanapun juga, di tangan kita sendirilah terletak pilihan untuk menentukan arah kehidupan kita masing-masing.

Perenungan ini membawa saya memikirkan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

Apa jadinya jika Michael dan Hanna hidup bersama dan menjalani hubungan dengan terang-terangan?

Apa jadinya jika Hanna menampik tuduhan hakim atasnya dan membela diri dengan alibi kuat yang dimilikinya?

Life is made of choices, saya pernah membaca ungkapan ini di suatu tempat. Salut untuk Hanna yang memilih menentukan arah hidupnya sendiri, walaupun pilihannya itu tidak membuat nasibnya lebih baik. Juga karena ada upaya darinya untuk belajar membaca dan menulis, walaupun waktu yang dimilikinya sudah sangat sedikit. Tiga bintang untuk salah satu buku dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die yang memberi kesan kepada saya bahwa dari sebuah kisah yang punya ending yang tidak bahagia sekalipun, ada hal-hal kecil yang membuatnya tetap bermakna.

The Reader movie poster (2008)

Jika kita membuka diri
Dirimu padaku, dan diriku padamu,
Manakala kita tenggelam
Kau ke dalam diriku dan aku ke dalam dirimu,
Manakala kita menghilang
Kau di dalam diriku dan aku di dalam dirimu

Lalu
Aku adalah aku
Dan engkau adalah engkau

#postingbersama BBI Juli 2012 tema Historical Fiction

Detail buku:
“The Reader” (Sang Juru Baca), oleh Bernhard Schlink
232 halaman, diterbitkan Juni 2012 oleh Elex Media Komputindo (pertama kali diterbitkan tahun 1995)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society – Mary Ann Shaffer & Annie Barrows

Surabaya, Indonesia, June 18th, 2012

Dear friend,

I’ve just read a wonderful book called “The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society” a few weeks ago, and I thought that I’d write a personal letter to you recommending it.

What first comes to your mind when you hear “World War II”? War must mean blood, chaos, ruthlessness, hope running out; don’t you think? Well, this book was set at the end of the World War II. The main character was Juliet Ashton, a writer for the English weekly Spectator under the pseudonym Izzy Bickerstaff. With her humorous writings Juliet brought the minds of people away from the war for a while. Juliet might have been famous for her Izzy Bickerstaff columns, but she had much deeper passion when it comes to literature. She also wrote a biography of Anne Brontë, which was sold poorly. When she was looking for a subject for her next book, she was accidentally corresponding with Dawsey Adams from the Guernsey Island, who told her about the book society he’s been involved in, how was the society accidentally formed during the German occupation, and how books changed the bitter lives of its members during wartime. Driven by curiosity, Juliet asked Dawsey if she could correspond to other members of the society, and BAM! Her wish was granted. She wrote and received long letters from almost all of the members, only to realize that she fell in love with them and she longed to read more from them. I won’t spoil much plot of the book, but you will find surprises as you turn the pages, surprises that would make you smile long after you finished it. I particularly liked the character Juliet, a woman who would dump a guy because he didn’t share her love for books (whoops!). Guernsey was written by Mary Ann Shaffer and continued by her niece, Annie Barrows.

Have you ever hear about Guernsey Island before? Yes, Victor Hugo wrote Les Misérables during his period of exile in Guernsey. It is a British Crown dependency in the Channel Islands off the coast of Normandy. I attached the map and some photos of the beautiful little island if you’re curious.

Back to the book, it was written in epistolary method (told in series of letters). It was warm and sweet, witty and romantic, you’ll fall in love with the characters (well, not all, thankfully), and it tells a lot about the love for literature. Anybody who loves books and literature should read this book. But mind you, men might not enjoy this book. It was like chick lit set in the 1940s era, written especially for book lovers. By page 11 I found one of my favorite lines of the book:

“I wonder how the book got to Guernsey? Perhaps there is some secret sort of homing instinct in books that brings them to their perfect readers.”

And in page 16:

“I love seeing the bookshops and meeting the booksellers—booksellers really are a special breed. No one in their right mind would take up clerking in a bookstore for the salary, and no one in his right mind would want to own one—the margin of profit is too small. So, it has to be a love of readers and reading that makes them do it—along with first dibs on the new books.”

And this one line in page 56 reminds me so much of the Indonesian Book Bloggers (BBI) community I’m involved in:

“We read books, talked books, argued over books, and became dearer and dearer to one another.”

Ain’t that sweet? 😀

So, my dear friend, if you are curious much after reading my letter, I suggest you grab a copy of The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, as soon as possible. And do you know, the book is filming at the time being with Kate Winslet as Juliet Ashton! When you have read the book, if you loved it, maybe we can watch the movie together. See you when it comes!

Truly yours,
Melisa

Book details:
“The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, by Mary Ann Shaffer and Annie Barrows
305 pages Paperback, published May 2009 by Random House
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥