Alice’s Adventures in Wonderland – Lewis Carroll

alice puffin chalkIt’s strange that even though I have been familiar with the character Alice since childhood (thanks to Disney), I have never actually read the book. While both of the Disney adaptations—the old-school animation and the latest one—are weird, I think the book was even weirder!

Curiouser and curiouser! Alice would say.

Alice, a curious child of seven, thought it was very strange indeed that on a hot day, she should see a White Rabbit that talks and wears a waistcoat and has a watch which he took out from his waistcoat-pocket. Piqued by her own great curiosity, she followed the frantic White Rabbit down a seemingly endless hole. Through the Rabbit-Hole, she was transported to Wonderland, a world in which everything is absurd, fantastical and even ridiculous, and nothing makes sense.

Why is this book so well-loved? I don’t have the answer to that question, but I know that I like this book because:

1. You can never guess what happens next. And Alice as the main character will keep you fascinated. When I decided to read this book I was in need of a sort of escapism, and little did I know that I was in for a treat. This book is a wild journey of imagination.

2. True, this book falls into the “literary nonsense” category, but you can’t help but admire Lewis Carroll’s wordplay. And some parts are just so funny.

Let’s take a look at a passage from The Mock Turtle’s Story:

“I couldn’t afford to learn it,” said the Mock Turtle with a sigh. “I only took the regular course.

“What was that?” inquired Alice.

“Reeling and Writhing, of course, to begin with,” the Mock Turtle replied; “and then the different branches of Arithmetic – Ambition, Distraction, Uglification, and Derision.”

“…Mystery, ancient and modern, with Seography: then Drawling—the Drawling-master was an old conger-eel, that used to come once a week: he taught us Drawling, Stretching, and Fainting in Coils.”

“And how many hours a day did you do lessons?” said Alice, in a hurry to change the subject.

“Ten hours the first day,” said the Mock Turtle, “nine the next, and so on.”

“What a curious plan!” exclaimed Alice.

“That’s the reason they’re called lessons,” the Gryphon remarked: “because they lessen from day to day.”

3. The cover of the edition of Alice’s Adventures in Wonderland I own (published by Puffin Books under the Puffin Chalk series). I mean, the cover alone would have been enough to rate this book 3 stars at least.

To wrap up this nonsense review, I only want to point out that even though I read this book for the first time as an adult, I read it with a mind of a child. I didn’t search for symbols and hidden meanings while reading, because the child in me didn’t need to understand to enjoy the journey.

“It’s no use going back to yesterday, because I was a different person then.”


Book details:

Alice’s Adventures in Wonderland, by Lewis Carroll
160 pages, published 2014 by Puffin Books (first published 1865)
My rating: ♥ ♥ ♥

Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) 😛

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. 🙂

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! 🙂

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*

Matilda – Roald Dahl

matilda book coverOnce upon a time, there lived a reader. Her name was Matilda. No, Matilda wasn’t just a common reader. She began reading at the age of three, and at the age of four she devoured all newspapers and magazines she could find laying around her house, along with one cooking book that happened to be the only book in the household. Poor Matilda, being a child so bright in a dreadfully unsupportive family, she had to find her own way to the library, the place where she could find all the books she wanted to read. Voila, after devouring every children’s books in the library’s collection, this magical child managed to read these books before she even turned five years old:

Nicholas Nickleby by Charles Dickens
Oliver Twist by Charles Dickens
Jane Eyre by Charlotte Bronte
Pride and Prejudice by Jane Austen
Tess of D’Urbervilles by Thomas Hardy
Gone to Earth by Mary Webb
Kim by Rudyard Kipling
The Invisible Man by H.G. Wells
The Old Man and the Sea by Ernest Hemingway
The Sound and the Fury by William Faulkner
The Grapes of Wrath by John Steinbeck
The Good Companions by J.B. Priestley
Brighton Rock by Graham Greene
Animal Farm by George Orwell

Hard to believe, I know. But the story does not end there. We can say that it was Mr. and Mrs Wormwood’s fault that Matilda entered school quite late. They were Matilda’s parents, and they didn’t give a damn about their daughter’s education. So at age five and a half Matilda went to school for the first time. Crunchem Hall, the name of the school, was the place where you can find the biggest, most ridiculous contrast ever between two people. The headmistress of Crunchem Hall was called Miss Trunchbull, and there is only one word that could define her best: a nightmare. She was a gigantic monster, a terror, a menace. She enjoyed punishing children in such a horrifying and unexplainable way that the parents would not believe if their children told them about the headmistress. Meanwhile, the exact opposite of Miss Trunchbull took the form of a Miss Honey, Matilda’s teacher. She was a slim-figured young woman who was mild and quiet. Later on, Miss Honey would recognize the extraordinary talent that Matilda possessed. As their friendship grows, Matilda would learn that Miss Trunchbull was the one who is responsible for Miss Honey’s miserable life. Using her newly found “superpower”, Matilda arranged a plan to take revenge on Miss Trunchbull for what she has done to Miss Honey.

My Thoughts—Spoiler Alert!

For children, this book could be enjoyable since logic won’t spoil the fun. They won’t think about how on earth stupid people like Mr. and Mrs Wormwood could have a daughter as bright as Matilda. And maybe they won’t wonder why the antagonist has a horrible name like Trunchbull and the protagonist has a name so sweet and innocent like Honey. For most people, this book might be an innocent reading, a quick stroll into childhood. I like it that Matilda found comfort in books, when she was feeling depressed living with family who are so different from herself. But in the book I also found some things that I object, especially in the matter of family relationships. Maybe because, thankfully, I grew up in an encouraging and loving family, I never felt what Matilda felt. I just couldn’t get the idea of punishing your parents, no matter how irritating they are. And the ending as well, I just couldn’t get it. I mean okay, Matilda’s finally got her happily-ever-after, but why must the author broke the relationship between her and her family? Couldn’t he make them (Matilda’s family) change instead? Well, maybe I have taken the book a little bit too seriously, but this is what I think of it. On the other hand, this book could be a gentle reminder to ignorant parents. They should be able to see that a child is a human being who deserves their attention, and sometimes children are capable of things beyond older people’s comprehension.

In the end, MAYBE this is the message of Matilda:

Family is people whom you should always go home to if they are good people.
If they are bad people, then you can go home to other people who are nicer to you, form a bond with them, not by blood, but by heart.

P.S.: “MAYBE” means even though I wrote these words, it doesn’t mean that I agree with it.

27th review for The Classics Club Project / 8th review for Books in English Reading Challenge 2013 / 11th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 / 7th review for New Authors Reading Challenge 2013 / 3rd review for Fun Year with Children’s Literature event

Book details:

Matilda, by Roald Dahl
240 pages, published March 1992 by Heinemann (first published August 1988)
My rating: ♥ ♥ ♥


Movie Review:

matilda darls chickens
If you enjoy Home Alone franchise, then you would probably like the 1996 adaptation of Matilda as well. Directed by Danny DeVito, the movie is quite faithful to the original story, and was successful in bringing into life the abominable Miss Trunchbull and also the delicate Miss Honey. Matilda was pictured older than she actually was in the book (and rather gloomier than in the book, I think). One major difference between the book and the movie is that in the movie Matilda still has her powers after the whole business with Miss Trunchbull was over. In the book, she lost her powers—and she was glad about it. I think I prefer the ending in the book than in the movie.

Matilda (1996) on IMDb

Harry Potter and the Prisoner of Azkaban – J.K. Rowling

hp 3 cover

“I solemnly swear that I am up to no good.”

 

Harry Potter yang kini berusia tiga belas tahun sedang dalam masalah besar. Ia tak sengaja menggelembungkan bibinya yang menyebalkan, Bibi Marge. Peristiwa itu mendorongnya kabur dari Privet Drive dengan membawa koper besarnya dan sangkar Hedwig. Harry kemudian terjatuh dan hampir tergilas oleh Bus Ksatria ketika ia melihat sesosok makhluk hitam besar yang menyeramkan. Sesampainya Harry di Leaky Cauldron, ia disambut oleh sang Menteri Sihir sendiri, Cornelius Fudge. Betapa herannya Harry, masalah dengan Bibi Marge sudah terselesaikan dan Harry sendiri luput dari hukuman karena melakukan sihir secara tidak sengaja. Harry mendapat kesan bahwa sungguh aneh Menteri Sihir sendiri yang mengurusi perkara remeh seperti dirinya. Dia belum tahu bahwa narapidana Azkaban yang meloloskan diri—Sirius Black—yang adalah tangan kanan Voldemort, konon mengincar dirinya. Harry dan kawan-kawan pun kembali ke Hogwarts yang telah diberi pengamanan ekstra oleh para Dementor Azkaban yang mengerikan. Hogwarts tak terasa seperti rumah yang aman lagi, dan nyawa Harry terancam. Murid-murid Hogwarts dicekam teror ketika tersiar kabar bahwa Sirius Black telah menyusup ke dalam Hogwarts. Ini hanya berarti satu kemungkinan—bahwa ada pengkhianat di antara mereka yang membiarkan Black masuk ke dalam Hogwarts…

Yang baru dalam buku ini:

–          Bus Ksatria, yang adalah alat transportasi bagi penyihir yang tersesat. Bus dua tingkat berwarna ungu cerah ini bukannya terisi oleh bangku-bangku penumpang, tapi beberapa tempat tidur. Bus ini bisa melompat dari tempat satu ke tempat lain dan segala benda: pohon, rumah, kotak pos—melompat menghindari bus ini yang sedang meluncur dengan serabutan. Seru kali ya, kalau di dunia nyata benar-benar ada bus seperti Bus Ksatria…

–          Dementor, penjaga Azkaban yang menyeramkan. Rupa mereka seperti orang tinggi berjubah hitam dengan tangan basah berkeropeng terjulur. Mereka menghisap segala kebahagiaan dari manusia yang ada di sekitarnya, dan membawa dampak lebih buruk kepada mereka yang mempunyai teror di masa lalu, seperti Harry.

–          Profesor Lupin, guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang baru. Meskipun beliau selalu tampak lusuh dan sering sakit, Lupin adalah guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam terbaik yang Harry dan kawan-kawan pernah miliki. Lupin nantinya mengajari Harry mantra Patronus yang berguna untuk mengusir Dementor.

–          Crookshanks, kucing jingga berekor sikat-botol milik Hermione. Crookshanks sangat ganas terhadap Scabbers, tikus Ron, yang sekarang tampak kurus dan mengenaskan setelah pulang berlibur di Mesir bersama keluarga Weasley. Hal ini membuat Ron dan Hermione banyak bersitegang di dalam buku…

–          Hagrid menjadi guru Pemeliharaan Satwa Gaib yang baru. Pelajaran pertama mereka sangat mengesankan—Hagrid membawa sekawanan Hippogriff sebagai obyek pelajaran mereka, namun sayangnya pelajaran pertama ini dikacaukan oleh ulah Draco Malfoy.

–          Profesor Trelawney, guru Ramalan. Wanita yang kelihatan seperti serangga besar berkilauan ini meramalkan kematian Harry dengan pertanda Grim, anjing hitam besar penjaga kuburan.

–          Desa Hogsmeade, pemukiman sihir terbesar di seluruh Inggris. Murid-murid Hogwarts diijinkan untuk rekreasi ke desa ini pada waktu-waktu tertentu. Di Hogsmeade ada banyak tempat menarik, mulai dari toko permen Honeydukes, Zonko’s Joke Shop, tempat minum Three Broomsticks, sampai dengan Shrieking Shack, tempat paling berhantu di seluruh Inggris.

–          Peta Perampok, yang berisi peta Hogwarts lengkap dengan lorong-lorong rahasia yang belum pernah ditelusuri Harry dan titik-titik berlabel yang menunjukkan setiap orang yang ada di Hogwarts.

–          Dan beberapa hal lain yang kalau dishare di sini bisa jadi spoiler….

Angka tiga adalah angka favorit saya, tapi buku ketiga Harry Potter ini sayangnya bukan favorit saya. Rasanya di paruh kedua buku cerita mulai agak hambar dan endingnya antiklimaks. Yah, but it’s still OK. JKR still amazes me as usual. 🙂 Di buku ketiga ini kisah tentang Harry mulai gelap dan cenderung seram, walaupun tetap ada bagian lucu-lucunya. Yang menarik dari buku ini menurut saya adalah perkembangan hubungan persahabatan antara Harry, Ron dan Hermione. Kadang-kadang pertengkaran hebat yang terjadi dengan sahabat justru malah akan merekatkan persahabatan itu lebih erat lagi… Dengan adanya segala tantangan yang mereka hadapi, mereka jadi semakin teguh berdiri di samping satu sama lain dan saling membantu. That’s what friends are for… :’)

Memorable Quotes:

“Itu menandakan bahwa yang paling kautakuti adalah—ketakutan itu sendiri. Sangat bijaksana, Harry.” – Lupin

“…tapi aku harus bilang kalian, aku kira kalian berdua akan hargai teman kalian lebih daripada sapu atau tikus. Cuma itu.” – Hagrid, menanggapi pertengkaran antara Ron dan Harry dengan Hermione

“Kaupikir orang-orang yang kita cintai, yang meninggal, benar-benar meninggalkan kita? Menurutmu tidakkah kita malah mengingatnya dengan lebih jelas daripada kapan pun, waktu kita dalam kesulitan besar? Ayahmu hidup dalam dirimu, Harry, dan menunjukkan dirinya paling jelas waktu kau membutuhkannya.” – Dumbledore

Dan….

“Mischief managed.” 😉

***

Detail buku:

Harry Potter dan Tawanan Azkaban (judul asli: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
544 halaman, diterbitkan Maret 2001 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1999)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

6th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 2nd review for Read Big Challenge

 hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Senin, tanggal 1 April 2013 pukul 23.59 WIB.



The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick

hugo cabret

Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di Stasiun Kota Paris pada tahun 1930an. Ia bekerja memutar dan merawat kedua puluh tujuh jam yang ada di stasiun itu tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa dialah yang melakukannya. Sebelumnya, Hugo tinggal bersama ayahnya, seorang pembuat jam yang bekerja paruh waktu di sebuah museum tua. Suatu ketika ayah Hugo menemukan barang langka, mesin paling rumit dan paling indah yang pernah dilihatnya—sebuah automaton yang rusak. Automaton itu berbentuk seperti manusia berukuran kecil yang sedang duduk sementara tangannya di atas meja, siap menulis. Ya, automaton yang menakjubkan itu bisa menulis! Malangnya, ayah Hugo meninggal dalam kebakaran museum tua itu, dan meninggalkan Hugo dalam pengawasan saudaranya, Paman Claude. Dari Paman Claude-lah Hugo belajar merawat semua jam di stasiun, dan ketika Paman Claude menghilang Hugo-lah yang melanjutkan pekerjaannya.

Walaupun ayahnya telah tiada, Hugo bertekad memperbaiki automaton itu dengan dengan bermodalkan buku catatan kecil peninggalan sang ayah. Entah bagaimana, ia merasa bahwa si automaton akan menuliskan pesan yang berasal dari ayahnya, jika benda itu sudah diperbaiki. Demi memperbaiki si automaton, Hugo pun mencuri bagian-bagian kecil mesin dari toko mainan milik seorang pria tua bernama Georges di stasiun. Pada suatu hari aksinya ketahuan, dan si pria tua membawa buku catatan kecil milik Hugo dan mengancam akan membakarnya. Hugo mengikuti pria tua itu sampai ke rumahnya, dan bertemu dengan Isabelle, anak baptis si pria tua. Isabelle berjanji untuk mencari buku catatan itu dan memastikan bahwa Papa Georges (alias si pria tua) tidak membakarnya. Dari sanalah Hugo dan Isabelle menjadi sahabat, dan bersama-sama mereka menemukan siapakah sesungguhnya Papa Georges, apa sebenarnya pesan yang disimpan oleh automaton itu dan hubungannya dengan ayah Hugo dan juga Papa Georges. Mereka berdualah yang membuka kunci sebuah rahasia yang tersimpan rapat selama bertahun-tahun…

***

Yang membuat buku ini istimewa tentu saja adalah ilustrasi-ilustrasi karya Brian Selznick yang memenuhi hampir seluruh buku. Goresan-goresannya begitu tajam dan nyata, dan begitu detail sehingga saya merasa bahwa sebagian pekerjaan sinematografer ketika mengadaptasi buku ini ke film sudah dikerjakan oleh Selznick. Keistimewaan yang kedua adalah, buku ini merupakan cara yang sangat bagus untuk memperkenalkan sosok yang sudah lama terlupakan (dalam hal ini Georges Méliès yang merupakan salah satu filmmaker pertama dalam sejarah yang terkenal akan inovasi special effects-nya) khususnya kepada anak-anak. Untuk orang dewasa yang sudah mengetahui sejarah tentang Georges Méliès ataupun yang belum, buku ini juga bisa menjadi pengantar yang cukup menghibur. Untuk cerita maupun gaya penulisannya, bagi saya tidak terlalu istimewa. Dengan adanya banyak gambar, rasanya buku ini cocok untuk anak-anak berusia mulai tujuh tahun, lebih bagus kalau orang tua yang membacakannya dan membimbing sehingga anak tidak perlu pusing akan istilah-istilah mekanis dalam buku dan lebih berkonsentrasi pada ceritanya. Di bawah ini adalah foto beberapa ilustrasi di dalam buku ini:

20130131_200621

20130226_221510

Kalau boleh jujur, saya berpendapat bahwa adaptasi film dari buku ini yang diberi judul Hugo (rilis tahun 2011) lebih bagus daripada bukunya. Walaupun filmnya agak berbeda dengan buku di banyak bagian, misalnya hubungan Hugo dan Isabelle lebih “rukun” di film daripada di buku, karakter Polisi Stasiun di film (diperankan oleh Sacha Baron Cohen) digambarkan lebih lucu dan komikal dan bahkan ada porsi romancenya sedikit, dan juga aura filmnya cenderung lebih ceria sedangkan bukunya lebih gloomy. Film Hugo diisi oleh sederet cast yang mengesankan: aktor kawakan pemenang Oscar Ben Kingsley sebagai Georges Méliès, Jude Law sebagai ayah Hugo, Asa Butterfield sebagai Hugo dan Chloe Grace Moretz sebagai Isabelle, Christopher Lee sebagai Monsieur Labisse, dan disutradarai oleh Martin Scorsese. Film ini adalah nomine Best Motion Picture of the Year Academy Awards tahun 2012, dan menang dalam beberapa kategori, yaitu Best Art Direction, Best Cinematography, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, dan Best Visual Effects. (sumber: IMDb)

Back to the book. After all, I think this book is an amazing way to relive the past, and to give a tribute for someone who shouldn’t be forgotten, someone like Georges Méliès.

Memorable Quotes

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” – Hugo, halaman 388

“Kalau kamu bertanya-tanya dari mana asal mimpi-mimpimu ketika kamu tidur pada malam hari, lihat saja di sekitar sini. Di tempat inilah mimpi-mimpi itu dibuat.” — Georges Méliès, halaman 397

20130226_223946

Lebih banyak tentang Georges Méliès – Wikipedia

***

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2013 tema buku yang adaptasi filmnya masuk nominasi/memenangkan piala Oscar

5th review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 4th review for New Authors Reading Challenge 2013 | 2nd review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Books in France 2013 Reading Challenge | 1st review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction

Detail buku:

The Invention of Hugo Cabret, oleh Brian Selznick
544 halaman, diterbitkan Januari 2012 oleh Mizan Fantasi (pertama kali diterbitkan tahun 2007)
My rating: ♥ ♥ ♥

Harry Potter and the Chamber of Secrets – J.K. Rowling

HP2 cover

“Matanya sehijau acar kodok segar,

Rambutnya sehitam papan tulis.

Ingin sekali aku memilikinya,

Dia sungguh luar biasa,

Pahlawan yang mengalahkan

Pangeran Kegelapan.”

Bocah penyihir jagoan kita kembali ke Hogwarts untuk menempuh tahun keduanya. Namun sebelum ia bisa benar-benar kembali ke Hogwarts, Harry Potter harus melalui serangkaian peristiwa dan rintangan. Salah satunya kemunculan Dobby si peri-rumah yang melakukan segala cara supaya Harry tidak kembali ke Hogwarts, karena “akan ada hal-hal mengerikan yang terjadi di Hogwarts tahun ini.” Untunglah Ron, Fred, dan George datang menjemput Harry dengan mobil terbang yang disihir Mr. Weasley dan membawanya ke The Burrow. Dari sana ia membeli segala perlengkapan sekolah yang diperlukannya di Diagon Alley bersama keluarga Weasley. Jalan Harry menuju Hogwarts lagi-lagi terhalang ketika ia dan Ron tidak bisa menembus palang rintangan di Peron 9 ¾ Stasiun King’s Cross. Dengan nekat, mereka menerbangkan mobil Ford Anglia milik Mr. Weasley ke Hogwarts, terlihat oleh Muggle, nyaris remuk dihantam Dedalu Perkasa, dan akhirnya menerima detensi. Hogwarts punya guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam baru, Gilderoy Lockhart, penyihir pria berambut pirang tampan yang sangat narsis dan menjengkelkan sebagian besar guru dan siswa Hogwarts. Lalu, apa yang disebut Dobby sebagai “hal-hal paling mengerikan” mulai terjadi. Harry mendengar bisikan-bisikan dari suara tanpa tubuh dan kucing Filch, Mrs Norris diserang hingga Membatu. Serangan terhadap Mrs Norris dilengkapi dengan pesan: “Kamar Rahasia Telah Dibuka. Musuh Sang Pewaris, Waspadalah.” Dari situ pelan-pelan terkuak legenda tentang Kamar Rahasia yang dibangun salah satu pendiri Hogwarts, Salazar Slytherin. Konon, Slytherin menyembunyikan suatu monster untuk mengeliminasi siswa-siswa yang “tidak layak belajar di Hogwarts” menurut ukuran Slytherin. Sementara kebenaran tentang Kamar Rahasia tidak kunjung bisa dibuktikan, serangan-serangan terus terjadi. Korban-korban yang dibuat Membatu berikutnya adalah Colin Creevey, Justin Finch-Fletchley, hantu Nick si-Kepala-Nyaris-Putus, Penelope Clearwater dan Hermione. Semua siswa yang menjadi korban adalah mereka yang disebut “darah-lumpur” yaitu penyihir-penyihir kelahiran-Muggle. Harry dan Ron bertekad memecahkan misteri Kamar Rahasia dan apa yang ada di dalamnya, walaupun harus melanggar seratus peraturan sekolah, menantang bahaya, dan berhadapan dengan ketakutan mereka yang terbesar.

Ini buku kedua yang merupakan perkenalan pertama saya dengan Harry Potter. Menurut saya, jika dibandingkan dengan buku pertama, buku ini lebih sarat petualangan, penuh kejutan dan lebih mengasyikkan. Saya juga menemukan beberapa detail kecil yang terlewat, beberapa adalah referensi ke buku-buku berikutnya. (Correct me if I’m wrong ya!)

Missed Details

  1. Ketika Harry berada di Borgin & Burkes dan sedang bersembunyi dari Draco dan ayahnya, ia melihat Draco mengamati seuntai kalung opal yang bagus sekali dengan kartu yang bertulisan: Hati-hati: Jangan Sentuh—Sampai Hari Ini Sudah Minta Korban Sembilan Belas Muggle Pemiliknya. Draco di tahun keenam menyelundupkan kalung ini ke Hogwarts dan membuat Katie Bell terkena dampak kutukannya.
  2. Saat Harry berada dalam kantor Filch, ia mendengar Filch berkata pada Mrs Norris, “Lemari yang bisa menghilang itu sangat berharga!” Apakah ini lemari yang sama yang ada di buku keenam?
  3. Profesor Flitwick juara duel sewaktu masih muda. This proves that he deserves more fans! *tendang Gilderoy Lockhart sampe ke Kamar Rahasia*
  4. Di meme bulan Januari lalu dengan tema guru favorit, saya meninggalkan komen di salah satu post yang memilih Dumbledore (lupa post yang mana) bunyinya: sayang sekali ya kita nggak pernah tahu Dumbledore mengajar apa. Wow… ternyata saya salah besar. Di buku kedua ini kita tahu bahwa Dumbledore mengajar Transfigurasi. Itulah untungnya re-read… 😉
  5. Mantra Pelepas Senjata (“Expelliarmus!”)—yang kemudian jadi andalan Harry dalam bertarung melawan Voldemort atau anak buahnya—pertama kali dikenalkan lewat sosok… tidak lain dan tidak bukan adalah Profesor Snape.

Memorable Quotes

“Harry—kupikir aku baru saja mengerti! Aku harus ke perpustakaan!”

Dan dia berlari menaiki tangga.

Apa yang dia mengerti?” tanya Harry bingung, masih memandang berkeliling, mencoba menebak dari mana datangnya suara itu.

“Jauh lebih banyak daripada yang kupahami,” kata Ron geleng-geleng kepala.

“Tetapi kenapa dia harus ke perpustakaan?”

“Karena itulah yang dilakukan Hermione,” kata Ron, mengangkat bahu. “Kalau ragu-ragu, pergi ke perpustakaan.” – hal 316-317 (Don’t you just LOVE Hermione?)

“Meskipun demikian,” kata Dumbledore, berbicara sangat lambat dan jelas, sehingga tak seorang pun dari mereka tidak menangkap ucapannya, “kau akan tahu bahwa aku hanya akan benar-benar meninggalkan sekolah ini kalau sudah tidak ada lagi yang setia kepadaku di sini. Kau juga akan tahu bahwa bantuan akan selalu diberikan di Hogwarts kepada siapa pun yang memintanya.” – hal 327

“Pilihan kitalah, Harry, yang menunjukkan orang seperti apa sebenarnya kita, lebih dari kemampuan kita.” – Dumbledore, hal 414

***

Detail buku:

Harry Potter dan Kamar Rahasia (judul asli: Harry Potter and the Chamber of Secrets), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
432 halaman, diterbitkan November 2000 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1998)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Review ini juga diikutsertakan dalam What’s in a Name Reading Challenge 2013 (buku #4)

hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Senin, tanggal 4 Maret 2013 pukul 23.59 WIB.



The Adventures of Tom Sawyer – Mark Twain

tom sawyer

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Seluruh kepribadian seorang Tom Sawyer bisa disingkat dalam dua kata: anak bandel. Lihat saja bagaimana ia mengerjai temannya Ben Rogers yang sedang lewat sambil menggigit apel ketika Tom sedang melabur pagar di hari Sabtu di musim panas (hukuman dari Bibi Polly karena kenakalannya). Dengan siasat cerdik, akhirnya Ben yang bekerja melabur pagar sementara Tom bersantai dan menghabiskan apelnya. Lihat saja bagaimana dengan siasat cerdik lainnya, Tom berhasil mendapatkan sebuah Alkitab tanpa harus menghapalkan isinya, seperti yang telah anak-anak lainnya lakukan. Dan lihat saja bagaimana Tom dan sahabatnya Huckleberry Finn nekat mendatangi pemakaman pada tengah malam gara-gara percaya takhayul, dan tidak sengaja menjadi saksi sebuah perampokan makam dan sebuah pembunuhan. Dan tidak hanya itu… ternyata gerombolan penjahat itu menyembunyikan sejumlah harta rampasan entah dimana. Biarpun merasa takut setengah mati terhadap Joe Indian yang melakukan pembunuhan di makam, Tom dan Huck berniat untuk menemukan harta itu. Juga ada cerita petualangan Tom dan kawan-kawan bermain “menjadi bajak laut”, dan juga kisah cinta monyet yang bikin gemes antara Tom dan anak perempuan hakim setempat, Becky Thatcher.

Ya, Tom memang anak bandel. Tapi, jangan berpikiran buruk dulu ketika mendengar kata “anak bandel.” Tom sesungguhnya hanya seorang bocah lelaki yang, ehm… agak kelebihan energi? Suka berkhayal? Punya rasa ingin tahu yang besar (alias kepo)? Pemberani (bahkan cenderung nekat)? Tukang cari perhatian? Yah, sesungguhnya jika kita membaca kisah Tom, pasti kita bisa menemukan sebagian dari diri kita saat masih kecil. Saat masih kecil kita juga suka kelebihan energi, suka berkhayal, suka kepo, kadang-kadang nekat dan suka cari perhatian. Sungguh, ini salah satu buku yang membuat saya kangen akan masa kecil.

Google doodle tanggal 30 November 2011, memperingati HUT Mark Twain ke-176

Google doodle tanggal 30 November 2011, memperingati HUT Mark Twain ke-176

Moral of the story? Kalau seorang anak bandel, belum tentu berarti ia jahat. Hanya memang perlu pendekatan khusus untuk meladeni anak seperti ini (pendekatan yang bagaimana? Saya sendiri nggak tahu, belum pernah punya anak sih! :D). Yang jelas membatasi seorang anak secara berlebihan sama sekali bukan solusinya. Kalau kata iklan sabun cuci “nggak kotor, nggak belajar!” demikian juga kalau seorang anak sedikit-sedikit tidak boleh ini tidak boleh itu, maka ketika ia tumbuh besar bisa jadi ia menjadi penakut, kurang kreatif, atau kurang pergaulan. Saya suka dengan karakter Bibi Polly yang di satu sisi sangat tegas dan ketat terhadap Tom, tapi sebenarnya ia sangat menyayangi anak lelaki tersebut.

1360676368606

bookmarknya lucu!

Ada beberapa versi terjemahan The Adventures of Tom Sawyer yang diterbitkan beberapa penerbit yang berbeda di Indonesia, namun pilihan saya jatuh kepada versi Penerbit Atria semata-mata karena (jujur saja) covernya yang lebih menarik dari 2 versi Tom Sawyer terbitan penerbit lain. Cover versi Atria lebih berwarna dan menarik di mata anak-anak, dan ilustrasi Tom di cover dan bookmark betul-betul punya ekspresi “bandel”. Terjemahannya tidak mengecewakan, hanya saja ada kesalahan di halaman 118, “Tom dan Sid” seharusnya “Tom dan Huck”. Sayangnya, Atria tidak menerbitkan terjemahan The Adventures of Huckleberry Finn yang boleh dibilang adalah sekuel dari Tom Sawyer (walaupun masing-masing buku bisa dibaca secara independen). Mark Twain sukses besar dalam menggali pikiran seorang bocah lelaki dan menuangkannya di atas kertas. Saya suka banget gaya penulisannya yang witty. Secara keseluruhan, buku ini sangat menghibur baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Karena ada sedikit konten kekerasan di dalamnya, dan belum lagi berbagai macam kebandelan Tom, maka menurut saya buku ini cocok dibaca anak-anak berusia 11 tahun ke atas.

Detail buku:

The Adventures of Tom Sawyer, oleh Mark Twain
386 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1876)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

 


Review in English:

Tom Sawyer. What a naughty little boy. Just see how he tricked his friend Ben Rogers who was passing by when Tom was painting the fence. It was a punishment from Aunt Polly that Tom must do, but with a clever trick Tom got Ben to do his work while he ate Ben’s apple. And just see how Tom managed to get a Bible without having to memorize its verses, like other children did. And just see how belief in superstition made Tom and his friend Huckleberry Finn came to a graveyard in midnight just in time to be witnesses of a grave robbery, and a murder. That’s not all, the grave robbers turned out to keep a hidden treasure somewhere, and despite being afraid of Joe Indian who committed the murder, they made up a plan to search for the treasure. There was also the story about Tom and his friends’ adventure as “pirates” and the story about Tom’s crush, the cute and irresistible Becky Thatcher.

Moral of the story? A naughty boy doesn’t necessarily mean that he’s evil. Kids will be kids, sometimes they have too much energy, too much imagination, too much curiosity, too much nerve, and they need attention. Reading this made me miss childhood very much, and I can find myself in Tom: I was once had too much energy, imagination, and curiosity, and even though I didn’t have Tom’s nerve, I was once an ultimate attention-seeker. Honest. Hahaha. Overall, The Adventures of Tom Sawyer is a really entertaining read to both children and adults. Btw, I love the cover of the Indonesian version I read. You can see Tom’s naughty face on it. Do you agree?


21st review for The Classics Club Project | 3rd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013  | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for 2013 TBR Pile Challenge | 1st review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Back to the Classics 2013

Harry Potter and the Sorcerer’s Stone – J.K. Rowling

Siapakah tokoh fiksi terbaik dalam sastra Inggris yang pernah diciptakan?

“Bukankah sudah jelas? Pencipta kami, William Shakespeare, telah menciptakan banyak sekali karakter fiksi sepanjang hidupnya, namun tidak ada yang seterkenal kami. Kisah cinta kami yang tragis tidak ada bandingannya!” sesumbar Romeo, sambil menggandeng Juliet yang tersenyum mendukung di sampingnya.

“Ya, benar, kisah cinta yang terinspirasi dari sumber lain!” sergah seorang pria berpenampilan bangsawan yang kelihatan angkuh. “Jika kau menanyakan kepada kaum perempuan sampai abad ini, siapa karakter fiksi yang ingin mereka nikahi, mereka akan memberikan namaku sebagai jawabannya. Dan jika kau mencari sebuah kisah cinta yang hidup sepanjang masa, masa kisah cintaku dan istrikulah jawabannya!”

“Tapi siapakah anda, Tuan?” tanya Romeo.

“Aku Fitzwilliam Darcy,” jawab si lelaki sambil membusungkan dada. “Dan itu istriku yang cantik, Elizabeth Bennet. Jane Austen-lah yang menciptakan kami.”

“Kisah cinta. Bah!” Yang mengucapkan ini adalah seorang pria yang berada agak jauh dari mereka, tersembunyi di balik asap yang membumbung dari pipa yang sedang diisapnya. Ia mendekat, lalu melanjutkan, “Siapa butuh kisah cinta ketika kau punya kemampuan untuk memecahkan segala kasus, bahkan yang paling misterius dan mustahil sekalipun? Tak diragukan lagi, pasti aku, Sherlock Holmes, adalah karakter fiksi terhebat yang pernah diciptakan. Sejak penciptaku, Sir Arthur Conan Doyle,  memutuskan untuk membunuhku di Reichenbach Fall dan kemudian membangkitkanku kembali, sejak saat itu aku tak pernah mati.”

Saat keempat tokoh fiksi lainnya sedang terpana dengan khotbah singkat Sherlock Holmes mengenai kehebatannya, seorang bocah lelaki, kira-kira berumur sebelas tahun, diam-diam berjalan mendekati mereka. Posturnya agak pendek, kurus, dengan rambut hitam pekat dan sepasang mata hijau. Dan mereka juga menyadari, ada bekas luka berbentuk sambaran kilat di keningnya.

“Siapa kau, bocah?” tanya Sherlock.

“Namaku Harry Potter.”

“Dan sedang apa kau disini?” tanya Mr. Darcy.

“Bergabung dengan kalian,” jawab Harry Potter muda. Ia mungkin masih bocah, tapi ada aura keberanian dan keyakinan yang kuat dalam tatapan mata dan suaranya yang membuat kelima orang itu ingin menyimak apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

“Kalian kan tokoh fiksi terbaik yang pernah diciptakan dalam sastra Inggris. Aku salah satunya.”

Para wanita kelihatan kaget, dan para pria mengeluarkan gerutuan tak jelas.

“Tapi, kami tetap tidak tahu siapa kau,” Elizabeth Bennet akhirnya berbicara.

“Aku seorang penyihir, yang lahir dan dibesarkan dalam dunia Muggle. Muggle adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan sihir,” jelasnya.

“Wah, mereka selalu membakar penyihir di jaman kami!” seru Elizabeth, agak ketakutan.

“Tidak di masaku,” jawab Harry. “Lagipula, ada penyihir jahat dan penyihir baik, dan aku salah satu yang termasuk penyihir baik.” * (lihat note)

“Ada tujuh buah buku yang memuat kisahku. Di buku pertama, aku baru saja mengetahui bahwa aku ini penyihir ketika aku berulang tahun yang kesebelas. Hagrid, pemegang kunci Sekolah Sihir Hogwarts yang memberitahuku. Hagrid lalu membantuku menyiapkan segala keperluanku sebelum masuk Hogwarts.  Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku bebas dari keluarga Dursley, keluarga Muggle yang membesarkanku dengan sangat buruk. Aku juga akhirnya mengetahui bahwa aku ini terkenal. Itu karena aku lolos dari mantra maut yang dilancarkan kepadaku saat aku masih bayi oleh seorang penyihir hitam yang sangat jahat. Penyihir itu, namanya Lord Voldemort—namun kami para penyihir pada umumnya pantang menyebutkan namanya—membunuh ayah dan ibuku, namun ketika ia berusaha membunuhku, ia gagal dan mantra itu berbalik ke dirinya sendiri dan nyaris membinasakannya. Itu kenangan yang buruk dan menyakitkan untuk diingat, namun aku jadi terkenal gara-gara itu.”

“A-ayah dan ibumu dibunuh oleh penyihir jahat itu?” gagap Juliet. “Oh Harry, aku ikut berduka.”

Keempat tokoh lainnya pun mengungkapkan belasungkawa kepada Harry.

“Terima kasih, semuanya,” jawab Harry pelan,” namun ceritaku tidak berhenti sampai disitu. Di sekolahku, di Hogwarts, aku bertemu dua sahabat sejatiku. Yang pertama adalah anak lelaki berambut merah dengan wajah berbintik-bintik, Ron Weasley. Dan Hermione Granger, gadis kelahiran-Muggle yang otaknya lebih brilian daripada penyihir manapun seusianya. Kami mengalami berbagai petualangan, termasuk yang menyangkut Batu Bertuah yang disembunyikan di Hogwarts. Itu adalah Batu yang bisa membuatmu hidup abadi. Ternyata Voldemort yang setengah-hidup mengincar Batu itu supaya ia bisa hidup dan berkuasa kembali, dan ada mata-mata yang ia tempatkan di dalam Hogwarts. Kami bolak-balik bertatap muka dengan bahaya, aku bertemu langsung dengan wujud setengah-hidup Lord Voldemort, nyaris kehilangan nyawaku, namun kami semua berhasil lolos dari maut. Hal ini juga karena kepala sekolahku, penyihir tua yang bijak Albus Dumbledore. Kami belajar banyak kebijaksanaan dari beliau. Ini barulah cerita dalam buku pertama dari ketujuh buku yang menuliskan kisahku.”

Kelima tokoh lainnya terpesona dengan cerita yang dituturkan seorang Harry Potter. Keheningan lalu dipecahkan oleh Sherlock Holmes, yang berkata dengan pongah, “Bah, hanya tujuh buku! Penciptaku menuliskan lebih banyak buku dan cerita pendek tentangku daripada hanya tujuh buku!”

“Ah, diamlah, Mr. Holmes,” sambar Elizabeth, satu-satunya yang menjaga kepala dingin di antara mereka semua. “Kisahmu memang menarik, namun kisah Harry tampaknya tak kalah menariknya. Aku bisa melihat bahwa di dalamnya ada banyak petualangan, misteri, nilai-nilai persahabatan dan kebijaksanaan. Bahkan mungkin cinta, di buku-buku selanjutnya, saat dia sudah lebih besar.”

“Terima kasih, Madam,” jawab Harry. “Aku yakin apa yang kau ucapkan benar. Semua hal besar punya awal, dan yang baru kusampaikan hanyalah rangkuman dari kisahku dalam buku pertama. Kisahku dalam buku-buku selanjutnya akan semakin kompleks, semakin menarik, sekaligus makin misterius dan menantang. Dan terus menjadi lebih baik dengan setiap buku yang ada. Dan kalian perlu tahu juga, penciptaku, Madam J.K. Rowling, menjadi bilyuner karena menulis kisahku. Walau setelah itu, ia kehilangan status bilyunernya karena menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk amal.”

Romeo, Juliet, dan Elizabeth tak mampu menyembunyikan kekaguman mereka. Sedangkan Mr. Darcy dan Sherlock tetap memasang tampang angkuh dan pongah, namun di dalam hati mereka diam-diam mengakui bahwa bocah ini, kisahnya berpotensi untuk tetap hidup melampaui abad, sama seperti kisah mereka sendiri.

Note:

* Ini saya tulis hanya untuk mendukung keseluruhan cerita Harry Potter dan keperluan untuk menulis post ini. Saya pribadi berkeyakinan bahwa ilmu sihir, apapun warnanya, adalah jahat. But the main theme of Harry Potter isn’t (literally) magic, don’t you agree?

** Ditulis dengan rasa hormat kepada William Shakespeare, Jane Austen, Sir Arthur Conan Doyle, dan tentu saja J.K. Rowling.

***

Perkenalan pertama saya dengan Harry Potter sebenarnya bukan dari buku pertama, tapi buku keduanya dulu, Harry Potter and the Chamber of Secrets. Waktu itu tertarik sama gambar covernya sih (thumbs up for Mary Grand Pré!), dan saya juga membacanya agak terlambat, sekitar tahun 2000 atau 2001. Saya kira banyak orang yang seperti saya, jatuh cinta kepada buku atau kembali menemukan cinta kepada buku setelah membaca Harry Potter. Kalau saya pribadi, sebenarnya dari kecil sudah suka membaca, tapi karena stok bacaan terbatas akhirnya masa kecil hanya saya habiskan dengan Bobo, Donal Bebek, Tini, Tintin, dan Asterix. Lalu ketika mulai beranjak remaja saya mulai baca novel (kebanyakan teenlit yang setipe Princess Diaries-nya Meg Cabot) baru kemudian Harry Potter. Ada beberapa teman saya yang bahkan bilang bahwa mereka sebenarnya tidak suka baca novel, dengan perkecualian Harry Potter. Karena yang satu ini membuat mereka ketagihan, dan nggak bisa berhenti membacanya sampai tiba di akhir. Walaupun makin lama buku Harry Potter makin tebal, tetap dibeli dan dilahap saja karena udah terlanjur suka (saya juga seperti itu sih, dan makin parah di buku-buku terakhir, hahaha :D).

All great things have beginnings, so did Harry Potter. This is the beginning of the great story of Harry Potter. This was my “Hello, Harry.” How is your “Hello, Harry”?

HP1

Detail buku:

Harry Potter dan Batu Bertuah (judul asli: Harry Potter and the Philosopher’s Stone / Sorcerer’s Stone), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
384 halaman, diterbitkan September 2000 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1997)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Review ini juga diikutsertakan dalam What’s in a Name Reading Challenge 2013 (buku #1)

 hotter potter logo-1

Akhirnya! Review pertama dari seluruh rangkaian event Hotter Potter. Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan tanggal 31 Januari 2013 pukul 23.59 WIB.



The Jungle Book – Rudyard Kipling, and a Wrap-Up for A Victorian Celebration!

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Ini review yang harusnya ditulis berbulan-bulan yang lalu, tapi better late than never kan ya? 😉

Awalnya sukar untuk menghilangkan kesan “Disney-ish” dalam benak saya terhadap buku ini, apalagi karena covernya memang mengadaptasi film kartun The Jungle Book versi Disney. Namun ketika saya mulai membacanya, saya pun larut dalam suatu Rimba ciptaan Rudyard Kipling yang begitu liar dan begitu nyata.

Buku yang memuat gabungan cerpen dan puisi ini dibuka dengan ditemukannya bayi manusia di hutan rimba, yang kita kenal dengan nama Mowgli. Dalam cerpen Mowgli dan Saudara Serigala, anak manusia yang dimangsa oleh Shere Khan si Harimau Pincang dibela mati-matian oleh Mama dan Papa Serigala, dan malah nantinya merekalah yang membesarkan Mowgli yang licin tak berbulu. Tumbuh besar di Bukit Batuan di tengah-tengah saudara-saudara serigala, Mowgli diajarkan bagaimana hidup di Rimba oleh Beruang Hitam Baloo dan Macan Kumbang Hitam Bagheera. Pada saatnya nanti (di cerpen Harimau Harimau), Mowgli harus berhadapan sendiri dengan Shere Khan, yang dari awal sudah menetapkan hati untuk menghabisi Mowgli. Di dalam cerita Mowgli juga bertemu dengan Kaa, si ular piton sepanjang tiga puluh kaki yang ditakuti kaum monyet, namun sebenarnya baik hati dan ikut andil menyelamatkan nyawa Mowgli.

“Kita ini satu darah, kau dan aku,” jawab Mowgli. “Aku berutang nyawa padamu, malam ini. Buruanku akan menjadi buruanmu jika kau lapar, wahai Kaa.”

Klimaks kisah Mowgli diceritakan dengan gemilang dalam adegan pertarungan menegangkan antara Mowgli dan Shere Khan. Di cerita yang lain, Mowgli dikisahkan kembali hidup di desa bersama dengan saudara-saudara manusianya, tetapi ia tidak merasa betah dan rindu kembali ke Rimba, rindu saudara-saudara serigalanya. Mowgli tidak mengerti sistem kasta yang berlaku di dunia manusia, sehingga ia gampang saja mengulurkan tangan untuk membantu seorang pembuat tembikar yang kastanya lebih rendah daripadanya.

Tidak semua bagian dari The Jungle Book berkisah tentang Mowgli. Dalam cerpen Anjing Laut Putih, Kipling menceritakan tentang Kotick, seekor bayi anjing laut berkulit putih, di tengah suasana migrasi para anjing laut. Saat Kotick sudah lebih dewasa, ia berkeinginan untuk mencari pulau yang baru untuk migrasi yang jauh dari manusia. Walau sempat menemui pertentangan anjing laut-anjing laut lain, dengan berusaha keras akhirnya ia mampu mewujudkan cita-citanya.

Beirkutnya cerpen “Rikki-Tikki-Tavi” yang menceritakan petualangan Rikki-tikki-tavi, seekor mongoose, yang berjuang melindungi tuannya, keluarga manusia yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki bernama Teddy, dari serangan ular kobra Nag dan Nagaina. Buku ditutup dengan cerpen Toomai Sang Penakluk Gajah. Toomai Mungil dikisahkan sangat beruntung karena bisa menyaksikan Tarian Para Gajah di jantung Bukit Garo, sesuatu yang tidak pernah disaksikan manusia manapun sebelumnya!

Dari semua puisi di buku ini, yang dibawah ini termasuk favorit saya (“Perburuan Kaa”)

Macan cintai tutulnya,
Banteng bangga pada tanduknya.
Waspadalah, bagaimana ia sembunyi
itulah kekuatannya.
Kau tahu sapi bisa menendangmu,
tanduk tebal Sambhur menerjangmu
Tak perlu kami kau beritahu,
kami tahu sedari sepuluh musim lalu.
Jangan sakiti anak si hewan liar,
anggaplah ia saudara
Walau kecil dan montok,
Beruanglah ibunda mereka
“Tak ada yang kalahkan kami!” ujar si kecil
bangga saat pertama berburu
Rimba begitu luas dan ia begitu mungil.
Ajari ia diam dan tak sok tahu.

Walaupun berkisah tentang binatang, ada banyak nilai moral yang bisa diambil pembaca dari fabel ini. Misalnya tentang persaudaraan serigala yang begitu erat dan kuat, juga Hukum Rimba yang diceritakan adil bagi semua pihak. Tiga bintang bagi Rimba ciptaan Rudyard Kipling. Juga karena terjemahan oleh Anggun Prameswari yang enak dibaca. Jujur saja sebenarnya saya kurang suka cover “Disney-ish” buku ini, tapi OK lah kalau memang menyasar ke segmen anak-anak.

Detail buku:
“The Jungle Book”, oleh Rudyard Kipling
246 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1894)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

 At first it was hard to get rid the “Disney-ish” aura from this book. But as I started reading, I found that the author is drowning me into a world, to be more specific a Jungle, where it all felt wild and strangely real. This book contains short stories and poems, which the first short story introduced us to Mowgli, a son of man that was raised by wolves in the Jungle. In order to defeat his enemy, the tiger Shere Khan, Mowgli was being taught how to to live in the jungle and to fight by Bagheera the black panther and Baloo the bear. There are other stories that don’t tell readers about Mowgli, like The White Seal, Rikki-Tikki-Tavi, and Toomai of the Elephants. This work of fable has a moral tone that we humans could learn from. Take the strong bond of brotherhood of the wolves, and how The Rule of the Jungle is fair to every living being in it. Overall, I gave three stars for Rudyard Kipling’s The Jungle Book.

10th review for The Classics Club Project, 4th review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classic Bribe


This post also marks my wrap-up for A Victorian Celebration.

From the 9 books I intended to read at the beginning of the event, I was only able to finish 5:

The Happy Prince by Oscar Wilde

Little Lord Fauntleroy by Frances Hodgson Burnett

Just So Stories by Rudyard Kipling

The Jungle Book by Rudyard Kipling

And one non-English Victorian novel, which is Anna Karenina by Leo Tolstoy. I haven’t got enough time to write its review, along with a review of Great Expectations BBC miniseries (2011) that I intend to write also. I’ll be writing them very soon!

I also wrote one author focus on Rudyard Kipling (in Bahasa) for A Victorian Celebration. I’m glad I joined this event, even though I haven’t had enough time to finish all the books in my reading list, and honestly I’m still having difficulties in understanding some Victorian idioms (like those in Charlotte Brontë’s Villette). But well, that won’t keep me from reading more of them Victorian works! So you see, A Victorian Celebration isn’t over for me yet! 😉

Just So Stories – Rudyard Kipling

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Adakah buku yang membuatmu ingin mengulang kembali masa kanak-kanak? Setelah membaca buku yang satu ini, saya jadi berangan-angan kembali menjadi anak kecil, mendengarkan cerita-cerita ini dibacakan oleh ayah atau ibu saya sebagai dongeng pengantar tidur.

Kenapa paus tidak memakan manusia? Tahukah kamu bagaimana unta mendapatkan punuknya? Atau dari mana macan mendapatkan tutulnya? Mengapa gajah punya belalai yang panjang? Mengapa kanguru melompat dengan kaki belakangnya? Dan tahukah kamu tentang asal muasal alfabet? Pembaca akan dibuat geleng-geleng oleh kejeniusan Rudyard Kipling dalam buku setebal 160 halaman ini. Setiap cerpen dalam buku ini diakhiri dengan puisi  yang jenaka.

Berikut ini adalah dua belas judul cerpen yang terkandung dalam Just So Stories:

  1. Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia (How the Whale Got His Throat)
  2. Bagaimana Unta Mendapat Punuknya (How the Camel Got His Hump)
  3. Kenapa Kulit Badak Penuh Lipatan (How the Rhinoceros Got His Skin)
  4. Dari Mana Macan Mendapat Tutulnya (How the Leopard Got His Spots)
  5. Kisah Si Anak Gajah (The Elephant’s Child)
  6. Tuntutan Seekor Kanguru (The Sing-song of Old Man Kangaroo)
  7. Asal-Muasal Armadilo (The Beginning of the Armadillos)
  8. Surat Bergambar (How the First Letter was Written)
  9. Bagaimana Alfabet Dirumuskan (How the Alphabet was Made)
  10. Kepiting dan Lautan Luas (The Crab that Played with the Sea)
  11. Kucing Penyendiri (The Cat that Walked by Himself)
  12. Entakan Kaki Kupu-Kupu (The Butterfly that Stamped)

Dua belas pourquoi stories (cerita yang mengisahkan asal-usul sesuatu) karya  Kipling dalam kumcer Just So Stories ini pertama kali terbit tahun 1902. Edisi asli Just So Stories juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi goresan tangan Kipling sendiri. Sekarang, 110 tahun kemudian, Just So Stories bisa dinikmati dalam bahasa Indonesia (diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin, yang juga menerjemahkan Kisah-kisah Tengah Malam dan Fiksi Lotus Vol. 1) lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar ulang oleh Staven Andersen.

Mengapa harus digambar ulang? Setelah membandingkan dengan ilustrasi karya Kipling yang asli, saya mengambil kesimpulan bahwa dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar ulang, Just So Stories tampil lebih segar dan menarik.

Perhatikan perbandingan ilustrasi asli karya Kipling dan reinterpretasi oleh Staven Andersen di bawah ini.

Ilustrasi oleh Rudyard Kipling

Ilustrasi oleh Staven Andersen

Kipling bahkan menyebutkan beberapa nama pulau di Indonesia pada cerpen Kepiting dan Lautan Luas.

”Kun?”* tanya Penyu.

”Payah kun,”** kata Penyihir Tua; dan ia meniup pasir dan bebatuan itu hingga jatuh ke laut dan menjadi gugusan pulau yang indah, dan yang bernama Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Jawa, berikut pulau lain yang berada di sekitar daerah kepulauan Malaka. Kalian bisa mencari lokasi ini di peta!

* ”Apakah benar begini?”
** ”Sudah cukup benar.”

Hetih Rusli sang editor boleh berkata bahwa Just So Stories adalah hasil ”proyek senang-senang” yang dikerjakan bersama dengan penerjemah dan ilustrator, namun hasilnya saya pun bersenang-senang dan sangat menikmati membaca buku ini dari awal hingga akhir. Saya bisa membuka buku ini lagi minggu depan, lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi tanpa merasa bosan dengan isinya. Tiga bintang untuk kejeniusan om Rudyard Kipling, satu bintang untuk terjemahan mbak Maggie Tiojakin dan editan mbak Hetih Rusli yang apik, dan satu lagi bintang untuk Staven Andersen yang sudah menggoreskan ilustrasi-ilustrasi yang ciamik!

Rudyard Kipling (1865-1936) adalah novelis, cerpenis, penyair, dan jurnalis asal Inggris yang terkenal dengan kisah-kisah fabel dalam kumpulan cerita pendek The Jungle Book. Beliau meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1907. Lebih lanjut mengenai Rudyard Kipling baca di sini.

Detail buku:
“Just So Stories” (“Sekadar Cerita”), oleh Rudyard Kipling
160 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1902)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 


Conclusion:

Is there any book that makes you want to repeat childhood? After reading this book, I wish I could go back being a child and listen to my dad or mom reading aloud this book while I’m tucked in bed, getting ready to sleep. I just love these twelve hilarious pourquoi stories Rudyard Kipling wrote, along with the poems at the end of every short story.

This is the poem at the end of The Crab That Played with the Sea:

To Penang instead of Lagos,
Or a fat Shaw-Savill bore
Passengers to Singapore,
Or a White Star were to try a
Little trip to Sourabaya,
Or a B.S.A. went on
Past Natal to Cheribon,
Then great Mr. Lloyds would come
With a wire and drag them home!

Could it be that Kipling mentioned my hometown in this poem? Because here in Indonesia I live in a city called Surabaya. (wonder where in the world is Surabaya? Check out the map below!)

In this short story Kipling also mentioned a few islands of Indonesia as follows:

‘Kun?’ said All-the-Turtle-there-was.

‘Payah kun,’ said the Eldest Magician; and he breathed upon the sand and the rocks, where they had fallen in the sea, and they became the most beautiful islands of Borneo, Celebes, Sumatra, Java, and the rest of the Malay Archipelago, and you can look them out on the map!

I just love that.

In the Indonesian version of Just So Stories, Kipling’s original illustrations were re-interpreted by a local illustrator, Staven Andersen, and I must say that he did one hell of a job! (see the comparison at the middle of the post)

I could reread this book next week, five years from now, or ten years from now without feeling bored of its contents. Five stars for a book that I read with delightful enjoyment from the first until the last page.

Read Just So Stories online here –> http://boop.org/jan/justso/

9th review for The Classics Club Project, 3rd review for A Victorian Celebration, 5th review for The Classic Bribe