Fahrenheit 451 – Ray Bradbury

fahrenheit451

Fahrenheit 451 – the temperature at which book paper catches fire, and burns…

In the time where Guy Montag lives, the job of a fireman is not to stop a building to be caught in fire, but to start the fire. It was Montag’s job, along with all firemen, to burn houses that kept books inside. Montag was a man who lived the official firemen slogan to the fullest: “Monday burn Millay, Wednesday burn Whitman, Friday Faulkner, burn ‘em to ashes, then burn the ashes.” Well, Montag was a good fireman for ten years, until he met Clarisse McClellan, a weird seventeen-year-old girl whose family recently moved next door. An odd short rendezvous with Clarisse got Montag thinking, that a long time ago there was different time when books are not forbidden, people were not afraid and firemen had a different mission than what he does at present time. One simple question from Clarisse, “Are you happy?” led the reader to what kind of life Montag was having; empty, cold and dead. Love has withered. The human relationships have vanished. Nobody cares about each other anymore. “Family” was the television screens people installed in parlor walls of their houses. Human beings were merely empty heads and empty souls.

“Last night I thought about all the kerosene I’ve used in the past ten years. And I thought about books. And for the first time I realized that a man was behind each one of the books. A man had to think them up. A man had to take a long time to put them down on paper. And I’d never even thought that thought before.” He got out of bed.

“It took some man a lifetime maybe to put some of his thoughts down, looking around at the world and life, and then I come along in two minutes and boom! It’s all over.” – p. 51-52

Out of desperation, Montag decided to do something completely mad: steal a book from a fire and then search for an old acquaintance: a retired professor named Faber. Together they made up an impossible plan to relive the vanished books. Needless to say that Montag’s little game with fire made him caught the fire. Captain Beatty the chief fireman has been sniffing the strange conduct of Montag and arranged to burn Montag’s house and to chase him down. Montag ran away to the river and came to a dark land in the wilderness. There he met a few people who kept the books like Plato’s Republic and Gulliver’s Travels and books by Charles Darwin and Einstein and Schopenhauer and Albert Schweitzer and many others, not in print and papers but in their heads. It was in their hands the answer to the question: Is there any future for books?

***

I had one question before I start reading this book. It was: what is this book trying to tell the reader? And then after I finished reading it, that one question exploded to many; I was puzzled and confused. One great mystery for me is who Captain Beatty really was. I mean, his mind was obviously well-fed with books, and he talked like he loved books, but yet he burned them. And then what become of Clarisse? Her character was so much like a light in the dark that I longed to see her again throughout the book, but she never showed up. And then the ending. I felt like I want to shout, “Is that it?” In short, I cannot fully understand this book, with its lack of background details and such a weird style of writing (at least for me). But this book got some very good lines that we should never forget.

Faber sniffed the book. “Do you know that books smell like nutmeg or some spice from a foreign land? I loved to smell them when I was a boy. Lord, there were a lot of lovely books once, before we let them go.” – p. 81

“Books were only one type of receptacle where we stored a lot of things we were afraid we might forget. There is nothing magical in them at all. The magic is only in what books say, how they stitched the patches of the universe together into one garment for us.” – p. 82-83

“Do you know why books such as this are so important? Because they have quality. And what does the word quality mean? To me it means texture. This book has pores. It has features. This book can go under the microscope. You’d find life under the glass, streaming past in infinite profusion. The more pores, the more truthfully recorded details of life per square inch you can get on a sheet of paper, the more ‘literary’ you are. That’s my definition, anyway. Telling detail. Fresh detail. The good writers touch life often. The mediocre ones run a quick hand over her. The bad ones rape her and leave her for the flies.” – p. 83

What to conclude from those passages? I can only take a personal conclusion. Someone said to me once, “Read good books.” Henry David Thoreau once said, “Read the best books first, or you may not have a chance to read them at all.” Thanks, Mr. Bradbury, for reminding me about that.

Special thanks to Astrid for lending me this book. 😉

***

22nd review for The Classics Club Project | 3rd review for New Authors Reading Challenge 2013 | 2nd review for Books in English Reading Challenge 2013 | 3rd review for Back to the Classics 2013

Book details:

Fahrenheit 451, by Ray Bradbury
190 pages, published 2003 by Del Rey Books (Random House Publishing Group), first published on 1953
My rating: ♥ ♥ ♥

Nineteen-Eighty Four – George Orwell

[Review in Bahasa Indonesia and English]

“Kalau kamu ingin potret tentang masa depan itu, bayangkanlah sepatu bot yang menginjak wajah manusia—selama-lamanya.”

Selamat datang di Oceania. Tempat dimana Bung Besar berkuasa. Tempat dimana PERANG IALAH DAMAI, KEBEBASAN ADALAH PERBUDAKAN, dan KEBODOHAN IALAH KEKUATAN. Tempat dimana segala gerak-gerikmu diawasi oleh teleskrin. Tempat dimana perbendaharaan kata dalam bahasa diciutkan begitu rupa sehingga setiap kata yang melawan ortodoksi (kepatuhan penuh kepada Bung Besar) dipangkas habis.

Di Oceania inilah, tepatnya di London, Winston Smith hidup. Sebagai pegawai tekun dan andal yang bekerja di Kementerian Catatan dan sebagai anggota Partai Luar, Winston menghabiskan setiap hari dalam hidupnya menulis ulang artikel di koran The Times sehingga selalu seturut dengan agenda Partai. Hidup di Oceania yang terus menerus berperang, dalam pengawasan pemerintah yang maha hadir alias omnipresent, dan pengekangan individualisme dan kebebasan berpikir di bawah prinsip Sosing atau Ingsoc (English Socialism), suatu waktu Winston tidak kuasa menahan pemikiran mengenai suatu dunia sebelum Bung Besar berkuasa. Suatu dunia yang lain dengan dunia yang sekarang ini dikenalnya.

Winston menaruh harapan kepada O’Brien, salah satu anggota Partai Inti yang dicurigai Winston mempunyai pemikiran tak-ortodoks, dan adalah pengikut Emmanuel Goldstein yang menolak tirani Bung Besar, yang adalah pimpinan gerakan pemberontakan yang disebut Persaudaraan yang tidak jelas keberadaannya. O’Brien pernah berkata pada Winston, “Kita akan bertemu di tempat yang tidak ada kegelapan.” Seandainya saja Winston menemukan cara untuk berbicara kepada O’Brien mengenai mimpi yang dipendamnya! Namun dengan adanya teleskrin dan Polisi Pikiran yang mengawasi setiap tindakan, bahasa tubuh, dan kata-kata yang keluar dari mulut setiap orang, Winston mati kutu. Sedikit saja teleskrin mencium gelagat tak-ortodoks dari perilaku seseorang, itu bisa berarti orang tersebut akan diuapkan, yang berarti dihapus dari sejarah dan dianggap tidak pernah ada.

Pada suatu waktu, Winston dan rekan wanitanya Julia berkesempatan menghadap O’Brien tanpa diawasi teleskrin. Apakah O’Brien hendak mengundang mereka bergabung dalam Persaudaraan? Apakah Winston akan berperan dalam rencana penggulingan Bung Besar? Akankah Oceania pada akhirnya bebas?

“Kamu sadari bahwa masa silam, mulai dari kemarin, sudah sungguh-sungguh dihapus? […] Kita sudah tidak tahu apa-apa sama sekali tentang Revolusi dan tahun-tahun sebelum Revolusi. Semua catatan sudah dimusnahkan atau dipalsukan, setiap buku sudah ditulis ulang, setiap gambar telah dilukis atau dicat ulang, setiap patung dan jalan dan bangunan diberi nama baru, setiap hari dan tanggal kejadian sudah diubah. Dan proses itu terus berlangsung hari demi hari dan menit demi menit. Sejarah sudah berhenti. Tidak ada apa-apa lagi, kecuali suatu masa kini tanpa akhir yang di dalamnya Partai selalu benar.”

 

Tentang bahasa Newspeak:

Tidakkah kamu lihat bahwa seluruh tujuan Newspeak ialah menyempitkan lingkup pemikiran? Pada akhirnya nanti kita akan membuat kejahatan pikiran sungguh-sungguh tidak mungkin, karena tidak akan ada kata untuk mengungkapkannya. Setiap konsep yang diperlukan akan diungkapkan dengan satu kata saja, yang maknanya didefinisikan secara ketat dan kaku dan segala pengertian embel-embelnya dihapus dan dilupakan. […] Setiap tahun jumlah kata menyusut dan makin menyusut, dan lingkup kesadaran selalu dipersempit. Bahkan sekarang pun, tentunya, tidak ada dalih untuk melakukan kejahatan pikiran. Ini cuma soal disiplin diri, pengendalian realitas. Tapi pada akhirnya itu semua tidak perlu lagi. Revolusi akan rampung ketika bahasanya sempurna. Newspeak adalah Sosing dan Sosing adalah Newspeak.” […] “Menjelang 2050—lebih awal lagi mungkin—segala pengetahuan yang ada tentang Oldspeak sudah akan lenyap. Seluruh pustaka masa lalu sudah akan dihancurkan. Chaucer, Shakespeare, Milton, Byron—semuanya hanya akan ada dalam versi Newspeak-nya, tidak hanya berubah menjadi sesuatu yang lain tetapi sungguh-sungguh dijadikan sesuatu yang bertentangan dengan versi sebelumnya.”

Novel bergenre literary political fiction dan dystopian science-fiction yang pertama kali terbit tahun 1949 ini ditulis oleh George Orwell sebagai ramalan akan masa depan, dan merupakan satir tajam terhadap totalitarianisme. Orwell mengungkapkan berbahayanya kediktatoran pemerintah, baik yang beraliran kiri maupun kanan, melalui gambaran yang tak terbayangkan dan mengerikan mengenai Oceania, Sosing, bahasa Newspeak, konsep pikir-ganda (doublethink) dan Bung Besar (Big Brother). Buku yang sempat dilarang beredar di beberapa negara atas kontroversinya ini termasuk dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die, yang menjadi tema posting bareng BBI bulan Agustus. Dan apakah saya setuju bahwa buku ini harus dibaca sebelum anda menemui ajal? Jawabnya: ya. Karena menurut saya karya fiksi ini ada, sebagai suatu langkah peringatan, kalau tidak bisa disebut pencegahan, agar situasi di dalamnya jangan sampai terjadi di dunia nyata.

#postingbareng BBI bulan Agustus 2012 tema 1001 Books You Must Read Before You Die

Baca juga: Lasting Impression on Nineteen-Eighty Four (Eng)
Classic Author of July 2012: George Orwell (Ind)
Ulasan karakter Big Brother (Ind)

Detail buku:
Nineteen-Eighty-Four (1984), oleh George Orwell
585 halaman, diterbitkan tahun 2003 oleh Bentang Pustaka (pertama kali diterbitkan tahun 1949)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥


Review in English:

Welcome to Oceania. A world where Big Brother rules over everything and dictates everything. A world where WAR IS PEACE, FREEDOM IS SLAVERY, IGNORANCE IS STRENGTH. A world where you’re being watched 24 hours a day, 7 days a week. A world where there is no place for individualism and freedom to think, to act, to speak. A world where humanity is dead. George Orwell wrote this literary political and dystopian science-fiction novel as a grim picture of the future. Through this sharp satire to totalitarianism, Orwell pointed out the danger of dictatorial government whether it is left or right ideology in a depressing, frightening, and unimaginable description of Oceania, Ingsoc, Newspeak language, the concept of doublethink, and Big Brother himself. The book that has been widely banned for its controversial ideas is in the 1001 Books You Must Read Before You Die list. And do I, as a reader, agree that Nineteen-Eighty Four should be read before I die? The answer is yes. Because I think George Orwell meant this work to be a word of caution, if not prevention, so that the situation in his novel won’t come into reality.

12th review for The Classics Club Project, 8th review for The Classic Bribe

Mockingjay – Suzanne Collins

*** WARNING: THIS REVIEW INCLUDE SPOILERS ***

DYSTOPIA.
Produk dari kekuatan imajinasi manusia yang setelah mencapai utopia, masih belum puas juga dan akhirnya mengoyak batasan-batasan akal sehat dan meraih impian yang liar dan gila dengan memutarbalikkan utopia.
Mengapa harus ada dystopia? Apakah karena manusia semakin lama semakin jahat? Atau karena kemanusiaan kita makin lama makin digerogoti teknologi? Apakah karena Bumi sudah semakin tua, lelah, rusak parah akibat perbuatan manusia?

Inilah dunia dystopia yang diciptakan Suzanne Collins melalui trilogi The Hunger Games. Collins mengubah wajah negara yang tadinya adalah Amerika menjadi Panem, negara dengan tiga belas distrik dibawah pemerintahan ibukota Capitol. Jika di dua buku pertama trilogi ini, The Hunger Games dan Catching Fire, pembaca banyak disuguhi aksi mendebarkan dalam permainan maut Hunger Games dan Quarter Quell, maka Mockingjay sebagai sekuel penutup tidak kalah banyak menyimpan aksi. Namun sayangnya aksi yang dimiliki Mockingjay cenderung dingin dan tak berperasaan. Cerita masih berpusat pada Katniss Everdeen, pemenang dari Distrik Dua Belas, yang kali ini dielu-elukan sebagai simbol pemberontakan, sang Mockingjay. Setelah diloloskan dari Quarter Quell oleh kelompok pemberontak dari Distrik Tiga Belas yang sebelum ini diyakininya sudah musnah, setelah memulihkan keadaan fisiknya Katniss menjalani sesi-sesi latihan dalam kota bawah tanah di Distrik Tiga Belas untuk menjadikannya seorang pejuang. Pemberontak. Prajurit Everdeen.

Distrik Tiga Belas sungguh aneh. Semua orang berpakaian sama, berwarna abu-abu membosankan. Ada jadwal yang ditato di tanganmu yang memberitahumu apa saja yang akan (dan harus) kau lakukan hari ini. Makanan dijatah dan diberikan tanpa variasi, jangan harap bisa makan enak disini. Sama sekali tidak ada hiburan. Semua orang terkungkung di bawah tanah, yang mana beberapa orang tidak bisa menyukainya, termasuk Katniss yang suka berburu di hutan. Dan Tiga Belas memiliki Presiden Coin, pemimpin wanita yang penuh perhitungan, namun sebenarnya tidak kalah kejam dari Presiden Snow.

Siapakah Katniss dalam Mockingjay? Rasanya kok nggak jelas. Meskipun dialah simbol pemberontakan, dan apapun yang ia lakukan berdampak kepada Capitol dan seluruh Panem. Katniss sudah amat lelah secara fisik dan mental setelah melalui Hunger Games dan Quarter Quell, ditambah dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan dalam Mockingjay bebannya menjadi semakin berat karena setiap perbuatannya memiliki konsekuensi bahwa ada yang akan dihukum, entah orang itu dekat dengannya atau tidak. Si gadis yang terbakar jadi melempem dalam buku final ini.

Peeta berubah 180 derajat. Ia ditahan dan disiksa sedemikian rupa oleh Capitol, dan kemudian para pemberontak berhasil menculiknya dan membawanya ke Tiga Belas, hanya untuk menghadapi anak lelaki yang telah kacau pikirannya. Peeta telah dibajak. Dicuci otak. Segala kenangan masa lalunya, terutama yang berhubungan dengan Katniss, diobrak-abrik dengan racun tawon penjejak. Peeta yang baru ini melihat Katniss sebagai mutt (makhluk buas ciptaan Capitol), dan bernafsu membunuhnya.

Katniss depresi. Stres. Menderita gangguan mental. Namun sementara itu ia terus berperang bersama para pemberontak, merebut distrik-distrik. Seakan luka-luka yang dideritanya belum cukup banyak saja. Katniss menjadi boneka Coin, sang Mockingjay yang menyulutkan api pemberontakan ke seluruh distrik. Namun ia belum mengetahui, bahwa Coin punya rencana lain terkait dengan dirinya. Katniss punya satu tujuan yang menguasai benaknya, yaitu membunuh Presiden Snow dengan tangannya sendiri. Gale selalu ada disampingnya selama perjuangan, namun juga ada Peeta dengan pikirannya yang kacau. Di saat-saat paling tak memungkinkan inilah, Katniss akhirnya bisa menentukan perasaannya ditujukan kepada siapa. Tapi percuma saja ia memilih, karena ia tahu dirinya, Peeta, Gale, beserta semua orang lain yang terlibat perjuangan, tidak ditakdirkan untuk tetap hidup.

Kejam, dingin, brutal, sadis, melelahkan. Itulah Mockingjay. Penutup trilogi Hunger Games yang fenomenal ini jujur saja tidak memenuhi ekspektasi saya. Akhir dari perang di Capitol malah jadi antiklimaks. Penulis tidak menjabarkan banyak tentang perkembangan hubungan Katniss-Peeta, walaupun sudah membukanya dengan menarik dengan membuat ingatan Peeta kacau. Endingnya menguap begitu saja, walaupun epilognya cukup manis. Sang Mockingjay melakukan penerbangan terakhirnya dengan kelelahan luar biasa, dengan kondisi fisik dan mental yang sudah luluh lantak. Kemudian ia kandas begitu saja di tanah. Pada akhirnya, saya memberi 3 bintang buat Mockingjay, karena penulisan Collins masih mengagumkan dengan segala detailnya.

Dialog penutup Katniss-Peeta tidak akan mudah dilupakan.

“You love me. Real or not real?”
I tell him, “Real.”

Hanya tinggal satu pertanyaan tersisa buat kita renungkan.
Akankah suatu saat nanti, di saat dunia sudah sedemikian rusaknya dan tak bisa dikendalikan lagi, dystopia versi Collins menjadi nyata?

Detail buku:
“Mockingjay” (The Hunger Games, #3), oleh Suzanne Collins
432 halaman, diterbitkan 12 Januari 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

Catching Fire – Suzanne Collins

Tersulut - Catching Fire (Hunger Games, #2)Tersulut – Catching Fire by Suzanne Collins
My rating: 5 of 5 stars

Dan The Hunger Games pun berlanjut…
Katniss Everdeen dan Peeta Mellark keluar sebagai pemenang Hunger Games ke-74. Untuk pertama kalinya dalam 74 tahun, Hunger Games punya dua pemenang.
Distrik 12 dibanjiri hadiah karena kemenangan mereka tentu saja, tapi di balik semua itu masih ada bahaya mengintai…
Capitol tidak senang. Semua karena buah berry beracun yang mereka pegang tepat sebelum diumumkan sebagai pemenang. Capitol menganggap itu sebagai tindakan yang dapat memicu pemberontakan. Dan benar saja, tanpa Katniss dan Peeta sadari, api pemberontakan mulai tersulut dimana-mana.

Hunger Games ke-75 semakin mendekat, dan setiap 25 tahun Panem merayakan versi lebih kejam dari Hunger Games yang disebut Quarter Quell. Quarter Quell 25 tahun yang lalu saat Haymitch menjadi pemenang, pesertanya bukan hanya 24 orang namun dua kali lipatnya. Dan kali ini… Quarter Quell ketiga akan mengambil peserta dari para pemenang yang masih hidup. Katniss dan Peeta pun kembali ke arena.

Buku ini sama bagusnya dengan buku pertama. Jalan ceritanya tak terduga, penuh action, dan endingnya membuat penasaran. Sekedar bocoran, versi terjemahan Indonesia dari buku ketiga, Mockingjay, rencananya akan terbit awal 2011.

View all my reviews

Softcover, 424 pages
Published July 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 1st 2009)
Literary Awards: British Fantasy Award (2010)
Goodreads Choice Award for Favorite Book and Young Adult Series (2009)
Booklist Top Ten Science Fiction/Fantasy Novels for Youth (2010)
Children’s Choice Book Award for Teen Choice Book of the Year (2010)
Indies Choice Book Award for Young Adult (2010)
Teen Read Award Nominee for Best Read (2010)

Price : IDR 58.000

The Hunger Games – Suzanne Collins

The Hunger Games (Hunger Games, #1)The Hunger Games by Suzanne Collins
My rating: 5 of 5 stars

Astaga, kata apa lagi yg bisa mendeskripsikan buku ini? Menakjubkan? Menegangkan?
Hanya butuh dua hari bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, ditengah-tengah kesibukan sehari-hari.
Why? Rasanya karena saya tergolong tipe pembosan, ketika membaca buku yang kisahnya drama yang minim “lompatan-lompatan” saya pun mudah bosan dan akhirnya lama untuk menyelesaikannya.

Tapi tidak ketika saya membaca buku ini. Ini adalah salah satu dari sedikit buku yang bisa membuat saya tak mampu meletakkannya, dan berusaha menghabiskannya secepat mungkin.

Di suatu saat di masa depan, Amerika Utara sudah tidak ada lagi dan negara Panem berdiri sebagai gantinya. Panem mempunyai ibukota yang mentereng bernama Capitol, dan tiga belas distrik yang mengelilinginya. Suatu saat terjadi pemberontakan melawan Capitol dan Distrik 13 binasa.

Setelah pemberontakan, Capitol mengadakan The Hunger Games bagi kedua belas distrik yang tersisa, untuk terus mengingatkan mereka bahwa keselamatan jiwa mereka sesungguhnya tergantung pada belas kasihan Capitol. Maka setiap tahunnya, satu anak lelaki dan satu anak perempuan berusia 12 hingga 18 tahun dipilih dari setiap distrik, untuk bertarung di arena yang ditentukan sampai hanya satu orang yang tetap hidup dan selamat. Dan pertarungan mereka ditayangkan di televisi di setiap rumah di Panem.

Begitu setiap tahunnya, namun The Hunger Games ke-74 menjadi yang tidak terlupakan ketika Katniss Everdeen dan Peeta Mellark menjadi peserta terpilih dari Distrik 12.

Dari sini saja calon pembaca buku ini bisa merasakan bahwa buku ini seru. Ide yang orisinal, ketegangan yang tercipta dalam setiap aksi dalam buku ini membuat saya kagum akan Suzanne Collins sang penulis, juga Hetih Rusli yang menerjemahkan buku ini ke bahasa Indonesia dengan sangat mulus bahkan hampir tanpa cacat.

Bosan dengan drama, roman, cerita vampir, chicklit, cerita detektif, Harry Potter atau apapun yang sedang “booming” untuk dibaca? Penggemar fiksi harus membaca buku ini. 🙂

View all my reviews

Softcover, 408 pages
Published October 2009 by Gramedia Pustaka Utama (first published October 1st 2008)
Literary Awards: British Fantasy Award for Top Ten (2009)
A School Library Journal Best Book of the Year (2008)
An ALA Notable Children’s Book for Older Readers (2009)
New York Times Notable Children’s Book of (2008)
Publishers Weekly’s Best Books of The Year

Price IDR 58.000