The Shadow of the Wind – Carlos Ruiz Zafón

shadow of the wind“Once, in my father’s bookshop, I heard a regular customer say that few things leave a deeper mark on a reader than the first book that finds a way into his heart.”

Semuanya bermula dari suatu pagi di awal musim panas 1945, ketika luka-luka akibat perang masih segar dan terbuka. Daniel Sempere, bocah berusia sepuluh tahun putra seorang pemilik toko buku, dibawa oleh ayahnya mengunjungi suatu tempat bernama Cemetery of Forgotten Books. Di suatu tempat di Barcelona, terkubur buku-buku yang terlupakan. Buku-buku yang tak lagi mempunyai rumah karena penutupan perpustakaan atau toko buku, semuanya dibawa ke tempat ini. Dan menurut tradisi, setiap orang yang pertama kali mengunjungi Cemetery of Forgotten Books boleh memilih satu buku untuk dimilikinya, untuk seterusnya dijaga agar tidak hilang selamanya. Dan dari ribuan buku yang tersimpan di dalam Cemetery of Forgotten Books, Daniel memilih satu buku berjudul The Shadow of the Wind, karya Julian Carax. Buku tersebut menyentuh hati Daniel sedemikian rupa sehingga, ia memutuskan untuk mencari buku-buku karya Carax yang lain dan berniat membaca semuanya, dan menyelidiki lebih jauh mengenai sang penulis. Betapa kagetnya ia ketika menemukan bahwa karya-karya Carax yang lain telah dibakar dengan sengaja dan satu-satunya kopi The Shadow of the Wind yang masih ada adalah yang dimilikinya. Informasi ini didapat Daniel dari Gustavo Barcelo, seorang penjual buku bekas yang eksentrik. Di rumah Barcelo juga Daniel bertemu dengan Clara, keponakan Barcelo. Gadis ini secantik malaikat, namun pucat dan lemah. Ia juga buta. Dari Clara-lah Daniel kemudian mendapat informasi yang lebih lengkap mengenai Carax, bagaimana buku-buku karyanya hanya dicetak dalam jumlah yang sangat sedikit, dan bagaimana penulis muda itu menemui kematian yang tragis hanya sesaat sebelum pernikahannya. Juga tentang rumor yang beredar bahwa ada seseorang yang mencari karya-karya Carax di setiap perpustakaan dan toko buku, membeli atau mencuri buku-buku tersebut, dan kemudian membakar setiap kopi yang masih ada.

Pada hari ulang tahunnya yang keenam belas, Daniel yang merasa kecewa karena Clara tidak bisa menghadiri pesta ulang tahunnya, lari keluar dari rumah dalam kegelapan malam dan bertemu orang misterius dengan wajah terbakar yang menginginkan novel The Shadow of the Wind yang dimiliki Daniel. Orang ini mengaku bernama Lain Coubert. Nama itu adalah nama iblis dalam novel The Shadow of the Wind. Mungkinkah kisah dalam The Shadow of the Wind sedang terwujud dalam kehidupan Daniel? Daniel bersama rekannya Fermin Romero de Torres kemudian menyusuri Barcelona demi menyelidiki asal-usul Julian Carax. Di antara bangunan-bangunan tua di Barcelona dan juga debu yang menyelimuti buku-buku di Cemetery of Forgotten Books, sedikit demi sedikit kebenaran mengenai jati diri sang penulis misterius Julian Carax tersibak. Dikisahkan bahwa Julian Carax adalah putra seorang pembuat topi, Antony Fortuny dengan seorang wanita berkebangsaan Prancis, Sophie Carax. Julian kemudian jatuh cinta kepada Penelope Aldaya, putri satu-satunya Don Ricardo Aldaya yang kaya raya, yaitu orang yang bermurah hati mensponsori pendidikan Julian. Don Ricardo Aldaya marah besar ketika ia mengetahui hubungan antara Julian dan putrinya dan hendak memisahkan mereka berdua untuk selamanya. Rencana kawin lari yang dirancang oleh sahabat Julian, Miquel Moliner pun harus gagal karena campur tangan Don Ricardo. Julian kemudian pergi ke Paris dan memulai karir sebagai penulis. Namun, kenangan tentang Penelope terus menerus menghantuinya dan akhirnya ia memutuskan kembali ke Barcelona, tempat dimana seorang Julian Carax, disusul oleh buku-bukunya, satu persatu lenyap tanpa jejak.

***

Sebenarnya saya sudah cukup lama mengetahui tentang buku ini dan bahwa buku ini sudah diterjemahkan oleh Barokah Ruziati atau Mbak Uci, namun entah mengapa sampai sekarang versi terjemahannya belum terbit juga. Kalau sudah terbit nanti sepertinya saya akan beli untuk koleksi. 😉 Makasih buat Mbak Astrid yang sudah meminjamkan bukunya sehingga rasa penasaran saya akan buku The Shadow of the Wind bisa terpuaskan.

Buku ini menyimpan cerita dalam cerita, tentang misteri, aib, rahasia, dan cinta terlarang. Bertaburan tokoh-tokoh yang tak jauh dengan buku (pecinta buku, pemilik toko buku, kolektor buku, dan sebagainya), dan dengan gaya penceritaan yang memesona, nafas novel gothic, setting Barcelona yang eksotik, dan alur yang mengalir lancar dan menegangkan, buku ini membuat saya mampu menghabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu padahal biasanya saya lelet banget kalau harus membaca buku dalam bahasa Inggris. Buku ini bagus, namun ada beberapa kejanggalan dan hal yang saya tidak suka  yang membuat saya terpaksa memberi buku ini empat bintang, dan bukannya lima:

  1. Bab di dalam buku ini dipisahkan secara kronologis. Misalnya bab “Days of the Ashes” berlangsung antara tahun 1945-1949, dan bab “An Empty Plate” pada tahun 1950. Namun yang janggal adalah akhir bab “True to Character” (1951-1953) langsung dilanjutkan di bab “City of Shadows” (1954) pada “hari berikutnya”, anehnya tanpa menyebut bahwa diantara kedua bab itu telah terjadi pergantian tahun. Mungkin hal ini terjadi juga di bab-bab selanjutnya, tapi yang paling saya ingat adalah bab ini.
  2. Karakter Lain Coubert dikisahkan mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Sungguh aneh bagaimana ia bisa bertahan hidup begitu lama dan beraktivitas selayaknya manusia normal.
  3. Ada beberapa hal yang tidak saya sukai mengenai endingnya. [SPOILER ALERT!] Pertama, bahwa Lain Coubert tetap bertahan hidup sampai di akhir buku. Selain tidak masuk akal bahwa ia mengelak dari maut dua kali, dan bahwa ia hidup dengan kondisi sekujur tubuh terbakar, bagi saya jauh lebih baik jika setelah melalui klimaks, karakter ini akhirnya tiada dalam damai. Yang kedua, saya tidak suka karakter yang terpaksa harus berkeluarga pada usia masih belasan tahun akibat “kecelakaan”, dan tidak dikisahkan segala susah payah yang harusnya mewarnai kehidupan keluarga muda tersebut. Bagi saya itu sama saja dengan mengatakan, “It’s okay to have sex and have children in your young age.”

Di luar ketiga hal diatas, novel The Shadow of the Wind hampir bisa dikatakan sempurna. Dilengkapi juga dengan bagian “A Walk in the Footsteps of The Shadow of the Wind” dengan peta Barcelona dan guide bagi pembaca yang ingin benar-benar menyusuri Barcelona dan melihat setiap tempat yang dijadikan setting dalam novel The Shadow of the Wind. What a brilliant idea. Buku ini juga menyimpan banyak Memorable Quotes yang menawan hati seperti berikut ini:

“Someone once said that the moment you stop to think about whether you love someone, you’ve already stopped loving that person forever.”

 “The nurse knew that those who really love, love in silence, with deeds and not with words.”

“Books are mirrors: you only see in them what you already have inside you.”

(Baca juga Quote mengenai the Cemetery on Forgotten Books di sini.)

5th review for Books in English Reading Challenge 2013 | / 3rd review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction / 6th review for New Authors Reading Challenge 2013

N.B.: Buku ini saya baca dalam bahasa Inggris namun reviewnya ditulis dalam bahasa Indonesia untuk ikut #postingbareng BBI bulan April 2013 tema Buku tentang Buku dan masih dalam rangkaian HUT ke-2 BBI.

Detail buku:

The Shadow of the Wind (judul asli: La sombra del viento), oleh Carlos Ruiz Zafón
Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Lucia Graves
487 halaman, diterbitkan Januari 2005 oleh Penguin Books (pertama kali diterbitkan tahun 2001)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

Great Expectations – Charles Dickens

GE PEL

Mind you—this will be a long review.

Young Pip was a poor orphan, to begin with. He lived in the marsh country with his old sister and her husband, Joe Gargery the blacksmith. One Christmas day, by the tombstone of his father and mother and brothers on the churchyard, he met an escaped convict from a prison-ship. This convict with a forceful threat ordered Pip to get him a file and wittles and some food. Pip was afraid to steal some food from his cruel old sister, but the more he was afraid of the threat of the rough fugitive, and so he granted his wishes. The convict was then captured by the soldiers. Then news came from Uncle Pumblechook that Miss Havisham of Satis House—she was described as an immensely rich and grim lady who lived in a large and dismal house and led a life of seclusion—wanted a boy to go and play at her house. Shortly, Pip was sent to Satis House.

A young, very beautiful girl not very far of age from Pip received him with a scornful air. Pip saw Miss Havisham for the first time in her dressing room, as the strangest lady Pip has ever seen or shall ever see. Miss Havisham looked like a rotten bride, in a withered bridal dress and a long veil like a shroud. She ordered Pip to play cards with Estella, the scornful beautiful girl, and they played. Pip then paid a regular visit to Satis House until at some point Miss Havisham bestowed him with a kindness; she funded Pip’s apprenticeship to Joe. At first it really was Pip’s dream, to be a good blacksmith like Joe, a person he admired with all his heart. But his meeting with Estella changed everything. Pip didn’t want to be a blacksmith anymore; he didn’t want Estella to think that he is common anymore.

"Play!" Pip and Estella play cards. Image source

“Play!” Pip and Estella play cards. Image source

When Pip was older, a lawyer named Mr. Jaggers came to Joe’s house to announce that Pip has a benefactor who wishes Pip to be “immediately removed from his present sphere of life and from this place, and be brought up as a gentleman, in a word, as a young fellow of great expectations.” Before Pip could start living a life of great expectations, there are two requirements he must agreed on. First, that he will always bear the name Pip, and the second, the identity of his benefactor would remain a secret, until the person him or herself chooses to reveal it. Pip must not ask or try to find out who his benefactor was. Pip was sure that his secret benefactor was Miss Havisham, and his bringing up to be a gentleman was intended to match him with Estella. This would lead us to the second stage of Pip’s great expectations, where he would live in London, being brought up to be a gentleman, befriend a cheerful young man Herbert Pocket and a clerk with dual sentiments, Mr. Wemmick, meet the ever more elegant and beautiful Estella on many occasions, and at length fell into debts.

On the second stage the story gets funnier and not as grimly told as in the first stage. Pip would also learn the history of Miss Havisham. He would desperately fall in love with Estella, and would meet a rival of pursuing Estella in form of a Bentley Drummle, an ill-tempered fellow. Pip’s perseverance in loving Estella amazed me; she doesn’t deserve it, frankly saying, as she was heartless, and she was set to wreak Miss Havisham’s revenge on men. Pip came to acknowledge what Estella really was, and still he loved her.

Was this the effect of some sort of spell Miss Havisham uttered to him? “Love her, love her, love her! If she favours you, love her. If she wounds you, love her. If she tears your heart to pieces—and as it gets older and stonger, it will tear deeper—love her, love her, love her!” I gathered a few quotes that could explain Pip’s love for Estella here, and I came to a conclusion that it was Pip’s decision to love Estella, no matter how cruel and heartless she was.

Moving onto the third and last stage of Pip’s great expectations, Pip would learn the true identity of his benefactor, and it was a dangerous truth. It is a stage when Pip’s great expectations turned into great disappointment, great struggle and great misery. There would come a time when Pip regretted meeting his convict and Miss Havisham, and there would be times when Pip makes mistakes. Through the full three stages we will see Pip’s growth, and how he copes with all things happened in his life.

***

From the very first time of my acquaintance to the story of Great Expectations, I have always thought it is some kind of a Cinderella story, with a rather unusual fairy godmother. I have watched and written a review of the 2011 BBC miniseries here (in Indonesian language). Well, this is the very first Dickens novel I have read in unabridged version and original language. Written as an autobiography of Pip, this work is a bildungsroman as well as a work of mystery, gothic fiction and social criticism in Victorian England. Dickens’s writing is amazing as usual, although I had a hard time understanding some dialogues of the characters, mostly parts of Joe and Magwitch. I think that you will need extra patience to read Dickens, as his works are mostly slowly narrated and could strike you to boredom if you cannot bear it. And still as usual, in Great Expectations Dickens made a wonderful story consists of colorful characters. From Pip we could learn perseverance, undying love, and the willingness to forgive, from Herbert optimism and cheerfulness, from Joe kindness and fatherly love, from Mr. Jaggers professionalism, from Miss Havisham the choice she made to avenge her ghastly fate. Can I say that human nature from its best to its worst can be found in Dickens’s works? If it’s true, then it will be my reason to love this book, along with its extraordinary story.

[A Little Thought About the Ending – Spoiler Alert!]

 

Not that I hate it, but it’s still hanging. I wouldn’t call it perfect like some Dickensians would. The re-marriage of Estella was mentioned, but with no further explanation. Has she been happy? Surely after eleven years, Estella has been through many things that could have shaped her into a more “humanly” figure. She said it herself on the final words of the novel (“I have been bent and broken, but—I hope—into a better shape.”) Could it be that there is an invisible happy ending for Pip and Estella? Call me mainstream for wanting happy endings, but I believe in second chances, and I believe even an Estella deserves a second chance. Or maybe it is my greatest desire to see a happy ending for Pip after all the trials and sufferings he has been through.

23rd review for The Classics Club Project | 3rd review for Books in English Reading Challenge 2013 | 1st review for Read Big! A Hefty Challenge for a Knight Reader

Book details:

Great Expectations, by Charles Dickens
592 pages, published April 2012 by Penguin Classics, a Penguin English Library edition (first published 1860)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Northanger Abbey – Jane Austen

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Sang heroine dalam kisah ini adalah Catherine Morland, seorang gadis tujuh belas tahun yang naif dan tidak berpengalaman, serta hobi membaca terutama novel-novel gothic. Ia belum pernah mencicipi dunia di luar kampung halamannya di Fullerton. Sampai suatu ketika Mr. dan Mrs. Allen, teman dekat keluarga Morland; mengundang Catherine untuk menghabiskan waktu beberapa bulan bersama mereka di Bath, suatu kota peristirahatan bagi sebagian warga Inggris kalangan atas. Di Bath, Catherine berkenalan dengan beberapa orang, antara lain Isabella dan John Thorpe, anak-anak dari Mrs. Thorpe yang adalah kawan sekolah Mrs. Allen. Ia juga berkenalan dengan seorang pemuda karismatik bernama Henry Tilney, dan nantinya dengan Eleanor Tilney, adik dari Henry. Setelah menghabiskan beberapa bulan di Bath, Catherine diundang ke kediaman keluarga Tilney, yaitu Northanger Abbey yang dulunya adalah biara. Di biara yang besar dengan banyak ruangan misterius inilah pikiran Catherine bergolak dalam imajinasi yang mencekam, sebagaimana novel-novel gothic yang begitu dicintainya.

Kisah Northanger Abbey terbagi menjadi 2 tema utama, yaitu:

1. Pertumbuhan menuju kedewasaan yang dialami karakter utama, yaitu Catherine. Inilah mengapa Northanger Abbey dikategorikan dalam genre bildungsroman (a story about coming-of-age). Setelah berinteraksi dengan beberapa karakter di dalam buku, watak Catherine yang aslinya naif dan polos mulai berkembang. Perubahan dalam watak Catherine terutama disebabkan oleh interaksinya dengan kakak-beradik Thorpe, yang pada awalnya menempatkan diri sebagai kawan sejati Catherine, namun sebenarnya mereka tidak tulus dan manipulatif.

Catherine, dalam perjalanannya menuju kedewasaan, pelan-pelan mulai mengasah kemampuan membaca karakter orang lain, dan bukan hanya membaca buku.

2. Kegemaran membaca yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Dalam kasus ini adalah Catherine yang hobi membaca novel-novel gothic. Peristiwa-peristiwa yang dibacanya di dalam novel-novel tersebut membekas begitu rupa di dalam pikirannya dan menghasilkan imajinasi yang overaktif. Batasan antara fantasi dan kenyataan menjadi kabur, dan akibatnya hubungannya dengan orang lain (dalam hal ini Henry Tilney yang dicintai Catherine) jadi rusak. Northanger Abbey merupakan gothic parody, yaitu parodi dari novel-novel gothic yang sedang booming pada masa Austen hidup. Secara spesifik Austen menyebut The Mysteries of Udolpho karya Ann Radcliffe, yang menjadi bacaan Catherine sepanjang buku ini dan yang membuat imajinasi Catherine melambung tinggi. Mungkin rumus yang ada di pikirannya adalah: an old building = history and mysteries to be unveiled = a hidden villain. Secara keseluruhan, adegan-adegan mencekam khas novel gothic hanya ada sedikit di dalam buku.

Tema-tema lain yang hendak disorot Austen antara lain norma-norma sosial pada masa itu, posisi seorang wanita di masyarakat, dan materialitas yang begitu mencolok, apalagi kalau menyangkut pernikahan.

Simak beberapa petikan dari buku sebagai berikut:

[Kritik Austen mengenai kaum perempuan pada masanya, yang cenderung fokus pada hal yang sia-sia, misalnya penampilan]

“It would be mortifying to the feelings of many ladies, could they be made to understand how little the heart of man is affected by what is costly or new in their attire; how little it is biased by the texture of their muslin, and how unsusceptible of peculiar tenderness towards the spotted, the sprigged, the mull, or the jackonet. Woman is fine for her own satisfaction alone. No man will admire her the more, no woman will like her the better for it. Neatness and fashion are enough for the former, and a something of shabbiness or impropriety will be most endearing to the latter.”

[Menyangkut keberadaan novel yang cenderung diremehkan, terutama oleh kalangan kelas atas. Masyarakat Inggris abad 18 cenderung mengganggap novel sebagai sarana hiburan semata dan bukannya sebuah karya seni yang serius]

“And what are you reading, Miss—?” “Oh! it is only a novel!” replies the young lady… in short, only some work in which the greatest powers of the mind are displayed, in which the most thorough knowledge of human nature, the happiest delineation of its varieties, the liveliest effusions of wit and humor are conveyed to the world in the best chosen language.”

 Hal ini dijawab oleh Austen dengan dialog antara Catherine-Henry sebagai berikut:

“But you never read novels, I dare say?”

“Why not?”

“Because they are not clever enough for you—gentlemen read better books.”

“The person, be it a gentleman or lady, who has not pleasure in a good novel, must be intolerably stupid. I have read all Mrs. Radcliffe’s works, and most of them with great pleasure. The Mysteries of Udolpho, when I had once begun it, I could not lay down again; I remember finishing it in two days—my hair standing on end the whole time.”

Perkembangan hubungan Catherine-Henry diceritakan dengan menarik. Karakter Catherine dipertemukan dengan Henry yang jauh lebih dewasa, cerdas, simpatik, dan boleh dibilang sabar dan instruktif pada Catherine yang masih kekanak-kanakan. Dialog mereka seringkali membuat tertawa, atau sedikitnya gemes. 🙂

“…it is a nice book, and why should not I call it so?”

“Very true,” said Henry, “and this is a very nice day, and we are taking a very nice walk, and you are two very nice young ladies. Oh! It is a very nice word indeed! It does for everything. Originally perhaps it was applied only to express neatness, propriety, delicacy, or refinement—people were nice in their dress, in their sentiments, or their choice. But now every commendation on every subject is compromised in that one word.”

***

It was no effect to Catherine to believe that Henry Tilney could never be wrong. His manner might sometimes surprise, but his meaning must always be just; and what she did not understand, she was almost as ready to admire, as what she did.

Wah, saya rasanya paham mengapa Catherine jatuh cinta kepada Henry. 😀

Kesimpulan yang saya ambil setelah membaca buku yang ditulis Austen pada awal karirnya (ditulis sekitar tahun 1798–1799, dan diterbitkan secara anumerta di tahun 1817), dan notabene merupakan novel Austen yang “dipandang sebelah mata” oleh kebanyakan orang:

Fokus dalam buku ini tidak jelas. Begitu banyak unsur dan tema yang dikemukakan Austen sehingga satu novel tidak menyampaikan satu tema yang utuh, namun beberapa tema. Mungkin “ketidakfokusan” ini bisa dimaklumi karena novel ini merupakan salah satu karya Austen yang pertama. Namun, membaca buku ini  tetap menyenangkan, karena banyak adegan yang lucu, ditambah beberapa adegan yang menegangkan; serta pembaca juga beroleh banyak wawasan mengenai praktik sosial yang terjadi pada masa tersebut. Saya juga sangat menyukai adaptasi Northanger Abbey oleh PBS Masterpiece versi tahun 2007. Di dalam miniseri yang dibintangi Felicity Jones, JJ Feild, dan Carey Mulligan ini lebih banyak adegan menegangkan yang merupakan visualisasi imajinasi Catherine.

#postingbersama BBI 29 Juni 2012 tema buku gothic

Baca juga:
Visual Tour on Northanger Abbey
Post mengenai karakter Isabella dan John Thorpe

Detail buku:
“Northanger Abbey”, oleh Jane Austen
256 halaman, diterbitkan Februari 2008 oleh Signet Classics (pertama kali diterbitkan tahun 1817)
My rating: ♥ ♥ ♥


Conclusion:

Being at the same time a bildungsroman and a gothic parody, Northanger Abbey quite confused me for not having a single theme. To be honest I expect more of the gothic stuff, but then I realize that Austen meant this work to be a parody of gothic novels, specifically Ann Radcliffe’s The Mysteries of Udolpho. I also learned a great deal about social norms, materiality and marriage, women’s position and the 18th century England’s underestimation of novels. But, I have to say, I enjoyed the witty book, finished it within a few days (and quite falling in love too with Henry Tilney, LOL! I gave the book 3 stars. Someday I might read The Mysteries of Udolpho. And I loved PBS Masterpiece’s 2007 adaptation of Northanger Abbey, a lot of action in it (visualizations of Catherine’s imagination).

7th review for The Classics Club Project, 3rd review for The Classic Bribe

The Phantom of the Opera – Gaston Leroux

# Please skip to the bottom of the post for Conclusion in English #

Bayangkan Gedung Opera Paris yang berdiri megah, dengan dua puluh lima lantai di atas permukaan tanah dan lima gudang bawah tanah. Bayangkan sosok misterius berjubah hitam yang “gentayangan” di dalam Gedung Opera, yang dikenal dengan sebutan “Hantu Opera”. Sekarang bayangkan sebuah cerita yang memuat sejarah, kisah cinta, musik, petualangan, dan sekaligus horor. Cerita yang menyajikan semua hal tadi ada dalam The Phantom of the Opera karya Gaston Leroux.

Dikemas dalam bentuk semi-reportase, sehingga feel ketika membacanya tidak seperti ketika sedang membaca sebuah novel biasa, kisah The Phantom of the Opera dibuka dengan pergantian dua manajer Gedung Opera. Monsieur Armand dan Moncharmin-lah yang kini memegang jabatan penting tersebut, dan kedua pendahulunya menasihati kedua manajer baru tersebut untuk memperhatikan permintaan-permintaan sang Hantu Opera, kalau tidak hal-hal yang buruk akan terjadi. Permintaan si hantu antara lain mengenai siapa yang memerankan karakter apa dalam pementasan opera, menyisihkan Balkon Nomor Lima baginya, dan tunjangan bulanan sebesar 20.000 franc. Sedikit saja kekeliruan dalam menyanggupi permintaan-permintaan si hantu, berarti musibah. Musibah bisa datang dalam bentuk kematian seorang staf opera dengan cara yang mengerikan, tragedi dalam pementasan di mana tiba-tiba sang biduanita mengeluarkan suara kwok-kwok-kwok seperti katak, atau jatuhnya kandelar besar yang menewaskan orang yang sialnya sedang berada di bawahnya.

Ada seorang penyanyi, gadis muda yang cantik bernama Christine Daae yang sangat diperhatikan oleh si hantu. Dengan cara-cara yang magis, si hantu memberikan pelajaran menyanyi kepada Christine, yang berbuah penampilan gemilangnya sebagai Marguerite dalam pementasan pada suatu malam. Pada malam itu juga, Vicomte Raoul de Chagny muda, yang telah mengenal Christine sejak kecil, menyaksikan bagaimana si gadis bernyanyi dengan luar biasa indahnya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Christine untuk memberinya ucapan selamat secara pribadi. Betapa kagetnya ia ketika berada di depan kamar ganti Christine, didengarnya Christine sedang berbicara kepada seorang pria… namun tidak ada seorangpun di dalam ruangan itu selain Christine sendiri. Di lain waktu, Raoul menyaksikan Christine menghilang ke dalam cermin besar di kamar gantinya. Peristiwa-peristiwa aneh ini membuatnya penasaran setengah mati, apalagi ketika ia mengetahui bahwa pemilik suara tanpa tubuh ini adalah sang Hantu Opera sendiri. Lebih lagi kemudian, ketika si hantu membujuk Christine supaya mencintainya, padahal Christine hanya mencintai Raoul, si hantu akhirnya menculik Christine tepat di tengah-tengah suatu pementasan. Raoul pun memutuskan untuk memburu sosok misterius yang dipanggil oleh Christine dengan sebutan “Malaikat Musik” ini.

Perburuan yang dilakukan Raoul terhadap Hantu Opera alias “Malaikat Musik” menemui titik terang ketika ia bertemu dengan Orang Persia, seorang pria yang konon mengetahui asal-usul Erik, sang Hantu Opera. Petualangan Raoul dan si orang Persia dimulai dengan menyusuri ruang-ruang bawah tanah Gedung Opera, sampai ke rumah di samping telaga milik Erik dan sempat terperangkap dalam Bilik Penyiksaan yang mengerikan. Pada bagian cerita yang ini ketegangan dibangun oleh pengarang dengan sangat intens. Berhasilkah Raoul menyelamatkan Christine, ataukah ia harus mati di dalam Bilik Penyiksaan bersama si Orang Persia? Lalu siapa sesungguhnya sang Hantu Opera?


Membaca karya ini menimbulkan sensasi yang agak berbeda daripada ketika membaca karya-karya klasik lain. Di satu sisi, cara pengarang menggambarkan musik dan cinta antara Raoul-Christine terasa begitu magis dan menyentuh, namun di sisi lain penggambaran sosok Erik begitu mengerikan dan brutal. Belum lagi fakta-fakta yang dijabarkan di sepanjang karya ini. Pada akhir cerita, saya merasa tercabik antara membenci dan merasa iba terhadap tokoh Erik, yang karena rupanya yang buruk, harus menutup diri terhadap dunia dan akhirnya menjadi jahat. Sebenarnya apa yang menjadi hasratnya hanya satu dan sama dengan setiap manusia normal yang ada di dunia: untuk dicintai.

Novel gothic ini menginspirasi komposer Andrew Lloyd Webber untuk menggubah sekumpulan lagu dalam pertunjukan teater musikal The Phantom of the Opera yang pertama kali dipentaskan di West End pada tahun 1986 dan kemudian di Broadway pada tahun 1988. Pertunjukan The Phantom of the Opera ini diklaim menjadi pertunjukan yang terlama dipentaskan di Broadway dan pementasannya yang ke 10.000 berlangsung pada 11 Februari 2012 lalu. Pada tahun 2004, sutradara Joel Schumacher merilis adaptasi film dari pertunjukan ini dengan bintang Gerard Butler sebagai Erik/the Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul de Chagny. Membaca novelnya dan kemudian menonton versi filmnya memberikan kepuasan tersendiri karena yang dinikmati bukan hanya karya sastra, namun juga karya seni bercitarasa tinggi dalam bentuk musik dan sinematografi.

Detail buku:

“The Phantom of the Opera” (judul asli: “Le Fantôme de l’Opéra”), oleh Gaston Leroux
485 halaman, diterbitkan Februari 2010 oleh Penerbit Serambi (pertama kali diterbitkan 1909-1910)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

Reading this piece gave an exclusively different sensation than when reading other classic literature pieces. The way the author expressed music and love between Christine and Raoul felt magical to the root, when the way Erik was expressed was so brutal and gruesome. At the end of the story, I felt torn between hating Erik for his ruthlessness and at the same time pity him, that because of his grotesque looks, he had to hide from the world, and in time became villainous. His desire was the same with every living human’s desire: to be loved. I would recommend everyone who is interested in The Phantom of the Opera to read the novel and then watch the musical (or the film adaptation of the musical). They would give a complete experience of a journey in literature, art, music, performance, and cinematography.

3rd review for The Classics Club Project

The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde – Robert Louis Stevenson

Dalam jiwa setiap manusia berperang dua sisi yang berlawanan: Baik dan Jahat.

Mr. Utterson, seorang pengacara, mencium sesuatu yang ganjil mengenai Henry Jekyll, seorang dokter berusia setengah baya yang ternama dan dermawan, yang menulis dalam surat wasiatnya seperti berikut:

“… dalam hal meninggalnya Henry Jekyll, maka semua harta miliknya akan diwariskan kepada “teman dan pelindungnya Edward Hyde”; tetapi juga dalam hal apabila Dr. Jekyll menghilang atau tidak bisa dijelaskan ketidakberadaannya selama jangka waktu apa pun yang melebihi tiga bulan kalender…”

Siapakah Edward Hyde? Dr. Lanyon, salah seorang sahabat dekat Jekyll yang ditanyai oleh Mr. Utterson, mengaku tak tahu-menahu mengenai Hyde. Dahi Mr. Utterson semakin berkerut bila ia mengingat sebuah kisah aneh yang diceritakan seorang rekannya, Mr. Enfield, beberapa hari sebelumnya. Ia menceritakan tentang seorang laki-laki berperawakan kecil yang menabrak seorang anak perempuan dan kemudian ia menginjak-injak tubuh si anak perempua dan berjalan pergi dengan tenang, membiarkan si anak perempuan menjerit-jerit di tanah. Lelaki jahat ini adalah Mr. Hyde, yang digambarkan bertubuh kecil dan mengesankan bahwa dirinya mempunyai suatu kecacatan yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang membuat orang merasa benci dan muak terhadap dirinya.

Beberapa waktu kemudian, kota London kembali dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan terhadap seorang yang terpandang di masyarakat, Sir Danvers Carew. Keterangan saksi dan bukti yang ada menunjukkan bahwa pelakunya adalah Mr. Hyde, sementara yang menjadi tersangka raib seakan ditelan bumi. Waktu berlalu dan sementara Mr. Hyde belum juga ditemukan, Mr. Utterson menyadari bahwa ada perubahan yang terjadi pada diri Dr. Jekyll. Sang dokter yang biasanya supel dan ramah itu tiba-tiba menutup diri dan menolak menerima tamu di rumahnya. Mr. Utterson yang mengutarakan pendapatnya kepada Dr. Lanyon bahwa kemungkinan besar Jekyll sedang sakit, malah dikejutkan dengan respon Lanyon yang mengatakan bahwa ia tidak mau melihat atau mendengar apa-apa lagi mengenai Dr. Jekyll. Lanyon sendiri kelihatan tidak sehat dan akhirnya meninggal dunia beberapa minggu kemudian.

Pada suatu malam, Mr. Utterson dikejutkan oleh kunjungan mendadak Poole, kepala pelayan Dr. Jekyll, yang memintanya untuk mengikutinya ke rumah Dr. Jekyll. Dengan rasa takut dan was-was Mr. Utterson pun mengikuti Poole, dan apa yang terjadi sesudahnya menanamkan suatu kecurigaan kuat dalam benak Mr. Utterson bahwa Dr. Jekyll telah dibunuh, dan pembunuhnya masih berada di ruang kerjanya, tak lain tak bukan adalah Mr. Hyde, yang diberi akses penuh atas ruang kerja dan kamar Dr. Jekyll. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Dr. Jekyll? Lalu apa gerangan yang dilakukan si pembunuh gila di ruang kerjanya?

***

Karya Robert Louis Stevenson ini merupakan gabungan antara kisah misteri Gothic, fiksi ilmiah, dan sekaligus merupakan studi psikologis dualitas sifat manusia (the duality of human nature); yang diwujudkan di dalam kisah melalui karakter Dr. Jekyll (gabungan karakter baik dan jahat, namun lebih berat pada sisi baik), dan Mr. Hyde (mewakili sisi jahat, sama sekali tidak ada kebaikan dalam dirinya). Dalam 128 halaman versi terjemahan kisah ini, Stevenson menguraikan teka-teki mengenai Dr. Jekyll dan Mr. Hyde yang sedang diusut oleh Mr. Utterson dengan tingkat ketegangan yang cukup mendebarkan, termasuk di dalamnya pergumulan fisik dan batin yang mendera Dr. Jekyll, dan peristiwa-peristiwa menyeramkan yang terjadi dalam kegelapan dan kesuraman kota London. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hal tersebut adalah detail eksperimen ilmiah yang dilakukan Dr. Jekyll. Terjemahannya cukup baik, walau mungkin di banyak bagian dahi pembaca dibuat berkerut akibat kalimat dengan penjelasan yang panjang-panjang. Tapi memang begitulah ciri khas literatur klasik (terutama literatur yang ditulis dalam era Victoria).

 

“Hari demi hari, dan dengan kedua sisi diriku, moral dan intelektual, aku, perlahan-lahan tapi pasti, semakin mendekati kebenarannya, yang pada akhirnya membuatku menjadi manusia terkutuk: bahwa manusia sesungguhnya bukanlah satu, melainkan dua.

… Sudah menjadi kutukan takdir manusia sehingga kedua aspek yang berlawanan tersebut saling terikat bersama-sama—dan oleh karenanya, di dalam rahim alam sadar, seorang manusia dengan kedua kutub kembar tersebut harus selalu berjuang untuk mengalahkan satu sama lain. Bagaimana seandainya keduanya dipisahkan?”

Dengan demikian, kesimpulan logis yang saya tarik setelah membaca buku ini (karena saya tidak punya kapabilitas cukup untuk membahasnya secara psikologis):

  • Kepandaian manusia adalah berkat dari Tuhan, namun bisa menjadi kutuk ketika digunakan tidak pada tempatnya, atau dengan cara yang salah. Kejeniusan Dr. Jekyll membuatnya berangan-angan, dan kemudian mewujudkan, ide “memisahkan kedua sisi berlawanan di dalam dirinya”. Ide gila ini, tanpa bisa dihentikan lagi, kemudian membawanya ke kehancuran. So, people, it is best to use our intelligence wisely and responsibly.
  • Penting bagi seorang manusia untuk mempunyai kehidupan yang seimbang. Usahakanlah bahwa “Jekyll” di dalam diri kita yang memegang kendali, dan bukannya “Hyde”. “Hyde” tidak harus hilang sama sekali dari diri kita, karena toh kita masih manusia yang punya kekuatan juga  kelemahan. Yang penting adalah “Jekyll” harus bisa mengontrol “Hyde”, sehingga kehidupan kita menjadi seimbang.

Tiga bintang saya berikan untuk novel yang pendek namun menarik untuk didiskusikan ini.

Baca juga:
Playing Hyde & Seek (Eng)
Analisis Kejiwaan Dr. Jekyll dalam Novel “The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde” karya Robert Louis Stevenson, oleh Ferry Ismawan (Ind)

My 1st review for The Classics Club Project

Detail buku:
“The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde”, oleh Robert Louis Stevenson
128 halaman, diterbitkan 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan 1886)
My rating: ♥ ♥ ♥

Wuthering Heights – Emily Bronte

“Catherine Earnshaw, semoga kau tak pernah beristirahat selama aku hidup!

Kau berkata aku membunuhmu – hantui aku, kalau begitu! Bersamalah denganku selalu – ambillah bentuk apa saja – buat aku gila! Tapi jangan tinggalkan aku dalam jurang ini, di mana aku tak bisa menemukanmu! Oh Tuhan! Sakitnya tak terkatakan!

Aku tak bisa hidup tanpa hidupku! Aku tak bisa hidup tanpa jiwaku!”


Cinta bisa bikin orang jadi gila, begitu kata sebagian orang. Saya mau tak mau setuju dengan pernyataan ini setelah selesai membaca Wuthering Heights karya Emily Brontë.

Adalah Heathcliff, seorang anak gipsi yang dipungut Mr. Earnshaw tua dalam perjalanan pulangnya dari Liverpool ke rumahnya, Wuthering Heights, serta Catherine, anak perempuan Mr. Earnshaw, yang menjadi tokoh sentral dalam cerita ini.

Heathcliff dan Catherine tumbuh menjadi sepasang sahabat kental, walaupun mendapat tantangan dari Hindley, kakak Catherine, yang mencemburui Heathcliff oleh karena ayahnya cenderung lebih menyayangi Heathcliff ketimbang dirinya. Catherine kecil juga berteman dengan Edgar dan Isabella Linton yang tinggal di Thrushcross Grange yang berjarak enam kilometer dari Heights, dan hal ini memancing kecemburuan Heathcliff.

Cinta bersemi saat Heathcliff dan Catherine beranjak dewasa. Namun Catherine memilih Edgar Linton menjadi suaminya dengan alasan status sosial, dan ini menyakiti hati Heathcliff begitu rupa sehingga ia menghilang dan baru muncul kembali tiga tahun kemudian sebagai seorang pria kaya, bermartabat dan berpendidikan, dan bukannya sebagai gelandangan kampungan seperti dirinya yang dulu. Heathcliff juga kembali dengan rencana balas dendam yang dihasilkan oleh kebencian begitu kuat terhadap keluarga Earnshaw dan Linton.

Tidak puas hanya dengan berhasil menguasai Wuthering Heights, Heathcliff membuat Isabella Linton bersedia menikah dengannya dan menimbulkan duka mendalam di hati Edgar Linton. Anak satu-satunya Hindley Earnshaw yang bernama Hareton ditinggalkan dengan Heathcliff untuk diasuh secara kasar dan tidak dibiarkan mengenyam sedikit pun pendidikan. Sementara itu, Catherine menderita demam otak dan nyaris gila karena tercabik antara cintanya kepada Heathcliff dan kepada Edgar Linton, ia melahirkan seorang anak perempuan bagi Edgar dan meninggal dunia dua jam sesudahnya.

Bertahun-tahun berlalu, dan rencana balas dendam Heathcliff belum juga pupus. Ia berniat menguasai Thrushcross Grange dengan menyatukan paksa anaknya dengan Isabella yang dinamai Linton Heathcliff, dengan Cathy Linton anak dari Edgar dan Catherine. Sepanjang hidupnya, Heathcliff menyiksa semua orang yang ada di dalam kekuasaannya dengan bengis, sampai-sampai ia disebut anak dari si Iblis sendiri.

Kisah Heathcliff, keluarga Earnshaw dan keluarga Linton ini dituturkan melalui sudut pandang Mr. Lockwood, seorang penyewa Wuthering Heights saat Cathy Linton Jr. telah dewasa, dan pengurus rumah Wuthering Heights serta Thrushcross Grange, Mrs. Ellen “Nelly” Dean.

###

Hitam, hitam, hitam. Demikian kesan yang melekat di hati saya ketika membaca Wuthering Heights (selanjutnya akan saya sebut WH, pertama kali diterbitkan tahun 1847). Dari awal hingga akhir, pembaca akan disuguhi menu yang sebetulnya amat tidak enak apalagi menggugah selera, karena menunya antara lain adalah kebencian, kekejaman, kata-kata umpatan, suasana suram, kelam, jahat.

WH sebetulnya adalah salah satu novel klasik yang saya tunggu-tunggu kehadiran terjemahan Indonesianya. Alasannya karena saya telah membaca Jane Eyre, roman klasik karya Charlotte Brontë, kakak kandung dari sang pengarang WH. Prediksi saya bahwa WH tidak akan jauh berbeda dari Jane Eyre ternyata meleset sama sekali. WH jauuuuuuuuuuh lebih gelap ketimbang Jane Eyre.

Hidup dalam keterasingan di desa Haworth, Yorkshire, Inggris, ternyata tak membuat kakak-beradik Brontë tanpa daya. Semasa hidup mereka yang rata-rata pendek, keempat Brontë bersaudara yang bertahan hidup; Charlotte, Patrick Branwell, Emily Jane, dan Anne Brontë memberikan sumbangsih besar dalam dunia kesusasteraan Inggris melalui novel-novel dan puisi-puisi yang mereka ciptakan. Emily Jane Brontë (1818-1848) diakui oleh kalangan sastrawan sebagai penyair yang terbaik diantara saudara-saudaranya, dan satu-satunya novel karyanya, Wuthering Heights, diakui sebagai “the most famous romantic novel in English”. (Grolier Family Encyclopedia)

Saya pribadi tidak setuju bila WH disebut sebagai novel romantis, terlepas dari sumber yang menyebutkan bahwa karya Emily Brontë termasuk dalam aliran sastra romantisisme. Apanya yang romantis kalau dialognya penuh dengan umpatan? Namun tidak dapat dipungkiri jika WH merupakan salah satu novel Inggris yang paling terkenal, yang disebutkan dalam banyak novel lainnya dan diadaptasi berulang kali dalam bentuk film. Contoh yang familiar adalah WH disebutkan sebagai buku favorit karakter Bella Swan dalam seri Twilight.

Grolier Family Encyclopedia selanjutnya menyebut cinta antara Heathcliff dan Catherine dengan istilah “demonic love”, mungkin karena perilaku Heathcliff yang jahat atau karena kata “Iblis” yang banyak bertaburan di dalam buku ini.  Salah satu alasan mengapa buku ini patut dibaca adalah karena buku ini menguak salah satu sisi tergelap yang mungkin dimiliki oleh jiwa manusia, dan apa yang mampu dilakukan manusia jika jiwanya sudah dikuasai kegelapan itu.

Wuthering Heights menurut Grolier Family Encyclopedia

Bagi anda yang hendak membaca buku ini, bersiaplah karena sangat mungkin anda tidak akan terhibur oleh isinya. Membacanya pun membutuhkan kesabaran ekstra karena pada awalnya hubungan antar tokohnya cukup membingungkan (lihat family tree di Wikipedia sebagai panduan), dan panggilan yang digunakan untuk setiap tokoh kadang berbeda-beda, misalnya Edgar Linton kadang dipanggil Mr. Edgar kadang Mr. Linton.

Namun, mudah-mudahan, dengan membaca buku ini anda mendapatkan peringatan awal mengenai kegilaan karena cinta buta dan “demonic love” sehingga jika anda memutuskan untuk mencintai seseorang, anda tidak akan meniru cara Mr. Heathcliff. 🙂

I’ll not weep, because the summer’s glory
Must always end in gloom;
And, follow out the happiest story –
It closes with a tomb!


from Stanzas, by Emily Jane Brontë


N.B.: Resensi ini dibuat dalam rangka Baca Bareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Mei 2011

Detail buku:

“Wuthering Heights” oleh Emily Brontë
488 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥

Dongeng Ketiga Belas (The Thirteenth Tale) – Diane Setterfield

Semua orang memiliki cerita. Karena cerita seperti keluarga. Kau mungkin tidak mengenal siapa mereka, atau telah kehilangan mereka, tetapi mereka tetap ada.
Kau tak bisa berkata kau tidak memiliki mereka.

Vida Winter adalah seorang penenun cerita. Semasa hidupnya ia telah melahirkan 56 buku yang semuanya laris bak kacang goreng. Cerita-cerita. Dongeng-dongeng.
Namun tak satupun cerita yang ditenunnya memberitahu pembaca kebenaran mengenai jati dirinya sendiri. Kepada para wartawan yang penasaran ia memberikan 19 versi yang berbeda-beda mengenai jati dirinya.

Siapa Vida Winter sesungguhnya tetap tertutup rapat… hingga beberapa waktu menjelang akhir hidupnya. Ingatan tentang kejadian 40 tahun silam kembali menghantuinya. Seorang pemuda, tampak seperti wartawan tak berpengalaman. Dengan raut wajah penuh tekad pemuda itu berkata,
“Ceritakan padaku yang sesungguhnya.”

Empat puluh tahun sesudah kejadian itu, Miss Winter telah siap menguntai jalinan kisah yang sesungguhnya. Ia memilih Margaret Lea, seorang penulis biografi amatir dan anak pemilik toko buku antik, untuk menuliskan biografinya. Margaret, yang tidak tertarik pada literatur kontemporer, awalnya enggan terlibat, namun setelah menemukan edisi langka salah satu buku Miss Winter dalam toko buku antik ayahnya, ia menjadi penasaran. Buku yang ada di toko ayahnya itu berjudul Tiga Belas Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, namun tidak ada dongeng ketiga belas. Edisi-edisi buku itu yang beredar selanjutnya hanya memuat judul Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, tanpa embel-embel Tiga Belas. Misteri Dongeng Ketiga Belas ini sama terkenalnya dengan pengarangnya sendiri.

Maka mereka pun bertemu, dan Miss Winter mulai menceritakan kisahnya. Kisah yang ia tuturkan adalah mengenai rumah Angelfield; kakeknya, George Angelfield; ibu dan pamannya, Isabelle dan Charlie Angelfield; dan terutama, mengenai dua anak kembar yang berlawanan sifat, Adeline dan Emmeline. Dan ia juga menceritakan tentang hantu yang ada di tengah-tengah keluarga Angelfield, orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan mereka, peristiwa-peristiwa yang aneh, menyedihkan, dan mengerikan yang mereka alami. Dan di penghujung cerita, akhirnya, teka-teki Dongeng Ketiga Belas pun dibukakan oleh Miss Winter.

Menyatukan kepingan-kepingan cerita yang satu persatu dituturkan Miss Winter, dengan tabir-tabir misteri yang disibakkan tentang Adeline dan Emmeline yang berperilaku ganjil; Margaret pun larut di dalamnya. Kehidupan pribadinya perlahan meredup dari dirinya dan ia tenggelam dalam cerita Miss Winter. Namun, pada waktunya, Margaret pun harus menghadapi hantunya sendiri; kesedihan yang terasa menekan di sisi tubuhnya.

***

“Tahukah kau perasaan yang muncul saat kau mulai membaca buku baru sebelum pelapis buku terakhir sempat menutup? Kau meninggalkan ide dan tema buku sebelumnya – bahkan karakter-karakternya – terperangkap di serat-serat pakaianmu, dan ketika kau membuka buku baru, semua ide, tema, dan karakter buku sebelumnya masih melekat bersamamu.”

Hanya sedikit buku yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi saya, dan Dongeng Ketiga Belas (judul asli: The Thirteenth Tale) ini adalah salah satunya.
Buku yang banyak menyebut karya-karya sastra klasik (yang menjadi favorit karakter Margaret Lea) ini adalah karya debut penulis asal Inggris, Diane Setterfield. The Thirteenth Tale meraih kesuksesan dengan meraih predikat New York Times #1 bestseller pada 8 Oktober 2006.
Cerita yang ditulis dengan gaya Gothic ini dihimpun penulis secara rapat tanpa celah, kental dengan aura yang misterius dan penuh teka-teki, namun disampaikan dengan begitu alami, tanpa terkesan mengada-ada atau melebih-lebihkan.

Jane Wood, editor-in-chief Orion, penerbit Inggris untuk The Thirteenth Tale, mengatakan bahwa, “The book marks “a return to that rich mine of storytelling that our parents loved and we loved as children. It also satisfies the appetite for narrative-driven fiction that has beginnings, middles and endings, like the great novels of the 19th century. She creates a wonderful fictional world.”

Gaya penulisan Diane Setterfield yang membius juga membuat saya berpendapat bahwa saya tidak akan bisa menikmati The Thirteenth Tale ini selain dalam bentuk buku. Terjemahannya juga digarap dengan sangat, sangat bagus. Tentu saja review saya yang singkat ini takkan mampu merangkum isi buku yang penuh subtansi ini, anda harus mencicipinya sendiri untuk mengetahui apa yang begitu istimewa dengan buku ini.

Buku yang saya dapatkan sebagai hadiah menang lomba mendongeng Vixxio Buku Gratis di FB (Thanks to Mbak Fanda Vixxio ;-)) ini sebelumnya sudah sering saya lihat di toko buku sih, tapi entah kenapa saya nggak pernah tertarik, mungkin karena covernya yang suram ya? Tapi saya jelas lebih menyukai cover edisi terjemahannya, jika dibandingkan dengan cover edisi aslinya.

Cover edisi internasional The Thirteenth Tale

Karakter Margaret Lea membuat saya tercengang, karena si Margaret ini seorang kutu buku yang amat parah, dan ia hanya tertarik kepada literatur-literatur tua, karya-karya orang yang sudah mati. Begitu cintanya terhadap buku, si Margaret sampai bisa membaca tanpa ingat lagi kepada makanan, hari dan waktu. Bahkan, dia terang-terangan mengakui bahwa ia lebih mencintai buku daripada manusia!
Agak kaget juga ketika mendapati Jane Eyre paling banyak disebut-sebut dalam buku ini – karena saya baru saja menyelesaikan Jane Eyre akhir Februari kemarin dan buku tersebut langsung saja menghuni shelf favorites saya 🙂 . Dua hal ini – Margaret Lea dan Jane Eyre, membuat saya berkata dalam hati, “buku ini memang buat gue!” Hehehe.
Sesudah membaca buku ini saya merenung sejenak mengapa saya begitu menyukai buku-buku klasik, dan jawabannya saya tuangkan dalam tulisan singkat berikut:

“Sebagian buku di dunia ini adalah mesin waktu. Dalam kasusku, buku-buku favoritku seringkali membawaku mundur dua abad dari zaman sekarang. Abad dua puluh satu yang gemerlap, hiruk-pikuk, dan modern, untuk beberapa saat hilang, digantikan dengan abad sembilan belas.
Kehidupan yang sudah mati, lama, dan usang. Namun pernah ada kehidupan seperti itu sebelum saat ini. Itulah yang terpenting.
Lembar-lembar literatur yang ditulis orang-orang dari abad yang telah berlalu adalah harta karun. Tak penting apakah lembar-lembar itu berisi dongeng, sejarah, atau penelitian; seseorang di masa lalu telah menulisnya.”

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Thirteenth_Tale_%28novel%29
http://www.bookbrowse.com/biographies/index.cfm?author_number=1376

Detail buku:
“Dongeng Ketiga Belas” (judul asli: The Thirteenth Tale), oleh Diane Setterfield
608 halaman, diterbitkan November 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Jane Eyre – Charlotte Brontë

“Aku tak pernah berniat mencintainya, pembaca tahu aku sudah berjuang keras untuk mencabut benih-benih cinta di dalam jiwaku, tapi sekarang, saat aku melihatnya lagi, benih-benih itu langsung bertumbuh, hijau dan kuat! Dia membuatku mencintainya tanpa memandangku.”

 


Apa yang anda harapkan dari sebuah novel roman? Tokoh-tokoh utama yang ganteng dan cantik, cinta menggebu-gebu yang terhalang, namun pada akhirnya tinggal landas dalam akhir bahagia dimana sang pangeran datang menjemput sang putri dengan mengendarai kuda putih?

Jika itu yang anda cari ketika memutuskan membaca Jane Eyre, maka siap-siaplah kecewa. Pada setengah bagian buku pertama hampir pasti anda akan dibuat bosan dengan kisah masa kecil dan masa remaja Jane, yang sedih dan muram.

Namun sebelum kita melangkah lebih lanjut, sebaiknya saya memperkenalkan lebih dahulu siapa Jane Eyre kepada kita semua.

Jane Eyre adalah seorang gadis yatim piatu, anak perempuan dari pasangan seorang pendeta yang miskin dan seorang wanita terhormat dari keluarga bangsawan. Orangtua Jane meninggal dunia saat ia masih kecil, dan ibunya menulis wasiat agar Jane dirawat oleh kakak perempuannya, yaitu Mrs. Reed.

Mrs. Reed, janda dengan seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan, amat membenci Jane. Praktis selama hidup di Gateshead (rumah keluarga Reed), Jane kecil menderita oleh perlakuan kejam bibi dan sepupu-sepupunya, juga oleh hampir semua pelayan di rumah itu. Penampilan fisiknya yang ”tidak cantik maupun menarik”, dijadikan alasan bagi seluruh penghuni Gateshead untuk membencinya dan menganggapnya duri dalam daging keluarga Reed yang terhormat.

Di usianya yang kesepuluh, bibinya yang sudah tidak tahan dengan kehadiran Jane di tengah-tengah rumahnya, mengirimnya ke sekolah khusus anak perempuan, Lowood. Di Lowood nasib Jane tidak berubah menjadi lebih baik, karena Mr. Brocklehurst, seorang pendeta sekaligus bendahara Lowood, adalah seorang pria yang berkeras agar murid-murid Lowood ”diajarkan arti menderita sejak dini” agar mereka ”tidak terbiasa manja”. Namun yang dilakukan Mr. Brocklehurst bukannya mendidik tapi menyengsarakan hidup murid-murid, yang mau tak mau melewatkan hari-hari mereka di Lowood dengan pakaian terlalu sederhana, sangat sedikit air untuk mencuci muka, kedinginan di malam hari, dan yang terparah adalah makanan yang tak bermutu apalagi bergizi. Lambat laun lingkungan di Lowood menjadi semakin tidak sehat dan wabah tifus akhirnya merajalela dan membunuh separuh murid Lowood. Jane lolos dari maut saat itu, ia melewatkan delapan tahun di Lowood, enam tahun sebagai murid dan dua tahun sebagai guru.

Jane yang saat itu berusia delapan belas tahun, merasa bahwa sudah saatnya ia meninggalkan Lowood dan mencari kehidupan yang baru, karena pada dasarnya Jane adalah orang yang tidak mau berhenti pada satu titik; ia mau melihat dunia, bertemu dengan orang-orang yang berbeda-beda wataknya, dan mengecap pengalaman-pengalaman baru yang baik baginya. Maka nasib membawanya ke Thornfield Hall, dimana ia menjadi guru pribadi seorang gadis Prancis kecil bernama Adele, yang adalah anak asuh seorang tuan tanah yang kaya namun eksentrik, Mr. Rochester.

Mr. Rochester bukanlah pria yang tampan, namun lambat laun Jane terpikat oleh karisma dan keeksentrikan yang ditunjukkan majikannya itu, serta kekuatan sifat-sifatnya yang mengalahkan kekurangan fisik yang dimilikinya. Mr. Rochester yang dua puluh tahun lebih tua dari Jane itu juga melihat keistimewaan di dalam diri Jane, yang meskipun ”sangat biasa”, namun memiliki semangat, kekuatan, kecerdasan, kepekaan, bahkan kekeraskepalaan yang tidak ditunjukkan wanita-wanita cantik dan terhormat yang telah lalu lalang dalam hidup Mr. Rochester.

Poster film Jane Eyre (rilis di Amerika Serikat Maret 2011)

Singkat cerita, Mr. Rochester memutuskan untuk melamar Jane, tanpa peduli perkataan orang lain, tanpa menimbang untung dan rugi (karena pernikahan pada masa itu seringkali memperhitungkan masalah koneksi yang memberikan keuntungan bagi salah satu atau kedua belah pihak). Mr. Rochester merasa telah menemukan pasangan yang sebanding dengannya dari segi prinsip dan cara pandang terhadap hidup, seorang wanita yang benar-benar mengerti dirinya dan mencintai dia apa adanya. Namun malang, hari itu tidak pernah terjadi pernikahan antara Mr. Rochester dan Jane, oleh karena misteri besar yang melingkupi Thornfield Hall yang kelam akhirnya tersingkap!

Jane melarikan diri dari tuan dan kekasih yang dicintainya itu oleh karena peristiwa ini, dan melanjutkan hidup. Walau sebelumnya sempat miskin dan terlunta-lunta, ia diselamatkan oleh sebuah keluarga yang terdiri dari seorang pendeta pria muda dan dua adik perempuannya. Belakangan, terungkap bahwa ketiga orang ini, St. John, Diana dan Mary Rivers, adalah saudara-saudara sepupu Jane. Betapa bahagianya Jane menemukan keluarga yang selama ini ia rindukan untuk miliki! Namun hari-hari Jane masih diisi oleh kenangan pahit dan kerinduan kepada Mr. Rochester, yang tak berhasil diketahui kabar dan keberadaannya. Sementara itu, St. John Rivers sang pendeta muda dan sepupu Jane, mendesaknya untuk mendampinginya pergi ke India sebagai misionaris. Tawaran ini sangat menarik bagi Jane yang mendambakan melihat dunia, namun membayangkan harus meninggalkan tanah kelahiran sekaligus tempat kenangannya akan Mr. Rochester yang tak bisa diraihnya sangat memberati hati Jane. Pilihan mana yang akan diambil Jane?

###

Jane Eyre adalah roman klasik abad sembilan belas, buah karya Charlotte Brontë (1816-1855), yang bersama dua adik perempuannya, Emily dan Anne, dikenal sebagai trio penyair dan novelis wanita yang mempunyai pengaruh besar dalam dunia kesusasteraan Inggris.

Kekuatan penceritaan Charlotte Brontë terletak pada penjabaran emosi, pemikiran, dan karakter tokoh-tokoh di dalam cerita, yang disampaikan dengan sangat detail dan mendalam. Karakter kedua tokoh utama, Jane dan Mr. Rochester, terutama, membuat saya jatuh cinta. Karena sang penulis dengan lihainya mengemas kedua karakter ini begitu rupa sehingga saya terpesona dengan kekuatan karakter mereka yang jauh melampaui ”bungkus” luarnya. Betapa sesungguhnya penampilan fisik dan harta, untuk menilai kekuatan seorang manusia, berada di tempat kedua!

Tokoh-tokoh lainnya dalam Jane Eyre juga tak sembarang ”numpang lewat”, ada banyak karakter yang bisa meninggalkan kesan yang kuat di hati pembaca, misalnya Mrs. Reed yang sampai nafas terakhirnya tak mau melepaskan diri dari kebencian, Blanche Ingram si gadis bangsawan yang cantik namun sangat sombong dan selalu meremehkan orang lain. Karakter yang paling membuat saya sebal adalah St. John, si pendeta yang memaksakan kehendaknya kepada Jane dengan membawa-bawa nama Tuhan.

Karena ini merupakan novel klasik, maka jangan berharap ada banyak adegan romantis fisik dalam buku ini. Namun sebaliknya, cinta yang berusaha ditorehkan oleh penulis melalui buku ini adalah sungguh-sungguh cinta sejati; yang tanpa syarat, yang melampaui batas-batas adat, kebiasaan, dan pandangan yang dibuat manusia.

“Aku menganggap diriku sangat diberkati — melebihi yang bisa diungkapkan dengan kata-kata; karena aku adalah hidup suamiku, sama seperti dia adalah hidupku. Tidak ada wanita yang lebih dekat dengan pasangannya daripada aku: secara mutlak hidup sebagai tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya. Aku tidak pernah lelah hidup bersama Edward: dia tak pernah lelah bersamaku, sebagaimana kami tak pernah lelah dengan denyut jantung yang berdetak dalam dada kami masing-masing.”


Detail buku :
“Jane Eyre”, oleh Charlotte Brontë
688 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Kisah-kisah Tengah Malam – Edgar Allan Poe

Kisah-kisah Tengah Malam Kisah-kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe

My rating: 4 of 5 stars

“Mereka yang berkeliaran di lembah itu
Melihat sesuatu di balik dua jendela istana
Roh gentayangan bergerak dan berdansa
Mengikuti irama suling yang ditiup;
Di atas takhta, duduklah
Seorang penguasa istana
Gagah dan penuh kemenangan.”

“Istana Berhantu” dari Misteri Rumah Keluarga Usher (1839)

Kisah-kisah Tengah Malam yang judul aslinya adalah Tales of Mystery and Terror, adalah kumpulan tiga belas cerita pendek bertema horor gotik karya Edgar Allan Poe.

Inilah judul ketiga belas cerita pendek yang ada dalam Kisah-kisah Tengah Malam sesuai daftar isi:

  1. Gema Jantung yang Tersiksa
  2. Pesan Dalam Botol (namun di halaman cerita judul yang tercantum adalah Catatan dalam Botol)
  3. Hop-Frog
  4. Potret Seorang Gadis
  5. Mengarungi Badai Maelström
  6. Kotak Persegi Panjang
  7. Obrolan dengan Mummy
  8. Setan Merah
  9. Kucing Hitam
  10. Jurang dan Pendulum
  11. Pertanda Buruk
  12. William Wilson
  13. Misteri Rumah Keluarga Usher

Jika Anda belum pernah mengenal atau mendengar nama Edgar Allan Poe, beliau adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, dan kritikus sastra kelahiran Boston, Amerika Serikat, yang hidup antara tahun 1809-1849 (umurnya pendek hanya 40 tahun), dan boleh disebut sebagai salah satu pelopor genre horor/misteri/teror/suspens di masanya.

Dalam Kisah-kisah Tengah Malam, pembaca akan dibawa ke dalam situasi dan tempat yang berbeda-beda; di dalam rumah tua yang seram, di atas kapal yang dilanda badai, di atas tebing curam, dalam istana raja, dan di dalam penjara yang gelap pekat.
Salah satu ciri khas Poe adalah penggunaan sudut pandang orang pertama atau “Aku” dalam setiap cerita dalam buku ini. Uniknya, hampir-hampir tak ada penjelasan mengenai “Aku” di setiap cerita. Tidak ada nama, kecuali dalam cerita pendek berjudul William Wilson ketika si “Aku” menyebut dirinya dengan nama yang sama dengan judul cerita pendek tersebut. Dalam beberapa cerita yang lain, disebutkan bahwa “Aku” memiliki istri, jadi jelaslah dalam cerita pendek itu sang tokoh utama adalah seorang laki-laki.

Ciri khas Poe yang kedua, yaitu penggambaran sedemikian rupa kondisi psikis sang tokoh utama dalam cerita, yang sarat kegilaan, dicekam ketakutan dan teror yang berkecamuk dalam jiwa dan benak. Pada cerita pertama, Gema Jantung yang Tersiksa, pembaca diajak menyelami kegilaan yang dialami sang tokoh utama, seseorang yang telah membunuh seorang tua dan menyembunyikan tubuhnya di bawah lantai kayu.
Selain itu, dari cerita-cerita yang dituturkan, kita dapat melihat betapa Poe adalah orang cerdas yang berpengetahuan luas.
Di dalam cerita Catatan Dalam Botol dan Mengarungi Badai Maelström, Poe memaparkan dengan panjang-lebar mengenai terjadinya badai yang menggulung laut. Saya pribadi berpendapat kedua cerita tersebut agak melelahkan untuk dibaca, karena panjangnya penjelasannya. Namun membaca Obrolan dengan Mummy menjadi angin segar bagi saya, karena wacana mengenai mumifikasi ras tertentu di Mesir adalah baru bagi saya.

Cerita favorit saya dari semuanya adalah Setan Merah, yang menurut saya paling menakutkan sekaligus menakjubkan. Dalam cerita ini Poe membuktikan bahwa beliau adalah benar-benar seorang master horor yang mampu membangun cerita yang membuat pembacanya tak berani menarik napas ketika membaca.

Secara keseluruhan, membaca Kisah-kisah Tengah Malam membuka jendela yang sama sekali baru bagi pembaca yang belum pernah mengecap karya Poe sebelumnya, membawa kita semua di alam yang mungkin asing, tapi sungguh menantang.
Sedikit saran saja bagi Anda yang agak penakut, walaupun judul buku ini Kisah-kisah Tengah Malam, saya tak akan menyarankan Anda untuk membacanya pada tengah malam, karena mungkin—mungkin saja, bisa timbul imajinasi liar dalam kepala Anda dan akhirnya Anda mengalami salah satu cerita horor khas Edgar Allan Poe. ;-P

View all my reviews

Softcover, 245 pages
Published December 28th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 40,000