Very Good Lives – J.K. Rowling

very good lives

The first thing that crossed my mind when I found out about Very Good Lives was: “What? She has written another book? But Career of Evil will be released soon! I haven’t even read The Casual Vacancy! She positively wants to keep her readers surprised!” And so on… But then I found out that this is a commencement speech she delivered at Harvard, in 2008. Why did it take so long to be published, I do not know. I am thankful it finally got published anyway.

As the title suggests, she pointed out two things in her speech: the benefits of failure and the importance of imagination. Ms. Rowling undoubtedly is no stranger to failure; she endured a failed marriage, rejections from publishers, she knows what poverty means and how it feels. And yet she spoke of the benefits of failure. Seriously, what benefits can you gain from failing?

She wrote (and spoke):

“So why do I talk about the benefits of failure? Simply because failure meant a stripping away of the inessential. I stopped pretending to myself that I was anything other than what I was and began to direct all my energy into finishing the only work that mattered to me. Had I really succeed in anything else, I might never have found the determination to succeed in the one arena where I believe I truly belonged. I was set free, because my greatest fear had been realized, and I was still alive, and I still had a daughter whom I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.”

The second thing she pointed out was the importance of imagination. She was not talking about the magical world of Harry Potter here, but rather about “the power that enables us to empathize with humans whose experiences we have never shared.” Here she shared her experience when she worked at the African research department of Amnesty International, where she caught glimpses of the cruelty, torture, and horrors some people has gone through, people who had the temerity to speak against their governments. She spoke about how the power of human empathy can truly save lives. That human beings have a choice between thinking themselves into other people’s places—the not so fortunate ones—or not to exercise their imaginations at all and close their minds and hearts to any suffering that does not touch them personally.

“If you choose to use your status and influence to raise your voice on behalf of those who have no voice; if you choose to identify not only with the powerful but with the powerless; if you retain the ability to imagine yourself into the lives of those who do not have your advantages, then it will not only be your proud families who celebrate your existence but thousands and millions of people whose reality you have helped change. We do not need magic to transform our world; we carry all the power we need inside ourselves already: we have the power to imagine better.”

She encourages us to not shrink in the face of failure and to do more for our less fortunate neighbors. Truly, this is an inspiring piece of writing, one you can reflect upon, one that has the power to stay with you for years to come, even if you only need about 30 minutes to read it.


Book details:

Very Good Lives: The Fringe Benefits of Failure and the Importance of Imagination, by J.K. Rowling
80 pages, published April 2015 by Little, Brown and Company
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

Lust for Life – Irving Stone

lust-for-LIFE---smallSeberapa jauh engkau akan berlari demi mengejar panggilan hidup? Vincent Van Gogh (1853-1890) melalui proses yang panjang sebelum menyadari panggilan hidupnya yang sesungguhnya, dan berusaha sampai titik darah penghabisan demi panggilan hidupnya itu, yakni menjadi seorang pelukis. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk melukis, Van Gogh muda sempat menjadi seorang pramuniaga di galeri lukisan Goupil, yang dipimpin oleh pamannya. Namun bukannya menjadi pramuniaga yang baik yang mampu membujuk orang untuk membeli lukisan, Vincent malah dengan terang-terangan menyebut lukisan-lukisan tersebut jelek dan orang-orang yang membelinya sangat bodoh. Kegagalan menjadi seorang pramuniaga lukisan membawa Vincent kepada jalan hidup yang berikutnya, yaitu menjadi seorang pelayan Tuhan mengikuti jejak ayahnya. Vincent kemudian berkutat mempelajari bahasa Latin, bahasa Yunani, aljabar, dan tata bahasa dari seorang pria bernama Mendes da Costa. Beruntung bagi Vincent, Mijnheer da Costa merupakan seorang guru yang sangat bijaksana yang mampu menginspirasi muridnya sekaligus memberikan kebebasan bagi muridnya untuk memilih apa yang hendak ia lakukan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa dirimu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.” – hal. 53

Kata-kata Mendes membuka mata Vincent yang jengah terhadap pendidikan formal yang harus ditempuhnya sebagai pendeta, dan dengan begitu saja pergi kepada Komite Evangelis Belgia yang kemudian menugaskannya ke sebuah desa pertambangan bernama Borinage. Tempat itu dinamakan “desa hitam”, suatu tempat yang suram dan menyedihkan. Vincent mendapati bahwa yang dibutuhkan oleh para penambang yang kotor dan miskin di Borinage lebih daripada firman Tuhan adalah makanan dan pakaian yang layak, serta tempat tinggal yang hangat. Vincent akhirnya memberikan segala miliknya untuk penduduk Borinage, meski kemudian ia sendiri yang harus kelaparan, sakit dan kedinginan.

Menjelang akhir masa tinggalnya di Borinage, Vincent kembali menekuni aktivitas menggambar dan berkat dorongan dari adik terkasihnya, Theo, kali ini Vincent merasa sungguh-sungguh menemukan jati dirinya sebagai pelukis.

“Oh, Theo, selama berbulan-bulan aku berjuang untuk meraih sesuatu, mencoba untuk menggali semua tujuan yang nyata dan arti dari hidupku, dan aku tidak tahu ini! Tapi sekarang ketika aku benar-benar tahu, aku tidak akan patah semangat lagi. Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku.” – hal. 136

Perjalanan panjang kembali dilalui Vincent untuk membuktikan jati dirinya sebagai pelukis. Di Den Haag ia berguru pada Thomas Mauve yang adalah sepupunya sendiri, sementara berbagai pihak mengkritisi lukisannya terlalu kasar dan mentah. Di Paris kemudian Vincent memutuskan untuk mengubah gaya lukisannya menurut aliran impresionis yang memakai warna yang serba cerah dan goresan yang tajam. Semua ini dilaluinya dengan sokongan dana dari Theo. Pindah ke Arles yang panas menyengat, Vincent pun melukis, melukis, dan melukis, sampai-sampai ia menjadi seperti mesin lukis otomatis yang tidak dapat berhenti bekerja.

“Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya. Untuk kehidupan pribadi, dia tidak memilikinya. Dia hanyalah mesin lukis otomatis, buta dengan makanan, cairan, dan cat yang dituangkan setiap pagi, lalu pada malam harinya sebuah kanvas telah selesai dikerjakan. […] Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya. Dia dapat hidup tanpa istri, rumah, dan anak-anak; dia bisa hidup tanpa cinta, persahabatan, dan kesehatan; dia bisa hidup tanpa keamanan, kenyamanan, dan makanan; dia bahkan bisa hidup tanpa Tuhan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya—kekuatan dan kemampuan untuk mencipta.” – hal. 442

Di Arles-lah panggilan hidup Vincent sebagai seorang pelukis mulai menjadi pedang bermata dua. Mungkin ia telah mewujudkan apa yang Mendes da Costa pernah katakan, “pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu”, tapi di sisi lain ia telah bekerja melampaui batas sehingga pelan-pelan kewarasannya terkikis. Saat ia mendekam di rumah sakit jiwa di St. Remy-lah, untuk pertama kalinya Vincent mendengar kabar baik dari Theo: lukisannya yang diberi judul Ladang Anggur yang Merah (The Red Vineyard) terjual dengan harga empat ratus franc. Simak beberapa karya Van Gogh melalui video di bawah ini.

Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh dalam buku setebal 576 halaman ini, saya jadi semakin memahami bahwa hard work really pays off. Kerja keras pasti membuahkan hasil. Dari seorang Vincent Van Gogh saya belajar tentang keyakinan pada diri sendiri bahwa “jika saya merasa bisa melakukannya, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya melakukannya”, juga kegigihan dalam bekerja, dan saya memahami bahwa ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, kalau kita tidak mau menjadi seperti Vincent yang akhirnya “dikonsumsi” oleh pekerjaannya sendiri dan akhirnya kehilangan segala-galanya. Dari adik Vincent, Theo Van Gogh, saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Theo sangat mengasihi kakaknya sehingga ia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menyokong kakaknya, dan bukan hanya itu, Theo tidak menjauhi kakaknya ketika ia mulai sakit mental dan selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara bagi Vincent. Bagi kisah luar biasa yang mengubah cara pandang saya mengenai panggilan hidup dan kasih sayang terhadap sesama ini, saya menghadiahkan lima bintang.

N.B.: buku ini saya baca pada tahun 2013 dan masuk dalam 3 kategori Book Kaleidoscope 2013:

Baca juga: meme Scene on Three yang menggunakan salah satu adegan dalam buku ini.


Detail buku:

Lust for Life, oleh Irving Stone. Penerjemah: Rahmani Astuti, Copy-editor: Anton Kurnia
576 halaman, diterbitkan 2012 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Our Town – Thornton Wilder

ourtown

Oh, earth, you’re too wonderful for anybody to realize you. Do any human beings ever realize life while they live it? – every, every minute?

*

The play I chose for LRP event this month presents the events of everyday life in a way that underscores their value and their importance. We tend to hurry up with our lives: get this and that done, and suddenly day after day passes with little meaning or none at all. Hardly ever we take time to enjoy life as it is; to cherish every moment no matter how small that moment is, moments with those we love. Therefore the playwright Thornton Wilder wrote Our Town to remind us to be aware with the smallest events of our lives. He knew that those events, little and often ignored they are, sometimes have a meaning that surpass the “big” events. He knew that those are the things we would miss having.

The story of Our Town narrates the story of two families living in a small town, Grover’s Corners, New Hampshire. There is Dr. Frank Gibbs, the town doctor, with his wife Julia and two children: George and Rebecca. Then there is the newspaper editor Mr. Charles Webb, with his wife Myrtle and two children: Wally and Emily. We will learn a lot about Grover’s Corners and how everyday life in the year 1901 was lead there in the first act. George and Emily were both sixteen in the first act. Emily, who was the brightest girl in her class, was helping George to do his math homework while Julia Gibbs talked to her husband about getting a vacation abroad. She was about to receive a considerable amount of money and she said, It seems to me that once in your life before you die you ought to see a country where they don’t talk in English and don’t even want to.” Sadly, she never got the vacation she wanted.

Here we move on to the second act. The time was July 7, 1904. The day was George and Emily’s wedding day. Yes, they got closer to each other; we saw a hint of it on the first act. We will see a little bit of flashback on the second act; when George was about to leave for college, Emily showed her worries about him and after a heart-to-heart conversation they confessed that they were in love with each other. Some wedding jitters, some nervousness, some reminiscence of Frank and Julia’s wedding day years before, and then George and Emily were married.

The third and last act is the critical part of the play. The time was 1913 and the scene was the burial of Emily, who died of childbirth. When the living was mourning, the dead took seats on a part of the stage: Julia Gibbs has been dead for some years now, along with a supporting character, Mr. Stimson who was a choir director of the town’s church and a drunk. The dead conversed about how little the living notice each other and the happiness they feel in the company of loved ones. Their eyes were open while the eyes of the living were shut. Living people are blind.

“That’s what it was to be alive. To move about in a cloud of ignorance; to go up and down trampling on the feelings of those . . . of those about you. To spend and waste time as though you had a million years. To be always at the mercy of one self-centered passion, or another. Now you know – that’s the happy existence you wanted to go back to. Ignorance and blindness.” (Mr. Stimson, Act III, p.109)

“We all know that something is eternal. And it ain’t houses and it ain’t names, and it ain’t earth, and it ain’t even the stars . . . everybody knows in their bones that something is eternal, and that something has to do with human beings. All the grandest people ever lived have been telling us that for five thousand years and yet you’d be surprised how people are always losing hold of it. There’s something way down deep that’s eternal about every human being.” (Stage Manager, Act III, p.87-88)

*

So that was it. Act I tells about Daily Life. Act II about Love and Marriage. And Act III about Death. All three happens to every living human being, except marriage. I was surprised when I finished reading this play. I mean, I  love The Bridge of San Luis Rey, which was a Pulitzer-winning novel from the author. So I shouldn’t be surprised if I happen to like this play, but again Mr. Wilder got me thinking and contemplating on my own life after reading his work. I’d like to say, “Mr. Wilder, you did it again!” I am really in love with the works of an author who won three Pulitzer Prizes in his life; for The Bridge of San Luis Rey (1927, fiction), Our Town (1938, play/drama), and The Skin of Our Teeth (1942, play/drama). I’m so glad that this play is the very first book I read in 2013 and I will be reading The Skin of Our Teeth for LRP event next July.

Our Town was short, simple, familiar. But it moves me in a way that I know I should read this play over and over again. When life gets too hectic and I need to “stop” for a while. I don’t want to be blind; I want to see the beauty of things, the beauty of every moment. That way I can give thanks to the Lord every minute of every day.

3rd review for Let’s Read Plays event| 19th review for The Classics Club Project| 1st review for Books in English Reading Challenge 2013

#bacabareng BBI bulan Januari 2013 tema pemenang Pulitzer

Book details:

Our Town, by Thornton Wilder
103 pages e-book (first published 1938)
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Time Keeper – Mitch Albom

time keeper

Time is what we want most, but what we use worst.– William Penn

 

Ini sebuah kisah tentang WAKTU.

Yang diceritakan melalui sudut pandang tiga manusia:

Manusia pertama yang menghitung waktu,

Manusia yang menginginkan terlalu banyak waktu,

Dan manusia yang ingin semua waktu yang dimilikinya cepat berakhir.

Seorang manusia dari zaman menara Babel didirikan,

Dan dua orang manusia di zaman modern.

Satu orang yang mengira ia bisa mencurangi Kematian,

Satu orang lagi yang mengira ia punya hak untuk mengundang Kematian.

Dan bapa dari waktu, yang akan meneruskan pelajaran yang telah dikecapnya kepada kedua orang itu.

“Mengertikah kau sekarang?” tanyanya. “Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya.”

[…]

“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”

“Mengapa?”

“Supaya setiap hari itu berharga.”

***

Buku ini bukan masterpiece seorang Mitch Albom, namun seperti buku-buku lainnya, nilai moral yang ingin disampaikan penulis melalui buku ini melesat tepat ke sasaran. Melalui bahasa yang sederhana dan alur yang mengalir, Albom mengajak pembaca untuk merenungkan kembali bagaimana menggunakan waktu. Karena itu, saya memberi empat bintang untuk buku ini, lebih tinggi daripada novel Albom yang lain yaitu The Five People You Meet in Heaven.

I need about 3 hours to read this book,

An hour to write its review;

But the lesson it has told me will last forever.

 ###

#postingbareng BBI bulan Oktober 2012 tema karya-karya Mitch Albom

Detail buku:

Sang Penjaga Waktu (judul asli: The Time Keeper), oleh Mitch Albom
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Tanti Lesmana
312 halaman, diterbitkan Oktober 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan September 2012)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

A Tree Grows in Brooklyn – Betty Smith

a tree grows in brooklyn

[Review in Bahasa Indonesia and English]

DESKRIPSI KEHIDUPAN MISKIN. Itu yang ada di benak saya ketika selesai membaca separuh buku tebal ini. Seperti yang disampaikan di Kata Pengantar yang ditulis oleh Anna Quindlen, A Tree Grows in Brooklyn memang bukanlah buku yang mentereng. Dalam arti, jika disandingkan dengan buku-buku klasik lain, buku ini lebih mirip potret kaum imigran di Amerika pada awal abad 20. Plot Tree pun tidak dapat disimpulkan dalam satu kalimat, karena banyaknya detail yang disampaikan; detail-detail yang berlangsung pelan, pasti, dan penuh liku, sama seperti kehidupan itu sendiri.

Tree dibuka dalam adegan di musim panas di New York tahun 1912 yang mana dua orang kakak-beradik, Francie dan Neeley Nolan, melakukan kegiatan yang bisa kita sebut “berbelanja”. Bedanya, kegiatan berbelanja mereka didahului dengan instruksi mendetail dari ibu mereka, Katie, dan dengan budget yang amat terbatas. Dari sana pembaca akan dibawa mengenal para tokoh: Mary Rommely, ibu ketiga gadis Rommely; Sissy, Evy, dan Katie; Katie Rommely (yang kemudian menjadi Katie Nolan) ibu Francie dan Neeley, sosok wanita tegar dan pekerja keras; Johnny Nolan suami Katie yang tampan dan jago bernyanyi namun tukang mabuk, dan juga lebih dalam mengenai Francie dan Neeley. Dikisahkan bagaimana Katie, dengan arahan Mary Rommely, mewajibkan anak-anaknya untuk membaca satu halaman Alkitab dan satu halaman Shakespeare setiap malam. Dikisahkan bagaimana kerja keras Katie untuk membiayai pendidikan bagi anak-anaknya, walau dengan kondisi terhimpit kemiskinan. Dan bagaimana mereka menabung dalam celengan kaleng yang dipaku di bagian dalam laci. Francie yang suka mengamati lingkungan sekitar, suka membaca (ia bertekad membaca satu buku sehari dan rajin mengunjungi perpustakaan) dan kemudian menulis, dan seperti remaja lainnya, bergumul untuk bisa diterima dalam pergaulan.

“Kuncinya ada dalam menulis dan membaca. Kau bisa membaca. Setiap hari, kau harus membacakan satu halaman dari buku yang bagus untuk anakmu. Setiap hari, sampai anak itu belajar membaca. Lalu dia harus membaca setiap hari, aku tahu itu rahasianya.”

Buku ini mengumpulkan detail-detail kehidupan sehari-hari yang nyata dan alami, hal-hal yang sebenarnya “biasa” dikisahkan dengan cantik oleh Betty Smith. Untungnya juga gaya penceritaan yang mengalir dengan enak sangat membantu saya menikmati buku setebal 664 halaman ini walau kadang plotnya terasa lambat, namun tidak membosankan. Pendapat saya tentang penulis wanita Amerika pun berubah setelah membaca novel biografis seorang Betty Smith. (Saya agak kurang sreg dengan karya-karya L.M. Montgomery dan Louisa May Alcott, yang menurut saya too sweet for my taste).

Penerbit Gramedia juga membungkus buku ini dengan cover yang cantik, namun menurut saya kurang pas menggambarkan isi buku (nggak ada kesan “miskin” sama sekali). Buku ini adalah bukti nyata bahwa hal-hal yang sederhanapun bisa jadi indah dan bermakna. Dan sayapun bisa mencoret kata “miskin” dalam kalimat pertama review ini, menjadi DESKRIPSI KEHIDUPAN. Karena dua kata inilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang berusaha disampaikan oleh A Tree Grows in Brooklyn.

“Segala sesuatu berjuang untuk hidup. Lihat pohon di luar yang tumbuh dekat selokan itu. Pohon itu tidak mendapat sinar matahari, dan hanya kena air kalau hujan. Pohon itu tumbuh dari tanah kering. Dan pohon itu kuat karena perjuangan kerasnya untuk hidup membuatnya kuat. Anak-anakku akan kuat seperti itu.”

Detail buku:

Sebatang Pohon Tumbun di Brooklyn (judul asli: A Tree Grows in Brooklyn), oleh Betty Smith
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rosemary Kesauly
664 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1943)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

N.B.: Terima kasih untuk yang namanya tidak boleh disebut, sudah menghadiahkan buku ini. Maaf kalo lama baru direview. 😀


Review in English:

A Description of Poor Living. That’s what I had in mind when I got to the middle of the book. The main focus of the book set on the beginning of 20th century in America was about how a family struggles from poverty. And how a determined mother, Katie Nolan, strived to get education for her two children; Francie and Neeley. The book is thick, full of stories of everyday life, and the plot is slow sometimes, but Betty Smith’s writing style made it flowing beautifully. It is not a kind of book that comes with a “BOOM” or a “BANG” but from its simplicity, from its lessons, I can say that this is a great book, a kind of book that you can (and should) read over and over again in your life. And finally I can cross out the word “poor” from the first sentence of this review, which leaves “A Description of Living.” Because that is what A Tree Grows in Brooklyn is all about.

17th review for The Classics Club Project

Tanah Tabu – Anindita S. Thayf

Tanah Tabu adalah novel yang menceritakan tentang Papua, perjuangan, dan perempuan. Pusat cerita ada pada tiga perempuan tiga generasi yang terikat satu ikatan kasih sayang: Mabel, perempuan setengah baya yang tangguh dan cerdas; Mace, menantu Mabel yang ditinggalkan oleh suaminya; dan Leksi, anak perempuan Mace yang polos dan ceria. Bertiga, mereka berjuang hidup di lingkungan keras di Papua, tanah yang tabu itu. Mabel, yang semasa muda pernah tinggal bersama Tuan Piet dan Nyonya Hermine de Wissel, sepasang suami-istri Belanda yang baik hati, mewariskan prinsip dan pemikiran maju yang ia dapatkan dari mereka kepada Mace dan juga kepada cucunya, Leksi. Mabel dan Mace tak henti-hentinya berusaha agar Leksi dapat terus sekolah dan bebas dari kebodohan. Ada pula tokoh Pum, yang setia mendampingi Mabel sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau, dan Kwee yang tidak bisa lepas dari si kecil Leksi. Dua tokoh ini sama sekali bukan hiasan, melainkan dari mata merekalah pembaca akan menikmati perjalanan di tanah Papua: keindahannya sekaligus kekejamannya.

Tanah Tabu menyimpan banyak petuah atau kata-kata bijak, yang kebanyakan diucapkan oleh tokoh Mabel. Misalnya seperti di bawah ini:

“Kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang ia akan membuatmu jadi lebih kaya, bantingkan saja pintu di depan hidungnya. Tapi kalau orang itu bilang ia akan membuatmu lebih pintar dan maju, suruh dia masuk. Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ. Namun hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma-cuma. Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang, Nak. Ingat itu.” – hal 30

“Apa yang tampak baik dalam pandangan, belum tentu benar seperti itu dalam kenyataan. Apa yang kelihatan tenang mungkin saja menyimpan riak di dasar yang terdalam. Apa yang bagus di luar, bisa saja busuk isinya.” – hal 37-38

“Kita ini perempuan, Anabel. Tak akan mampu memanggul dunia. Jadi hendaknya kau merasa senang jika bisa menjalani bagianmu dalam kehidupan di dunia ini sebaik mungkin. Perempuan tetap akan menjadi perempuan, bukan laki-laki. Dan ingatlah selalu, perempuan tidak akan bisa memanggul dunia, Anabel. Tidak akan pernah.” – hal 123 –> yang ini diucapkan Nyonya Hermine kepada Mabel, yang malah semakin mencambuk keinginan Mabel untuk terus belajar dan tahu lebih banyak lagi.

“Ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan. Dan kebodohan—jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata—mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia.” – hal 163

Lalu kemana cerita bergulir? Pembaca akan disuguhi riwayat Mabel yang telah mengalami banyak hal dalam tahun-tahun kehidupannya, kemudian budaya patriarkal yang kuat di Papua yang mengakibatkan banyak perempuan menderita di bawah tangan suami-suami mereka, kekejaman perang antarsuku, dan juga bagaimana politik, pengusaha, orang-orang asing, dan modernisasi mendobrak masuk ke tanah Papua dengan cara-cara yang kadang tidak menghiraukan alam maupun manusia. Hasilnya, ketimpangan sosial yang eksplisit, di mana orang-orang asing menjadi kaya dengan mengeruk emas dan kekayaan alam Papua sementara penduduk asli Papua sendiri hidup miskin dan sengsara. Klimaks cerita terjadi saat Mabel dijebak sehingga tampaknya ia mendukung satu pihak tertentu dalam persaingan Pilkada. Saat Mabel dalam bahaya dan Mace serta Leksi tertinggal tak berdaya, bisakah Pum dan Kwee menolong Mabel?

***

Saya suka sekali dengan gaya bercerita Anindita S. Thayf, dan bagaimana ia menggunakan karakter Pum, Kwee, dan Leksi sebagai tiga sudut pandang dalam cerita ini. Penuturannya ringan dan gaya bahasa yang digunakan indah tanpa perlu terlalu “nyastra”. Apalagi “kejutan” yang disimpan pengarang di akhir novel mengenai siapa sesungguhnya Pum dan Kwee. Novel ini menjadi angin segar bagi saya yang notabene sangat jarang membaca karya sastra dalam negeri, dan haus akan bacaan berkualitas yang menyoroti kehidupan masyarakat Indonesia secara kritis dan realistis. Salut bagi pengarang yang berhasil menyelesaikan penulisan novel ini setelah melakukan riset selama 2 tahun, dan membuahkan sebuah novel indah yang menjadi Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008. Sekali lagi, saya sangat jarang membaca karya sastra Indonesia, namun saya rasa lima puluh tahun lagi, Tanah Tabu layak dinobatkan sebagai salah satu karya sastra klasik Indonesia, sebagaimana karya-karya Pramoedya Ananta Toer kita akui sebagai karya sastra klasik Indonesia pada zaman ini.

Detail buku:
Tanah Tabu, oleh Anindita S. Thayf
237 halaman, diterbitkan tahun 2009 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Entri #2 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge by ma petite bibliothèque

Thanks to Ndari buat pinjamannya! 🙂

The Reader – Bernhard Schlink

Pemuda lima belas tahun Michael Berg, ditolong oleh seorang perempuan tak dikenal ketika muntah-muntah di jalan Bahnhofstrasse akibat penyakit kuning. Ia begitu terkesan akan pertemuannya dengan perempuan yang berumur dua kali usianya itu, sehingga ia kembali ke pintu rumah perempuan itu dan merasakan ketertarikan fisik ketika ia melihat si perempuan berganti pakaian. Singkat cerita, Michael telah jatuh cinta dan tidur dengan perempuan itu bahkan sebelum mengetahui nama depannya.

Cerita berlanjut dengan hubungan diam-diam Michael dan Frau Schmitz (belakangan Michael baru mengetahui nama depannya, yaitu Hanna), pertemuan-pertemuan yang dihabiskan dengan berhubungan badan dan Michael membacakan banyak buku untuk Hanna. Hanna tidak pernah mau membaca buku sendiri, ia selalu minta Michael untuk membacakan buku-buku itu keras-keras. Seringkali Michael merasa bahwa ada dinding yang masih berdiri teguh antara dirinya dan Hanna, seakan-akan Hanna tak sepenuhnya jujur dengannya. Mereka sebetulnya sama saja seperti pasangan-pasangan lain, hanya dengan beda usia yang terpaut jauh dan hubungan yang dijalani secara diam-diam. Dengan segala gejolak hubungan percintaan yang mewarnai kisah mereka, Michael harus menerima kenyataan bahwa suatu hari Hanna pergi begitu saja dan lenyap dari hidupnya.

Michael bertemu Hanna lagi sebagai mahasiswa hukum, dan Hanna sebagai pesakitan di kursi pengadilan. Ternyata Hanna terlibat suatu kejahatan yang disembunyikannya rapat-rapat dari siapapun, kejahatan yang berkaitan dengan rezim Third Reich di Jerman, alias Nazi di bawah pimpinan Hitler. Hanna juga cenderung pasrah menerima saja segala putusan yang hendak dijatuhkan padanya. Michael hendak menolongnya, namun jelas bahwa Hanna tidak mau ditolong.

Bayangkan saja seseorang dengan sengaja berlari kencang menuju kehancurannya sendiri dan kau bisa menyelamatkannya—apakah kau akan datang dan menyelamatkannya?

Akhirnya Michael menyaksikan Hanna dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa mampu berbuat apa-apa dan waktu pun berlalu, Michael bertumbuh menjadi seorang pria muda yang mempunyai pekerjaan dan istri, namun ia tidak pernah bisa melenyapkan Hanna dari benaknya. Ia mulai membaca Odyssey lagi, salah satu buku yang pernah dibacakannya untuk Hanna, kemudian merekam suaranya dalam kaset dan mengirimkannya kepada Hanna. Setelah bertahun-tahun, hanya itulah bentuk komunikasi mereka berdua. Michael tidak melampirkan surat apapun ataupun menyampaikan pesan dalam kaset yang dikirimnya. Suatu hari ia menerima balasan dari Hanna, dengan tulisan yang ditekan keras-keras pada kertas: “Jungchen, cerita terakhir bagus sekali. Terima kasih, Hanna.” Ini adalah salah satu bagian favorit saya dalam buku, karena bagian ini menceritakan perjuangan Hanna untuk mengatasi kelemahannya (yaitu buta huruf), dan mengambil satu langkah lebih maju, walaupun boleh dikatakan sudah terlambat baginya. Satu langkah yang diambil seorang manusia pada titik tertentu dalam hidupnya, betapapun kecil langkah itu, betapapun seakan sudah terlambat: selalu ada makna yang tersimpan di dalamnya, yang bisa dibawa sampai pada akhir perjalanan.

***

Membaca buku yang ditulis Bernhard Schlink ini seakan-akan seperti membaca buku harian Michael, di mana ia menuangkan segala rasa hatinya, kegelisahannya, cintanya untuk Hanna, yang masih ada sampai akhir cerita, walaupun bentuknya sudah berbeda. Menurut saya buku ini adalah gabungan roman dan historical fiction yang ditulis dengan gaya kontemplatif. Artinya banyak hal yang bisa direnungkan lewat membaca buku ini. Seperti halnya hubungan antara Michael-Hanna, walapun “tabu” tapi dilukiskan dengan sangat gamblang dan manusiawi. Dari sisi sejarahnya, kita mendapatkan sekelumit gambaran mengenai keadaan Jerman pasca rezim Hitler. Kita melihat dua sisi dari orang-orang Jerman: mereka yang takluk di bawah kekuasaan Hitler karena mempunyai ide yang sama, dan mereka yang takluk karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Kita melihat Jerman sebagai suatu bangsa yang baru saja merasakan pukulan telak; apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya? Dari sisi humanitas yang lebih mendalam, kita belajar bahwa bagaimanapun juga, di tangan kita sendirilah terletak pilihan untuk menentukan arah kehidupan kita masing-masing.

Perenungan ini membawa saya memikirkan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

Apa jadinya jika Michael dan Hanna hidup bersama dan menjalani hubungan dengan terang-terangan?

Apa jadinya jika Hanna menampik tuduhan hakim atasnya dan membela diri dengan alibi kuat yang dimilikinya?

Life is made of choices, saya pernah membaca ungkapan ini di suatu tempat. Salut untuk Hanna yang memilih menentukan arah hidupnya sendiri, walaupun pilihannya itu tidak membuat nasibnya lebih baik. Juga karena ada upaya darinya untuk belajar membaca dan menulis, walaupun waktu yang dimilikinya sudah sangat sedikit. Tiga bintang untuk salah satu buku dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die yang memberi kesan kepada saya bahwa dari sebuah kisah yang punya ending yang tidak bahagia sekalipun, ada hal-hal kecil yang membuatnya tetap bermakna.

The Reader movie poster (2008)

Jika kita membuka diri
Dirimu padaku, dan diriku padamu,
Manakala kita tenggelam
Kau ke dalam diriku dan aku ke dalam dirimu,
Manakala kita menghilang
Kau di dalam diriku dan aku di dalam dirimu

Lalu
Aku adalah aku
Dan engkau adalah engkau

#postingbersama BBI Juli 2012 tema Historical Fiction

Detail buku:
“The Reader” (Sang Juru Baca), oleh Bernhard Schlink
232 halaman, diterbitkan Juni 2012 oleh Elex Media Komputindo (pertama kali diterbitkan tahun 1995)
My rating: ♥ ♥ ♥

Pangeran Bahagia – Oscar Wilde

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Dongeng untuk segala usia. Buku tipis yang berisi lima cerita pendek karya Oscar Wilde ini sungguh sayang untuk dilewatkan dan menyenangkan untuk dibaca berulang-ulang. Lewat untaian kata-kata yang indah, cenderung tragis, dan penuh sindiran, Wilde berusaha mengajak pembaca untuk berhenti dan merenungkan apa artinya menjadi manusia seutuhnya. Bahwa manusia diciptakan satu paket dengan kemampuan untuk mencintai dengan tulus, apakah kita sudah mampu untuk melakukannya? Inilah kelima cerpen yang termuat dalam kumcer Pangeran Bahagia:

1. Pangeran Bahagia (judul asli: The Happy Prince)

Pangeran Bahagia adalah sebuah patung yang berdiri di atas tiang tinggi dan menatap kota dari ketinggian. Tubuh sang Pangeran bersepuhkan emas murni, matanya dari batu safir, dan pedang yang dipegangnya berhiaskan batu delima besar yang berkilauan. Suatu ketika seekor burung Walet mungil terbang mendatangi sang Pangeran dan bertengger di bahunya. Saat itulah, Walet kecil mendapati bahwa sang Pangeran tidak bahagia sama sekali! Sang Pangeran kemudian memohon si Walet kecil untuk membantunya merasa bahagia, dan si Walet mengabulkan permintaannya, meskipun rencananya untuk terbang ke Mesir menyusul kawanannya yang migrasi karena musim dingin harus tertunda. Di akhir cerita, pembaca akan menemukan apa sebenarnya yang diperlukan untuk menjadi bahagia, dan bukan tidak mungkin akan menitikkan air mata haru. :’)

2. Bunga Mawar dan Burung Bulbul (judul asli: The Nightingale and the Rose)

Seorang Pelajar Muda hendak memberikan sekuntum bunga mawar merah untuk gadis yang dicintainya, namun ia tidak mendapatinya dimana-mana. Seekor burung bulbul mendengar si pemuda menangis karena putus asa, dan saat itu juga Burung Bulbul memutuskan untuk menolongnya.

“Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati,”  kata si Burung Bulbul. “Malam demi malam aku bernyanyi untuknya, meskipun aku tidak mengenalnya. Malam demi malam juga telah kuceritakan kepadanya cerita tentang bintang-bintang, dan akhirnya bisa juga kusaksikan sang kekasih sejati. Rambutnya sehitam bunga bakung, dan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; tapi keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan kesengsaraan tergambar jelas di keningnya.”

Maka dimulailah pencarian si Burung Bulbul akan sekuntum mawar merah, pencarian yang akan membuatnya melakukan pengorbanan yang amat menyakitkan…

3. Raksasa yang Egois (judul asli: The Selfish Giant)

Konon, ada seorang Raksasa yang memiliki sebuah taman yang besar dan indah, dan anak-anak sangat suka bermain di taman itu. Setelah kembali dari bepergian selama tujuh tahun, sang Raksasa merasa tidak senang akan anak-anak yang bermain di tamannya, dan ia memasang papan pengumuman yang berbunyi, “Barangsiapa yang sembarangan masuk akan dihukum”. Anak-anak merasa sedih, dan Musim Semi dan Musim Panas mendengar kesedihan mereka sehingga mereka enggan menghampiri kediaman sang Raksasa. Hasilnya, Musim Salju beserta kawan-kawannya yang berpesta pora melingkupi taman sang Raksasa. Suatu hari, tiba-tiba taman sang Raksasa dilingkupi Musim Semi yang paling indah, dan ia melihat seorang anak yang sangat mungil yang berusaha untuk mencapai cabang-cabang pohon. Hati sang Raksasa tersentuh melihatnya, namun sesudah itu ia tidak lagi melihat si anak mungil yang misterius tersebut. Siapakah ia?

4. Teman yang Setia (judul asli: The Devoted Friend)

Apakah kamu merasa bahwa dirimu seorang teman yang setia? Cobalah baca cerpen yang satu ini, dan simak percakapan antara seekor Tikus Air tua dan Burung Pipit. Burung Pipit bercerita kepada Tikus Air tua mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans, dan “teman sejati”nya, si Tukang Giling. Membaca kisah ini mengingatkan saya akan sebuah kisah yang diceritakan Nabi Natan kepada Daud* tentang seorang kaya yang memiliki banyak kambing domba, namun ia mengambil domba satu-satunya milik tetangganya yang miskin, untuk disajikan bagi tamunya. Egois! Demikian pula si Tukang Giling, karakter yang akan membuatmu sebal luar biasa. Namun setelah itu bercerminlah, apakah dirimu seorang teman yang sejati, tanpa tanda kutip?

*2 Samuel 12:1-4

5. Roket yang Luar Biasa (judul asli: The Remarkable Rocket)

Orang yang berkoar-koar bahwa dirinya paling penting, kemungkinan besar akan sampai pada akhir yang menunjukkan bahwa ia tidak sepenting yang ia kira. Sepertinya inilah pesan yang ingin disampaikan Oscar Wilde melalui cerpen ini. Kita akan melihat sebuah kerajaan yang sedang berpesta atas pernikahan sang putra mahkota dengan seorang putri yang sangat cantik. Semua kembang api berlomba-lomba memeriahkan pesta itu, mulai dari si Petasan mungil, Mercon besar, Kembang Api Kicir-kicir, Cerawat, dan si Lentera Terbang. Namun sang Roket yang Luar Biasa malah mengoceh tak karuan, dan akhirnya tidak berkesempatan untuk menunjukkan kebolehannya, dan malah jadi tersia-sia. Akibat omong besar, kejayaan berlalu begitu saja dari dirinya.

Empat bintang buat buku ini!

Detail buku:
“Pangeran Bahagia” (judul asli: “The Happy Prince and Other Stories”), oleh Oscar Wilde, penerjemah: Risyiana Muthia
108 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta (terbit pertama kali Mei 1888)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Tentang Oscar Wilde

Sastrawan legendaris bernama lengkap Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (inisialnya O.F.O’F.W.W.) yang hidup tahun 1854-1900 ini lahir di Dublin, Irlandia, dan terkenal akan karya-karyanya yang beragam, mulai cerpen, novel, puisi, esai, dan lakon, dan juga akan kisah hidupnya yang kontroversial. Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah The Happy Prince and Other Stories (1888), The Picture of Dorian Gray (novel, 1890), Lord Arthur Savile’s Crime (kumpulan cerpen, 1891), Lady Windermere’s Fan (lakon, 1892), A Woman of No Importance (lakon, 1893), An Ideal Husband (lakon, 1895), dan The Importance of Being Earnest (lakon, 1895). Berikut adalah kredo kepenulisan seorang Oscar Wilde yang termuat dalam pengantar novel The Picture of Dorian Gray:

“Tak ada yang namanya buku bermoral atau tak bermoral. Yang ada hanyalah buku yang ditulis dengan baik atau yang ditulis dengan buruk.”


 Conclusion:

I really don’t have much to say about this book. It was wonderful: beautiful, tragic, and satirical. It makes readers stop and contemplate from the stories; are we truly a complete human being? Are we capable of loving our neighbors with all our heart? Are we capable of loving so much that we are willing to make sacrifices for those we love? Are we selfish or selfless? Are we truly a devoted friend towards others? Do we boast much? These are the questions that popped into my head during and after reading this collection of short stories. This book is—with no doubt, a collection of tales for any age. 4 from 5 stars for The Happy Prince!

1st review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classics Club Project, 2nd review for The Classic Bribe

Pope Joan – Donna Woolfolk Cross

Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?

Quis — siapa?

Namanya Joan. Dilahirkan tahun 814 Masehi di Ingelheim (sekarang di wilayah Jerman). Putri satu-satunya seorang kanon (semacam pendeta atau imam) dari Inggris dan istrinya yang orang Saxon. Punya dua kakak laki-laki, Matthew dan John. Dari kecil sudah menampakkan kecerdasan dan keingintahuan yang luar biasa. Joan menderita siksaan fisik dari ayahnya gara-gara hal itu, tapi toh ia tidak mau berhenti belajar.

Quid — apa?

Perjuangan Joan, yang dengan karunia kecerdasan yang dimilikinya, menolak kenyataan yang terjadi pada masa itu bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk membaca dan menulis, apalagi belajar dan menguasai berbagai ilmu sebagaimana kaum laki-laki. Ditengah-tengah busuknya politik Kepausan Katolik Roma, ancaman Kaisar Lothar dari kerajaan Frank, ancaman wabah yang merajalela, dan juga serangan bangsa Viking, Joan menapaki langkah demi langkah menuju tahta tertinggi dalam Katolik Roma – Paus.

Quomondo – bagaimana?

Di satu titik Joan membuat suatu keputusan besar yang mengubah seluruh hidupnya – ia menyamar sebagai seorang laki-laki, sehingga ia bisa mempelajari banyak hal – sesuatu yang mustahil dilakukan seorang perempuan pada abad kesembilan. Keteguhannya untuk terus menjalani hidup sebagai laki-laki hampir tergoyahkan ketika ia jatuh cinta pada Gerold, seorang count yang menjadi ayah angkatnya di Dorstadt. Namun toh Joan tetap teguh melakukan apa yang menjadi hasratnya sampai nafasnya yang terakhir.

Ubi – Di mana?

Mengawali dengan bersekolah di Dorstadt oleh rujukan dari guru pertamanya, Aesculapius, seorang Yunani. Setelah lolos dari serangan brutal bangsa Viking di Dorstadt, Joan melarikan diri ke pertapaan di Fulda di mana ia menyamar sebagai laki-laki untuk pertama kalinya. Kemudian, setelah menghabiskan bertahun-tahun di Fulda, sebuah wabah demam nyaris membongkar penyamarannya sehingga ia kabur, dan akhirnya pergi ke Roma, menjadi tabib pribadi Paus Sergius, dan pada waktunya—ia sendiri yang diangkat menjadi Paus.

Quando – kapan?

Keseluruhan kisah berlangsung pada tahun 814 hingga 855 Masehi, yang termasuk dalam era Abad Kegelapan. Joan memerintah sebagai Paus pada tahun 853 hingga 855. Setelah Joan meninggal, Katolik Roma dibawah tulisan Anastasius menghapuskannya dari Liber pontificalis, yaitu kronik resmi seluruh Paus yang pernah ada. Empat puluh tahun setelah kematiannya, Uskup Agung Arnaldo menyalin Liber pontificalis dan menambahkan bab mengenai Joan ke dalamnya, sehingga kebenaran tidak sepenuhnya hilang.

Cur – mengapa?

Mengapa Joan sampai memilih meninggalkan identitas keperempuanannya? Karena ia punya impian, dan hasratnya terhadap impian tersebut demikian besarnya sehingga pengorbanan demi pengorbanan yang ia lakukan dirasanya setimpal. Mengapa lalu ia bisa sampai di tahta tertinggi Katolik Roma? Karena Joan mampu. Karena perempuan mampu, karena perempuan bukanlah makhluk yang bodoh dan lemah. Karena perempuan sejajar dengan laki-laki.

***

Pope Joan adalah sebuah novel yang lengkap. Sejarah, politik, perjuangan perempuan, agama, perang, cinta, pengorbanan, kemunafikan, kebrutalan manusia; semua terkandung di dalamnya. Sang pengarang, Donna Woolfolk Cross, menghimpun kisah ini dengan apik, tokoh-tokohnya terasa nyata dan emosinya dapet. Apalagi dengan alur cepat yang tidak membuat bosan. Walau di beberapa bagian emang sadis sih, terutama pas serangan bangsa Viking itu. Pope Joan versi film (2009) kurang mengesankan walaupun dari segi cast secara fisik sudah pas, setting juga bagus, tapi emosinya kurang terasa.

Salut untuk pengarang yang menyelesaikan penulisan Pope Joan setelah melakukan riset selama tujuh tahun. Salut juga untuk F.X. Dono Sunardi sang penerjemah, karena menerjemahkan karya ini sudah pasti bukan pekerjaan gampang. Puasss banget melahap lebih dari 700 halaman novel ini, karena wawasan bertambah banyak, terutama tentang sejarah, seluk-beluk kepausan di Katolik Roma, dan beberapa kalimat dalam bahasa Latin… Juga bagian Catatan dari Pengarang sungguh-sungguh membantu dalam memahami kisah.

Saran saya bagi penerbit yang hendak menerbitkan novel serupa: akan lebih nyaman kalau ada glossary di bagian belakang buku, terutama sih tentang berbagai istilah dan jabatan keagamaan yang tidak familiar bagi saya sehingga membuat saya jadi cukup bingung. Kalau sebatas catatan kaki, kan, kalau ketemu lagi dengan kata “X’, saya sudah lupa catatan kakinya ada di halaman berapa, hehehe.

Jadi, apakah Paus Joan pernah ada? Setelah membaca buku ini rasanya saya percaya kalau beliau benar-benar pernah ada. Bagaimanapun, kisahnya menginspirasi para perempuan (dan juga laki-laki) untuk tidak menyerah dan berani berkorban dalam berusaha mencapai impian.
Go for it, no matter what it takes! Empat bintang bagi kisah perempuan hebat yang nyaris terlupakan ini.

Beberapa kutipan favorit:

“Jika ingin dapat bertahan di dunia ini, kau harus bersikap lebih sabar dengan mereka yang ada di atasmu.” – hal. 179

“Sungguh aneh apa yang terjadi pada hati manusia. Orang dapat saja terus hidup selama bertahun-tahun, terbiasa kehilangan, serta berdamai dengannya, tetapi kemudian, dalam sekejap saja, rasa sakit itu muncul kembali bersama rasa pedih dan perih seperti luka yang masih baru.” – hal. 495

“Kita akan tetap berdoa seakan-akan semuanya bergantung kepada Tuhan dan terus bekerja seolah-olah segalanya tergantung pada diri kita sendiri.” – hal. 573

“Terangnya harapan yang dipantikkan oleh para perempuan tersebut hanya serupa kelap-kelip cahaya kecil di samudra kegelapan, tetapi nyalanya tidak pernah sepenuhnya padam. Kesempatan selalu ada dan tersedia bagi kaum perempuan yang cukup kuat untuk bermimpi. Pope Joan adalah kisah dari salah satu pemimpi itu.” – hal. 732.

Catatan:Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?” tidak lain adalah 5W+1H (Who, what, when, where, why, how) yang konsep awalnya dirumuskan oleh filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero (106-43 SM).

Links:

Pope Joan on Wikipedia
Pope Joan the Novel Official Site
Resensi Pope Joan di Kompasiana oleh Kornelius Ginting

Detail buku:
“Pope Joan”, oleh Donna Woolfolk Cross
736 halaman, diterbitkan Januari 2007 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Belajar Hidup Tanpa Batas bersama Nick Vujicic

Entah kebetulan atau tidak, posting resensi pertama di tahun 2012 ini adalah buku non fiksi, sama seperti resensi pertama di tahun 2011 lalu. Padahal saya boleh dibilang sangat jarang membaca non fiksi. Bisa jadi tradisi ini akan saya teruskan di awal tahun depan dan seterusnya 🙂


Ada saat-saat ketika kehidupan terasa sangat sulit dan penuh masalah. Kita menjadi sedih, marah, pahit, negatif, kehilangan gairah hidup. Seakan kitalah orang paling sengsara di dunia, dan waktu yang ada hanya dimanfaatkan untuk duduk menunggu dunia runtuh.

Ada banyak orang yang hidupnya tidak bahagia karena mereka masih merasa “kekurangan”. Kurang kaya, kurang ganteng atau cantik, kurang langsing, kurang modis, kurang pandai, dan masih banyak kurang-kurang lainnya. Sebenarnya kunci untuk menjadi bahagia hanya satu: pilihan anda. Mungkin banyak hal yang tidak enak sedang terjadi dalam hidup anda saat ini. Tidak ada manusia yang dapat mengendalikan hal itu. Namun kita bisa mengendalikan bagaimana sikap kita ketika menghadapi masalah. Kita punya pilihan!

Demikian pula dengan Nicholas James Vujicic, yang akrab disapa Nick. Pemuda 29 tahun keturunan Serbia yang lahir dan dibesarkan di Australia ini terlahir ke dunia dengan Tetra-amelia syndrome, suatu kelainan langka yang menyebabkan ketiadaan lengan dan tungkai. Tidak dapat disangkal bahwa Nick menjalani kehidupan yang ekstra sulit. Akan tetapi, setelah melalui perjalanan panjang penemuan diri dan tujuan hidup, dan berbagai pengalaman yang mengerikan, Nick menyadari bahwa ia mempunyai pilihan. Alih-alih menyerah terhadap keadaan, Nick justru memilih untuk memanfaatkan kekurangannya sebagai suatu kelebihan. Nick menyadari bahwa Tuhan memberinya karunia untuk berbicara, memotivasi, dan menghibur orang lain, dan dengan karunia itu ia dapat memberi sesuatu yang spesial kepada dunia. Pilihan yang dibuat Nick telah membawanya menjadi seorang penginjil dan pembicara motivasi kelas internasional yang telah melakukan perjalanan keliling dunia untuk berbicara di depan ribuan hingga jutaan orang. Nick juga adalah seorang sarjana akuntansi dan perencanaan keuangan yang kini memiliki beberapa perusahaan termasuk organisasi nirlaba Life Without Limbs, dan bintang film pendek pemenang penghargaan Doorpost Film Project 2009 yang berjudul The Butterfly Circus.

“Orang kerap bertanya bagaimana aku bisa bahagia walaupun tidak punya lengan dan tungkai. Jawaban cepatku adalah aku punya pilihan. Aku bisa merasa marah karena tidak punya tungkai, atau aku bisa bersyukur karena punya tujuan. Aku memilih sikap bersyukur. Kau juga bisa melakukannya.” – Nick Vujicic

Pengalaman mengatasi tantangan baik secara fisik maupun mental yang dialami Nick karena kondisi tubuhnya, dituangkan  dalam buku berjudul asli Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life, pertama kali diterbitkan oleh Random House tahun 2010. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia. Buku yang berisi 12 bab ini adalah gabungan memoar sekaligus merupakan non fiksi pengembangan diri/inspirasional.

Melalui halaman-halaman bukunya, pemuda tak berlengan dan bertungkai ini akan menuntun anda untuk menerima dan mencintai diri sendiri sebagaimana adanya, menemukan tujuan hidup, menyalakan iman dan harapan, berani menghadapi tantangan, bertahan dalam cobaan, bangkit dari kegagalan, dan akhirnya mendobrak segala batasan, mencintai kehidupan sepenuhnya dan mendorong anda untuk memberi dan menjadi berkat bagi orang lain.

Buku ini juga merekam banyak pengalaman Nick di berbagai kesempatan. Beberapa sangat menyentuh, beberapa lainnya sungguh konyol dan gila. Nick ingin pembaca buku ini tahu bahwa ia juga manusia biasa, yang sangat menikmati dan mencintai hidupnya. Ia suka melakukan berbagai hal yang bisa membantu meringankan beban orang lain, namun ia juga suka melakukan hal-hal yang murni untuk kesenangan pribadi. Ia menjalani hidup layaknya orang normal! Nick berenang, bermain basket, bermain musik, main skateboard, melakukan perencanaan bisnis, berkeliling dunia untuk berbicara di depan orang banyak, bertemu dengan berbagai tokoh penting dunia. Ia menjalani kehidupan dengan segala rasa syukur dan kebahagiaan. Ia menjalani kehidupan yang tanpa batas, meskipun secara fisik ia terbatas. Kalau orang tanpa lengan dan tungkai ini saja mampu hidup seperti itu, mengapa tidak demikian dengan anda?

“Kehidupanku adalah sebuah kesaksian tentang kenyataan bahwa kita tidak memiliki batasan kecuali batasan yang kita buat sendiri. Hidup tanpa batas berarti mengetahui bahwa kau selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, sesuatu yang mungkin bisa meringankan beban orang lain.” – hal. 242

Tak hanya dirinya sendiri, di dalam buku ini Nick menyebutkan beberapa nama yang telah membuktikan bahwa mereka mampu mendobrak tembok-tembok yang membatasi diri mereka dan memberikan kontribusi bagi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Ada Bethany Hamilton, peselancar kelas dunia yang kehilangan tangan kirinya karena diserang seekor hiu saat ia baru berusia 13 tahun. Bethany kembali berselancar setelah kecelakaan itu, walau ia hanya mempunyai sebelah lengan. Christy Brown, seorang laki-laki (ya, Christy Brown adalah seorang pria) Irlandia yang terlahir lumpuh, dari semua bagian tubuhnya hanya kaki kirinya saja yang bisa digerakkan. Christy menjadi seorang penulis, penyair, dan pelukis yang dihormati dan kisah hidupnya diangkat menjadi sebuah film pemenang penghargaan Academy Award. Kemudian ada Reggie Dabbs, yang lahir sebagai anak haram dari seorang pekerja seks dan nyaris saja diaborsi. Hari ini, seperti Nick, Reggie adalah seorang public speaker dan motivator yang dibayar untuk menumbuhkan harapan kepada orang-orang. Joni Eareckson Tada, penderita quadriplegia sekaligus musisi dan penulis buku inspiratif. Joni memiliki organisasi nirlaba yang telah membagikan lebih dari 60.000 kursi roda kepada para difabel di 102 negara. Dan beberapa nama lain yang memberikan kontribusi bagi sesama dengan cara masing-masing.

Buku yang ditulis dengan bantuan Wes Smith ini secara keseluruhan bagus dan sangat inspiratif. Penuturannya sederhana namun mengena, menarik dan jauh dari menjemukan. Banyak kutipan bagus yang bisa ditemukan di dalamnya. Kelemahannya mungkin terletak pada beberapa kalimat yang diulang (mungkin tidak persis sama, namun serupa) dalam bab-bab selanjutnya. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh P. Herdian Cahaya Khrisna sangat bagus, namun  sayang kenikmatan membaca masih terganggu dengan typo yang bertaburan di sana-sini. Dan perlu diketahui juga, meskipun buku yang di Indonesia telah memasuki cetakan keempat ini ditulis dengan nafas Kristiani, namun menurut saya masih sangat bisa dinikmati oleh pembaca non-Kristiani. Jadi, bacalah buku ini dan mulailah menjalani kehidupan tanpa batas seperti Nick!

Nick & his soon-to-be-wife Kanae

Berita gembira: Nick dan tunangannya, Kanae Miyahara, akan melangsungkan pernikahan bulan Februari 2012 ini. Congratulations, Nick & Kanae!


Lebih lanjut tentang Nick Vujicic:
NickVujicic.com / LifeWithoutLimbs.org / AttitudeIsAltitude.com
Lihat juga video-video Nick yang telah ditonton jutaan kali di YouTube.com

Detail buku:
“Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia” (judul asli: “Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life”), oleh Nick Vujicic
259 halaman, diterbitkan Mei 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥