Very Good Lives – J.K. Rowling

very good lives

The first thing that crossed my mind when I found out about Very Good Lives was: “What? She has written another book? But Career of Evil will be released soon! I haven’t even read The Casual Vacancy! She positively wants to keep her readers surprised!” And so on… But then I found out that this is a commencement speech she delivered at Harvard, in 2008. Why did it take so long to be published, I do not know. I am thankful it finally got published anyway.

As the title suggests, she pointed out two things in her speech: the benefits of failure and the importance of imagination. Ms. Rowling undoubtedly is no stranger to failure; she endured a failed marriage, rejections from publishers, she knows what poverty means and how it feels. And yet she spoke of the benefits of failure. Seriously, what benefits can you gain from failing?

She wrote (and spoke):

“So why do I talk about the benefits of failure? Simply because failure meant a stripping away of the inessential. I stopped pretending to myself that I was anything other than what I was and began to direct all my energy into finishing the only work that mattered to me. Had I really succeed in anything else, I might never have found the determination to succeed in the one arena where I believe I truly belonged. I was set free, because my greatest fear had been realized, and I was still alive, and I still had a daughter whom I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.”

The second thing she pointed out was the importance of imagination. She was not talking about the magical world of Harry Potter here, but rather about “the power that enables us to empathize with humans whose experiences we have never shared.” Here she shared her experience when she worked at the African research department of Amnesty International, where she caught glimpses of the cruelty, torture, and horrors some people has gone through, people who had the temerity to speak against their governments. She spoke about how the power of human empathy can truly save lives. That human beings have a choice between thinking themselves into other people’s places—the not so fortunate ones—or not to exercise their imaginations at all and close their minds and hearts to any suffering that does not touch them personally.

“If you choose to use your status and influence to raise your voice on behalf of those who have no voice; if you choose to identify not only with the powerful but with the powerless; if you retain the ability to imagine yourself into the lives of those who do not have your advantages, then it will not only be your proud families who celebrate your existence but thousands and millions of people whose reality you have helped change. We do not need magic to transform our world; we carry all the power we need inside ourselves already: we have the power to imagine better.”

She encourages us to not shrink in the face of failure and to do more for our less fortunate neighbors. Truly, this is an inspiring piece of writing, one you can reflect upon, one that has the power to stay with you for years to come, even if you only need about 30 minutes to read it.


Book details:

Very Good Lives: The Fringe Benefits of Failure and the Importance of Imagination, by J.K. Rowling
80 pages, published April 2015 by Little, Brown and Company
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

Surabaya Punya Cerita Vol. 1 – Dhahana Adi

sby punya ceritaJudul bukunya Surabaya Punya Cerita. Jujur saja, pertama kali saya tahu tentang buku ini (melalui tweet dari @indiebookcorner) saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen dengan setting kota Surabaya. Karena belum pernah baca buku bertemakan Surabaya, maka ketika saya melihat buku ini bertengger manis di rak di salah satu toko buku terbesar di kota saya, (Surabaya, di mana lagi?) tanpa berpikir panjang saya mengambilnya dan memasukkan di kantong belanjaan. Sebelumnya saya tidak tahu menahu tentang blog Surabaya Punya Cerita, dan bahwa artikel-artikel di dalam blog tersebut dituangkan dalam kertas dan tinta dalam buku ini .

Kalau boleh saya jelaskan seperti ini, Surabaya Punya Cerita berisi potongan-potongan sejarah tentang Surabaya yang kebanyakan tak terpublikasikan dan bahkan sudah terlupakan. Bentuknya macam-macam, mulai dari tradisi, tempat bersejarah, tokoh kenamaan, sampai musik dan film. Namun jika buku sejarah biasanya melulu berisi fakta, Surabaya Punya Cerita menyodorkan sejarah melalui cerita-cerita nostalgia.

Melalui beberapa cerita tentang tempat bersejarah di Surabaya, pembaca diajak mengingat kembali, atau disodorkan informasi baru jika sebelumnya tidak tahu, bahwa tempat-tempat tersebut ada sejarahnya. Jalan Baliwerti hari ini mungkin dikenal sebagai sentra pertokoan keramik, namun pada tanggal 10 November 1977, Hari Pahlawan, Baliwerti dipenuhi sekitar tiga ribu pemuda yang melakukan long march menuju Tugu Pahlawan sebagai bentuk protes terhadap degradasi moral dan ketidakadilan sosial yang sedang terjadi. Banyak yang lupa bahwa di dalam Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan, tersimpan makam salah satu pahlawan nasional, Dr. Soetomo. Orang Surabaya pasti tahu bahwa ada areal makam Belanda di Pemakaman Kembang Kuning, tapi mungkin tidak tahu siapa saja tokoh-tokoh penting yang dimakamkan disana. Beberapa diantaranya adalah Alfred Emille Rambaldo, perintis perjalanan udara pertama yang menemukan dan mengembangkan balon udara bermesin tahun 1908-1911; Everdina Bruring, istri dari Dr. Soetomo; dan G. Cosman Citroen yang adalah arsitek Balai Kota Surabaya dan Rumah Sakit Darmo.

Berbagai karya seni dan musik yang berjaya di Surabaya pada jamannya, juga disuguhkan dalam buku ini. Misalnya film nasional berjudul Soerabaia 45 yang rilis pada tahun 1990, yang melibatkan sejumlah insan seni yang tidak bisa dianggap main-main. Grup lawak Srimulat memulai sejarahnya dengan mementaskan dagelan Mataram di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada penghujung tahun 1960an, pada waktu itu masih menggunakan nama Gema Malam Srimulat. Ada The Tielman Brothers yang konon disebut-sebut sebagai salah satu grup band tertua di dunia yang memainkan musik rock n roll sebelum The Beatles, The Rolling Stones, bahkan Led Zeppelin. Band yang dipelopori Andy Tielman ini memadukan genre rock n roll dengan musik khas Indonesia seperti gamelan atau keroncong, hingga akhirnya genre musik ini disebut genre Indorock atau “Indonesian Rock N Roll”. Dari dunia seni rupa, Surabaya memiliki Tedja Suminar, pelukis peranakan Tionghoa yang dikenal njawani. Relief di stadion Gelora 10 November adalah hasil desain sketsa dari pelukis yang menjadikan Surabaya dan Bali sebagai sumber inspirasi utamanya itu. Dan, bukan hanya satu, namun tiga cerita disajikan mengenai Gombloh, musisi asal Kampung Embong Malang Surabaya yang paling dikenal dengan lagu “Di Radio” yang aslinya berjudul “Kugadaikan Cintaku”. Tak ketinggalan cerita tentang dedengkot musik jazz, Bubi Chen.

Masih banyak cerita lain yang tersimpan dalam buku yang relatif tipis ini (204 halaman). Kekurangan buku ini terletak pada editing-nya, yang jika diperhalus lagi bisa lebih enak dibaca, dan banyak foto hitam putih yang ditampilkan beresolusi rendah. Pada awalnya saya menganggap harganya agak kemahalan untuk buku setebal 204 halaman, namun pada akhirnya isi dari buku ini membayar setiap rupiah yang saya keluarkan untuk membelinya. Sayangnya, eksemplar yang saya beli cutting-nya kurang rapi, halaman-halaman buku melampaui batas sampul sekitar 2 mm.

Saya menamatkan buku ini hanya sehari sebelum HUT Surabaya ke-722, 31 Mei lalu, namun baru bisa menuliskan reviewnya sekarang. 😀 Kalau pada awalnya saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen, ternyata setelah menamatkannya buku ini melampaui ekspektasi saya. Sekarang, sedikit banyak saya jadi tahu potongan-potongan sejarah yang terlupakan tentang kota tercinta. Buku ini saya rekomendasikan bagi setiap warga Surabaya, mereka yang punya kenangan dan kesan khusus terhadap Surabaya, juga mereka yang tertarik dengan Surabaya. Dunia perlu tahu, bahwa sejarah dan sisik melik Surabaya penuh warna, dan tidak melulu berkaitan dengan pertempuran 10 November ataupun cerita rakyat Sura dan Baya. Tak sabar menanti Vol. 2 terbit!

Surabaya, kota tak terlupakan

Surabaya, kota tak terlupakan

Telusuri lebih banyak tentang Surabaya Punya Cerita di: Blog | Facebook | Twitter


Detail buku:

Surabaya Punya Cerita Vol. 1, oleh Dhahana Adi
204 halaman, diterbitkan 2014 oleh Indie Book Corner
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Beyond Sherlock Holmes – Muthia Esfand

beyond sherlock holmesSaya harus mengakui bahwa yang menjadi ide disusunnya buku ini sangat menarik. Apakah para pengarang kisah detektif terkenal sehebat tokoh-tokoh fiksi yang mereka ciptakan dalam memecahkan suatu kasus misteri? Apakah mereka juga pernah terlibat langsung dalam suatu kejadian misterius sehingga dapat menuangkannya dengan begitu piawai di atas kertas?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memenuhi benak penyusun buku Beyond Sherlock Holmes: Kisah Nyata Penulis Detektif Dunia Memecahkan Kasus Hukum sehingga buku ini bisa hadir di tangan pembaca. Ada tujuh kasus yang disorot dalam buku ini, masing-masing melibatkan nama-nama pengarang novel detektif terkenal dunia, antara lain:

Sir Arthur Conan Doyle dan Misteri Pembunuhan di Queens Terrace

Seorang perempuan kaya berusia senja ditemukan tewas di flatnya karena dipukul benda tumpul. Kasus ini membingungkan semua orang karena Miss Gilchrist tua dikenal sebagai kolektor perhiasan mewah, namun ketika peristiwa pembunuhan terjadi, benda yang hilang hanyalah sebuah bros permata kecil bersama beberapa dokumen penting. Apa yang menjadi motif pembunuhan ini? Dan siapa pelakunya? Sir Arthur Conan Doyle kemudian melibatkan diri dalam pemecahan kasus ini dengan berusaha membuktikan bahwa terdakwa yang ditangkap polisi atas kasus ini sebenarnya tidak bersalah.

Misteri 11 Hari Menghilangnya Agatha Christie

Bagi para penggemar Agatha Christie, kasus ini pastilah menjadi salah satu detail mengenai kehidupan Agatha Christie yang paling sensasional sekaligus misterius. Suatu pagi di musim dingin tahun 1926, mobil Mrs. Christie ditemukan di sekitar daerah Guildford, sebelah barat daya London, oleh seorang pemuda gipsi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pengemudi mobil. Peristiwa menghilangnya Queen of Crime ini menghebohkan seantero Inggris sampai 15.000 orang relawan ikut sibuk membantu aparat polisi mencari Mrs. Christie, demi imbalan 100 poundsterling. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Agatha Christie merilis salah satu novel terbaiknya, The Murder of Roger Ackroyd. Banyak pihak kemudian berasumsi bahwa peristiwa menghilang ini hanya akal-akalan promosi supaya novelnya semakin laris.

Sir Arthur Conan Doyle dan Skandal Great Wryley

Tahun 1906 boleh dibilang adalah tahun vakum bagi Conan Doyle. Saat itu beliau lebih sibuk mencoba menggali kasus George Edalji, seorang pengacara keturunan India yang dipenjarakan karena tuduhan membunuh dan memutilasi sejumlah hewan ternak pada tahun 1903. Berkat petisi yang ditandatangani sepuluh ribu orang, Edalji akhirnya hanya menjalani tiga tahun dari hukuman yang semestinya berlangsung tujuh tahun. Namun nama baiknya tidak dipulihkan dan ia tidak bisa meneruskan karir sebagai pengacara. Conan Doyle, yang percaya bahwa pria itu tidak bersalah, berusaha mengumpulkan fakta yang dapat membersihkan nama Edalji.

PD James vs. Dorothy L. Sayers: Pembunuhan Brutal di Anfield

Pembunuhan misterius pada kenyataannya dapat terjadi dimanapun, bahkan dalam rumah “bermartabat” yang ada di Anfield, Liverpool. Kasus pembunuhan brutal Julia Wallace di dalam rumahnya sendiri adalah salah satu kasus yang sampai saat ini tidak terpecahkan. Suami Julia, William Herbert Wallace, ditetapkan menjadi tersangka utama pembunuhan tersebut, namun ia akhirnya dibebaskan melalui banding. Dua orang pengarang novel misteri, Dorothy L. Sayers dan PD James,  menulis analisis versi masing-masing yang mencoba memecahkan kasus ini.

Patricia Cornwell dan DNA Sang Pencabik

Jack the Ripper adalah sosok pembunuh sadis yang sampai saat ini namanya masih membuat bulu roma meremang. Betapa tidak, setelah membunuh korbannya, pembunuh yang beroperasi di Distrik Whitechapel di London tahun 1800-an ini selalu mencabik lalu mengambil satu atau beberapa organ tubuh korbannya. Yang masih menjadi misteri, siapakah sesungguhnya Jack the Ripper? Banyak orang saling berlomba untuk menyelidiki jati diri Sang Pencabik. Salah satunya adalah pengarang novel kriminal Patricia Cornwell. Yang dilakukan Cornwell tidak tanggung-tanggung, ia membeli beberapa lukisan dengan obyek Jack the Ripper untuk melakukan tes DNA. Ia mencurigai bahwa sang pelukis, Walter Sickert, adalah Jack the Ripper.

Edgar Allan Poe dan Kasus Ganjil Mary Rogers

Yang ini adalah salah satu contoh kasus nyata yang kemudian “difiksikan”. Si cantik Mary Rogers yang tinggal di New York, pernah menghilang dua kali, yakni pada tanggal 4 Oktober 1838 dan 25 Juli 1841. Kalau pada peristiwa menghilang yang pertama kali Mary kembali tanpa cacat, pada peristiwa menghilang yang kedua ia baru ditemukan 3 hari kemudian, terapung di sebuah sungai dalam keadaan tak bernyawa. Publik langsung mencurigai bahwa Daniel Payne, tunangan Mary sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Namun kecurigaan ini patah ketika Daniel ditemukan tewas bunuh diri beberapa bulan setelahnya. Kasus yang tidak pernah terpecahkan ini kemudian difiksikan oleh Edgar Allan Poe dengan judul The Mystery of Marie Rogêt, diterbitkan tiga seri dalam majalah Snowden’s Ladies’ Companion tahun 1842-1843.

Steve Hodel dan Kasus Horor Black Dahlia

Pembunuhan sadis dan wanita cantik adalah kombinasi yang bisa menggegerkan seluruh negeri. Kali ini yang menjadi korban adalah Elizabeth Short, seorang aktris cantik yang mayatnya ditemukan tanpa busana dan terpotong menjadi dua bagian. Konon julukan “Black Dahlia” berasal dari berita yang mengatakan bahwa pakaian terakhir yang dikenakan Elizabeth Short adalah rok mini ketat dan blus tipis. Bertahun-tahun kemudian, kasus ini diselidiki ulang oleh Steve Hodel, yang adalah putra dari George Hodel yang pernah menjadi tersangka pembunuh Black Dahlia.


Saya sebenarnya bukan penggemar berat novel detektif. Saya hanya pernah membaca satu kumpulan cerita Sherlock Holmes, dua judul novel Agatha Christie, dan beberapa novel detektif lain, misalnya karya Jeffery Deaver dan The Cuckoo’s Calling-nya Robert Galbraith alias. J.K. Rowling. Namun saya mengakui membaca novel detektif itu mengasyikkan, karena pembaca akan ikut deg-degan saat tokoh detektif jagoan dalam novel berusaha memecahkan sebuah kasus. Belum lagi jika sang pengarang dengan briliannya “menipu” mentah-mentah para pembaca dengan ending yang tak terduga. Nah, buku ini mengupas sisi lain dari para pengarang novel detektif terkenal tersebut, khususnya dalam keterlibatan mereka dalam kasus misterius yang benar-benar pernah terjadi. Membaca buku ini mengasyikkan karena kita diajak menelusuri kasus-kasus tersebut. Buku ini juga dilengkapi dengan salinan dokumen terkait misalnya surat-surat, arsip surat kabar, peta lokasi kejadian, foto korban, foto tersangka, foto TKP, dan sebagainya. Bahkan ada beberapa area kosong yang disediakan bagi pembaca untuk menulis “temuan”. Hanya saja, ada beberapa kekurangan yang saya temukan dalam buku ini:

Halaman 53: “Jumat pagi, 3 Desember 1926, setelah naik ke lantai atas rumahnya untuk memberikan kecupan selamat tidur kepada putri tunggalnya, Rosalind, sekitar pukul 21.45 Agatha Christie terlihat memacu mobil Morris Cowley hijau meninggalkan rumahnya di Styles.” Sebentar, Jumat pagi?

Halaman 120, New York salah ketik menjadi “Ney York”.

Ada beberapa bagian yang membuat saya “salah fokus” alias kenikmatan membaca saya jadi sedikit terganggu:

Halaman 72-73: “Darah yang mengalir dalam diri Sharpuji sepenuhnya darah India-Parsi dan, yeah, nyaris seperti Hermione dalam Harry Potter, ada saja orang-orang yang menganggapnya berstatus ‘darah lumpur’.” Menurut saya penulis dapat menyampaikan maksudnya mengenai status keturunan campur Sharpuji Edalji tanpa harus menyebut-nyebut Hermione.

Halaman 122: “Bayangan Mary mungkin saja mengalami kecelakaan, mulai berkecamuk dalam kepala sang ibu. Itulah luar biasanya seorang ibu, apa-apa yang membuat buah hatinya menderita, dirasakannya dua kali lipat lebih dalam. Beri hormat pada seluruh ibu di muka bumi.Hmmm, dua kalimat yang saya garis bawahi itu kok rasanya tidak pada tempatnya, tidak cocok dengan isi buku ini secara keseluruhan.

Yang terakhir, halaman dedikasi yang letaknya di akhir buku (yang ini bukan kekurangan, sih, hanya aneh saja.)

Selain memperkaya pengetahuan pembaca, buku ini juga menyodorkan fakta bahwa ada banyak sekali kasus yang tak pernah terpecahkan sampai saat ini. Ternyata memang yang namanya misteri tak selalu bisa terjawab!


N.B.: Terima kasih buat Penerbit Visimedia dan bapak peri BBI Dion Yulianto buat kesempatan mereview buku ini. Sekedar informasi, buku ini adalah buku buntelan pertama yang saya terima sejak tahun 2012, dan post ini adalah post review pertama yang saya tulis sejak bulan Februari 2014. So, again, thanks. 🙂


Detail buku:

Beyond Sherlock Holmes: Kisah Nyata Penulis Detektif Dunia Memecahkan Kasus Hukum, oleh Muthia Esfand
158 halaman, diterbitkan 2014 oleh Penerbit Visimedia
My rating: ♥ ♥ ♥

Generasi 90an – Marchella FP

Cover Generasi 90an.indd“Masa lalu jangan kita biarkan berlalu, mari kita ungkit-ungkit kembali.” – halaman 4 dari buku Generasi 90an

Sebelum banyak yang protes, saya mau bilang kalau yang layak diungkit-ungkit kembali cuma kenangan yang manis dan indah ya. Yang sedih-sedih mah, lupain aja. 😀

Beruntung banget bagi para generasi 90an (mereka-mereka yang di tahun 90an masih duduk di bangku SD-SMP-SMA), ada seorang “temen seangkatan” yang mau repot-repot menyusun segala tetek bengek memori tahun 90an ke dalam satu buku, untuk satu kegiatan penting berjudul nostalgia.

Buku setebal 144 halaman full color ini mengupas macam-macam hiburan yang hits di tahun 90an, mulai dari tontonan di TV (“What We Watch”), musik (“What We Hear”), fashion (“What We Wear”), bacaan (“What We Read”), sampai segala macam permainan (“What We Play”). Nggak ketinggalan tradisi anak-anak generasi 90an, jajanan, becandaan, dan… yah, masih banyak lagi.

Saya nggak akan merinci masing-masing bab ini membahas tentang apa saja karena itu pasti mengganggu kenikmatan mereka-mereka yang ingin baca buku ini, saya cuma mau meng-capture beberapa poin yang ketika melihat mereka di buku ini, saya langsung ngomong ke diri sendiri: “ini nih aku banget!”

20140131_150827

Pengakuan: yang diatas ini merupakan lima “tersangka” yang selalu bikin saya malas pergi ke sekolah Minggu setiap Minggu pagi. (Yep. True story.) Pada waktu itu saya pengen banget jadi salah seorang ksatria sailor (ganti-ganti antara Sailor Mars dan Sailor Jupiter, karena Mars punya rambut panjang dan seksi sedangkan Jupiter tomboy, persis kayak saya waktu itu :P), dan menurut saya cowok-cowok Saint Seiya itu guanteng banget (yang bisa ngalahin cuma Mamoru Chiba alias Tuxedo Bertopeng, ini sebelum eranya para boyband lho.) Kalo Doraemon, nggak ada matinya sampai sekarang. Remi menarik karena pertama kalinya ada kartun 3 dimensi di TV, dan yang terakhir Dragon Ball, saya doyan juga meski banyak yang bilang itu bukan tontonan anak cewek.

Sebagian besar generasi 90an adalah juga Anak Nongkrong MTV, termasuk saya yang betah banget nongkrongin layar kaca setiap acara MTV Asia ditayangkan oleh Anteve. Hampir semua acara MTV saya tonton, mulai MTV Most Wanted, MTV Ampuh, MTV Asia Hitlist sampe MTV Cribs dan MTV Pimp My Ride. Kalo ada yang nggak saya tonton paling itu MTV Salam Dangdut, hahaha. Nah, kalo gambar yang dibawah ini termasuk senjata andalan penikmat musik di era 90an. Di balik halaman yang saya foto ini ada juga trik merekam lagu ke kaset kosong dari radio atau dari kaset lain. Jaman dulu saya sering banget ngerekam dengan metode ini. 😀

20140131_150845

Ortu saya bolak balik menjadi korban putri remajanya yang masih labil masalah fashion. Ketika item X ngetrend, bagi saya PUNYA itu HARGA MATI. Termasuk barang aneh di bawah ini.

20140131_150912

Nggak paham ini benda apa? Namanya choker tattoo, kalung dari bahan kawat nilon yang nempel ketat di leher dan kalo dipake seakan-akan kayak punya tattoo melingkari leher. Dipake jadi gelang juga bisa.

Untuk masalah komunikasi, telepon umum koin jadi pilihan utama para generasi 90an untuk berhalo-halo ria dengan teman, pacar atau gebetan, atau sekadar nelpon minta jemput dari sekolah. Handphone baru ada yang pake di penghujung era 90an, itupun hanya anak-anak tertentu aja yang punya (yang mampu). Selain itu, ada juga pager, alat komunikasi yang  menjadi inspirasi lagu grup Sweet Martabak yang judulnya Tidit Tidit (Pagerku Berbunyiiii) #MalahIkutNyanyi. Kalo kangen sama lagu ini tonton aja videonya di sini. Pager saya juga sering pake buat request lagu ke stasiun radio favorit (ditambah salam buat ehm, seseorang).

Daaaan masih banyak lagi hal-hal yang menarik dari era tahun 90an. 😀 Banyak hal dalam buku ini yang nggak asal ditambahkan, tapi diambil dari hasil survey para generasi 90an. Akhir kata, membaca buku ini sangat-sangat menyenangkan. Memang membacanya nggak butuh waktu lama, baca langsung di toko buku pun bisa (kalo mau dan tahan dipelototin mbak dan mas SPG tobuk), tapi buku ini sudah dikemas dengan sedemikian lucunya oleh sang penulis, sehingga menurut saya sayang kalo kamu cuma membacanya di toko buku atau pinjam. Lebih baik punya, sehingga lewat gambar-gambar lucu coretan Marchella kamu bisa bernostalgia kapanpun dan dimanapun kamu mau, sendiri atau rame-rame, it’s your choice!

Nah, selamat bernostalgia! 🙂

Buku Generasi 90an plus bonus bookmark dan stickers :)

Buku Generasi 90an plus bonus bookmark dan stickers 🙂

Detail buku:

Generasi 90an, oleh Marchella FP
144 halaman, diterbitkan Februari 2013 oleh POP (lini produk KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

***

A Note to My Secret Santa:

Terima kasih buat Santaku yang baik yang sudah mau membelikan aku buku ini, pake bonus bookmarks lucu-lucu lagi. Jujur saja aku malas beli buku ini karena isinya lebih banyak gambar daripada kata-kata, hehehe. Aku nggak perlu waktu lama untuk menebak siapa dirimu, karena riddle-mu cukup gampang (riddle dari Santa udah saya post di sini), dan sekali googling lalu liat blogmu aku langsung tahu that it’s you! 😀

Dan Santaku adalah:

santa

Si Peri Hutan alias Sulis, intip blognya di Kubikel Romance

Makasih lagi yaaa! :*

Belajar Hidup Tanpa Batas bersama Nick Vujicic

Entah kebetulan atau tidak, posting resensi pertama di tahun 2012 ini adalah buku non fiksi, sama seperti resensi pertama di tahun 2011 lalu. Padahal saya boleh dibilang sangat jarang membaca non fiksi. Bisa jadi tradisi ini akan saya teruskan di awal tahun depan dan seterusnya 🙂


Ada saat-saat ketika kehidupan terasa sangat sulit dan penuh masalah. Kita menjadi sedih, marah, pahit, negatif, kehilangan gairah hidup. Seakan kitalah orang paling sengsara di dunia, dan waktu yang ada hanya dimanfaatkan untuk duduk menunggu dunia runtuh.

Ada banyak orang yang hidupnya tidak bahagia karena mereka masih merasa “kekurangan”. Kurang kaya, kurang ganteng atau cantik, kurang langsing, kurang modis, kurang pandai, dan masih banyak kurang-kurang lainnya. Sebenarnya kunci untuk menjadi bahagia hanya satu: pilihan anda. Mungkin banyak hal yang tidak enak sedang terjadi dalam hidup anda saat ini. Tidak ada manusia yang dapat mengendalikan hal itu. Namun kita bisa mengendalikan bagaimana sikap kita ketika menghadapi masalah. Kita punya pilihan!

Demikian pula dengan Nicholas James Vujicic, yang akrab disapa Nick. Pemuda 29 tahun keturunan Serbia yang lahir dan dibesarkan di Australia ini terlahir ke dunia dengan Tetra-amelia syndrome, suatu kelainan langka yang menyebabkan ketiadaan lengan dan tungkai. Tidak dapat disangkal bahwa Nick menjalani kehidupan yang ekstra sulit. Akan tetapi, setelah melalui perjalanan panjang penemuan diri dan tujuan hidup, dan berbagai pengalaman yang mengerikan, Nick menyadari bahwa ia mempunyai pilihan. Alih-alih menyerah terhadap keadaan, Nick justru memilih untuk memanfaatkan kekurangannya sebagai suatu kelebihan. Nick menyadari bahwa Tuhan memberinya karunia untuk berbicara, memotivasi, dan menghibur orang lain, dan dengan karunia itu ia dapat memberi sesuatu yang spesial kepada dunia. Pilihan yang dibuat Nick telah membawanya menjadi seorang penginjil dan pembicara motivasi kelas internasional yang telah melakukan perjalanan keliling dunia untuk berbicara di depan ribuan hingga jutaan orang. Nick juga adalah seorang sarjana akuntansi dan perencanaan keuangan yang kini memiliki beberapa perusahaan termasuk organisasi nirlaba Life Without Limbs, dan bintang film pendek pemenang penghargaan Doorpost Film Project 2009 yang berjudul The Butterfly Circus.

“Orang kerap bertanya bagaimana aku bisa bahagia walaupun tidak punya lengan dan tungkai. Jawaban cepatku adalah aku punya pilihan. Aku bisa merasa marah karena tidak punya tungkai, atau aku bisa bersyukur karena punya tujuan. Aku memilih sikap bersyukur. Kau juga bisa melakukannya.” – Nick Vujicic

Pengalaman mengatasi tantangan baik secara fisik maupun mental yang dialami Nick karena kondisi tubuhnya, dituangkan  dalam buku berjudul asli Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life, pertama kali diterbitkan oleh Random House tahun 2010. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia. Buku yang berisi 12 bab ini adalah gabungan memoar sekaligus merupakan non fiksi pengembangan diri/inspirasional.

Melalui halaman-halaman bukunya, pemuda tak berlengan dan bertungkai ini akan menuntun anda untuk menerima dan mencintai diri sendiri sebagaimana adanya, menemukan tujuan hidup, menyalakan iman dan harapan, berani menghadapi tantangan, bertahan dalam cobaan, bangkit dari kegagalan, dan akhirnya mendobrak segala batasan, mencintai kehidupan sepenuhnya dan mendorong anda untuk memberi dan menjadi berkat bagi orang lain.

Buku ini juga merekam banyak pengalaman Nick di berbagai kesempatan. Beberapa sangat menyentuh, beberapa lainnya sungguh konyol dan gila. Nick ingin pembaca buku ini tahu bahwa ia juga manusia biasa, yang sangat menikmati dan mencintai hidupnya. Ia suka melakukan berbagai hal yang bisa membantu meringankan beban orang lain, namun ia juga suka melakukan hal-hal yang murni untuk kesenangan pribadi. Ia menjalani hidup layaknya orang normal! Nick berenang, bermain basket, bermain musik, main skateboard, melakukan perencanaan bisnis, berkeliling dunia untuk berbicara di depan orang banyak, bertemu dengan berbagai tokoh penting dunia. Ia menjalani kehidupan dengan segala rasa syukur dan kebahagiaan. Ia menjalani kehidupan yang tanpa batas, meskipun secara fisik ia terbatas. Kalau orang tanpa lengan dan tungkai ini saja mampu hidup seperti itu, mengapa tidak demikian dengan anda?

“Kehidupanku adalah sebuah kesaksian tentang kenyataan bahwa kita tidak memiliki batasan kecuali batasan yang kita buat sendiri. Hidup tanpa batas berarti mengetahui bahwa kau selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, sesuatu yang mungkin bisa meringankan beban orang lain.” – hal. 242

Tak hanya dirinya sendiri, di dalam buku ini Nick menyebutkan beberapa nama yang telah membuktikan bahwa mereka mampu mendobrak tembok-tembok yang membatasi diri mereka dan memberikan kontribusi bagi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Ada Bethany Hamilton, peselancar kelas dunia yang kehilangan tangan kirinya karena diserang seekor hiu saat ia baru berusia 13 tahun. Bethany kembali berselancar setelah kecelakaan itu, walau ia hanya mempunyai sebelah lengan. Christy Brown, seorang laki-laki (ya, Christy Brown adalah seorang pria) Irlandia yang terlahir lumpuh, dari semua bagian tubuhnya hanya kaki kirinya saja yang bisa digerakkan. Christy menjadi seorang penulis, penyair, dan pelukis yang dihormati dan kisah hidupnya diangkat menjadi sebuah film pemenang penghargaan Academy Award. Kemudian ada Reggie Dabbs, yang lahir sebagai anak haram dari seorang pekerja seks dan nyaris saja diaborsi. Hari ini, seperti Nick, Reggie adalah seorang public speaker dan motivator yang dibayar untuk menumbuhkan harapan kepada orang-orang. Joni Eareckson Tada, penderita quadriplegia sekaligus musisi dan penulis buku inspiratif. Joni memiliki organisasi nirlaba yang telah membagikan lebih dari 60.000 kursi roda kepada para difabel di 102 negara. Dan beberapa nama lain yang memberikan kontribusi bagi sesama dengan cara masing-masing.

Buku yang ditulis dengan bantuan Wes Smith ini secara keseluruhan bagus dan sangat inspiratif. Penuturannya sederhana namun mengena, menarik dan jauh dari menjemukan. Banyak kutipan bagus yang bisa ditemukan di dalamnya. Kelemahannya mungkin terletak pada beberapa kalimat yang diulang (mungkin tidak persis sama, namun serupa) dalam bab-bab selanjutnya. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh P. Herdian Cahaya Khrisna sangat bagus, namun  sayang kenikmatan membaca masih terganggu dengan typo yang bertaburan di sana-sini. Dan perlu diketahui juga, meskipun buku yang di Indonesia telah memasuki cetakan keempat ini ditulis dengan nafas Kristiani, namun menurut saya masih sangat bisa dinikmati oleh pembaca non-Kristiani. Jadi, bacalah buku ini dan mulailah menjalani kehidupan tanpa batas seperti Nick!

Nick & his soon-to-be-wife Kanae

Berita gembira: Nick dan tunangannya, Kanae Miyahara, akan melangsungkan pernikahan bulan Februari 2012 ini. Congratulations, Nick & Kanae!


Lebih lanjut tentang Nick Vujicic:
NickVujicic.com / LifeWithoutLimbs.org / AttitudeIsAltitude.com
Lihat juga video-video Nick yang telah ditonton jutaan kali di YouTube.com

Detail buku:
“Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia” (judul asli: “Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life”), oleh Nick Vujicic
259 halaman, diterbitkan Mei 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Letters to Sam: Kumpulan Surat Cinta Kakek kepada Cucunya

Tak ada gunanya hidup jika anda tak menyadari sepenuhnya bahwa anda adalah seorang manusia yang manusiawi — yang penuh dengan kelemahan.

Namun bahkan di dalam kelemahan, manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk menguatkan sesamanya. Yang menjadi masalah bukanlah bagaimana menghilangkan kelemahan itu, namun bagaimana mentransformasi kelemahan menjadi suatu bentuk kekuatan, yang bisa menolong diri sendiri dan bahkan orang lain. Dan langkah pertama yang perlu dilakukan supaya hal ini terjadi, adalah mengubah cara berpikir kita terhadap diri sendiri dan terhadap kehidupan.


Letters to Sam
merupakan 217 halaman surat cinta dari seorang manusia lemah kepada manusia lemah lainnya, yakni seorang kakek yang menderita kelumpuhan kepada cucunya yang mengidap autisme. Sang kakek, yang adalah seorang psikolog dan terapis keluarga yang telah menangani ratusan pasien sepanjang hidupnya, menuturkan berbagai nasihat, pandangan, pengalaman, dan filosofi bagi Sam, cucu tercintanya, dengan harapan bahwa suatu hari nanti Sam akan mampu membaca surat-surat ini dan memahami apa yang disampaikan kakeknya padanya.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian. Di bagian pertama sang kakek menulis surat untuk menyambut hadirnya cucunya di dunia ini. Pada bagian-bagian selanjutnya, ia akan bercerita banyak hal mengenai keluarga, hubungan, tubuh, pikiran, dan jiwa, masa depan dan harapan, mengenai tempatmu di dunia, dan ditutup dengan salam perpisahan. Bagi saya, buku ini membuka jalan untuk perenungan pribadi, apa artinya menjadi manusia; sebanyak apa cinta yang telah saya berikan bagi orang lain sepanjang hidup saya.

Namun demikian, berbagai nasihat, pandangan, dan filosofi yang terkandung dalam buku ini, bagaimanapun baik kedengarannya, tidaklah untuk ditelan mentah-mentah. Kita perlu ingat bahwa buku ini adalah kumpulan surat-surat yang ditulis oleh seseorang yang memiliki keterbatasan, kepada seorang lain yang juga memiliki keterbatasan, sehingga notabene hidup mereka berbeda dengan hidup yang dijalani kebanyakan orang. Hal ini saya jumpai dalam surat yang berjudul “Berikan kesempatan untuk berbuat baik”. Dalam surat ini sang kakek menunjukkan bahwa kebaikan manusia seringkali muncul ketika mereka melihat kerapuhan dan kelemahan dalam diri sesamanya. Hal ini tentu saja benar. Namun mari kita cermati penggalan di bawah ini,


“Terkadang, keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan sebaliknya. Tapi itu jarang sekali. Pada umumnya, akan lebih baik kalau kita tak usah berpura-pura berani padahal merasa takut. Aku percaya, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman kalau setiap orang yang merasa lemah menggunakan flasher dan berkata, ‘Aku punya masalah. Aku lemah dan sedang berusaha semaksimal mungkin’.”
(hal. 58)

Saya setuju dan tidak setuju terhadap penggalan di atas. Di satu sisi, pada dasarnya bersikap apa adanya — berlaku A ketika kita merasakan A dan berkata B ketika kita merasakan B, adalah sesuatu yang baik. Namun kalimat terakhir berpotensi menimbulkan dampak yang negatif bagi beberapa orang, yang mungkin, suka ‘obral kelemahan’. Pandangan ini seakan-akan mengesahkan bahwa oke-oke saja jika anda berkata kepada orang lain, “I’m weak” dalam banyak kesempatan. Pada akhirnya, orang yang terus menerus berkata kepada dirinya dan orang lain bahwa saya lemah, akan terus menuntut untuk menerima bantuan, dan tidak akan mampu berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Ini suatu hal yang buruk, jika yang mengalaminya seseorang yang tidak memiliki keterbatasan sebagaimana Dr Gottlieb atau Sam.

Kemudian kalimat ini :

“Hanya dengan menerima, hanya dengan berhenti melawan, aku menemukan kedamaian.” (hal 76)

Entah karena sudah natur saya bahwa saya seorang fighter yang terus memperjuangkan berbagai hal dalam hidup, saya tidak setuju dengan ungkapan ini. Selama masih ada harapan, saya tidak mau berhenti berjuang, meskipun itu berarti melawan banyak hal atau banyak orang. Namun jika perjuangan itu buntu dan tidak membuahkan hasil, itu bisa berarti memang sudah saatnya berhenti melawan.

Di dalam buku ini juga Daniel Gottlieb memasukkan berbagai kebijaksanaan dari beberapa keyakinan yang berbeda-beda, mulai dari Yahudi, Kristen, sufi, sampai Buddha. Saya pribadi kurang suka jika seseorang membawa berbagai elemen keyakinan dalam dirinya. Kalau sekedar mempelajari, okelah, namun jika anda hidup ditengah-tengah bermacam-macam filosofi dan lebih parah lagi, mengajarkannya kepada orang lain, maka siapakah sebenarnya anda? Jika anda seorang Kristen, jadilah sepenuhnya Kristen, jika anda muslim, jadilah sepenuhnya muslim, jika anda penganut Buddha, jadilah sepenuhnya orang Buddha. Tentu saja dengan tidak mengabaikan cinta kepada sesama manusia, tanpa pandang bulu. Tetapkan apakah anda panas atau dingin, jangan mengambil tempat di tengah-tengahnya karena ini sangat berbahaya!

Terlepas dari hal-hal diatas, buku ini menyimpan banyak nilai-nilai berharga yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan:

1. Cinta mengubah segalanya. Memberikan cinta jauh lebih penting daripada menerimanya.

2. Seorang yang punya keterbatasan seperti seorang tunadaksa pun mampu memberi, mampu melakukan sesuatu yang berharga bagi orang lain.

3. Labelling atau pengelompokan terhadap manusia sangatlah berbahaya. Kita tidak pernah tahu dampak psikologis sebuah label bagi seseorang yang kita panggil “si cacat”, “si bodoh”, “si autis”, dan sebagainya. Yang perlu kita lakukan adalah menerima seorang manusia sebagaimana adanya, karena apapun yang terjadi dengan tubuh atau pikirannya, jiwanya tetap utuh.

4. Tubuh kita mempunyai sistem yang mampu menyembuhkan luka fisik dengan sendirinya. Demikian juga luka emosional, semua yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka tersebut sebenarnya sudah ada dalam diri kita. Tidak perlu menuntut supaya luka itu sembuh dengan cepat, karena sudah pasti diperlukan waktu dalam proses penyembuhan. Dan diperlukan keyakinan bahwa kelak rasa sakit itu akan pergi. Seseorang yang sakit lebih membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersamanya, hanya menemaninya dan mendengarkannya, tanpa melontarkan berbagai nasihat atau saran terkait penyakitnya.

5. Kadang-kadang seorang manusia dapat mencapai suatu titik penting dalam hidupnya — justru ketika ia sendirian, tidak punya siapa-siapa.

“Masa itu menjadi sebagian dari tahun-tahun terpenting dalam hidupku. Aku tinggal sendirian. Aku tak punya teman. Namun, aku berhasil meningkatkan keahlian akademisku. Aku sendiri terkejut dengan daya tahan yang kumiliki. Aku juga mendapati diriku mampu bertoleransi dengan kesunyian. Perjalananku yang sesungguhnya dimulai di sana — dalam kesunyian.” (hal 121)

Saya mengenal seseorang yang boleh dibilang hampir tak punya teman. Ia lebih memilih kesendirian daripada hangout dan membiarkan diri dikelilingi banyak teman. Awalnya saya berseru padanya, “Bagaimana mungkin kamu hidup seperti itu?”
Namun sekarang, semakin lama saya mengenal dia, saya jadi mengerti bahwa mungkin keadaan seperti itu yang paling baik baginya, dan bahwa dalam kesendirian ia bergaul erat dengan Tuhan, dan hasilnya Tuhan mengaruniakan dia kebijaksanaan yang jauh melampaui usia fisiknya.

6. Seorang anak membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan dia. Ketika seorang anak menjadi korban bullying, misalnya (diterjemahkan menjadi ‘penggencetan’), hal yang lebih dihargai oleh seorang anak adalah jika orang tuanya mau mendengarkan dan bertindak dengan kepala dingin, sehingga akhirnya tindakan tersebut tidak berakibat buruk kepada si anak, daripada langsung mengkonfrontasi si pelaku bullying atau pihak sekolah.

7. Saat orangtua tak berhenti mengkhawatirkan anaknya, sebenarnya si anak juga khawatir tentang orangtuanya. Terkadang cara terbaik bagi orangtua untuk menjaga anak-anak adalah dengan menjaga diri mereka sendiri (hal 141).

8. Kebahagiaan bukan terletak pada uang, kesuksesan, atau pencapaian-pencapaian lainnya. Seringkali orangtua tidak memahami hal ini dan secara tidak sadar menuntut anaknya untuk meraih pencapaian-pencapaian sampai tingkat tertentu. Ketika hal itu tidak tercapai, anak akan merasa tidak aman dan tidak cukup dicintai oleh orangtuanya. Ketika hal itu tercapai, apa sesungguhnya yang dirasakan oleh jiwa anak tersebut?

“Rasa aman yang sebenarnya hanya datang saat kita merasa nyaman dengan diri kita yang sesungguhnya (dan perasaan ini akan meningkat ketika kita memiliki sebuah hubungan yang ada rasa saling mencintai dan memahami). Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah efek samping dari kehidupan yang kita jalani dengan baik.”

“‘Tugas anda sekarang,’ kataku kepada para orangtua, ‘adalah menikmati keuntungan, menoleransi kegagalan mereka, memiliki keyakinan atas daya tahan mereka, dan jangan pernah memberikan nasihat jika tidak diminta.’ (Ketika aku mengatakan ini, aku mendapatkan tepuk tangan bergemuruh dari anak-anak mereka.)” (hal. 156)

9. Kita harus mengalami kematian supaya kita lebih menghargai hidup yang kita miliki.

“Kematian bukanlah musuh. Mengetahui bahwa hidupmu telah mencapai titik akhir akan membantumu menghargai setiap momen yang kau lalui dalam hidup. Kematian membuatmu memahami hadiah berharga yang diberikan kehidupan itu sendiri.” (hal 187)

10. Just live your life as it is.

“Banyak dari kita menderita karena mencoba menjalani kehidupan yang pernah kita miliki atau kehidupan yang kita dambakan. Kau mengingatkanku hari itu bahwa hidup terasa sangat manis ketika kita menjalani kehidupan yang kita miliki.” (hal 202)

Dan saya sangat suka dengan puisi Jalaluddin Rumi berjudul Guest House yang diselipkan oleh Gottlieb di akhir buku.

“Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond.”

Tiga bintang saya persembahkan untuk kumpulan surat cinta seorang kakek kepada cucunya ini. Terjemahannya digarap oleh Windy Ariestanty dengan sangat baik, walaupun masih bertabur typo di beberapa tempat 😦 dan tampilan fisik buku benar-benar cakep khas penerbit Gagas Media 😉
Pesan saya, bacalah buku ini dengan hati dan pikiran lapang dan terbuka, jangan langsung melahap mentah-mentah kalimat-kalimat di dalamnya. Saringlah filosofi yang mana yang sesuai dengan keyakinan pribadi anda dan yang mana yang bukan, karena paling baik jika seseorang benar-benar yakin akan sesuatu dalam hatinya sendiri.

Detail buku:
“Letters to Sam” oleh Daniel Gottlieb
217 halaman, diterbitkan Juli 2011 oleh Gagas Media
My rating: ♥ ♥ ♥

Sekilas tentang Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku

Warning: INI BUKAN REVIEW.

Saya hanya akan menulis sekelumit kesan-kesan pribadi mengenai buku Berguru Pada Pesohor ini, karena bakal agak aneh kan kalau saya meresensi buku panduan meresensi buku? (mulai jelimet…)

Buku Limited Edition yang sukses bikin saya penasaran ini kemarin mendarat juga di tangan saya. Bikin penasaran karena buku ini mengupas teknik-teknik dan berbagai tips untuk meresensi buku. Dan tentu saja bikin penasaran karena daftar blog buku Indonesia yang dimuat di bagian akhir buku ini, walaupun sudah pernah melihat beberapa fotonya di note FB nya mbak Truly Rudiono, tapi tetep aja penasaran pingin lihat secara langsung 😀

 Keren kan kalo blog anda dimuat di buku (congkak mode on :D)

 

Sekilas membaca-baca sebagian isi buku ini, saya mengambil kesimpulan kalau buku ini sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang ingin menekuni resensi buku secara serius, dan arahnya lebih ke media cetak (koran berskala nasional atau daerah) ketimbang dunia maya. Resensi-resensi yang dimuat sebagai contoh dalam buku ini pun kebanyakan adalah resensi buku-buku “kelas berat”, misalnya buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Belum lagi berbagai buku non fiksi yang judulnya berbunyi seperti, “Abad Prahara, Ramalan Kehancuran Ekonomi Dunia Abad ke-21”, “Utang dan Korupsi Racun Pendidikan”, “Sosialisme Religius: Suatu Jalan Keempat”.

Aduh ampuuuuuuun, saya sejauh ini nggak sanggup melahap buku-buku macam beginiaaaannn….!!! Bisa jadi benar apa yang ditulis penyusun pada bab Halaman Resensi Buku di Internet tentang para blogger buku:

Mereka adalah generasi peresensi baru buku dengan menggunakan medium baru yang lebih egaliter dan lebih leluasa. Jika generasi peresensi lama masih memperebutkan halaman-halaman koran nasional dan daerah dengan mempertimbangkan selera redaktur buku masing-masing koran tersebut, maka generasi baru ini membaca buku dan menuliskannya kembali dengan semangat sangat personal tanpa takut tulisannya ditampik.

– hal. 239

 Mereka adalah pembaca yang ingin bersenang-senang dengan buku. Mereka mencoba melihat buku sebagai barang mainan dan hiburan yang tak perlu dipandang berat, apalagi harus dilihat dengan kaca pembesar segala.

– hal.241

I read for fun! I read for pleasure! Saya yakin sebagian besar teman-teman blogger buku setuju dengan pernyataan saya ini.

Namun, teknik-teknik dan tips menulis resensi yang dijabarkan dalam buku ini benar-benar membantu mereka yang ingin belajar menulis resensi buku dengan baik dan benar (seperti saya). Walaupun (mungkin) tak ada niat untuk terjun dalam dunia resensi buku di media cetak, buku ini memberikan tambahan ilmu berharga bagi para pecinta buku yang suka menulis resensi. Dan kedua penulis, Diana AV Sasa dan Muhidin M. Dahlan, sangat-sangat kompeten di bidangnya untuk menyusun sebuah buku seperti Berguru pada Pesohor ini.

Dan ternyata, saat membolak-balik halaman-halaman buku ini, saya beberapa kali ketemu dengan nama Hernadi Tanzil. Bahkan ada foto sang rahib 1 halaman penuh! Bisa ditebak deh bagaimana kiprah sang rahib dalam dunia resensi buku sampai namanya jadi sebeken itu. (hormat pada rahib, mohon ilmu… #edisi serial silat) =p

Oh ya, sedikit saja kritik tentang fisik buku… Bahan kertas covernya terlalu tipis, jadi gampang rusak. Judul bab yang ada di bagian kanan atas halaman kadang-kadang hurufnya tidak tercetak dengan benar (loncat). Juga ada beberapa foto yang dimuat di buku ini beresolusi rendah, jadi kurang enak dilihat, apalagi dalam warna hitam putih. Semoga menjadi masukan yang membangun buat penerbit.

Ingin tahu lebih banyak atau tertarik memiliki buku ini? Silakan loncat ke link berikut: http://indonesiabuku.com/?p=9308

Saga no Gabai Baachan – Miskin Ceria a la Nenek Osano

Sederhana. Itulah kesan pertama yang saya tangkap ketika melihat cover buku ini. Saking sederhananya, buku ini beberapa kali gagal mencuri perhatian saya ketika dipajang di toko buku. Jika bukan karena testimoni positif orang-orang yang sudah membaca buku ini, saya tentu tidak akan memutuskan untuk membelinya dan larut dalam kesederhanaan sarat makna yang ditorehkan lewat memoar masa kecil Yoshichi Shimada (yang bernama asli Akihiro Tokunaga) ini.

Dari miskin jadi miskin. Itulah yang dialami Akihiro, anak lelaki kecil yang baru menginjak kelas dua SD. Saat masih sangat kecil, bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima membuatnya kehilangan ayah, dan ibunya yang terbebani dengan kewajiban membanting tulang bagi anak-anaknya mengirim Akihiro untuk tinggal bersama neneknya di sebuah kota kecil bernama Saga.

Bukannya menjalani hidup yang lebih enak, justru keadaan neneknya di Saga lebih miskin daripada keadaan ketika tinggal di Hiroshima. Saat bertatap muka pertama kali dengan sang nenek, tanpa ba-bi-bu Akihiro pun langsung diajari cara menanak nasi. Ini karena sang nenek yang bekerja sebagai petugas pembersih di universitas Saga harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menunaikan tanggung jawabnya, dan ia takkan sempat membuatkan sarapan untuk Akihiro. Akihiro harus mengurus dirinya sendiri.

Biarpun sangat miskin, Nenek Osano hidup dengan optimis dan ceria. Adaaaaa saja akal Nenek Osano untuk menyiasati keadaannya yang serba terbatas. Misalnya, ia mengikat pinggangnya dengan seutas tali dan menyeret-nyeret magnet kemanapun ia pergi. Klang klang klang klang bunyinya, dan si magnet pun menarik paku dan berbagai sampah logam lainnya yang nanti akan dijual nenek ke toko daur ulang. Dan miskin-miskin begitu, Nenek Osano punya “supermarket pribadi” lho! Yang dimaksud dengan supermarket pribadi adalah sungai di depan rumahnya, yang dipasangi sebatang galah. Berbagai macam benda yang hanyut di sungai tersangkut di galah itu dan Nenek Osano akan mengambilnya, misalnya ranting-ranting untuk dijadikan kayu bakar, sayur-sayuran cacat dari pasar yang dibuang ke sungai, bahkan benda-benda lain seperti geta (sandal kayu) yang bisa digunakan nenek atau Akihiro.

Dari hari ke hari, berbagai benda hanyut di sungai lalu tersangkut di galah Nenek. Itulah sebabnya Nenek menyebut sungai sebagai supermarket. Malah dengan pelayanan ekstra, katanya, “Belanjaan kita langsung diantar.”

Terkadang bila tidak ada apa pun yang tersangkut di galah, Nenek akan berkata, “Hari ini supermarket libur.” Dengan ekspresi wajah menyenangkan.

Kita mungkin akan terbahak membaca penggalan di atas, namun akal sang nenek memang patut diacungi jempol!

Miskin bukan berarti merendahkan diri dengan meminta-minta dan berharap belas kasihan orang lain. Begitu salah satu prinsip Nenek Osano, yang membuatnya mampu berbuat kebaikan kepada orang lain tanpa mengharap imbalan. Ketika seseorang berbuat baik dengan kelebihan yang ada padanya, itu hal yang biasa. Namun ketika seseorang berbuat baik meskipun ia sebenarnya kekurangan, itu baru namanya gabai (hebat)!

Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan.

Akihiro tinggal di Saga bersama Nenek Osano selama kurang lebih delapan tahun, dan selama itu pula prinsip-prinsip sang nenek mengakar kuat dalam dirinya dan tak pudar bahkan sampai ia dewasa. “Ada dua jalan buat orang miskin, yaitu miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria,” kata Nenek Osano kepada Akihiro suatu waktu. Melalui memoar yang ditulis dengan sederhana, namun juga lucu dan mengharukan ini sang pengarang hendak mengajak setiap pembacanya untuk menciptakan “kehidupan yang baik”, yang rahasianya terdapat dalam dua kata ini: sukacita dan bersyukur.

Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.

###

Yoshichi Shimada, penulis memoar ini, saat dewasa menekuni dunia entertainment di Jepang, meskipun pada masa remajanya ia amat menggemari baseball dan berniat menjadi pemain baseball profesional. Buku yang pertama kali terbit pada tahun 2001 ini semakin meledak di pasaran setelah dipromosikan dalam acara televisi “Tetsuko no Heya” (Kamar Tetsuko) yang dipandu Tetsuko Kuroyanagi, penulis buku bestseller Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Kisah Nenek Hebat dari Saga ini begitu beken di negeri asalnya dan telah diadaptasi menjadi film layar lebar, game dan manga.

Di Indonesia, buku ini diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang oleh Indah S. Pratidina di bawah supervisi Mikihiro Moriyama sebagai koordinator penerjemah. Dan kalau boleh berpendapat, menurut saya terjemahannya sangat renyah dan enak dibaca. Untuk penerbit Kansha Books, dan semua orang yang bertanggung jawab atas terbitnya terjemahan buku ini di Indonesia, saya hanya mau bilang, “Anda semua gabai!” \m/

N.B.: Resensi ini saya ikut sertakan dalam Lomba Resensi Mahdabooks (Penerbit Redline), Juni 2011

Detail buku:

“Saga no Gabai Baachan” (Nenek Hebat dari Saga), oleh Yoshichi Shimada
263 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Kansha Books (a division of Mahda Books)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

A Child Called “It” – Dave Pelzer

A Child Called 'It': Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan HidupA Child Called ‘It’: Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan Hidup by Dave Pelzer

My rating: 2 of 5 stars

Child abuse. Siapapun yang melakukannya adalah orang yang lemah. Mengapa? Karena ia hanya mampu menindas makhluk yang jauh lebih lemah daripadanya. Berhadapan dengan orang yang kekuatannya setara, ia tak bakal mampu berbuat apa-apa.

Memoar korban child abuse, Dave Pelzer, serta bagian pertama dari trilogi kisah hidupnya ini menceritakan siksaan, hinaan, kekejaman yang dilakukan ibu kandungnya sendiri ketika ia masih kecil. Beberapa orang yang telah membaca buku ini bisa jadi ragu-ragu akan kebenaran ceritanya, karena hal-hal yang dilakukan sang ibu kepada Dave kecil sungguh tidak masuk akal dan gila.

Terlepas dari hal itu, bagi saya buku ini membawa dua pesan. Pesan yang pertama adalah bagi para orang tua. Jangan sekali-kali menyiksa anakmu. Didikan bisa saja diberi secara fisik, tapi orang tua yang baik tentunya tahu batasan antara mendidik dan menyiksa.

Pesan yang kedua adalah bagi para korban child abuse, buku ini dapat menjadi penyemangat bagi mereka. Sangat jarang korban child abuse yang berhasil keluar dari traumanya. Kekerasan dan pelecehan yang dialami sejak dini bisa menghantui seluruh hidup si anak sehingga kemauan bertahan hidupnya lemah, ia bertumbuh dengan rasa rendah diri dan mental terganggu. Dave Pelzer, dengan perjuangan keras dan dukungan tanpa henti orang-orang yang mengasihinya, berhasil keluar dari traumanya.

View all my reviews

Softcover, 168 pages
Published 2001 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1992)
Price IDR 34.500