Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSCDalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

Belum banyak buku fiksi Indonesia yang saya baca, tapi mungkin Pulang adalah salah satu yang terbaik. Cerita mengalir begitu saja dan terasa nyata sehingga saya lupa kalau saya sedang membaca novel. Diksinya indah, blak-blakan di beberapa bagian, dan saya bisa sungguh-sungguh merasakan keberadaan dan emosi para karakter utama. Saya suka betapa novel ini begitu Indonesia (termasuk pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget), padahal banyak petikan percakapan dalam bahasa Prancis juga. Saya suka Dimas Suryo yang doyan melahap literatur klasik, sesuatu yang juga ia tularkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya yang membuat novel ini kurang lengkap, mungkin, adalah film dokumenter karya Lintang yang tidak disebut-sebut lagi pada akhir buku. Saya sangat ingin menonton film itu. Nah, saya sudah bilang tadi kan kalau saya lupa kalau Pulang hanya sebuah novel? Bagi yang ingin mencoba baca buku ini, jangan takut karena buku ini “kelihatan” berat, sebenarnya nggak seberat itu kok.

Rasanya sulit sekali untuk menunjukkan di dalam review, apa yang membuat buku ini begitu bagus di mata saya. Walaupun buku ini kental nuansa romance-nya, bagi saya itu tak menjadi masalah karena konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini. Yang jelas, novel ini membuat saya makin mencintai Indonesia. Novel ini membuat saya ingin menelusuri kembali sejarah Indonesia, walaupun mungkin apa yang saya baca tidak bisa mutlak dipercayai sebagai suatu kebenaran.

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2014 tema Historical Fiction Indonesia


Detail buku:

Pulang, oleh Leila S. Chudori
464 halaman, diterbitkan Desember 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

Anna Karenina – Leo Tolstoy, Simplified Version

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Berangkat dari kehidupan pernikahan yang tidak bahagia, wanita bangsawan yang cantik dan cerdas Anna Karenina terpikat oleh pesona Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan. Mereka pun jatuh dalam perzinahan, sesuatu yang juga dilakukan Oblonsky, kakak laki-laki Anna, terhadap istrinya Dolly. Cerita bergulir dengan menguraikan perkembangan hubungan Anna dan Vronsky, bagaimana mereka memutuskan untuk hidup bersama meskipun Anna belum bercerai dari Karenin, suaminya. Juga pergumulan Anna yang rindu agar putranya, Seriozha, hidup bersamanya dan Vronsky. Dan salah satu hal yang terpenting adalah keteguhan hati Anna yang bertekad tetap memunculkan diri di tengah masyarakat walaupun secara sosial ia telah dikucilkan dan segala pembicaraan tentangnya selalui bernafaskan sentimen negatif. Sampai akhir cerita, Anna berjuang menghadapi segala situasi yang menghimpitnya—sampai pada suatu titik ia memutuskan bahwa ia tidak sanggup lagi.

Kisah tragis Anna dalam Anna Karenina yang dibingkai dalam setting Rusia abad ke-19 ini langsung disandingkan oleh penulis Leo Tolstoy dengan kisah Levin, sahabat Oblonsky, yang meskipun mengalami berbagai hambatan di awal hubungannya dengan perempuan yang dicintainya, Kitty, namun akhirnya mereka menikah dan menjalani kehidupan yang bahagia. Saya membaca versi simplified (disederhanakan) dari Anna Karenina ini karena ingin sekedar mengetahui jalan ceritanya, mumpung versi terbaru filmnya yang dibintangi Keira Knightley sedianya akan mulai tayang November nanti. Beberapa hal yang bisa saya pelajari dari versi sederhana Anna Karenina ini:

1. Pernikahan yang tidak didasari dengan cinta adalah sumber masalah. Pada zaman novel ini ditulis, memang pernikahan yang demikian lazim terjadi, sehingga Tolstoy mengangkat isu ini ke dalam suatu karya tulis yang menunjukkan apa akibatnya jika suatu pernikahan tidak didasari dengan cinta.

2. Deretan karakter dalam novel ini begitu manusiawi. Ambil saja contoh Anna. Pada satu sisi, keteguhan Anna patut diacungi jempol. Sebagai heroine (tokoh utama wanita) yang tidak biasa dalam sebuah novel, Anna memilih untuk berpegang pada prinsipnya sendiri dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, walaupun masyarakat dan keadaan di sekitarnya tidak merestui. Anna juga bukanlah orang yang bebal, saat ia tengah sekarat pun ia memohon pengampunan dari Karenin, suaminya. Dan Karenin, walaupun digambarkan sebagai seorang pria yang kaku dan dingin, memaafkan Anna begitu rupa sampai-sampai saya berandai-andai akan bagaimana jadinya kalau Anna dan Karenin saling mencintai.

3. Ketika memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan seseorang, cinta saja tidak cukup. Perlu ada pengabdian terhadap orang tersebut dan pengorbanan akan kepentingan-kepentingan pribadi. Dua hal ini adalah perwujudan yang lebih sempurna dari perasaan cinta. Sehingga ketika pasangan hidupmu tidak lagi rupawan ataupun menyenangkan, anda tetap akan berada di sisinya, tidak peduli apapun yang terjadi.

“Aku akan selalu mencintaimu, dan jika seseorang mencintai orang lain, ia akan mencintai keseluruhan dari orang itu apa adanya dan bukan hanya apa yang ia sukai dari orang itu.”

*

Tiga bintang untuk Anna Karenina yang meskipun dalam versi telah disederhanakan, tetap banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Apakah suatu saat nanti saya akan membaca Anna Karenina versi unabridged yang setebal bantal itu? Well, why not? 😉

Baca juga: ulasan karakter Anna Karenina

 

Detail buku:
Anna Karenina, oleh Leo Tolstoy
198 halaman, diterbitkan tahun 2005 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1877)
My rating: ♥ ♥ ♥


Review in English:

This is a short review of the simplified version of Anna Karenina. Why the simplified version, you might ask? Well, I found it at a book fair the other day and I was just curious with the storyline of Anna Karenina, I thought that at least I should have read the simplified version before the recent adaptation is out next November. So I bought it and read it within 2 days only (it’s only 198 pages thick). And what I got was the tragic story of Anna, an attractive young woman living in the high society of 19th century Russia. Sick and tired of her cold and boring husband Karenin, Anna seek solace in the arms of a handsome young officer named Count Vronsky. As their affair was going on, Anna still was troubled by her love for her son and Karenin’s, Seriozha. Anna wanted Seriozha to live with her and Vronsky, but Karenin, still wasn’t divorcing Anna, wouldn’t let Seriozha go. In the meantime, Anna was secluded from society as a form of punishment for her act of adultery with Vronsky. But being a rather unusual heroine, Anna was determined to keep her place in society, even though her presence was unwanted and disdained.

The oh-so-glamorous trailer of Anna Karenina (coming up December 2012)

Even though this was only a simplified version, there are a lot of moral values I can take from Anna Karenina. First, marriage without love is the source of trouble. Second, the characters of this novel were so human with their flaws. I was especially impressed in Anna’s determination to live her life in her own way, no matter how disgraced her life was, no matter what society said and think of her. The moment when Anna was dying and begging for forgiveness from Karenin drove me to tears and I wished that she loved her husband instead, so that any of the terrible things wouldn’t happen to her! But hey, there wouldn’t be the Anna Karenina we all know today if she did. Lastly, when you decided to spend your life with someone, love is not enough. You need to devote yourself to your partner and sacrifice your personal matters, so that one day if your partner is no longer pretty or nice, you will still be at his/her side and never leave no matter what happens. So, I gave three out of five stars for the simplified version of Anna Karenina. Will I read the unabridged version someday? Well, why not? I’m honestly tempted to do so.

11th review for The Classics Club Project, 7th review for The Classic Bribe

The Reader – Bernhard Schlink

Pemuda lima belas tahun Michael Berg, ditolong oleh seorang perempuan tak dikenal ketika muntah-muntah di jalan Bahnhofstrasse akibat penyakit kuning. Ia begitu terkesan akan pertemuannya dengan perempuan yang berumur dua kali usianya itu, sehingga ia kembali ke pintu rumah perempuan itu dan merasakan ketertarikan fisik ketika ia melihat si perempuan berganti pakaian. Singkat cerita, Michael telah jatuh cinta dan tidur dengan perempuan itu bahkan sebelum mengetahui nama depannya.

Cerita berlanjut dengan hubungan diam-diam Michael dan Frau Schmitz (belakangan Michael baru mengetahui nama depannya, yaitu Hanna), pertemuan-pertemuan yang dihabiskan dengan berhubungan badan dan Michael membacakan banyak buku untuk Hanna. Hanna tidak pernah mau membaca buku sendiri, ia selalu minta Michael untuk membacakan buku-buku itu keras-keras. Seringkali Michael merasa bahwa ada dinding yang masih berdiri teguh antara dirinya dan Hanna, seakan-akan Hanna tak sepenuhnya jujur dengannya. Mereka sebetulnya sama saja seperti pasangan-pasangan lain, hanya dengan beda usia yang terpaut jauh dan hubungan yang dijalani secara diam-diam. Dengan segala gejolak hubungan percintaan yang mewarnai kisah mereka, Michael harus menerima kenyataan bahwa suatu hari Hanna pergi begitu saja dan lenyap dari hidupnya.

Michael bertemu Hanna lagi sebagai mahasiswa hukum, dan Hanna sebagai pesakitan di kursi pengadilan. Ternyata Hanna terlibat suatu kejahatan yang disembunyikannya rapat-rapat dari siapapun, kejahatan yang berkaitan dengan rezim Third Reich di Jerman, alias Nazi di bawah pimpinan Hitler. Hanna juga cenderung pasrah menerima saja segala putusan yang hendak dijatuhkan padanya. Michael hendak menolongnya, namun jelas bahwa Hanna tidak mau ditolong.

Bayangkan saja seseorang dengan sengaja berlari kencang menuju kehancurannya sendiri dan kau bisa menyelamatkannya—apakah kau akan datang dan menyelamatkannya?

Akhirnya Michael menyaksikan Hanna dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa mampu berbuat apa-apa dan waktu pun berlalu, Michael bertumbuh menjadi seorang pria muda yang mempunyai pekerjaan dan istri, namun ia tidak pernah bisa melenyapkan Hanna dari benaknya. Ia mulai membaca Odyssey lagi, salah satu buku yang pernah dibacakannya untuk Hanna, kemudian merekam suaranya dalam kaset dan mengirimkannya kepada Hanna. Setelah bertahun-tahun, hanya itulah bentuk komunikasi mereka berdua. Michael tidak melampirkan surat apapun ataupun menyampaikan pesan dalam kaset yang dikirimnya. Suatu hari ia menerima balasan dari Hanna, dengan tulisan yang ditekan keras-keras pada kertas: “Jungchen, cerita terakhir bagus sekali. Terima kasih, Hanna.” Ini adalah salah satu bagian favorit saya dalam buku, karena bagian ini menceritakan perjuangan Hanna untuk mengatasi kelemahannya (yaitu buta huruf), dan mengambil satu langkah lebih maju, walaupun boleh dikatakan sudah terlambat baginya. Satu langkah yang diambil seorang manusia pada titik tertentu dalam hidupnya, betapapun kecil langkah itu, betapapun seakan sudah terlambat: selalu ada makna yang tersimpan di dalamnya, yang bisa dibawa sampai pada akhir perjalanan.

***

Membaca buku yang ditulis Bernhard Schlink ini seakan-akan seperti membaca buku harian Michael, di mana ia menuangkan segala rasa hatinya, kegelisahannya, cintanya untuk Hanna, yang masih ada sampai akhir cerita, walaupun bentuknya sudah berbeda. Menurut saya buku ini adalah gabungan roman dan historical fiction yang ditulis dengan gaya kontemplatif. Artinya banyak hal yang bisa direnungkan lewat membaca buku ini. Seperti halnya hubungan antara Michael-Hanna, walapun “tabu” tapi dilukiskan dengan sangat gamblang dan manusiawi. Dari sisi sejarahnya, kita mendapatkan sekelumit gambaran mengenai keadaan Jerman pasca rezim Hitler. Kita melihat dua sisi dari orang-orang Jerman: mereka yang takluk di bawah kekuasaan Hitler karena mempunyai ide yang sama, dan mereka yang takluk karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Kita melihat Jerman sebagai suatu bangsa yang baru saja merasakan pukulan telak; apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya? Dari sisi humanitas yang lebih mendalam, kita belajar bahwa bagaimanapun juga, di tangan kita sendirilah terletak pilihan untuk menentukan arah kehidupan kita masing-masing.

Perenungan ini membawa saya memikirkan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

Apa jadinya jika Michael dan Hanna hidup bersama dan menjalani hubungan dengan terang-terangan?

Apa jadinya jika Hanna menampik tuduhan hakim atasnya dan membela diri dengan alibi kuat yang dimilikinya?

Life is made of choices, saya pernah membaca ungkapan ini di suatu tempat. Salut untuk Hanna yang memilih menentukan arah hidupnya sendiri, walaupun pilihannya itu tidak membuat nasibnya lebih baik. Juga karena ada upaya darinya untuk belajar membaca dan menulis, walaupun waktu yang dimilikinya sudah sangat sedikit. Tiga bintang untuk salah satu buku dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die yang memberi kesan kepada saya bahwa dari sebuah kisah yang punya ending yang tidak bahagia sekalipun, ada hal-hal kecil yang membuatnya tetap bermakna.

The Reader movie poster (2008)

Jika kita membuka diri
Dirimu padaku, dan diriku padamu,
Manakala kita tenggelam
Kau ke dalam diriku dan aku ke dalam dirimu,
Manakala kita menghilang
Kau di dalam diriku dan aku di dalam dirimu

Lalu
Aku adalah aku
Dan engkau adalah engkau

#postingbersama BBI Juli 2012 tema Historical Fiction

Detail buku:
“The Reader” (Sang Juru Baca), oleh Bernhard Schlink
232 halaman, diterbitkan Juni 2012 oleh Elex Media Komputindo (pertama kali diterbitkan tahun 1995)
My rating: ♥ ♥ ♥

Northanger Abbey – Jane Austen

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Sang heroine dalam kisah ini adalah Catherine Morland, seorang gadis tujuh belas tahun yang naif dan tidak berpengalaman, serta hobi membaca terutama novel-novel gothic. Ia belum pernah mencicipi dunia di luar kampung halamannya di Fullerton. Sampai suatu ketika Mr. dan Mrs. Allen, teman dekat keluarga Morland; mengundang Catherine untuk menghabiskan waktu beberapa bulan bersama mereka di Bath, suatu kota peristirahatan bagi sebagian warga Inggris kalangan atas. Di Bath, Catherine berkenalan dengan beberapa orang, antara lain Isabella dan John Thorpe, anak-anak dari Mrs. Thorpe yang adalah kawan sekolah Mrs. Allen. Ia juga berkenalan dengan seorang pemuda karismatik bernama Henry Tilney, dan nantinya dengan Eleanor Tilney, adik dari Henry. Setelah menghabiskan beberapa bulan di Bath, Catherine diundang ke kediaman keluarga Tilney, yaitu Northanger Abbey yang dulunya adalah biara. Di biara yang besar dengan banyak ruangan misterius inilah pikiran Catherine bergolak dalam imajinasi yang mencekam, sebagaimana novel-novel gothic yang begitu dicintainya.

Kisah Northanger Abbey terbagi menjadi 2 tema utama, yaitu:

1. Pertumbuhan menuju kedewasaan yang dialami karakter utama, yaitu Catherine. Inilah mengapa Northanger Abbey dikategorikan dalam genre bildungsroman (a story about coming-of-age). Setelah berinteraksi dengan beberapa karakter di dalam buku, watak Catherine yang aslinya naif dan polos mulai berkembang. Perubahan dalam watak Catherine terutama disebabkan oleh interaksinya dengan kakak-beradik Thorpe, yang pada awalnya menempatkan diri sebagai kawan sejati Catherine, namun sebenarnya mereka tidak tulus dan manipulatif.

Catherine, dalam perjalanannya menuju kedewasaan, pelan-pelan mulai mengasah kemampuan membaca karakter orang lain, dan bukan hanya membaca buku.

2. Kegemaran membaca yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Dalam kasus ini adalah Catherine yang hobi membaca novel-novel gothic. Peristiwa-peristiwa yang dibacanya di dalam novel-novel tersebut membekas begitu rupa di dalam pikirannya dan menghasilkan imajinasi yang overaktif. Batasan antara fantasi dan kenyataan menjadi kabur, dan akibatnya hubungannya dengan orang lain (dalam hal ini Henry Tilney yang dicintai Catherine) jadi rusak. Northanger Abbey merupakan gothic parody, yaitu parodi dari novel-novel gothic yang sedang booming pada masa Austen hidup. Secara spesifik Austen menyebut The Mysteries of Udolpho karya Ann Radcliffe, yang menjadi bacaan Catherine sepanjang buku ini dan yang membuat imajinasi Catherine melambung tinggi. Mungkin rumus yang ada di pikirannya adalah: an old building = history and mysteries to be unveiled = a hidden villain. Secara keseluruhan, adegan-adegan mencekam khas novel gothic hanya ada sedikit di dalam buku.

Tema-tema lain yang hendak disorot Austen antara lain norma-norma sosial pada masa itu, posisi seorang wanita di masyarakat, dan materialitas yang begitu mencolok, apalagi kalau menyangkut pernikahan.

Simak beberapa petikan dari buku sebagai berikut:

[Kritik Austen mengenai kaum perempuan pada masanya, yang cenderung fokus pada hal yang sia-sia, misalnya penampilan]

“It would be mortifying to the feelings of many ladies, could they be made to understand how little the heart of man is affected by what is costly or new in their attire; how little it is biased by the texture of their muslin, and how unsusceptible of peculiar tenderness towards the spotted, the sprigged, the mull, or the jackonet. Woman is fine for her own satisfaction alone. No man will admire her the more, no woman will like her the better for it. Neatness and fashion are enough for the former, and a something of shabbiness or impropriety will be most endearing to the latter.”

[Menyangkut keberadaan novel yang cenderung diremehkan, terutama oleh kalangan kelas atas. Masyarakat Inggris abad 18 cenderung mengganggap novel sebagai sarana hiburan semata dan bukannya sebuah karya seni yang serius]

“And what are you reading, Miss—?” “Oh! it is only a novel!” replies the young lady… in short, only some work in which the greatest powers of the mind are displayed, in which the most thorough knowledge of human nature, the happiest delineation of its varieties, the liveliest effusions of wit and humor are conveyed to the world in the best chosen language.”

 Hal ini dijawab oleh Austen dengan dialog antara Catherine-Henry sebagai berikut:

“But you never read novels, I dare say?”

“Why not?”

“Because they are not clever enough for you—gentlemen read better books.”

“The person, be it a gentleman or lady, who has not pleasure in a good novel, must be intolerably stupid. I have read all Mrs. Radcliffe’s works, and most of them with great pleasure. The Mysteries of Udolpho, when I had once begun it, I could not lay down again; I remember finishing it in two days—my hair standing on end the whole time.”

Perkembangan hubungan Catherine-Henry diceritakan dengan menarik. Karakter Catherine dipertemukan dengan Henry yang jauh lebih dewasa, cerdas, simpatik, dan boleh dibilang sabar dan instruktif pada Catherine yang masih kekanak-kanakan. Dialog mereka seringkali membuat tertawa, atau sedikitnya gemes. 🙂

“…it is a nice book, and why should not I call it so?”

“Very true,” said Henry, “and this is a very nice day, and we are taking a very nice walk, and you are two very nice young ladies. Oh! It is a very nice word indeed! It does for everything. Originally perhaps it was applied only to express neatness, propriety, delicacy, or refinement—people were nice in their dress, in their sentiments, or their choice. But now every commendation on every subject is compromised in that one word.”

***

It was no effect to Catherine to believe that Henry Tilney could never be wrong. His manner might sometimes surprise, but his meaning must always be just; and what she did not understand, she was almost as ready to admire, as what she did.

Wah, saya rasanya paham mengapa Catherine jatuh cinta kepada Henry. 😀

Kesimpulan yang saya ambil setelah membaca buku yang ditulis Austen pada awal karirnya (ditulis sekitar tahun 1798–1799, dan diterbitkan secara anumerta di tahun 1817), dan notabene merupakan novel Austen yang “dipandang sebelah mata” oleh kebanyakan orang:

Fokus dalam buku ini tidak jelas. Begitu banyak unsur dan tema yang dikemukakan Austen sehingga satu novel tidak menyampaikan satu tema yang utuh, namun beberapa tema. Mungkin “ketidakfokusan” ini bisa dimaklumi karena novel ini merupakan salah satu karya Austen yang pertama. Namun, membaca buku ini  tetap menyenangkan, karena banyak adegan yang lucu, ditambah beberapa adegan yang menegangkan; serta pembaca juga beroleh banyak wawasan mengenai praktik sosial yang terjadi pada masa tersebut. Saya juga sangat menyukai adaptasi Northanger Abbey oleh PBS Masterpiece versi tahun 2007. Di dalam miniseri yang dibintangi Felicity Jones, JJ Feild, dan Carey Mulligan ini lebih banyak adegan menegangkan yang merupakan visualisasi imajinasi Catherine.

#postingbersama BBI 29 Juni 2012 tema buku gothic

Baca juga:
Visual Tour on Northanger Abbey
Post mengenai karakter Isabella dan John Thorpe

Detail buku:
“Northanger Abbey”, oleh Jane Austen
256 halaman, diterbitkan Februari 2008 oleh Signet Classics (pertama kali diterbitkan tahun 1817)
My rating: ♥ ♥ ♥


Conclusion:

Being at the same time a bildungsroman and a gothic parody, Northanger Abbey quite confused me for not having a single theme. To be honest I expect more of the gothic stuff, but then I realize that Austen meant this work to be a parody of gothic novels, specifically Ann Radcliffe’s The Mysteries of Udolpho. I also learned a great deal about social norms, materiality and marriage, women’s position and the 18th century England’s underestimation of novels. But, I have to say, I enjoyed the witty book, finished it within a few days (and quite falling in love too with Henry Tilney, LOL! I gave the book 3 stars. Someday I might read The Mysteries of Udolpho. And I loved PBS Masterpiece’s 2007 adaptation of Northanger Abbey, a lot of action in it (visualizations of Catherine’s imagination).

7th review for The Classics Club Project, 3rd review for The Classic Bribe

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society – Mary Ann Shaffer & Annie Barrows

Surabaya, Indonesia, June 18th, 2012

Dear friend,

I’ve just read a wonderful book called “The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society” a few weeks ago, and I thought that I’d write a personal letter to you recommending it.

What first comes to your mind when you hear “World War II”? War must mean blood, chaos, ruthlessness, hope running out; don’t you think? Well, this book was set at the end of the World War II. The main character was Juliet Ashton, a writer for the English weekly Spectator under the pseudonym Izzy Bickerstaff. With her humorous writings Juliet brought the minds of people away from the war for a while. Juliet might have been famous for her Izzy Bickerstaff columns, but she had much deeper passion when it comes to literature. She also wrote a biography of Anne Brontë, which was sold poorly. When she was looking for a subject for her next book, she was accidentally corresponding with Dawsey Adams from the Guernsey Island, who told her about the book society he’s been involved in, how was the society accidentally formed during the German occupation, and how books changed the bitter lives of its members during wartime. Driven by curiosity, Juliet asked Dawsey if she could correspond to other members of the society, and BAM! Her wish was granted. She wrote and received long letters from almost all of the members, only to realize that she fell in love with them and she longed to read more from them. I won’t spoil much plot of the book, but you will find surprises as you turn the pages, surprises that would make you smile long after you finished it. I particularly liked the character Juliet, a woman who would dump a guy because he didn’t share her love for books (whoops!). Guernsey was written by Mary Ann Shaffer and continued by her niece, Annie Barrows.

Have you ever hear about Guernsey Island before? Yes, Victor Hugo wrote Les Misérables during his period of exile in Guernsey. It is a British Crown dependency in the Channel Islands off the coast of Normandy. I attached the map and some photos of the beautiful little island if you’re curious.

Back to the book, it was written in epistolary method (told in series of letters). It was warm and sweet, witty and romantic, you’ll fall in love with the characters (well, not all, thankfully), and it tells a lot about the love for literature. Anybody who loves books and literature should read this book. But mind you, men might not enjoy this book. It was like chick lit set in the 1940s era, written especially for book lovers. By page 11 I found one of my favorite lines of the book:

“I wonder how the book got to Guernsey? Perhaps there is some secret sort of homing instinct in books that brings them to their perfect readers.”

And in page 16:

“I love seeing the bookshops and meeting the booksellers—booksellers really are a special breed. No one in their right mind would take up clerking in a bookstore for the salary, and no one in his right mind would want to own one—the margin of profit is too small. So, it has to be a love of readers and reading that makes them do it—along with first dibs on the new books.”

And this one line in page 56 reminds me so much of the Indonesian Book Bloggers (BBI) community I’m involved in:

“We read books, talked books, argued over books, and became dearer and dearer to one another.”

Ain’t that sweet? 😀

So, my dear friend, if you are curious much after reading my letter, I suggest you grab a copy of The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, as soon as possible. And do you know, the book is filming at the time being with Kate Winslet as Juliet Ashton! When you have read the book, if you loved it, maybe we can watch the movie together. See you when it comes!

Truly yours,
Melisa

Book details:
“The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, by Mary Ann Shaffer and Annie Barrows
305 pages Paperback, published May 2009 by Random House
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Pope Joan – Donna Woolfolk Cross

Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?

Quis — siapa?

Namanya Joan. Dilahirkan tahun 814 Masehi di Ingelheim (sekarang di wilayah Jerman). Putri satu-satunya seorang kanon (semacam pendeta atau imam) dari Inggris dan istrinya yang orang Saxon. Punya dua kakak laki-laki, Matthew dan John. Dari kecil sudah menampakkan kecerdasan dan keingintahuan yang luar biasa. Joan menderita siksaan fisik dari ayahnya gara-gara hal itu, tapi toh ia tidak mau berhenti belajar.

Quid — apa?

Perjuangan Joan, yang dengan karunia kecerdasan yang dimilikinya, menolak kenyataan yang terjadi pada masa itu bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk membaca dan menulis, apalagi belajar dan menguasai berbagai ilmu sebagaimana kaum laki-laki. Ditengah-tengah busuknya politik Kepausan Katolik Roma, ancaman Kaisar Lothar dari kerajaan Frank, ancaman wabah yang merajalela, dan juga serangan bangsa Viking, Joan menapaki langkah demi langkah menuju tahta tertinggi dalam Katolik Roma – Paus.

Quomondo – bagaimana?

Di satu titik Joan membuat suatu keputusan besar yang mengubah seluruh hidupnya – ia menyamar sebagai seorang laki-laki, sehingga ia bisa mempelajari banyak hal – sesuatu yang mustahil dilakukan seorang perempuan pada abad kesembilan. Keteguhannya untuk terus menjalani hidup sebagai laki-laki hampir tergoyahkan ketika ia jatuh cinta pada Gerold, seorang count yang menjadi ayah angkatnya di Dorstadt. Namun toh Joan tetap teguh melakukan apa yang menjadi hasratnya sampai nafasnya yang terakhir.

Ubi – Di mana?

Mengawali dengan bersekolah di Dorstadt oleh rujukan dari guru pertamanya, Aesculapius, seorang Yunani. Setelah lolos dari serangan brutal bangsa Viking di Dorstadt, Joan melarikan diri ke pertapaan di Fulda di mana ia menyamar sebagai laki-laki untuk pertama kalinya. Kemudian, setelah menghabiskan bertahun-tahun di Fulda, sebuah wabah demam nyaris membongkar penyamarannya sehingga ia kabur, dan akhirnya pergi ke Roma, menjadi tabib pribadi Paus Sergius, dan pada waktunya—ia sendiri yang diangkat menjadi Paus.

Quando – kapan?

Keseluruhan kisah berlangsung pada tahun 814 hingga 855 Masehi, yang termasuk dalam era Abad Kegelapan. Joan memerintah sebagai Paus pada tahun 853 hingga 855. Setelah Joan meninggal, Katolik Roma dibawah tulisan Anastasius menghapuskannya dari Liber pontificalis, yaitu kronik resmi seluruh Paus yang pernah ada. Empat puluh tahun setelah kematiannya, Uskup Agung Arnaldo menyalin Liber pontificalis dan menambahkan bab mengenai Joan ke dalamnya, sehingga kebenaran tidak sepenuhnya hilang.

Cur – mengapa?

Mengapa Joan sampai memilih meninggalkan identitas keperempuanannya? Karena ia punya impian, dan hasratnya terhadap impian tersebut demikian besarnya sehingga pengorbanan demi pengorbanan yang ia lakukan dirasanya setimpal. Mengapa lalu ia bisa sampai di tahta tertinggi Katolik Roma? Karena Joan mampu. Karena perempuan mampu, karena perempuan bukanlah makhluk yang bodoh dan lemah. Karena perempuan sejajar dengan laki-laki.

***

Pope Joan adalah sebuah novel yang lengkap. Sejarah, politik, perjuangan perempuan, agama, perang, cinta, pengorbanan, kemunafikan, kebrutalan manusia; semua terkandung di dalamnya. Sang pengarang, Donna Woolfolk Cross, menghimpun kisah ini dengan apik, tokoh-tokohnya terasa nyata dan emosinya dapet. Apalagi dengan alur cepat yang tidak membuat bosan. Walau di beberapa bagian emang sadis sih, terutama pas serangan bangsa Viking itu. Pope Joan versi film (2009) kurang mengesankan walaupun dari segi cast secara fisik sudah pas, setting juga bagus, tapi emosinya kurang terasa.

Salut untuk pengarang yang menyelesaikan penulisan Pope Joan setelah melakukan riset selama tujuh tahun. Salut juga untuk F.X. Dono Sunardi sang penerjemah, karena menerjemahkan karya ini sudah pasti bukan pekerjaan gampang. Puasss banget melahap lebih dari 700 halaman novel ini, karena wawasan bertambah banyak, terutama tentang sejarah, seluk-beluk kepausan di Katolik Roma, dan beberapa kalimat dalam bahasa Latin… Juga bagian Catatan dari Pengarang sungguh-sungguh membantu dalam memahami kisah.

Saran saya bagi penerbit yang hendak menerbitkan novel serupa: akan lebih nyaman kalau ada glossary di bagian belakang buku, terutama sih tentang berbagai istilah dan jabatan keagamaan yang tidak familiar bagi saya sehingga membuat saya jadi cukup bingung. Kalau sebatas catatan kaki, kan, kalau ketemu lagi dengan kata “X’, saya sudah lupa catatan kakinya ada di halaman berapa, hehehe.

Jadi, apakah Paus Joan pernah ada? Setelah membaca buku ini rasanya saya percaya kalau beliau benar-benar pernah ada. Bagaimanapun, kisahnya menginspirasi para perempuan (dan juga laki-laki) untuk tidak menyerah dan berani berkorban dalam berusaha mencapai impian.
Go for it, no matter what it takes! Empat bintang bagi kisah perempuan hebat yang nyaris terlupakan ini.

Beberapa kutipan favorit:

“Jika ingin dapat bertahan di dunia ini, kau harus bersikap lebih sabar dengan mereka yang ada di atasmu.” – hal. 179

“Sungguh aneh apa yang terjadi pada hati manusia. Orang dapat saja terus hidup selama bertahun-tahun, terbiasa kehilangan, serta berdamai dengannya, tetapi kemudian, dalam sekejap saja, rasa sakit itu muncul kembali bersama rasa pedih dan perih seperti luka yang masih baru.” – hal. 495

“Kita akan tetap berdoa seakan-akan semuanya bergantung kepada Tuhan dan terus bekerja seolah-olah segalanya tergantung pada diri kita sendiri.” – hal. 573

“Terangnya harapan yang dipantikkan oleh para perempuan tersebut hanya serupa kelap-kelip cahaya kecil di samudra kegelapan, tetapi nyalanya tidak pernah sepenuhnya padam. Kesempatan selalu ada dan tersedia bagi kaum perempuan yang cukup kuat untuk bermimpi. Pope Joan adalah kisah dari salah satu pemimpi itu.” – hal. 732.

Catatan:Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?” tidak lain adalah 5W+1H (Who, what, when, where, why, how) yang konsep awalnya dirumuskan oleh filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero (106-43 SM).

Links:

Pope Joan on Wikipedia
Pope Joan the Novel Official Site
Resensi Pope Joan di Kompasiana oleh Kornelius Ginting

Detail buku:
“Pope Joan”, oleh Donna Woolfolk Cross
736 halaman, diterbitkan Januari 2007 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

My Ridiculous, Romantic Obsessions – Becca Wilhite

Sarah–tokoh utama dalam kisah ini–sama sekali bukan tipikal tokoh utama dalam novel-novel romatis. Dia tidak langsing, malah cenderung gemuk. Rambutnya tidak berkilau keemasan dan selembut sutra, tapi ikal dan liar seperti rambut Medusa. Sarah mengalami krisis pede akut jika berhadapan dengan cowok (ganteng). Dan dia membaca terlalu banyak novel roman, yang hanya membuat Prince Charming complex yang diidapnya ini makin parah.

Awalnya Chel, sahabat karibnya, yang memprovokasi Sarah untuk berkuliah di kampusnya. Di kampus ini, konon ada seorang manusia yang sangat terkenal, berjenis kelamin laki-laki, dan dia luar biasa tampan. Dia adalah Asisten Dosen dalam kelas sejarah seni. Sang Asisten Dosen, sebagaimana Sarah menggambarkannya, punya ketampanan ala orang Iran, laksana Dewa dari Timur Tengah. Tak dinyana, dalam kelas yang sama pula, Sarah bertemu dengan makhluk yang tak kalah tampannya dari sang Asisten Dosen. Sarah menyebutnya Adonis (salah satu dewa dalam mitologi Yunani yang melambangkan ketampanan). Dasar Sarah yang malang, ia gelagapan ketika harus menghadapi si Adonis yang sedang mengkoordinir kelompok belajar. Padahal Adonis–nama sebenarnya Ben :D–sebenarnya sangat-sangat baik.

Lama-kelamaan hubungan Sarah dan Ben semakin dekat. Ben mengantar Sarah pulang sehabis kelompok belajar, main ke apartemennya, mereka bermain gitar bersama, makan es krim bersama, dan Ben mengajak Sarah ke acara pernikahan kakaknya di rumah orang tuanya. Belum lagi Ben selalu mengirim SMS dan menelponnya. Sarah rasa-rasanya tak percaya semua ini. Bagaimana mungkin–Ben yang setampan dewa Yunani ini, bisa tertarik padanya–cewek aneh yang sama sekali tidak menarik? Tokoh utama dalam novel romantis sama sekali tidak mirip diriku, pikir Sarah. Mereka cantik, tinggi langsing, anggun, dan punya rambut berkilau seperti mutiara yang tergerai lembut sepanjang punggung. Mereka bisa membuat laki-laki manapun bertekuk lutut hanya dengan mengibaskan rambut atau mengerjap-ngerjapkan mata. Teman-temannya menyebut Sarah sedang pacaran dengan Ben, tapi dia menolak mempercayainya. Ben mulai merasa insecure karena Sarah tidak merespon segala perhatian yang diberikan Ben kepadanya. Sementara Sarah begitu takut bahwa semua ini hanya permainan, dan ia akan berakhir dipermalukan seperti pengalaman di masa lalu. Novel ini punya happy ending dan ceritanya cukup gampang ditebak, tapi seru juga mengikuti ke-o’on-an Sarah menuju happy endingnya, hehehe.

Ini bukan novel romantis biasa. Itu kalimat tagline yang tercetak di bagian atas cover buku. Dan kurang lebih saya setuju (walaupun saya sangat jarang membaca novel romantis :p), karena: 1. Buku ini mbanyol sangat, mampu bikin saya cekikikan sendiri ketika membacanya, cukup menghibur lah. 2. Tokoh utama perempuannya sama sekali bukan heroine, tapi cewek yang dorky dan o’on gak ketulungan terutama jika berhadapan dengan cowok. 3. Punya pesan moral yang bagus. Bahwa setiap cewek harus percaya diri dengan diri mereka masing-masing. Dan setiap cewek layak mendapatkan cowok yang pantas bagi mereka. And never take the one you love for granted, you might regret it. 4. Saya suka warna-warna di covernya. 5. Saya suka dengan tokoh Ben yang ‘sempurna tapi sebenarnya tidak sempurna-sempurna banget’. He was so lovable, dan resmi menjadi kandidat untuk masuk daftar Top 5 Book Crushes tahun 2012. LOL.

Karena saya membaca buku ini berbarengan dengan nonton film From Prada to Nada, malah kebayang Ben itu seperti salah satu aktor yang main di film itu, yang punya nama Nicholas D’Agosto :p

Ada satu kalimat di hal. 115 yang saya suka, tidak disangka bisa muncul dalam novel roman jaman sekarang ini:


“Kau tidak bisa membiarkan orang-orang ini–bahkan yang benar-benar asing–untuk melihatmu bersama Ben jika hubungan kalian sewaktu-waktu tidak berhasil. Kau benar-benar yakin bahwa seharusnya kau tidak boleh terlihat dalam situasi romantis dengan orang yang tidak akan menjadi suamimu.”

Tiga bintang untuk novel romantis nan konyol ini!

Detail buku:
“My Ridiculous, Romantic Obsessions”, oleh Becca Wilhite
270 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥

Pride and Prejudice – Jane Austen

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”


Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.

Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda-beda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.

Suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet yang sangat ingin anak-anak perempuannya segera menikah, terutama si sulung Jane, begitu bersemangat mendengar kedatangan Mr. Bingley. Kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.

Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy. Pada bagian akhir cerita, ketika suatu masalah pelik menimpa keluarga Bennet, akhirnya Elizabeth pun dapat melihat kebaikan yang tersembunyi dalam diri Mr. Darcy, dan juga mulai membuka hatinya terhadap pria itu.

###

Saya banyak menyenangi novel-novel klasik, dan meskipun bukan penikmat roman, saya sangat menikmati membaca Jane Eyre karangan Charlotte Bronte. Ketika memutuskan membaca Pride and Prejudice, karya paling terkenal dari novelis roman ternama Jane Austen, saya berharap banyak bahwa novel ini, setidaknya, akan sebagus Jane Eyre. Ternyata saya sangat kecewa setelah membacanya. Isi Pride and Prejudice sangat mencerminkan judulnya (yang bila diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berarti Harga Diri dan Prasangka), diuraikan penulis menjadi 585 halaman dalam versi terjemahan Indonesianya. Ceritanya, walau tidak bisa dibilang beralur lamban, namun datar-datar saja, cenderung hambar, tanpa ada konflik yang berarti, dan sangat mudah ditebak. Kebanyakan hanya berkisah tentang kunjungan Mr. X ke tempat Y, pesta di Z, dan tokoh-tokoh yang mengagumi rumah yang mereka kunjungi, melontarkan pujian untuk entah taman atau perabotnya, dan tentu saja percakapan-percakapan panjang nan ngalor ngidul yang terjadi antar tokohnya. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”

Hal yang menarik mengenai Pride and Prejudice bahwa di Indonesia ini ada tiga penerbit yang hampir secara bersamaan merilis versi terjemahannya. Yang pertama adalah penerbit Bukune, yang kedua Qanita (Mizan Group) yaitu versi yang saya baca ini, dan yang terakhir Gramedia Pustaka Utama, yang sedianya akan terbit pertengahan tahun 2011. Tertarik membandingkannya? Kalau saya sih, jujur, angkat tangan. Nyerah. ;-P

Detail buku:
“Pride and Prejudice”, oleh Jane Austen
585 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating : ♥ ♥

The Iron King – Julie Kagawa

Phew! Menyelesaikan membaca buku ini penuh perjuangan! Tapi bukan karena bukunya jelek lho… 😉

Yang pertama, saat saya mulai baca buku ini mood memang lagi jelek dan kejenuhan menyerang setelah baca Jane Eyre setebal 688 halaman.

Kedua, setelah sampai dengan selamat (walaupun agak kepayahan) di hal. 368, betapa kagetnya saya ketika melihat halaman di sebelah 368 bukan 369, tapi 385!!! Emosi rasanya naik ke ubun-ubun, pas lagi seru-serunya lha kok halamannya loncat! Esok harinya saya ke Togamas Diponegoro Surabaya untuk menukar buku yang cacat itu. Syukurlah dengan pelayanan dari staff Togamas Dipo yang memuaskan, saya akhirnya membawa pulang copy The Iron King pengganti, walau buku yang lama sudah sempat saya coret-coret dengan nama dan paraf saya! ;-p. (untunglah juga saya masih nyimpen bukti pembeliannya, moga jadi pelajaran buat teman-teman, sehabis beli buku, bukti pembeliannya jangan langsung dibuang yah!)

Oke, cukup cuap-cuapnya, back to the review. Here we go…


 

 

 

“Kaupikir tidak ada yang namanya faery di dunia ini? Kami ada dimana-mana, di tempat tidurmu, di lotengmu, berpapasan denganmu di jalan.”

 

 

 

MEGHAN CHASE mengira dirinya hanya seorang remaja biasa, sampai ia berulang tahun yang keenam belas. Hal-hal aneh mulai terjadi padanya, dan keanehan itu memuncak ketika adik tirinya, Ethan, bertingkah seperti seekor binatang buas. Betapa kagetnya Meghan ketika Robbie, sahabatnya, mengatakan bahwa Ethan telah diculik kaum faery, dan makhluk yang ada dirumah Meghan adalah changeling. Bahkan, Robbie sendiri pun adalah faery yang bernama asli Robin Goodfellow atau lebih sering dipanggil Puck!

Maka demi menyelamatkan adiknya, Meghan dan Puck pergi ke Nevernever, rumah segala kaum faery atau fey. Nevernever terbagi menjadi 2 teritorial, Istana Musim Panas/Istana Terang adalah daerah kekuasaan Raja Oberon dan Ratu Titania, sedangkan Istana Musim Dingin/Istana Gelap dikuasai oleh Ratu Mab. Meghan dan Puck menempuh perjalanan yang penuh bahaya menuju ke Istana Terang, dikejar-kejar oleh berbagai makhluk fey, juga diburu oleh putra termuda Ratu Mab, Pangeran Ash, yang sangat tampan sekaligus dingin. Seekor cait sith bernama Grimalkin juga menyertai perjalanan mereka (kalau kamu penasaran apa itu cait sith, coba ingat-ingat tokoh Cheshire Cat di Alice in Wonderland, makhluk seperti itulah si Grimalkin ini).

Sesampainya mereka di istana Terang, Meghan mengetahui kebenaran yang sangat mengagetkan mengenai dirinya. Dan ternyata Ethan tidak ada di Istana Musim Panas maupun Istana Musim Dingin, namun diculik oleh oknum yang disebut Raja Besi. Tanpa ada yang tahu, suatu kaum fey baru telah lahir, yaitu fey besi, yang terbentuk dari mimpi-mimpi manusia akan teknologi. Kehadiran mereka mengancam eksistensi kaum fey yang sudah ada selama berabad-abad lamanya!

Berhasilkah Meghan menyelamatkan adiknya? Dan bagaimana nasib Faeryland yang kian hari kian sekarat karena digerogoti keberadaan fey besi?

###

The Iron King karya Julie Kagawa adalah novel bergenre fantasy/young adult yang menurut saya, komplit. Mengapa komplit? Karena begitu banyak makhluk faery yang muncul dalam buku ini, mulai dari changeling, troll, sidhe, dwarf, redcap, ogre, siren, gremlin, cait sith, pixie, dan lain-lain. Penulis dengan jempolan menggambarkan faery, demikian juga deskripsi masing-masing makhluk fey yang beda jenisnya, beda pula karakternya. Ketegangan dalam adegan-adegan aksinya pun berhasil dibangun dengan baik. And last but not least, adegan romantis yang ada juga mampu membius pembaca, apalagi karena cinta yang tumbuh antara Meghan dan Ash jelas-jelas adalah forbidden love, mengingat sebenarnya mereka adalah musuh. Perlu dicatat, meskipun buku ini berlabel Harlequin Teen, pembaca tidak akan menemukan adegan romantis sebelum pertengahan buku.

Beberapa hal menarik dari dunia faery a la Julie Kagawa adalah sebagai berikut:

1. Dalam dunia faery, perjanjian adalah sesuatu yang sangat mengikat, sehingga tak mungkin melanggar janji tersebut. Maka membuat perjanjian dengan faery sangat-sangat tricky karena mereka cenderung memanfaatkan hal ini untuk menjeratmu dan meminta hal-hal seperti kenangan terindah yang kau miliki, atau bahkan anak pertamamu.

2. Kaum faery dapat eksis karena mendapat energi dari mimpi-mimpi manusia. Nah, seiring dengan perkembangan teknologi, impian-impian manusia pun bergeser, menjadi impian-impian yang sarat teknologi. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya fey besi. Ide tentang fey besi ini sangat brilian sekaligus menyadarkan kita, bahwa di satu segi teknologi sangat membantu kehidupan manusia, namun di sisi lainnya teknologi telah begitu rupa menggerus sisi-sisi kemanusiaan tertentu kita sehingga tempat bagi mimpi dan imajinasi semakin sempit dalam benak manusia.

3. Karakter Oberon, Titania, dan Puck diambil dari A Midsummer Night’s Dream, dongeng karya sang master komedi dan tragedi asal Inggris, William Shakespeare. Saya hanya membaca versi Saddleback Illustrated Classics dari karya ini, karena kalau membaca versi aslinya yang berbahasa Inggris “jadul” otak saya bisa-bisa njarem, hehehe… Julie Kagawa mencomot karakter-karakter dongeng klasik ini dengan gaya yang segar.

Saya sebenarnya bisa sangat menikmati membaca buku ini, jika tidak terganggu oleh banyaknya typo. Terjemahannya juga lumayan, walaupun di beberapa bagian tetap membuat saya mengangkat sebelah alis, karena rasanya kok kurang pas. Kemudian, tidak adanya catatan kaki mengenai berbagai macam makhluk faery itu, cukup menyulitkan bagi pembaca yang tidak mau repot-repot googling untuk mencari tahu deskripsi makhluk-makhluk itu. Alangkah baiknya kalau ada ilustrasi yang menjelaskan penampilan fisik makhluk-makhluk khayalan tersebut (Eh tapi, ilustrasi di novel fantasy young adult, relevan nggak yah? Hehehe).

Semoga hal-hal ini dijadikan PR oleh Penerbit Kubika sehingga ketika buku kedua Iron Fey, yang berjudul The Iron Daughter terbit, gangguan-gangguan ini sudah bisa diatasi, karena sungguh seri Iron Fey ini merupakan buku fantasi yang luar biasa sehingga sayang jika terganggu oleh typo dan terjemahan yang kurang pas.

Detail buku :
“The Iron King”, oleh Julie Kagawa
462 halaman, diterbitkan 2011 oleh Penerbit Kubika
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

Jane Eyre – Charlotte Brontë

“Aku tak pernah berniat mencintainya, pembaca tahu aku sudah berjuang keras untuk mencabut benih-benih cinta di dalam jiwaku, tapi sekarang, saat aku melihatnya lagi, benih-benih itu langsung bertumbuh, hijau dan kuat! Dia membuatku mencintainya tanpa memandangku.”

 


Apa yang anda harapkan dari sebuah novel roman? Tokoh-tokoh utama yang ganteng dan cantik, cinta menggebu-gebu yang terhalang, namun pada akhirnya tinggal landas dalam akhir bahagia dimana sang pangeran datang menjemput sang putri dengan mengendarai kuda putih?

Jika itu yang anda cari ketika memutuskan membaca Jane Eyre, maka siap-siaplah kecewa. Pada setengah bagian buku pertama hampir pasti anda akan dibuat bosan dengan kisah masa kecil dan masa remaja Jane, yang sedih dan muram.

Namun sebelum kita melangkah lebih lanjut, sebaiknya saya memperkenalkan lebih dahulu siapa Jane Eyre kepada kita semua.

Jane Eyre adalah seorang gadis yatim piatu, anak perempuan dari pasangan seorang pendeta yang miskin dan seorang wanita terhormat dari keluarga bangsawan. Orangtua Jane meninggal dunia saat ia masih kecil, dan ibunya menulis wasiat agar Jane dirawat oleh kakak perempuannya, yaitu Mrs. Reed.

Mrs. Reed, janda dengan seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan, amat membenci Jane. Praktis selama hidup di Gateshead (rumah keluarga Reed), Jane kecil menderita oleh perlakuan kejam bibi dan sepupu-sepupunya, juga oleh hampir semua pelayan di rumah itu. Penampilan fisiknya yang ”tidak cantik maupun menarik”, dijadikan alasan bagi seluruh penghuni Gateshead untuk membencinya dan menganggapnya duri dalam daging keluarga Reed yang terhormat.

Di usianya yang kesepuluh, bibinya yang sudah tidak tahan dengan kehadiran Jane di tengah-tengah rumahnya, mengirimnya ke sekolah khusus anak perempuan, Lowood. Di Lowood nasib Jane tidak berubah menjadi lebih baik, karena Mr. Brocklehurst, seorang pendeta sekaligus bendahara Lowood, adalah seorang pria yang berkeras agar murid-murid Lowood ”diajarkan arti menderita sejak dini” agar mereka ”tidak terbiasa manja”. Namun yang dilakukan Mr. Brocklehurst bukannya mendidik tapi menyengsarakan hidup murid-murid, yang mau tak mau melewatkan hari-hari mereka di Lowood dengan pakaian terlalu sederhana, sangat sedikit air untuk mencuci muka, kedinginan di malam hari, dan yang terparah adalah makanan yang tak bermutu apalagi bergizi. Lambat laun lingkungan di Lowood menjadi semakin tidak sehat dan wabah tifus akhirnya merajalela dan membunuh separuh murid Lowood. Jane lolos dari maut saat itu, ia melewatkan delapan tahun di Lowood, enam tahun sebagai murid dan dua tahun sebagai guru.

Jane yang saat itu berusia delapan belas tahun, merasa bahwa sudah saatnya ia meninggalkan Lowood dan mencari kehidupan yang baru, karena pada dasarnya Jane adalah orang yang tidak mau berhenti pada satu titik; ia mau melihat dunia, bertemu dengan orang-orang yang berbeda-beda wataknya, dan mengecap pengalaman-pengalaman baru yang baik baginya. Maka nasib membawanya ke Thornfield Hall, dimana ia menjadi guru pribadi seorang gadis Prancis kecil bernama Adele, yang adalah anak asuh seorang tuan tanah yang kaya namun eksentrik, Mr. Rochester.

Mr. Rochester bukanlah pria yang tampan, namun lambat laun Jane terpikat oleh karisma dan keeksentrikan yang ditunjukkan majikannya itu, serta kekuatan sifat-sifatnya yang mengalahkan kekurangan fisik yang dimilikinya. Mr. Rochester yang dua puluh tahun lebih tua dari Jane itu juga melihat keistimewaan di dalam diri Jane, yang meskipun ”sangat biasa”, namun memiliki semangat, kekuatan, kecerdasan, kepekaan, bahkan kekeraskepalaan yang tidak ditunjukkan wanita-wanita cantik dan terhormat yang telah lalu lalang dalam hidup Mr. Rochester.

Poster film Jane Eyre (rilis di Amerika Serikat Maret 2011)

Singkat cerita, Mr. Rochester memutuskan untuk melamar Jane, tanpa peduli perkataan orang lain, tanpa menimbang untung dan rugi (karena pernikahan pada masa itu seringkali memperhitungkan masalah koneksi yang memberikan keuntungan bagi salah satu atau kedua belah pihak). Mr. Rochester merasa telah menemukan pasangan yang sebanding dengannya dari segi prinsip dan cara pandang terhadap hidup, seorang wanita yang benar-benar mengerti dirinya dan mencintai dia apa adanya. Namun malang, hari itu tidak pernah terjadi pernikahan antara Mr. Rochester dan Jane, oleh karena misteri besar yang melingkupi Thornfield Hall yang kelam akhirnya tersingkap!

Jane melarikan diri dari tuan dan kekasih yang dicintainya itu oleh karena peristiwa ini, dan melanjutkan hidup. Walau sebelumnya sempat miskin dan terlunta-lunta, ia diselamatkan oleh sebuah keluarga yang terdiri dari seorang pendeta pria muda dan dua adik perempuannya. Belakangan, terungkap bahwa ketiga orang ini, St. John, Diana dan Mary Rivers, adalah saudara-saudara sepupu Jane. Betapa bahagianya Jane menemukan keluarga yang selama ini ia rindukan untuk miliki! Namun hari-hari Jane masih diisi oleh kenangan pahit dan kerinduan kepada Mr. Rochester, yang tak berhasil diketahui kabar dan keberadaannya. Sementara itu, St. John Rivers sang pendeta muda dan sepupu Jane, mendesaknya untuk mendampinginya pergi ke India sebagai misionaris. Tawaran ini sangat menarik bagi Jane yang mendambakan melihat dunia, namun membayangkan harus meninggalkan tanah kelahiran sekaligus tempat kenangannya akan Mr. Rochester yang tak bisa diraihnya sangat memberati hati Jane. Pilihan mana yang akan diambil Jane?

###

Jane Eyre adalah roman klasik abad sembilan belas, buah karya Charlotte Brontë (1816-1855), yang bersama dua adik perempuannya, Emily dan Anne, dikenal sebagai trio penyair dan novelis wanita yang mempunyai pengaruh besar dalam dunia kesusasteraan Inggris.

Kekuatan penceritaan Charlotte Brontë terletak pada penjabaran emosi, pemikiran, dan karakter tokoh-tokoh di dalam cerita, yang disampaikan dengan sangat detail dan mendalam. Karakter kedua tokoh utama, Jane dan Mr. Rochester, terutama, membuat saya jatuh cinta. Karena sang penulis dengan lihainya mengemas kedua karakter ini begitu rupa sehingga saya terpesona dengan kekuatan karakter mereka yang jauh melampaui ”bungkus” luarnya. Betapa sesungguhnya penampilan fisik dan harta, untuk menilai kekuatan seorang manusia, berada di tempat kedua!

Tokoh-tokoh lainnya dalam Jane Eyre juga tak sembarang ”numpang lewat”, ada banyak karakter yang bisa meninggalkan kesan yang kuat di hati pembaca, misalnya Mrs. Reed yang sampai nafas terakhirnya tak mau melepaskan diri dari kebencian, Blanche Ingram si gadis bangsawan yang cantik namun sangat sombong dan selalu meremehkan orang lain. Karakter yang paling membuat saya sebal adalah St. John, si pendeta yang memaksakan kehendaknya kepada Jane dengan membawa-bawa nama Tuhan.

Karena ini merupakan novel klasik, maka jangan berharap ada banyak adegan romantis fisik dalam buku ini. Namun sebaliknya, cinta yang berusaha ditorehkan oleh penulis melalui buku ini adalah sungguh-sungguh cinta sejati; yang tanpa syarat, yang melampaui batas-batas adat, kebiasaan, dan pandangan yang dibuat manusia.

“Aku menganggap diriku sangat diberkati — melebihi yang bisa diungkapkan dengan kata-kata; karena aku adalah hidup suamiku, sama seperti dia adalah hidupku. Tidak ada wanita yang lebih dekat dengan pasangannya daripada aku: secara mutlak hidup sebagai tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya. Aku tidak pernah lelah hidup bersama Edward: dia tak pernah lelah bersamaku, sebagaimana kami tak pernah lelah dengan denyut jantung yang berdetak dalam dada kami masing-masing.”


Detail buku :
“Jane Eyre”, oleh Charlotte Brontë
688 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥