The Princess Bride – William Goldman

OLYMPUS DIGITAL CAMERAIt comes to this: I was in need of a light read after spending one and a half month preparing for IELTS. I don’t know exactly why I chose this book—maybe because I suddenly remember my history with The Princess Bride. I first bought The Princess Bride on impulse. The truth is I don’t like fantasy books all that much, and I also didn’t really like the cover, so I sold it to Mbak Dewi (it was a copy with this cover, anyway). Some years later, while casually browsing a pile of used books in a bookshop, I found another copy of The Princess Bride. Having watched the film and seeing that the book has a vintage-looking cover, I decided to buy it. Ha! This time I didn’t regret buying it because in addition to the eyecatching cover, it also has a map. It would make a splendid addition to my collection!

Now, moving on to the story. I will list the characters first.

Buttercup, a Florinese village girl of unmatched beauty.

Westley, an orphaned farm boy who worked (or slaved) for Buttercup’s father.

Prince Humperdinck, a scheming and power-hungry prince who loved hunting above all else.

Count Rugen, Humperdinck’s sidekick and confidant who was obsessed with pain.

Vizzini the brainy Sicilian.

Inigo Montoya the sword-wielding Spaniard.

Fezzik the Turkish giant.

All the Farm Boy ever said to Buttercup was, “As you wish.” Of course what he meant was “I love you” but it took Buttercup some time before she realises this. Not until a visit from Count and Countess Rugen when she saw the Countess seemingly took a fancy of Westley. But just after them realising their true feelings for one another, Westley sailed off to America to seek his fortune, in order to become a man worthy of Buttercup. Buttercup waited and waited, but news came one day that Westley’s ship had been attacked by the Dread Pirate Roberts and he never takes prisoners, which means Westley was dead. Heartbroken, Buttercup accepted marriage proposal from Prince Humperdinck (confused? Hang on a bit) with “I can never love him” in mind. Well, it means death if she said no. So began the preparations of the royal wedding, including months of making the village girl into a princess. One day while riding her horse, a weird trio consisted of Vizzini, Inigo, and Fezzik kidnapped her. But the trio’s plan (or more accurately, Vizzini’s plan, since he was the head of the trio) was threatened by the man in black, who followed them as they were sailing to the neighbouring country of Guilder, up the Cliffs of Insanity to the ravines that led to the Fire Swamp. (I’m going to leave it at this moment, there are so much adventures thereafter, but I don’t want to ruin your fun by spoiling them all.) 😉

Thoughts:

This book is the abriged version of S. Morgenstern’s The Princess Bride, the “good parts” version by William Goldman. (SEE UPDATE AT THE END OF THE POST) I don’t think that this book belongs to the fantasy genre, let alone a fairy tale, even though my copy says “a hot fairy tale”. I think it’s an adventure book with bits of fantastical elements. My copy of The Princess Bride starts with a 29-page introduction, rather too long for my taste. I was tempted to skip it altogether but later realized that it was somewhat necessary to read, that is if you want to know the background on the abridgement of S. Morgenstern’s work by William Goldman. Goldman’s “commentaries” are also scattered all over the book, but mostly they are short so it wouldn’t be a burden to read these additional paragraphs typed in fancy italic. As someone who’s seen the film first then read the book, I must say that I think both are equally entertaining. The film adapted the book very well, from Westley’s wittiness (performed gorgeously by Cary Elwes) to the memorable lines of Inigo (“Hello. My name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die.”)

inigoand of Vizzini (“Inconceivable!”).

inconceivableInigo and Fezzik making rhymes is also my favourite part of both the book and the film. Miracle Max and his wife Valerie were hilarious. The one character I like the least is the princess bride herself, in both the book and the film. However, the book can give you much more interesting scenes that didn’t make it to the film. For example Fezzik and Inigo’s adventure when they went through all five levels of Prince Humperdinck’s Zoo of Death to retrieve Westley was thoroughly explained in the book, while in the film it was reduced to short scenes in the Pit of Despair. The writing feels modern, so it easily falls into the “light reading” category. Of course you need to ignore some stuff if you want to enjoy the book, for example Buttercup accepting Humperdinck, the torture scenes, and how a lump of clay coated in chocolate could bring someone back from the dead. All in all, this is a delightful read. You should read it then watch the film. Or vice versa, I don’t really care. Just read it and watch it, in whatever order you’d like. 🙂

P.S. : I know this review is crap but it doesn’t make the book any less entertaining.

Here is the movie trailer:


Book details:

The Princess Bride, by William Goldman
283 pages, published 1987 by Turtleback Books/Del Rey Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


UPDATE (15 Mar 2016):

I have just found out that S. Morgenstern is not a real author, thanks to Fingerprinttale and Chiipurai who kindly informed me of this. Explanation on Wikipedia: Simon Morgenstern is both a pseudonym and a narrative device invented by Goldman to add another layer to his novel The Princess Bride.[26] He presents his novel as an abridged version of a work by the fictional Morgenstern, an author from the equally fictional country of Florin. The name may be a reference to Johann Carl Simon Morgenstern, who coined the term Bildungsroman. (Read the rest on Wikipedia).

Advertisements

Harry Potter and the Deathly Hallows – J.K. Rowling

HP7Tujuh. Kaum penyihir di dalam buku Harry Potter menganggapnya sebagai angka yang mengandung kekuatan magis. Beberapa orang di dunia nyata menganggapnya sebagai angka keberuntungan. Beberapa fans Harry Potter bahkan mengatakan bahwa ketujuh buku Harry Potter adalah tujuh Horcrux yang dibuat seorang J.K. Rowling untuk menyimpan bagian-bagian jiwanya, sehingga beliau bisa hidup selamanya.

Terlepas dari setuju atau tidak setujunya kamu mengenai beberapa pernyataan di atas, tujuh adalah angka yang dipilih J.K. Rowling untuk menuntaskan petualangan Anak Laki-laki Yang Bertahan Hidup. Tujuh adalah angka yang dipilih JKR untuk mengatakan: Final. Selesai.

Snitch dan pedang Gryffindor untuk Harry, Deluminator untuk Ron, dan buku Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita untuk Hermione. Itulah barang-barang yang diwariskan Dumbledore kepada mereka bertiga. Setelah kematian Dumbledore yang tak terduga di akhir tahun ajaran lalu, Harry memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts, melainkan menjalankan misi yang dibebankan Dumbledore padanya; mencari dan membinasakan Horcrux. Namun sebelum Harry bisa melaksanakan misi itu, terlebih dahulu ia harus tinggal di Privet Drive sampai ulang tahunnya yang ketujuh belas, saat ia akil balig dan sudah tidak memiliki Jejak. Pemindahannya dari Privet Drive ke markas Orde Phoenix sangat berbahaya, dan biarpun sudah direncanakan sematang mungkin, pemindahan itu harus ditebus dengan harga sebelah kuping George dan nyawa Mad-Eye Moody. Mereka tak punya waktu lama untuk berkabung, karena pernikahan Bill Weasley dan Fleur Delacour akan dilaksanakan sebentar lagi. Semua orang juga berbahagia karena Lupin dan Tonks pun telah menikah. Namun semua penyihir yang menentang Voldemort berada dalam bahaya yang paling serius selama bertahun-tahun ini. Kementerian Sihir telah jatuh dalam kekuasaan Pelahap Maut, seperti juga Azkaban. Setelah penyerangan yang terjadi di pernikahan Bill-Fleur, Harry, Ron, dan Hermione berada dalam pelarian, bersembunyi dan membuat rencana-rencana untuk menemukan dan membinasakan Horcrux-Horcrux. Horcrux pertama yang mereka buru adalah liontin Slytherin, yang ternyata berada di tangan Dolores Umbridge. Mereka pun menyusup ke dalam Kementerian Sihir untuk mendapatkan liontin tersebut. Setelah misi pertama berhasil, mereka dilanda kemandekan karena mereka sama sekali tidak tahu dimana Horcrux selanjutnya berada, dan tidak mempunyai senjata untuk menghancurkannya. Selanjutnya melalui buku Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita yang diwariskan Dumbledore kepada Hermione, mereka berhasil mengorek tentang keberadaan Deathly Hallows, tiga benda penakluk kematian yaitu Tongkat Sihir Elder, Batu Kebangkitan, dan Jubah Gaib. Apakah jika ketiga benda tersebut benar-benar disatukan, siapapun yang memilikinya akan memiliki kekuatan tak terhingga? Apakah Dumbledore memaksudkan mereka untuk mencari ketiga Hallow untuk melawan Voldemort alih-alih membinasakan setiap Horcrux yang masih ada? Harry harus membuat keputusan. Dan merekapun melakukan banyak perjalanan luar biasa berbahaya untuk menuntaskan misi mereka, dengan Hogwarts sebagai tujuan final. Pertempuran yang terakhir, penentuan yang manakah yang akan menang, Baik atau Jahat. Yang satu tak bisa hidup sementara yang lain bertahan… kata ramalan. Dan inilah akhirnya.

Buku ini merupakan buku Harry Potter yang paling brilian, menegangkan, dan penuh kejutan. Sebuah akhir yang luar biasa. Saya mengalami beberapa déjà vu dalam buku ini:

“Itu lambangnya, aku langsung mengenalinya. Grindelvald mengukirnya di dinding di Durmstrang vaktu dia masih murid di sana. Beberapa idiot menyalinnya ke buku dan pakaian mereka, untuk membuat orang lain shock, membuat mereka lebih impresif—“ –> bukankah mengingatkan kepada lambang swastika milik Nazi?

Patung Sihir itu Sakti di Kementerian Sihir, yang disangga ribuan sosok manusia tak berbusana yang dipelintir dan dipres—melambangkan posisi Muggle di mata rezim sihir anti-Muggle. –> bukankah mengingatkan pada kesenjangan sosial yang memisahkan sebagian manusia sebagai warga kelas satu dan lainnya sebagai warga kelas dua? Mereka yang tidak dianggap karena tidak memiliki harta, atau berasal dari ras yang dipandang rendah?

Harta di lemari besi pasangan Lestrange di Gringotts yang berkelontangan menggandakan diri –> suatu warning bahwa yang ada di ujung keserakahan adalah maut? Memang Harry, Hermione, dan Ron masuk ke situ bukan untuk mencuri harta sebanyak-banyaknya, namun toh mereka ikut merasakan bentuk hukuman kepada orang yang serakah—ditenggelamkan oleh harta yang dicurinya.

Itu hanya beberapa simbol yang berhasil saya tangkap dari keseluruhan buku ini, sementara kutipan favorit saya jatuh pada:

“Dan apa pendapatmu, Royal, tentang para pendengar yang menjawab bahwa dalam keadaan berbahaya seperti ini, seharusnya ‘penyihir diutamakan’?”

“Menurutku hanya satu langkah lagi saja dari ‘penyihir diutamakan’ ke ‘darah-murni diutamakan’ dan kemudian ke ‘Pelahap Maut’,” jawab Kingsley. “Kita semua manusia, kan. Setiap nyawa manusia sama nilainya, dan sama-sama layak diselamatkan.”

Kingsley for President! Eh, Minister for Magic. Nilai-nilai humanitas seperti ini yang membuat saya mencintai seri Harry Potter. Bukan karena sihir, tapi karena cinta, kekuatan terbesar yang pernah ada, “yang tak pernah dipahami Voldemort,” kata Dumbledore.

Detail buku:

Harry Potter dan Relikui Kematian (judul asli: Harry Potter and the Deathly Hallows), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
1008 halaman, diterbitkan Januari 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2007)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

10th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 6th review for Read Big Challenge

Review ini diterbitkan tanggal 31 Juli 2013 dalam rangka memperingati hari ulang tahun J.K. Rowling, dan juga karakter ciptaan beliau, Harry Potter.

Happy birthday, Madam Rowling, and happy birthday, Harry!

***

hotter potter logo-1

Fiuh. Ini review terakhir saya untuk event Hotter Potter, dan tidak terasa event ini juga akan segera berakhir. Ada rasa sedih karena harus berpisah dengan Harry dan kawan-kawan, tapi juga lega karena setelah ini saya bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca buku-buku lain yang sudah tertimbun sekian lama, hahaha. Nah, setelah melakukan pertimbangan, saya memutuskan untuk memperpanjang batas waktu posting review untuk event Hotter Potter. Silakan masukkan link postingmu seperti biasa pada Linky yang tersedia. Catatan: review-review buku Harry Potter sebelumnya yang belum dimasukkan dalam linky, boleh dimasukkan dalam Linky di bawah ini dengan catatan mendapat 1 point untuk penentuan pemenang Lucky HotPot. (Review-review yang disubmit tepat waktu ke Linky masing-masing mendapatkan 2 point).

(Click on the blue frog and then “add your link”.) Linky akan dibuka sampai hari Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 23.59 WIB.

Saya juga mengajak semua peserta event Hotter Potter untuk membuat Wrap-Up Post yang berisi: link semua review dan meme yang kamu buat untuk event Hotter Potter, beserta kesan-kesan mengikuti event ini. Pelajaran apa yang kamu dapatkan dari Harry dan kawan-kawan? Jika kamu membaca ulang seri ini, apa yang akhirnya bisa kamu pahami? Apakah ada perasaan yang berbeda dengan pada saat kamu membacanya pertama kali?

Setiap Wrap-Up Post akan mendapatkan 2 poin tambahan untuk pengundian hadiah Lucky HotPot. Masukkan link Wrap-Up Postmu pada Linky di bawah ini. Deadlinenya sama, yaitu hari Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 23.59 WIB.

N.B.: Pemenang Hotter Potter meme bulan Juli akan diumumkan sekitar minggu ketiga bulan Agustus, sementara pemenang Best Reviewer Award dan Lucky Hotpot akan diumumkan sekitar awal September.

Untuk saat ini, saya ingin menutup post ini dengan ucapan: terima kasih atas partisipasi teman-teman semua! Cheers!

Harry Potter and the Half-Blood Prince – J.K. Rowling

HP6Kali ini Lord Voldemort dengan terang-terangan menunjukkan bahwa dirinya telah kembali. Suasana yang penuh teror mencekam masyarakat sihir. Teror ini bahkan dirasakan oleh para Muggle juga, yang mana di dunia mereka terjadi berbagai malapetaka aneh. Para Muggle juga merasakan hawa keputusasaan yang disebarkan oleh para Dementor, walaupun tidak bisa melihatnya. Sementara itu, ketika Harry Potter kembali ke Hogwarts, terjadi perubahan signifikan dalam jajaran staf sekolah sihir tersebut. Severus Snape akhirnya mendapatkan jabatan yang selama ini diidamkannya, menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, sementara posisinya sebagai guru Ramuan digantikan oleh Horace Slughorn, kawan lama Dumbledore yang gendut seperti beruang laut. Di tahun keenam ini, Harry Potter mendapatkan “pelajaran tambahan” yang luar biasa dari Dumbledore sendiri. Dumbledore mengajak Harry menyelidiki benda-benda terkutuk yang disebut Horcrux yang konon dibuat oleh penyihir jahat untuk menyimpan cabikan jiwanya. Ia curiga bahwa Voldemort telah memastikan bahwa dirinya tak bisa dibunuh dengan membuat Horcrux, bahkan mungkin lebih dari satu. Dan untuk menyelidiki Horcrux ini, Harry dibawa oleh Dumbledore menelusuri masa lalu Voldemort melalui Pensieve.

Ada lagi yang spesial di tahun keenam ini, bahwa selain Harry menjadi Kapten Quidditch, ia juga mendadak menjadi murid nomor satu dalam pelajaran Ramuan, berkat buku tua Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut penuh coretan pemiliknya, yang memanggil dirinya dengan sebutan Pangeran Berdarah-Campuran. Harry sukses besar dalam pelajaran Ramuan berkat bantuan sang Pangeran, walaupun Hermione yang curiga sama sekali tidak mendukung bahwa Harry sangat terbantu oleh buku tua itu. Siapakah Pangeran Berdarah-Campuran itu tetap menjadi misteri besar bagi Harry, Ron, dan Hermione, sampai fakta bahwa Draco Malfoy telah menjadi Pelahap Maut dan dibebani misi sangat penting oleh Voldemort sendiri membentang di depan mata mereka. Penyelidikan dan pencarian akan Horcrux pun ternyata sangat membahayakan nyawa mereka yang cukup nekat untuk melakukannya… Murid-murid Hogwarts berada dalam bahaya… karena di dalam Hogwarts ada pengkhianat. Akhir dari segalanya sudah semakin dekat.

 ***

Seperti yang sudah saya sebutkan di review buku Harry Potter sebelumnya, saya jauh lebih menikmati Half-Blood Prince ketimbang Order of the Phoenix. Di buku ini beban Harry boleh dikatakan sedikit berkurang. Memang ia dibebani tanggung jawab yang lebih besar dengan menjadi Kapten Quidditch, belum lagi pelajaran tambahan dari Dumbledore dan serangan detensi bertubi-tubi dari Snape, tapi setidaknya penderitaan akibat bekas luka kutukannya tidak seberat di buku kelima. JKR juga memperkenalkan karakter baru Horace Slughorn dalam buku ini, tipe orang yang suka membangun koneksi dengan orang-orang penting dan menikmati segala keuntungan yang bisa diperolehnya melalui orang-orang tersebut. Di tahun keenam ini Harry kembali merasakan jatuh cinta, sementara Ron dan Hermione harus mengalami hubungan pasang surut akibat satu cewek bernama Lavender Brown, dan, Ron sendiri. Beberapa adegan cinta-cintaan ini cukup menyegarkan bagi saya setelah dibuat stres dan pusing tujuh keliling oleh buku kelima. Dan memang, ending buku keenam ini cukup menyesakkan dan masih menyisakan misteri besar yang harus dipecahkan oleh Harry, Ron dan Hermione. Namun itu bagian cerita yang lain.

Memorable Quote:

Penting, kata Dumbledore, untuk melawan, dan melawan lagi, dan terus melawan, karena hanya dengan begitulah kejahatan bisa dijauhkan, meskipun tak pernah bisa dibasmi…

How true. Mungkin kita saat ini tidak sedang melawan sihir jahat, tapi bukankah kejahatan ada di mana saja dan kapan saja? Bukan hanya pembunuh dan perampok bersenjata yang saya maksudkan, tapi kemarahan, iri hati, dendam, nafsu duniawi, kebohongan, kesombongan; singkatnya segala kejahatan yang ada di dalam diri kita? Saya percaya itulah kejahatan yang pertama-tama harus kita lawan, yakni kejahatan yang ada dalam diri kita sendiri, sebelum kita melawan segala bentuk kejahatan yang lain.

Detail buku:

Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran (judul asli: Harry Potter and the Half-Blood Prince), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
816 halaman, diterbitkan Januari 2006 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2005)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

9th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 5th review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Harry Potter and the Order of the Phoenix – J.K. Rowling

HP 5Kembalinya Lord Voldemort di akhir tahun ajaran lalu tidak memiliki arti bagi sebagian besar penyihir, karena mereka memilih untuk tidak memercayai berita tersebut. Tidak demikian dengan Harry Potter, kendatipun ia hidup di lingkungan Muggle selama libur musim panas, Harry tak henti-hentinya mengikuti berita Muggle—mencari kepingan berita sekecil apapun—yang mengindikasikan bahwa kembalinya Pangeran Kegelapan telah diberitakan secara luas. Dan bahkan sebelum menginjakkan kaki kembali di Hogwarts, Harry sudah dirundung berbagai masalah. Dua Dementor muncul di Little Whinging dan menyerang Harry dan Dudley. Harry terpaksa harus merapal mantra Patronus untuk menyelamatkan dirinya dan Dudley, dan sebagai konsekuensinya Harry melanggar Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penyihir di Bawah-Umur dan harus menghadiri sidang pelanggaran disiplin di Kementerian Sihir. Meskipun akhirnya dinyatakan bebas dari segala tuduhan, penderitaan Harry belum berakhir. Di sekolah ia menjadi bulan-bulanan karena Daily Prophet telah menulis berbagai artikel bahwa dirinya terganggu dan sinting. Belum lagi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam baru, Profesor Umbridge, yang ternyata sengaja ditempatkan di Hogwarts agar Kementerian Sihir memiliki kekuasaan atas sekolah tersebut. Bagaimana murid-murid Hogwarts berharap untuk bisa lulus ujian OWL mereka, padahal Profesor Umbridge yang luar biasa menyebalkan itu hanya mengajarkan teori pertahanan sihir, tanpa praktek sama sekali. Dari sinilah Hermione mencetuskan ide untuk membentuk kelompok latihan pertahanan terhadap Ilmu Hitam dengan Harry sebagai instrukturnya. Kelompok ini mereka namakan Laskar Dumbledore, dan Harry secara pribadi berharap bahwa kelompok kecil ini juga bisa ikut berjuang melawan Voldemort dan para Pelahap Maut-nya, seperti Orde Phoenix. Sepanjang tahun bekas luka Harry juga terus menerus sakit dan ia bolak-balik melihat pintu hitam sederhana yang selalu tertutup dalam mimpi-mimpinya. Selain itu ia menyadari bahwa ada suatu hubungan aneh antara dirinya dan Voldemort, yang memungkinkan Harry untuk sesekali merasakan dan mengetahui suasana hati Voldemort berikut rencana-rencananya. Siapa yang akan menyangka bahwa semua ini akan menyebabkan Harry kehilangan seseorang yang amat ia sayangi…

***

Diawali dengan serangan Dementor dan diakhiri dengan kematian. Buku kelima Harry Potter, yang notabene merupakan buku paling tebal dari ketujuh seri Harry Potter (edisi terjemahan Indonesianya memiliki 1.200 halaman), bagi saya juga merupakan buku Harry Potter yang paling melelahkan dan bikin depresi. Bagaimana tidak, rasa frustrasi dan mimpi-mimpi Harry, berbagai masalah yang dialami Harry di sekolah (yang berkaitan dengan Umbridge dan Quidditch), sampai pada adegan di Departemen Misteri Kementerian Sihir membuat saya pusing tujuh keliling. Setelah semua yang dialaminya di buku kelima ini, saya justru heran kalau Harry tidak menjadi betul-betul gila. Yah, karena mau jadi apa Harry selanjutnya terserah Madam JKR, saya sebagai pembaca menelan saja isi buku ini tanpa protes, walaupun kurang suka dengan isinya.

Beberapa hal baru dan menarik di dalam buku ini antara lain “cinta monyet” antara Harry dan Cho Chang, teman baru Harry dkk si Luna Lovegood yang aneh, kuda-kuda bersayap bernama Thestral yang hanya bisa dilihat orang yang sudah pernah menyaksikan kematian, keputusan si kembar Fred dan George untuk menentukan sendiri masa depan mereka, pelajaran menutup pikiran atau Occlumency yang tidak sengaja membuat Harry menyaksikan sepenggal masa lalu Snape yang pahit (yang ternyata masih ada kaitannya dengan ayah dan ibu Harry), serta ujian OWL dan pilihan karier bagi murid-murid Hogwarts. Tempat-tempat baru yang diperkenalkan dalam buku ini antara lain rumah Sirius; Grimmauld Place nomor dua belas, Kementerian Sihir, dan Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka-luka Sihir.

Kalau boleh jujur, saya sebal sekali dengan Harry di buku ini. Menurut saya mestinya Harry bisa lebih bersabar walaupun ia harus terkungkung di Privet Drive dan tidak menerima kabar dari siapapun. Dia nggak perlu ngamuk pada Ron dan Hermione seperti itu, kan? Dan bahkan ia merasa bahwa dirinya lebih dari Ron dan Hermione, karena ia sudah menghadapi lebih banyak bahaya daripada mereka berdua. Bagi saya, sikap seperti ini agak bikin jijik. Harry juga sebal karena merasa dicuekin oleh Dumbledore. Namun pada akhirnya, Harry belajar bahwa segala sesuatu yang Dumbledore rencanakan baginya tidak pernah membuatnya celaka, walaupun Harry tidak mengetahui seluruh rencana tersebut. Dan teman-temannya selalu setia di sampingnya, tak peduli apapun yang terjadi. Glad that you learned your lesson, Harry.

Setelah membaca buku ini, saya jadi merasa membutuhkan Pensieve… Untungnya, buku keenam lebih ringan dan enjoyable ketimbang buku kelima. So, goodbye, Order of the Phoenix! And hello, Half-Blood Prince!

Memorable Quotes:

“Tahu tidak,” kata Phineas Nigellus, bahkan lebih keras daripada Harry, “persis itulah sebabnya aku benci jadi guru! Celakanya, anak-anak muda yakin mereka benar sepenuhnya tentang segala hal. Kasihan deh kau, beo sombong. Tak pernahkah terpikir olehmu bahwa ada alasan bagus sekali kenapa Kepala Sekolah tidak membeberkan semua detail rencananya kepadamu? Tak pernahkah kau berhenti sejenak, selagi merasa diperlakukan tidak adil, untuk menyadari bahwa mematuhi perintah Dumbledore tak pernah membuatmu celaka? Tidak. Tidak, seperti anak muda lainnya, kau yakin hanya dirimu yang merasa dan berpikir, hanya dirimu yang mengenali bahaya, hanya dirimu satu-satunya yang cukup pintar untuk menyadari apa yang mungkin sedang direncanakan Pangeran Kegelapan…” – hal. 687-688

“Sesungguhnya, kegagalanmu untuk memahami bahwa ada banyak hal yang jauh lebih buruk daripada kematian, sejak dulu merupakan kelemahanmu yang terbesar…” – Dumbledore kepada Voldemort, hal. 1124

***

Detail buku:

Harry Potter dan Orde Phoenix (judul asli: Harry Potter and the Order of the Phoenix), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
1200 halaman, diterbitkan Januari 2004 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2003)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

8th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 4th review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. Catatan: review-review buku Harry Potter sebelumnya yang belum dimasukkan dalam linky, boleh dimasukkan dalam linky ini dengan catatan mendapat point 1/2 untuk penentuan pemenang Lucky HotPot.

(Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Senin tanggal 3 Juni 2013 pukul 23.59 WIB.



Harry Potter and the Goblet of Fire – J.K. Rowling

HP 4Tahun keempat Harry Potter di Hogwarts benar-benar seru. Sebelum tahun ajaran dimulai, Harry berkesempatan menonton Piala Dunia Quidditch bersama keluarga Weasley. Penyihir pria dan wanita dari seluruh dunia hadir untuk menonton Piala Dunia Quidditch, namun acara yang seharusnya berjalan dengan aman dikacaukan oleh serombongan Pelahap Maut yang mempermainkan beberapa Muggle, dan munculnya Tanda Kegelapan yaitu tanda Lord Voldemort di angkasa, menyebabkan kepanikan luar biasa. Lalu sesampainya di Hogwarts, Harry dan kawan-kawan dikejutkan oleh berita bahwa pertandingan Quidditch ditiadakan untuk sepanjang tahun. Namun sebagai gantinya, tahun ini Hogwarts menjadi tuan rumah acara pertandingan sihir yang tidak diadakan selama seratus tahun terakhir, Turnamen Triwizard. Turnamen Triwizard diikuti oleh tiga sekolah sihir terbesar di Eropa, yaitu Hogwarts, Beauxbatons, dan Durmstrang, di mana masing-masing sekolah akan mengajukan calon-calon juara masing-masing, dan juri yang tidak memihak akan memilih yang terbaik dari mereka untuk bertanding memperebutkan Piala Triwizard berikut hadiah uang sebesar seribu Galleon. Calon-calon juara yang boleh memasukkan namanya dalam Piala Api, yaitu juri Turnamen Triwizard yang tidak memihak, harusnya hanya mereka yang berusia tujuh belas tahun keatas saja, namun seseorang—yang berniat jahat—telah menyihir Piala Api tersebut sehingga melupakan bahwa Turnamen Triwizard hanya diikuti oleh tiga sekolah. Hasilnya, Piala Api memilih juara dari Beauxbatons; Fleur Delacour, dari Durmstrang; Viktor Krum, dari Hogwarts; Cedric Diggory, dan Harry Potter sebagai juara keempat. Keluarnya nama Harry sebagai salah satu dari dua juara Hogwarts membuatnya dibenci hampir oleh seluruh sekolah, dan bahkan oleh sahabatnya sendiri, Ron. Dan meskipun Harry telah mati-matian mengatakan bahwa ia tidak memasukkan namanya ke dalam piala, ia telah terikat kontrak sihir yang mengharuskannya bertanding sebagai salah satu juara Hogwarts. Maka Harry pun bertanding bersama-sama dengan Fleur, Krum, dan Cedric menghadapi tiga tugas yang masing-masing menuntut segenap keahlian sihir dan membahayakan jiwa. Dalam tugas pertama, Harry dan kawan-kawan harus menghadapi naga, tugas kedua menyelam ke dalam air untuk membebaskan milik mereka yang berharga, dan tugas ketiga adalah labirin penuh tipu daya sihir di mana Piala Triwizard diletakkan tepat di tengah-tengahnya. Harry sama sekali tidak tahu, bahwa terpilihnya dirinya sebagai juara Hogwarts merupakan bagian dari suatu rencana jahat yang bukan hanya bisa membunuhnya, tapi juga membangkitkan kembali Lord Voldemort…

Buku keempat ini mulai lebih berat dan lebih menyeramkan dibanding tiga buku sebelumnya, karena:

  1. Di buku ini Harry mulai merasakan sakit yang lebih intens pada bekas lukanya. Penderitaan Harry gara-gara bekas luka kalau boleh dibilang adalah titik tolak mulai hilangnya innocence dalam usia muda Harry. Mungkin penulis juga memperhitungkan usia pembacanya yang seiring waktu juga bertambah, sehingga ia mulai menulis lanjutan Harry Potter dengan konflik psikis dan mental yang lebih berat.
  2. Pembaca memperoleh gambaran mengenai masa-masa saat Voldemort berkuasa, yang digambarkan penuh dengan teror dan ketakutan. Karakter yang mati-matian melawan pihak yang jahat, namun tanpa nurani dan belas kasihan adalah salah satu produk masa-masa kegelapan dalam dunia sihir, yang terwujud dalam buku ini melalui karakter Mr. Crouch.
  3. Murid-murid Hogwarts diajarkan mengenai tiga Kutukan Tak Termaafkan; Imperio yang mempengaruhi orang yang disihir agar menuruti kehendak yang merapal mantra; Crucio yang adalah mantra penyiksa; dan Avada Kedavra mantra pembunuh. Ketiga mantra ini merupakan senjata andalan para Pelahap Maut Voldemort, dan di buku-buku selanjutnya akan semakin sering muncul.
  4. Rita Skeeter, yang adalah salah satu tokoh paling menyebalkan dari seluruh seri Harry Potter, adalah seorang wartawan yang menghalalkan segala cara demi berita yang bagus, dan begitu ia mendapatkan topik, maka berita itu dipolesnya dan dibesar-besarkan begitu rupa sehingga jauh sekali dari kenyataan yang sesungguhnya. Mr. Weasley, Harry, Hermione dan Viktor Krum hanyalah beberapa korban dari artikel tulisan Rita Skeeter. Apakah sosok Rita Skeeter dimaksudkan sebagai sindiran untuk media saat ini yang teracuni oleh gosip, berita bohong dan berita yang dibesar-besarkan? Mungkin saja.
  5. Dalam buku ini juga pembaca mulai mengetahui betapa licin, jenius, dan jahatnya Lord Voldemort. Untuk lebih lengkapnya, baca sendiri saja… 😉

Namun selain hal-hal yang bikin mumet diatas, ada juga hal-hal baru dalam buku ini yang bisa membuat pembaca tersenyum. Selayaknya remaja empat belas tahun, tokoh-tokoh utama kita juga mulai saling naksir-naksiran. Harry naksir Cho Chang, Seeker Ravenclaw yang cantik dan setahun lebih tua darinya. Dan tanda-tanda bahwa Ron sebenarnya naksir Hermione mulai tampak dengan jelas ketika ia cemburu berat dengan Viktor Krum yang mengajak Hermione ke Pesta Dansa Natal. Padahal Ron adalah fans berat Krum yang terkenal sebagai Seeker Bulgaria yang hebat. Buku keempat ini juga menyimpan pelajaran bahwa latar belakang seseorang tidak serta merta membuatnya menjadi jahat. Lihat saja Hagrid yang separo-raksasa namun berhati mulia, dan Viktor Krum yang bersekolah di Durmstrang dan punya kepala sekolah mantan Pelahap Maut, namun mengulurkan tangan persahabatan kepada Harry dan kawan-kawan.

Buku keempat ini adalah salah satu buku favorit saya dari ketujuh buku dalam seri Harry Potter. Penggambaran tentang Piala Dunia Quidditch dan tentu saja, Turnamen Triwizard dengan segala tugasnya sungguh-sungguh memesona imajinasi saya. Selain itu, buku ini lebih seru dan menegangkan dengan twist yang tidak terduga.

Memorable Quotes:

“Kau tahu apa yang kuinginkan, Harry? Aku ingin kau menang, ingin sekali. Itu akan menunjukkan kepada mereka semua… kau tak perlu berdarah murni untuk menang. Kau tak perlu malu akan siapa dirimu. Itu akan menunjukkan kepada mereka bahwa Dumbledore yang benar, menerima siapa saja asal mereka bisa menyihir.” – Hagrid, hal. 549

“Kalau kau ingin tahu sifat orang, perhatikan bagaimana dia memperlakukan orang yang kedudukannya lebih rendah darinya, jangan yang sederajat dengannya.” – Sirius, hal. 630

“Mengebaskan rasa sakit untuk sementara, akan membuatnya bertambah sakit saat tiba waktunya kau harus merasakannya.” – Dumbledore, hal. 834

***

Jk_RowlingTanggal 29 April kemarin, BBI mengadakan posting bareng dengan tema buku tentang perempuan atau buku yang ditulis oleh perempuan. Review ini seharusnya diikutsertakan dalam posting bareng tersebut, tetapi sayangnya terlambat dipublish. :-p Namun demikian, saya mau mencantumkan sedikit fakta tentang J.K. Rowling, “Penyihir Wanita Abad Ini” yang menyihir seluruh dunia melalui tulisannya. Ternyata awal perjalanan Harry Potter untuk bisa dicetak dan diterbitkan tidaklah mulus. Dua belas penerbit menolak manuskrip asli Harry Potter yang diajukan oleh J.K. Rowling, namun akhirnya Bloomsbury yang terbilang sebuah penerbit kecil, memberinya kesempatan. Pada waktu itu, belum ada yang tahu bahwa Harry Potter akan menjadi seri buku terlaris sepanjang sejarah. Berkat Harry Potter, J.K. Rowling menjadi bilyuner, dan gara-gara Harry Potter pula, ia harus kehilangan status bilyunernya karena mendonasikan sebagian besar keuntungan yang diperolehnya melalui buku-buku Harry Potter kepada berbagai yayasan amal. (Sumber: dari sini dan sini).

 

Detail buku:

Harry Potter dan Piala Api (judul asli: Harry Potter and the Goblet of Fire), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
896 halaman, diterbitkan Oktober 2001 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2000)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

7th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 3rd review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Selasa, tanggal 7 Mei 2013 pukul 23.59 WIB.



The Three Musketeers – Alexandre Dumas [Re-read]

threemusketeers youngreaders

If you seek for action and adventure in classic literature, then The Three Musketeers might be an excellent choice. Despite the title, The Three Musketeers centers on the journey of the young Gascon, d’Artagnan, to be one of the King’s Musketeers. An incident with a gentleman in Meung made him lost his recommendation letter to M. de Treville, the captain of the Musketeers. When he was running after the abovementioned gentleman, d’Artagnan bumped at one, two, three men and ended up making duel appointments with them, on the same day. The three men were not else than our famous three musketeers; Athos, Porthos, and Aramis. Just when they meant to start the duel, Cardinal’s Guards appeared. Then they—the four men—rose their swords together against the Guards. It was the start of the unbreakable friendship between the four men.

In the meantime, France was torn between loyalty to the King or to the Cardinal. Our four heroes were all in the midst of political intrigues, heroic battles, and also amorous adventures. D’Artagnan fell for Madame Bonacieux, who was the queen’s most trusted lady-in-waiting. His romantic inclination towards Mme Bonacieux made him aware of the queen’s secret affairs; he came to recognize a mischievous plan that would be carried out by the Cardinal to humiliate the queen and to start war between France and England. He would make use of Duke of Buckingham’s love to Anne of Austria to carry out his plan. We would see how the four friends fought to save the queen’s honor against Cardinal’s agent, the lovely but deadly Milady de Winter.

musketeers1

This is the second time I read The Three Musketeers, and although the edition I read this time is retold by Clarissa Hutton, I enjoyed it anyway. In fact, my second experience in reading The Three Musketeers is more enjoyable than the first one. It felt funnier in many parts and the story is more engaging. I guess the style of translation affects the sense of the story and the enjoyment in reading, for I first read it in a translated version into Indonesian language and this time I read it in English. I love The Three Musketeers as a work of historical fiction of  17th century France as well as an adventure and romance, and as a story of bravery, loyalty, and friendship. The version I read is a Young Readers’ Edition (of which I thought the vocabulary used is rather unfamiliar for a young reader) with illustrations by Brett Helquist (the illustrator of Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Events). The illustrations made this book even more collectible. And if you wonder if I would want to reread The Three Musketeers in the words of Alexandre Dumas himself, then my answer is yes.

musketeers2

Favorite Moment:

When Athos saw the need of a private conference between him and his three friends, he made a wager with people at the inn that the four of them would have breakfast at the bastion St. Gervais for at least an hour, no matter what the enemy would do to dislodge them. It was a brilliant and really courageous idea, and they don’t even need to bring their muskets because they would find muskets of the fallen Frenchmen and Rochellais lying around the bastion. Aramis then claimed at the end of the passage; “Oh, Athos! Truly you are a great man.”

Memorable Passages & Quotes:

It was scarcely eleven o’clock, and yet thus morning has already brought him into disgrace with M. de Treville, who could not fail to think the manner in which d’Artagnan had left him a little cavalier. Besides this, he had drawn upon himself duels with two men, each capable of killing three d’Artagnans.

*

“Where can you find love like mine—a love which neither time, nor absence, nor despair can extinguish? It is now three years, madame, since I saw you first, and during those three years I have loved you.” – Duke of Buckingham

*

“Is the king accustomed to give you reasons? No. He says, ‘Gentlemen, go and fight,’ and you go. You need give yourselves no more uneasiness about this.”

“D’Artagnan is right,” said Athos. “Here are our leaves of absence from Monsieur de Treville, and here are pistols from I don’t know where. Let us go and be killed. D’Artagnan, I am ready to follow you.”

*

“Love is a lottery you are very fortunate to have lost, believe me, my dear d’Artagnan.” – Athos

*

“I shall have no more friends,” said the young man. “Nothing but bitter recollections.” And tears rolled down his cheeks.

“You are young,” replied Athos, “and your bitter recollections have time to change themselves into sweet remembrances.”

***

I read this book together with Fanda, Althesia, and Maria.

24th review for The Classics Club Project | 4th review for Books in English Reading Challenge 2013 | 4th review for Back to the Classics 2013 | 3rd review for Books on France 2013 Reading Challenge | 2nd review for 2013 TBR Pile Challenge | 2nd review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction

Book details:

The Three Musketeers (original title: Les Trois Mousquetaires), by Alexandre Dumas
384 pages, published September 2011 by HarperCollins (Illustrated Young Readers’ Edition retold by Clarissa Hutton and illustrated by Brett Helquist) (first published 1844)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick

hugo cabret

Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di Stasiun Kota Paris pada tahun 1930an. Ia bekerja memutar dan merawat kedua puluh tujuh jam yang ada di stasiun itu tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa dialah yang melakukannya. Sebelumnya, Hugo tinggal bersama ayahnya, seorang pembuat jam yang bekerja paruh waktu di sebuah museum tua. Suatu ketika ayah Hugo menemukan barang langka, mesin paling rumit dan paling indah yang pernah dilihatnya—sebuah automaton yang rusak. Automaton itu berbentuk seperti manusia berukuran kecil yang sedang duduk sementara tangannya di atas meja, siap menulis. Ya, automaton yang menakjubkan itu bisa menulis! Malangnya, ayah Hugo meninggal dalam kebakaran museum tua itu, dan meninggalkan Hugo dalam pengawasan saudaranya, Paman Claude. Dari Paman Claude-lah Hugo belajar merawat semua jam di stasiun, dan ketika Paman Claude menghilang Hugo-lah yang melanjutkan pekerjaannya.

Walaupun ayahnya telah tiada, Hugo bertekad memperbaiki automaton itu dengan dengan bermodalkan buku catatan kecil peninggalan sang ayah. Entah bagaimana, ia merasa bahwa si automaton akan menuliskan pesan yang berasal dari ayahnya, jika benda itu sudah diperbaiki. Demi memperbaiki si automaton, Hugo pun mencuri bagian-bagian kecil mesin dari toko mainan milik seorang pria tua bernama Georges di stasiun. Pada suatu hari aksinya ketahuan, dan si pria tua membawa buku catatan kecil milik Hugo dan mengancam akan membakarnya. Hugo mengikuti pria tua itu sampai ke rumahnya, dan bertemu dengan Isabelle, anak baptis si pria tua. Isabelle berjanji untuk mencari buku catatan itu dan memastikan bahwa Papa Georges (alias si pria tua) tidak membakarnya. Dari sanalah Hugo dan Isabelle menjadi sahabat, dan bersama-sama mereka menemukan siapakah sesungguhnya Papa Georges, apa sebenarnya pesan yang disimpan oleh automaton itu dan hubungannya dengan ayah Hugo dan juga Papa Georges. Mereka berdualah yang membuka kunci sebuah rahasia yang tersimpan rapat selama bertahun-tahun…

***

Yang membuat buku ini istimewa tentu saja adalah ilustrasi-ilustrasi karya Brian Selznick yang memenuhi hampir seluruh buku. Goresan-goresannya begitu tajam dan nyata, dan begitu detail sehingga saya merasa bahwa sebagian pekerjaan sinematografer ketika mengadaptasi buku ini ke film sudah dikerjakan oleh Selznick. Keistimewaan yang kedua adalah, buku ini merupakan cara yang sangat bagus untuk memperkenalkan sosok yang sudah lama terlupakan (dalam hal ini Georges Méliès yang merupakan salah satu filmmaker pertama dalam sejarah yang terkenal akan inovasi special effects-nya) khususnya kepada anak-anak. Untuk orang dewasa yang sudah mengetahui sejarah tentang Georges Méliès ataupun yang belum, buku ini juga bisa menjadi pengantar yang cukup menghibur. Untuk cerita maupun gaya penulisannya, bagi saya tidak terlalu istimewa. Dengan adanya banyak gambar, rasanya buku ini cocok untuk anak-anak berusia mulai tujuh tahun, lebih bagus kalau orang tua yang membacakannya dan membimbing sehingga anak tidak perlu pusing akan istilah-istilah mekanis dalam buku dan lebih berkonsentrasi pada ceritanya. Di bawah ini adalah foto beberapa ilustrasi di dalam buku ini:

20130131_200621

20130226_221510

Kalau boleh jujur, saya berpendapat bahwa adaptasi film dari buku ini yang diberi judul Hugo (rilis tahun 2011) lebih bagus daripada bukunya. Walaupun filmnya agak berbeda dengan buku di banyak bagian, misalnya hubungan Hugo dan Isabelle lebih “rukun” di film daripada di buku, karakter Polisi Stasiun di film (diperankan oleh Sacha Baron Cohen) digambarkan lebih lucu dan komikal dan bahkan ada porsi romancenya sedikit, dan juga aura filmnya cenderung lebih ceria sedangkan bukunya lebih gloomy. Film Hugo diisi oleh sederet cast yang mengesankan: aktor kawakan pemenang Oscar Ben Kingsley sebagai Georges Méliès, Jude Law sebagai ayah Hugo, Asa Butterfield sebagai Hugo dan Chloe Grace Moretz sebagai Isabelle, Christopher Lee sebagai Monsieur Labisse, dan disutradarai oleh Martin Scorsese. Film ini adalah nomine Best Motion Picture of the Year Academy Awards tahun 2012, dan menang dalam beberapa kategori, yaitu Best Art Direction, Best Cinematography, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, dan Best Visual Effects. (sumber: IMDb)

Back to the book. After all, I think this book is an amazing way to relive the past, and to give a tribute for someone who shouldn’t be forgotten, someone like Georges Méliès.

Memorable Quotes

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” – Hugo, halaman 388

“Kalau kamu bertanya-tanya dari mana asal mimpi-mimpimu ketika kamu tidur pada malam hari, lihat saja di sekitar sini. Di tempat inilah mimpi-mimpi itu dibuat.” — Georges Méliès, halaman 397

20130226_223946

Lebih banyak tentang Georges Méliès – Wikipedia

***

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2013 tema buku yang adaptasi filmnya masuk nominasi/memenangkan piala Oscar

5th review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 4th review for New Authors Reading Challenge 2013 | 2nd review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Books in France 2013 Reading Challenge | 1st review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction

Detail buku:

The Invention of Hugo Cabret, oleh Brian Selznick
544 halaman, diterbitkan Januari 2012 oleh Mizan Fantasi (pertama kali diterbitkan tahun 2007)
My rating: ♥ ♥ ♥

A Tree Grows in Brooklyn – Betty Smith

a tree grows in brooklyn

[Review in Bahasa Indonesia and English]

DESKRIPSI KEHIDUPAN MISKIN. Itu yang ada di benak saya ketika selesai membaca separuh buku tebal ini. Seperti yang disampaikan di Kata Pengantar yang ditulis oleh Anna Quindlen, A Tree Grows in Brooklyn memang bukanlah buku yang mentereng. Dalam arti, jika disandingkan dengan buku-buku klasik lain, buku ini lebih mirip potret kaum imigran di Amerika pada awal abad 20. Plot Tree pun tidak dapat disimpulkan dalam satu kalimat, karena banyaknya detail yang disampaikan; detail-detail yang berlangsung pelan, pasti, dan penuh liku, sama seperti kehidupan itu sendiri.

Tree dibuka dalam adegan di musim panas di New York tahun 1912 yang mana dua orang kakak-beradik, Francie dan Neeley Nolan, melakukan kegiatan yang bisa kita sebut “berbelanja”. Bedanya, kegiatan berbelanja mereka didahului dengan instruksi mendetail dari ibu mereka, Katie, dan dengan budget yang amat terbatas. Dari sana pembaca akan dibawa mengenal para tokoh: Mary Rommely, ibu ketiga gadis Rommely; Sissy, Evy, dan Katie; Katie Rommely (yang kemudian menjadi Katie Nolan) ibu Francie dan Neeley, sosok wanita tegar dan pekerja keras; Johnny Nolan suami Katie yang tampan dan jago bernyanyi namun tukang mabuk, dan juga lebih dalam mengenai Francie dan Neeley. Dikisahkan bagaimana Katie, dengan arahan Mary Rommely, mewajibkan anak-anaknya untuk membaca satu halaman Alkitab dan satu halaman Shakespeare setiap malam. Dikisahkan bagaimana kerja keras Katie untuk membiayai pendidikan bagi anak-anaknya, walau dengan kondisi terhimpit kemiskinan. Dan bagaimana mereka menabung dalam celengan kaleng yang dipaku di bagian dalam laci. Francie yang suka mengamati lingkungan sekitar, suka membaca (ia bertekad membaca satu buku sehari dan rajin mengunjungi perpustakaan) dan kemudian menulis, dan seperti remaja lainnya, bergumul untuk bisa diterima dalam pergaulan.

“Kuncinya ada dalam menulis dan membaca. Kau bisa membaca. Setiap hari, kau harus membacakan satu halaman dari buku yang bagus untuk anakmu. Setiap hari, sampai anak itu belajar membaca. Lalu dia harus membaca setiap hari, aku tahu itu rahasianya.”

Buku ini mengumpulkan detail-detail kehidupan sehari-hari yang nyata dan alami, hal-hal yang sebenarnya “biasa” dikisahkan dengan cantik oleh Betty Smith. Untungnya juga gaya penceritaan yang mengalir dengan enak sangat membantu saya menikmati buku setebal 664 halaman ini walau kadang plotnya terasa lambat, namun tidak membosankan. Pendapat saya tentang penulis wanita Amerika pun berubah setelah membaca novel biografis seorang Betty Smith. (Saya agak kurang sreg dengan karya-karya L.M. Montgomery dan Louisa May Alcott, yang menurut saya too sweet for my taste).

Penerbit Gramedia juga membungkus buku ini dengan cover yang cantik, namun menurut saya kurang pas menggambarkan isi buku (nggak ada kesan “miskin” sama sekali). Buku ini adalah bukti nyata bahwa hal-hal yang sederhanapun bisa jadi indah dan bermakna. Dan sayapun bisa mencoret kata “miskin” dalam kalimat pertama review ini, menjadi DESKRIPSI KEHIDUPAN. Karena dua kata inilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang berusaha disampaikan oleh A Tree Grows in Brooklyn.

“Segala sesuatu berjuang untuk hidup. Lihat pohon di luar yang tumbuh dekat selokan itu. Pohon itu tidak mendapat sinar matahari, dan hanya kena air kalau hujan. Pohon itu tumbuh dari tanah kering. Dan pohon itu kuat karena perjuangan kerasnya untuk hidup membuatnya kuat. Anak-anakku akan kuat seperti itu.”

Detail buku:

Sebatang Pohon Tumbun di Brooklyn (judul asli: A Tree Grows in Brooklyn), oleh Betty Smith
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rosemary Kesauly
664 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1943)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

N.B.: Terima kasih untuk yang namanya tidak boleh disebut, sudah menghadiahkan buku ini. Maaf kalo lama baru direview. 😀


Review in English:

A Description of Poor Living. That’s what I had in mind when I got to the middle of the book. The main focus of the book set on the beginning of 20th century in America was about how a family struggles from poverty. And how a determined mother, Katie Nolan, strived to get education for her two children; Francie and Neeley. The book is thick, full of stories of everyday life, and the plot is slow sometimes, but Betty Smith’s writing style made it flowing beautifully. It is not a kind of book that comes with a “BOOM” or a “BANG” but from its simplicity, from its lessons, I can say that this is a great book, a kind of book that you can (and should) read over and over again in your life. And finally I can cross out the word “poor” from the first sentence of this review, which leaves “A Description of Living.” Because that is what A Tree Grows in Brooklyn is all about.

17th review for The Classics Club Project

Girl with a Pearl Earring – Tracy Chevalier

Mata seorang seniman—pelukis khususnya, sudah semestinya lebih tajam dari mata orang biasa. Tatkala seorang biasa melihat ke langit dan menatap awan, ia hanya akan melihat warna putih, namun seorang pelukis bisa melihat nuansa biru, kuning, dan bahkan hijau dari pemandangan itu. Awan yang selalu disebutkan putih, ternyata hanya memiliki sedikit unsur warna putih.

Griet, gadis pelayan berusia enam belas tahun, berbagi kemampuan melihat segala sesuatu dengan mata seorang seniman dengan majikannya, pelukis Johannes Vermeer. Vermeer (1632–1675) dikenal dengan lukisan-lukisannya yang selalu bersetting indoor dan sering memfokuskan pada potret masyarakat kelas menengah. Ia juga terkenal sangat lamban dalam menyelesaikan lukisannya, sehingga beberapa pihak menyebutnya pelukis yang tidak produktif. Kembali ke Griet, akibat kondisi keuangan keluarga yang sangat sulit setelah ayahnya tertimpa kecelakaan, suatu hari Griet dikirim ke rumah keluarga Vermeer untuk bekerja. Tugas utamanya adalah membersihkan studio sang pelukis tanpa merubah apa pun yang menjadi objek yang sedang dilukis oleh Vermeer. Ketika ia sampai di rumah keluarga Vermeer di Oud Langendijck, Papists’ Corner, ia mendapati seorang perempuan tua, seorang nyonya muda yang sedang mengandung, empat anak perempuan, satu bayi laki-laki, dan Tanneke pelayan Maria Thins. Maria Thins adalah perempuan tua yang tak lain adalah ibu Catharina, istri Vermeer yang sedang mengandung.

Di rumah itu Griet mengalami banyak hal, mulai dari pekerjaan rumah tangga yang menumpuk dan seakan tidak ada habisnya, perlakuan dari Tanneke yang angin-anginan, Catharina yang tidak menyukai Griet dan bersikap sok kuasa, dan hal-hal yang dilakukan Cornelia, salah satu anak perempuan yang masih berusia tujuh tahun, namun sudah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk menjahati orang. Dan juga ada saat-saat ketika Griet berada di studio, tempat dimana ia merasa lebih tenang dan mampu melakukan pekerjaannya dengan baik. Lambat laun Vermeer meminta bantuan Griet untuk menggerus bahan-bahan yang akan dijadikan cat, dan Griet melaksanakannya secara diam-diam.

Satu peristiwa dimana Griet berjumpa dengan pelindung Vermeer yang bernama van Ruijven menjadi awal mula dijadikannya Griet salah satu model dalam lukisan Vermeer. Vermeer tidak melukisnya sebagai seorang pelayan, tidak juga sebagai wanita kaya; ia meminta Griet memakai mantel berwarna kuning dan membebat kepalanya dengan kain berwarna biru dan kuning. Ada satu hal yang kurang, satu hal yang bisa mencuri perhatian dari keseluruhan kesan lukisan. Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada sepasang anting-anting mutiara yang dimiliki Catharina. Masalahnya, Catharina tidak akan terima jika anting-anting miliknya dipakai oleh seorang pelayan dan pelayan tersebut dijadikan model lukisan oleh suaminya.

Pemilihan Griet sebagai model lukisan Vermeer pun sudah menjadi kabar burung di kota tempatnya tinggal, Delft, dan ia terjepit dalam berbagai situasi yang tidak disukainya. Di satu sisi, fakta bahwa ia membantu tuannya akan memancing murka dari Catharina, ketika ia tahu. Apalagi dengan menjadi model dengan mengenakan anting-anting mutiara milik Catharina. Sedangkan Vermeer membuat lukisan itu atas permintaan dari pelindungnya, van Ruijven, yang sedari awal sudah menunjukkan niat tak senonoh terhadap Griet. Belum lagi keadaan ayah dan ibu Griet yang hidup serba miskin, dan harapan mereka agar Griet segera menikah dengan Pieter anak si tukang daging, demi masa depan yang lebih menjanjikan. Sementara itu Griet sebenarnya menaruh hati kepada tuannya. Saat Griet lari ke arah Market Square, ke lapangan dengan bintang berujung delapan di tengah-tengahnya, disanalah ia memutuskan arah hidupnya selanjutnya. Kemanakah ia akan pergi?

***

Girl with a Pearl Earring
by Johannes Vermeer, circa 1665

Ini karya Tracy Chevalier pertama yang saya baca dan saya benar-benar menyukainya. Kisah fiksi sejarah yang diangkat dari lukisan Girl with a Pearl Earring (Belanda: Het Meisje met de Parel) ini sebenarnya sederhana, namun dirangkai dengan cantik oleh pengarang dengan dukungan setting Belanda abad ke-17 dan dengan segala perilaku sosial yang sedang dipraktekkan pada masa itu. Saya suka dengan karakter Griet yang cerdas dan berani untuk ukuran seorang gadis pelayan, dan juga bagaimana pengarang membangun kedekatan antara Griet dan Vermeer dengan intensitas emosional yang awalnya ringan kemudian semakin meningkat. Antara Griet dan Vermeer terjadi sesuatu yang boleh dikatakan sexual tension, tetapi pembaca tidak akan mendapatkan pelampiasannya lewat suatu adegan fisik, melainkan merasakan gejolak emosi yang dirasakan Griet ketika berhadapan dengan tuannya. Ini adalah salah satu hal yang saya suka dari gaya penulisan Tracy Chevalier, selain bahwa beliau mampu membuat pembaca yang awam seni “melihat” dengan mata seorang seniman, dan bahwa beliau berhasil menghadirkan kota kecil Delft di abad-17 dengan begitu hidup.

Kekurangan buku ini hanya satu, kurang tebal! 😀 Saya sungguh ingin lebih memahami interaksi antara orang Protestan dan Katolik di Belanda pada abad-17, tapi hanya disinggung sekilas di buku ini. Disebutkan bahwa orang-orang Katolik di Belanda pada masa itu tergolong minoritas dan tidak membaur dengan orang-orang Protestan. Mengapa? Itu yang masih menjadi pertanyaan di benak saya. Diceritakan juga bahwa Griet, yang adalah seorang Protestan, merasa tidak nyaman melihat lukisan adegan penyaliban Yesus. Mengapa? Ah, rasanya saya ingin menikmati Girl with a Pearl Earring dalam kemasan yang lebih tebal dan lebih mendetail. Yang pasti, setelah karya ini, saya lebih dari mau untuk menikmati karya-karya Tracy Chevalier yang lain. Tapi masalahnya tetap sama, belum tahu kapan! Hehehe.

Empat mutiara buat buku ini. 😉

Detail buku:
Girl with a Pearl Earring (Gadis dengan Anting-anting Mutiara), oleh Tracy Chevalier
352 halaman, diterbitkan tahun 2003 oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1999)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

N.B.:

Yang pertama buat Nophie, makasih sudah meminjamkan buku ini, maaf ya kupinjam lamaaaa banget. 😀

Yang kedua buat mbak Hobby Buku, aku menyelesaikan membaca buku ini satu jam setelah tanggal 31 Agustus 2012, tapi review ini kuikutsertakan ke TBRR Historical Fiction Challenge untuk bulan Agustus, gak papa yah. Cuma satu jam kok molornya. :-p

The Curious Incident of the Dog in the Night-time – Mark Haddon

To Christopher John Francis Boone, a mathematically gifted boy of fifteen with Asperger’s syndrome, his mind is sometimes like a machine, like a bread-slicing machine that isn’t working fast enough but the bread keeps coming and there is a blockage. Christopher knows all the countries in the world and their capitals and every prime number up to 7,057. He loves animals but is foreign to human affections. He doesn’t like being shouted at or touched. And he hates the color yellow and brown.

One night he discovered that Wellington, the dog next door, was dead with a garden fork sticking out of its body. Since then he decided to investigate on “the murder”, even though to do that he had to cope with the things that were out of his comfort zone. For example, being a “detective”, he had to interact with strangers, and go to new places, these are things that he wouldn’t do under normal circumstances. And even though his father didn’t approve, he kept doing his detective work and wrote everything he’d found in a book, the very book I was reading, The Curious Incident of the Dog in the Night-time.

This book is so unique because it enables readers to see the world through the eyes of a boy who suffers from Asperger’s syndrome. According to Wikipedia, Asperger’s syndrome is is an autism spectrum disorder (ASD) that is characterized by significant difficulties in social interaction, alongside restricted and repetitive patterns of behavior and interests. It differs from other autism spectrum disorders by its relative preservation of linguistic and cognitive development. People with Asperger’s syndrome often display intense interests; in Christopher’s case he was interested in mathematics and science. His profound interest in math was reflected upon his choice to use only prime numbers for the chapters in his book. Therefore, there isn’t Chapter 1 in this book, but Chapter 2, 3, 5, 7, 11, 13, and so on. Here’s what Christopher said about prime numbers:

Prime numbers are what is left when you have taken all the patterns away. I think prime numbers are like life. They are very logical but you could never work out the rules, even if you spent all your time thinking about them. – p. 12

What an amazing work the author, Mark Haddon, did in this book. While diving into the head of a mathematically genius boy with Asperger’s syndrome, the author provided readers with details as comprehensive as possible. For example, when Christopher was asked by the policeman to empty his pockets, he described every little thing he had in his pockets. Christopher drew the map of a zoo he and his father went to from memory. And the author described what Christopher do to make himself feel calm, which is do math equations and doubling 2’s in his head (he could do that until 245). And he could quickly give answer to 251 times 864 which is 216,864, because “it was a really easy sum because you just multiply 864 x 1,000, which is 864,000. Then you divide it by 4, which is 216,000, and that’s 250 x 864. Then you just add another 864 onto it to get 251 x 864. And that’s 216,864.”

Also, his relationship with his father is an important point in the book. We can learn that special kids like Christopher tends to need time to regain trust to his closed ones (in this case his father) if that person has done something wrong towards him. We can learn that being a parent of a child who has special needs requires not only love but never-ceasing stock of patience. One final note to wrap this review: people with Asperger’s syndrome are special, but they’re still human beings. To love them and interact with them you have to know what’s going on inside their heads. And Mark Haddon had done amazing job in telling us what’s going on inside their heads.

Book details:
“The Curious Incident of the Dog in the Night-time, by Mark Haddon
226 pages Paperback, published 2003 by Vintage Books, a division of Random House
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥