Menerabas Batas: Kisah Tiga Saudari Brontë

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Jurnal Ruang pada tanggal 15 September 2017. https://jurnalruang.com/read/1504500406-menerabas-batas-kisah-tiga-saudari-bronte


bronte sisters

The Brontë Sisters (Anne Brontë; Emily Brontë; Charlotte Brontë) by Patrick Branwell Brontë. Credits: NPG, London

Suatu hari pada musim gugur 1845, di Yorkshire, Inggris, Charlotte Brontë menemukan buku catatan milik adiknya, Emily, berisi puisi yang baru ditulis. Charlotte dan adik-adiknya, Branwell (satu-satunya saudara laki-laki), Emily, dan Anne telah menulis puisi dan kisah-kisah fantasi sejak belia dan terbiasa saling menunjukkan hasil karya masing-masing. Namun, puisi Emily yang dibaca Charlotte hari itu menggerakkan hatinya karena di sana Charlotte melihat perkembangan mengagumkan; bahasa yang padat, tegas, dan kuat. Singkatnya, puisi-puisi Emily tidak seperti puisi yang pada umumnya ditulis oleh perempuan kala itu.

Charlotte, si sulung penuh tekad, menyuarakan kepada saudari-saudarinya bahwa karya-karya mereka layak diterbitkan. Kumpulan puisi terpilih karya Charlotte, Emily, dan Anne diterbitkan dengan biaya sendiri pada 1846, di bawah pseudonim androgini, yaitu Currer, Ellis, dan Acton Bell. Keputusan menggunakan pseudonim ini didorong oleh kesan umum bahwa penulis wanita pada zaman itu kerap dipandang dengan prasangka, belum lagi dengan gaya tulisan dan pemikiran Brontë bersaudari yang tidak ‘feminin’.

Sejarah menunjukkan bahwa kaum perempuan kerap kali dikungkung oleh norma-norma masyarakat yang kental akan budaya patriarki. Hal itu membatasi mereka untuk berkarya dalam level setara dengan laki-laki. Pada era Victoria di Inggris, nyaris segala bidang dikuasai oleh laki-laki, sedangkan perempuan diserahi segala urusan domestik. Perempuan yang cukup beruntung menemukan “keamanan” secara ekonomi dan sosial dalam ikatan pernikahan tidak perlu susah-susah bekerja. Namun, Brontë bersaudara yang lahir sebagai anak-anak seorang pendeta dengan penghasilan tak seberapa mau tak mau harus mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Baik Charlotte, Emily, maupun Anne pernah bekerja sebagai guru di sekolah maupun privat. Branwell, walaupun mempunyai talenta menjanjikan di bidang seni lukis, akhirnya terbukti tidak bisa diandalkan; ia jatuh dalam skandal dan mengalami ketergantungan obat-obatan dan alkohol.

Ketidakpuasan dengan profesi guru dan impitan ekonomi inilah yang mendorong tiga bersaudari Brontë memublikasikan karya mereka. Sayangnya, kumpulan puisi Currer, Ellis, dan Acton Bell yang terbit pada 1846 hanya terjual tiga eksemplar. Pantang menyerah, mereka memutuskan untuk menulis novel. Setahun berikutnya, Jane Eyre karya Currer (Charlotte), Wuthering Heights karya Ellis (Emily), dan Agnes Grey karya Acton (Anne) terbit dengan tingkat kesuksesan yang berbeda-beda. Ketiganya dipuji para kritikus sastra. Namun, Jane Eyre-lah yang menuai pujian paling banyak dan menjadi best seller pada masa itu. Kesuksesan ini membuat orang penasaran akan siapa sesungguhnya “Bell bersaudara”.

Seiring popularitas Jane Eyre, tersiar desas-desus bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell sebenarnya satu orang yang sama. Charlotte dan Anne, tanpa Emily, pergi ke London pada Juli 1848 untuk membuktikan pada penerbit Smith, Elder & Co. bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell adalah tiga pribadi berbeda. Peristiwa penting ini diadaptasi dengan sangat baik dalam film biopik Brontë bersaudari yang dirilis pada 2016 dengan judul “To Walk Invisible”. Di dalam film, George Smith (pemilik penerbitan Smith, Elder & Co.) menatap Charlotte, seorang wanita berpostur tubuh mungil dan gaya busana ‘ndeso’, dengan rasa tidak percaya ketika ia menyatakan bahwa dirinya adalah Currer Bell. Menanggapi ini, Charlotte pun melontarkan pertanyaan tajam, “Apa yang membuat Anda ragu, Mr. Smith? Aksen saya? Jenis kelamin saya? Postur tubuh saya?” Ada sesuatu di dalam pertanyaan dan nada suara Charlotte—determinasi, mungkin—yang membuat Mr. Smith sadar bahwa wanita di depannya benar-benar penulis Jane Eyre.

Jane Eyre, tokoh utama dari novel dengan judul sama itu, digambarkan sebagai figur wanita muda yang secara fisik tidak istimewa tapi memiliki pandangan dan pemikiran melampaui wanita pada umumnya di era Victoria. Walau masa lalunya kelam dan pahit, ia tidak merasa dendam kepada orang-orang yang telah memperlakukannya dengan tidak adil. Ia rindu dipandang setara oleh lawan jenisnya. Ia punya integritas dan harga diri yang membuatnya menolak dijadikan wanita simpanan. Hal-hal inilah yang membuat karakter Jane Eyre begitu dicintai, karena ia membuat “bungkus luar” (kecantikan, kekayaan, popularitas) menjadi sesuatu yang remeh belaka.

Karya-karya Brontë bersaudari merupakan ekspresi kemarahan terhadap profesi guru privat yang kerap direndahkan, dan terhadap kondisi perempuan pada umumnya pada zaman itu yang terisolasi dari kesempatan yang ditawarkan oleh dunia.

Di Indonesia masa kini, nyatanya masih banyak perempuan yang harus takluk di bawah kungkungan norma-norma masyarakat patriarkis. Hal itu membatasi kiprah mereka di berbagai bidang. Padahal kita punya figur-figur perempuan hebat yang prestasinya diakui dunia, seperti Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti. Indonesia bahkan sudah pernah punya presiden perempuan, sesuatu yang belum bisa disamai oleh negara adidaya Amerika Serikat. Begitu umumnya pandangan bahwa tempat perempuan hanya di kasur, dapur, dan sumur, membuat gagasan bahwa kaum perempuan dengan karya-karyanya dalam bidang yang dikuasai kaum pria begitu aneh dan sulit diterima.

Belum lama ini, sebuah meme yang mempertentangkan perempuan yang sekolah tinggi versus yang menikah viral di media sosial. Meme ini seakan kembali menggaungkan anggapan lama, “buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya juga melayani suami dan mengurus anak?” Seakan perempuan yang memilih melajang untuk mengejar cita-cita lebih rendah nilainya daripada perempuan yang fokus berumah tangga. Pada abad kedua puluh satu ini, masihkah relevan membatasi peran perempuan di bidang-bidang tertentu saja?

Jika nyaris dua abad lalu Brontë bersaudari ciut nyali untuk menerbitkan karya-karya mereka karena penulis dianggap sebagai profesi yang hanya sesuai untuk kaum pria, karya-karya mereka tidak akan pernah dikenal dunia dan menginspirasi banyak orang. Sejak awal, mereka telah “menerabas batas” dengan menggunakan pseudonim alih-alih nama asli. Kini, sinar mereka memancar terang: karya-karya mereka diakui sebagai kisah klasik dan diadaptasi dalam pementasan drama serta televisi. Tidak ketinggalan peringatan bicentennial untuk merayakan ulang tahun ke-200 tiga saudari Brontë: bicentennial Charlotte Brontë telah dirayakan pada 2016 lalu, untuk Emily akan dirayakan pada 2018 dan Anne pada 2020. Kediaman keluarga Brontë di Haworth, Yorkshire diubah menjadi Brontë Parsonage Museum yang dikunjungi puluhan ribu orang setiap tahunnya.

Charlotte, Emily, dan Anne tidak diberkati umur panjang; ketiganya meninggal pada usia yang relatif muda. Namun, di masa hidup yang singkat itu mereka berhasil menorehkan nama dalam sejarah. Meskipun harus berkarya di tengah-tengah kondisi keluarga yang tidak ideal, khususnya karena saudara laki-laki mereka, Branwell. Meskipun tinggal di wilayah yang terisolasi. Meskipun ada norma-norma masyarakat yang mengekang mereka dan kaum perempuan pada umumnya. Segala halangan ini tidak menghentikan mereka untuk menelurkan karya yang—walaupun waktu itu mereka tidak mengetahuinya—akan dibaca ratusan tahun kemudian. Dunia kerap memperlakukan perempuan semena-mena. Dan justru karena itulah perempuan harus makin berani berkarya, berani mendobrak. (*)


Referensi:

Artikel

David Barnett. 2017. “Brontë bicentenary: How the literary society is making a comeback from turmoil” dalam independent.co.uk. 7 Juli 2017. Diakses dari http://www.independent.co.uk/news/long_reads/bront-society-bicentenary-charlotte-haworth-kitty-wright-a7829276.html

Judith Shulevitz. 2016. “The Brontës’ Secret” dalam theatlantic.com. Juni 2016. Diakses dari https://www.theatlantic.com/magazine/archive/2016/06/the-Brontës-secret/480726/

Film

“To Walk Invisible: The Brontë Sisters” sebuah film televisi oleh Sally Wainwright, 2016.

Penulis

Melisa Mariani. Penikmat fiksi klasik dan fiksi sejarah yang sedang merambah buku-buku nonfiksi, dan kolektor Jane Eyre.

Advertisements

5 Adult Colouring Books for Book Lovers

If you are, like me, a book lover who also likes adult colouring, then you might want to have these 5 colouring books.

This is a list arranged by my order of preference. Since I won’t provide much description for each colouring book, please watch the flipthrough videos provided to find out which one you’ll like!

#1. The Mysterious Library – Eunji Park

One of my top favourite colouring books. I’ve finished colouring some pages of this beautiful Korean colouring book:

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository (English version)

#2. Fantastiches Malbuch – Colin Thompson

This is a grayscale German colouring book, and the illustrations are, I think the most appropriate term is, mindblowing!

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository

#3. Wuthering Heights: A Coloring Classic – Elisabetta Stoinich

This book belongs in A Coloring Classic series. Other titles include Pride & Prejudice, A Christmas Carol, Dracula, and Romeo & Juliet.

Pages I’ve finished from this colouring book:

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository / Periplus

#4. Harry Potter Colouring Book – Warner Brothers Studio

There are a lot of other titles of Harry Potter colouring book series too. I’ve finished colouring some pages from this book:

Brewing the Polyjuice Potion 🍵 📖: Harry Potter Colouring Book @studiobooks 🎨: Faber Castell classic colour pencils, Lyra Skintones, Derwent charcoal pencil, Prismacolor pencil black, Faber Castell marking pen black & blue. 📝: Derwent blender pencil, paper stump. P.S.: Yes, this Hermione Granger is a Ravenclaw AND a redhead. #hermionegranger #polyjuicepotion #harrypottercolouringbook #harrypottercoloringbook #coloringbookforadults #coloringbookindonesia #coloringbookforadultindonesia #coloringforadults #arte_e_colorir #bayan_boyan #coloring_secrets #moncoloriagepouradultes #coloringmasterpiece #desenhoscolorir #beautifulcoloring #majesticcoloring #livrocoloriramo #boracolorirtop #colorindolivrostop #coloringbookindonesia #zenartis #mainwarnasurabaya #shadyas #jardimsecretolove

A post shared by Melisa 🌺 (@melmarian) on

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository / Periplus / Gramedia.com (Indonesian version)

#5. Color the Classics: Beauty and the Beast – Jae-Eun Lee

Other titles include Anne of Green Gables, Alice in Wonderland, The Snow Queen, and The Wizard of Oz.

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository / Periplus

Bonus: Arthur Rackham’s Fairies and Nymphs: A Vintage Grayscale Adult Coloring Book

I have no experience in colouring grayscale before, but this one looks interesting, all because it’s Arthur Rackham, whose illustrations usually graced old fashioned fairy tale books!

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository / Periplus

Selamat Hari Blogger Nasional!

Walau terlambat beberapa hari, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Blogger Nasional!

Ya, tanggal 27 Oktober dicanangkan menjadi Hari Blogger Nasional sejak tahun 2007 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Bapak Muhammad Nuh.

Di akhir bulan Oktober 2016 ini juga, kebetulan blog Surgabukuku telah mencapai milestone 500.000 views, setelah hampir 6 tahun! 🙂 Yah, untuk blog yang frekuensi update-nya tidak teratur, bagi saya pencapaian ini cukup menggembirakan. Artinya, walaupun jarang ada post baru, post-post lama saya masih bisa berguna dan dinikmati oleh pembaca. Terima kasih kepada semua pembaca Surgabukuku! ♥

surgabukuku-500k

Surgabukuku Top 10 Posts (per 31 Oktober 2016, 2:42 PM):

surgabukuku-top-5

Dari kegiatan book blogging yang sederhana ini saya bisa bertemu dengan banyak orang dari dunia perbukuan, mulai dari sesama blogger buku (khususnya yang tergabung dalam Blogger Buku Indonesia/BBI), penulis, penerbit, sampai orang-orang yang bergerak di bidang literasi. Mungkin karena itulah juga salah seorang kawan meminta saya untuk menjadi salah satu pembicara dalam event diskusi literasi dalam acara Literaturia, 2 Oktober 2016 yang lalu. (baca artikelnya di sini) Walaupun secara pribadi saya merasa apa yang saya bagikan di acara tersebut masih jauh dari maksimal, tapi semoga masih bisa bermanfaat dan menginspirasi teman-teman yang sudah jauh-jauh datang ke acara tersebut.

Bagi saya, kegiatan blogging (khususnya tentang buku) menjadi pintu gerbang untuk cita-cita yang lebih besar: meningkatkan minat baca orang Indonesia. Wow, kelihatannya muluk-muluk banget ya. Tapi bukan mustahil terjadi lho, sekecil apapun aksi yang kita lakukan pasti ada dampaknya. Karena itu, saya ingin bilang kepada semua pegiat literasi di luar sana, baik yang bekerja secara online maupun offline: jangan patah semangat! Kerja keras kalian pasti ada buahnya suatu hari nanti.

Let’s get to work!

LPM: Literaturia, Surabaya 2 Oktober 2016

Selamat pagi BBI-ers,

Pernah ikutan festival literatur, baik lokal maupun internasional? 😀 Saya sih jarang, haha. Kadang karena di Surabaya sendiri, acara literatur semacam ini jarang dan jaraknya cukup jauh dari rumah saya, dan bikin saya malas berangkat.

Kalian mengenali salah satu pembicara pada poster diatas? Pada tanggal 2 Oktober 2016 kemarin, Kak Melisa Mariani, pemilik blog Surgabukuku, diundang menjadi pembicara pada Literaturia. Literaturia mengusung tagline “The first, biggest, and most diverting literary event in Surabaya”. Di acara ini, Kak Melisa menjadi perwakilan BBI sebagai komunitas perbukuan dan penggemar baca.

Anyway. Dari BBI Surabaya, sayangnya hanya saya yang bisa datang, padahal menurut saya acara ini cukup kece dan menginspirasi. Literaturia digagas oleh grup Surabaya Youth, dan mengusung beberapa jenis acara. Mulai dari coaching class mengenai menulis, Chatterbus bersama Bernard Batubara, baca puisi, dan juga music performance (menurut saya DJ-nya yang ngeremix My Way ganteng sih…) #jadisalahfokus Saya juga hanya berkesempatan mengintip kelas Drop-A-Line bersama Hipwee dan Di-sku-shion yang diadakan sore hari.

Selain Kak Mel, ada beberapa tamu lain sebagai narasumber yaitu Mutia Prawitasari, penulis Teman Imaji, Ivana Kurniawati perwakilan dari Pecandu Buku, dan Akhyari Hananto dari Good News from Indonesia. Dimoderatori oleh Kak Hasan Askari, acara ini berlangsung hangat dengan format diskusi bersama peserta.

Di-sku-shion mengangkat tema dunia perbukuan dan peran komunitas perbukuan dalam masyarakat. Selain itu, disinggung juga mengenai Surabaya sebagai Kota Literasi. Ada banyak cerita menarik dari para narasumber. Mulai dari pengalaman suka dan duka Pecandu Buku yang menyediakan lapak baca di Surabaya. Kisah-kisah pembaca dan juga pengalaman Kak Akhyari di luar negeri, yang jadi membuka mata saya betapa mundurnya negara kita ini. Dari penulis Kak Mutia, ada cerita mengenai penulis-penulis yang ingin terkenal secara instan sehingga buku-bukunya tidak mengikuti proses penerbitan yang benar, dan kondisi kualitas literatur Indonesia saat ini, yang menurut saya sendiri memang memprihatinkan. Kak Mel sendiri bercerita mengenai suka duka menjadi blogger buku.

Ada banyak kendala mengapa literatur dan budaya kita masih tidak berubah. Salah satunya adalah regulasi dan instruksi pemerintah tanpa adanya tindakan langsung dari pemerintah. Ada juga sentilan mengenai sikap pemerintah yang plinplan dan cenderung membiarkan. Pegiat kegiatan semacam ini memang kurang mendapat support dari pemerintah, terbukti dari cerita Kak Ivana kalau Pecandu Buku sering kena gusur. Masyarakat sendiri masih tidak membudayakan bercerita dan membaca yang baik, lagi-lagi terbukti dari banyaknya acara televisi yang tidak mendidik, budaya membajak dan minta gratisan, membicarakan sisi negatif dari sebuah kejadian saja dan tidak berfokus pada sisi positif, dan menjadikan berita-berita jelek (bahkan hoax) viral. Hal-hal ini dianggap menghambat kemajuan bangsa kita.

Kak Mel sedang menceritakan bagaimana buku dapat mengubah cara pandang seseorang

 

Dari diskusi ini juga ada definisi literasi yang menarik menurut para narasumber. Literasi adalah sesuatu yang mencerahkan, membuat kita merasa dan mendaya guna, serta sesuatu yang berproses dalam keberadaannya. Literasi tidak hanya tentang buku, tapi juga berbagai hal yang mengelilingi buku itu sendiri seperti pembaca, penulis, kritikus, dan lain-lain. Saya sendiri setuju dengan definisi ini. Dan saya juga berpendapat Indonesia memiliki banyak sekali PR untuk meningkatkan kualitas literasi, termasuk mengubah pola pemberian informasi sehingga lebih positif 🙂
Semoga kedepannya, kita bisa semakin memajukan dunia literasi di Indonesia dengan hal-hal yang positif, bermutu, dan bermanfaat. Because literacy and books can, literally, change our lives and our mindsets.
Kiri ke Kanan: Hasan Askari, Akhyari Hananto, Melisa Mariani, Mutia Prawitasari, Ivana Kurniawati
Sekian LPM dari saya. Karena saya bikinnya agak buru-buru, maafkan kesalahan dalam penulisan dan juga tata bahasa yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan EYD.
-Nina Ridyananda, The Bookaddict Diaries

New Hobby, Blogger’s Block and (Almost) Reaching my Classics Club Goal

Hello guys.

As it so often happened before, I find myself having blogger’s block. It’s not just about boredom this time, but also because now I have a new hobby that takes up a lot of my time and energy: colouring! I started colouring almost a year ago but right now, you can say that I’m more enthusiastic of it than ever.

Now, I’m not going to rattle on too much about colouring, because reading and colouring are quite different (though, there are a lot of colouring books based on novels/literature). But in my defense, I love it. Isn’t that what you should do to spend your free time, something you love? So forgive me if I sort of abandoned this blog. I still read, of course, but at this time I just don’t find the spirit to write book reviews. Yes it sounds bad, but this sort of thing happens, I guess. Maybe next year I will get tired of colouring and will get back into book blogging and reviewing with full force, who knows.

However, I have good news too. Back in March 2012, I joined The Classics Club. My original list (which contains a number of classic books I should read in the course of 5 years) contained 100 titles. Then I shrunk it into 60, and by now (September 2016) I have finally read 50 titles. Yay! I’m quite proud of this achievement, even though I couldn’t keep up with writing the reviews (I’ve only written 30 reviews out of 50 books so far), and even though I still have 10 books to read (which honestly I don’t think I will be able to finish reading before March 2017 ends), and even though there are people out there who are more successful in reaching their Classics Club goal (for example: read 100 books and wrote reviews for every single title). Jeez, that was a lot of even thoughs. No matter, I will still read classics, maybe 3-5 titles every year.

And lastly, soon I will review a self-published book in this blog. It’s something I’ve never done before, but the book’s theme is quite interesting and hopefully a lot of people will like it.

Now I will leave you with a “bookish” colouring work I did some time ago.

Cheers!

“Not all those who wander are lost” ~ J.R.R. Tolkien

Bacaan Liburan Campur Aduk a la Surgabukuku (dan Mini-Reviews)

Banner Posbar 2016Hola!

Post ini dibuat dalam rangka ikutan event Posbar BBI bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday. Di bawah ini adalah daftar bacaan liburan (campur aduk) a la Surgabukuku. Kok campur aduk? Soalnya isinya buku dari macam-macam genre, mulai buku anak, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, sampai sastra klasik.

Ada 2 daftar dalam post ini, yang pertama adalah buku-buku yang pernah saya baca selama liburan (Read on Holiday(s)) dan yang kedua adalah buku-buku yang menurut saya cocok untuk dibaca selama liburan (Recommended Holiday Reads).

 Off we go!

Read on Holiday(s)

Flora & Ulysses: The Illuminated Adventures – Kate DiCamillo

Dibaca: 2 Juli 2016

Saya yakin banyak di antara teman-teman yang sudah tidak asing dengan karya-karya pengarang ini, misalnya The Miraculous Journey of Edward Tulane dan Because of Winn-Dixie. Nah, di buku Flora & Ulysses ini humornya yang lebih ditonjolkan oleh Tante Kate, bukan seperti di buku-buku lainnya yang biasanya menyentuh (baca: bikin mewek).

Tokoh utamanya adalah gadis kecil bernama Flora Belle Buckman, seorang cynic dan nerd yang sudah membaca sampai habis tiap seri komik berjudul Terrible Things Can Happen to You! Suatu hari, tetangga Flora membeli vacuum cleaner berkekuatan “super” yang dinamakan Ulysses 200X. Saking supernya, si vacuum cleaner menyeret Tootie si tetangga ke halaman luar, dan menyedot seekor tupai malang sampai setengah gundul. Eh ternyata, setelah tersedot vaccum cleaner tersebut, si tupai (yang akhirnya diselamatkan oleh Flora Belle dan dinamai Ulysses) jadi memiliki kekuatan super!

Ceritanya agak tak biasa bagi yang sudah familier dengan karya-karya Kate DiCamillo, tapi tetap menghibur, dan tetap ada nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan yang biasanya menjadi sorotan di dalam setiap bukunya. Dan ilustrasi di dalamnya membuat feel-nya seperti membaca novel dan komik dalam 1 buku.

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

Dibaca: 17 Juli 2016

Buku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

Classics for holiday reads? Why not? 😛 Toh buku ini berisi cerita pendek dan menurut saya termasuk ringan untuk dinikmati selama liburan. How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

i capture

I Capture the Castle – Dodie Smith

Dibaca: 22 Mei 2016

Termasuk novel coming-of-age klasik, buku ini menarik karena tokoh-tokohnya yaitu keluarga Mortmain, tinggal di sebuah istana. Bukan, mereka bukan keluarga bangsawan. Jangan bayangkan istana yang megah dengan lusinan pelayan, istana yang mereka tinggali adalah istana yang sudah lama diabaikan, dan malah ada bagian yang hanya tinggal puing-puing. Namun pemandangan di sekitar istana itu sangat indah, dan ada danau yang bisa direnangi saat musim panas. Setiap karakter di dalam novel ini sangat menarik dengan kekhasannya masing-masing, namun yang menjadi sentral adalah kakak-beradik Rose dan Cassandra. Rose yang tertua, paling cantik, dan sudah capek hidup miskin. Cassandra tidak secantik Rose, tapi dialah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang akan kita lihat jatuh cinta dan berkembang menjadi lebih dewasa. Suatu hari, keturunan dari pemilik istana yang mereka tinggali datang. Mereka adalah kakak beradik Simon dan Neil Cotton yang berasal dari Amerika, dan Rose langsung melihat Simon sebagai kesempatan untuk keluar dari hidup keluarganya yang miskin. Sulit meringkas plot novel ini dalam satu paragraf karena untuk novel yang termasuk dalam genre young adult, cerita novel ini cukup kompleks. Namun ada banyak bagian yang menghibur, misalnya ketika Rose dan Cassandra dikejar-kejar karena dikira beruang, padahal mereka hanya mengenakan mantel bulu beruang warisan bibi mereka yang nyentrik. Walaupun saya agak merasa meh dengan endingnya, saya cukup menikmati novel ini, apalagi deskripsi keindahan alamnya yang khas Inggris bikin cocok banget untuk dibaca dalam suasana liburan.

pohon2 sesawi

Pohon-pohon Sesawi – Y.B. Mangunwijaya

Dibaca: 23 Desember 2015

Walaupun disebut sebagai novel, buku yang sesungguhnya berisi beberapa naskah milik Romo Mangun yang tercerai-berai ini lebih terasa seperti kumpulan cerita. Melalui tangan Joko Pinurbo dan Tri Kushardini-lah naskah-naskah ini disunting hingga bisa menjadi buku yang enak dibaca. Saya tadinya agak takut membaca karya Romo Mangun karena takut isinya terlalu “teologis” tapi ternyata ketakutan saya sama sekali tidak terbukti, malah saya sangat menikmati buku yang termasuk out-of-my-comfort-zone ini. Dalam buku ini Romo Mangun menceritakan suka duka kehidupan sebagai Romo di paroki, dengan gaya jenaka yang bisa membuat pembaca terbahak-bahak. Banyak istilah Katolik yang bisa jadi membingungkan pembaca non-Katolik, tapi saya rasa buku ini bisa dibaca semua kalangan (yang berpikiran terbuka). 🙂

Recommended Holiday Reads

Tidak Ada New York Hari Ini – M. Aan Mansyur

Oke, buku ini mungkin adalah buku puisi paling kekinian saat ini. Tapi serius, jika untuk liburan kamu ingin membawa buku yang tipis, gampang dan cepat dibaca maka buku ini pilihan yang tepat. Apalagi jika kamu bepergian dengan kereta atau berjalan-jalan di kota besar (tidak harus New York), foto-foto di dalam buku ini cocok banget untuk menemani liburanmu.

The Penderwicks at Point Mouette – Jeanne Birdsall

Seri The Penderwicks adalah seri buku anak dengan tokoh utama 4 bersaudari: Rosalind, Skye, Jane, dan Batty dan anjing mereka, Hound. Dari keempat buku yang sudah terbit (saya belum membaca buku ke-4), menurut saya yang paling cocok dibaca saat liburan adalah buku ke-3, The Penderwicks at Point Mouette. Ceritanya, Skye, Jane dan Batty berlibur di pantai di Maine dengan bibi Claire dan sahabat mereka Jeffrey, tanpa kehadiran Rosalind saudari mereka yang tertua. Otomatis Skye-lah yang menjadi OAP (oldest available Penderwick) yang bertanggung jawab atas saudari-saudarinya yang lebih muda. Selain usaha keras Skye agar semuanya under control, pembaca juga akan diberi kejutan melalui perkembangan cerita untuk karakter Jeffrey. Selain seri Harry Potter dan Narnia, seri The Penderwicks ini adalah buku anak yang paling saya sukai.

The Penderwicks (buku #1) pernah saya review di sini.

And Then There Were None – Agatha Christie

Bayangkan kamu diundang berlibur ke suatu pulau terpencil bersama 9 orang lainnya, lalu satu demi satu mereka terbunuh dengan mengerikan. Hehehe, semoga jangan pernah terjadi beneran ya, serem. XD Nah, jika kamu ingin sedikit ketegangan untuk spice up your holiday, maka buku inilah jawabannya. Buku ini akan bikin kamu jantungan menebak-nebak siapa yang akan mati berikutnya dan siapa pembunuhnya. Tapi tolong jangan buka halaman terakhir sebelum saatnya tiba ya!

And Then There Were None pernah saya review di sini.


Okeeeee, kali berikutnya kamu pergi liburan, mungkin satu atau dua buku dari tujuh buku di atas bisa jadi pilihanmu untuk bacaan liburan. Ciao!

Reading is What Brings Us Together, Not What Tears Us Apart

Very recently I’ve just had an upsetting experience which led to a decision to quit a book community. This was because one person within the community insists upon greeting fellow members in a certain religion’s way (this person did this not once or twice but daily, and it’s not a simple greeting), and even sometimes brought up religious topics in conversations. I found this both annoying and inappropriate, so I voiced my thoughts to the rest of the community: I think one should use neutral expressions in a public community. I thought that this (community) should be a public place where everyone from every religious and cultural background could belong and feel welcomed. It turned out that (probably) I was the only person objecting the matter, so leaving seemed like the best decision. Maybe you think I should be more lenient, but I see no point in holding my place in a community I no longer feel comfortable in.

I don’t know about you, but the more I read, the more I am able to be tolerant towards people who are different from me. But I have my limits, just like everybody else does. In fact, I never had this kind of problem in any communities I have been a part in. In book communities, people come from every religious, cultural, economic and social background to gather for one common purpose: the love for reading and the mission to spread that love. We are different in many, many ways, but the love for reading is what makes us one. Being a part of a book community enables me to learn and accept other people’s views and opinions (even though I may not always agree with them), to place myself in another’s shoes and to maintain friendships in spite of differences. I’d like to think that diversity is an asset to a public community. Think of a rainbow without the color blue. It would not be called a rainbow.

Just a few days ago, on 17 May, Indonesia celebrated National Book Day. But this celebration was tainted with the current sweeping and banning of books that are considered leftist/promoting communism.[1] I don’t think that the banning would be a wise action considering the fact that Indonesia stands on the 60th position from 61 countries in world literacy rankings, according to the study conducted by Central Connecticut State University.[2] Sans the banning, only 10% Indonesians show interest in reading and average Indonesians only read 2-3 books per year. Compare this to developed countries where people read 20-30 books a year.[3] Book banning will only worsen Indonesia’s already low literacy rate.

And how, you may ask, can reading bring us together while there are millions of books out there and each one of them is different? We read to improve our minds, and with the right books, our entire person can also be improved. As an improved person, we are able to place ourselves in our surroundings and act accordingly, while using our minds to contribute to the common goal. A nation will benefit more if its people are well read. And since Indonesia is a developing country with a pitiful literacy rate, I’d say it is urgent for the people of Indonesia to start loving reading today.

Read this also: http://www.dw.com/id/pramoedya-srigala-jahat-dan-pemberangusan-buku/a-19251651?maca=id-Facebook-sharing

And watch this: https://www.youtube.com/watch?v=_o2DylQ3sDY

This post is also published for the event Posting Bareng BBI 2016: #BBIHariBukuNasional

Banner Posbar 2016

Belanja Buku Cepat dan Gampang di Belbuk.com

Walaupun saya hidup di kota besar yang punya banyak toko buku, saya lebih sering berbelanja buku secara online, bahkan hampir 90% buku-buku saya dibeli secara online baik di toko buku online dalam dan luar negeri, yang punya website resmi ataupun yang jualan dengan menggunakan akun Instagram dan Facebook.

Ada banyak sekali toko buku yang tersebar di dunia maya, dan salah satunya adalah belbuk.com, yang baru-baru ini memberi saya kesempatan untuk memberikan review toko buku online. Sebagai imbalannya, saya dapat voucher yang saya gunakan untuk membeli buku-buku seperti di bawah ini:

P_20160512_171212.jpg

Jpeg

Di saat kantong lagi bolong karena kebanyakan beli art supplies, voucher buku ini sungguh-sungguh membahagiakan! Terima kasih belbuk.com. #malahcurhat

Oke, berikut review toko buku online belbuk.com seperti yang sudah saya janjikan.

belbuk logo

Sebenarnya saya sudah menerima e-mail dari belbuk.com tanggal 29 April 2016, tapi karena kesibukan saya hanya membacanya sekilas lalu lupa mereply XD. Akhirnya e-mail tersebut saya reply pada tanggal 4 Mei, dan syukur penawarannya masih berlaku, hehehe. Saya akhirnya meluncur ke website belbuk.com dan melakukan pembelian hari itu juga.

Tampilan Website

belbuk 1

Simple dan rapi, bahkan boleh dibilang standard. Plusnya, karena tampilan yang standard itulah website belbuk.com loadingnya cepat, hal ini sesuai dengan mottonya Cukup Diklik Buku Tiba di Rumah. Saya mencoba akses dengan koneksi internet yang kurang stabil pun lancar tanpa kendala.

Di sidebar sebelah kiri ada kategori buku, dan di atasnya ada pilihan Buku, CD/DVD, ATK, dan Komputer. Sayangnya selain Buku, jenis produk yang ditawarkan di CD/DVD, ATK, dan Komputer tidak banyak. Selain itu di laman awal kita dapat melihat Buku Terbaru dan Buku Laris.

Proses Pencarian Buku

Cepat dan mudah, tinggal ketik judul buku yang diinginkan di kolom search yang terpampang lebar di bagian atas. Hasil pencarian akan terpampang di layar, yaitu judul buku, nama pengarang dan penerbit, kategori, harga, dan ada notifikasi dalam font merah jika persediaan habis. Menurut saya ini fitur yang sangat membantu karena mencegah calon pembeli di-PHP-in ketika sudah klik link bukunya, eh ternyata persediaan habis.

Proses Pemesanan

belbuk 2Sekali lagi, cepat dan mudah. Kalau masih bingung, tinggal klik Cara Pembelian. Setelah memasukkan semua buku yang ingin dibeli di Troli, total pembelian (sebelum ongkos kirim) dan total berat akan muncul. Pilihan metode pengiriman hanya ada 2 yaitu JNE Reguler dan NEX Logistics S3+ (Reguler Plus), sementara pilihan untuk pembayaran cukup banyak, antara lain dengan transfer bank BCA, Mandiri, BNI, BRI dan yang terakhir dengan Paypal. Saya senang ada opsi pembayaran dengan Paypal karena setahu saya belum banyak toko online di Indonesia yang menyediakan opsi pembayaran ini. Sebelum menyelesaikan pemesanan pembeli bisa meninjau kembali alamat pengiriman, rincian pesanan, metode pengiriman dan metode pembayaran.

Proses Pengiriman

Saya melakukan pemesanan pada tanggal 4 Mei, nah karena besoknya tanggal 5 sampai 8 Mei adalah long weekend dan belbuk.com hanya memproses pemesanan pada hari kerja Senin-Jumat, maka pesanan saya baru diproses pada hari Seninnya, tanggal 9 Mei. Rinciannya dapat dilihat di Riwayat Pesanan, dan status pengiriman dapat dilihat di Riwayat Status., yang cukup detail mulai dari Menunggu Pembayaran, Pembayaran Diterima hingga Dikirim. Paket dikirim keesokan harinya tanggal 10 Mei dan saya terima tanggal 12 Mei sore (menggunakan NEX Logistics).

Kebetulan dari 4 buku yang saya pesan, ada satu yang ternyata persediaannya habis, padahal pada saat saya masukkan ke troli tidak ada keterangan Persediaan Habis. Cukup sedih sih, karena buku itu termasuk wishlist yang paling saya pengenin 😦 (bukunya People of the Book – Geraldine Brooks, btw). Nilai pesanan yang persediaannya habis dikembalikan ke Saldo Akun (di dalam menu Akun Saya), dan bisa dipergunakan untuk pembelian selanjutnya atau ditarik (menu Ajukan Penarikan Dana).

Kesimpulan
  1. Tampilan website sederhana tapi bagi saya tidak masalah, malah menguntungkan karena aksesnya cepat.
  2. Kategori buku beragam dan pencarian buku dapat dilakukan dengan gampang
  3. Proses pemesanan cepat, ringkas dan mudah
  4. Pengiriman cepat sesuai yang dijanjikan tiba dalam 2-3 hari.
Usulan
  1. Kalau boleh packingnya pakai pelindung tambahan misalkan cardboard atau bubble wrap, tidak hanya kertas coklat dan plastik. Untungnya paket saya sampai tanpa penyok sedikitpun.
  2. Stok kalau bisa diupdate secara berkala, sehingga ketika pembeli memasukkan barang ke dalam troli, pembeli bisa yakin kalau semua produk yang dibelinya masih tersedia.
  3. Koleksi dilengkapi dengan buku-buku terbitan terbaru dan diskonnya ditambah dong, hehehe. Karena saya lihat hanya penerbit-penerbit tertentu saja yang ada diskonnya.

Overall, pelayanan belbuk.com memuaskan dan layak jadi pilihan bagi kamu yang suka berbelanja buku (lokal) secara online. Sekali lagi terima kasih kepada belbuk.com yang sudah memberi saya kesempatan untuk memberikan review toko buku online, dan semoga review ini bermanfaat.

Ciao!

How to Solve My Riddle (Secret Santa BBI 2015)

Dear Target, I owe you an apology.
Maaf ya Mbak Ferina, kalau pada saat paket SS sampai riddlenya masih disembunyiin (masih digodok dalam dapur, tepatnya), dan kemudian saat riddle datang bikin pusing tujuh keliling, hehehe.

Riddle yang saya beri ke Mbak Ferina berbentuk digital sebagai berikut:

 riddle_final

Dan langsung saja ini cara memecahkan riddle yang katanya bikin berkunang-kunang ini 😀 :

Kuncinya ada dalam buku 7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe, tepatnya dalam cerpen berjudul Kumbang Emas (The Gold Bug). Di dalam cerpen tersebut ada teka-teki yang tersusun atas angka dan simbol, dan ada kunci jawaban beserta penjelasan cara memecahkannya. Saya menggunakan kunci jawaban yang sama dengan yang ada di cerpen tersebut, tapi ada beberapa huruf yang saya tentukan sendiri diwakili oleh angka/simbol apa.

riddle kumbang emas

Kiri: kunci riddle, Kanan: riddle dalam cerpen Kumbang Emas

Step 1: Ada 7 baris dalam riddle tersebut. Supaya lebih mudah, pindahkan riddle ke kertas dan pakai font yang lebih jelas terbaca sebagai berikut. Huruf, angka, dan simbol yang ditulis dalam spidol merah di pojok kiri atas adalah kunci jawaban riddle dalam cerpen Kumbang Emas.

Jpeg

Step 1a

Dan setelah menggunakan kunci jawaban tersebut maka ketemu hasilnya seperti ini:

Jpeg

Step 1b

Ketahuan bahwa riddle ditulis dengan bahasa Inggris dan tidak ada spasi. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah fill in the blanks. Memang agak mikir disini sih, hehehe 😀

Step 2: Saya pakai kalimat awal riddle yang tradisional saja sih: “you can find me if…” jadi sudah ketemu bahwa simbol : melambangkan c, @ untuk f, # untuk y, { untuk u, dan 7 untuk m. Selanjutnya tinggal mengisi kolom-kolom yang kosong dengan menggunakan kunci jawaban yang baru ditemukan.

Jpeg

Step 2

Step 3: & 4 Dan terus fill in the blanks… perhatikan bahwa saya membuat kesalahan menganggap kosong angka 3 yang melambangkan g, padahal ada di kunci jawaban cerpen.

Jpeg

Step 3

Jpeg

Step 4 – DONE!

Nah, sudah ketemu semua! 🙂 jadi bunyi riddlenya seperti di bawah ini: (angka saya tambahkan untuk penanda baris)

1 You can find me if you know where to ask

2 Ask prisoner two four six zero one

3 Ask the madwoman on the attic

4 Ask the boy who shall live forever and ever

5 And at last you will know that love is

6 the bridge between a land of the living

7 and a land of the dead

Yes, ini riddle di dalam riddle 😀 Baris 2-4 menunjuk ke tokoh di buku-buku favorit saya, sedangkan baris 5-7 menunjuk ke salah satu quote favorit di buku favorit saya juga.

Prisoner 24601 –> Jean Valjean dari Les Misérables

The madwoman on the attic –> Bertha Mason dari Jane Eyre

The boy who shall live forever and ever –> Colin Craven dari The Secret Garden

Baris 5-7 –> menunjuk pada kalimat terakhir novel The Bridge of San Luis Rey.

Semua buku ini saya cantumkan sebagai buku favorit di profil Goodreads. Saya juga memberi clue tambahan kepada Target (via PIC SS) yaitu: Kumbang Emas – Edgar Allan Poe.  Dan beberapa hari lalu saya posting kalimat terakhir The Bridge of San Luis Rey di Instagram (post yang ini). Dengan tebar-tebar clue ini saya berharap X bisa menebak siapa saya…

Jadi begitulah cara memecahkan riddle dari saya. Inspirasi bikin riddle ini memang datang dari cerpen Kumbang Emas di buku 7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe yang dibuntelin Dion, jadi kalau Mbak Fer pusing itu salahnya Dion #ehhhh

Dan satu lagi, saya melanggar janji sendiri yang bilang kalau nggak akan bikin riddle dengan angka-angka lagi untuk tahun 2015, hwahahahaa… *evil laugh*

20 Bookish Facts About Me

  1. I am terribly picky when it comes to books.
  2. The two genres that I love the most are classics and historical fiction (obvious, if you paid attention to my blog’s menu).
  3. The book that made me fall back in love with reading is To Kill a Mockingbird by Harper Lee.
  4. Starting from last year I’ve been trying to balance my reading. Last year I read 65% fiction and 35% non fiction, and this year I plan to adjust that percentage to 60:40.
  5. Popular authors that I can’t say that I like: William Shakespeare, Jane Austen, Ernest Hemingway, Haruki Murakami.
  6. Speaking of Jane Austen, I don’t like her books but I love watching adaptations of them. I think I have watched adaptations for each of her major works: Pride and Prejudice, Sense and Sensibility, Emma, Mansfield Park, Persuasion and Northanger Abbey.
  7. I have a weak spot for World War II-themed books, and books about books (for example: The Shadow of the Wind by Carlos Ruiz Zafon).
  8. I have 10 copies of Jane Eyre, most of them were bought during 2015.
  9. I have a “harta-karun” shelf on my Goodreads account, consists of books I love dearly, books with a history of acquisition, books I bought at a crazy bargain price. I would not lend any book from this shelf to anyone. 😀
  10. One of my most prized possessions is Jane Eyre with wood engravings by Fritz Eichenberg, published in 1943 by Random House. This edition appeared in the movie Definitely, Maybe (2008) and one major character in it even had a whole collection of Jane Eyres.
  11. One time I dreamt about Richard Parker. Yes, that was the name of the Bengal tiger in Life of Pi, but in my dream he was an annoying colleague, and I was playing golf with him. 😀
  12. I often read until I fall asleep, leaving the lights on until morning.
  13. I have a bad habit of reading multiple books at the same time, often resulting in half-read books that I would not pick up again for a long time.
  14. Back when I was a little girl, some of my friends got mad at me because I was too engrossed in a book that I paid no attention to them.
  15. Almost everyone in my household have their own personal library/book collection.
  16. Paperback is my favourite format of physical book.
  17. I have more than one hundred unread books.
  18. I just started my own bookstagram account @surgabukuku on late October 2015. I am not a professional photographer, I don’t even know how to take proper photographs, I simply love to share pics of books. 🙂 As of today (January 12, 2016) my account has 272 followers.
  19. I’d rather reread the books I love than trying out books that I’m not sure I would like. Life’s too short to read bad books ;).
  20. This year’s World Book Day is also my birthday. (Yes I’m preparing something special for the event! ;). )

20 bookish facts

You can also join #20BookishFactsAboutMeGA hosted by @niafajriyani (open to Indonesian residents only). See the full information here.