5 Adult Colouring Books for Book Lovers

If you are, like me, a book lover who also likes adult colouring, then you might want to have these 5 colouring books.

This is a list arranged by my order of preference. Since I won’t provide much description for each colouring book, please watch the flipthrough videos provided to find out which one you’ll like!

#1. The Mysterious Library – Eunji Park

One of my top favourite colouring books. I’ve finished colouring some pages of this beautiful Korean colouring book:

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository (English version)

#2. Fantastiches Malbuch – Colin Thompson

This is a grayscale German colouring book, and the illustrations are, I think the most appropriate term is, mindblowing!

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository

#3. Wuthering Heights: A Coloring Classic – Elisabetta Stoinich

This book belongs in A Coloring Classic series. Other titles include Pride & Prejudice, A Christmas Carol, Dracula, and Romeo & Juliet.

I’ve only finished one page from this colouring book:

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository / Periplus

#4. Harry Potter Colouring Book – Warner Brothers Studio

There are a lot of other titles of Harry Potter colouring book series too. I’ve finished colouring some pages from this book:

Brewing the Polyjuice Potion 🍵 📖: Harry Potter Colouring Book @studiobooks 🎨: Faber Castell classic colour pencils, Lyra Skintones, Derwent charcoal pencil, Prismacolor pencil black, Faber Castell marking pen black & blue. 📝: Derwent blender pencil, paper stump. P.S.: Yes, this Hermione Granger is a Ravenclaw AND a redhead. #hermionegranger #polyjuicepotion #harrypottercolouringbook #harrypottercoloringbook #coloringbookforadults #coloringbookindonesia #coloringbookforadultindonesia #coloringforadults #arte_e_colorir #bayan_boyan #coloring_secrets #moncoloriagepouradultes #coloringmasterpiece #desenhoscolorir #beautifulcoloring #majesticcoloring #livrocoloriramo #boracolorirtop #colorindolivrostop #coloringbookindonesia #zenartis #mainwarnasurabaya #shadyas #jardimsecretolove

A post shared by Melisa 🌺 (@melmarian) on

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository / Periplus / Gramedia.com (Indonesian version)

#5. Color the Classics: Beauty and the Beast – Jae-Eun Lee

Other titles include Anne of Green Gables, Alice in Wonderland, The Snow Queen, and The Wizard of Oz.

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository / Periplus

Bonus: Arthur Rackham’s Fairies and Nymphs: A Vintage Grayscale Adult Coloring Book

I have no experience in colouring grayscale before, but this one looks interesting, all because it’s Arthur Rackham, whose illustrations usually graced old fashioned fairy tale books!

Flipthrough video:

Where to buy: BookDepository / Periplus

LPM: Literaturia, Surabaya 2 Oktober 2016

Selamat pagi BBI-ers,

Pernah ikutan festival literatur, baik lokal maupun internasional? 😀 Saya sih jarang, haha. Kadang karena di Surabaya sendiri, acara literatur semacam ini jarang dan jaraknya cukup jauh dari rumah saya, dan bikin saya malas berangkat.

Kalian mengenali salah satu pembicara pada poster diatas? Pada tanggal 2 Oktober 2016 kemarin, Kak Melisa Mariani, pemilik blog Surgabukuku, diundang menjadi pembicara pada Literaturia. Literaturia mengusung tagline “The first, biggest, and most diverting literary event in Surabaya”. Di acara ini, Kak Melisa menjadi perwakilan BBI sebagai komunitas perbukuan dan penggemar baca.

Anyway. Dari BBI Surabaya, sayangnya hanya saya yang bisa datang, padahal menurut saya acara ini cukup kece dan menginspirasi. Literaturia digagas oleh grup Surabaya Youth, dan mengusung beberapa jenis acara. Mulai dari coaching class mengenai menulis, Chatterbus bersama Bernard Batubara, baca puisi, dan juga music performance (menurut saya DJ-nya yang ngeremix My Way ganteng sih…) #jadisalahfokus Saya juga hanya berkesempatan mengintip kelas Drop-A-Line bersama Hipwee dan Di-sku-shion yang diadakan sore hari.

Selain Kak Mel, ada beberapa tamu lain sebagai narasumber yaitu Mutia Prawitasari, penulis Teman Imaji, Ivana Kurniawati perwakilan dari Pecandu Buku, dan Akhyari Hananto dari Good News from Indonesia. Dimoderatori oleh Kak Hasan Askari, acara ini berlangsung hangat dengan format diskusi bersama peserta.

Di-sku-shion mengangkat tema dunia perbukuan dan peran komunitas perbukuan dalam masyarakat. Selain itu, disinggung juga mengenai Surabaya sebagai Kota Literasi. Ada banyak cerita menarik dari para narasumber. Mulai dari pengalaman suka dan duka Pecandu Buku yang menyediakan lapak baca di Surabaya. Kisah-kisah pembaca dan juga pengalaman Kak Akhyari di luar negeri, yang jadi membuka mata saya betapa mundurnya negara kita ini. Dari penulis Kak Mutia, ada cerita mengenai penulis-penulis yang ingin terkenal secara instan sehingga buku-bukunya tidak mengikuti proses penerbitan yang benar, dan kondisi kualitas literatur Indonesia saat ini, yang menurut saya sendiri memang memprihatinkan. Kak Mel sendiri bercerita mengenai suka duka menjadi blogger buku.

Ada banyak kendala mengapa literatur dan budaya kita masih tidak berubah. Salah satunya adalah regulasi dan instruksi pemerintah tanpa adanya tindakan langsung dari pemerintah. Ada juga sentilan mengenai sikap pemerintah yang plinplan dan cenderung membiarkan. Pegiat kegiatan semacam ini memang kurang mendapat support dari pemerintah, terbukti dari cerita Kak Ivana kalau Pecandu Buku sering kena gusur. Masyarakat sendiri masih tidak membudayakan bercerita dan membaca yang baik, lagi-lagi terbukti dari banyaknya acara televisi yang tidak mendidik, budaya membajak dan minta gratisan, membicarakan sisi negatif dari sebuah kejadian saja dan tidak berfokus pada sisi positif, dan menjadikan berita-berita jelek (bahkan hoax) viral. Hal-hal ini dianggap menghambat kemajuan bangsa kita.

Kak Mel sedang menceritakan bagaimana buku dapat mengubah cara pandang seseorang

 

Dari diskusi ini juga ada definisi literasi yang menarik menurut para narasumber. Literasi adalah sesuatu yang mencerahkan, membuat kita merasa dan mendaya guna, serta sesuatu yang berproses dalam keberadaannya. Literasi tidak hanya tentang buku, tapi juga berbagai hal yang mengelilingi buku itu sendiri seperti pembaca, penulis, kritikus, dan lain-lain. Saya sendiri setuju dengan definisi ini. Dan saya juga berpendapat Indonesia memiliki banyak sekali PR untuk meningkatkan kualitas literasi, termasuk mengubah pola pemberian informasi sehingga lebih positif 🙂
Semoga kedepannya, kita bisa semakin memajukan dunia literasi di Indonesia dengan hal-hal yang positif, bermutu, dan bermanfaat. Because literacy and books can, literally, change our lives and our mindsets.
Kiri ke Kanan: Hasan Askari, Akhyari Hananto, Melisa Mariani, Mutia Prawitasari, Ivana Kurniawati
Sekian LPM dari saya. Karena saya bikinnya agak buru-buru, maafkan kesalahan dalam penulisan dan juga tata bahasa yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan EYD.
-Nina Ridyananda, The Bookaddict Diaries

Bacaan Liburan Campur Aduk a la Surgabukuku (dan Mini-Reviews)

Banner Posbar 2016Hola!

Post ini dibuat dalam rangka ikutan event Posbar BBI bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday. Di bawah ini adalah daftar bacaan liburan (campur aduk) a la Surgabukuku. Kok campur aduk? Soalnya isinya buku dari macam-macam genre, mulai buku anak, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, sampai sastra klasik.

Ada 2 daftar dalam post ini, yang pertama adalah buku-buku yang pernah saya baca selama liburan (Read on Holiday(s)) dan yang kedua adalah buku-buku yang menurut saya cocok untuk dibaca selama liburan (Recommended Holiday Reads).

 Off we go!

Read on Holiday(s)

Flora & Ulysses: The Illuminated Adventures – Kate DiCamillo

Dibaca: 2 Juli 2016

Saya yakin banyak di antara teman-teman yang sudah tidak asing dengan karya-karya pengarang ini, misalnya The Miraculous Journey of Edward Tulane dan Because of Winn-Dixie. Nah, di buku Flora & Ulysses ini humornya yang lebih ditonjolkan oleh Tante Kate, bukan seperti di buku-buku lainnya yang biasanya menyentuh (baca: bikin mewek).

Tokoh utamanya adalah gadis kecil bernama Flora Belle Buckman, seorang cynic dan nerd yang sudah membaca sampai habis tiap seri komik berjudul Terrible Things Can Happen to You! Suatu hari, tetangga Flora membeli vacuum cleaner berkekuatan “super” yang dinamakan Ulysses 200X. Saking supernya, si vacuum cleaner menyeret Tootie si tetangga ke halaman luar, dan menyedot seekor tupai malang sampai setengah gundul. Eh ternyata, setelah tersedot vaccum cleaner tersebut, si tupai (yang akhirnya diselamatkan oleh Flora Belle dan dinamai Ulysses) jadi memiliki kekuatan super!

Ceritanya agak tak biasa bagi yang sudah familier dengan karya-karya Kate DiCamillo, tapi tetap menghibur, dan tetap ada nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan yang biasanya menjadi sorotan di dalam setiap bukunya. Dan ilustrasi di dalamnya membuat feel-nya seperti membaca novel dan komik dalam 1 buku.

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

Dibaca: 17 Juli 2016

Buku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

Classics for holiday reads? Why not? 😛 Toh buku ini berisi cerita pendek dan menurut saya termasuk ringan untuk dinikmati selama liburan. How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

i capture

I Capture the Castle – Dodie Smith

Dibaca: 22 Mei 2016

Termasuk novel coming-of-age klasik, buku ini menarik karena tokoh-tokohnya yaitu keluarga Mortmain, tinggal di sebuah istana. Bukan, mereka bukan keluarga bangsawan. Jangan bayangkan istana yang megah dengan lusinan pelayan, istana yang mereka tinggali adalah istana yang sudah lama diabaikan, dan malah ada bagian yang hanya tinggal puing-puing. Namun pemandangan di sekitar istana itu sangat indah, dan ada danau yang bisa direnangi saat musim panas. Setiap karakter di dalam novel ini sangat menarik dengan kekhasannya masing-masing, namun yang menjadi sentral adalah kakak-beradik Rose dan Cassandra. Rose yang tertua, paling cantik, dan sudah capek hidup miskin. Cassandra tidak secantik Rose, tapi dialah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang akan kita lihat jatuh cinta dan berkembang menjadi lebih dewasa. Suatu hari, keturunan dari pemilik istana yang mereka tinggali datang. Mereka adalah kakak beradik Simon dan Neil Cotton yang berasal dari Amerika, dan Rose langsung melihat Simon sebagai kesempatan untuk keluar dari hidup keluarganya yang miskin. Sulit meringkas plot novel ini dalam satu paragraf karena untuk novel yang termasuk dalam genre young adult, cerita novel ini cukup kompleks. Namun ada banyak bagian yang menghibur, misalnya ketika Rose dan Cassandra dikejar-kejar karena dikira beruang, padahal mereka hanya mengenakan mantel bulu beruang warisan bibi mereka yang nyentrik. Walaupun saya agak merasa meh dengan endingnya, saya cukup menikmati novel ini, apalagi deskripsi keindahan alamnya yang khas Inggris bikin cocok banget untuk dibaca dalam suasana liburan.

pohon2 sesawi

Pohon-pohon Sesawi – Y.B. Mangunwijaya

Dibaca: 23 Desember 2015

Walaupun disebut sebagai novel, buku yang sesungguhnya berisi beberapa naskah milik Romo Mangun yang tercerai-berai ini lebih terasa seperti kumpulan cerita. Melalui tangan Joko Pinurbo dan Tri Kushardini-lah naskah-naskah ini disunting hingga bisa menjadi buku yang enak dibaca. Saya tadinya agak takut membaca karya Romo Mangun karena takut isinya terlalu “teologis” tapi ternyata ketakutan saya sama sekali tidak terbukti, malah saya sangat menikmati buku yang termasuk out-of-my-comfort-zone ini. Dalam buku ini Romo Mangun menceritakan suka duka kehidupan sebagai Romo di paroki, dengan gaya jenaka yang bisa membuat pembaca terbahak-bahak. Banyak istilah Katolik yang bisa jadi membingungkan pembaca non-Katolik, tapi saya rasa buku ini bisa dibaca semua kalangan (yang berpikiran terbuka). 🙂

Recommended Holiday Reads

Tidak Ada New York Hari Ini – M. Aan Mansyur

Oke, buku ini mungkin adalah buku puisi paling kekinian saat ini. Tapi serius, jika untuk liburan kamu ingin membawa buku yang tipis, gampang dan cepat dibaca maka buku ini pilihan yang tepat. Apalagi jika kamu bepergian dengan kereta atau berjalan-jalan di kota besar (tidak harus New York), foto-foto di dalam buku ini cocok banget untuk menemani liburanmu.

The Penderwicks at Point Mouette – Jeanne Birdsall

Seri The Penderwicks adalah seri buku anak dengan tokoh utama 4 bersaudari: Rosalind, Skye, Jane, dan Batty dan anjing mereka, Hound. Dari keempat buku yang sudah terbit (saya belum membaca buku ke-4), menurut saya yang paling cocok dibaca saat liburan adalah buku ke-3, The Penderwicks at Point Mouette. Ceritanya, Skye, Jane dan Batty berlibur di pantai di Maine dengan bibi Claire dan sahabat mereka Jeffrey, tanpa kehadiran Rosalind saudari mereka yang tertua. Otomatis Skye-lah yang menjadi OAP (oldest available Penderwick) yang bertanggung jawab atas saudari-saudarinya yang lebih muda. Selain usaha keras Skye agar semuanya under control, pembaca juga akan diberi kejutan melalui perkembangan cerita untuk karakter Jeffrey. Selain seri Harry Potter dan Narnia, seri The Penderwicks ini adalah buku anak yang paling saya sukai.

The Penderwicks (buku #1) pernah saya review di sini.

And Then There Were None – Agatha Christie

Bayangkan kamu diundang berlibur ke suatu pulau terpencil bersama 9 orang lainnya, lalu satu demi satu mereka terbunuh dengan mengerikan. Hehehe, semoga jangan pernah terjadi beneran ya, serem. XD Nah, jika kamu ingin sedikit ketegangan untuk spice up your holiday, maka buku inilah jawabannya. Buku ini akan bikin kamu jantungan menebak-nebak siapa yang akan mati berikutnya dan siapa pembunuhnya. Tapi tolong jangan buka halaman terakhir sebelum saatnya tiba ya!

And Then There Were None pernah saya review di sini.


Okeeeee, kali berikutnya kamu pergi liburan, mungkin satu atau dua buku dari tujuh buku di atas bisa jadi pilihanmu untuk bacaan liburan. Ciao!

Reading is What Brings Us Together, Not What Tears Us Apart

Very recently I’ve just had an upsetting experience which led to a decision to quit a book community. This was because one person within the community insists upon greeting fellow members in a certain religion’s way (this person did this not once or twice but daily, and it’s not a simple greeting), and even sometimes brought up religious topics in conversations. I found this both annoying and inappropriate, so I voiced my thoughts to the rest of the community: I think one should use neutral expressions in a public community. I thought that this (community) should be a public place where everyone from every religious and cultural background could belong and feel welcomed. It turned out that (probably) I was the only person objecting the matter, so leaving seemed like the best decision. Maybe you think I should be more lenient, but I see no point in holding my place in a community I no longer feel comfortable in.

I don’t know about you, but the more I read, the more I am able to be tolerant towards people who are different from me. But I have my limits, just like everybody else does. In fact, I never had this kind of problem in any communities I have been a part in. In book communities, people come from every religious, cultural, economic and social background to gather for one common purpose: the love for reading and the mission to spread that love. We are different in many, many ways, but the love for reading is what makes us one. Being a part of a book community enables me to learn and accept other people’s views and opinions (even though I may not always agree with them), to place myself in another’s shoes and to maintain friendships in spite of differences. I’d like to think that diversity is an asset to a public community. Think of a rainbow without the color blue. It would not be called a rainbow.

Just a few days ago, on 17 May, Indonesia celebrated National Book Day. But this celebration was tainted with the current sweeping and banning of books that are considered leftist/promoting communism.[1] I don’t think that the banning would be a wise action considering the fact that Indonesia stands on the 60th position from 61 countries in world literacy rankings, according to the study conducted by Central Connecticut State University.[2] Sans the banning, only 10% Indonesians show interest in reading and average Indonesians only read 2-3 books per year. Compare this to developed countries where people read 20-30 books a year.[3] Book banning will only worsen Indonesia’s already low literacy rate.

And how, you may ask, can reading bring us together while there are millions of books out there and each one of them is different? We read to improve our minds, and with the right books, our entire person can also be improved. As an improved person, we are able to place ourselves in our surroundings and act accordingly, while using our minds to contribute to the common goal. A nation will benefit more if its people are well read. And since Indonesia is a developing country with a pitiful literacy rate, I’d say it is urgent for the people of Indonesia to start loving reading today.

Read this also: http://www.dw.com/id/pramoedya-srigala-jahat-dan-pemberangusan-buku/a-19251651?maca=id-Facebook-sharing

And watch this: https://www.youtube.com/watch?v=_o2DylQ3sDY

This post is also published for the event Posting Bareng BBI 2016: #BBIHariBukuNasional

Banner Posbar 2016

Thoughts Corner: My Never-Ceasing Dilemma of Reading Classic Literature

I do not come from an English-speaking country. I fell in love with classic literature some years ago, and I started off mostly by reading Indonesian translations, and with time I read more and more classics in English. I also read works that are originally written in other languages than English—French and Russian for example—but since I can’t read those other languages, reading in English translation would have to suffice.

Some of my classics collection: Indonesian translations on the top row and books in English on the bottom row

Some of my classics collection: Indonesian translations on the top row and books in English on the bottom row

So when it comes into reading classic literature, I face a major problem: to read it in English or to read it in the Indonesian translation?

I read classics in Indonesian translations because:

  • they are easier to understand, hence faster to read
  • they are mostly cheaper than the books written in English
  • to show appreciation to the translators and publishers who made it possible for a classic literary work to be translated into Indonesian. I know it’s not easy, especially when the market for classic literature in Indonesia is not really promising. So I think they really need the appreciation.
  • as a way to promote world classic literature in Indonesia, especially to those who we can consider “beginners”. Translated books are more accessible, affordable, and understandable to them.

But then, being the perfectionist that I am, after some years of reading classics in both Indonesian translation and English, I can’t help the feeling that I’m missing the “true flavour” of a classic when I’m reading Indonesian translated version. Because somehow in the process of translating and editing, the meaning of a sentence or a paragraph can change. It’s not that Indonesian translated classics are all bad; there are a lot of books that are translated wonderfully, some even came with added “Indonesian flavour”, like Landung Simpatupang’s translation of Nineteen-Eighty Four by George Orwell.

So the problem lies here: while I still want to read Indonesian translations because of the above reasons, I also don’t want to lose hold of the true meaning of a literary work, which in my opinion can be expressed better in English. But, to be honest, there are times that I prefer to read Indonesian translations just to save time! LOL. Aside from being a perfectionist, I am also a moody and a very slow reader.

Do you face the same problem as I do? If yes how would you deal with this dilemma? Please let me know in the comments!

Two New (But Old) Jane Eyres

Sorry for the long absence! It’s been so difficult for me to compose new blog posts lately due to some things going on in my life—things I need to take care of, AND my laptop had broken down.

For the time being, let me show you my two new (but old) Jane Eyres. Needless to say that I absolutely love Jane Eyre, ever since I read it the first time in Indonesian translation (read the review in Bahasa here) and last year I managed to read it in the original language (read the short review in the bottom of this post).

So, after getting inspired by this blogger’s awesome collection of Jane Eyres, I decided to start collecting “collectible” editions of Jane Eyre. I don’t intend to gather as many editions as possible, though, I prefer to collect illustrated editions.

This is Jane Eyre: Portland House Illustrated, 1988 edition. This book is illustrated by Monro S. Orr.

Jpeg

I was rather disappointed with this edition; because it only has 8 illustrations from the 16 illustrations I saw on the Jane Eyre Illustrated website, and it’s an abriged version. However, it still makes a lovely addition in my collection.

And this is another gem I am lucky to have: a 1943 edition of Jane Eyre with wood engravings by Fritz Eichenberg. Have you ever heard of a movie titled Definitely, Maybe (2008)? Well, this edition also ‘starred’ in the movie, alongside Ryan Reynolds, Isla Fisher, Rachel Weisz and Elizabeth Banks. And also one of the main characters, April, had a collection of Jane Eyres, which was awesome. 🙂

Watch this clip if you’re curious.

Look how intricate and awesome the wood engravings are:

In the markets you can find an edition of Wuthering Heights in the similar style (also with wood engravings by Fritz Eichenberg, only creepier).

It feels awesome to hold in my hands a book that’s more than 40 years older than myself! 😉

Thoughts Corner: Perjalanan Menemukan Sastra Indonesia dalam Film dan TV

Saya ingin mengakui dua hal. Yang pertama, saya telah mengabaikan blog ini selama beberapa bulan (I’m so sorry! 😦 ). Salah satu alasannya karena saya berkonsentrasi mengejar impian melanjutkan kuliah di luar negeri dengan mendaftar beasiswa LPDP. Dan ternyata saya gagal, saya belum diperbolehkan oleh Tuhan untuk menggapai impian yang satu ini. Mungkinkah saya gagal karena saya tidak bisa menyebutkan perbedaan antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen yang ditanyakan salah satu pewawancara? Bagi teman-teman yang berasal dari background akuntansi hal ini mungkin kedengaran sangat konyol, apa mungkin bekerja selama kurang lebih 6 tahun tanpa menyentuh textbooks sama sekali membuat saya melempem ketika disodori pertanyaan macam ini. Atau jangan-jangan saya salah jurusan? 😐

Yah, bagaimanapun, fase tersebut sudah berlalu, dan saya tidak bisa bilang saya menyesal sudah mencoba walaupun akhirnya gagal. Well, if you never try, you’ll never know, right? Ada satu tahap seleksi yang dilakukan LPDP yang bernama Leaderless Group Discussion. Pada tahap ini pelamar beasiswa dikelompokkan dengan 5-6 orang pelamar lain dan diberi artikel untuk didiskusikan bersama. Saya dan teman-teman sekelompok mendapat artikel dengan tema Budaya Asing di Indonesia. Kami diperhadapkan pada masalah budaya asing yang merajai musik, film, TV dan buku/komik di Indonesia (buku/sastra tidak disebut dalam artikel,tapi saya sempat menyinggungnya sedikit dalam diskusi) dan bagaimana caranya supaya budaya Indonesia bisa menjadi raja di negeri sendiri.

Nah, hal inilah yang melatarbelakangi pengakuan saya yang kedua. Saya sendiri sangat kurang mencintai produk-produk budaya dalam negeri (that is: buku & komik, musik, film, dan tayangan TV Indonesia). Saya bisa saja menggunakan alasan “selera kan tidak bisa dipaksa” tapi setelah melalui tahap LGD bersama teman-teman pelamar beasiswa LPDP, saya menyadari bahwa rasa cinta itu harus dimulai dari diri sendiri. Bagaimana mungkin mengajak orang lain mencintai budaya negeri kalau diri sendiri tidak melakukannya lebih dahulu?

Pertama, buku. Tanggal 17 Mei yang lalu kita merayakan Hari Buku Nasional, di mana orang berlomba-lomba memamerkan koleksi buku lokal yang mereka miliki. Saya termasuk di antara mereka, tanpa malu mengepos koleksi buku lokal saya ke Facebook, Path, dan Instagram walaupun jumlahnya cuma SEBELAS biji. Saya diam-diam membuat resolusi pribadi untuk mulai giat membaca buku lokal walaupun mungkin terbatas dalam genre tertentu (beberapa teman pasti tahu saya sangat pemilih soal genre buku) dan dengan progress yang sangat lambat (orang Jawa bilang alon-alon asal kelakon). Ada dua buku yang ingin saya habiskan dalam tahun ini, yaitu Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan Amba karya Laksmi Pamuntjak. Saya bertekad bahwa dua buku tersebut harus pindah dari rak “timbunan” ke rak “sudah dibaca” tahun ini juga! Wish me luck!

Kedua, film. Kamu akan tertawa kalau tahu film Indonesia apa yang terakhir saya tonton di bioskop. Film ini dibintangi oleh Shandy Aulia dan Samuel Rizal dan bersetting di tempat berjuluk City of Light. Got it? 😀 Namun, melihat bahwa belakangan ini film biopic mulai menjamur, maka rasanya ini start spot yang tepat bagi saya untuk memulai (lagi) nonton film-film buatan anak bangsa. Saya juga tertarik untuk nonton film yang diadaptasi dari buku, tapi tentunya setelah saya membaca bukunya dulu, hehehe. Untuk permulaan, saya mencatat Sang Penari (adaptasi Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari) dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (adaptasi karya Hamka) untuk saya tonton. Mungkin kamu bisa memberi saya rekomendasi film yang lain?

Ketiga, TV. Inilah yang paling susah bagi saya. Saya jarang sekali nonton TV. Mohon maaf, tapi bagi saya kebanyakan tayangan TV (baca: sinetron) Indonesia itu sampah. Dalam LGD, saya sempat melontarkan pendapat bahwa produsen film dan serial TV di Indonesia juga harus memperbaiki kualitas karya-karya seni mereka sehingga makin banyak orang (terutama anak muda) lebih memilih nonton film dan serial TV yang asli Indonesia, ketimbang, katakanlah, produk Hollywood, Bollywood, dan Korea. Lalu terpikirkan oleh saya, mengapa stasiun TV di Indonesia tidak mengikuti langkah BBC dan beberapa stasiun TV mancanegara lainnya, yang terus “menghidupkan kembali” karya sastra melalui adaptasi serial TV? Saya secara khusus menyebutkan BBC karena stasiun tv ini yang menurut saya paling produktif dalam menghasilkan adaptasi dari karya sastra (klasik), bahkan yang tidak terlalu populer seperti Little Dorrit karya Charles Dickens dan Cranford karya Elizabeth Gaskell. Negara Inggris memberi tempat yang sangat spesial untuk karya-karya sastra yang berasal dari putra-putri negaranya.

Ini beberapa “sinetron” produksi BBC yang diangkat dari karya sastra klasik selama 5 tahun terakhir:

Sumber: http://ladyandtherose.com/period-drama-tv-series/

Dan berikut ini beberapa film adaptasi karya sastra klasik yang rilis tahun 2015:

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah karya sastra klasik Indonesia masih dibaca sekarang ini? Atau jangan-jangan malah sudah dilupakan? Saya masih nol dalam hal membaca karya sastra klasik Indonesia, namun saya ingin memulai dan saya ingin supaya karya-karya sastra lokal diingat dan dicintai oleh Indonesia. Mungkinkah dengan “memberi nyawa” pada karya sastra klasik Indonesia melalui adaptasi TV/film, karya sastra tersebut bisa kembali populer? Para insan film dan TV di Indonesia, apakah suatu saat nanti kalian akan menjawab pertanyaan ini?

Monggo berkomentar, terutama bagi teman-teman yang sudah membaca lebih banyak karya sastra klasik Indonesia daripada saya 😉

Movies Based on Books I Want to Watch in 2015

There are many wonderful adaptations from books out there (along with some not-so-wonderful ones) and I am grateful that the world’s film industry keeps producing new ones, and that these past few years movies based on books get the appreciation they deserve. (Did you notice that Oscar nominations these past few years have been positively dominated by movies based on books?)

So here are some movies based on books I really want to watch (trailer featured if already available). You will see many period dramas here, because I read mostly classics and historical fiction books, so naturally I’m drawn to period dramas.

Cinderella. A live-action take of the classic fairy tale. Cast: Lily James, Richard Madden, Cate Blanchett, and Helena Bonham Carter (I know. Impressive cast. I hope it’s better than Into The Woods.)

Testament of Youth. Set on the First World War, based on Vera Brittain’s memoir. Cast: Alicia Vikander, Kit Harington, Miranda Richardson and Taron Egerton.

Suite Française. Based on the unfinished novel by Irene Nemirovsky. Cast: Michelle Williams, Kristin Scott Thomas and Matthias Schoenaerts.

Far from the Madding Crowd. Based on Thomas Hardy’s classic romance. Cast: Carey Mulligan, Matthias Schoenaerts, Tom Sturridge, and Michael Sheen. This movie is by far the one I want most to watch, as soon as it premieres.

Madame Bovary. Based on Gustave Flaubert’s novel. Cast: Mia Wasikowska, Ezra Miller, Laura Carmichael.

Macbeth. An adaptation of the Shakespeare play. Cast: Michael Fassbender, Marion Cotillard, David Thewlis, Sean Harris and Elizabeth Debicki.

Mr. Holmes. From the novel A Slight Trick of the Mind by Mitch Cullin. Stars Ian McKellen as the aged sleuth.

I owe this post by The Lady and the Rose. Thanks!

Do you have movie recommendations for me? Especially period drama movies from the non-fiction section? Do tell on the comments!

Book Kaleidoscope 2014: Favorite Books

book-kaleidoscope-2014-button

Two historical fiction books, one history book, one modern classic and one Victorian classic, here are my top 5 favorite books of 2014:

#5. Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSC

The only Indonesian fiction in this list, Pulang (“Going Home” in English) connects three historical events: 1965 tragedy in Indonesia, 1968 student revolution in Paris, and May 1998 riots in Indonesia. This book is emotional and beautifully written. I rarely read Indonesian literature, but a few books that I have read – usually they contain historical and cultural themes – made me want to read more and to refresh my memory of Indonesian history.

#4. Silence – Shusaku Endo

silence

This book attempts to convey the great question of faith; if your faith in God is being challenged, or even persecuted, what will you do? Of course you will try with all your strength to keep your faith. But what if it will cause someone else to suffer? Sebastian Rodrigues is a Jesuit pastor who does missionary work in Japan. As he endured persecution and watched the members of his congregation being tortured as the result of his refusal to deny Christianity, he cried to God to take action, to end His people’s suffering—but He kept silent. This book is vividly written, thought-provoking and it possesses the ability to shake your spirituality.

 #3. The Giver – Lois Lowry

the giver

To think of a world that everything is carefully planned, meticulously ordered… so perfect it hurts. There is no difference, no jealousy, and no emotion in Jonas’s world. There is no love, only Sameness. Then Jonas was chosen to be a Receiver of Memory, and he saw, heard, and felt everything that was hidden before. All I could think after reading this book is: the world could have been a completely different place. Even though now we live in a world that suffers from war, injustice, famine, and terror, we still have love. If that’s not something to be grateful for, then what should be? I read this book in Indonesian translation, but I intend to read it in English soon.

 #2. The Professor and the Madman – Simon Winchester

professor and madman

The only non fiction on this list—but with a taste of fiction. This book tells the extraordinary tale of the people behind the making of Oxford English Dictionary, especially about two men: Professor James Murray and Dr. W. C. Minor. As Professor Murray led a team to collect entries for the dictionary, he realized that one Dr. W. C. Minor submitted more than ten thousand entries. Fascinated, Professor Murray then decided to pay Dr. Minor a visit. From there readers are being told about Minor’s long history: as an American Civil War veteran, as a genius, as a murderer and as an inmate of an asylum. I was lost easily in the story and forgot that this is a history book, not fiction. If only all history books are written in the way Simon Winchester wrote this book :).

 #1. Jane Eyre – Charlotte Bronte

jane eyre

Jane Eyre is one of my all-time favorite, it is a tale of a modest but strong-willed governess who found her equal in the form of her eccentric master, Mr. Rochester. I personally think this book as a parade of strong characters, Jane and Rochester being in the front row. I adore Jane’s qualities; that she desires more of the world than the 19th century society allow women to have, that she holds integrity in the face of making a tough decision, and that she doesn’t cease to love Mr. Rochester even after the incident that disabled him. On my first reading of Jane Eyre, I didn’t like Mr. Rochester and thought him insufferable—but then when reading it for the second time; I was able to put his character in a different light. I pitied him for what happened in his past—it still haunts him long after—and then he met Jane, which was the best thing that could have happened to him. Jane completes him, makes him a better man. He loves her in return, offered her an affectionate home that she never had before. They are just… the perfect couple, even though neither of them is perfect. This book has everything I love in a passionate romance, and it doesn’t even have any sex scenes (perhaps the author purposefully left that out to leave some space for the readers’ imagination). I will love this book for ever, and reread it once every 3 or 5 years, if possible. 🙂

Book Kaleidoscope 2014: Book Boyfriends

book-kaleidoscope-2014-button2014, the year of ups and downs. Please forgive my being late to post this, but I feel that my year of books would not be wrapped up properly without posting Book Kaleidoscope. However, from the 5 categories provided by Fanda Classiclit, this time I only take 2, one of them is:

Book Boyfriends

I only came up with 3 characters for this category, and they are:

Theodore “Laurie” Laurence from Little Women

Laurie is March girls’ next door neighbor, a wealthy boy who is often bored, bad-tempered, and like other normal boys, prone to do some mischief. At first he’s shy, but with time he became good friends with the March girls, especially with Jo. The story of March girls becomes even more colorful with Laurie in the picture. And, if one wants to see a silly Christian Bale for a change, one only needs to watch the 1994 adaptation of Little Women.

Christian Bale as Laurie

Christian Bale as Laurie

 


Alec McGrath from The Penderwicks at Point Mouette

Skye, Jane, Batty, and Jeffrey meet Alec on their summer vacation at Point Mouette in Maine. He owns the house right next to the one the Penderwick girls and Jeffrey are staying at. Alec is described as a friendly single man who also happens to be a musician. Jeffrey grew to admire him because they share the same interest in music. In the book, Alec is a crucial part of a major turn of event, and it was heartwarming to see how he handles himself and take care of things and people afterwards. I can’t spoil this important part though; you have to read it yourself!

The Penderwicks at Point Mouette is the third book of The Penderwicks series, none of the books have been adapted into films yet. I took time to think who would best portray Alec; he should be 40 ish, good looking but not too handsome, someone who people would like to be friends with after they see him the first time. John Cusack, perhaps?

John Cusack …

John Cusack …

 


 Edward Fairfax Rochester from Jane Eyre

Mr. Rochester is not handsome, he is twice Jane’s age, eccentric, rude and abrupt, almost violent sometimes. He also keeps a horrible secret and is constantly haunted by the past. In short, he is far from the Darcy-ish perfection. But he is also strong, witty, and passionate; these traits make him and Jane a perfect couple. I actually enjoy their long conversations, and I think that their dynamic is the heart of the book. I’m a proud member of Team Edward. Rochester, not Cullen.

I agree with most people that Toby Stephens played the best Mr. Rochester so far, but this guy below was not so bad at all.

Michael Fassbender Jane Eyre

Michael Fassbender as Mr. Rochester