Gulliver’s Travels to Lilliput and Brobdingnag – Jonathan Swift

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Ketika mendengar “Gulliver’s Travels, yang terbayang di benak orang pastilah sesosok pria yang terjebak di Negeri Lilliput. Namun sesungguhnya, buku Gulliver’s Travels sendiri terdiri dari empat kisah perjalanan, sebagai berikut:

  • A Voyage to Lilliput
  • A Voyage to Brobdingnag
  • A Voyage to Laputa, Balnibarbi, Luggnagg, Glubbdubdrib, and Japan
  • A Voyage to the Country of the Houyhnhnms

Dua diantaranya yaitu Perjalanan ke Negeri Lilliput (negeri orang berukuran mini) dan Negeri Brobdingnag (negeri raksasa) dihimpun dalam buku yang saya baca ini. Pada awal buku, dijelaskan mengenai latar belakang Lemuel Gulliver, pekerjaan dan bidang yang ia tekuni, serta bagaimana ia memulai perjalanannya. Dikisahkan bahwa Gulliver adalah seorang pria yang gemar melakukan perjalanan. Sisanya, adalah berbagai hal yang dialami Gulliver selama berada di Negeri Lilliput dan Negeri Brobdingnag, yang mana plotnya tidak akan banyak saya bocorkan disini, lebih seru membacanya sendiri! 🙂

Jonathan Swift menulis Gulliver’s Travels dengan mendetail dan terasa realistis. Dari POV Gulliver, kita seperti membaca buku harian sang tokoh, lengkap dengan tanggal-tanggal kejadian dan urutan peristiwa yang dialaminya. Swift juga menciptakan bahasa yang digunakan penduduk Lilliput maupun Brobdignag.  Di negeri Lilliput, Gulliver dipanggil dengan sebutan Quinbus Flestrin yang berarti “Manusia Gunung Besar”. Walau pada awal kemunculannya Gulliver ditakuti rakyat Lilliput dan dianggap sebagai monster, lambat laun ia menjalin hubungan baik dengan Raja Lilliput dan beroleh kepercayaan dari Yang Mulia. Dengan sederetan syarat, termasuk bersedia membantu melawan musuh Lilliput yaitu Pulau Blefuscu, Gulliver dapat hidup di tengah-tengah rakyat Lilliput dan mendapatkan daging dan minuman sebanyak jatah 1.728 orang-orang Lilliput setiap harinya. Satu hal yang kocak adalah konflik berdarah selama bertahun-tahun antara Lilliput dan Blefuscu, yang ternyata didasari oleh persoalan remeh: masalah memecahkan telur! Dua kubu yang beroposisi adalah kubu yang memecahkan telur dari ujung yang lebih lebar (dikenal dengan kelompok Ujung-Lebar) dan kubu yang memecahkan telur dari ujung yang lebih lancip (dikenal dengan kelompok Ujung-Lancip). Menggelikan, bukan?

Pengalaman yang jauh berbeda dialami Gulliver ketika terdampar di Negeri Brobdingnag. Kali ini, Gulliver adalah manusia yang tak lebih besar daripada serangga diantara para raksasa yang menghuni Brobdingnag. Dengan ukuran sekecil itu, nyawa Gulliver terancam. Namun di tangan seorang gadis kecil anak petani yang merawat dan menjaganya dengan penuh kasih sayang, Gulliver dapat merasa aman. Gadis kecil yang dipanggil Glumdalclitch alias “perawat kecil” itu memberi nama Grildrig (yang artinya manekin) kepada Gulliver. Gulliver merasakan hari-hari yang melelahkan saat dipamerkan di kota, sampai suatu hari utusan dari istana datang dan membawa Gulliver beserta perawat kecilnya ke istana. Karena Gulliver terlalu kecil untuk memakai barang-barang yang ada di Brobdingnag, sebuah kotak kecil diciptakan sebagai “rumah” sekaligus alat untuk membawanya kemana-mana. Selama di Brobdingnag, Gulliver mengalami banyak hal termasuk kejatuhan embun yang berukuran hampir seribu delapan ratus kali ukuran embun Eropa, yang menyebabkan tubuhnya memar dan harus tinggal di tempat tidur selama sepuluh hari. Selama di Lilliput maupun Brobdingnag, Gulliver mempelajari bahasa, kebiasaan masyarakat setempat, sejarah, seni, dan juga sistem pendidikan yang berlaku di negara mereka. Apakah Gulliver bisa pulang kepada istri dan anak-anaknya setelah mengalami petualangan-petualangan tak terbayangkan di Lilliput dan Brobdingnag? Jawabannya adalah ya! Ia kemudian bepergian ke tempat-tempat aneh lain, yang sayangnya tidak ikut diterjemahkan dalam buku ini. Di balik empat perjalanan Gulliver, tersimpan satir tajam untuk pemerintahan Inggris dan Eropa pada masa itu. Terjemahan yang digarap Zuniriang Hendrato dalam buku ini tidak buruk, namun sayangnya editing dan proofreadingnya masih “longgar” dalam banyak bagian. Karena cerita Gulliver’s Travels sangat menarik dan mudah dibaca, maka empat bintang untuk buku ini.

“…aku dapat melihat bahwa mustahil seseorang dipertimbangkan secara serius bila ukuran tubuh mereka sangat berbeda. Aku sering memperhatikan hal ini juga terjadi di Inggris setelah kepulanganku. Bila seseorang berusaha untuk membuat dirinya sendiri penting, namun ia hanya berasal dari keluarga biasa dengan sedikit uang dan pendidikan, maka ia hanya akan dilihat sebagai orang tolol. Ia juga akan menjadi bahan tertawaan.”

Tentang Pengarang:

Jonathan Swift lahir di Dublin, Irlandia pada tanggal 30 November 1667. Setelah mengecap berbagai karir; sebagai sekretaris seorang politisi, menjadi pastor, kemudian editor jurnal politik, pada tahun 1714 ia diangkat menjadi Kepala Katedral St. Patrick di Dublin. Karyanya yang paling terkenal, Gulliver’s Travels yang terbagi menjadi empat bagian kisah perjalanan Lemuel Gulliver, pertama kali diterbitkan pada tahun 1726. Swift dikenal sebagai penentang kekerasan dalam segala bentuk. Fiksi dan satir digunakannya untuk menarik perhatian terhadap masalah politik pada masanya. Ia meninggal dunia pada tahun 1745.

Detail buku:

Gulliver’s Travels: Perjalanan Gulliver ke Negeri Liliput dan Negeri Brobdingnag (judul asli: Gulliver’s Travels: A Voyage to Lilliput and A Voyage to Brobdingnag), oleh Jonathan Swift
127 halaman, diterbitkan tahun 2007 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1726)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Review in English:

Gulliver’s Travels is so far the most interesting classic adventure I have ever read. Not just because of the idea of journeys to strange and desolate places, but because of Jonathan Swift’s writing style that is realistic and rich with details. Gulliver’s Travels, the most famous work by Jonathan Swift, is divided into four parts: A Voyage to Lilliput; A Voyage to Brobdingnag; A Voyage to Laputa, Balnibarbi, Luggnagg, Glubbdubdrib, and Japan; and A Voyage to the Country of the Houyhnhnms. But unfortunately, the edition I read only covered two parts: A Voyage to Lilliput and A Voyage to Brobdingnag. I would love to read the other two parts too! (And I don’t let myself to read the synopsis of the other two parts, because that, I think, would spoil the fun! :p)  About Jonathan Swift (1667-1745) : he was an Irish author, clergyman and satirist. He used fiction and satire to attract people into the political situations in his era.

Note: Okay this review is very brief, but I seriously think that Gulliver’s Travels is the type of book that you should read with knowing almost nothing about it at first. Because I really enjoyed this book, therefore, four stars.

14th review for The Classics Club Project

Northanger Abbey – Jane Austen

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Sang heroine dalam kisah ini adalah Catherine Morland, seorang gadis tujuh belas tahun yang naif dan tidak berpengalaman, serta hobi membaca terutama novel-novel gothic. Ia belum pernah mencicipi dunia di luar kampung halamannya di Fullerton. Sampai suatu ketika Mr. dan Mrs. Allen, teman dekat keluarga Morland; mengundang Catherine untuk menghabiskan waktu beberapa bulan bersama mereka di Bath, suatu kota peristirahatan bagi sebagian warga Inggris kalangan atas. Di Bath, Catherine berkenalan dengan beberapa orang, antara lain Isabella dan John Thorpe, anak-anak dari Mrs. Thorpe yang adalah kawan sekolah Mrs. Allen. Ia juga berkenalan dengan seorang pemuda karismatik bernama Henry Tilney, dan nantinya dengan Eleanor Tilney, adik dari Henry. Setelah menghabiskan beberapa bulan di Bath, Catherine diundang ke kediaman keluarga Tilney, yaitu Northanger Abbey yang dulunya adalah biara. Di biara yang besar dengan banyak ruangan misterius inilah pikiran Catherine bergolak dalam imajinasi yang mencekam, sebagaimana novel-novel gothic yang begitu dicintainya.

Kisah Northanger Abbey terbagi menjadi 2 tema utama, yaitu:

1. Pertumbuhan menuju kedewasaan yang dialami karakter utama, yaitu Catherine. Inilah mengapa Northanger Abbey dikategorikan dalam genre bildungsroman (a story about coming-of-age). Setelah berinteraksi dengan beberapa karakter di dalam buku, watak Catherine yang aslinya naif dan polos mulai berkembang. Perubahan dalam watak Catherine terutama disebabkan oleh interaksinya dengan kakak-beradik Thorpe, yang pada awalnya menempatkan diri sebagai kawan sejati Catherine, namun sebenarnya mereka tidak tulus dan manipulatif.

Catherine, dalam perjalanannya menuju kedewasaan, pelan-pelan mulai mengasah kemampuan membaca karakter orang lain, dan bukan hanya membaca buku.

2. Kegemaran membaca yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Dalam kasus ini adalah Catherine yang hobi membaca novel-novel gothic. Peristiwa-peristiwa yang dibacanya di dalam novel-novel tersebut membekas begitu rupa di dalam pikirannya dan menghasilkan imajinasi yang overaktif. Batasan antara fantasi dan kenyataan menjadi kabur, dan akibatnya hubungannya dengan orang lain (dalam hal ini Henry Tilney yang dicintai Catherine) jadi rusak. Northanger Abbey merupakan gothic parody, yaitu parodi dari novel-novel gothic yang sedang booming pada masa Austen hidup. Secara spesifik Austen menyebut The Mysteries of Udolpho karya Ann Radcliffe, yang menjadi bacaan Catherine sepanjang buku ini dan yang membuat imajinasi Catherine melambung tinggi. Mungkin rumus yang ada di pikirannya adalah: an old building = history and mysteries to be unveiled = a hidden villain. Secara keseluruhan, adegan-adegan mencekam khas novel gothic hanya ada sedikit di dalam buku.

Tema-tema lain yang hendak disorot Austen antara lain norma-norma sosial pada masa itu, posisi seorang wanita di masyarakat, dan materialitas yang begitu mencolok, apalagi kalau menyangkut pernikahan.

Simak beberapa petikan dari buku sebagai berikut:

[Kritik Austen mengenai kaum perempuan pada masanya, yang cenderung fokus pada hal yang sia-sia, misalnya penampilan]

“It would be mortifying to the feelings of many ladies, could they be made to understand how little the heart of man is affected by what is costly or new in their attire; how little it is biased by the texture of their muslin, and how unsusceptible of peculiar tenderness towards the spotted, the sprigged, the mull, or the jackonet. Woman is fine for her own satisfaction alone. No man will admire her the more, no woman will like her the better for it. Neatness and fashion are enough for the former, and a something of shabbiness or impropriety will be most endearing to the latter.”

[Menyangkut keberadaan novel yang cenderung diremehkan, terutama oleh kalangan kelas atas. Masyarakat Inggris abad 18 cenderung mengganggap novel sebagai sarana hiburan semata dan bukannya sebuah karya seni yang serius]

“And what are you reading, Miss—?” “Oh! it is only a novel!” replies the young lady… in short, only some work in which the greatest powers of the mind are displayed, in which the most thorough knowledge of human nature, the happiest delineation of its varieties, the liveliest effusions of wit and humor are conveyed to the world in the best chosen language.”

 Hal ini dijawab oleh Austen dengan dialog antara Catherine-Henry sebagai berikut:

“But you never read novels, I dare say?”

“Why not?”

“Because they are not clever enough for you—gentlemen read better books.”

“The person, be it a gentleman or lady, who has not pleasure in a good novel, must be intolerably stupid. I have read all Mrs. Radcliffe’s works, and most of them with great pleasure. The Mysteries of Udolpho, when I had once begun it, I could not lay down again; I remember finishing it in two days—my hair standing on end the whole time.”

Perkembangan hubungan Catherine-Henry diceritakan dengan menarik. Karakter Catherine dipertemukan dengan Henry yang jauh lebih dewasa, cerdas, simpatik, dan boleh dibilang sabar dan instruktif pada Catherine yang masih kekanak-kanakan. Dialog mereka seringkali membuat tertawa, atau sedikitnya gemes. 🙂

“…it is a nice book, and why should not I call it so?”

“Very true,” said Henry, “and this is a very nice day, and we are taking a very nice walk, and you are two very nice young ladies. Oh! It is a very nice word indeed! It does for everything. Originally perhaps it was applied only to express neatness, propriety, delicacy, or refinement—people were nice in their dress, in their sentiments, or their choice. But now every commendation on every subject is compromised in that one word.”

***

It was no effect to Catherine to believe that Henry Tilney could never be wrong. His manner might sometimes surprise, but his meaning must always be just; and what she did not understand, she was almost as ready to admire, as what she did.

Wah, saya rasanya paham mengapa Catherine jatuh cinta kepada Henry. 😀

Kesimpulan yang saya ambil setelah membaca buku yang ditulis Austen pada awal karirnya (ditulis sekitar tahun 1798–1799, dan diterbitkan secara anumerta di tahun 1817), dan notabene merupakan novel Austen yang “dipandang sebelah mata” oleh kebanyakan orang:

Fokus dalam buku ini tidak jelas. Begitu banyak unsur dan tema yang dikemukakan Austen sehingga satu novel tidak menyampaikan satu tema yang utuh, namun beberapa tema. Mungkin “ketidakfokusan” ini bisa dimaklumi karena novel ini merupakan salah satu karya Austen yang pertama. Namun, membaca buku ini  tetap menyenangkan, karena banyak adegan yang lucu, ditambah beberapa adegan yang menegangkan; serta pembaca juga beroleh banyak wawasan mengenai praktik sosial yang terjadi pada masa tersebut. Saya juga sangat menyukai adaptasi Northanger Abbey oleh PBS Masterpiece versi tahun 2007. Di dalam miniseri yang dibintangi Felicity Jones, JJ Feild, dan Carey Mulligan ini lebih banyak adegan menegangkan yang merupakan visualisasi imajinasi Catherine.

#postingbersama BBI 29 Juni 2012 tema buku gothic

Baca juga:
Visual Tour on Northanger Abbey
Post mengenai karakter Isabella dan John Thorpe

Detail buku:
“Northanger Abbey”, oleh Jane Austen
256 halaman, diterbitkan Februari 2008 oleh Signet Classics (pertama kali diterbitkan tahun 1817)
My rating: ♥ ♥ ♥


Conclusion:

Being at the same time a bildungsroman and a gothic parody, Northanger Abbey quite confused me for not having a single theme. To be honest I expect more of the gothic stuff, but then I realize that Austen meant this work to be a parody of gothic novels, specifically Ann Radcliffe’s The Mysteries of Udolpho. I also learned a great deal about social norms, materiality and marriage, women’s position and the 18th century England’s underestimation of novels. But, I have to say, I enjoyed the witty book, finished it within a few days (and quite falling in love too with Henry Tilney, LOL! I gave the book 3 stars. Someday I might read The Mysteries of Udolpho. And I loved PBS Masterpiece’s 2007 adaptation of Northanger Abbey, a lot of action in it (visualizations of Catherine’s imagination).

7th review for The Classics Club Project, 3rd review for The Classic Bribe

The Bridge of San Luis Rey – Thornton Wilder

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman TUHAN.

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9)

Siapakah dari umat manusia yang mengetahui rencana Tuhan, dan memahami rancangan-rancangan-Nya? Ketika sesuatu yang buruk terjadi, bukankah kita bertanya, “Mengapa?” “Mengapa hal ini terjadi?” “Mengapa hal itu menimpa kami?”, atau “Mengapa hal ini menimpa mereka?”

Pertanyaan yang sama terpatri di benak Brother Juniper, seorang biarawan Fransiskan, setelah peristiwa putusnya jembatan gantung San Luis Rey di Peru yang terkenal. Adapun jembatan gantung yang menghubungkan kota Lima dan Cuzco tersebut ditenun oleh peradaban suku Inca dari abad yang telah berlalu, dan masih dilewati ratusan orang setiap harinya, sampai hari nahas itu tiba.

Pada siang hari, tanggal 20 Juli 1714, jembatan gantung San Luis Rey putus dan melemparkan lima orang ke dalam jurang di bawahnya. Peristiwa ini menggugah masyarakat Lima begitu rupa dan mengusik hati Brother Juniper, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan suatu “penelitian”, untuk menyelidiki kehidupan kelima orang korban. Ia berusaha menemukan jawaban mengapa Tuhan memilih kelima orang tersebut, untuk menunjukkan demostrasi kebijaksanaan-Nya, pada hari itu.

“Why did this happen to those five? If there were any plan in the universe at all, if there were pattern in a human life, surely it could be discovered mysteriously latent in those lives so suddenly cut off. Either we live by accident and die by accident, or we live by plan and die by plan.”

Selama enam tahun Brother Juniper mengetuk semua pintu di Lima, mengajukan ribuan pertanyaan, dan mencatat di buku catatannya semua fakta, kecil dan besar, penting maupun kurang penting, terkait kelima orang korban San Luis Rey, untuk membuktikan bahwa kelima nyawa yang hilang tersebut sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh. Penelitian ini membawanya menguak lembar demi lembar kehidupan Dona Maria, La Marquesa de Montemayor, seorang wanita bangsawan yang tidak dicintai oleh putrinya semata wayang; Pepita, gadis muda cerdas pelayan sang Marquesa; Camila Perichole, seorang aktris luar biasa cantik yang dikagumi oleh seantero Peru; Paman Pio, lelaki paruh baya yang merupakan pelatih sekaligus “ayah” La Perichole; dan pemuda kembar yatim piatu Manuel dan Esteban, yang memiliki kisah hidup muram mereka sendiri.

Setiap dari mereka mencintai dan berjuang untuk hidup dengan cara masing-masing; hampir setiap detail dari kehidupan mereka dikumpulkan oleh Brother Juniper dengan harapan samar bahwa entah bagaimana detail-detail tersebut akan memunculkan diri begitu rupa dan membuka tabir rahasia lima nyawa yang direnggut. Apakah Brother Juniper akan menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya, dan mungkin juga hampir setiap orang di muka bumi ini?

Poster film The Bridge of San Luis Rey (2004)

Kekuatan utama novel pendek ini adalah gaya penulisan Thornton Wilder yang indah. Sebenarnya saya terlebih dahulu mengetahui versi film dari novel ini, secara tidak sengaja menemukan VCDnya beberapa tahun yang lalu. Versi film tahun 2004 dibintangi antara lain Gabriel Byrne sebagai Brother Juniper, Kathy Bates sebagai Marquesa de Montemayor, Harvey Keitel sebagai Uncle Pio, dan Robert De Niro sebagai Archbishop of Peru; dan menurut saya merupakan adaptasi yang cukup bagus. Jika dulu, saat pertama selesai menonton filmnya, saya akan duduk diam termenung beberapa saat, sekarang lebih lagi saat saya menyelesaikan bukunya. Alih-alih memberikan jawaban, buku ini mengajak pembaca untuk merenung. Kesimpulan yang saya ambil dalam hati mengenai buku ini adalah: kita mungkin tidak mengetahui rahasia Tuhan, mengapa Ia berbuat begini dan begitu. Namun satu hal yang mutlak adalah; ia menganugerahi masing-masing kita dengan cinta. Inilah hal yang terpenting, di atas segalanya.

“But soon we shall die and all memory of those five will have left the earth, and we ourselves shall be loved for a while and forgotten. But the love will have been enough; all those impulses of love return to the love that made them. Even memory is not necessary for love.

There is a land of the living and a land of the dead and the bridge is love, the only survival, the only meaning.

***

Tentang Pengarang

Thornton Wilder, novelis dan penulis naskah sandiwara berkebangsaan Amerika, lahir pada tanggal 17 April 1897 di Madison, Wisconsin, Amerika Serikat. Beliau menghabiskan sebagian masa kecil di wilayah Amerika Selatan karena pekerjaan ayahnya. Sebagai seorang yang punya intelektualitas tinggi, beliau mengenyam pendidikan di Yale University dan meraih gelar master dalam bahasa Prancis di Princeton. Beliau juga tergabung dalam komunitas sastra Alpha Delta Phi Fraternity. Setelah lulus beliau melanjutkan studi di Roma, Italia, dan mengajar bahasa Prancis di New Jersey, dan kemudian di University of Chicago. Novel pertamanya, The Cabala, dirilis pada tahun 1926. Menyusul di tahun 1927, novel keduanya, The Bridge of San Luis Rey, sukses di pasaran dan membuatnya memenangkan hadiah Pulitzer Prize pertamanya. Beliau memenangkan hadiah Pulitzer dua kali lagi untuk kategori Drama untuk naskah sandiwara Our Town (1938) dan The Skin of Our Teeth (1942).  Novel The Eighth Day (1967) juga dianugerahi penghargaan National Book Award for Fiction. Di tahun 1998, American Modern Library memilih The Bridge of San Luis Rey sebagai salah satu dari 100 novel terbaik di abad 20. Novel ini juga dikutip oleh PM Inggris Tony Blair dalam pidato dalam memorial service korban tragedi 11 September 2001. Thornton Wilder meninggal dunia tanggal 7 Desember 1975 pada usia 78 tahun.

My 2nd review for The Classics Club Project

Detail buku:
“The Bridge of San Luis Rey”, oleh Thornton Wilder
148 halaman, diterbitkan tahun 1986 oleh Harper Perennial (pertama kali diterbitkan 1927)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) – Charles Dickens

London dan Paris; dua kota yang bergolak menjelang revolusi Prancis. Konon di Prancis, kaum bangsawan memerintah dengan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat. Kesejahteraan kaum bangsawan diletakkan diatas segalanya, sementara rakyat kecil dianggap tidak lebih daripada anjing. Rakyat harus membayar pajak dengan jumlah yang menggigit, sementara kaum bangsawan terus berfoya-foya dan menggemukkan badan. Kejahatan merajalela, tiada hari tanpa pelaksanaan hukuman mati, tidak peduli kecil atau besar kejahatan yang dilakukan orang yang akan dieksekusi. Begitulah situasinya, sampai di suatu titik, rakyat Prancis bangkit dan melakukan perlawanan. Situasi berputar balik, kali ini kaum bangsawanlah yang ditangkapi, diadili, dan dibunuh.

Di tengah-tengah gejolak yang terjadi, Mr. Jarvis Lorry, seorang bankir di Tellson’s Bank, London, ditemui oleh seorang gadis muda berparas cantik berkebangsaan Prancis bernama Lucie, mengenai keberadaan ayah yang disangkanya telah mati. Dr. Manette, ayah si gadis, ternyata masih hidup di Prancis. Ia dijebloskan ke penjara Bastille tanpa pernah tahu bahwa ia memiliki keturunan. Setelah bertahun-tahun menjalani hukuman di Bastille, yang menguras kewarasan sang dokter, ia tinggal di rumah mantan pelayannya yang bernama Defarge. Mr. Lorry dan Mlle Manette menjemput sang dokter dari tempat itu, pindah ke Inggris, dimana mereka berusaha memulihkan keadaan fisik dan psikis sang dokter.

Lima tahun kemudian, Dr. Manette dan putrinya terlibat dalam persidangan seorang keturunan Prancis yang bernama Charles Darnay, sebagai saksi. Darnay didakwa sebagai mata-mata Prancis yang menjalankan suatu rencana untuk melumpuhkan Inggris. Di persidangan itu mereka bertemu dengan pengacara yang bernama Mr. Stryver, dan rekannya yang eksentrik, Sydney Carton, yang secara mengherankan memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay. Darnay akhirnya diputuskan tidak bersalah oleh pengadilan. Beberapa tahun kemudian Darnay menikahi Lucie, dan ketiga orang keturunan Prancis itu, Darnay, Lucie, dan sang dokter, hidup di Inggris dengan cukup bahagia.

Namun suatu hal yang belum diketahui Lucie, bahwa nama asli suaminya bukan Charles Darnay. Darnay sebenarnya adalah salah satu keturunan bangsawan Prancis, keponakan dari Marquis Evrémonde. Ketika Gabelle, pengurus kediaman Evrémonde dipenjarakan, ia menulis surat kepada tuannya, Darnay, minta diselamatkan. Maka Darnay, dengan mengabaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, pergi ke Prancis. Disana ia ditangkap karena jati dirinya yang seorang bangsawan. Darnay sempat dibebaskan, karena Dr. Manette dan Lucie pergi ke Prancis, dan Dr. Manette memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya sehingga menantunya itu bisa bebas. Namun malam harinya Darnay ditangkap lagi, dengan tuduhan yang berasal dari Defarge dan istrinya, serta Dr. Manette! Dalam persidangan, Defarge membacakan sebuah surat yang ditulis Dr. Manette, yang mengungkapkan alasan mengapa ia dijebloskan ke Bastille. Suatu peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu mengaitkan Dr. Manette dengan keluarga bangsawan Evrémonde, dimana sekarang seorang keturunan Evrémonde menjadi menantunya. Sementara itu, Darnay akan dieksekusi oleh La Guillotine, si wanita tajam, dalam waktu dua puluh empat jam. Dr. Manette, Lucie, Mr. Lorry, dan Sydney Carton berada di tengah-tengah situasi tak menentu itu. Bagaimanakah badai kehidupan ini akan berakhir?

”Saat itu adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk.
Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan.
Zaman iman, sekaligus zaman keraguan.
Musim Terang, sekaligus musim Kegelapan.
Musim semi pengharapan, sekaligus musim dingin keputusasaan.
Kita memiliki semuanya di hadapan kita, sekaligus tidak memiliki semuanya.
Kita semua langsung pergi ke Surga, sekaligus langsung pergi ke jalan lainnya.
Pendeknya, zaman itu begitu persis dengan zaman sekarang.”

***

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka yang terkenal dari Kisah Dua Kota. Novel ini terbagi menjadi 3 buku, Buku I: Kembali ke Kehidupan, Buku II: Benang Emas, dan Buku III: Badai Kehidupan. Kisah Dua Kota adalah terjemahan dari karya fenomenal Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Novel klasik dengan plot yang kompleks ini ditulis Dickens dengan menggunakan kontradiksi, mempertentangkan situasi yang terjadi di dua negara pada masa itu, Inggris yang taat hukum dan Prancis yang feodal. Kontradiksi juga bisa ditemukan dalam karakter-karakter di dalam cerita, misalnya Darnay, si bangsawan yang emigran karena menolak feodalisme, berpenampilan necis dan rapi, merupakan ”lawan” dari karakter Sydney Carton, si pengacara slengean yang tidak memiliki fokus dalam hidupnya untuk mencapai apapun. Karakter Miss Pross, pelayan Lucie yang secara fisik tangguh namun sangat setia, bertolak belakang dengan Madame Defarge yang pendendam dan haus darah. Dalam banyak bagian juga Dickens menggunakan simbol-simbol yang kadang sulit dipahami, misalnya di awal cerita pada Buku I: Kembali ke Kehidupan, Mr. Lorry akan menjemput ”seseorang yang telah dikubur hidup-hidup selama delapan belas tahun”. Maksudnya adalah Mr. Lorry akan menjemput Dr. Manette, yang telah menjalani sekian tahun hukuman di Bastille sehingga kehilangan akal sehatnya. Ia sama saja seperti orang yang sudah mati. Kemudian Madame Defarge yang merajut tanpa henti. Ia sebenarnya sedang mendaftar nama-nama mereka yang akan dijatuhi hukuman mati. Kegiatan merajut ini juga menyimbolkan ”serigala berbulu domba”, rakyat kecil Prancis yang kelihatan tidak berbahaya, merajut dalam diam, namun di tangan mereka juga aristokrasi akan tumbang.

Terjemahan A Tale of Two Cities yang diterbitkan Elex Media Komputindo dengan judul ”Kisah Dua Kota” ini sama sekali tidak mengecewakan, baik dalam bentuk fisik maupun substansi buku. Terjemahan yang digarap oleh Peusy Sharmaya menurut saya sangat bagus, jenis kertas dan font yang digunakan sangat nyaman untuk dibaca. Meskipun rasanya lebih nyaman membaca “Mr.”, “Monsieur”, “Mademoiselle” ketimbang “Tuan” dan “Nona”. Dan semoga juga jilidan bukunya awet, mengingat bukunya cukup tebal. Saya tidak menyesal membeli buku ini walaupun harganya relatif mahal 😉

Secara keseluruhan, Kisah Dua Kota layak diganjar 5 bintang. Faktor yang terbesar adalah penulisan Dickens yang brilian. Ia mampu membangun cerita dengan plot yang padat dan kompleks, kadang-kadang sengaja menyimpan beberapa elemen untuk akhir cerita, sehingga pembaca tidak akan berhenti penasaran seperti apakah nanti endingnya. Gaya penulisannya puitis namun dengan aura yang suram dan tragis, sangat khas Dickens. Namun, bagi pembaca yang tidak suka narasi yang panjang-panjang, kemungkinan akan sulit menikmati karya Dickens ini. Ada yang menyebutkan A Tale of Two Cities sebagai karya Dickens yang tidak memiliki karakter yang se-memorable Scrooge di A Christmas Carol, Miss Havisham di Great Expectations, atau Fagin di Oliver Twist. Saya secara pribadi tidak setuju, setelah membaca buku ini sampai akhir dan mengalami “gema” di akhir cerita yang disebabkan tokoh yang bernama Sydney Carton. Bagi saya, A Tale of Two Cities akan selalu menjadi salah satu karya sastra yang akan terus saya kenang.

Resensi Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) ini diposting dalam rangka merayakan HUT ke-200 Charles Dickens yang jatuh tepat pada hari ini, 7 Februari 2012.

Happy Birthday, Charles Dickens!

Senang rasanya bisa menikmati karyamu yang bunyinya masih terdengar bahkan setelah 200 tahun berlalu! 😉

***

Detail buku:
“Kisah Dua Kota” (judul asli: “A Tale of Two Cities”), oleh Charles Dickens
576 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥