Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) 😛

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. 🙂

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! 🙂

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*

Lust for Life – Irving Stone

lust-for-LIFE---smallSeberapa jauh engkau akan berlari demi mengejar panggilan hidup? Vincent Van Gogh (1853-1890) melalui proses yang panjang sebelum menyadari panggilan hidupnya yang sesungguhnya, dan berusaha sampai titik darah penghabisan demi panggilan hidupnya itu, yakni menjadi seorang pelukis. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk melukis, Van Gogh muda sempat menjadi seorang pramuniaga di galeri lukisan Goupil, yang dipimpin oleh pamannya. Namun bukannya menjadi pramuniaga yang baik yang mampu membujuk orang untuk membeli lukisan, Vincent malah dengan terang-terangan menyebut lukisan-lukisan tersebut jelek dan orang-orang yang membelinya sangat bodoh. Kegagalan menjadi seorang pramuniaga lukisan membawa Vincent kepada jalan hidup yang berikutnya, yaitu menjadi seorang pelayan Tuhan mengikuti jejak ayahnya. Vincent kemudian berkutat mempelajari bahasa Latin, bahasa Yunani, aljabar, dan tata bahasa dari seorang pria bernama Mendes da Costa. Beruntung bagi Vincent, Mijnheer da Costa merupakan seorang guru yang sangat bijaksana yang mampu menginspirasi muridnya sekaligus memberikan kebebasan bagi muridnya untuk memilih apa yang hendak ia lakukan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa dirimu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.” – hal. 53

Kata-kata Mendes membuka mata Vincent yang jengah terhadap pendidikan formal yang harus ditempuhnya sebagai pendeta, dan dengan begitu saja pergi kepada Komite Evangelis Belgia yang kemudian menugaskannya ke sebuah desa pertambangan bernama Borinage. Tempat itu dinamakan “desa hitam”, suatu tempat yang suram dan menyedihkan. Vincent mendapati bahwa yang dibutuhkan oleh para penambang yang kotor dan miskin di Borinage lebih daripada firman Tuhan adalah makanan dan pakaian yang layak, serta tempat tinggal yang hangat. Vincent akhirnya memberikan segala miliknya untuk penduduk Borinage, meski kemudian ia sendiri yang harus kelaparan, sakit dan kedinginan.

Menjelang akhir masa tinggalnya di Borinage, Vincent kembali menekuni aktivitas menggambar dan berkat dorongan dari adik terkasihnya, Theo, kali ini Vincent merasa sungguh-sungguh menemukan jati dirinya sebagai pelukis.

“Oh, Theo, selama berbulan-bulan aku berjuang untuk meraih sesuatu, mencoba untuk menggali semua tujuan yang nyata dan arti dari hidupku, dan aku tidak tahu ini! Tapi sekarang ketika aku benar-benar tahu, aku tidak akan patah semangat lagi. Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku.” – hal. 136

Perjalanan panjang kembali dilalui Vincent untuk membuktikan jati dirinya sebagai pelukis. Di Den Haag ia berguru pada Thomas Mauve yang adalah sepupunya sendiri, sementara berbagai pihak mengkritisi lukisannya terlalu kasar dan mentah. Di Paris kemudian Vincent memutuskan untuk mengubah gaya lukisannya menurut aliran impresionis yang memakai warna yang serba cerah dan goresan yang tajam. Semua ini dilaluinya dengan sokongan dana dari Theo. Pindah ke Arles yang panas menyengat, Vincent pun melukis, melukis, dan melukis, sampai-sampai ia menjadi seperti mesin lukis otomatis yang tidak dapat berhenti bekerja.

“Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya. Untuk kehidupan pribadi, dia tidak memilikinya. Dia hanyalah mesin lukis otomatis, buta dengan makanan, cairan, dan cat yang dituangkan setiap pagi, lalu pada malam harinya sebuah kanvas telah selesai dikerjakan. […] Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya. Dia dapat hidup tanpa istri, rumah, dan anak-anak; dia bisa hidup tanpa cinta, persahabatan, dan kesehatan; dia bisa hidup tanpa keamanan, kenyamanan, dan makanan; dia bahkan bisa hidup tanpa Tuhan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya—kekuatan dan kemampuan untuk mencipta.” – hal. 442

Di Arles-lah panggilan hidup Vincent sebagai seorang pelukis mulai menjadi pedang bermata dua. Mungkin ia telah mewujudkan apa yang Mendes da Costa pernah katakan, “pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu”, tapi di sisi lain ia telah bekerja melampaui batas sehingga pelan-pelan kewarasannya terkikis. Saat ia mendekam di rumah sakit jiwa di St. Remy-lah, untuk pertama kalinya Vincent mendengar kabar baik dari Theo: lukisannya yang diberi judul Ladang Anggur yang Merah (The Red Vineyard) terjual dengan harga empat ratus franc. Simak beberapa karya Van Gogh melalui video di bawah ini.

Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh dalam buku setebal 576 halaman ini, saya jadi semakin memahami bahwa hard work really pays off. Kerja keras pasti membuahkan hasil. Dari seorang Vincent Van Gogh saya belajar tentang keyakinan pada diri sendiri bahwa “jika saya merasa bisa melakukannya, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya melakukannya”, juga kegigihan dalam bekerja, dan saya memahami bahwa ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, kalau kita tidak mau menjadi seperti Vincent yang akhirnya “dikonsumsi” oleh pekerjaannya sendiri dan akhirnya kehilangan segala-galanya. Dari adik Vincent, Theo Van Gogh, saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Theo sangat mengasihi kakaknya sehingga ia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menyokong kakaknya, dan bukan hanya itu, Theo tidak menjauhi kakaknya ketika ia mulai sakit mental dan selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara bagi Vincent. Bagi kisah luar biasa yang mengubah cara pandang saya mengenai panggilan hidup dan kasih sayang terhadap sesama ini, saya menghadiahkan lima bintang.

N.B.: buku ini saya baca pada tahun 2013 dan masuk dalam 3 kategori Book Kaleidoscope 2013:

Baca juga: meme Scene on Three yang menggunakan salah satu adegan dalam buku ini.


Detail buku:

Lust for Life, oleh Irving Stone. Penerjemah: Rahmani Astuti, Copy-editor: Anton Kurnia
576 halaman, diterbitkan 2012 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Importance of Being Earnest – Oscar Wilde

earnestBunburying—a term that indicates a double life as an excuse for absence. (Source: Wikipedia)

Have you ever felt the need to escape some certain situations and create a fictitious character as your excuse? John (or “Jack”) Worthing, a landowner in Hertfordshire of twenty nine years of age, presents himself as Ernest Worthing in front of his love interest, Gwendolen Fairfax, her mother Lady Bracknell, and also to Gwendolen’s cousin who’s also Jack’s best friend, Algernon Moncrieff. On other occasions, in front of his ward Cecily Cardew and Miss Prism her guardian; Jack uses the character Ernest as his rebellious and irresponsible younger brother who always gets into trouble and requires Jack’s assistance all the time. Ernest was merely Jack’s tool to run away for a while from his responsibilities. Through one trivial accident, Jack was pushed to confess to Algernon that Ernest is just a product of his imagination. At the same time, Algy confesses to Jack that he also invented a character named Bunbury, who is said to be his invalid friend who has extraordinarily bad health. Algy called this activity of double life as “Bunburying” and that he and Jack were “Bunburyists”.

Jack’s problem continues when Gwendolen and Lady Bracknell came to visit Algy’s flat. Algy has agreed to give time to Jack to speak to Gwendolen by distracting Lady Bracknell’s attention. Jack then used the time to propose to Gwendolen, but then he got taken aback by Gwendolen’s speech that “her ideal has always been to love someone of the name of Ernest.” The proposal was interrupted by Lady Bracknell, who then enquired Jack for the matters of his property and family background.

On the next act, Algernon decided to steal the identity of Ernest and came to the Manor House in Hertforshire and met Jack’s young and beautiful ward, Cecily. At the same time as Algy’s “debut” as Ernest, Jack decided to “kill” his fictitious brother and showed up at the Manor House dressed in mourning clothes. You can imagine the confusion that would soon take place. Cecily and Gwendolen got entangled in confusion too when they met and realized that they both have fallen in love with a man with the name of Ernest. Of course they fell in love with two different men; Gwendolen fell in love with Jack and Cecily with Algernon. The play concludes with the revealing of Jack’s true identity, surprisingly by Lady Bracknell.

Two words that can perfectly describe this play: Funny and Absurd.

What’s funny? The interaction between Jack and Algy, especially when they fought over muffins. Algy’s craving for cucumber sandwiches.

What’s absurd? Gwendolen’s (and also Cecily’s) personal obsession about the name Ernest, Lady Bracknell’s points of view and her interview (or rather interrogation) to Jack regarding his proposal to Gwendolen, Cecily with her imaginative mind and her diary, and also Gwendolen and Cecily’s suspiciously fast growing friendship. One last thing that is absurd is how Jack and Algernon take the act of christening so casually. Interesting how the absurdities in this play are at the same time funny.

I really enjoyed reading this play, because it’s witty and easy to read (unlike Shakespeare plays which need double reading the modern version on NFS). In fact, I only have to look for some unfamiliar words on the dictionary, and voila! I finished reading it in about 3 hours. This play mocks duplicity and hypocrisy as well as Victorian traditions, social customs, and marriage. To modern readers, we may as well admit that we also practice “Bunburying” in some ways—we need not create fictional characters, but we simply tell lies or excuses to keep away from our duties. So it is now our decision whether to continue living as a “Bunburyist” or we can realize the vital importance of being earnest. 😉

5th review for Let’s Read Plays event / 25th review for The Classics Club Project / 6th review for Books in English Reading Challenge 2013

Book details:

The Importance of Being Earnest (as part of The Plays of Oscar Wilde, page 361-418), by Oscar Wilde
58 pages, published April 2000 by Wordsworth Classics/Wordsworth Editions Ltd (first published August 1894)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


This review is also counted for Books Into Movies Monthly Meme hosted by HobbyBuku’s Classic.

Books Into Movies Monthly Meme Button 1

Movie Review:

After reading the play I watched the movie adaptation of it, which was released in 2002 and directed by Oliver Parker with Colin Firth as Jack Worthing, Rupert Everett as Algernon Moncrieff, Frances O’Connor as Gwendolen, Reese Witherspoon as Cecily and Judi Dench as Lady Bracknell. Despite of some alterations on the set and timeline, it was quite faithful to the original play. I particularly liked how Judi Dench carried the role of Lady Bracknell perfectly. Well, she has always been amazing. Here are some differences between the play and the adaptation: (1)  Jack Worthing is thirty five in the adaptation, he should be only twenty nine. (2) In the adaptation, Jack is Algy’s younger brother while in the original play he is actually Algy’s older brother. (3) One interesting thing that Gwendolen tattooed the name Ernest on her body.  (4) And the ending is slightly different. Just slighty– if you have watched the movie, then you will get what I mean… Overall, both the play and the adaptation are essentially enjoyable and entertaining. See the trailer below.

The Importance of Being Earnest (2002) on IMDb

Great Expectations – Charles Dickens

GE PEL

Mind you—this will be a long review.

Young Pip was a poor orphan, to begin with. He lived in the marsh country with his old sister and her husband, Joe Gargery the blacksmith. One Christmas day, by the tombstone of his father and mother and brothers on the churchyard, he met an escaped convict from a prison-ship. This convict with a forceful threat ordered Pip to get him a file and wittles and some food. Pip was afraid to steal some food from his cruel old sister, but the more he was afraid of the threat of the rough fugitive, and so he granted his wishes. The convict was then captured by the soldiers. Then news came from Uncle Pumblechook that Miss Havisham of Satis House—she was described as an immensely rich and grim lady who lived in a large and dismal house and led a life of seclusion—wanted a boy to go and play at her house. Shortly, Pip was sent to Satis House.

A young, very beautiful girl not very far of age from Pip received him with a scornful air. Pip saw Miss Havisham for the first time in her dressing room, as the strangest lady Pip has ever seen or shall ever see. Miss Havisham looked like a rotten bride, in a withered bridal dress and a long veil like a shroud. She ordered Pip to play cards with Estella, the scornful beautiful girl, and they played. Pip then paid a regular visit to Satis House until at some point Miss Havisham bestowed him with a kindness; she funded Pip’s apprenticeship to Joe. At first it really was Pip’s dream, to be a good blacksmith like Joe, a person he admired with all his heart. But his meeting with Estella changed everything. Pip didn’t want to be a blacksmith anymore; he didn’t want Estella to think that he is common anymore.

"Play!" Pip and Estella play cards. Image source

“Play!” Pip and Estella play cards. Image source

When Pip was older, a lawyer named Mr. Jaggers came to Joe’s house to announce that Pip has a benefactor who wishes Pip to be “immediately removed from his present sphere of life and from this place, and be brought up as a gentleman, in a word, as a young fellow of great expectations.” Before Pip could start living a life of great expectations, there are two requirements he must agreed on. First, that he will always bear the name Pip, and the second, the identity of his benefactor would remain a secret, until the person him or herself chooses to reveal it. Pip must not ask or try to find out who his benefactor was. Pip was sure that his secret benefactor was Miss Havisham, and his bringing up to be a gentleman was intended to match him with Estella. This would lead us to the second stage of Pip’s great expectations, where he would live in London, being brought up to be a gentleman, befriend a cheerful young man Herbert Pocket and a clerk with dual sentiments, Mr. Wemmick, meet the ever more elegant and beautiful Estella on many occasions, and at length fell into debts.

On the second stage the story gets funnier and not as grimly told as in the first stage. Pip would also learn the history of Miss Havisham. He would desperately fall in love with Estella, and would meet a rival of pursuing Estella in form of a Bentley Drummle, an ill-tempered fellow. Pip’s perseverance in loving Estella amazed me; she doesn’t deserve it, frankly saying, as she was heartless, and she was set to wreak Miss Havisham’s revenge on men. Pip came to acknowledge what Estella really was, and still he loved her.

Was this the effect of some sort of spell Miss Havisham uttered to him? “Love her, love her, love her! If she favours you, love her. If she wounds you, love her. If she tears your heart to pieces—and as it gets older and stonger, it will tear deeper—love her, love her, love her!” I gathered a few quotes that could explain Pip’s love for Estella here, and I came to a conclusion that it was Pip’s decision to love Estella, no matter how cruel and heartless she was.

Moving onto the third and last stage of Pip’s great expectations, Pip would learn the true identity of his benefactor, and it was a dangerous truth. It is a stage when Pip’s great expectations turned into great disappointment, great struggle and great misery. There would come a time when Pip regretted meeting his convict and Miss Havisham, and there would be times when Pip makes mistakes. Through the full three stages we will see Pip’s growth, and how he copes with all things happened in his life.

***

From the very first time of my acquaintance to the story of Great Expectations, I have always thought it is some kind of a Cinderella story, with a rather unusual fairy godmother. I have watched and written a review of the 2011 BBC miniseries here (in Indonesian language). Well, this is the very first Dickens novel I have read in unabridged version and original language. Written as an autobiography of Pip, this work is a bildungsroman as well as a work of mystery, gothic fiction and social criticism in Victorian England. Dickens’s writing is amazing as usual, although I had a hard time understanding some dialogues of the characters, mostly parts of Joe and Magwitch. I think that you will need extra patience to read Dickens, as his works are mostly slowly narrated and could strike you to boredom if you cannot bear it. And still as usual, in Great Expectations Dickens made a wonderful story consists of colorful characters. From Pip we could learn perseverance, undying love, and the willingness to forgive, from Herbert optimism and cheerfulness, from Joe kindness and fatherly love, from Mr. Jaggers professionalism, from Miss Havisham the choice she made to avenge her ghastly fate. Can I say that human nature from its best to its worst can be found in Dickens’s works? If it’s true, then it will be my reason to love this book, along with its extraordinary story.

[A Little Thought About the Ending – Spoiler Alert!]

 

Not that I hate it, but it’s still hanging. I wouldn’t call it perfect like some Dickensians would. The re-marriage of Estella was mentioned, but with no further explanation. Has she been happy? Surely after eleven years, Estella has been through many things that could have shaped her into a more “humanly” figure. She said it herself on the final words of the novel (“I have been bent and broken, but—I hope—into a better shape.”) Could it be that there is an invisible happy ending for Pip and Estella? Call me mainstream for wanting happy endings, but I believe in second chances, and I believe even an Estella deserves a second chance. Or maybe it is my greatest desire to see a happy ending for Pip after all the trials and sufferings he has been through.

23rd review for The Classics Club Project | 3rd review for Books in English Reading Challenge 2013 | 1st review for Read Big! A Hefty Challenge for a Knight Reader

Book details:

Great Expectations, by Charles Dickens
592 pages, published April 2012 by Penguin Classics, a Penguin English Library edition (first published 1860)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

The Adventures of Tom Sawyer – Mark Twain

tom sawyer

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Seluruh kepribadian seorang Tom Sawyer bisa disingkat dalam dua kata: anak bandel. Lihat saja bagaimana ia mengerjai temannya Ben Rogers yang sedang lewat sambil menggigit apel ketika Tom sedang melabur pagar di hari Sabtu di musim panas (hukuman dari Bibi Polly karena kenakalannya). Dengan siasat cerdik, akhirnya Ben yang bekerja melabur pagar sementara Tom bersantai dan menghabiskan apelnya. Lihat saja bagaimana dengan siasat cerdik lainnya, Tom berhasil mendapatkan sebuah Alkitab tanpa harus menghapalkan isinya, seperti yang telah anak-anak lainnya lakukan. Dan lihat saja bagaimana Tom dan sahabatnya Huckleberry Finn nekat mendatangi pemakaman pada tengah malam gara-gara percaya takhayul, dan tidak sengaja menjadi saksi sebuah perampokan makam dan sebuah pembunuhan. Dan tidak hanya itu… ternyata gerombolan penjahat itu menyembunyikan sejumlah harta rampasan entah dimana. Biarpun merasa takut setengah mati terhadap Joe Indian yang melakukan pembunuhan di makam, Tom dan Huck berniat untuk menemukan harta itu. Juga ada cerita petualangan Tom dan kawan-kawan bermain “menjadi bajak laut”, dan juga kisah cinta monyet yang bikin gemes antara Tom dan anak perempuan hakim setempat, Becky Thatcher.

Ya, Tom memang anak bandel. Tapi, jangan berpikiran buruk dulu ketika mendengar kata “anak bandel.” Tom sesungguhnya hanya seorang bocah lelaki yang, ehm… agak kelebihan energi? Suka berkhayal? Punya rasa ingin tahu yang besar (alias kepo)? Pemberani (bahkan cenderung nekat)? Tukang cari perhatian? Yah, sesungguhnya jika kita membaca kisah Tom, pasti kita bisa menemukan sebagian dari diri kita saat masih kecil. Saat masih kecil kita juga suka kelebihan energi, suka berkhayal, suka kepo, kadang-kadang nekat dan suka cari perhatian. Sungguh, ini salah satu buku yang membuat saya kangen akan masa kecil.

Google doodle tanggal 30 November 2011, memperingati HUT Mark Twain ke-176

Google doodle tanggal 30 November 2011, memperingati HUT Mark Twain ke-176

Moral of the story? Kalau seorang anak bandel, belum tentu berarti ia jahat. Hanya memang perlu pendekatan khusus untuk meladeni anak seperti ini (pendekatan yang bagaimana? Saya sendiri nggak tahu, belum pernah punya anak sih! :D). Yang jelas membatasi seorang anak secara berlebihan sama sekali bukan solusinya. Kalau kata iklan sabun cuci “nggak kotor, nggak belajar!” demikian juga kalau seorang anak sedikit-sedikit tidak boleh ini tidak boleh itu, maka ketika ia tumbuh besar bisa jadi ia menjadi penakut, kurang kreatif, atau kurang pergaulan. Saya suka dengan karakter Bibi Polly yang di satu sisi sangat tegas dan ketat terhadap Tom, tapi sebenarnya ia sangat menyayangi anak lelaki tersebut.

1360676368606

bookmarknya lucu!

Ada beberapa versi terjemahan The Adventures of Tom Sawyer yang diterbitkan beberapa penerbit yang berbeda di Indonesia, namun pilihan saya jatuh kepada versi Penerbit Atria semata-mata karena (jujur saja) covernya yang lebih menarik dari 2 versi Tom Sawyer terbitan penerbit lain. Cover versi Atria lebih berwarna dan menarik di mata anak-anak, dan ilustrasi Tom di cover dan bookmark betul-betul punya ekspresi “bandel”. Terjemahannya tidak mengecewakan, hanya saja ada kesalahan di halaman 118, “Tom dan Sid” seharusnya “Tom dan Huck”. Sayangnya, Atria tidak menerbitkan terjemahan The Adventures of Huckleberry Finn yang boleh dibilang adalah sekuel dari Tom Sawyer (walaupun masing-masing buku bisa dibaca secara independen). Mark Twain sukses besar dalam menggali pikiran seorang bocah lelaki dan menuangkannya di atas kertas. Saya suka banget gaya penulisannya yang witty. Secara keseluruhan, buku ini sangat menghibur baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Karena ada sedikit konten kekerasan di dalamnya, dan belum lagi berbagai macam kebandelan Tom, maka menurut saya buku ini cocok dibaca anak-anak berusia 11 tahun ke atas.

Detail buku:

The Adventures of Tom Sawyer, oleh Mark Twain
386 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1876)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

 


Review in English:

Tom Sawyer. What a naughty little boy. Just see how he tricked his friend Ben Rogers who was passing by when Tom was painting the fence. It was a punishment from Aunt Polly that Tom must do, but with a clever trick Tom got Ben to do his work while he ate Ben’s apple. And just see how Tom managed to get a Bible without having to memorize its verses, like other children did. And just see how belief in superstition made Tom and his friend Huckleberry Finn came to a graveyard in midnight just in time to be witnesses of a grave robbery, and a murder. That’s not all, the grave robbers turned out to keep a hidden treasure somewhere, and despite being afraid of Joe Indian who committed the murder, they made up a plan to search for the treasure. There was also the story about Tom and his friends’ adventure as “pirates” and the story about Tom’s crush, the cute and irresistible Becky Thatcher.

Moral of the story? A naughty boy doesn’t necessarily mean that he’s evil. Kids will be kids, sometimes they have too much energy, too much imagination, too much curiosity, too much nerve, and they need attention. Reading this made me miss childhood very much, and I can find myself in Tom: I was once had too much energy, imagination, and curiosity, and even though I didn’t have Tom’s nerve, I was once an ultimate attention-seeker. Honest. Hahaha. Overall, The Adventures of Tom Sawyer is a really entertaining read to both children and adults. Btw, I love the cover of the Indonesian version I read. You can see Tom’s naughty face on it. Do you agree?


21st review for The Classics Club Project | 3rd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013  | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for 2013 TBR Pile Challenge | 1st review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Back to the Classics 2013

Therese Raquin – Émile Zola

therese raquin[Review in Bahasa Indonesia and English]

Sebuah novel klasik yang diberi judul nama seorang perempuan – misalnya Jane Eyre, Anne of Green Gables, atau Emma, biasanya mengisahkan perjuangan atau perkembangan karakter yang dialami si tokoh utama dalam hidupnya. Tapi buku ini tidak menceritakan tentang perjuangan ataupun perkembangan karakter seperti yang diceritakan dalam tiga buku diatas.

Therese Raquin yang dilahirkan dari ayah Perancis dan ibu Algeria, sejak masih kecil ditinggalkan oleh ayahnya ke dalam pengasuhan Madame Raquin. Jadilah Therese tumbuh besar bersama sepupu laki-lakinya yang ringkih dan sakit-sakitan, Camille. Karena kondisi fisik yang lemah itulah, Madame Raquin sangat memanjakan anak lelakinya sehingga Camille tumbuh menjadi seorang pemuda yang manja dan egosentris. Saat mereka dewasa, Madame Raquin menikahkan mereka berdua. Demi penghidupan yang lebih baik, keluarga Raquin pindah dari Vernon ke Paris, tepatnya di Selasar du Pont-Neuf yang lembap, gelap, dan kumuh. Kondisi ini sebenarnya membuat sesak Therese, ditambah lagi dengan mempunyai seorang suami yang pucat dan lembek. Namun Therese telah terbiasa bersikap dingin, acuh tak acuh, dan menunjukkan kepatuhan yang pasif.

Keadaan berubah setelah Camille mengundang teman kerjanya, Laurent, ke rumahnya. Bersama-sama dengan Grivet dan Michaud, mereka menghabiskan setiap Kamis malam di rumah keluarga Raquin, makan malam dan main domino. Therese memandang Laurent dengan ketertarikan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya; jika dibandingkan dengan suaminya, Laurent tampak gagah perkasa, dengan otot-otot kekar dan leher tebal. Singkat kata, Laurent kemudian menyambar kesempatan saat ia ditinggal berduaan saja dengan Therese dan perselingkuhan mereka yang kotor dan keji pun dimulai. Hubungan mereka berdua didasarkan oleh nafsu yang membabi buta— dan Therese merasa seakan ia dibangunkan dari tidur panjang setelah berhubungan dengan Laurent, sementara Laurent sendiri mendapat pelampiasan nafsunya secara gratis, karena ia tidak mampu lagi membayar pelacur untuk memuaskannya. Mengapa keji? Karena perselingkuhan itu kemudian mendorong mereka untuk membunuh Camille. Dan setelah pembunuhan itu dilakukan, apakah mereka bisa hidup bersama dengan bahagia? Ataukah justru hantu Camille bangkit dari kubur, dan menempatkan dirinya setiap malam di atas ranjang di antara Therese dan Laurent?

***

Therese Raquin bukanlah sebuah kisah yang gampang dinikmati. Tidak ada satupun dari para karakter yang mendapat simpati dari saya, boleh dikata saya benci dan jijik terhadap mereka semua. Namun, saya tak dapat menyangkal bahwa buku ini ditulis dengan luar biasa bagus. Dalam pendahuluan penulis menjelaskan, bahwa novel ini dituliskan untuk mempelajari watak dan bukannya tokoh. Di mana Laurent adalah seorang sanguinis, Therese seorang melankolis dan Camille seorang phlegmatis. Setelah membacanya saya pun paham bahwa Therese Raquin bukan sekedar novel yang mengumbar adegan tak senonoh, tapi merupakan hasil penelitian sang penulis terhadap sifat-sifat terburuk manusia, sifat-sifat yang (maaf) menyerupai binatang. Kedengaran mengerikan? Ya, memang. Namun suatu saat saya ingin membaca buku ini lagi, siapa tahu saya mendapatkan pemahaman dari segi yang lain yang tidak saya dapatkan ketika selesai membacanya untuk pertama kali. Dan sebenci-bencinya saya dengan para karakter dalam novel ini, saya merasa penulis seakan berkata kepada saya, “ya seperti ini lho manusia.” Dan kemudian perasaan benci dan jijik saya agak dilunturkan oleh rasa iba.

Segala detail yang ada dituliskan supaya pembaca bukan hanya membayangkan, namun benar-benar hidup di Selasar du Pont-Neuf yang gelap dan lembap itu, menyaksikan perselingkuhan menjijikkan Therese dan Laurent, dan bagaimana pembunuhan yang mereka lakukan menghancurkan segala yang mereka miliki sampai tak tersisa. Buku ini bagi saya memberi salah satu bukti bahwa “upah dosa adalah maut”; pembaca dibawa menyaksikan bagaimana dosa yang setitik berakibat dosa yang lebih besar dan pada akhirnya melemparkan mereka pada kehancuran. Tiga bintang untuk drama keji yang ditulis Émile Zola dengan brilian.

Detail buku:

Therese Raquin, oleh Émile Zola
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Julanda Tantani
336 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1867)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Review in English:

Therese Raquin—a novel intended by its author to be an observation of temperaments, not characters—is a novel I loathe for its characters and story, and at the same time I love for the author’s brilliant writing. It tells us about a young woman, Therese Raquin, who was raised by her aunt and then by the time she was an adult, her aunt made her married her sickly cousin Camille. The life of the Raquins was once quite normal and peaceful, before Laurent, Camille’s friend from work, came into the picture. Being a farmer’s son, Laurent was muscular and had a thick neck, which Therese couldn’t stop looking at. Shortly, Therese and Laurent engaged in a brutal, filthy, and sickening affair that soon encouraged them to murder Camille so they can be “together”. What happened after the murder was not a bit close to what they wanted. The murder lived on between them, and the dead body of the drowned Camille appeared to them and took his place on the bed between Laurent and Therese. So what’s so special about Emile Zola’s writing? It was so detailed that I felt like I really lived between the Raquins in the Passage du Pont-Neuf and witnessed Therese and Laurent’s dirty deeds. But no matter how bad I hated the characters in this novel, I felt as if the author spoke to me, “this is what human is like.” Then my hate and disgust for the characters was slightly faded by pity. I think that this novel is also proof of “Death is the penalty of sin”. I saw how sin dragged the characters into even bigger sin, and finally to destruction. For this cruel drama that actually has a deep meaning, I gave three stars.


 

20th review for The Classics Club Project | 2nd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 1st review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for Back to the Classics 2013


 A Note to My Secret Santa:

Buku ini mungkin bukan buku favoritku, tapi aku senang kamu ngasih buku ini karena akhirnya aku bisa “kenalan” dengan Émile Zola, sesuatu yang pengen kulakukan sejak lama. Dan tentu saja buku ini melengkapi koleksi novel klasik Gramedia berstempel mawar merah punyaku! So, thanks to you. #ketjup. Terima kasih juga untuk buku satunya, Letter to My Daughter nya Maya Angelou yang sudah kubaca tapi belum kutulis reviewnya. Menyusul ya! Dan, menebak siapa sebenarnya kamu membuat aku bingung. Yang pertama, resi yang berasal dari Tangerang sepertinya nggak ngasih clue yang membantu. Lalu di dalam riddlemu (riddle dari Santa sudah kuposting di sini) ada beberapa karakter fiksi: Hannibal Lecter (as in, “Hannibal Rising”, tapi beneran deh aku nggak tahu apa artinya itu) lalu Baudelaire bersaudara, Lester McKinley, Harry Potter, Sirius Black, dan Peter Pan. Dari sederetan nama ini aku mengambil nama yang paling asing buatku untuk “diselidiki”, yaitu Lester McKinley. Dan hasil penyelidikanku menyatakan bahwa seorang BBI-er yang suka sama Lester McKinley adalah Santaku, dan dia adalah….

Asriani “Ally” Purnama

Bener nggak sih? Kalo bener, berarti kamu Santaku untuk 2 tahun berturut-turut dong? *koprol sambil bilang WOW* Eniwei, event Secret Santa 2012 seru banget deh, makasih buat duet koordinator Ndari dan Oky. Thumbs up!

A Christmas Carol – Charles Dickens, and The Classics Club’s December meme

Christmas Books by Charles Dickens

[Review in Bahasa Indonesia and English (plus the answer to The Classics Club’s December meme question!)]

A Christmas Carol mungkin adalah cerita Natal yang paling diingat sepanjang masa, kecuali kisah tentang kelahiran Juruselamat itu sendiri. Ebenezer Scrooge adalah seorang pria tua yang hidup di London di era Victoria. Satu fakta mencengangkan mengenai Mr. Scrooge selain bahwa ia luar biasa kikir, adalah bahwa ia membenci Natal. Berikut adalah petikan percakapan Scrooge dengan sang keponakan Fred:

“A merry Christmas, uncle! God save you!” cried a cheerful voice. It was the voice of Scrooge’s nephew, who came upon him so quickly as this was the first intimation he had of his approach.

“Bah!” said Scrooge. “Humbug!”

“Christmas a humbug, uncle!” said Scrooge’s nephew. “You don’t mean that, I am sure?”

“I do,” said Scrooge. “Merry Christmas! What right have you to be merry? What reason have you to be merry? You’re poor enough.”

“Come then,” returned the nephew gaily. “What right have you to be dismal? What reason have you to be morose? You’re rich enough.”

Malam itu, di Malam Natal, hantu Marley menampakkan diri kepada Scrooge. Marley adalah partner kerja Scrooge yang telah meninggal dunia. Hantu Marley memperingatkan bahwa Scrooge akan didatangi oleh tiga sosok hantu; Hantu Natal Masa Lalu (Ghost of Christmas Past), Hantu Natal Masa Kini (Ghost of Christmas Present), dan Hantu Natal Masa Depan (Ghost of Christmas Yet to Come). Setiap hantu akan membawa Scrooge dalam perjalanan menembus waktu dan tempat, di mana ia akan memperoleh pelajaran untuk mengubah dirinya, bagaimana ia bersikap terhadap orang lain, dan bagaimana ia menggunakan uang yang dimilikinya untuk membantu mereka yang miskin. Cerita yang pendek, mudah ditebak (kurang lebih karena kita sudah mendengarnya disampaikan dalam berbagai versi yang lebih mudah dicerna) dan ditulis dalam gaya cerita khas Dickens yang kadang memusingkan (saya membacanya dalam bahasa Inggris), namun A Christmas Carol tetaplah sebuah cerita yang tidak bisa didepak dari memori saya.

“I will honour Christmas in my heart, and try to keep it all the year. I will live in the Past, the Present, and the Future. The Spirits of all Three shall strive within me. I will not shut out the lessons that they teach.”

Sekedar info, perkenalan pertama saya dengan A Christmas Carol adalah melalui sebuah buku anak-anak dengan tokoh-tokoh Disney yaitu Miki Tikus dan kawan-kawan. Gober Bebek sebagai Ebenezer Scrooge, Miki sebagai Bob Crachit, Donal tentu saja jadi Fred sang keponakan, dan Hantu Marley adalah Gufi #brbngakakdulu 😄 Sayangnya saya tidak bisa menemukan buku yang berjudul asli Disney’s Mickey’s Christmas Carol ini di rak buku keluarga. Sepertinya sih sudah diwariskan ke salah satu keponakan saya.

christmas_carol movie

Versi adaptasi A Christmas Carol yang paling terkenal adalah film animasi yang dirilis tahun 2009 besutan Robert Zemeckis. Tidak kurang dari tiga nama beken ada dalam daftar pengisi suara. Yang pertama tidak lain adalah Jim Carrey sang aktor serba bisa, yang dalam film ini mengisi suara Scrooge (termasuk Scrooge kecil, Scrooge muda dan Scrooge tua) dan ketiga hantu (walaupun hantu ketiga rasanya nggak ngomong apa-apa). Kemudian Gary Oldman yang menyuarakan karakter karyawan Scrooge yang miskin tapi punya keluarga besar, Bob Crachit. Tidak hanya itu, pemeran Sirius Black di seri Harry Potter ini juga mengisi suara Marley dan Tiny Tim. Yang terakhir adalah Colin Firth yang mengisi suara keponakan Scrooge, Fred. Menurut saya film ini adalah adaptasi yang bagus, apalagi dialog-dialognya banyak yang sama persis dengan di buku. Entah kenapa rating film ini di IMDb hanya 6.8…?

Saya sebenarnya membaca A Christmas Carol sebagai bagian dari The Christmas Books yang memuat tiga cerita pendek bertema Natal karya Charles Dickens. Dua cerita lainnya berjudul The Chimes dan The Cricket on the Hearth. Namun saya masih malas baca dua cerita yang lain, jadi setor review untuk A Christmas Carol saja dulu yah. Empat bintang buat kisah pertobatan Scrooge! 🙂


Review in English + The Classics Club’s December meme:

A Christmas Carol is, no doubt, the most remembered story about Christmas other than the nativity story itself. Set in Victorian England, the story tells us about the old miser Ebenezer Scrooge, a stingy man who hated Christmas. Then at Christmas Eve, his late work partner Marley came to him in a shape of a ghost to warn him of the coming of three ghosts of Christmas: Ghost of Christmas Past, Ghost of Christmas Present, and Ghost of Christmas Yet to Come. They would take Scrooge in a journey beyond time and space, a journey to self redemption.

I love the animated adaptation of A Christmas Carol (2009) directed by Robert Zemeckis, with Jim Carrey as Scrooge. I think that this adaptation is good because the dialogues hadn’t been changed much from the book. However, I don’t know why the rating for this movie on IMDb is only 6.8.

My first acquaintance with A Christmas Carol was with a children book called Disney’s Mickey’s Christmas Carol, in which Scrooge McDuck was Ebenezer Scrooge (of course), Mickey Mouse was Bob Crachit, and Goofy was the ghost of Marley (sorry, I have to laugh at this. Hahahaha.) The book was given to me as a child. Unfortunately, I can’t find the book on the family’s bookshelves now, probably it has been given to one of my nephews and nieces. And this, to answer The Classics Club’s December meme question, was my favorite memory about A Christmas Carol.

christmascarol1

A scene from Disney’s Mickey’s Christmas Carol

Now, after reading the original story, though it was written in sometimes confusing Victorian style, made my love for it even bigger. Four stars for a Christmas story that will always remain in my memory.

Book details:

A Christmas Carol, by Charles Dickens, first published 1843
Read as a part of The Christmas Books, 234 pages, published 2007 by Penguin Popular Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

18th review for The Classics Club Project


This post is also a late entry for the event Dickens in December. (Button below)

dickens-button-01-resized

Anna Karenina – Leo Tolstoy, Simplified Version

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Berangkat dari kehidupan pernikahan yang tidak bahagia, wanita bangsawan yang cantik dan cerdas Anna Karenina terpikat oleh pesona Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan. Mereka pun jatuh dalam perzinahan, sesuatu yang juga dilakukan Oblonsky, kakak laki-laki Anna, terhadap istrinya Dolly. Cerita bergulir dengan menguraikan perkembangan hubungan Anna dan Vronsky, bagaimana mereka memutuskan untuk hidup bersama meskipun Anna belum bercerai dari Karenin, suaminya. Juga pergumulan Anna yang rindu agar putranya, Seriozha, hidup bersamanya dan Vronsky. Dan salah satu hal yang terpenting adalah keteguhan hati Anna yang bertekad tetap memunculkan diri di tengah masyarakat walaupun secara sosial ia telah dikucilkan dan segala pembicaraan tentangnya selalui bernafaskan sentimen negatif. Sampai akhir cerita, Anna berjuang menghadapi segala situasi yang menghimpitnya—sampai pada suatu titik ia memutuskan bahwa ia tidak sanggup lagi.

Kisah tragis Anna dalam Anna Karenina yang dibingkai dalam setting Rusia abad ke-19 ini langsung disandingkan oleh penulis Leo Tolstoy dengan kisah Levin, sahabat Oblonsky, yang meskipun mengalami berbagai hambatan di awal hubungannya dengan perempuan yang dicintainya, Kitty, namun akhirnya mereka menikah dan menjalani kehidupan yang bahagia. Saya membaca versi simplified (disederhanakan) dari Anna Karenina ini karena ingin sekedar mengetahui jalan ceritanya, mumpung versi terbaru filmnya yang dibintangi Keira Knightley sedianya akan mulai tayang November nanti. Beberapa hal yang bisa saya pelajari dari versi sederhana Anna Karenina ini:

1. Pernikahan yang tidak didasari dengan cinta adalah sumber masalah. Pada zaman novel ini ditulis, memang pernikahan yang demikian lazim terjadi, sehingga Tolstoy mengangkat isu ini ke dalam suatu karya tulis yang menunjukkan apa akibatnya jika suatu pernikahan tidak didasari dengan cinta.

2. Deretan karakter dalam novel ini begitu manusiawi. Ambil saja contoh Anna. Pada satu sisi, keteguhan Anna patut diacungi jempol. Sebagai heroine (tokoh utama wanita) yang tidak biasa dalam sebuah novel, Anna memilih untuk berpegang pada prinsipnya sendiri dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, walaupun masyarakat dan keadaan di sekitarnya tidak merestui. Anna juga bukanlah orang yang bebal, saat ia tengah sekarat pun ia memohon pengampunan dari Karenin, suaminya. Dan Karenin, walaupun digambarkan sebagai seorang pria yang kaku dan dingin, memaafkan Anna begitu rupa sampai-sampai saya berandai-andai akan bagaimana jadinya kalau Anna dan Karenin saling mencintai.

3. Ketika memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan seseorang, cinta saja tidak cukup. Perlu ada pengabdian terhadap orang tersebut dan pengorbanan akan kepentingan-kepentingan pribadi. Dua hal ini adalah perwujudan yang lebih sempurna dari perasaan cinta. Sehingga ketika pasangan hidupmu tidak lagi rupawan ataupun menyenangkan, anda tetap akan berada di sisinya, tidak peduli apapun yang terjadi.

“Aku akan selalu mencintaimu, dan jika seseorang mencintai orang lain, ia akan mencintai keseluruhan dari orang itu apa adanya dan bukan hanya apa yang ia sukai dari orang itu.”

*

Tiga bintang untuk Anna Karenina yang meskipun dalam versi telah disederhanakan, tetap banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Apakah suatu saat nanti saya akan membaca Anna Karenina versi unabridged yang setebal bantal itu? Well, why not? 😉

Baca juga: ulasan karakter Anna Karenina

 

Detail buku:
Anna Karenina, oleh Leo Tolstoy
198 halaman, diterbitkan tahun 2005 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1877)
My rating: ♥ ♥ ♥


Review in English:

This is a short review of the simplified version of Anna Karenina. Why the simplified version, you might ask? Well, I found it at a book fair the other day and I was just curious with the storyline of Anna Karenina, I thought that at least I should have read the simplified version before the recent adaptation is out next November. So I bought it and read it within 2 days only (it’s only 198 pages thick). And what I got was the tragic story of Anna, an attractive young woman living in the high society of 19th century Russia. Sick and tired of her cold and boring husband Karenin, Anna seek solace in the arms of a handsome young officer named Count Vronsky. As their affair was going on, Anna still was troubled by her love for her son and Karenin’s, Seriozha. Anna wanted Seriozha to live with her and Vronsky, but Karenin, still wasn’t divorcing Anna, wouldn’t let Seriozha go. In the meantime, Anna was secluded from society as a form of punishment for her act of adultery with Vronsky. But being a rather unusual heroine, Anna was determined to keep her place in society, even though her presence was unwanted and disdained.

The oh-so-glamorous trailer of Anna Karenina (coming up December 2012)

Even though this was only a simplified version, there are a lot of moral values I can take from Anna Karenina. First, marriage without love is the source of trouble. Second, the characters of this novel were so human with their flaws. I was especially impressed in Anna’s determination to live her life in her own way, no matter how disgraced her life was, no matter what society said and think of her. The moment when Anna was dying and begging for forgiveness from Karenin drove me to tears and I wished that she loved her husband instead, so that any of the terrible things wouldn’t happen to her! But hey, there wouldn’t be the Anna Karenina we all know today if she did. Lastly, when you decided to spend your life with someone, love is not enough. You need to devote yourself to your partner and sacrifice your personal matters, so that one day if your partner is no longer pretty or nice, you will still be at his/her side and never leave no matter what happens. So, I gave three out of five stars for the simplified version of Anna Karenina. Will I read the unabridged version someday? Well, why not? I’m honestly tempted to do so.

11th review for The Classics Club Project, 7th review for The Classic Bribe

The Jungle Book – Rudyard Kipling, and a Wrap-Up for A Victorian Celebration!

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Ini review yang harusnya ditulis berbulan-bulan yang lalu, tapi better late than never kan ya? 😉

Awalnya sukar untuk menghilangkan kesan “Disney-ish” dalam benak saya terhadap buku ini, apalagi karena covernya memang mengadaptasi film kartun The Jungle Book versi Disney. Namun ketika saya mulai membacanya, saya pun larut dalam suatu Rimba ciptaan Rudyard Kipling yang begitu liar dan begitu nyata.

Buku yang memuat gabungan cerpen dan puisi ini dibuka dengan ditemukannya bayi manusia di hutan rimba, yang kita kenal dengan nama Mowgli. Dalam cerpen Mowgli dan Saudara Serigala, anak manusia yang dimangsa oleh Shere Khan si Harimau Pincang dibela mati-matian oleh Mama dan Papa Serigala, dan malah nantinya merekalah yang membesarkan Mowgli yang licin tak berbulu. Tumbuh besar di Bukit Batuan di tengah-tengah saudara-saudara serigala, Mowgli diajarkan bagaimana hidup di Rimba oleh Beruang Hitam Baloo dan Macan Kumbang Hitam Bagheera. Pada saatnya nanti (di cerpen Harimau Harimau), Mowgli harus berhadapan sendiri dengan Shere Khan, yang dari awal sudah menetapkan hati untuk menghabisi Mowgli. Di dalam cerita Mowgli juga bertemu dengan Kaa, si ular piton sepanjang tiga puluh kaki yang ditakuti kaum monyet, namun sebenarnya baik hati dan ikut andil menyelamatkan nyawa Mowgli.

“Kita ini satu darah, kau dan aku,” jawab Mowgli. “Aku berutang nyawa padamu, malam ini. Buruanku akan menjadi buruanmu jika kau lapar, wahai Kaa.”

Klimaks kisah Mowgli diceritakan dengan gemilang dalam adegan pertarungan menegangkan antara Mowgli dan Shere Khan. Di cerita yang lain, Mowgli dikisahkan kembali hidup di desa bersama dengan saudara-saudara manusianya, tetapi ia tidak merasa betah dan rindu kembali ke Rimba, rindu saudara-saudara serigalanya. Mowgli tidak mengerti sistem kasta yang berlaku di dunia manusia, sehingga ia gampang saja mengulurkan tangan untuk membantu seorang pembuat tembikar yang kastanya lebih rendah daripadanya.

Tidak semua bagian dari The Jungle Book berkisah tentang Mowgli. Dalam cerpen Anjing Laut Putih, Kipling menceritakan tentang Kotick, seekor bayi anjing laut berkulit putih, di tengah suasana migrasi para anjing laut. Saat Kotick sudah lebih dewasa, ia berkeinginan untuk mencari pulau yang baru untuk migrasi yang jauh dari manusia. Walau sempat menemui pertentangan anjing laut-anjing laut lain, dengan berusaha keras akhirnya ia mampu mewujudkan cita-citanya.

Beirkutnya cerpen “Rikki-Tikki-Tavi” yang menceritakan petualangan Rikki-tikki-tavi, seekor mongoose, yang berjuang melindungi tuannya, keluarga manusia yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki bernama Teddy, dari serangan ular kobra Nag dan Nagaina. Buku ditutup dengan cerpen Toomai Sang Penakluk Gajah. Toomai Mungil dikisahkan sangat beruntung karena bisa menyaksikan Tarian Para Gajah di jantung Bukit Garo, sesuatu yang tidak pernah disaksikan manusia manapun sebelumnya!

Dari semua puisi di buku ini, yang dibawah ini termasuk favorit saya (“Perburuan Kaa”)

Macan cintai tutulnya,
Banteng bangga pada tanduknya.
Waspadalah, bagaimana ia sembunyi
itulah kekuatannya.
Kau tahu sapi bisa menendangmu,
tanduk tebal Sambhur menerjangmu
Tak perlu kami kau beritahu,
kami tahu sedari sepuluh musim lalu.
Jangan sakiti anak si hewan liar,
anggaplah ia saudara
Walau kecil dan montok,
Beruanglah ibunda mereka
“Tak ada yang kalahkan kami!” ujar si kecil
bangga saat pertama berburu
Rimba begitu luas dan ia begitu mungil.
Ajari ia diam dan tak sok tahu.

Walaupun berkisah tentang binatang, ada banyak nilai moral yang bisa diambil pembaca dari fabel ini. Misalnya tentang persaudaraan serigala yang begitu erat dan kuat, juga Hukum Rimba yang diceritakan adil bagi semua pihak. Tiga bintang bagi Rimba ciptaan Rudyard Kipling. Juga karena terjemahan oleh Anggun Prameswari yang enak dibaca. Jujur saja sebenarnya saya kurang suka cover “Disney-ish” buku ini, tapi OK lah kalau memang menyasar ke segmen anak-anak.

Detail buku:
“The Jungle Book”, oleh Rudyard Kipling
246 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1894)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

 At first it was hard to get rid the “Disney-ish” aura from this book. But as I started reading, I found that the author is drowning me into a world, to be more specific a Jungle, where it all felt wild and strangely real. This book contains short stories and poems, which the first short story introduced us to Mowgli, a son of man that was raised by wolves in the Jungle. In order to defeat his enemy, the tiger Shere Khan, Mowgli was being taught how to to live in the jungle and to fight by Bagheera the black panther and Baloo the bear. There are other stories that don’t tell readers about Mowgli, like The White Seal, Rikki-Tikki-Tavi, and Toomai of the Elephants. This work of fable has a moral tone that we humans could learn from. Take the strong bond of brotherhood of the wolves, and how The Rule of the Jungle is fair to every living being in it. Overall, I gave three stars for Rudyard Kipling’s The Jungle Book.

10th review for The Classics Club Project, 4th review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classic Bribe


This post also marks my wrap-up for A Victorian Celebration.

From the 9 books I intended to read at the beginning of the event, I was only able to finish 5:

The Happy Prince by Oscar Wilde

Little Lord Fauntleroy by Frances Hodgson Burnett

Just So Stories by Rudyard Kipling

The Jungle Book by Rudyard Kipling

And one non-English Victorian novel, which is Anna Karenina by Leo Tolstoy. I haven’t got enough time to write its review, along with a review of Great Expectations BBC miniseries (2011) that I intend to write also. I’ll be writing them very soon!

I also wrote one author focus on Rudyard Kipling (in Bahasa) for A Victorian Celebration. I’m glad I joined this event, even though I haven’t had enough time to finish all the books in my reading list, and honestly I’m still having difficulties in understanding some Victorian idioms (like those in Charlotte Brontë’s Villette). But well, that won’t keep me from reading more of them Victorian works! So you see, A Victorian Celebration isn’t over for me yet! 😉

Pangeran Bahagia – Oscar Wilde

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Dongeng untuk segala usia. Buku tipis yang berisi lima cerita pendek karya Oscar Wilde ini sungguh sayang untuk dilewatkan dan menyenangkan untuk dibaca berulang-ulang. Lewat untaian kata-kata yang indah, cenderung tragis, dan penuh sindiran, Wilde berusaha mengajak pembaca untuk berhenti dan merenungkan apa artinya menjadi manusia seutuhnya. Bahwa manusia diciptakan satu paket dengan kemampuan untuk mencintai dengan tulus, apakah kita sudah mampu untuk melakukannya? Inilah kelima cerpen yang termuat dalam kumcer Pangeran Bahagia:

1. Pangeran Bahagia (judul asli: The Happy Prince)

Pangeran Bahagia adalah sebuah patung yang berdiri di atas tiang tinggi dan menatap kota dari ketinggian. Tubuh sang Pangeran bersepuhkan emas murni, matanya dari batu safir, dan pedang yang dipegangnya berhiaskan batu delima besar yang berkilauan. Suatu ketika seekor burung Walet mungil terbang mendatangi sang Pangeran dan bertengger di bahunya. Saat itulah, Walet kecil mendapati bahwa sang Pangeran tidak bahagia sama sekali! Sang Pangeran kemudian memohon si Walet kecil untuk membantunya merasa bahagia, dan si Walet mengabulkan permintaannya, meskipun rencananya untuk terbang ke Mesir menyusul kawanannya yang migrasi karena musim dingin harus tertunda. Di akhir cerita, pembaca akan menemukan apa sebenarnya yang diperlukan untuk menjadi bahagia, dan bukan tidak mungkin akan menitikkan air mata haru. :’)

2. Bunga Mawar dan Burung Bulbul (judul asli: The Nightingale and the Rose)

Seorang Pelajar Muda hendak memberikan sekuntum bunga mawar merah untuk gadis yang dicintainya, namun ia tidak mendapatinya dimana-mana. Seekor burung bulbul mendengar si pemuda menangis karena putus asa, dan saat itu juga Burung Bulbul memutuskan untuk menolongnya.

“Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati,”  kata si Burung Bulbul. “Malam demi malam aku bernyanyi untuknya, meskipun aku tidak mengenalnya. Malam demi malam juga telah kuceritakan kepadanya cerita tentang bintang-bintang, dan akhirnya bisa juga kusaksikan sang kekasih sejati. Rambutnya sehitam bunga bakung, dan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; tapi keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan kesengsaraan tergambar jelas di keningnya.”

Maka dimulailah pencarian si Burung Bulbul akan sekuntum mawar merah, pencarian yang akan membuatnya melakukan pengorbanan yang amat menyakitkan…

3. Raksasa yang Egois (judul asli: The Selfish Giant)

Konon, ada seorang Raksasa yang memiliki sebuah taman yang besar dan indah, dan anak-anak sangat suka bermain di taman itu. Setelah kembali dari bepergian selama tujuh tahun, sang Raksasa merasa tidak senang akan anak-anak yang bermain di tamannya, dan ia memasang papan pengumuman yang berbunyi, “Barangsiapa yang sembarangan masuk akan dihukum”. Anak-anak merasa sedih, dan Musim Semi dan Musim Panas mendengar kesedihan mereka sehingga mereka enggan menghampiri kediaman sang Raksasa. Hasilnya, Musim Salju beserta kawan-kawannya yang berpesta pora melingkupi taman sang Raksasa. Suatu hari, tiba-tiba taman sang Raksasa dilingkupi Musim Semi yang paling indah, dan ia melihat seorang anak yang sangat mungil yang berusaha untuk mencapai cabang-cabang pohon. Hati sang Raksasa tersentuh melihatnya, namun sesudah itu ia tidak lagi melihat si anak mungil yang misterius tersebut. Siapakah ia?

4. Teman yang Setia (judul asli: The Devoted Friend)

Apakah kamu merasa bahwa dirimu seorang teman yang setia? Cobalah baca cerpen yang satu ini, dan simak percakapan antara seekor Tikus Air tua dan Burung Pipit. Burung Pipit bercerita kepada Tikus Air tua mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans, dan “teman sejati”nya, si Tukang Giling. Membaca kisah ini mengingatkan saya akan sebuah kisah yang diceritakan Nabi Natan kepada Daud* tentang seorang kaya yang memiliki banyak kambing domba, namun ia mengambil domba satu-satunya milik tetangganya yang miskin, untuk disajikan bagi tamunya. Egois! Demikian pula si Tukang Giling, karakter yang akan membuatmu sebal luar biasa. Namun setelah itu bercerminlah, apakah dirimu seorang teman yang sejati, tanpa tanda kutip?

*2 Samuel 12:1-4

5. Roket yang Luar Biasa (judul asli: The Remarkable Rocket)

Orang yang berkoar-koar bahwa dirinya paling penting, kemungkinan besar akan sampai pada akhir yang menunjukkan bahwa ia tidak sepenting yang ia kira. Sepertinya inilah pesan yang ingin disampaikan Oscar Wilde melalui cerpen ini. Kita akan melihat sebuah kerajaan yang sedang berpesta atas pernikahan sang putra mahkota dengan seorang putri yang sangat cantik. Semua kembang api berlomba-lomba memeriahkan pesta itu, mulai dari si Petasan mungil, Mercon besar, Kembang Api Kicir-kicir, Cerawat, dan si Lentera Terbang. Namun sang Roket yang Luar Biasa malah mengoceh tak karuan, dan akhirnya tidak berkesempatan untuk menunjukkan kebolehannya, dan malah jadi tersia-sia. Akibat omong besar, kejayaan berlalu begitu saja dari dirinya.

Empat bintang buat buku ini!

Detail buku:
“Pangeran Bahagia” (judul asli: “The Happy Prince and Other Stories”), oleh Oscar Wilde, penerjemah: Risyiana Muthia
108 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta (terbit pertama kali Mei 1888)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Tentang Oscar Wilde

Sastrawan legendaris bernama lengkap Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (inisialnya O.F.O’F.W.W.) yang hidup tahun 1854-1900 ini lahir di Dublin, Irlandia, dan terkenal akan karya-karyanya yang beragam, mulai cerpen, novel, puisi, esai, dan lakon, dan juga akan kisah hidupnya yang kontroversial. Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah The Happy Prince and Other Stories (1888), The Picture of Dorian Gray (novel, 1890), Lord Arthur Savile’s Crime (kumpulan cerpen, 1891), Lady Windermere’s Fan (lakon, 1892), A Woman of No Importance (lakon, 1893), An Ideal Husband (lakon, 1895), dan The Importance of Being Earnest (lakon, 1895). Berikut adalah kredo kepenulisan seorang Oscar Wilde yang termuat dalam pengantar novel The Picture of Dorian Gray:

“Tak ada yang namanya buku bermoral atau tak bermoral. Yang ada hanyalah buku yang ditulis dengan baik atau yang ditulis dengan buruk.”


 Conclusion:

I really don’t have much to say about this book. It was wonderful: beautiful, tragic, and satirical. It makes readers stop and contemplate from the stories; are we truly a complete human being? Are we capable of loving our neighbors with all our heart? Are we capable of loving so much that we are willing to make sacrifices for those we love? Are we selfish or selfless? Are we truly a devoted friend towards others? Do we boast much? These are the questions that popped into my head during and after reading this collection of short stories. This book is—with no doubt, a collection of tales for any age. 4 from 5 stars for The Happy Prince!

1st review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classics Club Project, 2nd review for The Classic Bribe