All the Light We Cannot See – Anthony Doerr

all the light we cannot see

What to expect when you read a historical novel set in wartime? A display of brutality, a spectacle of bravery or cowardice or both, an atmosphere terrorized by bombs and soldiers, and, inevitably, tragic deaths, traumatized survivors. It would be stupid to expect a happy ending from a historical novel set in wartime.

But All the Light We Cannot See is unlike any war-themed historical novels I have read. Some books focus on the relationships (which usually make the tragedy even more depressing), some others on the desperate efforts the characters were making in attempt to get out of a situation, and some books reveal the reality of man when faced with fire; the worst and the best. This book combines all that, and more.

The story revolves around two major characters. First is a sightless French girl named Marie-Laure LeBlanc, daughter of the locksmith of the Museum of Natural History in Paris. Her father made her a model of their neighborhood in Paris and later the city of Saint-Malo, and got her Jules Verne books in Braille for her birthday. When German airplanes began to bomb Paris, she and her father fled to Saint-Malo, a walled city in northern coast of France to stay with her great-uncle, Etienne LeBlanc. It was unknown to Marie that they carried a dangerous treasure with them; an exotic blue diamond worth millions of francs known as the Sea of Flames.

The second major character is Werner Pfennig, a white-haired German boy who grew up in an orphanage with her sister. He liked to fix radios while her sister Jutta was busy making sketches. His intelligence and talent earned him a place in Schulpforta, a special school where the best German boys were trained for the war. Despite the brutality he faced everyday at Schulpforta, he had a heartwarming friendship with a boy named Frederick. Later he was sent for missions to several cities and finally, to Saint-Malo where he crossed paths with Marie-Laure, as the vague details of the story was being unwrapped one by one.

I am usually fascinated by war-themed books, and by the time I saw the cover of this book I was instantly attracted. On the cover it shows a photograph of a walled city by the sea and big skies. It is blue, my favorite color. And the fact that it won Pulitzer Prize for Fiction in 2015 made me set my heart to read it. But what makes this book different? It was very detailed and rather slow-paced that it took me 25 days to finish it. I have never read anything by Anthony Doerr before, but after reading this book I would like to think that he is a scientist with the soul of a storyteller, or maybe the other way around. He poured little details about locks, mollusks, diamonds, radios, birds, light, and science into the story and brought all of them together with a style of writing I find rather romantic.

The brain is locked in total darkness, of course, children, says the voice. It floats in a clear liquid inside the skull, never in the light. And yet the world it constructs in the mind is full of light. It brims with color and movement. So how, children, does the brain, which lives without a spark of light, build for us a world full of light?

War-themed books usually left me emotionally wrecked, but it’s not the same case with this book. It didn’t make me cry, but I am deeply moved by how the characters showed kindness toward each other, even in unlikely times and situations. I found more spark in the minor characters like Frederick and Madame Manec than in characters with bigger roles, but I love Werner Pfennig with all my heart, and wished that somehow, he could be spared of premature death. I am a little irritated when the characters “sees” or “hears”, as if they were relentlessly reminded of the past, whether it was in their near or distant past. Maybe if this happened only to several characters and not almost all of them, I would not be as annoyed. However, I love the way the author wove together the little stories of each characters into one epic and exquisitely written tale of courage and humanity. Five stars for this book.

“You must never stop believing. That’s the most important thing.” – Madame Manec


Book details:

All the Light We Cannot See, by Anthony Doerr
531 pages, published May 2015 by Simon and Schuster
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Suite Française – Irène Némirovsky

suite francaiseDisebut-sebut sebagai proyek paling ambisius dari penulis Prancis kelahiran Ukraina Irène Némirovsky, Suite Française berusaha menggambarkan penderitaan masyarakat Prancis—semendetail mungkin –pada sebuah kurun waktu dari Perang Dunia II. Lebih lanjut, Suite Française membawa sederetan karakter yang mewakili masyarakat Prancis dari berbagai kelas sosial.

Badai di Bulan Juni

Bagian pertama novel ini diberi judul “Badai di Bulan Juni”, mengambil waktu mulai dari bulan Juni 1940 saat tentara Jerman memulai pendudukan atas Prancis . Berikut ini adalah karakter-karakter yang ada di dalamnya:

Yang pertama ada keluarga Péricand, keluarga kaya dan terhormat. Philippe, anak lelaki tertua pasangan Péricand adalah seorang pendeta, adiknya Hubert remaja delapan belas tahun yang masih kekanak-kanakan, dan tiga adik mereka, Bernard, Jacqueline, dan Emmanuel masih kecil-kecil. Kakek Péricand , sang ahli waris keluarga Maltête dari Lyon, sudah cacat dan duduk di kursi roda. Dengan kekayaan yang mereka miliki, keluarga Péricand selalu menyisihkan sebagian untuk amal sesuai dengan kewajiban penganut Kristen yang baik, demikian kata Madame Péricand.

Kemudian ada penulis Gabriel Corte, kaya dan terkenal, namun sangat sombong. Corte punya banyak wanita simpanan, namun hanya satu yang “resmi”, yaitu Florence. Mewakili rakyat kelas menengah, ada pasangan Michaud yang sederhana dan hidup dengan harmonis. Maurice sang suami bekerja sebagai karyawan bagian keuangan dan Jeanne sang istri sekretaris di bank yang dipimpin Monsieur Corbin. Pasangan Michaud memiliki seorang putra, Jean-Marie, yang ikut berperang membela Prancis. Dan juga ada Charles Langelet, seorang pria kaya kolektor barang-barang indah, yang dikenal sangat kikir.

Baik keluarga Péricand, Gabriel Corte dan Florence, pasangan Michaud, Monsieur Corbin dan wanita simpanannya, dan juga Charles Langelet mempunyai misi yang sama: pergi sejauh mungkin dari Paris karena kota itu akan diduduki tentara Jerman. Dari sini pembaca diajak menelusuri apa saja yang dialami para tokoh saat mereka pergi meninggalkan Paris. Yang kaya berusaha membawa sebanyak mungkin harta benda dan makanan yang mereka miliki, dan membawa mobil, tentu saja, walaupun persediaan bensin menipis. Sementara itu, pasangan Michaud yang tidak mendapat tumpangan di mobil Monsieur Corbin terpaksa pergi berjalan kaki, menyeret koper-koper berat dalam cuaca bulan Juni yang panas.

Mereka berusaha pergi dari Paris ke tempat tujuan masing-masing, di tengah ancaman bom dan tembakan dari pesawat-pesawat Jerman, belum lagi ancaman perampokan dari sesama warga sipil. Segalanya kacau balau. Dihadapkan dengan situasi yang sulit, barulah terungkap sifat asli masing-masing karakter. Madame Péricand yang selalu mengajari anak-anaknya untuk menolong orang lain, malah marah-marah ketika melihat dua anaknya membagi-bagikan permen dan cokelat dengan orang-orang di sekitar mereka. Maurice dan Jeanne Michaud menanggung beban mereka dengan cukup sabar, namun Jeanne dihantui ketakutan bahwa putra tercintanya tak selamat. Gabriel Corte dengan angkuh menolak kamar hotel yang baginya kurang nyaman, padahal ada sepuluh keluarga pengungsi lainnya yang memohon-mohon supaya diberikan kamar itu. Charles Langelet yang kehabisan bensin di tengah perjalanan tega mencuri mobil sepasang orang muda. Sementara itu Jean-Marie yang terluka, ditemukan dan dirawat oleh keluarga petani yang memiliki dua orang putri, yang pertama putri kandung dan yang satunya lagi putri angkat: Cécile dan Madeleine.

Dolce

Bagian kedua yang berjudul “Dolce” menceritakan bulan-bulan pertama pendudukan Jerman di Prancis. Ada beberapa karakter baru, antara lain:

Keluarga Angellier dari kaum borjuis, yang terdiri dari Madame Angellier dan menantu perempuannya, Lucile. Gaston, anak lelaki Madame Angellier dan suami Lucile, ikut berperang dan sedang ditawan oleh Jerman. Madame Angellier seorang wanita yang otoriter dan dominan, sedangkan Lucile yang cantik penyendiri dan kutu buku. Kedua wanita yang bertolak belakang ini tinggal di sebuah rumah indah di Bussy, desa yang pada saat itu diduduki tentara Jerman. Seperti di banyak rumah lainnya, mereka harus menerima seorang perwira Jerman untuk tinggal dalam rumah mereka.

Perwira Jerman yang tinggal di rumah Angellier bernama Bruno von Falk, pemuda tampan dengan mata besar dan rambut pirang. Walau pada mulanya Lucile bersikap kaku terhadap “musuh dalam selimut” ini, namun keramahan Bruno membuatnya luluh dan akhirnya mereka pun berteman. Hubungan pertemanan ini lambat laun berubah menjadi sesuatu yang lain… apalagi karena Lucile tak benar-benar mencintai suaminya yang serong. Hal ini tak luput dari pengamatan Madame Angellier yang merasa Lucile telah mengkhianati putranya.

Vicomte dan Vicomtesse de Montmort adalah sepasang bangsawan yang hipokrit. Sang Vicomtesse berseru di depan murid-murid sekolah supaya mereka “bermurah hati” dan “tidak memikirkan diri sendiri”, sementara ia sendiri memakai sepatu seharga delapan ratus lima puluh franc. Ada kebencian turun temurun antara keluarga Sabarie dan keluarga Montmort.

Keluarga Sabarie—keluarga petani yang merawat Jean-Marie Michaud—kembali muncul dalam bagian kedua novel ini. Madeleine sudah menikah dengan Benoît, putra keluarga Sabarie, meskipun ia masih mencintai Jean-Marie. Karena pertikaian dengan perwira Jerman yang tinggal di rumah mereka (Benoît cemburu buta melihat perwira itu menggoda istrinya), Benoît melarikan diri dan akhirnya bersembunyi di rumah keluarga Angellier. Madame Angellier yang notabene kelasnya jauh diatas Benoît, menerimanya demi membantu sesama orang Prancis.

Thoughts:

Jika pada Badai di Bulan Juni cerita mengalir lebih cepat dan dengan tone yang gelap, dalam Dolce cerita mengalir dengan lebih lambat dan tidak segelap bagian pertama, karena dalam Dolce pembaca melihat para tentara Jerman membangun hubungan baik dengan warga desa (entah tulus atau tidak), sampai-sampai warga desa menyesali saat kepergian mereka, dengan alasan jika mereka diduduki tentara lain lagi, belum tentu sikap tentara baru itu akan sebaik tentara Jerman yang pernah menduduki desa mereka.

Dalam Badai di Bulan Juni diperlihatkan bagaimana sebagian besar karakter bersikap buruk dan moralnya merosot, sementara kebaikan ditonjolkan oleh pasangan Michaud yang meski menderita, namun mereka tetap tulus, sabar dan nrimo. Hubungan yang harmonis antara pasangan suami istri Michaud cukup dapat menghangatkan hati pembaca, apalagi ketika mereka dihajar dengan hadiah yang manis pada akhir bagian pertama.

Hal paling menarik dalam Dolce mungkin adalah hubungan yang berkembang antara Lucile dan Bruno von Falk. Lucile yang sudah muak dengan suasana perang menemukan seorang teman dalam diri Bruno, dan memandangnya sepenuhnya sebagai seorang manusia yang bisa diajak berbicara dan berbagi; seragam hijau tentara Jerman yang dipakai Bruno diabaikan oleh mata Lucile.

“Tentu dalam perang,” katanya kepada dirinya sendiri, “ada tahanan perang, janda, penderitaan, kelaparan, pendudukan. Lalu, kenapa? Aku tak pernah melakukan hal yang salah. Dia seorang teman yang patut dihargai, buku, musik, percakapan-percakapan panjang kami, berjalan-jalan bersama di Hutan Maie… Yang menjadikan hal ini sebagai hal yang tak patut dilakukan adalah perang ini, penderitaan universal ini. Tetapi ia tak lebih bertanggung jawab daripada aku! Ini bukan salah kami. Kalau saja mereka membiarkan kami… Kalau saja mereka membiarkan saja kami!”

Pada akhirnya Lucile memutuskan bahwa meski perang yang kejam mengubah banyak hal, namun ia ingin kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, ia punya hak menentukan nasibnya sendiri. Ia memutuskan bahwa ia tak peduli bahwa negaranya dan negara si perwira saling berperang, karena kenyataannya Lucile dan Bruno bersahabat. Semua itu tidak salah… yang menjadikan salah adalah adanya perang yang memborbardir kedamaian antar manusia.

Mungkin, daya tarik paling utama dari Suite Française adalah fakta bahwa novel ini tidak selesai. Sang penulis, dalam catatan-catatan pribadi yang dilampirkan dalam apendiks, mengungkapkan rencananya untuk menulis novel dalam lima volume dengan total sekitar 1.600 halaman. Melalui apendiks kita tahu bahwa Irène Némirovsky tidak main-main dalam menulis, ia punya pemahaman memadai tentang keadaan politik dan sosial Prancis sebagai modal untuk menulis buku mahakaryanya. Walaupun tahu ajalnya sudah mendekat, ia tidak berhenti menulis. Dan penulisannya memang cantik meskipun terjemahannya (atau editannya, atau keduanya) kurang mampu mempertahankan kecantikan tulisan aslinya. Pada banyak bagian saya menemukan terjemahan yang aneh dan editan yang berantakan.

Kisah tentang sang penulis sendiri juga tak kalah menariknya (baca Prakata pada apendiks): beliau adalah seorang Yahudi yang ditangkap Jerman bulan Juli 1942 dan kelak tewas di kamar gas (dengan demikian meninggalkan Suite Française tidak terselesaikan). Diceritakan juga bagaimana manuskrip Suite Française selamat berkat Denise, putri Némirovsky dan baru dipublikasikan enam puluh tahun kemudian. Seandainya novel ini selesai, bukan tidak mungkin Suite Française bisa menyaingi kebesaran War and Peace karya Leo Tolstoy. Namun takdir sudah berkata lain, dan kita harus puas dengan dua bagian novel yang memberi kita sekilas pemahaman tentang perasaan dan penderitaan rakyat sipil Prancis saat Perang Dunia II berkecamuk, khususnya pada awal pendudukan Jerman di Prancis.


suite_francaise_12sht_f-page-001

Suite Française sudah difilmkan dengan bintang Michelle Williams sebagai Lucile Angellier, Matthias Schoenaerts sebagai Bruno von Falk dan Kristin Scott Thomas sebagai Madame Angellier. Bagaimana film ini mengembangkan cerita dari novelnya yang tidak selesai? Kita lihat saja nanti…

2nd review for Project Baca Buku Cetak | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Read Big Challenge 2015


Detail buku:

Suite Française, oleh Irène Némirovsky
642 halaman, diterbitkan 2011 oleh Penerbit Qanita (Mizan Group) (pertama kali diterbitkan 2004)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

beekeeperMary Russell baru berusia lima belas tahun ketika ia bertemu dengan Sherlock Holmes untuk pertama kalinya. Dalam suatu pertemuan tanpa sengaja itu Holmes menyadari bahwa ia menemukan “permata yang terpendam”, yakni kecerdasan yang luar biasa yang tak disangkanya bisa ia temukan dalam diri seorang gadis muda. Saat itu Holmes yang sudah pensiun dan sudah memasuki usia paruh baya itu menyibukkan dirinya dengan beternak lebah. Tidak butuh waktu lama bagi Holmes untuk merekrut Mary sebagai muridnya. Mereka mulai bekerjasama dalam menangani berbagai kasus. Kasus yang pertama adalah suami seorang wanita yang tiba-tiba sakit secara mencurigakan, kemudian kasus penculikan seorang putri senator Amerika, dan yang terakhir teror bom yang mengancam nyawa Holmes, Russell, dan juga kawan-kawan dekat Holmes seperti Dr. Watson, Mrs. Hudson, dan juga Mycroft Holmes sehingga mereka harus berpencar ke segala arah demi mengatur strategi menghadapi musuh yang pintar dan licin ini.

[Spoiler Alert!]

Sebagai sebuah novel detektif, buku ini cukup menghibur. Dalam beberapa peristiwa pembaca dapat merasakan simpati yang dalam terhadap karakter Mary Russell yang kehilangan kedua orang tua dan adiknya melalui peristiwa yang sangat mengerikan dan memilukan, dan juga terhadap Sherlock Holmes, yang betapapun brilian otaknya, tetap seorang manusia yang tidak luput dari masa penuaan.

Bagi saya, ide mempertemukan sesosok tokoh detektif selevel Sherlock Holmes yang sudah mencapai usia senior (sekitar 60 tahun) dengan seorang gadis muda pintar yang kemudian menjadi murid dan selanjutnya partnernya—adalah sungguh-sungguh absurd. Namun, event Laurie R. King Read-A-Long yang dihost oleh Fanda bulan lalu membuat saya tertarik untuk membaca buku ini, dan mungkin juga karena faktor covernya yang merah dan mewah.

Dari beberapa novel yang mengambil era Regency (misalnya novel-novel Austen) dan era Victoria, memang pernikahan yang terjadi antara seorang gadis muda dan seorang lelaki yang lebih tua berpuluh-puluh tahun darinya sering terjadi dan mungkin dianggap lazim. Tapi bagaimana dalam setting waktu yang diambil buku ini, yaitu pada tahun 1920-an setelah Perang Dunia Pertama? Bagaimanapun, saya tetap merasa aneh bahwa karakter Mary Russell yang belum genap dua puluh tahun dan Sherlock Holmes yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun bisa memiliki hubungan yang romantis (atau setidaknya dalam buku ini, hampir romantis). Saya akan jauh lebih suka jika Mary Russell murni menjadi murid dan sidekick Sherlock Holmes tanpa membuat mereka menjadi pasangan romantis. Coba bayangkan Mary Russell yang beranjak dewasa memiliki pasangan dan Sherlock Holmes akan berperan menjadi “paman tua yang sok tahu dan selalu ikut campur”. Tak kalah menarik, bukan? Tapi, oh well, saya bukan sang penulis, dan seri ini toh telah diterbitkan sampai buku yang ke-12 (lihat semua serinya di sini).

Satu hal lagi yang saya tidak sukai dari buku ini, adalah adegan saat Holmes ingin mengerjakan sesuatu sendirian dan menolak melibatkan Russell, yang ditanggapi oleh Russell dengan: “Holmes, kau tidak bisa berbuat begini kepadaku. Kau tidak berkata apa-apa kepadaku, kau sama sekali tidak meminta saranku, hanya mendorongku ke sana kemari, mengabaikan segala rencana yang mungkin kumiliki, menyimpan rahasia dariku seakan aku adalah Watson, dan kini kau hendak pergi dan meninggalkanku dengan daftar belanjaan. Pertama-tama kalu menyebutku mitra, lalu kau mulai memperlakukanku seperti pelayan. Bahkan murid magang pun patut diperlakukan lebih baik dari pada itu.” – hal. 280

Dalam adegan yang lain pun Mary Russell menganggap Dr. Watson “tidak berguna” walaupun kemudian ia menyadari bahwa Watson sangat baik hati. Saya bukan pembaca setia seri Sherlock Holmes dan saya tidak tahu seperti apa hubungan Holmes-Watson yang sesungguhnya dalam tulisan Conan Doyle, namun bagi saya karakter Mary Russell dengan terang-terangan merendahkan peran Dr. Watson, and I dislike that. (Iya deh, mungkin ini efek dari terlalu banyak nonton seri Sherlock BBC di mana peran John Watson sangat signifikan bagi partnernya, Sherlock Holmes.)

Di luar hal-hal yang sudah saya sebutkan tersebut, The Beekeeper’s Apprentice tetap sebuah bacaan yang cukup mengasyikkan. Namun maaf sekali kepada Tante Laurie, dalam banyak hal, buku ini not really my cup of tea. Tiga bintang cukuplah buat buku ini.


Detail buku:

The Beekeeper’s Apprentice: Gadis Sherlock Holmes (Mary Russell #1), oleh Laurie R. King
428 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥

Matilda – Roald Dahl

matilda book coverOnce upon a time, there lived a reader. Her name was Matilda. No, Matilda wasn’t just a common reader. She began reading at the age of three, and at the age of four she devoured all newspapers and magazines she could find laying around her house, along with one cooking book that happened to be the only book in the household. Poor Matilda, being a child so bright in a dreadfully unsupportive family, she had to find her own way to the library, the place where she could find all the books she wanted to read. Voila, after devouring every children’s books in the library’s collection, this magical child managed to read these books before she even turned five years old:

Nicholas Nickleby by Charles Dickens
Oliver Twist by Charles Dickens
Jane Eyre by Charlotte Bronte
Pride and Prejudice by Jane Austen
Tess of D’Urbervilles by Thomas Hardy
Gone to Earth by Mary Webb
Kim by Rudyard Kipling
The Invisible Man by H.G. Wells
The Old Man and the Sea by Ernest Hemingway
The Sound and the Fury by William Faulkner
The Grapes of Wrath by John Steinbeck
The Good Companions by J.B. Priestley
Brighton Rock by Graham Greene
Animal Farm by George Orwell

Hard to believe, I know. But the story does not end there. We can say that it was Mr. and Mrs Wormwood’s fault that Matilda entered school quite late. They were Matilda’s parents, and they didn’t give a damn about their daughter’s education. So at age five and a half Matilda went to school for the first time. Crunchem Hall, the name of the school, was the place where you can find the biggest, most ridiculous contrast ever between two people. The headmistress of Crunchem Hall was called Miss Trunchbull, and there is only one word that could define her best: a nightmare. She was a gigantic monster, a terror, a menace. She enjoyed punishing children in such a horrifying and unexplainable way that the parents would not believe if their children told them about the headmistress. Meanwhile, the exact opposite of Miss Trunchbull took the form of a Miss Honey, Matilda’s teacher. She was a slim-figured young woman who was mild and quiet. Later on, Miss Honey would recognize the extraordinary talent that Matilda possessed. As their friendship grows, Matilda would learn that Miss Trunchbull was the one who is responsible for Miss Honey’s miserable life. Using her newly found “superpower”, Matilda arranged a plan to take revenge on Miss Trunchbull for what she has done to Miss Honey.

My Thoughts—Spoiler Alert!

For children, this book could be enjoyable since logic won’t spoil the fun. They won’t think about how on earth stupid people like Mr. and Mrs Wormwood could have a daughter as bright as Matilda. And maybe they won’t wonder why the antagonist has a horrible name like Trunchbull and the protagonist has a name so sweet and innocent like Honey. For most people, this book might be an innocent reading, a quick stroll into childhood. I like it that Matilda found comfort in books, when she was feeling depressed living with family who are so different from herself. But in the book I also found some things that I object, especially in the matter of family relationships. Maybe because, thankfully, I grew up in an encouraging and loving family, I never felt what Matilda felt. I just couldn’t get the idea of punishing your parents, no matter how irritating they are. And the ending as well, I just couldn’t get it. I mean okay, Matilda’s finally got her happily-ever-after, but why must the author broke the relationship between her and her family? Couldn’t he make them (Matilda’s family) change instead? Well, maybe I have taken the book a little bit too seriously, but this is what I think of it. On the other hand, this book could be a gentle reminder to ignorant parents. They should be able to see that a child is a human being who deserves their attention, and sometimes children are capable of things beyond older people’s comprehension.

In the end, MAYBE this is the message of Matilda:

Family is people whom you should always go home to if they are good people.
If they are bad people, then you can go home to other people who are nicer to you, form a bond with them, not by blood, but by heart.

P.S.: “MAYBE” means even though I wrote these words, it doesn’t mean that I agree with it.

27th review for The Classics Club Project / 8th review for Books in English Reading Challenge 2013 / 11th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 / 7th review for New Authors Reading Challenge 2013 / 3rd review for Fun Year with Children’s Literature event

Book details:

Matilda, by Roald Dahl
240 pages, published March 1992 by Heinemann (first published August 1988)
My rating: ♥ ♥ ♥


Movie Review:

matilda darls chickens
If you enjoy Home Alone franchise, then you would probably like the 1996 adaptation of Matilda as well. Directed by Danny DeVito, the movie is quite faithful to the original story, and was successful in bringing into life the abominable Miss Trunchbull and also the delicate Miss Honey. Matilda was pictured older than she actually was in the book (and rather gloomier than in the book, I think). One major difference between the book and the movie is that in the movie Matilda still has her powers after the whole business with Miss Trunchbull was over. In the book, she lost her powers—and she was glad about it. I think I prefer the ending in the book than in the movie.

Matilda (1996) on IMDb

Harry Potter and the Deathly Hallows – J.K. Rowling

HP7Tujuh. Kaum penyihir di dalam buku Harry Potter menganggapnya sebagai angka yang mengandung kekuatan magis. Beberapa orang di dunia nyata menganggapnya sebagai angka keberuntungan. Beberapa fans Harry Potter bahkan mengatakan bahwa ketujuh buku Harry Potter adalah tujuh Horcrux yang dibuat seorang J.K. Rowling untuk menyimpan bagian-bagian jiwanya, sehingga beliau bisa hidup selamanya.

Terlepas dari setuju atau tidak setujunya kamu mengenai beberapa pernyataan di atas, tujuh adalah angka yang dipilih J.K. Rowling untuk menuntaskan petualangan Anak Laki-laki Yang Bertahan Hidup. Tujuh adalah angka yang dipilih JKR untuk mengatakan: Final. Selesai.

Snitch dan pedang Gryffindor untuk Harry, Deluminator untuk Ron, dan buku Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita untuk Hermione. Itulah barang-barang yang diwariskan Dumbledore kepada mereka bertiga. Setelah kematian Dumbledore yang tak terduga di akhir tahun ajaran lalu, Harry memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts, melainkan menjalankan misi yang dibebankan Dumbledore padanya; mencari dan membinasakan Horcrux. Namun sebelum Harry bisa melaksanakan misi itu, terlebih dahulu ia harus tinggal di Privet Drive sampai ulang tahunnya yang ketujuh belas, saat ia akil balig dan sudah tidak memiliki Jejak. Pemindahannya dari Privet Drive ke markas Orde Phoenix sangat berbahaya, dan biarpun sudah direncanakan sematang mungkin, pemindahan itu harus ditebus dengan harga sebelah kuping George dan nyawa Mad-Eye Moody. Mereka tak punya waktu lama untuk berkabung, karena pernikahan Bill Weasley dan Fleur Delacour akan dilaksanakan sebentar lagi. Semua orang juga berbahagia karena Lupin dan Tonks pun telah menikah. Namun semua penyihir yang menentang Voldemort berada dalam bahaya yang paling serius selama bertahun-tahun ini. Kementerian Sihir telah jatuh dalam kekuasaan Pelahap Maut, seperti juga Azkaban. Setelah penyerangan yang terjadi di pernikahan Bill-Fleur, Harry, Ron, dan Hermione berada dalam pelarian, bersembunyi dan membuat rencana-rencana untuk menemukan dan membinasakan Horcrux-Horcrux. Horcrux pertama yang mereka buru adalah liontin Slytherin, yang ternyata berada di tangan Dolores Umbridge. Mereka pun menyusup ke dalam Kementerian Sihir untuk mendapatkan liontin tersebut. Setelah misi pertama berhasil, mereka dilanda kemandekan karena mereka sama sekali tidak tahu dimana Horcrux selanjutnya berada, dan tidak mempunyai senjata untuk menghancurkannya. Selanjutnya melalui buku Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita yang diwariskan Dumbledore kepada Hermione, mereka berhasil mengorek tentang keberadaan Deathly Hallows, tiga benda penakluk kematian yaitu Tongkat Sihir Elder, Batu Kebangkitan, dan Jubah Gaib. Apakah jika ketiga benda tersebut benar-benar disatukan, siapapun yang memilikinya akan memiliki kekuatan tak terhingga? Apakah Dumbledore memaksudkan mereka untuk mencari ketiga Hallow untuk melawan Voldemort alih-alih membinasakan setiap Horcrux yang masih ada? Harry harus membuat keputusan. Dan merekapun melakukan banyak perjalanan luar biasa berbahaya untuk menuntaskan misi mereka, dengan Hogwarts sebagai tujuan final. Pertempuran yang terakhir, penentuan yang manakah yang akan menang, Baik atau Jahat. Yang satu tak bisa hidup sementara yang lain bertahan… kata ramalan. Dan inilah akhirnya.

Buku ini merupakan buku Harry Potter yang paling brilian, menegangkan, dan penuh kejutan. Sebuah akhir yang luar biasa. Saya mengalami beberapa déjà vu dalam buku ini:

“Itu lambangnya, aku langsung mengenalinya. Grindelvald mengukirnya di dinding di Durmstrang vaktu dia masih murid di sana. Beberapa idiot menyalinnya ke buku dan pakaian mereka, untuk membuat orang lain shock, membuat mereka lebih impresif—“ –> bukankah mengingatkan kepada lambang swastika milik Nazi?

Patung Sihir itu Sakti di Kementerian Sihir, yang disangga ribuan sosok manusia tak berbusana yang dipelintir dan dipres—melambangkan posisi Muggle di mata rezim sihir anti-Muggle. –> bukankah mengingatkan pada kesenjangan sosial yang memisahkan sebagian manusia sebagai warga kelas satu dan lainnya sebagai warga kelas dua? Mereka yang tidak dianggap karena tidak memiliki harta, atau berasal dari ras yang dipandang rendah?

Harta di lemari besi pasangan Lestrange di Gringotts yang berkelontangan menggandakan diri –> suatu warning bahwa yang ada di ujung keserakahan adalah maut? Memang Harry, Hermione, dan Ron masuk ke situ bukan untuk mencuri harta sebanyak-banyaknya, namun toh mereka ikut merasakan bentuk hukuman kepada orang yang serakah—ditenggelamkan oleh harta yang dicurinya.

Itu hanya beberapa simbol yang berhasil saya tangkap dari keseluruhan buku ini, sementara kutipan favorit saya jatuh pada:

“Dan apa pendapatmu, Royal, tentang para pendengar yang menjawab bahwa dalam keadaan berbahaya seperti ini, seharusnya ‘penyihir diutamakan’?”

“Menurutku hanya satu langkah lagi saja dari ‘penyihir diutamakan’ ke ‘darah-murni diutamakan’ dan kemudian ke ‘Pelahap Maut’,” jawab Kingsley. “Kita semua manusia, kan. Setiap nyawa manusia sama nilainya, dan sama-sama layak diselamatkan.”

Kingsley for President! Eh, Minister for Magic. Nilai-nilai humanitas seperti ini yang membuat saya mencintai seri Harry Potter. Bukan karena sihir, tapi karena cinta, kekuatan terbesar yang pernah ada, “yang tak pernah dipahami Voldemort,” kata Dumbledore.

Detail buku:

Harry Potter dan Relikui Kematian (judul asli: Harry Potter and the Deathly Hallows), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
1008 halaman, diterbitkan Januari 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2007)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

10th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 6th review for Read Big Challenge

Review ini diterbitkan tanggal 31 Juli 2013 dalam rangka memperingati hari ulang tahun J.K. Rowling, dan juga karakter ciptaan beliau, Harry Potter.

Happy birthday, Madam Rowling, and happy birthday, Harry!

***

hotter potter logo-1

Fiuh. Ini review terakhir saya untuk event Hotter Potter, dan tidak terasa event ini juga akan segera berakhir. Ada rasa sedih karena harus berpisah dengan Harry dan kawan-kawan, tapi juga lega karena setelah ini saya bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca buku-buku lain yang sudah tertimbun sekian lama, hahaha. Nah, setelah melakukan pertimbangan, saya memutuskan untuk memperpanjang batas waktu posting review untuk event Hotter Potter. Silakan masukkan link postingmu seperti biasa pada Linky yang tersedia. Catatan: review-review buku Harry Potter sebelumnya yang belum dimasukkan dalam linky, boleh dimasukkan dalam Linky di bawah ini dengan catatan mendapat 1 point untuk penentuan pemenang Lucky HotPot. (Review-review yang disubmit tepat waktu ke Linky masing-masing mendapatkan 2 point).

(Click on the blue frog and then “add your link”.) Linky akan dibuka sampai hari Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 23.59 WIB.

Saya juga mengajak semua peserta event Hotter Potter untuk membuat Wrap-Up Post yang berisi: link semua review dan meme yang kamu buat untuk event Hotter Potter, beserta kesan-kesan mengikuti event ini. Pelajaran apa yang kamu dapatkan dari Harry dan kawan-kawan? Jika kamu membaca ulang seri ini, apa yang akhirnya bisa kamu pahami? Apakah ada perasaan yang berbeda dengan pada saat kamu membacanya pertama kali?

Setiap Wrap-Up Post akan mendapatkan 2 poin tambahan untuk pengundian hadiah Lucky HotPot. Masukkan link Wrap-Up Postmu pada Linky di bawah ini. Deadlinenya sama, yaitu hari Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 23.59 WIB.

N.B.: Pemenang Hotter Potter meme bulan Juli akan diumumkan sekitar minggu ketiga bulan Agustus, sementara pemenang Best Reviewer Award dan Lucky Hotpot akan diumumkan sekitar awal September.

Untuk saat ini, saya ingin menutup post ini dengan ucapan: terima kasih atas partisipasi teman-teman semua! Cheers!

Harry Potter and the Half-Blood Prince – J.K. Rowling

HP6Kali ini Lord Voldemort dengan terang-terangan menunjukkan bahwa dirinya telah kembali. Suasana yang penuh teror mencekam masyarakat sihir. Teror ini bahkan dirasakan oleh para Muggle juga, yang mana di dunia mereka terjadi berbagai malapetaka aneh. Para Muggle juga merasakan hawa keputusasaan yang disebarkan oleh para Dementor, walaupun tidak bisa melihatnya. Sementara itu, ketika Harry Potter kembali ke Hogwarts, terjadi perubahan signifikan dalam jajaran staf sekolah sihir tersebut. Severus Snape akhirnya mendapatkan jabatan yang selama ini diidamkannya, menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, sementara posisinya sebagai guru Ramuan digantikan oleh Horace Slughorn, kawan lama Dumbledore yang gendut seperti beruang laut. Di tahun keenam ini, Harry Potter mendapatkan “pelajaran tambahan” yang luar biasa dari Dumbledore sendiri. Dumbledore mengajak Harry menyelidiki benda-benda terkutuk yang disebut Horcrux yang konon dibuat oleh penyihir jahat untuk menyimpan cabikan jiwanya. Ia curiga bahwa Voldemort telah memastikan bahwa dirinya tak bisa dibunuh dengan membuat Horcrux, bahkan mungkin lebih dari satu. Dan untuk menyelidiki Horcrux ini, Harry dibawa oleh Dumbledore menelusuri masa lalu Voldemort melalui Pensieve.

Ada lagi yang spesial di tahun keenam ini, bahwa selain Harry menjadi Kapten Quidditch, ia juga mendadak menjadi murid nomor satu dalam pelajaran Ramuan, berkat buku tua Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut penuh coretan pemiliknya, yang memanggil dirinya dengan sebutan Pangeran Berdarah-Campuran. Harry sukses besar dalam pelajaran Ramuan berkat bantuan sang Pangeran, walaupun Hermione yang curiga sama sekali tidak mendukung bahwa Harry sangat terbantu oleh buku tua itu. Siapakah Pangeran Berdarah-Campuran itu tetap menjadi misteri besar bagi Harry, Ron, dan Hermione, sampai fakta bahwa Draco Malfoy telah menjadi Pelahap Maut dan dibebani misi sangat penting oleh Voldemort sendiri membentang di depan mata mereka. Penyelidikan dan pencarian akan Horcrux pun ternyata sangat membahayakan nyawa mereka yang cukup nekat untuk melakukannya… Murid-murid Hogwarts berada dalam bahaya… karena di dalam Hogwarts ada pengkhianat. Akhir dari segalanya sudah semakin dekat.

 ***

Seperti yang sudah saya sebutkan di review buku Harry Potter sebelumnya, saya jauh lebih menikmati Half-Blood Prince ketimbang Order of the Phoenix. Di buku ini beban Harry boleh dikatakan sedikit berkurang. Memang ia dibebani tanggung jawab yang lebih besar dengan menjadi Kapten Quidditch, belum lagi pelajaran tambahan dari Dumbledore dan serangan detensi bertubi-tubi dari Snape, tapi setidaknya penderitaan akibat bekas luka kutukannya tidak seberat di buku kelima. JKR juga memperkenalkan karakter baru Horace Slughorn dalam buku ini, tipe orang yang suka membangun koneksi dengan orang-orang penting dan menikmati segala keuntungan yang bisa diperolehnya melalui orang-orang tersebut. Di tahun keenam ini Harry kembali merasakan jatuh cinta, sementara Ron dan Hermione harus mengalami hubungan pasang surut akibat satu cewek bernama Lavender Brown, dan, Ron sendiri. Beberapa adegan cinta-cintaan ini cukup menyegarkan bagi saya setelah dibuat stres dan pusing tujuh keliling oleh buku kelima. Dan memang, ending buku keenam ini cukup menyesakkan dan masih menyisakan misteri besar yang harus dipecahkan oleh Harry, Ron dan Hermione. Namun itu bagian cerita yang lain.

Memorable Quote:

Penting, kata Dumbledore, untuk melawan, dan melawan lagi, dan terus melawan, karena hanya dengan begitulah kejahatan bisa dijauhkan, meskipun tak pernah bisa dibasmi…

How true. Mungkin kita saat ini tidak sedang melawan sihir jahat, tapi bukankah kejahatan ada di mana saja dan kapan saja? Bukan hanya pembunuh dan perampok bersenjata yang saya maksudkan, tapi kemarahan, iri hati, dendam, nafsu duniawi, kebohongan, kesombongan; singkatnya segala kejahatan yang ada di dalam diri kita? Saya percaya itulah kejahatan yang pertama-tama harus kita lawan, yakni kejahatan yang ada dalam diri kita sendiri, sebelum kita melawan segala bentuk kejahatan yang lain.

Detail buku:

Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran (judul asli: Harry Potter and the Half-Blood Prince), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
816 halaman, diterbitkan Januari 2006 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2005)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

9th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 5th review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Harry Potter and the Order of the Phoenix – J.K. Rowling

HP 5Kembalinya Lord Voldemort di akhir tahun ajaran lalu tidak memiliki arti bagi sebagian besar penyihir, karena mereka memilih untuk tidak memercayai berita tersebut. Tidak demikian dengan Harry Potter, kendatipun ia hidup di lingkungan Muggle selama libur musim panas, Harry tak henti-hentinya mengikuti berita Muggle—mencari kepingan berita sekecil apapun—yang mengindikasikan bahwa kembalinya Pangeran Kegelapan telah diberitakan secara luas. Dan bahkan sebelum menginjakkan kaki kembali di Hogwarts, Harry sudah dirundung berbagai masalah. Dua Dementor muncul di Little Whinging dan menyerang Harry dan Dudley. Harry terpaksa harus merapal mantra Patronus untuk menyelamatkan dirinya dan Dudley, dan sebagai konsekuensinya Harry melanggar Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penyihir di Bawah-Umur dan harus menghadiri sidang pelanggaran disiplin di Kementerian Sihir. Meskipun akhirnya dinyatakan bebas dari segala tuduhan, penderitaan Harry belum berakhir. Di sekolah ia menjadi bulan-bulanan karena Daily Prophet telah menulis berbagai artikel bahwa dirinya terganggu dan sinting. Belum lagi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam baru, Profesor Umbridge, yang ternyata sengaja ditempatkan di Hogwarts agar Kementerian Sihir memiliki kekuasaan atas sekolah tersebut. Bagaimana murid-murid Hogwarts berharap untuk bisa lulus ujian OWL mereka, padahal Profesor Umbridge yang luar biasa menyebalkan itu hanya mengajarkan teori pertahanan sihir, tanpa praktek sama sekali. Dari sinilah Hermione mencetuskan ide untuk membentuk kelompok latihan pertahanan terhadap Ilmu Hitam dengan Harry sebagai instrukturnya. Kelompok ini mereka namakan Laskar Dumbledore, dan Harry secara pribadi berharap bahwa kelompok kecil ini juga bisa ikut berjuang melawan Voldemort dan para Pelahap Maut-nya, seperti Orde Phoenix. Sepanjang tahun bekas luka Harry juga terus menerus sakit dan ia bolak-balik melihat pintu hitam sederhana yang selalu tertutup dalam mimpi-mimpinya. Selain itu ia menyadari bahwa ada suatu hubungan aneh antara dirinya dan Voldemort, yang memungkinkan Harry untuk sesekali merasakan dan mengetahui suasana hati Voldemort berikut rencana-rencananya. Siapa yang akan menyangka bahwa semua ini akan menyebabkan Harry kehilangan seseorang yang amat ia sayangi…

***

Diawali dengan serangan Dementor dan diakhiri dengan kematian. Buku kelima Harry Potter, yang notabene merupakan buku paling tebal dari ketujuh seri Harry Potter (edisi terjemahan Indonesianya memiliki 1.200 halaman), bagi saya juga merupakan buku Harry Potter yang paling melelahkan dan bikin depresi. Bagaimana tidak, rasa frustrasi dan mimpi-mimpi Harry, berbagai masalah yang dialami Harry di sekolah (yang berkaitan dengan Umbridge dan Quidditch), sampai pada adegan di Departemen Misteri Kementerian Sihir membuat saya pusing tujuh keliling. Setelah semua yang dialaminya di buku kelima ini, saya justru heran kalau Harry tidak menjadi betul-betul gila. Yah, karena mau jadi apa Harry selanjutnya terserah Madam JKR, saya sebagai pembaca menelan saja isi buku ini tanpa protes, walaupun kurang suka dengan isinya.

Beberapa hal baru dan menarik di dalam buku ini antara lain “cinta monyet” antara Harry dan Cho Chang, teman baru Harry dkk si Luna Lovegood yang aneh, kuda-kuda bersayap bernama Thestral yang hanya bisa dilihat orang yang sudah pernah menyaksikan kematian, keputusan si kembar Fred dan George untuk menentukan sendiri masa depan mereka, pelajaran menutup pikiran atau Occlumency yang tidak sengaja membuat Harry menyaksikan sepenggal masa lalu Snape yang pahit (yang ternyata masih ada kaitannya dengan ayah dan ibu Harry), serta ujian OWL dan pilihan karier bagi murid-murid Hogwarts. Tempat-tempat baru yang diperkenalkan dalam buku ini antara lain rumah Sirius; Grimmauld Place nomor dua belas, Kementerian Sihir, dan Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka-luka Sihir.

Kalau boleh jujur, saya sebal sekali dengan Harry di buku ini. Menurut saya mestinya Harry bisa lebih bersabar walaupun ia harus terkungkung di Privet Drive dan tidak menerima kabar dari siapapun. Dia nggak perlu ngamuk pada Ron dan Hermione seperti itu, kan? Dan bahkan ia merasa bahwa dirinya lebih dari Ron dan Hermione, karena ia sudah menghadapi lebih banyak bahaya daripada mereka berdua. Bagi saya, sikap seperti ini agak bikin jijik. Harry juga sebal karena merasa dicuekin oleh Dumbledore. Namun pada akhirnya, Harry belajar bahwa segala sesuatu yang Dumbledore rencanakan baginya tidak pernah membuatnya celaka, walaupun Harry tidak mengetahui seluruh rencana tersebut. Dan teman-temannya selalu setia di sampingnya, tak peduli apapun yang terjadi. Glad that you learned your lesson, Harry.

Setelah membaca buku ini, saya jadi merasa membutuhkan Pensieve… Untungnya, buku keenam lebih ringan dan enjoyable ketimbang buku kelima. So, goodbye, Order of the Phoenix! And hello, Half-Blood Prince!

Memorable Quotes:

“Tahu tidak,” kata Phineas Nigellus, bahkan lebih keras daripada Harry, “persis itulah sebabnya aku benci jadi guru! Celakanya, anak-anak muda yakin mereka benar sepenuhnya tentang segala hal. Kasihan deh kau, beo sombong. Tak pernahkah terpikir olehmu bahwa ada alasan bagus sekali kenapa Kepala Sekolah tidak membeberkan semua detail rencananya kepadamu? Tak pernahkah kau berhenti sejenak, selagi merasa diperlakukan tidak adil, untuk menyadari bahwa mematuhi perintah Dumbledore tak pernah membuatmu celaka? Tidak. Tidak, seperti anak muda lainnya, kau yakin hanya dirimu yang merasa dan berpikir, hanya dirimu yang mengenali bahaya, hanya dirimu satu-satunya yang cukup pintar untuk menyadari apa yang mungkin sedang direncanakan Pangeran Kegelapan…” – hal. 687-688

“Sesungguhnya, kegagalanmu untuk memahami bahwa ada banyak hal yang jauh lebih buruk daripada kematian, sejak dulu merupakan kelemahanmu yang terbesar…” – Dumbledore kepada Voldemort, hal. 1124

***

Detail buku:

Harry Potter dan Orde Phoenix (judul asli: Harry Potter and the Order of the Phoenix), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
1200 halaman, diterbitkan Januari 2004 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2003)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

8th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 4th review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. Catatan: review-review buku Harry Potter sebelumnya yang belum dimasukkan dalam linky, boleh dimasukkan dalam linky ini dengan catatan mendapat point 1/2 untuk penentuan pemenang Lucky HotPot.

(Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Senin tanggal 3 Juni 2013 pukul 23.59 WIB.



The Great Gatsby – F. Scott Fitzgerald

great gatsby

The Great Gatsby portrays the life of thriving generation of 1920s America in high splendor and endless glittering parties. Nick Carraway, the narrator, was a bond man who recently moved to New York and resides in the West Egg district of Long Island, and was neighbor to one young rich man named Jay Gatsby. The story starts when Nick went to East Egg district one night to dine with his cousin, Daisy, and her husband Tom Buchanan. From another girl who was present at the dinner, Jordan Baker, Nick learned about the turbulent marriage of Tom and Daisy and that Tom has a mistress. Myrtle Wilson, Tom’s mistress, lived in the valley of ashes, a gray industrial dumping ground between West Egg and New York City. Nick’s curiosity and fascination about his mysterious neighbor was answered when Gatsby eventually invited Nick to one of his parties. There Nick would learn that Gatsby and Daisy were once sweethearts. A reunion was set between Gatsby and Daisy in Nick’s house, where the two young lovebirds rekindled their romantic relationship. Their affair would soon raise suspicion from Tom, who would not have his wife cheating on him while he was involved in an extramarital affair himself. The confrontation between Tom and Gatsby reached its peak when Tom let Gatsby drove his wife back home to East Egg in his luxurious car, and then an unwanted accident happened. In the aftermath, the corruption, moral decay, carelessness, hypocrisy, and superficiality of the people surrounding him; all came crystal clear before Nick’s eyes.

The Jazz Age party. Image source

The novel took place when the First World War had just ended and America has never been more prosperous, a time called “The Jazz Age”, which later ends in the Great Depression. The problem with these rich people in this time was; they became so consummated in their wealth that they grew careless, superficial and pleasure-seeking. Not one, I repeat, not one of the characters in this novel is likeable to me. Tom Buchanan was a bad-mannered libertine and his wife Daisy a shallow, foolish girl. The cynical Jordan Baker had enough nerve to drive carelessly and taking other people’s safety for granted. Meyer Wolfsheim, the Jewish man who wore human molars as cuff buttons, was cowardly and deceiving. Even Gatsby, he isn’t so “great” as in the title of the novel. Yes, he is “great” in his optimistic spirit to pursue his dream, which is winning Daisy back, but to be able to win Daisy he would have to climb to her social status, and to do that he need to make a fortune in dishonest, fraudulent ways. The only “clean” character was Nick Carraway, who stayed on Gatsby’s side to the very end, when not another soul would come into the marred picture.

This book is probably the most difficult book that I have read that only has less than 150 pages. The narrative was written beautifully—yet I felt the great need to read many passages more than twice, check dictionary and even consult the Internet to attempt to fully comprehend what Fitzgerald was trying to say. And even in the end, I can’t say that I can now fully comprehend The Great Gatsby.  But at least, thanks to Sparknotes and Fanda’s chapter posts, I came to understand some confusing passages and symbols depicted in the novel. In spite of entertaining, this novel would make you think hard. Finally, I think The Great Gatsby is great because it bravely shows the ugly truth of man, and in the end still encourages optimism in the powerful words of the last passage of the novel.

Gatsby believed in the green light, the orgastic future that year by year recedes before us. It eluded us then, but that’s no matter—tomorrow we will run faster, stretch out our arms farther. . . . And then one fine morning—
So we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past.

 

For the finest novel by The Great Fitzgerald, I gave three stars.

***

* I read this book together with Fanda, Astrid, Dessy, Althesia, Listra, Vaan, Dani, Sulis, and Melissa (Avid Reader) *

26th review for The Classics Club Project / 7th review for Books in English Reading Challenge 2013 / 3rd review for 2013 TBR Pile Challenge / 3rd review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction /6th review for New Authors Reading Challenge 2013

Book details:

The Great Gatsby, by F. Scott Fitzgerald
122 pages, published December 1993 by Wordsworth Classics/Wordsworth Editions Ltd (first published 1925)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Shadow of the Wind – Carlos Ruiz Zafón

shadow of the wind“Once, in my father’s bookshop, I heard a regular customer say that few things leave a deeper mark on a reader than the first book that finds a way into his heart.”

Semuanya bermula dari suatu pagi di awal musim panas 1945, ketika luka-luka akibat perang masih segar dan terbuka. Daniel Sempere, bocah berusia sepuluh tahun putra seorang pemilik toko buku, dibawa oleh ayahnya mengunjungi suatu tempat bernama Cemetery of Forgotten Books. Di suatu tempat di Barcelona, terkubur buku-buku yang terlupakan. Buku-buku yang tak lagi mempunyai rumah karena penutupan perpustakaan atau toko buku, semuanya dibawa ke tempat ini. Dan menurut tradisi, setiap orang yang pertama kali mengunjungi Cemetery of Forgotten Books boleh memilih satu buku untuk dimilikinya, untuk seterusnya dijaga agar tidak hilang selamanya. Dan dari ribuan buku yang tersimpan di dalam Cemetery of Forgotten Books, Daniel memilih satu buku berjudul The Shadow of the Wind, karya Julian Carax. Buku tersebut menyentuh hati Daniel sedemikian rupa sehingga, ia memutuskan untuk mencari buku-buku karya Carax yang lain dan berniat membaca semuanya, dan menyelidiki lebih jauh mengenai sang penulis. Betapa kagetnya ia ketika menemukan bahwa karya-karya Carax yang lain telah dibakar dengan sengaja dan satu-satunya kopi The Shadow of the Wind yang masih ada adalah yang dimilikinya. Informasi ini didapat Daniel dari Gustavo Barcelo, seorang penjual buku bekas yang eksentrik. Di rumah Barcelo juga Daniel bertemu dengan Clara, keponakan Barcelo. Gadis ini secantik malaikat, namun pucat dan lemah. Ia juga buta. Dari Clara-lah Daniel kemudian mendapat informasi yang lebih lengkap mengenai Carax, bagaimana buku-buku karyanya hanya dicetak dalam jumlah yang sangat sedikit, dan bagaimana penulis muda itu menemui kematian yang tragis hanya sesaat sebelum pernikahannya. Juga tentang rumor yang beredar bahwa ada seseorang yang mencari karya-karya Carax di setiap perpustakaan dan toko buku, membeli atau mencuri buku-buku tersebut, dan kemudian membakar setiap kopi yang masih ada.

Pada hari ulang tahunnya yang keenam belas, Daniel yang merasa kecewa karena Clara tidak bisa menghadiri pesta ulang tahunnya, lari keluar dari rumah dalam kegelapan malam dan bertemu orang misterius dengan wajah terbakar yang menginginkan novel The Shadow of the Wind yang dimiliki Daniel. Orang ini mengaku bernama Lain Coubert. Nama itu adalah nama iblis dalam novel The Shadow of the Wind. Mungkinkah kisah dalam The Shadow of the Wind sedang terwujud dalam kehidupan Daniel? Daniel bersama rekannya Fermin Romero de Torres kemudian menyusuri Barcelona demi menyelidiki asal-usul Julian Carax. Di antara bangunan-bangunan tua di Barcelona dan juga debu yang menyelimuti buku-buku di Cemetery of Forgotten Books, sedikit demi sedikit kebenaran mengenai jati diri sang penulis misterius Julian Carax tersibak. Dikisahkan bahwa Julian Carax adalah putra seorang pembuat topi, Antony Fortuny dengan seorang wanita berkebangsaan Prancis, Sophie Carax. Julian kemudian jatuh cinta kepada Penelope Aldaya, putri satu-satunya Don Ricardo Aldaya yang kaya raya, yaitu orang yang bermurah hati mensponsori pendidikan Julian. Don Ricardo Aldaya marah besar ketika ia mengetahui hubungan antara Julian dan putrinya dan hendak memisahkan mereka berdua untuk selamanya. Rencana kawin lari yang dirancang oleh sahabat Julian, Miquel Moliner pun harus gagal karena campur tangan Don Ricardo. Julian kemudian pergi ke Paris dan memulai karir sebagai penulis. Namun, kenangan tentang Penelope terus menerus menghantuinya dan akhirnya ia memutuskan kembali ke Barcelona, tempat dimana seorang Julian Carax, disusul oleh buku-bukunya, satu persatu lenyap tanpa jejak.

***

Sebenarnya saya sudah cukup lama mengetahui tentang buku ini dan bahwa buku ini sudah diterjemahkan oleh Barokah Ruziati atau Mbak Uci, namun entah mengapa sampai sekarang versi terjemahannya belum terbit juga. Kalau sudah terbit nanti sepertinya saya akan beli untuk koleksi. 😉 Makasih buat Mbak Astrid yang sudah meminjamkan bukunya sehingga rasa penasaran saya akan buku The Shadow of the Wind bisa terpuaskan.

Buku ini menyimpan cerita dalam cerita, tentang misteri, aib, rahasia, dan cinta terlarang. Bertaburan tokoh-tokoh yang tak jauh dengan buku (pecinta buku, pemilik toko buku, kolektor buku, dan sebagainya), dan dengan gaya penceritaan yang memesona, nafas novel gothic, setting Barcelona yang eksotik, dan alur yang mengalir lancar dan menegangkan, buku ini membuat saya mampu menghabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu padahal biasanya saya lelet banget kalau harus membaca buku dalam bahasa Inggris. Buku ini bagus, namun ada beberapa kejanggalan dan hal yang saya tidak suka  yang membuat saya terpaksa memberi buku ini empat bintang, dan bukannya lima:

  1. Bab di dalam buku ini dipisahkan secara kronologis. Misalnya bab “Days of the Ashes” berlangsung antara tahun 1945-1949, dan bab “An Empty Plate” pada tahun 1950. Namun yang janggal adalah akhir bab “True to Character” (1951-1953) langsung dilanjutkan di bab “City of Shadows” (1954) pada “hari berikutnya”, anehnya tanpa menyebut bahwa diantara kedua bab itu telah terjadi pergantian tahun. Mungkin hal ini terjadi juga di bab-bab selanjutnya, tapi yang paling saya ingat adalah bab ini.
  2. Karakter Lain Coubert dikisahkan mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Sungguh aneh bagaimana ia bisa bertahan hidup begitu lama dan beraktivitas selayaknya manusia normal.
  3. Ada beberapa hal yang tidak saya sukai mengenai endingnya. [SPOILER ALERT!] Pertama, bahwa Lain Coubert tetap bertahan hidup sampai di akhir buku. Selain tidak masuk akal bahwa ia mengelak dari maut dua kali, dan bahwa ia hidup dengan kondisi sekujur tubuh terbakar, bagi saya jauh lebih baik jika setelah melalui klimaks, karakter ini akhirnya tiada dalam damai. Yang kedua, saya tidak suka karakter yang terpaksa harus berkeluarga pada usia masih belasan tahun akibat “kecelakaan”, dan tidak dikisahkan segala susah payah yang harusnya mewarnai kehidupan keluarga muda tersebut. Bagi saya itu sama saja dengan mengatakan, “It’s okay to have sex and have children in your young age.”

Di luar ketiga hal diatas, novel The Shadow of the Wind hampir bisa dikatakan sempurna. Dilengkapi juga dengan bagian “A Walk in the Footsteps of The Shadow of the Wind” dengan peta Barcelona dan guide bagi pembaca yang ingin benar-benar menyusuri Barcelona dan melihat setiap tempat yang dijadikan setting dalam novel The Shadow of the Wind. What a brilliant idea. Buku ini juga menyimpan banyak Memorable Quotes yang menawan hati seperti berikut ini:

“Someone once said that the moment you stop to think about whether you love someone, you’ve already stopped loving that person forever.”

 “The nurse knew that those who really love, love in silence, with deeds and not with words.”

“Books are mirrors: you only see in them what you already have inside you.”

(Baca juga Quote mengenai the Cemetery on Forgotten Books di sini.)

5th review for Books in English Reading Challenge 2013 | / 3rd review for TBRR Pile Reading Challenge: Historical Fiction / 6th review for New Authors Reading Challenge 2013

N.B.: Buku ini saya baca dalam bahasa Inggris namun reviewnya ditulis dalam bahasa Indonesia untuk ikut #postingbareng BBI bulan April 2013 tema Buku tentang Buku dan masih dalam rangkaian HUT ke-2 BBI.

Detail buku:

The Shadow of the Wind (judul asli: La sombra del viento), oleh Carlos Ruiz Zafón
Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Lucia Graves
487 halaman, diterbitkan Januari 2005 oleh Penguin Books (pertama kali diterbitkan tahun 2001)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Harry Potter and the Goblet of Fire – J.K. Rowling

HP 4Tahun keempat Harry Potter di Hogwarts benar-benar seru. Sebelum tahun ajaran dimulai, Harry berkesempatan menonton Piala Dunia Quidditch bersama keluarga Weasley. Penyihir pria dan wanita dari seluruh dunia hadir untuk menonton Piala Dunia Quidditch, namun acara yang seharusnya berjalan dengan aman dikacaukan oleh serombongan Pelahap Maut yang mempermainkan beberapa Muggle, dan munculnya Tanda Kegelapan yaitu tanda Lord Voldemort di angkasa, menyebabkan kepanikan luar biasa. Lalu sesampainya di Hogwarts, Harry dan kawan-kawan dikejutkan oleh berita bahwa pertandingan Quidditch ditiadakan untuk sepanjang tahun. Namun sebagai gantinya, tahun ini Hogwarts menjadi tuan rumah acara pertandingan sihir yang tidak diadakan selama seratus tahun terakhir, Turnamen Triwizard. Turnamen Triwizard diikuti oleh tiga sekolah sihir terbesar di Eropa, yaitu Hogwarts, Beauxbatons, dan Durmstrang, di mana masing-masing sekolah akan mengajukan calon-calon juara masing-masing, dan juri yang tidak memihak akan memilih yang terbaik dari mereka untuk bertanding memperebutkan Piala Triwizard berikut hadiah uang sebesar seribu Galleon. Calon-calon juara yang boleh memasukkan namanya dalam Piala Api, yaitu juri Turnamen Triwizard yang tidak memihak, harusnya hanya mereka yang berusia tujuh belas tahun keatas saja, namun seseorang—yang berniat jahat—telah menyihir Piala Api tersebut sehingga melupakan bahwa Turnamen Triwizard hanya diikuti oleh tiga sekolah. Hasilnya, Piala Api memilih juara dari Beauxbatons; Fleur Delacour, dari Durmstrang; Viktor Krum, dari Hogwarts; Cedric Diggory, dan Harry Potter sebagai juara keempat. Keluarnya nama Harry sebagai salah satu dari dua juara Hogwarts membuatnya dibenci hampir oleh seluruh sekolah, dan bahkan oleh sahabatnya sendiri, Ron. Dan meskipun Harry telah mati-matian mengatakan bahwa ia tidak memasukkan namanya ke dalam piala, ia telah terikat kontrak sihir yang mengharuskannya bertanding sebagai salah satu juara Hogwarts. Maka Harry pun bertanding bersama-sama dengan Fleur, Krum, dan Cedric menghadapi tiga tugas yang masing-masing menuntut segenap keahlian sihir dan membahayakan jiwa. Dalam tugas pertama, Harry dan kawan-kawan harus menghadapi naga, tugas kedua menyelam ke dalam air untuk membebaskan milik mereka yang berharga, dan tugas ketiga adalah labirin penuh tipu daya sihir di mana Piala Triwizard diletakkan tepat di tengah-tengahnya. Harry sama sekali tidak tahu, bahwa terpilihnya dirinya sebagai juara Hogwarts merupakan bagian dari suatu rencana jahat yang bukan hanya bisa membunuhnya, tapi juga membangkitkan kembali Lord Voldemort…

Buku keempat ini mulai lebih berat dan lebih menyeramkan dibanding tiga buku sebelumnya, karena:

  1. Di buku ini Harry mulai merasakan sakit yang lebih intens pada bekas lukanya. Penderitaan Harry gara-gara bekas luka kalau boleh dibilang adalah titik tolak mulai hilangnya innocence dalam usia muda Harry. Mungkin penulis juga memperhitungkan usia pembacanya yang seiring waktu juga bertambah, sehingga ia mulai menulis lanjutan Harry Potter dengan konflik psikis dan mental yang lebih berat.
  2. Pembaca memperoleh gambaran mengenai masa-masa saat Voldemort berkuasa, yang digambarkan penuh dengan teror dan ketakutan. Karakter yang mati-matian melawan pihak yang jahat, namun tanpa nurani dan belas kasihan adalah salah satu produk masa-masa kegelapan dalam dunia sihir, yang terwujud dalam buku ini melalui karakter Mr. Crouch.
  3. Murid-murid Hogwarts diajarkan mengenai tiga Kutukan Tak Termaafkan; Imperio yang mempengaruhi orang yang disihir agar menuruti kehendak yang merapal mantra; Crucio yang adalah mantra penyiksa; dan Avada Kedavra mantra pembunuh. Ketiga mantra ini merupakan senjata andalan para Pelahap Maut Voldemort, dan di buku-buku selanjutnya akan semakin sering muncul.
  4. Rita Skeeter, yang adalah salah satu tokoh paling menyebalkan dari seluruh seri Harry Potter, adalah seorang wartawan yang menghalalkan segala cara demi berita yang bagus, dan begitu ia mendapatkan topik, maka berita itu dipolesnya dan dibesar-besarkan begitu rupa sehingga jauh sekali dari kenyataan yang sesungguhnya. Mr. Weasley, Harry, Hermione dan Viktor Krum hanyalah beberapa korban dari artikel tulisan Rita Skeeter. Apakah sosok Rita Skeeter dimaksudkan sebagai sindiran untuk media saat ini yang teracuni oleh gosip, berita bohong dan berita yang dibesar-besarkan? Mungkin saja.
  5. Dalam buku ini juga pembaca mulai mengetahui betapa licin, jenius, dan jahatnya Lord Voldemort. Untuk lebih lengkapnya, baca sendiri saja… 😉

Namun selain hal-hal yang bikin mumet diatas, ada juga hal-hal baru dalam buku ini yang bisa membuat pembaca tersenyum. Selayaknya remaja empat belas tahun, tokoh-tokoh utama kita juga mulai saling naksir-naksiran. Harry naksir Cho Chang, Seeker Ravenclaw yang cantik dan setahun lebih tua darinya. Dan tanda-tanda bahwa Ron sebenarnya naksir Hermione mulai tampak dengan jelas ketika ia cemburu berat dengan Viktor Krum yang mengajak Hermione ke Pesta Dansa Natal. Padahal Ron adalah fans berat Krum yang terkenal sebagai Seeker Bulgaria yang hebat. Buku keempat ini juga menyimpan pelajaran bahwa latar belakang seseorang tidak serta merta membuatnya menjadi jahat. Lihat saja Hagrid yang separo-raksasa namun berhati mulia, dan Viktor Krum yang bersekolah di Durmstrang dan punya kepala sekolah mantan Pelahap Maut, namun mengulurkan tangan persahabatan kepada Harry dan kawan-kawan.

Buku keempat ini adalah salah satu buku favorit saya dari ketujuh buku dalam seri Harry Potter. Penggambaran tentang Piala Dunia Quidditch dan tentu saja, Turnamen Triwizard dengan segala tugasnya sungguh-sungguh memesona imajinasi saya. Selain itu, buku ini lebih seru dan menegangkan dengan twist yang tidak terduga.

Memorable Quotes:

“Kau tahu apa yang kuinginkan, Harry? Aku ingin kau menang, ingin sekali. Itu akan menunjukkan kepada mereka semua… kau tak perlu berdarah murni untuk menang. Kau tak perlu malu akan siapa dirimu. Itu akan menunjukkan kepada mereka bahwa Dumbledore yang benar, menerima siapa saja asal mereka bisa menyihir.” – Hagrid, hal. 549

“Kalau kau ingin tahu sifat orang, perhatikan bagaimana dia memperlakukan orang yang kedudukannya lebih rendah darinya, jangan yang sederajat dengannya.” – Sirius, hal. 630

“Mengebaskan rasa sakit untuk sementara, akan membuatnya bertambah sakit saat tiba waktunya kau harus merasakannya.” – Dumbledore, hal. 834

***

Jk_RowlingTanggal 29 April kemarin, BBI mengadakan posting bareng dengan tema buku tentang perempuan atau buku yang ditulis oleh perempuan. Review ini seharusnya diikutsertakan dalam posting bareng tersebut, tetapi sayangnya terlambat dipublish. :-p Namun demikian, saya mau mencantumkan sedikit fakta tentang J.K. Rowling, “Penyihir Wanita Abad Ini” yang menyihir seluruh dunia melalui tulisannya. Ternyata awal perjalanan Harry Potter untuk bisa dicetak dan diterbitkan tidaklah mulus. Dua belas penerbit menolak manuskrip asli Harry Potter yang diajukan oleh J.K. Rowling, namun akhirnya Bloomsbury yang terbilang sebuah penerbit kecil, memberinya kesempatan. Pada waktu itu, belum ada yang tahu bahwa Harry Potter akan menjadi seri buku terlaris sepanjang sejarah. Berkat Harry Potter, J.K. Rowling menjadi bilyuner, dan gara-gara Harry Potter pula, ia harus kehilangan status bilyunernya karena mendonasikan sebagian besar keuntungan yang diperolehnya melalui buku-buku Harry Potter kepada berbagai yayasan amal. (Sumber: dari sini dan sini).

 

Detail buku:

Harry Potter dan Piala Api (judul asli: Harry Potter and the Goblet of Fire), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
896 halaman, diterbitkan Oktober 2001 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2000)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

7th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 3rd review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Selasa, tanggal 7 Mei 2013 pukul 23.59 WIB.