Adaptation Review: Anna Karenina (2012)

anna-karenina-poster03

In 1874, in the Imperial Russia, the aristocratic Anna Karenina travels from Saint Petersburg to Moscow to save the marriage of her brother Prince Oblonsky, who had had a love affair with his housemaid. Anna Karenina has a cold marriage with her husband, Count Alexei Karenin, and they have a son. Anna meets the cavalry officer Count Vronsky at the train station and they feel attracted by each other. Soon she learns that Vronsky will propose Kitty, who is the younger sister of her sister-in-law Dolly. Anna satisfactorily resolves the infidelity case of her brother and Kitty invites her to stay for the ball. However, Anna Karenina and Vronsky dance in the ball, calling the attention of the conservative society. Soon they have a love affair that will lead Anna Karenina to a tragic fate. (source: IMDb)


The Philosophy of Anna Karenina

If so many men, so many minds, certainly so many hearts, so many kinds of love. – Leo Tolstoy

 

Kutipan diatas merangkum apa yang ingin disampaikan sang pengarang dalam Anna Karenina. Di dalam kisah Anna Karenina ada cinta dalam berbagai jenis dan bentuknya; yang dalam bahasa Yunani dikenal melalui empat istilah: STORGE, EROS, PHILEO, dan AGAPE. Di dalam film, cinta kasih orang tua terhadap anak-anaknya dan sebaliknya (Storge) ditunjukkan oleh Anna terhadap putranya Seriozha dan juga oleh beberapa karakter lain. Asmara antara pria dan wanita (Eros) nampak dalam hubungan terlarang Anna dan Vronsky. Kasih antara sahabat atau saudara (Phileo) ditunjukkan oleh dua orang yang berbeda karakter, Oblonsky dan Levin, yang dikisahkan tetap berteman baik meski memiliki prinsip yang berbeda. Dan yang terakhir, kasih Agape yang selfless dan rela berkorban ditunjukkan oleh karakter Kitty yang rela melayani seseorang yang dianggap hina oleh masyarakat.

Turning the Book Into a Work of Art

Kemewahan versus kesederhanaan, kehidupan bangsawan versus kehidupan petani, serta kesetiaan versus ketidaksetiaan yang disorot dalam kisah Anna Karenina diterjemahkan ke dalam film dengan apik oleh sutradara Joe Wright. Dari awal saya mendengar bahwa adaptasi film terbaru Anna Karenina akan digarap oleh Joe Wright, saya sangat excited dan tidak sabar untuk segera menontonnya. Ini karena saya menikmati dua film garapannya yang lain, Pride and Prejudice (2005) dan Atonement (2007) yang kebetulan kedua-duanya juga merupakan adaptasi dari novel. Dan benar saja, Joe Wright sekali lagi memesona saya lewat Anna Karenina. Terutama karena film Anna Karenina disuguhkan dalam visual yang unik—penonton seakan-akan melihat film di dalam setting teater—atau malah sebaliknya, teater dalam film? Yang manapun itu, visual art, sinematografi, setting, dan juga desain kostum dalam Anna Karenina sungguh-sungguh stunning, didukung pula oleh penulisan skenario oleh Tom Stoppard dan soundtrack lagu folk Rusia. Namun setting teater dalam film juga seakan menjadi bumerang bagi film ini, karena beberapa adegan tampak didramatisir secara berlebihan dan menjadi sangat ”opera sabun”. Namun bagi penggemar period drama, menurut saya Anna Karenina cukup memanjakan selera.

anna-karenina-picture02

anna-karenina04

Cast Review

Sekarang saya mau mengomentari cast-nya. Saya pernah berkata bahwa saya bosan melihat Keira Knightley. I mean, I saw her in so many movies already. Dan jelas-jelas Keira adalah aktris favorit Joe Wright, karena selain dalam Anna Karenina, ia juga muncul dalam dua film yang sebutkan tadi, Pride and Prejudice dan Atonement. I have to say that despite her appearances, she didn’t disappoint in this movie. Satu saja kekurangan Keira, yaitu terlalu kurus! Dan setelah ini sepertinya saya akan absen menonton film-film yang ada Keira Knightley di dalamnya, sampai entah kapan…

anna-karenina-poster04

Kemudian saya dikejutkan oleh Jude Law yang kali ini memerankan Karenin suami Anna, sosok seorang pria berumur yang serius dan kaku, seseorang yang menjaga betul martabat keluarganya. They made Jude Law look unattractive. Jude Law, ladies and gentlemen.

anna-karenina-poster05

Aaron Taylor-Johnson yang memerankan Count Vronsky, malah menurut saya kurang greget aktingnya. Walaupun Aaron dan Keira cukup sukses membangun tensi dalam adegan demi adegan sampai akhirnya mereka resmi menjadi pasangan selingkuh, but I don’t think they look good together…

anna-karenina-poster06

 Dalam film ini juga ada aktor favorit saya, Matthew Macfadyen, yang memerankan Oblonsky, kakak Anna yang tukang selingkuh (bedanya sama Anna yang cuma selingkuh satu kali, Oblonsky selingkuh berkali-kali). Penampilan Matthew di Anna Karenina nggak banget, tambun dan berkumis gede. Tapi cocok lah ya dengan peran Oblonsky yang dibawakannya. Dan akting Matthew dalam film ini sungguh-sungguh lucu dan komikal, nggak jadi sebel deh padahal doi tukang selingkuh. 😛

Ada juga Domhnall Gleeson yang kita kenal sebagai Bill Weasley dalam franchise film Harry Potter. Domhnall berperan sebagai Levin, sahabat Oblonsky yang jatuh cinta kepada Kitty, adik ipar Oblonsky. Kisah cinta Levin dan Kitty sungguh kontras dengan kisah cinta Anna dan Vronsky yang berakhir tragis. Levin awalnya ditolak oleh Kitty, namun berbagai kejadian mendewasakan karakter Kitty dan pada akhirnya ia menerima cinta Levin. Domhnall cukup sukses menghidupkan karakter Levin yang pekerja keras, sederhana, dan setia, chemistrynya dengan Alicia Vikander pemeran Kitty juga dapet. What a sweet couple. Tapi saya penasaran mengapa tidak ada kissing scene sama sekali untuk mereka? Apakah untuk menegaskan “cinta murni” (kalau memang bisa dikatakan begitu) yang mereka miliki? Oh whatever, I want a sweet kissing scene between Levin and Kitty, because honestly, Anna and Vronsky made me sick.

anna-karenina09

Memorable Quotes:

Anna: “If you have any thought for me you will give me back my peace!”
Vronsky: “ There can be no peace for us, only misery, and the greatest happiness.”

Levin: “Kitty is of the heavens, an angel. And I am of the earth. But then I thought and thought, and there’s no life for me without her.”

Vronsky: “I love you.”
Anna: “Why?”
Vronsky: “ You can’t ask why about love.”

Last Words

Jangan kaget kalau mendengar beberapa penggal dialog dalam bahasa Prancis, karena kehidupan kaum aristokrat di Rusia pada akhir abad 19 memang sangat dipengaruhi oleh Prancis. Saya suka bagaimana sutradara Joe Wright menggambarkan kehidupan sosial kaum aristokrat Rusia pada zaman itu seperti di atas panggung sandiwara dan bagaimana Levin “keluar” dari panggung sandiwara tersebut sebagai satu-satunya karakter utama yang menggambarkan kemurnian dan kedekatan dengan dunia nyata. Anna Karenina mendapat 4 nominasi dalam Oscar 2013 namun sayangnya hanya membawa pulang 1 piala Oscar untuk kategori Best Achievement in Costume Design. Film berdurasi 2 jam 9 menit ini punya beberapa titik bosan seperti layaknya film drama pada umumnya, namun tetap merupakan sebuah work of art yang sayang untuk dilewatkan.

Gambar-gambar yang digunakan dalam post ini diambil dari sini.

Average rating on IMDb: 6,7 out of 10 Anna Karenina (2012) on IMDb
//

My rating: 7,5 out of 10

Awards: Won 2013 Academy Awards for Best Achievement in Costume Design (for Jacqueline Durran). Nominated for Best Achievement in Cinematography, Best Achievement in Production Design, and Best Achievement in Music Written for Motion Pictures (Original Score). Won 2013 BAFTA Film Award for Best Costume Design. Won 2013 Critics Choice Award for Best Art Direction and Best Costume Design.

Details:

“Anna Karenina”, released September 2012 (UK)
Adapted by Joe Wright from the novel by Leo Tolstoy, Screenplay written by Tom Stoppard
Starring Keira Knightley, Jude Law, Aaron Taylor-Johnson, Matthew Macfadyen, Kelly Macdonald, Domhnall Gleeson, Alicia Vikander, Ruth Wilson, Olivia Williams, Oskar McNamara
Runtime 129 min.

Books Into Movies Monthly Meme Button 1

N.B. : Saya memang hanya pernah membaca Anna Karenina versi simplified (baca reviewnya di sini), dan sejauh yang saya ingat plot di dalam buku yang saya baca sama persis dengan plot di dalam film. Bisa jadi ada perbedaan antara adegan di film dengan adegan aslinya di buku versi unabridged. Post movie review Anna Karenina ini juga disertakan dalam Books Into Movies Monthly Meme yang diadakan oleh blog HobbyBuku’s Classic.

Anna Karenina – Leo Tolstoy, Simplified Version

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Berangkat dari kehidupan pernikahan yang tidak bahagia, wanita bangsawan yang cantik dan cerdas Anna Karenina terpikat oleh pesona Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan. Mereka pun jatuh dalam perzinahan, sesuatu yang juga dilakukan Oblonsky, kakak laki-laki Anna, terhadap istrinya Dolly. Cerita bergulir dengan menguraikan perkembangan hubungan Anna dan Vronsky, bagaimana mereka memutuskan untuk hidup bersama meskipun Anna belum bercerai dari Karenin, suaminya. Juga pergumulan Anna yang rindu agar putranya, Seriozha, hidup bersamanya dan Vronsky. Dan salah satu hal yang terpenting adalah keteguhan hati Anna yang bertekad tetap memunculkan diri di tengah masyarakat walaupun secara sosial ia telah dikucilkan dan segala pembicaraan tentangnya selalui bernafaskan sentimen negatif. Sampai akhir cerita, Anna berjuang menghadapi segala situasi yang menghimpitnya—sampai pada suatu titik ia memutuskan bahwa ia tidak sanggup lagi.

Kisah tragis Anna dalam Anna Karenina yang dibingkai dalam setting Rusia abad ke-19 ini langsung disandingkan oleh penulis Leo Tolstoy dengan kisah Levin, sahabat Oblonsky, yang meskipun mengalami berbagai hambatan di awal hubungannya dengan perempuan yang dicintainya, Kitty, namun akhirnya mereka menikah dan menjalani kehidupan yang bahagia. Saya membaca versi simplified (disederhanakan) dari Anna Karenina ini karena ingin sekedar mengetahui jalan ceritanya, mumpung versi terbaru filmnya yang dibintangi Keira Knightley sedianya akan mulai tayang November nanti. Beberapa hal yang bisa saya pelajari dari versi sederhana Anna Karenina ini:

1. Pernikahan yang tidak didasari dengan cinta adalah sumber masalah. Pada zaman novel ini ditulis, memang pernikahan yang demikian lazim terjadi, sehingga Tolstoy mengangkat isu ini ke dalam suatu karya tulis yang menunjukkan apa akibatnya jika suatu pernikahan tidak didasari dengan cinta.

2. Deretan karakter dalam novel ini begitu manusiawi. Ambil saja contoh Anna. Pada satu sisi, keteguhan Anna patut diacungi jempol. Sebagai heroine (tokoh utama wanita) yang tidak biasa dalam sebuah novel, Anna memilih untuk berpegang pada prinsipnya sendiri dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, walaupun masyarakat dan keadaan di sekitarnya tidak merestui. Anna juga bukanlah orang yang bebal, saat ia tengah sekarat pun ia memohon pengampunan dari Karenin, suaminya. Dan Karenin, walaupun digambarkan sebagai seorang pria yang kaku dan dingin, memaafkan Anna begitu rupa sampai-sampai saya berandai-andai akan bagaimana jadinya kalau Anna dan Karenin saling mencintai.

3. Ketika memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan seseorang, cinta saja tidak cukup. Perlu ada pengabdian terhadap orang tersebut dan pengorbanan akan kepentingan-kepentingan pribadi. Dua hal ini adalah perwujudan yang lebih sempurna dari perasaan cinta. Sehingga ketika pasangan hidupmu tidak lagi rupawan ataupun menyenangkan, anda tetap akan berada di sisinya, tidak peduli apapun yang terjadi.

“Aku akan selalu mencintaimu, dan jika seseorang mencintai orang lain, ia akan mencintai keseluruhan dari orang itu apa adanya dan bukan hanya apa yang ia sukai dari orang itu.”

*

Tiga bintang untuk Anna Karenina yang meskipun dalam versi telah disederhanakan, tetap banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Apakah suatu saat nanti saya akan membaca Anna Karenina versi unabridged yang setebal bantal itu? Well, why not? 😉

Baca juga: ulasan karakter Anna Karenina

 

Detail buku:
Anna Karenina, oleh Leo Tolstoy
198 halaman, diterbitkan tahun 2005 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1877)
My rating: ♥ ♥ ♥


Review in English:

This is a short review of the simplified version of Anna Karenina. Why the simplified version, you might ask? Well, I found it at a book fair the other day and I was just curious with the storyline of Anna Karenina, I thought that at least I should have read the simplified version before the recent adaptation is out next November. So I bought it and read it within 2 days only (it’s only 198 pages thick). And what I got was the tragic story of Anna, an attractive young woman living in the high society of 19th century Russia. Sick and tired of her cold and boring husband Karenin, Anna seek solace in the arms of a handsome young officer named Count Vronsky. As their affair was going on, Anna still was troubled by her love for her son and Karenin’s, Seriozha. Anna wanted Seriozha to live with her and Vronsky, but Karenin, still wasn’t divorcing Anna, wouldn’t let Seriozha go. In the meantime, Anna was secluded from society as a form of punishment for her act of adultery with Vronsky. But being a rather unusual heroine, Anna was determined to keep her place in society, even though her presence was unwanted and disdained.

The oh-so-glamorous trailer of Anna Karenina (coming up December 2012)

Even though this was only a simplified version, there are a lot of moral values I can take from Anna Karenina. First, marriage without love is the source of trouble. Second, the characters of this novel were so human with their flaws. I was especially impressed in Anna’s determination to live her life in her own way, no matter how disgraced her life was, no matter what society said and think of her. The moment when Anna was dying and begging for forgiveness from Karenin drove me to tears and I wished that she loved her husband instead, so that any of the terrible things wouldn’t happen to her! But hey, there wouldn’t be the Anna Karenina we all know today if she did. Lastly, when you decided to spend your life with someone, love is not enough. You need to devote yourself to your partner and sacrifice your personal matters, so that one day if your partner is no longer pretty or nice, you will still be at his/her side and never leave no matter what happens. So, I gave three out of five stars for the simplified version of Anna Karenina. Will I read the unabridged version someday? Well, why not? I’m honestly tempted to do so.

11th review for The Classics Club Project, 7th review for The Classic Bribe

Favorite Actor: Matthew Macfadyen

Don’t worry, this post is still bookish. I won’t post anything that doesn’t have anything to do with books here.

My favorite actor, Matthew Macfadyen, has played at least 7 different roles in classic literature adaptations. Of course I first knew him (and fell in love at first sight too, as I imagine many females out there did as well) in an adaptation of Jane Austen’s most renowned work; Pride and Prejudice (2005, directed by Joe Wright).

Many have said that he brought a whole new and fresh package of Mr. Darcy for this generation. Many have compared his portrayal of Mr. Darcy and Colin Firth’s. Proud, excessively rich, and judges people rather hastily and harshly, but turns out to have a loving heart deep inside, the character Mr. Darcy remains an archetype for romantic heroes in literature until today.

As Fitzwilliam Darcy in Pride and Prejudice (2005)

Oh, do I need to say more? He and Keira Knightley (as Elizabeth Bennet) shared amazing chemistry in this film. The cinematography was done beautifully. I found so many little things that made me smile, like *spoiler alert* when Lizzie met Georgiana Darcy for the first time, Darcy looked at her (Lizzie) so endearingly and then realized that his sister gave him an innocent smiling look as if she’s going to say, “oh-just-show-her-how-much-you-like-her-dear-brother”. His endearing expression disappeared instantly and he abruptly changed the subject of the conversation at the moment. *spoiler ends*

Back at 1998, he starred in a Wuthering Heights TV movie as Hareton Earnshaw. Jeez! That depressing nasty work by Emily Brontë! I don’t remember much about Hareton, except that he was uneducated and ended up with his cousin. But with this Hareton… ummmmm… I somehow lost words. 😀

As Hareton Earnshaw in Wuthering Heights (1998)

A few years later, in 2001, he transformed into a nineteenth-century Victorian bad boy called Sir Felix Carbury. Carbury is one of the characters in Anthony Trollope’s The Way We Live Now. In this BBC TV miniseries he flirted badly with Shirley Henderson (this generation recognizes her as Moaning Myrtle in Harry Potter franchise). He was hilarious in this 4-episode miniseries.

As Sir Felix Carbury with his mother and sister in The Way We Live Now (2001)

Post-Pride and Prejudice, he made a comeback to period drama in an adaptation of Charles Dickens’ work, Little Dorrit in 2008. In this 14-episode BBC TV miniseries he played the protagonist character Arthur Clennam, a kind-hearted businessman with mysterious family secrets. I love the character Arthur Clennam and loved how he was brought to reality by Matthew, this role just showed another side of Matthew’s acting, the softer and gentler side.

As Arthur Clennam in Little Dorrit (2008)

Even though it is really long and confusing sometimes, I enjoyed the miniseries so much. It was rich with wit and many colorful characters. I even wrote a review of the miniseries (in Bahasa) here.

In 2010 Matthew acted alongside Russell Crowe in Ridley Scott’s Robin Hood. Sheriff of Nottingham was a disturbingly small role and I don’t like how he looked in this film. Nuff said. 😀

As Sheriff of Nottingham in Robin Hood (2010)

Just last year in 2011, Alexandre Dumas’ The Three Musketeers was adapted in an almost-modern, full-action version by director Paul W.S. Anderson. Matthew was Athos, the leader of the three (four actually) main musketeers in this film. Betrayed by a loved one in the past, the melancholic Athos was played very charismatically by Matthew. I settled to enjoy the movie as an action film in fancy period costumes rather than as a classic literature adaptation.

As Athos in The Three Musketeers (2011)

Lastly, in this year’s awaited classic adaptation of Anna Karenina by Russian author Leo Tolstoy, Matthew starred as Prince Stiva Oblonsky, Anna’s unfaithful older brother. He reunited with Keira Knightley and director Joe Wright in this film, this time as a brother of Keira’s character, instead of a lover. I’m excited to see this film soon, because the trailer showed how grand and glamorous the movie will be (why November has to be months away? Why? Why?) even though I’m certain that I’m not going to like how he looked in the movie.  (That ridiculous, monstrous mustache! Ugh!) But hey, an actor’s gotta do what an actor’s gotta do, right?

As Prince Stiva Oblonsky, with Keira Knightley (as Anna) in the upcoming Anna Karenina (2012)

That was all of it. I’m eager to watch his other movies that aren’t adaptations of classic literature too, especially The Pillars of the Earth miniseries (2010). And I long to see more of Matthew in the future! 😉

One look to leave me breathless… 🙂

IMDb Links:

Wuthering Heights (TV movie, 1998)
The Way We Live Now (TV mini-series, 2001)
Pride and Prejudice (2005)
Little Dorrit (TV mini-series, 2008)
Robin Hood (2010)
The Three Musketeers (2011)
Anna Karenina (2012)

Character Thursday [9]: Anna Karenina

Mulai minggu lalu, feature Character Thursday di blog Fanda Classiclit punya wajah baru, juga format baru yang memuat poin-poin yang semakin memudahkan kita untuk mendalami sebuah karakter dalam karya fiksi.

 

Nah, minggu ini saya mau membahas karakter utama dari salah satu novel mahakarya sastrawan Rusia Leo Tolstoy, yaitu Anna Karenina. Warning: versi yang saya baca bukan versi yang unabridged tapi hanya versi yang simplified saja, sehingga tulisan di bawah mungkin tidak menggambarkan keseluruhan dari karakter Anna Karenina.

*** SPOILER ALERT! ***

  • Are they protagonist or antagonist?

Anna Karenina adalah karakter protagonis di dalam novel.

  • Who are they? What was their role in the book?

Anna adalah seorang wanita aristokrat yang cantik, berpendidikan, dan mempunyai semangat tinggi yang hidup di Rusia pada abad ke-19. Ia juga dikenal luas dalam pergaulan kaum kelas atas. Anna  menikahi Alexei Karenin, seorang pejabat pemerintahan yang berkarakter dingin dan kaku, dan jauh lebih tua darinya. Walaupun pernikahan mereka tidak bahagia, Karenin dan Anna dikaruniai seorang putra, Seriozha. Saat Anna berselingkuh dengan Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan, ia tercabik antara cintanya kepada Vronsky dan kepada putranya. Di satu sisi, bersama Vronsky ia merasakan kebahagiaan yang tidak dirasakannya saat bersama Karenin, namun di sisi lain ia juga sangat mencintai putranya sehingga tidak rela berpisah darinya.

  • What was your strongest impression on the character(s)? You can quote the dialogue or narration you got the impression from.

Terlepas dari situasi yang menjepitnya, Anna memilih untuk berpegang pada prinsip pribadinya dan tidak membiarkan dirinya hidup dalam kepalsuan. Walaupun ia mengalami pengucilan sosial sebagai sanksi atas perselingkuhannya, Anna tetap berkemauan keras untuk menampakkan dirinya di tengah masyarakat, misalnya dengan pergi ke pertunjukan opera. Hal ini berkebalikan dengan kakak lelakinya, Oblonsky, yang juga terlibat perzinahan namun tidak sekalipun ia membiarkan publik tahu bahwa ia melakukan perbuatan yang tercela.

Selain itu, meskipun dalam keadaan yang tercela, Anna tetap menunjukkan watak yang apa adanya dan masih menunjukkan penghormatan kepada suaminya, saat ia sekarat dan memohon maaf dari Karenin.

“Inilah yang ingin kukatakan padamu. Ada wanita lain di dalam diriku, aku takut padanya; itu adalah dia yang sedang jatuh cinta pada lelaki lain. Aku bukan wanita itu. Sekarang inilah diriku yang sebenarnya, seutuhnya. Aku sekarat sekarang, aku tahu siapa aku ini. Aku hanya menginginkan satu hal—maafkan aku, maafkan aku sepenuhnya!”

Adegan ini cukup menyayat hati, apalagi ketika Karenin dengan lapang dada memberikan maafnya, menunjukkan bahwa sekalipun ia pria yang dingin, ia masih punya hati nurani.

  • How do they develop throughout the book?

Walaupun menyala-nyala pada awalnya, lambat laun cinta antara Anna dan Vronsky pudar juga. Anna yang sebelumnya berpendirian kuat pada prinsip dan kata hatinya, secara psikologis mulai goyah. Ia mencurigai bahwa Vronsky menemui wanita lain dan merasa semakin insecure, apalagi dengan keadaan yang serba tidak menentu: ia belum bercerai dengan Karenin dan ia tidak memiliki hak asuh terhadap putranya. Karena belum bercerai maka Anna pun tidak bisa meresmikan hubungan dengan Vronsky. Diperhadapkan dengan segala situasi ini, Anna pun memilih jalan keluar terakhir yang membebaskannya dari segala penderitaan yang dialaminya.

“Apa yang ia cari sebenarnya dari diriku?” begitu pikirnya. “Bukan cinta, namun hanya sebuah kebanggaan karena berhasil mendapatkanku. Dia telah mengambil segala yang ia dapatkan dariku, dan aku sekarang tidak mau lagi diperalat olehnya.” (…) “Dia adalah segalanya bagiku, dan aku ingin ia memberikan segalanya untukku, namun ia semakin menjauh dariku. Dia telah menghentikan cintanya untukku, dan di mana cinta berakhir, benci akan dimulai.” (…) “Jika aku bisa bercerai dan menjadi isterinya, itu tidak akan mengubah apa pun—tidak akan ada perasaan baru yang timbul.”

  • What lessons or influences you got from them?

Pelajaran yang bisa diambil dari Anna, hanya satu kalimat pendek dan sederhana sih. Don’t be like her! Alias, jangan menjadi seperti dia! Di dalam buku yang saya baca, tidak terlalu dijelaskan mengenai awal pernikahan Anna dan Karenin, namun saya bisa menebak bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan yang direncanakan, dan tidak melibatkan cinta. Inilah yang menjadi akar masalah mengapa akhirnya Anna jatuh ke dalam pelukan Vronsky. Mau tahu akan jadi bagaimana jika suatu pernikahan tidak dilandasi rasa cinta yang kuat? Coba bacalah Anna Karenina! 🙂

Keira Knightley as Anna Karenina

Dalam adaptasi Anna Karenina yang akan rilis November 2012 nanti, karakter Anna diperankan oleh Keira Knightley. Menurut saya sih Keira cocok memerankan Anna, meskipun saya sudah agak bosan melihat Keira, film yang dibintanginya udah banyak banget sih! 😀

 Nah, siapa Character Thursday-mu minggu ini?