LPM: Literaturia, Surabaya 2 Oktober 2016

Selamat pagi BBI-ers,

Pernah ikutan festival literatur, baik lokal maupun internasional? 😀 Saya sih jarang, haha. Kadang karena di Surabaya sendiri, acara literatur semacam ini jarang dan jaraknya cukup jauh dari rumah saya, dan bikin saya malas berangkat.

Kalian mengenali salah satu pembicara pada poster diatas? Pada tanggal 2 Oktober 2016 kemarin, Kak Melisa Mariani, pemilik blog Surgabukuku, diundang menjadi pembicara pada Literaturia. Literaturia mengusung tagline “The first, biggest, and most diverting literary event in Surabaya”. Di acara ini, Kak Melisa menjadi perwakilan BBI sebagai komunitas perbukuan dan penggemar baca.

Anyway. Dari BBI Surabaya, sayangnya hanya saya yang bisa datang, padahal menurut saya acara ini cukup kece dan menginspirasi. Literaturia digagas oleh grup Surabaya Youth, dan mengusung beberapa jenis acara. Mulai dari coaching class mengenai menulis, Chatterbus bersama Bernard Batubara, baca puisi, dan juga music performance (menurut saya DJ-nya yang ngeremix My Way ganteng sih…) #jadisalahfokus Saya juga hanya berkesempatan mengintip kelas Drop-A-Line bersama Hipwee dan Di-sku-shion yang diadakan sore hari.

Selain Kak Mel, ada beberapa tamu lain sebagai narasumber yaitu Mutia Prawitasari, penulis Teman Imaji, Ivana Kurniawati perwakilan dari Pecandu Buku, dan Akhyari Hananto dari Good News from Indonesia. Dimoderatori oleh Kak Hasan Askari, acara ini berlangsung hangat dengan format diskusi bersama peserta.

Di-sku-shion mengangkat tema dunia perbukuan dan peran komunitas perbukuan dalam masyarakat. Selain itu, disinggung juga mengenai Surabaya sebagai Kota Literasi. Ada banyak cerita menarik dari para narasumber. Mulai dari pengalaman suka dan duka Pecandu Buku yang menyediakan lapak baca di Surabaya. Kisah-kisah pembaca dan juga pengalaman Kak Akhyari di luar negeri, yang jadi membuka mata saya betapa mundurnya negara kita ini. Dari penulis Kak Mutia, ada cerita mengenai penulis-penulis yang ingin terkenal secara instan sehingga buku-bukunya tidak mengikuti proses penerbitan yang benar, dan kondisi kualitas literatur Indonesia saat ini, yang menurut saya sendiri memang memprihatinkan. Kak Mel sendiri bercerita mengenai suka duka menjadi blogger buku.

Ada banyak kendala mengapa literatur dan budaya kita masih tidak berubah. Salah satunya adalah regulasi dan instruksi pemerintah tanpa adanya tindakan langsung dari pemerintah. Ada juga sentilan mengenai sikap pemerintah yang plinplan dan cenderung membiarkan. Pegiat kegiatan semacam ini memang kurang mendapat support dari pemerintah, terbukti dari cerita Kak Ivana kalau Pecandu Buku sering kena gusur. Masyarakat sendiri masih tidak membudayakan bercerita dan membaca yang baik, lagi-lagi terbukti dari banyaknya acara televisi yang tidak mendidik, budaya membajak dan minta gratisan, membicarakan sisi negatif dari sebuah kejadian saja dan tidak berfokus pada sisi positif, dan menjadikan berita-berita jelek (bahkan hoax) viral. Hal-hal ini dianggap menghambat kemajuan bangsa kita.

Kak Mel sedang menceritakan bagaimana buku dapat mengubah cara pandang seseorang

 

Dari diskusi ini juga ada definisi literasi yang menarik menurut para narasumber. Literasi adalah sesuatu yang mencerahkan, membuat kita merasa dan mendaya guna, serta sesuatu yang berproses dalam keberadaannya. Literasi tidak hanya tentang buku, tapi juga berbagai hal yang mengelilingi buku itu sendiri seperti pembaca, penulis, kritikus, dan lain-lain. Saya sendiri setuju dengan definisi ini. Dan saya juga berpendapat Indonesia memiliki banyak sekali PR untuk meningkatkan kualitas literasi, termasuk mengubah pola pemberian informasi sehingga lebih positif 🙂
Semoga kedepannya, kita bisa semakin memajukan dunia literasi di Indonesia dengan hal-hal yang positif, bermutu, dan bermanfaat. Because literacy and books can, literally, change our lives and our mindsets.
Kiri ke Kanan: Hasan Askari, Akhyari Hananto, Melisa Mariani, Mutia Prawitasari, Ivana Kurniawati
Sekian LPM dari saya. Karena saya bikinnya agak buru-buru, maafkan kesalahan dalam penulisan dan juga tata bahasa yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan EYD.
-Nina Ridyananda, The Bookaddict Diaries

My Journey of Book Blogging with BBI

Sebenarnya kalo dirunut ke belakang, saya agak lupa sejarah bergabung dengan Blogger Buku Indonesia alias BBI. Maklum lah, semuanya “kejadian”nya di dunia maya dan saya bukan tipe orang yang suka mencatat tanggal-tanggal tertentu yang ada “sejarah”nya. Kalo tanggal lahir blog kan saya tinggal lihat kapan post pertama kali terbit, yaitu tanggal 23 November 2010.  (YAK, sebentar lagi blog ini akan berulang tahun yang ke-2! Jangan lupa mampir ke sini mulai tanggal 9 November nanti, bakal ada sesuatu yang spesial buatmu. *kedips*)

Nah, balik lagi ke sejarah bergabung dengan BBI. Yang nggak bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya blog ini. Setelah sebelumnya saya cuma mereview buku-buku lewat Goodreads, atas saran dari Mbak Fanda (yang pada waktu itu udah lama punya blog buku) saya akhirnya memberanikan diri bikin blog buku. Maklumlah, sebelumnya saya belum pernah punya pengalaman blogging. Boro-boro blog buku, blog pribadi pun belum pernah punya. Walaupun di awal-awal posting masih acak-acakan (karena copy-paste kode HTML dari Goodreads), theme dan lain-lain juga masih kacau bin labil, lama-lama saya menikmati juga jadi newbie di dunia blogger buku. And with time, I’m getting better at book blogging, hehehehe :D.

Apalagi dengan keberadaan teman-teman sesama pecinta buku yang juga termasuk BBI-ers yang paling awal bergabung: Rahib Tanzil Hernadi, Mbak Fanda, Nophie, Althesia, Ally, Ana, Ferina, Mia, Astrid, dan siapa lagi yaaa (maaf kalo ada yang kelewatan, ini seinget saya aja sih). Nah, karena sebelumnya sudah familiar dengan teman-teman ini via Goodreads dan Twitter, ketika menerima undangan dari Ally untuk bergabung di Group FB BBI, ya dengan senang hati saya bergabung. Yang unik, walaupun BBI-ers itu bhinneka tunggal ika masalah genre buku (ada yang ”makanan”nya romance, ada yang doyan fantasi, ada juga yang doyannya klasik atau fiksi sejarah, dan seterusnya…), sepertinya perbedaan itu nggak menjadi masalah ya!

Dan sampai sekarang….. we’re having so much fun! Mulai dari posting bareng tiap bulan dan aktivitas blogwalking yang gak bisa dipisahin dari acara posting bareng (buat yang belum tau, posting bareng pertama kali pake buku Wuthering Heights), godain si Bebi di Twitter (yap :D), BBI 1st Giveaway Hop yang bikin heboh, juga Secret Santa tahun lalu yang nggak kalah hebohnya. Juga ketika alamat blog buku saya masuk buku Berguru pada Pesohor bareng teman-teman yang lain, itu salah satu peristiwa yang sampe sekarang bikin senyum-senyum sumringah (padahal ya cuma gitu doang sih). Sampe hal-hal kecil misalnya ngarep buntelan dari penerbit (apa kabar ordo buntelan? Masih eksis kah? Salam tiga jari dari eks ordo buntelan :P), ada juga ordo swap yang doyan barter buku, terus saling ngasih semangat kalo ada seseorang yang lagi mampet baca ato blogging. All of these things are nice indeed, right? I am really happy to be a part of this community.

Sedikit tentang BBI-ers (sekali lagi maaf kalo ada yang kelewatan, bukan karena sengaja lho).

Yang rajin bikin giveaway: Ren, Oky, Nana

Yang speed bacanya kecepatan cahaya: Threez, HobbyBuku, Stefanie Sugia, Desty

Yang lama vakum / jarang update: Noviane, Nophie, Althesia, Review Buku

Yang bacaannya bikin geleng-geleng: Ndari dan Listra

Fellow Classics Clubbers: Fanda, Bzee, Vannya, Made Melani, Hobby Buku, Althesia, Listra

 Sekarang, ijinkan saya menutup post ini dengan sebuah quote dari buku The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society:

“We read books, talked books, argued over books, and became dearer and dearer to one another.”

 

I love you full, BBI! 😀

 

* Posting ini ditulis dalam rangka meramaikan Hari Blogger Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober lalu.

UPDATE: Ingin bergabung dengan BBI? Simak syarat-syarat dan cara bergabung di POST INI.

Pendatang Baru di Rak Bukuku Juni-Juli 2012

Halo, Agustus!

Di hari pertama bulan Agustus ini saya mau pamer pendatang baru di rak bukuku selama bulan Juni-Juli kemaren (kan belum lapor). Jangan kaget lihat foto timbunan di bawah ini, sebagian dari buku-buku ini hasil kalap di Kompas Gramedia Fair Surabaya akhir Juni-awal Juli kemarin.

 

Beli:

  1. Pay It Forward by Catherine Ryan Hyde
  2. Tales from Shakespeare by Charles & Mary Lamb
  3. The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald

Beli di KGF:

  1. The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne
  2. Anna Karenina by Leo Tolstoy
  3. Gulliver’s Travels by Jonathan Swift
  4. Howl’s Moving Castle by Diana Wynne Jones
  5. Dracula by Bram Stoker
  6. The Reader by Bernhard Schlink (sebenarnya beli di mbak HobbyBuku)

Swap/Hadiah:

  1. American Gods by Neil Gaiman – dari Gramedia (event KGF)
  2. Tokyo Zodiac Murders by Soji Shimada – dari Gramedia (event KGF)
  3. The Incredible Journey by Sheila Burnford – dari mbak HobbyBuku
  4. Winnie-the-Pooh by A.A. Milne – dari mbak Astrid
  5. Extremely Loud & Incredibly Close by Jonathan Safran Foer – dari seorang teman dosen
  6. The Evolution of Calpurnia Tate by Jacqueline Kelly – swap dengan mbak Fanda

Pssst… I’m the one in The Sound of Music t-shirt :-p

Sekalian pamer foto kopdar pasukan BBI-ers Surabaya (yang cewek semua) plus Mas @WisnuDon dari Gramedia deh. (kapan nih kopdar lagi? *wink-wink*)

Kejutan dari Secret Santa BBI! :)

Mestinya hari ini saya posting review buku ini, tapi nggak sempat menamatkannya tepat waktu… Huhuhu maapkan TT_TT

Buat yang penasaran apaan sih Secret Santa, SS adalah suatu proyek/program/event (tepatnya apa yah? SESUATU deh :D) yang diadakan komunitas Blogger Buku Indonesia pada akhir tahun 2011 kemarin. Awalnya Ndari yang melemparkan ide kepada BBI-ers untuk saling memberi kado. Kado apa? Jelas BUKU lah! *wink*

Setiap BBI-ers ngubek-ngubek wishlist si X yang akan dikasih kado, habis gitu membeli dan mengirimkan bukunya. Sampai menerima buku, si X nggak akan tahu siapa Secret Santa-nya. Malah ada beberapa BBI-ers yang identitas SS-nya masih “misterius” padahal udah nerima buku hadiah darinya, heheheh.

Daaaaaaan, inilah buku yang saya terima dari Secret Santa :

City of Thieves dari Secret Santa! ♥

Thank you dear Secret Santa! :-* Walau sempat nungguin lama (dan sempat kesilauan liat BBI-ers lain pada pamerin buku SS-nya :-p), seneeeeeng banget deh bisa dapat buku idaman :D.

So who is my Secret Santa? Dia adalah……. eng ing eeeeeeeennnnnnnngggggggg…….

Click Me!

Colek topi Santa dan anda akan langsung dibawa ke blognya!

Reviewnya nyusul yah…. ^^

203th Anniversary of the Master of Macabre, Edgar Allan Poe

Edgar Allan Poe (1809-1849)

Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-203 maestro sastra gotik asal Amerika Serikat, Edgar Allan Poe (19 Januari 1809 – 7 Oktober 7 1849), kemarin empat orang Blogger Buku Indonesia mempost secara serentak resensi buku kumpulan cerpen milik beliau yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bertajuk “Kisah-kisah Tengah Malam”.

Here they are:

  1. Fanda (http://klasikfanda.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)
  2. Alvina (http://orybooks.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)
  3. Sulis “peri hutan” (http://kutubokek.posterous.com/kisah-kisah-tengah-malam)
  4. Sinta (http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)

Saya sendiri sudah pernah meresensi buku ini, bisa dilihat di sini.

Pertama kali mengenal Edgar Allan Poe tahun 2001, saat saya masih SMA. Saat itu saya sempat membeli buku puisi beliau dan walaupun tidak sepenuhnya bisa saya mengerti, saya menikmati banget puisi-puisi di dalamnya 🙂

Buku puisi "The Raven", Phoenix Paperback 1996

Nah, masih dalam rangka HUT ke-203 Edgar Allan Poe, saya ingin membagikan salah satu puisinya yang berjudul “The Raven”. Puisi yang pertama kali dipublikasikan di koran New York Evening Mirror pada Januari 1845 menarasikan kunjungan seekor burung raven pada tengah malam kepada seorang pria yang sedang menangisi kepergian kekasihnya. Puisi ini kemudian dicetak ulang di koran-koran di seantero Amerika dan Eropa.

Ilustrasi "The Raven" oleh John Tenniel (1858) Sumber: Wikipedia

***

The Raven

Once upon a midnight dreary, while I pondered, weak and weary,
Over many a quaint and curious volume of forgotten lore —
While I nodded, nearly napping, suddenly there came a tapping,
As of some one gently rapping, rapping at my chamber door.
“‘Tis some visiter,” I muttered, “tapping at my chamber door —

Only this and nothing more.”

Ah, distinctly I remember it was in the bleak December;
And each separate dying ember wrought its ghost upon the floor.
Eagerly I wished the morrow; — vainly I had sought to borrow
From my books surcease of sorrow — sorrow for the lost Lenore —
For the rare and radiant maiden whom the angels name Lenore —

Nameless here for evermore.

And the silken, sad, uncertain rustling of each purple curtain
Thrilled me — filled me with fantastic terrors never felt before;
So that now, to still the beating of my heart, I stood repeating
“‘Tis some visiter entreating entrance at my chamber door —
Some late visiter entreating entrance at my chamber door; —

This it is and nothing more.”

Presently my soul grew stronger; hesitating then no longer,
“Sir,” said I, “or Madam, truly your forgiveness I implore;
But the fact is I was napping, and so gently you came rapping,
And so faintly you came tapping, tapping at my chamber door,
That I scarce was sure I heard you” — here I opened wide the door; ——

Darkness there and nothing more.

Deep into that darkness peering, long I stood there wondering, fearing,
Doubting, dreaming dreams no mortal ever dared to dream before;
But the silence was unbroken, and the stillness gave no token,
And the only word there spoken was the whispered word, “Lenore?”
This I whispered, and an echo murmured back the word, “Lenore!” —

Merely this and nothing more.

Back into the chamber turning, all my soul within me burning,
Soon again I heard a tapping somewhat louder than before.
“Surely,” said I, “surely that is something at my window lattice;
Let me see, then, what thereat is, and this mystery explore —
Let my heart be still a moment and this mystery explore;—

‘Tis the wind and nothing more!”

Open here I flung the shutter, when, with many a flirt and flutter,
In there stepped a stately Raven of the saintly days of yore;
Not the least obeisance made he; not a minute stopped or stayed he;
But, with mien of lord or lady, perched above my chamber door —
Perched upon a bust of Pallas just above my chamber door —

Perched, and sat, and nothing more.

Then this ebony bird beguiling my sad fancy into smiling,
By the grave and stern decorum of the countenance it wore,
“Though thy crest be shorn and shaven, thou,” I said, “art sure no craven,
Ghastly grim and ancient Raven wandering from the Nightly shore —
Tell me what thy lordly name is on the Night’s Plutonian shore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

Much I marvelled this ungainly fowl to hear discourse so plainly,
Though its answer little meaning — little relevancy bore;
For we cannot help agreeing that no living human being
Ever yet was blessed with seeing bird above his chamber door —
Bird or beast upon the sculptured bust above his chamber door,

With such name as “Nevermore.”

But the Raven, sitting lonely on the placid bust, spoke only
That one word, as if his soul in that one word he did outpour.
Nothing farther then he uttered — not a feather then he fluttered —
Till I scarcely more than muttered “Other friends have flown before —
On the morrow he will leave me, as my Hopes have flown before.”

Then the bird said “Nevermore.”

Startled at the stillness broken by reply so aptly spoken,
“Doubtless,” said I, “what it utters is its only stock and store
Caught from some unhappy master whom unmerciful Disaster
Followed fast and followed faster till his songs one burden bore —
Till the dirges of his Hope that melancholy burden bore

Of ‘Never — nevermore’.”

But the Raven still beguiling my sad fancy into smiling,
Straight I wheeled a cushioned seat in front of bird, and bust and door;
Then, upon the velvet sinking, I betook myself to linking
Fancy unto fancy, thinking what this ominous bird of yore —
What this grim, ungainly, ghastly, gaunt, and ominous bird of yore

Meant in croaking “Nevermore.”

This I sat engaged in guessing, but no syllable expressing
To the fowl whose fiery eyes now burned into my bosom’s core;
This and more I sat divining, with my head at ease reclining
On the cushion’s velvet lining that the lamp-light gloated o’er,
But whose velvet-violet lining with the lamp-light gloating o’er,

She shall press, ah, nevermore!

Then, methought, the air grew denser, perfumed from an unseen censer
Swung by seraphim whose foot-falls tinkled on the tufted floor.
“Wretch,” I cried, “thy God hath lent thee — by these angels he hath sent thee
Respite — respite and nepenthe, from thy memories of Lenore;
Quaff, oh quaff this kind nepenthe and forget this lost Lenore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Prophet!” said I, “thing of evil! — prophet still, if bird or devil! —
Whether Tempter sent, or whether tempest tossed thee here ashore,
Desolate yet all undaunted, on this desert land enchanted —
On this home by Horror haunted — tell me truly, I implore —
Is there — is there balm in Gilead? — tell me — tell me, I implore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Prophet!” said I, “thing of evil! — prophet still, if bird or devil!
By that Heaven that bends above us — by that God we both adore —
Tell this soul with sorrow laden if, within the distant Aidenn,
It shall clasp a sainted maiden whom the angels name Lenore —
Clasp a rare and radiant maiden whom the angels name Lenore.”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Be that word our sign of parting, bird or fiend!” I shrieked, upstarting —
“Get thee back into the tempest and the Night’s Plutonian shore!
Leave no black plume as a token of that lie thy soul hath spoken!
Leave my loneliness unbroken! — quit the bust above my door!
Take thy beak from out my heart, and take thy form from off my door!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

And the Raven, never flitting, still is sitting, still is sitting
On the pallid bust of Pallas just above my chamber door;
And his eyes have all the seeming of a demon’s that is dreaming,
And the lamp-light o’er him streaming throws his shadow on the floor;
And my soul from out that shadow that lies floating on the floor

Shall be lifted — nevermore!

—Edgar Allan Poe

Semoga ada yang menerbitkan terjemahan karya-karya Poe yang lain T__T. Karya-karya beliau bikin ketagihan, hehe. Ingin tahu lebih banyak tentang Edgar Allan Poe? Silakan klik di sini.