How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

tolstoyBuku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

Detail buku:
How Much Land Does A Man Need?, oleh Leo Tolstoy
64 halaman, diterbitkan 2015 oleh Penguin Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

Coloring Book for Adults: FANTASIA – Nicholas F. Chandrawienata

anti-stress-coloring-book-for-adults---fantasiaBukan untuk kali pertama saya menulis review buku mewarnai di blog ini, karena sebelumnya saya pernah mempost review Coloring Book for Adults: BATIK yang dihadiahkan oleh Secret Santa BBI pada akhir tahun 2015 yang lalu.

Nah kali ini, saya ingin mereview buku mewarnai terbitan dalam negeri yang berjudul FANTASIA. Fantasia ini merupakan buku mewarnai favorit saya sejauh ini (saya punya 7 buku mewarnai) dan karena itulah saya merasa ada yang kurang kalau saya belum menuliskan reviewnya, dan membagi kesenangan ini dengan teman-teman sekalian. 🙂

Mari simak Kata Pengantar dalam buku ini:

Semua perkembangan dan kemajuan yang dialami umat manusia berawal dari fantasi.

Fantasi adalah berkat yang diberikan Yang di Atas untuk semua umat manusia.

Sejak kecil kita berfantasi tentang makhluk-makhluk khayalan. Sampai akhirnya makhluk fantasi manusia seperti unicorn, peri, dan naga mendunia dan dikenal banyak orang.

Di dalam buku ini bisa Anda temukan berbagai makhluk fantasi seperti burung phoenix, chimaera, sampai kurcaci. Saya berharap buku ini bisa membantu untuk melepas stres, juga memberikan inspirasi kepada Anda.

Mari kita bersama membangkitkan lagi naluri untuk berfantasi seperti anak kecil. Karena dengan berfantasilah kita sebagai manusia bisa terus berkembang.

Mari berfantasi dan mewarnai!

Faktor utama yang membuat kamu harus punya buku ini adalah ilustrasi-ilustrasi keren karya Nicholas F. Chandrawienata (@nickfilbert) yang mengisi ke-64 halaman buku ini. Menurut saya, style gambarnya khas, garis-garisnya kuat, dan nggak kalah dengan hasil karya para illustrator luar negeri. Dan dari beberapa kali saya mengupload hasil mewarnai buku Fantasia di Instagram, ada beberapa orang (bukan orang Indonesia) yang menanyakan dimana bisa beli buku ini.

Covernya memang terlihat gahar, tapi sebenarnya isinya cukup beragam mulai dari ilustrasi-ilustrasi yang cenderung girlie seperti gambar peri, malaikat, putri duyung dan putri oriental, atau yang cenderung maskulin seperti gambar naga, dewa Zeus, dan bajak laut. Beberapa gambar lain berkesan seram, misalnya gambar scarecrow, tengkorak, dan anjing berkepala tiga. Gambar tiga burung hantu dan magician malah berkesan cute, dan Nick juga menyelipkan dua halaman bergambar Barong Bali dan Garuda sehingga ada sedikit cita rasa Indonesia di buku ini. Salah satu plusnya lagi, detail pada ilustrasi-ilustrasi di buku ini tidak terlalu kecil-kecil jelimet seperti di kebanyakan buku mewarnai, yang malah bisa membuat tambah stres bukannya mengusir stres. Ada beberapa halaman di mana sang illustrator mengajak pewarna untuk menambahkan detail, misalkan di gambar naga dan rusa jantan. Selain itu, kamu bebas berkreasi dan menambahkan detail sendiri jika mau.

Selanjutnya sneak peek beberapa halaman isi buku Fantasia bisa dilihat di gallery di bawah ini. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Ketebalan kertas cukup memadai untuk mewarnai dengan media pensil warna atau crayon, namun hati-hati jika menggunakan spidol/connector pens, pensil warna water soluble dan cat air, karena bisa tembus ke belakang. Perlu diketahui juga bahwa halaman-halaman di buku ini dilengkapi pattern yang memudahkan untuk menyobek halaman, namun bagi mereka yang tidak ingin menyobek halaman hal ini bisa jadi masalah.

Dan berikut ini adalah beberapa hasil mewarnai saya dari buku Fantasia. Ilustrasi-ilustrasi lainnya yang sudah diwarnai bisa kamu intip di Instagram dengan hashtag #fantasiacoloringbook dan #nickfilbert.

Nah, gimana, apakah review singkat dan gambar-gambar yang saya pamerkan sudah cukup membuatmu ingin mewarnai buku Fantasia juga? Mari berkreasi dengan warna dan jangan lupa pamerkan hasil karyamu! 😉

Tentang Ilustrator

Nicholas Filbert Chandrawienata memulai karier di dunia ilustrasi pada tahun 2013 dan kini telah mengerjakan proyek bergengsi di dalam dan luar negeri. Cover novel The Walled City karya Ryan Graudin yang versi terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama juga merupakan salah satu karya Nick. Pada tahun 2015 yang lalu Nick juga pernah menerbitkan mini art book bertajuk Serene yang hanya dicetak terbatas. Mari kita tunggu karya-karya Nick selanjutnya. 😉


Detail buku:

Anti-Stress: Coloring Book for Adults – FANTASIA, oleh Nicholas F. Chandrawienata
64 halaman (26×25 cm), diterbitkan Desember 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 

Alice’s Adventures in Wonderland – Lewis Carroll

alice puffin chalkIt’s strange that even though I have been familiar with the character Alice since childhood (thanks to Disney), I have never actually read the book. While both of the Disney adaptations—the old-school animation and the latest one—are weird, I think the book was even weirder!

Curiouser and curiouser! Alice would say.

Alice, a curious child of seven, thought it was very strange indeed that on a hot day, she should see a White Rabbit that talks and wears a waistcoat and has a watch which he took out from his waistcoat-pocket. Piqued by her own great curiosity, she followed the frantic White Rabbit down a seemingly endless hole. Through the Rabbit-Hole, she was transported to Wonderland, a world in which everything is absurd, fantastical and even ridiculous, and nothing makes sense.

Why is this book so well-loved? I don’t have the answer to that question, but I know that I like this book because:

1. You can never guess what happens next. And Alice as the main character will keep you fascinated. When I decided to read this book I was in need of a sort of escapism, and little did I know that I was in for a treat. This book is a wild journey of imagination.

2. True, this book falls into the “literary nonsense” category, but you can’t help but admire Lewis Carroll’s wordplay. And some parts are just so funny.

Let’s take a look at a passage from The Mock Turtle’s Story:

“I couldn’t afford to learn it,” said the Mock Turtle with a sigh. “I only took the regular course.

“What was that?” inquired Alice.

“Reeling and Writhing, of course, to begin with,” the Mock Turtle replied; “and then the different branches of Arithmetic – Ambition, Distraction, Uglification, and Derision.”

“…Mystery, ancient and modern, with Seography: then Drawling—the Drawling-master was an old conger-eel, that used to come once a week: he taught us Drawling, Stretching, and Fainting in Coils.”

“And how many hours a day did you do lessons?” said Alice, in a hurry to change the subject.

“Ten hours the first day,” said the Mock Turtle, “nine the next, and so on.”

“What a curious plan!” exclaimed Alice.

“That’s the reason they’re called lessons,” the Gryphon remarked: “because they lessen from day to day.”

3. The cover of the edition of Alice’s Adventures in Wonderland I own (published by Puffin Books under the Puffin Chalk series). I mean, the cover alone would have been enough to rate this book 3 stars at least.

To wrap up this nonsense review, I only want to point out that even though I read this book for the first time as an adult, I read it with a mind of a child. I didn’t search for symbols and hidden meanings while reading, because the child in me didn’t need to understand to enjoy the journey.

“It’s no use going back to yesterday, because I was a different person then.”


Book details:

Alice’s Adventures in Wonderland, by Lewis Carroll
160 pages, published 2014 by Puffin Books (first published 1865)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Princess Bride – William Goldman

OLYMPUS DIGITAL CAMERAIt comes to this: I was in need of a light read after spending one and a half month preparing for IELTS. I don’t know exactly why I chose this book—maybe because I suddenly remember my history with The Princess Bride. I first bought The Princess Bride on impulse. The truth is I don’t like fantasy books all that much, and I also didn’t really like the cover, so I sold it to Mbak Dewi (it was a copy with this cover, anyway). Some years later, while casually browsing a pile of used books in a bookshop, I found another copy of The Princess Bride. Having watched the film and seeing that the book has a vintage-looking cover, I decided to buy it. Ha! This time I didn’t regret buying it because in addition to the eyecatching cover, it also has a map. It would make a splendid addition to my collection!

Now, moving on to the story. I will list the characters first.

Buttercup, a Florinese village girl of unmatched beauty.

Westley, an orphaned farm boy who worked (or slaved) for Buttercup’s father.

Prince Humperdinck, a scheming and power-hungry prince who loved hunting above all else.

Count Rugen, Humperdinck’s sidekick and confidant who was obsessed with pain.

Vizzini the brainy Sicilian.

Inigo Montoya the sword-wielding Spaniard.

Fezzik the Turkish giant.

All the Farm Boy ever said to Buttercup was, “As you wish.” Of course what he meant was “I love you” but it took Buttercup some time before she realises this. Not until a visit from Count and Countess Rugen when she saw the Countess seemingly took a fancy of Westley. But just after them realising their true feelings for one another, Westley sailed off to America to seek his fortune, in order to become a man worthy of Buttercup. Buttercup waited and waited, but news came one day that Westley’s ship had been attacked by the Dread Pirate Roberts and he never takes prisoners, which means Westley was dead. Heartbroken, Buttercup accepted marriage proposal from Prince Humperdinck (confused? Hang on a bit) with “I can never love him” in mind. Well, it means death if she said no. So began the preparations of the royal wedding, including months of making the village girl into a princess. One day while riding her horse, a weird trio consisted of Vizzini, Inigo, and Fezzik kidnapped her. But the trio’s plan (or more accurately, Vizzini’s plan, since he was the head of the trio) was threatened by the man in black, who followed them as they were sailing to the neighbouring country of Guilder, up the Cliffs of Insanity to the ravines that led to the Fire Swamp. (I’m going to leave it at this moment, there are so much adventures thereafter, but I don’t want to ruin your fun by spoiling them all.) 😉

Thoughts:

This book is the abriged version of S. Morgenstern’s The Princess Bride, the “good parts” version by William Goldman. (SEE UPDATE AT THE END OF THE POST) I don’t think that this book belongs to the fantasy genre, let alone a fairy tale, even though my copy says “a hot fairy tale”. I think it’s an adventure book with bits of fantastical elements. My copy of The Princess Bride starts with a 29-page introduction, rather too long for my taste. I was tempted to skip it altogether but later realized that it was somewhat necessary to read, that is if you want to know the background on the abridgement of S. Morgenstern’s work by William Goldman. Goldman’s “commentaries” are also scattered all over the book, but mostly they are short so it wouldn’t be a burden to read these additional paragraphs typed in fancy italic. As someone who’s seen the film first then read the book, I must say that I think both are equally entertaining. The film adapted the book very well, from Westley’s wittiness (performed gorgeously by Cary Elwes) to the memorable lines of Inigo (“Hello. My name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die.”)

inigoand of Vizzini (“Inconceivable!”).

inconceivableInigo and Fezzik making rhymes is also my favourite part of both the book and the film. Miracle Max and his wife Valerie were hilarious. The one character I like the least is the princess bride herself, in both the book and the film. However, the book can give you much more interesting scenes that didn’t make it to the film. For example Fezzik and Inigo’s adventure when they went through all five levels of Prince Humperdinck’s Zoo of Death to retrieve Westley was thoroughly explained in the book, while in the film it was reduced to short scenes in the Pit of Despair. The writing feels modern, so it easily falls into the “light reading” category. Of course you need to ignore some stuff if you want to enjoy the book, for example Buttercup accepting Humperdinck, the torture scenes, and how a lump of clay coated in chocolate could bring someone back from the dead. All in all, this is a delightful read. You should read it then watch the film. Or vice versa, I don’t really care. Just read it and watch it, in whatever order you’d like. 🙂

P.S. : I know this review is crap but it doesn’t make the book any less entertaining.

Here is the movie trailer:


Book details:

The Princess Bride, by William Goldman
283 pages, published 1987 by Turtleback Books/Del Rey Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


UPDATE (15 Mar 2016):

I have just found out that S. Morgenstern is not a real author, thanks to Fingerprinttale and Chiipurai who kindly informed me of this. Explanation on Wikipedia: Simon Morgenstern is both a pseudonym and a narrative device invented by Goldman to add another layer to his novel The Princess Bride.[26] He presents his novel as an abridged version of a work by the fictional Morgenstern, an author from the equally fictional country of Florin. The name may be a reference to Johann Carl Simon Morgenstern, who coined the term Bildungsroman. (Read the rest on Wikipedia).

Coloring Book for Adults: BATIK – Yulianto Qin, dan Tebak Secret Santa BBI 2015

buku mewarnai batikDi bulan-bulan terakhir tahun 2015 saya mulai menekuni hobi baru: mewarnai. Semua bermula pada saat saya beruntung memenangkan buku mewarnai My Own World di blog Ren. Setelah itu baru bermunculan buku-buku mewarnai dari penerbit-penerbit lain. Saat Penerbit Gramedia meluncurkan beberapa buku mewarnai, termasuk diantaranya BALI dan menyusul kemudian BATIK, saya memutuskan harus punya keduanya. Alasannya simple: karena khas Indonesia.

BALI sudah terbeli – dan kemudian saya memanfaatkan event tahunan BBI yaitu Secret Santa untuk memasukkan Buku Mewarnai BATIK ke dalam wishlist (setelah mendapat lampu ijo dari PICnya tentu, hehehe). Ternyata Santa yang baik memilih buku ini untuk dihadiahkan kepada saya. Jujur saja sebenarnya saya lebih ingin dapat buku bacaan, tapi senang juga kok pada saat paket berisi BATIK datang beserta bonus dua buah Derwent blender pens di dalamnya. Dan lebih senang lagi rasanya pada saat saya mulai mewarnainya. Thanks to you, Santa! 🙂

Begitulah ceritanya bagaimana saya bisa mendapatkan buku mewarnai BATIK dari Santa. Kenapa saya jelaskan panjang lebar? Karena jujur saja saya bingung mau nulis review seperti apa untuk buku ini, hihihi. Habisnya, ini bukan buku yang untuk dibaca. Baiklah, saya coba saja ya. 😀

Semua yang mengaku orang Indonesia pasti tahu bahwa batik adalah salah satu ikon kebudayaan Indonesia yang sangat kita banggakan. Batik Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada tanggal 2 Oktober 2009, lalu tanggal tersebut ditetapkan pemerintah sebagai Hari Batik Nasional. Nah, berbagai cara pun dilakukan untuk melestarikan batik sebagai salah satu warisan budaya nusantara. Tidak hanya dipakai, orang pun kini bisa ikut ‘membatik’ melalui Buku Mewarnai BATIK hasil karya Yulianto Qin ini. Mungkin tepatnya bukan membatik, tapi hanya memberi warna, karena semua motif batik dan ilustrasi sudah disediakan oleh tangan mahir sang ilustrator.

Ada 61 halaman yang bisa diwarnai, setiap ilustrasi dicetak di atas kertas tebal yang memberi para pewarna area yang luas dan nyaman untuk mewarnai. Dan di bagian akhir buku ada penjelasan Makna Motif Batik yang sangat informatif dan bermanfaat, jadi para pewarna tidak asal mewarnai saja tanpa tahu apa yang sedang diwarnai dan maknanya apa.

Misalnya, halaman 3 memuat motif batik Gurdo. Penjelasannya sebagai berikut: Gurdo berasal dari kata Garudo (Garuda), burung suci tunggangan Batara Wisnu. Motif Gurdo biasanya terdiri atas dua sayap (lar) yang mengembang. Motif ini merupakan simbol pengetahuan dan kejantanan yang menjadi kekuatan untuk memerangi kehidupan.

Selain berbagai macam motif pada kain batik, buku ini juga berisi ilustrasi wayang, ornamen, tarian, dan bahkan aksara Jawa. Misalnya Wayang Gunungan (hal. 1), Wayang Wong (hal. 15, 32, 46), Arjuna Kala (hal. 20), Kalamakara (hal. 31), Wayang Golek Rama Shinta (hal. 36), Penari Bedhoyo (hal. 39), dan berturut-turut Hanacaraka, Datasawala, Padhajayanya dan Magabathanga di halaman 58-61.

Di bawah ini adalah contoh beberapa gambar di dalam Buku Mewarnai BATIK. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Dan di bawah ini 3 gambar yang sudah selesai saya warnai. Hasil mewarnai yang lain bisa dilihat di akun Instagram pribadi saya @melmarian.

Karena di kebanyakan gambar ilustrasinya cukup rumit, maka dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk dapat menyelesaikan mewarnainya. Sampai pada saat review ini ditulis, saya baru menyelesaikan mewarnai 3 gambar saja dari keseluruhan 61 gambar! Tapi tenang saja, saya akan terus mewarnai buku ini kok. Karena saya tidak bisa menggambar dan tidak bisa membatik dengan canting, maka dari itu buku ini—dengan 61 ilustrasi luar biasa di dalamnya—yang bisa memuaskan jiwa (sok mendadak) nyeni saya. Terakhir, apakah saya juga harus memberi rating untuk buku yang tidak saya baca ini? Oh, baiklah. 4 bintang!

Book details:

Coloring Book for Adults: BATIK, oleh Yulianto Qin
65 halaman, diterbitkan tahun 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Tebak Secret Santa

SS2015-1-300x300

Sebelumnya saya sudah posting riddle Santa di sini, tapi mungkin karena telat postingnya dan ternyata foto riddle kurang jelas, jadi nggak ada yang komen, hiks. 😦 Jadi, saya tulis di sini lagi riddle dari Santa ya. Angka-angka sebelum kalimat saya tambahkan untuk penanda.

To: Melisa

1 Lihatlah mereka yang bernafas dan menggoreskan penanya. Satu saja dilihat di mula-mula.

2 Lalu ayo kita pergi!

3 Rencana awal adalah di hari Selasa setelah surga memanggil kita.

4 Bara, Rosa, bagaimanapun sebutannya, terucap sebuah nama.

5 Petualangan siap dimulai, waspadalah saat domba-domba terdiam, itu tanda naga merah siap memangsa.

6 Tujuan kita mungkin ke suatu rimba, bukan di Swedia atau Finlandia, atau Rusia, mungkin tidak jauh dari sana.

7 Singgah di negeri Britania pun bisa, temui sang ahli senjata dan wanita.

8 Ketika jiwa mencapai batas dan raga tertutup debu, kembalilah ke titik awal, sebelum kita memulai lagi.

9 SEJUTA TOPAN BADAI!!!

Brilian ya riddle dari Santa saya? Waktu membaca riddle ini pertama kali saya sudah langsung ngeh kata-kata di dalamnya menunjuk ke buku-buku tertentu. Saya coba “kupas” satu persatu:

Kalimat 3 –> Tuesdays with Morrie, The First Phone Call from Heaven – Mitch Albom

Kalimat 4 –> ???

Kalimat 5 –> The Silence of the Lambs, Red Dragon – Thomas Harris

Kalimat 6 –> Norwegian Wood – Haruki Murakami

Kalimat 7 –> Seri James Bond – Ian Fleming

Kalimat 8 –> Garis Batas, Selimut Debu, Titik Nol – Agustinus Wibowo

Kalimat 9 –> Tintin – Herge

Sedangkan Kalimat 1 bilang “Lihatlah mereka yang bernafas dan menggoreskan penanya. Satu saja dilihat di mula-mula.” Jadi yang harus diperhatikan adalah para pengarang. Dan kalau saya susun huruf pertama dari masing-masing nama pengarang hasilnya seperti ini:

M – ? – T – H – I – A – H

Woah! Sudah bisa ketebak, meskipun saya nggak bisa nebak apa maksudnya Kalimat ke-4 ! 😀

Mbak Muthiah Faris a.k.a. speakercoret, apakah tebakanku benar dan dirimu adalah Santaku?

All the Light We Cannot See – Anthony Doerr

all the light we cannot see

What to expect when you read a historical novel set in wartime? A display of brutality, a spectacle of bravery or cowardice or both, an atmosphere terrorized by bombs and soldiers, and, inevitably, tragic deaths, traumatized survivors. It would be stupid to expect a happy ending from a historical novel set in wartime.

But All the Light We Cannot See is unlike any war-themed historical novels I have read. Some books focus on the relationships (which usually make the tragedy even more depressing), some others on the desperate efforts the characters were making in attempt to get out of a situation, and some books reveal the reality of man when faced with fire; the worst and the best. This book combines all that, and more.

The story revolves around two major characters. First is a sightless French girl named Marie-Laure LeBlanc, daughter of the locksmith of the Museum of Natural History in Paris. Her father made her a model of their neighborhood in Paris and later the city of Saint-Malo, and got her Jules Verne books in Braille for her birthday. When German airplanes began to bomb Paris, she and her father fled to Saint-Malo, a walled city in northern coast of France to stay with her great-uncle, Etienne LeBlanc. It was unknown to Marie that they carried a dangerous treasure with them; an exotic blue diamond worth millions of francs known as the Sea of Flames.

The second major character is Werner Pfennig, a white-haired German boy who grew up in an orphanage with her sister. He liked to fix radios while her sister Jutta was busy making sketches. His intelligence and talent earned him a place in Schulpforta, a special school where the best German boys were trained for the war. Despite the brutality he faced everyday at Schulpforta, he had a heartwarming friendship with a boy named Frederick. Later he was sent for missions to several cities and finally, to Saint-Malo where he crossed paths with Marie-Laure, as the vague details of the story was being unwrapped one by one.

I am usually fascinated by war-themed books, and by the time I saw the cover of this book I was instantly attracted. On the cover it shows a photograph of a walled city by the sea and big skies. It is blue, my favorite color. And the fact that it won Pulitzer Prize for Fiction in 2015 made me set my heart to read it. But what makes this book different? It was very detailed and rather slow-paced that it took me 25 days to finish it. I have never read anything by Anthony Doerr before, but after reading this book I would like to think that he is a scientist with the soul of a storyteller, or maybe the other way around. He poured little details about locks, mollusks, diamonds, radios, birds, light, and science into the story and brought all of them together with a style of writing I find rather romantic.

The brain is locked in total darkness, of course, children, says the voice. It floats in a clear liquid inside the skull, never in the light. And yet the world it constructs in the mind is full of light. It brims with color and movement. So how, children, does the brain, which lives without a spark of light, build for us a world full of light?

War-themed books usually left me emotionally wrecked, but it’s not the same case with this book. It didn’t make me cry, but I am deeply moved by how the characters showed kindness toward each other, even in unlikely times and situations. I found more spark in the minor characters like Frederick and Madame Manec than in characters with bigger roles, but I love Werner Pfennig with all my heart, and wished that somehow, he could be spared of premature death. I am a little irritated when the characters “sees” or “hears”, as if they were relentlessly reminded of the past, whether it was in their near or distant past. Maybe if this happened only to several characters and not almost all of them, I would not be as annoyed. However, I love the way the author wove together the little stories of each characters into one epic and exquisitely written tale of courage and humanity. Five stars for this book.

“You must never stop believing. That’s the most important thing.” – Madame Manec


Book details:

All the Light We Cannot See, by Anthony Doerr
531 pages, published May 2015 by Simon and Schuster
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Very Good Lives – J.K. Rowling

very good lives

The first thing that crossed my mind when I found out about Very Good Lives was: “What? She has written another book? But Career of Evil will be released soon! I haven’t even read The Casual Vacancy! She positively wants to keep her readers surprised!” And so on… But then I found out that this is a commencement speech she delivered at Harvard, in 2008. Why did it take so long to be published, I do not know. I am thankful it finally got published anyway.

As the title suggests, she pointed out two things in her speech: the benefits of failure and the importance of imagination. Ms. Rowling undoubtedly is no stranger to failure; she endured a failed marriage, rejections from publishers, she knows what poverty means and how it feels. And yet she spoke of the benefits of failure. Seriously, what benefits can you gain from failing?

She wrote (and spoke):

“So why do I talk about the benefits of failure? Simply because failure meant a stripping away of the inessential. I stopped pretending to myself that I was anything other than what I was and began to direct all my energy into finishing the only work that mattered to me. Had I really succeed in anything else, I might never have found the determination to succeed in the one arena where I believe I truly belonged. I was set free, because my greatest fear had been realized, and I was still alive, and I still had a daughter whom I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.”

The second thing she pointed out was the importance of imagination. She was not talking about the magical world of Harry Potter here, but rather about “the power that enables us to empathize with humans whose experiences we have never shared.” Here she shared her experience when she worked at the African research department of Amnesty International, where she caught glimpses of the cruelty, torture, and horrors some people has gone through, people who had the temerity to speak against their governments. She spoke about how the power of human empathy can truly save lives. That human beings have a choice between thinking themselves into other people’s places—the not so fortunate ones—or not to exercise their imaginations at all and close their minds and hearts to any suffering that does not touch them personally.

“If you choose to use your status and influence to raise your voice on behalf of those who have no voice; if you choose to identify not only with the powerful but with the powerless; if you retain the ability to imagine yourself into the lives of those who do not have your advantages, then it will not only be your proud families who celebrate your existence but thousands and millions of people whose reality you have helped change. We do not need magic to transform our world; we carry all the power we need inside ourselves already: we have the power to imagine better.”

She encourages us to not shrink in the face of failure and to do more for our less fortunate neighbors. Truly, this is an inspiring piece of writing, one you can reflect upon, one that has the power to stay with you for years to come, even if you only need about 30 minutes to read it.


Book details:

Very Good Lives: The Fringe Benefits of Failure and the Importance of Imagination, by J.K. Rowling
80 pages, published April 2015 by Little, Brown and Company
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Surabaya Punya Cerita Vol. 1 – Dhahana Adi

sby punya ceritaJudul bukunya Surabaya Punya Cerita. Jujur saja, pertama kali saya tahu tentang buku ini (melalui tweet dari @indiebookcorner) saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen dengan setting kota Surabaya. Karena belum pernah baca buku bertemakan Surabaya, maka ketika saya melihat buku ini bertengger manis di rak di salah satu toko buku terbesar di kota saya, (Surabaya, di mana lagi?) tanpa berpikir panjang saya mengambilnya dan memasukkan di kantong belanjaan. Sebelumnya saya tidak tahu menahu tentang blog Surabaya Punya Cerita, dan bahwa artikel-artikel di dalam blog tersebut dituangkan dalam kertas dan tinta dalam buku ini .

Kalau boleh saya jelaskan seperti ini, Surabaya Punya Cerita berisi potongan-potongan sejarah tentang Surabaya yang kebanyakan tak terpublikasikan dan bahkan sudah terlupakan. Bentuknya macam-macam, mulai dari tradisi, tempat bersejarah, tokoh kenamaan, sampai musik dan film. Namun jika buku sejarah biasanya melulu berisi fakta, Surabaya Punya Cerita menyodorkan sejarah melalui cerita-cerita nostalgia.

Melalui beberapa cerita tentang tempat bersejarah di Surabaya, pembaca diajak mengingat kembali, atau disodorkan informasi baru jika sebelumnya tidak tahu, bahwa tempat-tempat tersebut ada sejarahnya. Jalan Baliwerti hari ini mungkin dikenal sebagai sentra pertokoan keramik, namun pada tanggal 10 November 1977, Hari Pahlawan, Baliwerti dipenuhi sekitar tiga ribu pemuda yang melakukan long march menuju Tugu Pahlawan sebagai bentuk protes terhadap degradasi moral dan ketidakadilan sosial yang sedang terjadi. Banyak yang lupa bahwa di dalam Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan, tersimpan makam salah satu pahlawan nasional, Dr. Soetomo. Orang Surabaya pasti tahu bahwa ada areal makam Belanda di Pemakaman Kembang Kuning, tapi mungkin tidak tahu siapa saja tokoh-tokoh penting yang dimakamkan disana. Beberapa diantaranya adalah Alfred Emille Rambaldo, perintis perjalanan udara pertama yang menemukan dan mengembangkan balon udara bermesin tahun 1908-1911; Everdina Bruring, istri dari Dr. Soetomo; dan G. Cosman Citroen yang adalah arsitek Balai Kota Surabaya dan Rumah Sakit Darmo.

Berbagai karya seni dan musik yang berjaya di Surabaya pada jamannya, juga disuguhkan dalam buku ini. Misalnya film nasional berjudul Soerabaia 45 yang rilis pada tahun 1990, yang melibatkan sejumlah insan seni yang tidak bisa dianggap main-main. Grup lawak Srimulat memulai sejarahnya dengan mementaskan dagelan Mataram di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada penghujung tahun 1960an, pada waktu itu masih menggunakan nama Gema Malam Srimulat. Ada The Tielman Brothers yang konon disebut-sebut sebagai salah satu grup band tertua di dunia yang memainkan musik rock n roll sebelum The Beatles, The Rolling Stones, bahkan Led Zeppelin. Band yang dipelopori Andy Tielman ini memadukan genre rock n roll dengan musik khas Indonesia seperti gamelan atau keroncong, hingga akhirnya genre musik ini disebut genre Indorock atau “Indonesian Rock N Roll”. Dari dunia seni rupa, Surabaya memiliki Tedja Suminar, pelukis peranakan Tionghoa yang dikenal njawani. Relief di stadion Gelora 10 November adalah hasil desain sketsa dari pelukis yang menjadikan Surabaya dan Bali sebagai sumber inspirasi utamanya itu. Dan, bukan hanya satu, namun tiga cerita disajikan mengenai Gombloh, musisi asal Kampung Embong Malang Surabaya yang paling dikenal dengan lagu “Di Radio” yang aslinya berjudul “Kugadaikan Cintaku”. Tak ketinggalan cerita tentang dedengkot musik jazz, Bubi Chen.

Masih banyak cerita lain yang tersimpan dalam buku yang relatif tipis ini (204 halaman). Kekurangan buku ini terletak pada editing-nya, yang jika diperhalus lagi bisa lebih enak dibaca, dan banyak foto hitam putih yang ditampilkan beresolusi rendah. Pada awalnya saya menganggap harganya agak kemahalan untuk buku setebal 204 halaman, namun pada akhirnya isi dari buku ini membayar setiap rupiah yang saya keluarkan untuk membelinya. Sayangnya, eksemplar yang saya beli cutting-nya kurang rapi, halaman-halaman buku melampaui batas sampul sekitar 2 mm.

Saya menamatkan buku ini hanya sehari sebelum HUT Surabaya ke-722, 31 Mei lalu, namun baru bisa menuliskan reviewnya sekarang. 😀 Kalau pada awalnya saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen, ternyata setelah menamatkannya buku ini melampaui ekspektasi saya. Sekarang, sedikit banyak saya jadi tahu potongan-potongan sejarah yang terlupakan tentang kota tercinta. Buku ini saya rekomendasikan bagi setiap warga Surabaya, mereka yang punya kenangan dan kesan khusus terhadap Surabaya, juga mereka yang tertarik dengan Surabaya. Dunia perlu tahu, bahwa sejarah dan sisik melik Surabaya penuh warna, dan tidak melulu berkaitan dengan pertempuran 10 November ataupun cerita rakyat Sura dan Baya. Tak sabar menanti Vol. 2 terbit!

Surabaya, kota tak terlupakan

Surabaya, kota tak terlupakan

Telusuri lebih banyak tentang Surabaya Punya Cerita di: Blog | Facebook | Twitter


Detail buku:

Surabaya Punya Cerita Vol. 1, oleh Dhahana Adi
204 halaman, diterbitkan 2014 oleh Indie Book Corner
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Suite Française – Irène Némirovsky

suite francaiseDisebut-sebut sebagai proyek paling ambisius dari penulis Prancis kelahiran Ukraina Irène Némirovsky, Suite Française berusaha menggambarkan penderitaan masyarakat Prancis—semendetail mungkin –pada sebuah kurun waktu dari Perang Dunia II. Lebih lanjut, Suite Française membawa sederetan karakter yang mewakili masyarakat Prancis dari berbagai kelas sosial.

Badai di Bulan Juni

Bagian pertama novel ini diberi judul “Badai di Bulan Juni”, mengambil waktu mulai dari bulan Juni 1940 saat tentara Jerman memulai pendudukan atas Prancis . Berikut ini adalah karakter-karakter yang ada di dalamnya:

Yang pertama ada keluarga Péricand, keluarga kaya dan terhormat. Philippe, anak lelaki tertua pasangan Péricand adalah seorang pendeta, adiknya Hubert remaja delapan belas tahun yang masih kekanak-kanakan, dan tiga adik mereka, Bernard, Jacqueline, dan Emmanuel masih kecil-kecil. Kakek Péricand , sang ahli waris keluarga Maltête dari Lyon, sudah cacat dan duduk di kursi roda. Dengan kekayaan yang mereka miliki, keluarga Péricand selalu menyisihkan sebagian untuk amal sesuai dengan kewajiban penganut Kristen yang baik, demikian kata Madame Péricand.

Kemudian ada penulis Gabriel Corte, kaya dan terkenal, namun sangat sombong. Corte punya banyak wanita simpanan, namun hanya satu yang “resmi”, yaitu Florence. Mewakili rakyat kelas menengah, ada pasangan Michaud yang sederhana dan hidup dengan harmonis. Maurice sang suami bekerja sebagai karyawan bagian keuangan dan Jeanne sang istri sekretaris di bank yang dipimpin Monsieur Corbin. Pasangan Michaud memiliki seorang putra, Jean-Marie, yang ikut berperang membela Prancis. Dan juga ada Charles Langelet, seorang pria kaya kolektor barang-barang indah, yang dikenal sangat kikir.

Baik keluarga Péricand, Gabriel Corte dan Florence, pasangan Michaud, Monsieur Corbin dan wanita simpanannya, dan juga Charles Langelet mempunyai misi yang sama: pergi sejauh mungkin dari Paris karena kota itu akan diduduki tentara Jerman. Dari sini pembaca diajak menelusuri apa saja yang dialami para tokoh saat mereka pergi meninggalkan Paris. Yang kaya berusaha membawa sebanyak mungkin harta benda dan makanan yang mereka miliki, dan membawa mobil, tentu saja, walaupun persediaan bensin menipis. Sementara itu, pasangan Michaud yang tidak mendapat tumpangan di mobil Monsieur Corbin terpaksa pergi berjalan kaki, menyeret koper-koper berat dalam cuaca bulan Juni yang panas.

Mereka berusaha pergi dari Paris ke tempat tujuan masing-masing, di tengah ancaman bom dan tembakan dari pesawat-pesawat Jerman, belum lagi ancaman perampokan dari sesama warga sipil. Segalanya kacau balau. Dihadapkan dengan situasi yang sulit, barulah terungkap sifat asli masing-masing karakter. Madame Péricand yang selalu mengajari anak-anaknya untuk menolong orang lain, malah marah-marah ketika melihat dua anaknya membagi-bagikan permen dan cokelat dengan orang-orang di sekitar mereka. Maurice dan Jeanne Michaud menanggung beban mereka dengan cukup sabar, namun Jeanne dihantui ketakutan bahwa putra tercintanya tak selamat. Gabriel Corte dengan angkuh menolak kamar hotel yang baginya kurang nyaman, padahal ada sepuluh keluarga pengungsi lainnya yang memohon-mohon supaya diberikan kamar itu. Charles Langelet yang kehabisan bensin di tengah perjalanan tega mencuri mobil sepasang orang muda. Sementara itu Jean-Marie yang terluka, ditemukan dan dirawat oleh keluarga petani yang memiliki dua orang putri, yang pertama putri kandung dan yang satunya lagi putri angkat: Cécile dan Madeleine.

Dolce

Bagian kedua yang berjudul “Dolce” menceritakan bulan-bulan pertama pendudukan Jerman di Prancis. Ada beberapa karakter baru, antara lain:

Keluarga Angellier dari kaum borjuis, yang terdiri dari Madame Angellier dan menantu perempuannya, Lucile. Gaston, anak lelaki Madame Angellier dan suami Lucile, ikut berperang dan sedang ditawan oleh Jerman. Madame Angellier seorang wanita yang otoriter dan dominan, sedangkan Lucile yang cantik penyendiri dan kutu buku. Kedua wanita yang bertolak belakang ini tinggal di sebuah rumah indah di Bussy, desa yang pada saat itu diduduki tentara Jerman. Seperti di banyak rumah lainnya, mereka harus menerima seorang perwira Jerman untuk tinggal dalam rumah mereka.

Perwira Jerman yang tinggal di rumah Angellier bernama Bruno von Falk, pemuda tampan dengan mata besar dan rambut pirang. Walau pada mulanya Lucile bersikap kaku terhadap “musuh dalam selimut” ini, namun keramahan Bruno membuatnya luluh dan akhirnya mereka pun berteman. Hubungan pertemanan ini lambat laun berubah menjadi sesuatu yang lain… apalagi karena Lucile tak benar-benar mencintai suaminya yang serong. Hal ini tak luput dari pengamatan Madame Angellier yang merasa Lucile telah mengkhianati putranya.

Vicomte dan Vicomtesse de Montmort adalah sepasang bangsawan yang hipokrit. Sang Vicomtesse berseru di depan murid-murid sekolah supaya mereka “bermurah hati” dan “tidak memikirkan diri sendiri”, sementara ia sendiri memakai sepatu seharga delapan ratus lima puluh franc. Ada kebencian turun temurun antara keluarga Sabarie dan keluarga Montmort.

Keluarga Sabarie—keluarga petani yang merawat Jean-Marie Michaud—kembali muncul dalam bagian kedua novel ini. Madeleine sudah menikah dengan Benoît, putra keluarga Sabarie, meskipun ia masih mencintai Jean-Marie. Karena pertikaian dengan perwira Jerman yang tinggal di rumah mereka (Benoît cemburu buta melihat perwira itu menggoda istrinya), Benoît melarikan diri dan akhirnya bersembunyi di rumah keluarga Angellier. Madame Angellier yang notabene kelasnya jauh diatas Benoît, menerimanya demi membantu sesama orang Prancis.

Thoughts:

Jika pada Badai di Bulan Juni cerita mengalir lebih cepat dan dengan tone yang gelap, dalam Dolce cerita mengalir dengan lebih lambat dan tidak segelap bagian pertama, karena dalam Dolce pembaca melihat para tentara Jerman membangun hubungan baik dengan warga desa (entah tulus atau tidak), sampai-sampai warga desa menyesali saat kepergian mereka, dengan alasan jika mereka diduduki tentara lain lagi, belum tentu sikap tentara baru itu akan sebaik tentara Jerman yang pernah menduduki desa mereka.

Dalam Badai di Bulan Juni diperlihatkan bagaimana sebagian besar karakter bersikap buruk dan moralnya merosot, sementara kebaikan ditonjolkan oleh pasangan Michaud yang meski menderita, namun mereka tetap tulus, sabar dan nrimo. Hubungan yang harmonis antara pasangan suami istri Michaud cukup dapat menghangatkan hati pembaca, apalagi ketika mereka dihajar dengan hadiah yang manis pada akhir bagian pertama.

Hal paling menarik dalam Dolce mungkin adalah hubungan yang berkembang antara Lucile dan Bruno von Falk. Lucile yang sudah muak dengan suasana perang menemukan seorang teman dalam diri Bruno, dan memandangnya sepenuhnya sebagai seorang manusia yang bisa diajak berbicara dan berbagi; seragam hijau tentara Jerman yang dipakai Bruno diabaikan oleh mata Lucile.

“Tentu dalam perang,” katanya kepada dirinya sendiri, “ada tahanan perang, janda, penderitaan, kelaparan, pendudukan. Lalu, kenapa? Aku tak pernah melakukan hal yang salah. Dia seorang teman yang patut dihargai, buku, musik, percakapan-percakapan panjang kami, berjalan-jalan bersama di Hutan Maie… Yang menjadikan hal ini sebagai hal yang tak patut dilakukan adalah perang ini, penderitaan universal ini. Tetapi ia tak lebih bertanggung jawab daripada aku! Ini bukan salah kami. Kalau saja mereka membiarkan kami… Kalau saja mereka membiarkan saja kami!”

Pada akhirnya Lucile memutuskan bahwa meski perang yang kejam mengubah banyak hal, namun ia ingin kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, ia punya hak menentukan nasibnya sendiri. Ia memutuskan bahwa ia tak peduli bahwa negaranya dan negara si perwira saling berperang, karena kenyataannya Lucile dan Bruno bersahabat. Semua itu tidak salah… yang menjadikan salah adalah adanya perang yang memborbardir kedamaian antar manusia.

Mungkin, daya tarik paling utama dari Suite Française adalah fakta bahwa novel ini tidak selesai. Sang penulis, dalam catatan-catatan pribadi yang dilampirkan dalam apendiks, mengungkapkan rencananya untuk menulis novel dalam lima volume dengan total sekitar 1.600 halaman. Melalui apendiks kita tahu bahwa Irène Némirovsky tidak main-main dalam menulis, ia punya pemahaman memadai tentang keadaan politik dan sosial Prancis sebagai modal untuk menulis buku mahakaryanya. Walaupun tahu ajalnya sudah mendekat, ia tidak berhenti menulis. Dan penulisannya memang cantik meskipun terjemahannya (atau editannya, atau keduanya) kurang mampu mempertahankan kecantikan tulisan aslinya. Pada banyak bagian saya menemukan terjemahan yang aneh dan editan yang berantakan.

Kisah tentang sang penulis sendiri juga tak kalah menariknya (baca Prakata pada apendiks): beliau adalah seorang Yahudi yang ditangkap Jerman bulan Juli 1942 dan kelak tewas di kamar gas (dengan demikian meninggalkan Suite Française tidak terselesaikan). Diceritakan juga bagaimana manuskrip Suite Française selamat berkat Denise, putri Némirovsky dan baru dipublikasikan enam puluh tahun kemudian. Seandainya novel ini selesai, bukan tidak mungkin Suite Française bisa menyaingi kebesaran War and Peace karya Leo Tolstoy. Namun takdir sudah berkata lain, dan kita harus puas dengan dua bagian novel yang memberi kita sekilas pemahaman tentang perasaan dan penderitaan rakyat sipil Prancis saat Perang Dunia II berkecamuk, khususnya pada awal pendudukan Jerman di Prancis.


suite_francaise_12sht_f-page-001

Suite Française sudah difilmkan dengan bintang Michelle Williams sebagai Lucile Angellier, Matthias Schoenaerts sebagai Bruno von Falk dan Kristin Scott Thomas sebagai Madame Angellier. Bagaimana film ini mengembangkan cerita dari novelnya yang tidak selesai? Kita lihat saja nanti…

2nd review for Project Baca Buku Cetak | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Read Big Challenge 2015


Detail buku:

Suite Française, oleh Irène Némirovsky
642 halaman, diterbitkan 2011 oleh Penerbit Qanita (Mizan Group) (pertama kali diterbitkan 2004)
My rating: ♥ ♥ ♥

Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) 😛

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. 🙂

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! 🙂

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*