Classic Author of August 2012: Leo Tolstoy

If so many men, so many minds, certainly so many hearts, so many kinds of love.
– Leo Tolstoy

Beliau adalah, tak diragukan lagi, salah satu penulis besar asal Rusia yang paling diingat dunia.

LEO TOLSTOY dilahirkan dengan nama Lev Nikolayevich Tolstoy pada tanggal 9 September 1828 di Yasnaya Polyana, kediaman keluarga Tolstoy di provinsi Tula, Rusia, merupakan anak keempat dari pasangan Count Nikolai Ilyich Tolstoy dan Countess Mariya Tolstaya (Volkonskaya). Yatim piatu sejak usia sangat muda, Tolstoy yang memiliki darah ningrat belajar ilmu hukum dan bahasa di Kazan University pada tahun 1844, namun tidak berlanjut dan beliau kembali ke Yasnaya Polyana dan kemudian banyak menghabiskan waktu di Moskow dan St. Petersburg.

Pada tahun 1851, beliau memutuskan untuk bergabung dalam ketentaraan bersama dengan abangnya di Kaukasus. Pada fase inilah Tolstoy mulai menelurkan karya tulis, yaitu autobiografi dalam trilogi, yang pertama adalah Childhood (1852), kemudian disusul Boyhood (1854) dan Youth (1857). Beliau meninggalkan ketentaraan pada tahun 1855 dan mulai mengembangkan kemampuan sastranya dengan bergabung dalam lingkaran-lingkaran sastrawan di St. Petersburg. Namun, sebagian waktunya tetap ia habiskan di Yasnaya Polyana di mana atas dasar kepedulian sosial ia mendirikan sekolah bagi anak-anak petani di tanah miliknya. Ketika sekolah yang didirikannya tidak berjalan dengan baik, beliau mengadakan perjalanan ke Eropa Barat di mana ia mengkaji dasar-dasar peradaban modern.

Tolstoy menikahi Sophia Andreyevna Bers pada tahun 1862. Sophia yang enam belas tahun lebih muda dari Tolstoy adalah seorang gadis muda terpelajar dan ia memberi Tolstoy 13 orang anak, 5 diantaranya meninggal dalam masa kanak-kanak. Kehidupan rumah tangga mereka tidak bahagia, antara lain disebabkan oleh kejujuran Tolstoy yang mengungkapkan perselingkuhan yang dilakukannya dan perbedaan konsep mengenai tugas seorang istri. Bagaimanapun, Sophia memberi Tolstoy kemudahan dalam proses penulisan beberapa karya, termasuk The Cossacks (1863), War and Peace (1864–69) serta Anna Karenina (1873–76), dengan bertindak sebagai sekretaris, proof-reader dan pengelola keuangan. Dua mahakarya Tolstoy, salah satunya adalah War and Peace yang merupakan prosa epik sangat tebal yang mengetengahkan periode pendudukan Napoleon tahun 1812, sedangkan Anna Karenina adalah kisah tragis seorang wanita bangsawan yang terjebak antara filosofi kebangsawannya dan kemiskinan serta penolakan masyarakat yang harus ditanggungnya akibat perzinahan.

Leo and Sophia Tolstoy at Yasnaya Polyana, source

Perjalanan instrospeksi diri yang menyakitkan menghasilkan pertobatan yang membuat Tolstoy merengkuh ajaran kasih Kekristenan dan penerimaan prinsip pasifisme (anti kekerasan). Tahap-tahap pertobatannya yang terjadi sekitar tahun 1876 dirangkum dalam Confession (1879), dan sepanjang sisa hidupnya beliau berusaha mempraktikkan dan memperkenalkan keyakinan barunya dalam serangkaian karya, antara lain A Short Exposition of the Gospels (1881), What I Believe In (1882), What Then Must We Do? (1886), dan The Law of Love and the Law of Violence (1908).

Tolstoy dikenal sebagai seorang anarkis dalam hal ketidaksetujuannya atas sistem otoritarian yang terjadi di negara maupun gereja. Beliau juga menganggap bahwa aristokrasi merupakan beban bagi rakyat miskin dan mendukung redistribusi kekayaan melalui kepemilikan tanah secara kolektif. Ide-ide inilah yang menciptakan konflik antara dirinya dengan pihak pemerintah dan gereja ortodoks Rusia. Beliau juga terus menyuarakan prinsip anti kekerasan dan kesederhanaan hidup sepanjang hidupnya. Di masa selanjutnya, pemikiran-pemikiran Tolstoy ini banyak mempengaruhi tokoh-tokoh seperti Mahatma Gandhi (yang memang sempat mengadakan hubungan korespondensi dengannya), Martin Luther King Jr, dan lain-lain.

Karya-karyanya yang berikutnya berfokus dalam masalah moral, termasuk novella The Death of Ivan Ilyich (1884), drama The Power of Darkness (1886), dan novel The Kreutzer Sonata (1889). Karya-karya terakhirnya antara lain novel Hadji Murad (1896–1904), Resurrection (1899–1900), serta drama The Living Corpse (dipublikasikan secara anumerta tahun 1911).

Mendekati akhir hidupnya, hubungan dengan istrinya makin memburuk dengan semakin radikalnya keyakinan yang dipegang oleh Tolstoy. Kengototan Tolstoy untuk mempraktekkan keyakinan Kristen dan meninggalkan semua perkara duniawi menyebabkan konflik berat antara dirinya dan istrinya. Anak-anaknya, kecuali putri bungsunya, Alexandra, berpihak pada ibu mereka. Pada tahun 1910, Tolstoy meninggalkan rumah dengan Alexandra tanpa tujuan tertentu. Hawa dingin berakibat buruk pada tubuh Tolstoy yang memang sudah lemah, dan beliau meninggal pada tanggal 20 November 1910 di rumah kepala stasiun kereta api di Astapovo, dan jenazahnya dimakamkan di Yasnaya Polyana.

Tahun terakhir hidup Tolstoy diadaptasi dalam sebuah novel karya Jay Parini dan telah difilmkan dengan judul The Last Station (2009). Dalam film ini Christopher Plummer berperan sebagai Tolstoy dan Helen Mirren berperan sebagai istrinya, Sophia Tolstaya. Dua aktor ini memperoleh nominasi Oscar atas peran dalam film tersebut.

– Dari berbagai sumber

***

Saya sudah menjadi penggemar karya-karya Tolstoy sejak membaca beberapa cerpennya untuk pertama kali. Bagi saya, seorang Leo Tolstoy adalah sosok sastrawan besar yang mampu menuliskan kisah yang sebenarnya sangat sederhana, namun sangat indah dan sarat nilai-nilai moral, cinta kasih dan kemanusiaan. Saya tertantang untuk membaca mahakarya beliau yang super tebal yaitu War and Peace, apalagi disebutkan dalam Wikipedia bahwa penggambaran perang dalam War and Peace terinspirasi dari Les Misérables, salah satu novel favorit saya. Semoga dalam tahun depan cita-cita ini bisa terwujud!

Beberapa review karya Leo Tolstoy:

Anna Karenina (simplified version)
Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada (kumpulan cerpen)
Rumah Tangga yang Bahagia

Advertisements

Classic Author of July 2012: George Orwell

Eric Arthur Blair, lebih dikenal dengan nama pena GEORGE ORWELL, lahir di Motihari, Bihar, India, pada tanggal 25 Juni 1903 dari pasangan Richard Walmesley Blair dan Ida Mabel Blair. Saat ia berusia satu tahun, Orwell dibawa ke Inggris oleh ibunya. Orwell tidak bertemu ayahnya yang pada saat itu bekerja di Departemen Opium di Indian Civil Service sampai kunjungan singkat pada tahun 1907, dan kemudian pada tahun 1912.  Ia mempunyai 2 orang saudara perempuan bernama Marjorie dan Avril. Nantinya Orwell mendeskripsikan latar belakang keluarganya dengan istilah “lower-upper-middle class.”

Orwell menempuh pendidikan di St Cyprian’s School, in Eastbourne, Sussex, dimana pengalaman di St Cyprian’s dituangkannya dalam esai “Such, Such Were the Joys”. Bertahun-tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di Eton College sebagai penerima beasiswa. Setelah lulus dari Eton, sadar bahwa dirinya tidak memiliki peluang untuk mendapatkan beasiswa untuk kuliah dan keluarganya tidak mampu membiayainya, Orwell  memutuskan untuk bergabung dengan Indian Imperial Police di Burma (sekarang Myanmar, juga dilakukan oleh pengarang Hector Hugh Munro atau lebih terkenal dengan nama pena ‘Saki’). Ia kembali ke Inggris pada tahun 1928 dengan perasaan benci yang mendalam terhadap imperialisme (dituangkannya dalam novel pertamanya, Burmese Days, terbit 1934; dan beberapa esai seperti “A Hanging”, dan “Shooting an Elephant”). Ia mulai menggunakan nama pena pada tahun 1933, saat menulis untuk The New Adelphi. Nama pena yang dipilihnya menyiratkan kecintaannya terhadap tradisi dan daerah pedesaan Inggris: George adalah santo pelindung dari Inggris (dan George V adalah raja Inggris pada saat itu), sementara Sungai Orwell di Suffolk adalah salah satu tempat favoritnya di Inggris.

River Orwell

Orwell hidup dalam kemiskinan selama beberapa waktu di kota Paris dan London, di mana pengalaman ini dituangkannya dalam buku pertamanya Down and Out in Paris and London  (1933). Terbitnya buku ini diikuti oleh 4 judul novel: Burmese Days (1934), A Clergyman’s Daughter (1935), Keep the Aspidistra Flying (1936), dan Coming Up for Air (1939), juga buku dokumenter The Road to Wigan Pier (1937). Orwell mengambil bagian dalam Perang Sipil Spanyol (Spanish Civil War) sebagai simpatisan Independent Labour Party, dan berperang dalam pasukan infanteri untuk aliansi non-Stalinist POUM (Workers’ Party of Marxist Unification). Orwell sempat tertembak di bagian leher pada bulan Mei 1937, pengalaman yang diceritakannya dalam esai pendek “Wounded by a Fascist Sniper”, juga dalam buku dokumenter Homage of Catalonia (1938). Ia dan istrinya, Eileen, meninggalkan Spanyol setelah lolos dari penangkapan yang dilakukan para komunis.

Selanjutnya Orwell bekerja dengan menulis resensi buku dalam mingguan New English Weekly hingga tahun 1940. Ia menjadi anggota Home Guard semasa Perang Dunia II dan mulai bekerja pada BBC Eastern Service tahun 1941, di mana pekerjaan utamanya adalah mengusahakan dukungan dari India dan Asia Timur terhadap upaya perang yang dilakukan Inggris. Sadar bahwa dirinya ikut ambil bagian dalam membentuk propaganda, Orwell mengundurkan diri dari pekerjaan ini pada tahun 1943 dan kemudian menjadi literary editor pada Tribune, sebuah mingguan sayap kiri.

Animal Farm, sebuah novella alegori anti-Stalinist, diselesaikannya pada tahun 1944 dan diterbitkan pada tahun selanjutnya, diikuti dengan kesuksesan baik dari segi kritik maupun popularitas. Saat inilah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya Orwell memiliki penghasilan yang besar. Animal Farm secara umum dianggap sebagai alegori dari korupsi ide-ide sosialis dalam Revolusi Rusia yang digalakkan oleh Stalinisme, walaupun anggapan ini ditampik oleh Orwell. Selanjutnya, karyanya yang paling dikenal, novel dystopia Nineteen-Eighty Four, yang merupakan ramalan Orwell atas akibat dari totalitarianisme, terbit pada tahun 1949. Ia menulis karya yang terinspirasi dari We karya Yevgeni Zamyatin ini di Pulau Jura, di lepas pantai Skotlandia.

George Orwell di cover Time edisi November 1983

Dalam esainya Politics and the English Language (1946), Orwell menjabarkan mengenai pentingnya penggunaan bahasa yang tepat dan jelas, dengan argumentasi bahwa sebuah tulisan yang “kabur” bisa digunakan sebagai alat manipulasi politik yang kuat, karena itu membentuk pola pikir pembacanya. Ada enam aturan bagi penulis yang dikemukakan Orwell:

  • Never use a metaphor, simile, or other figure of speech which you are used to seeing in print.
  • Never use a long word where a short one will do.
  • If it is possible to cut a word out, always cut it out.
  • Never use the passive where you can use the active.
  • Never use a foreign phrase, a scientific word, or a jargon word if you can think of an everyday English equivalent.
  • Break any of these rules sooner than say anything outright barbarous.

Lebih lanjut mengenai enam aturan dalam menulis versi Orwell ini baca di sini.

Orwell menikah dengan Eileen O’Shaughnessy pada tahun 1936 hingga kematian Eileen di meja operasi pada tahun 1945. Mereka mengadopsi seorang anak lelaki yang dinamai Richard Horatio Blair yang lahir bulan Mei 1944. Kemudian pada musim gugur 1949, hanya berselang beberapa lama sebelum kematiannya, Orwell menikah dengan Sonia Brownell. Orwell meninggal dunia pada tahun 1950 dalam usia relatif muda, 46 tahun. Penyebab kematiannya adalah penyakit tuberculosis. Ia dimakamkan dengan tradisi Anglikan dan dikebumikan di All Saints’ Churchyard, Sutton Courtenay, Oxfordshire dengan epitaf sederhana: Here lies Eric Arthur Blair, born June 25th 1903, died January 21st 1950.

Newsweek menyebut Orwell “was the finest journalist of his day and the foremost architect of the English essay since Hazlitt.” Beliau juga diakui sebagai salah satu penulis Inggris terbaik pada abad 20 dengan mengutamakan penggunaan bahasa yang jelas, kepedulian tinggi terhadap ketidakadilan sosial, perlawanan terhadap totalitarianisme, dan  keyakinan akan “sosialisme demokratis”. Selain menulis novel dan buku dokumenter, Orwell juga menulis sejumlah esai luar biasa dengan berbagai topik: politik, sastra, bahasa, dan budaya.

 

On each landing, opposite the lift shaft, the poster with the enormous face gazed from the wall. It was one of those pictures which are so contrived that the eyes follow you about when you move. BIG BROTHER IS WATCHING YOU, the caption beneath it ran.


“If you want a picture of the future, imagine a boot stamping on a human face–for ever.”

–from Nineteen Eighty-Four

– Dari berbagai sumber

Classic Author of June 2012: Rudyard Kipling

Pertama-tama, maafkan saya atas post yang sangat terlambat ini T__T

***

Banyak dari kita yang familiar dengan kisah Mowgli si anak manusia yang dibesarkan oleh makhluk-makhluk rimba, melalui film kartun The Jungle Book versi Disney. Versi asli dongeng anak-anak yang ditulis oleh Rudyard Kipling ini tidak se”manis” versi Disney. Saya baru membaca separuh dari The Jungle Book, namun saya sudah terkagum-kagum akan imajinasi Kipling dalam menulis kisah tersebut, bagaimana ia membuat hutan rimba dan segala isinya menjadi hidup dengan segala hukum dan prinsipnya.

“Words are, of course, the most powerful drug used by mankind.”
― Rudyard Kipling

Sekarang marilah kita berkenalan lebih lanjut dengan sang pengarang, RUDYARD KIPLING. Pengarang berkebangsaan Inggris ini terlahir dengan nama Joseph Rudyard Kipling pada tanggal 30 Desember 1865, di Bombay, tepatnya di Bombay Presidency, British India. Nama Rudyard berasal dari danau yang indah bernama Rudyard Lake, di Rudyard, Staffordshire, Inggris.

Ayahnya, John Lockwood Kipling, menjabat sebagai Kepala Sekolah dan Profesor bidang Architectural Sculpture di Sir Jamsetjee Jeejebhoy School of Art, Bombay, pada saat Kipling dilahirkan. Sebagai seorang Anglo-Indian (istilah yang digunakan untuk menyebut orang berkebangsaan Inggris yang tinggal di India pada abad ke-19), tulisan-tulisan Kipling banyak sekali yang bernafaskan India. Kipling sempat menjadi korban bullying saat ia dan adiknya, Trix, tinggal di Southsea, Portsmouth bersama pasangan Holloway sebagai orang tua asuh. Dalam autobiografinya beliau menulis:

“Often and often afterwards, the beloved Aunt would ask me why I had never told anyone how I was being treated. Children tell little more than animals, for what comes to them they accept as eternally established.”

Rudyard Lake (source: Wikipedia)

Mulai Januari 1878 Kipling menempuh pendidikan persiapan masuk British Army di United Services College, di Westward Ho, Devon. Sekolah ini yang melatarbelakangi kisah-kisah anak sekolah yang ditulisnya dengan judul Stalky & Co. (1899). Di sekolah ini juga ia bertemu dan jatuh cinta dengan Florence Garrard, yang menjadi model tokoh Maisie di novel pertamanya, The Light that Failed (1891). Menjelang akhir studinya, sang ayah memberinya pekerjaan sebagai asisten editor pada harian The Civil & Military Gazette, di Lahore, Punjab (sekarang Pakistan). Karirnya di surat kabar dilanjutkan di The Pioneer di Allahabad.

Pada tahun 1886 Kipling menerbitkan kumpulan puisinya yang pertama, Departmental Ditties. Ia kemudian diminta untuk mengisi kolom cerita pendek pada surat kabar tersebut. Hasilnya, sekitar 39 cerita pendek karyanya muncul di Gazette mulai November 1886 hingga Juni 1887. Kebanyakan dari cerita-cerita pendek tersebut dimasukkan dalam Plain Tales from the Hills, kumpulan cerpen pertamanya, yang diterbitkan di Calcutta pada Januari 1888, hanya sebulan setelah ulang tahunnya yang ke-22.

Karirnya dalam kepenulisan cerita pendek terus berlanjut pada tahun yang sama, 1888, saat ia menerbitkan tidak kurang dari 6 kumpulan cerita pendek, berisi total 41 cerita pendek. Pada tahun berikutnya ia banyak melakukan perjalanan, dari Benua Asia hingga ke Benua Amerika, dan kembali ke Inggris. Tulisannya yang dihasilkan selama perjalanan tersebut dimuat dalam karya literatur perjalanan berjudul From Sea to Sea and Other Sketches, Letters of Travel. Kipling memulai debutnya sebagai penulis yang diakui di London, dan pada akhir 1891, kumpulan cerita pendeknya yang bertema kehidupan orang-orang Inggris di India dengan judul Life’s Handicap, diterbitkan.

Kipling menikahi Carrie Balestier, saudara perempuan Wolcott Balestier yang pernah berkolaborasi menulis dengannya, pada tanggal 18 Januari 1892 di All Souls Church, Langham Place, dengan Henry James sebagai pendamping pengantin wanita. Di kediamannya yang disebut Bliss Cottage, putri pertamanya dengan Carrie lahir pada tanggal 29 Desember 1892, dan diberi nama Josephine. Uniknya, sang ibu berulang tahun pada tanggal 31 dan Kipling pada tanggal 30 bulan yang sama. Di Bliss Cottage inspirasi untuk menulis The Jungle Book dan The Second Jungle Book mulai mendatangi Kipling.

Dari Bliss Cottage mereka pindah ke tanah di sisi Sungai Connecticut, dan membangun rumah yang disebut “Naulakha” (sama dengan judul cerita yang ditulis Kipling dengan Wolcott Balestier), di Dummerston, Vermont. Pada tahun 1897 Kipling sekeluarga pindah dari Devon ke Sussex, ke rumah yang disebut The Elms, dan kemudian ke Bateman’s, sebuah rumah tukang besi peninggalan abad ke-17.

Bateman’s, a seventeenth century iron-master’s house (source: http://www.kipling.org.uk)

Putra Kipling, John, meninggal dunia saat Perang Dunia I meletus. Beliau mengabadikan memori akan putranya dengan puisi berjudul “My Boy Jack” (1916) yang juga telah diadaptasi menjadi film televisi dengan bintang Daniel Radcliffe. Beliau juga berusaha melipur lara akibat ditinggalkan putra tercintanya dengan membacakan novel-novel Jane Austen kepada istri dan anak perempuannya.

Dalam kurun waktu empat tahun sejak tahun 1892, Kipling kembali membuktikan produktivitas dan kreativitasnya sebagai penulis, dengan menerbitkan kumpulan cerpen, kumpulan puisi, novel, termasuk kedua volume The Jungle Book yang fenomenal (terbit 1894 dan 1895) dengan gaya khas penulisan imajinatif a la Kipling. Karya-karya Kipling lainnya yang terkenal adalah Kim, kisah Kimball O’Hara dan petualangannya di Himalaya yang terbit tahun 1901, dan menyusul di tahun 1902 adalah kumpulan cerita pendek anak dengan judul Just So Stories for Little Children. Puncak karir Kipling sebagai seorang penulis terjadi pada awal abad 20. Kumpulan puisi Rewards and Fairies (1910) memuat puisi Kipling yang menjadi favorit Inggris sepanjang masa, “If—”.

The Jungle Book, 1st edition cover

The Second Jungle Book, 1st edition cover

Kipling menolak sebagian besar perhargaaan yang dianugerahkan kepadanya, termasuk gelar ksatria, the Poet Laureateship, dan the Order of Merit, namun pada tahun 1907 ia menerima Nobel Prize for Literature, dengan keterangan sebagai berikut: “In consideration of the power of observation, originality of imagination, virility of ideas and remarkable talent for narration which characterize the creations of this world-famous author.” Kipling adalah penerima Hadiah Nobel Sastra pertama yang berasal dari Inggris, dan termuda pada saat penanugerahan terjadi. Pada tahun 1926 beliau juga dianugerahi Gold Medal of the Royal Society of Literature.

Kipling tetap aktif menulis sampai sekitar tahun 1930, dan autobiografinya yang berjudul Something of Myself ditulis pada tahun 1935 dan diterbitkan secara anumerta. Pada tanggal 18 Januari 1936 Kipling wafat pada usia 70 tahun. Jenazahnya dikremasikan di Golders Green Crematorium dan abunya disimpan di Poets’ Corner, bagian sebelah selatan Westminster Abbey. Di Museum of the Rottingdean Preservation Society, di The Grange, Rottingdean, ada ruangan yang disebut Kipling Room, yang merupakan rekonstruksi ruangan kerja beliau di The Elms, dan dipamerkan atas penghargaaan atas karya-karya beliau. Kipling Room dibuka setiap hari tanpa dikenakan biaya.

IF…..

If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you,
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too;
If you can wait and not be tired by waiting,
Or being lied about, don’t deal in lies,
Or being hated, don’t give way to hating,
And yet don’t look too good, nor talk too wise:

If you can dream – and not make dreams your master;
If you can think – and not make thoughts your aim;
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same;
If you can bear to hear the truth you’ve spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to, broken,
And stoop and build ’em up with worn-out tools:

If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breathe a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: ‘Hold on!’

If you can talk with crowds and keep your virtue,
‘ Or walk with Kings – nor lose the common touch,
if neither foes nor loving friends can hurt you,
If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds’ worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that’s in it,
And – which is more – you’ll be a Man, my son!

– Rudyard Kipling

– Dari berbagai sumber

Classic Author of May 2012: Sir Arthur Conan Doyle

Siapa tak kenal Sherlock Holmes? Sosok detektif bohemian yang diceritakan hidup di abad ke-19 Inggris ini begitu terkenal seantero dunia. Sekarang, mari kita berkenalan dengan “bapak” dari Sherlock Holmes, yaitu Sir Arthur Conan Doyle.

Pria bernama lengkap ARTHUR IGNATIUS CONAN DOYLE ini lahir di 11 Picardy Place, Edinburgh, Skotlandia, pada tanggal 22 Mei 1859. Beliau dilahirkan dalam keluarga Katolik Irlandia yang terbilang kaya. Ayahnya, Charles Altamont Doyle mempunyai ketergantungan parah terhadap alkohol sementara ibunya, Mary Foley Doyle, adalah seorang kutu buku dan pendongeng ulung yang memiliki bakat “sinking her voice to a horror-stricken whisper” saat mencapai titik puncak dalam pembacaan sebuah cerita. Doyle memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya, sehingga dalam biografinya beliau menggambarkan ibundanya seperti berikut: “In my early childhood, as far as I can remember anything at all, the vivid stories she would tell me stand out so clearly that they obscure the real facts of my life.”

Pengarang yang sekaligus berprofesi sebagai dokter ini mulai menulis cerita pendek ketika menempuh pendidikan kedokterannya di University of Edinburgh (1876-1881). Di universitas tersebut beliau bertemu dengan James Barrie dan Robert Louis Stevenson, namun sosok yang menjadi sasaran kekagumannya adalah salah seorang gurunya, Dr. Joseph Bell, yang nantinya menjadi inspirasi karakter Sherlock Holmes.

Selagi menempuh kuliah, Doyle mulai mengasah kemampuannya dalam menulis. Cerita pendek karyanya yang pertama kali diterbitkan berjudul “The Mystery of Sasassa Valley”, merupakan sebuah cerita yang mengambil setting Afrika Selatan, muncul dalam Chamber’s Edinburgh Journal pada tanggal 6 September 1879. Di bulan yang sama pada tanggal 20, artikel ilmiah pertamanya, “Gelsemium as a Poison” diterbitkan dalam British Medical Journal.

Pada tahun 1881, Doyle merayakan keberhasilannya dalam meraih gelar Bachelor of Medicine dan Master of Surgery dengan menggambar sketsa lucu-lucuan dirinya yang sedang menerima diploma, dan menambahkan teks di bawahnya: “Licensed to Kill.” Setelah lulus kuliah, Doyle bekerja sebagai dokter militer di kapal SS Mayumba yang menempuh perjalanan dari Liverpool ke daerah pantai barat Afrika.

Doyle menelurkan novel pertama Sherlock Holmes yang berjudul A Study in Scarlet pada tanggal 20 November 1886, diterbitkan oleh Ward Lock & Co, dan juga dimuat di Beeton’s Christmas Annual. Selanjutnya, sekuel dari A Study in Scarlet; The Sign of the Four, muncul dalam Lippincott’s Magazine pada bulan Februari 1890, sedangkan cerpen-cerpen Sherlock Holmes dimuat dalam Strand Magazine. Potret Sherlock Holmes digambar oleh Sidney Paget dengan mengambil saudara lelakinya yang tampan, Walter, sebagai model. Selanjutnya, novel-novel Sherlock Holmes diterbitkan secara berseri dalam Strand Magazine; The Hound of the Baskervilles pada bulan Agustus 1901, dan novel terakhir Sherlock Holmes, The Valley of Fear, mulai terbit pada awal tahun 1914.

Saat terjadinya Boer War di Afrika Selatan pada pergantian abad dari abad 19 ke abad 20, Doyle menulis artikel singkat berjudul The War in South Africa: Its Cause and Conduct yang menjelaskan peranan Inggris dalam Boer War, yang sebelumnya sempat dicerca oleh dunia. Inilah yang dianggap menjadi penyebab beliau dianugerahi gelar ksatria oleh Raja Edward VII pada tahun 1902.

Karakter Sherlock Holmes muncul dalam tidak kurang dari 56 cerita pendek dan 4 novel karya Conan Doyle, belum lagi muncul dalam banyak cerita dan novel karya pengarang-pengarang lain. Selain seri Sherlock Holmes yang tidak perlu dipertanyakan ketenarannya, Doyle juga menulis seri fiksi ilmiah Professor Challenger, novel sejarah, puisi, dan naskah sandiwara, yang beliau harapkan dapat menegakkan posisinya sebagai seorang pengarang yang “serius”. Salah satu novel dalam seri Professor Challenger yang terkenal adalah The Lost World (1912), yang menceritakan tentang petualangan dan penemuan flora dan fauna prasejarah di daerah terpencil dan misterius di Amerika Selatan. 81 tahun kemudian, “The Lost World” digunakan oleh pengarang Michael Crichton sebagai judul sekuel novel Jurassic Park.

Patung Sherlock Holmes di Picardy Place, Edinburgh

Sebuah patung Conan Doyle berdiri di Crowborough, sebagai penghargaan bagi beliau yang tinggal di daerah itu selama kurang lebih 23 tahun. Di Picardy Place, dekat rumah di mana Doyle dilahirkan, juga berdiri patung Sherlock Holmes.

Conan Doyle mempunyai lima orang anak. Dua orang dari istri pertamanya, Louisa Hawkins, yaitu Mary Louise dan Arthur Alleyne Kingsley. Setelah Louisa meninggal pada tahun 1906, beliau menikahi Jean Elizabeth Leckie, seorang perempuan yang multitalenta, dan mereka dikaruniai tiga orang anak yaitu Denis Percy Stewart, Adrian Malcolm, dan Jean Lena Annette.

Beliau meninggal dunia pada usia 71 tahun akibat serangan jantung pada 7 Juli 1930 di rumahnya, Windlesham, di Crowborough, East Sussex, dengan kata-kata terakhir yang ditujukan kepada istrinya; “You are wonderful.” Setelah sebelumnya dimakamkan di halaman Windlesham, jenazahnya dikebumikan bersama istrinya di pekarangan gereja Minstead di New Forest, Hampshire. Sebagian tulisan pada batu nisannya berbunyi, “Steel true/Blade straight/Arthur Conan Doyle/Knight/Patriot, Physician, and man of letters”.

Masih banyak detail menarik dari kehidupan Sir Arthur Conan Doyle yang tidak dimuat dalam artikel ini, misalnya ketertarikannya dalam Spiritualisme, keterlibatannya dalam reformasi Congo, studi spesialis mata yang ditempuhnya di Vienna, dan keputusannya untuk meninggalkan dunia medis demi menulis. Satu hal yang dapat kita catat mengenai beliau adalah; Sir Arthur Conan Doyle was so much more than just Sherlock Holmes, the fictional character he created.

“My mind rebels at stagnation. Give me problems, give me work, give me the most abstruse cryptogram, or the most intricate analysis, and I am in my own proper atmosphere. But I abhor the dull routine of existence. I crave for mental exaltation.” – Sir Arthur Conan Doyle

Dari berbagai sumber
Sebagian gambar diambil dari situs http://www.sherlockholmesonline.org/

***

Untuk merayakan HUT Sir Arthur Conan Doyle yang ke-153, selama bulan Mei Komunitas Baca Klasik menyelenggarakan event Sherlock Quest yaitu lomba review, quiz, dan game. Info lengkapnya bisa dibaca di sini. Review kumcer Petualangan Sherlock Holmes juga akan terbit di blog ini pada tanggal tersebut. Mari berkutat dengan misteri bersama Sherlock Holmes!

Classic Author of April 2012: Charlotte Brontë

“If all the world hated you, and believed you wicked, while your own conscience approved you, and absolved you from guilt, you would not be without friends.”
— Charlotte Brontë

The authoress

Bagaimana rasanya punya saudara sekandung yang sama-sama berprofesi sebagai penulis? Seandainya Charlotte Brontë masih hidup, kita mungkin bisa menanyakan kepadanya. Berikut biografi singkat Charlotte Brontë, pengarang perempuan Inggris era Victoria yang diakui, yang mempunyai tanggal lahir sama dengan pahlawan wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini.

***

CHARLOTTE BRONTË dilahirkan tanggal 21 April 1816 sebagai putri ketiga pasangan Rev. Patrick Brontë dan Maria Branwell. Dua kakak tertua Charlotte adalah Maria dan Elizabeth, sedangkan adik-adiknya antara lain Patrick Branwell, Emily, dan Anne. Ibu mereka meninggal dunia saat Charlotte masih berusia lima tahun. Brontë bersaudara akhirnya diasuh oleh saudara perempuan ibu mereka, Elizabeth Branwell, dan kemudian pada tahun 1824 Charlotte beserta tiga Brontë lainnya: Maria, Elizabeth, dan Emily, dikirimkan ke Clergy Daughters’ School, di Cowan Bridge, Lancashire. Adapun kondisi sekolah ini sangat tidak layak dan berpengaruh buruk pada kesehatan dan perkembangan fisik Charlotte. Dua Brontë tertua, Maria dan Elizabeth meninggal dunia akibat tuberkulosis saat masih berada di sekolah tersebut. Clergy Daughters’ School nantinya dipakai Charlotte sebagai inspirasi sekolah Lowood dalam novel Jane Eyre.

Rumah keluarga Brontë di Haworth, sekarang menjadi Brontë Parsonage Museum

Padang moor di Haworth, yang sering menjadi setting di kisah-kisah karya Brontë bersaudara

Di rumah mereka yang terpencil di Haworth Parsonage, keempat Brontë mulai mengembangkan daya imajinasi mereka; Charlotte dan Branwell menulis kisah tentang suatu kerajaan fiktif dan penghuninya, berjudul “The Tales of Angria”, sementara Emily dan Anne menulis puisi-puisi “kerajaan tetangga” Angria yang diberi judul “Gondal”.

Pada tahun 1842, Charlotte dan Emily belajar di sebuah sekolah asrama di Brussels, di bawah pimpinan Constantin Heger dan istrinya. Charlotte menghabiskan tahun berikutnya dengan perasaan kesepian, rindu rumah, dan cinta tak sampai kepada sang “pak guru”, Mr. Heger. Charlotte menulis surat-surat cinta untuk Heger, yang meskipun telah dibakar, dijual, dipotong-potong, pendeknya dihancurkan; surat-surat cinta tersebut berhasil diselamatkan dan akhirnya diterbitkan oleh The British Library. Pengalaman di sekolah asrama di Brussels tersebut kemudian digunakan oleh Charlotte sebagai inspirasi cerita dalam novel The Professor dan Villette. Selain menulis, Charlotte bekerja sebagai guru dan pengasuh anak.

Portrait by Duyckinick, 1873

Charlotte, Emily, dan Anne menerbitkan kumpulan puisi karya mereka secara independen pada Mei 1846, di bawah nama pena Currer, Ellis, dan Acton Bell. Charlotte mengungkapkan alasan mereka menggunakan nama pena sebagai berikut:

“… while we did not like to declare ourselves women, because — without at that time suspecting that our mode of writing and thinking was not what is called ‘feminine’ – we had a vague impression that authoresses are liable to be looked on with prejudice…”

Setelah manuskrip The Professor ditolak oleh penerbit, Charlotte kemudian mengirimkan manuskrip Jane Eyre pada bulan Agustus 1847. Jane Eyre diterbitkan enam minggu kemudian dan menuai kesuksesan. Beberapa bulan kemudian novel-novel pertama dari kedua saudari Charlotte, Emily (Wuthering Heights), dan Anne (Agnes Grey) juga diterbitkan. Publik mulai penasaran dan curiga mengenai identitas sebenarnya “Currer Bell”, dan timbul kritik tajam yang mengatakan bahwa tulisan Charlotte “kasar”. Kritik yang senada juga dialamatkan terhadap Villette, novel ketiga Charlotte yang dipublikasikan semasa ia masih hidup, dengan tambahan bahwa penggambaran keinginan sang tokoh utama (Lucy Snowe) tidak “feminin” sebagaimana seharusnya.

Charlotte baru menyelesaikan sebagian dari novel keduanya, Shirley, ketika tragedi merundung keluarga Brontë bertubi-tubi. Satu-satunya saudara lelaki Charlotte, Branwell, meninggal dunia akibat bronkhitis kronis pada bulan September 1848, disusul Emily karena tuberkulosis pada bulan Desember, dan Anne karena penyakit yang sama dengan Emily pada bulan Mei tahun berikutnya. Setelah kematian Anne, Charlotte melanjutkan penulisan Shirley dan akhirnya novel tersebut terbit pada bulan Oktober 1849.

Hanya setahun setelah menikahi Arthur Bell Nicholls, Charlotte meninggal dunia pada usia 38 tahun dalam keadaan mengandung pada akhir Maret 1855. Jenazah Charlotte disemayamkan di pemakaman keluarga di The Church of St. Michael and All Angels, Haworth, West Yorkshire, Inggris. Novel pertama yang ditulisnya, The Professor, diterbitkan secara anumerta pada tahun 1857, dan menyusul fragmen “Emma” yang baru ditulisnya sebanyak 20 halaman pada tahun 1860. 143 tahun kemudian, di tahun 2003, fragmen “Emma” diselesaikan oleh penulis Clare Boylan dengan judul Emma Brown: A Novel from the Unfinished Manuscript by Charlotte Brontë. Penulis Jean Rhys juga mempublikasikan karyanya yang berjudul Wide Sargasso Sea, yang menceritakan tentang kehidupan cinta Edward Rochester (tokoh utama pria dalam Jane Eyre) di masa mudanya.

Semasa hidupnya, Charlotte juga membina hubungan pertemanan dengan beberapa sastrawan terkemuka di masa itu, termasuk Elizabeth Gaskell, Harriet Martineau dan William Makepeace Thackeray. Bahkan, Gaskell menuliskan biografi Charlotte setelah yang bersangkutan wafat pada tahun 1855. Biografi dengan judul The Life of Charlotte Brontë tersebut dianggap tidak biasa pada masa itu karena bukannya memfokuskan pada pencapaian-pencapaian subyeknya, Gaskell malah memberikan detail-detail kehidupan pribadi Charlotte dan berusaha menjawab tuduhan para kritikus akan “kekasaran” gaya menulis Charlotte.

L’Ingratitude

Berita terbaru yang dirilis London Review of Books, the Guardian, the Telegraph, dan Huffington Post, menyatakan bahwa sebuah cerita pendek karya Brontë yang telah lama hilang, ditemukan di sebuah museum di Belgia. Cerita pendek yang ditulis dalam bahasa Prancis ini berjudul “L’Ingratitude”, dan rupanya adalah pekerjaan rumah dari Pak Guru Heger yang ditaksir Charlotte setengah mati. Cerita “L’Ingratitude” adalah sebuah alegori tentang seekor tikus muda ceroboh yang melarikan diri dari ayahnya dan mengalami suatu akhir yang sangat menyedihkan. Anda bisa membaca “L’Ingratitude” dalam bahasa Prancis dan Inggris di website London Review of Books di sini, juga mendengarkan cerita tersebut dibacakan oleh aktris Gillian Anderson.

My Brontë collection (sebenarnya saya juga punya buku puisinya tapi ketlisut entah dimana T__T)

Miris rasanya, bila kita melihat kisah hidup tragis (yang semuanya berakhir pada usia muda) dari kakak-beradik Brontë. Namun yang patut dikagumi adalah dalam masa hidup yang pendek, juga dalam keterasingan kehidupan mereka, masing-masing telah menghasilkan karya yang tidak punah sampai saat ini, dan membuat nama mereka diakui sebagai tokoh-tokoh terkemuka dalam sastra Inggris.

Dari berbagai sumber

Useful links:

Charlotte Brontë on Wikipedia
Charlotte Brontë on Poetry Foundation
The Brontë Parsonage Museum & Brontë Society
My review of Charlotte Brontë’s Jane Eyre (in Indonesian)
My review of Emily Brontë’s Wuthering Heights (in Indonesian)

Classic Author of March 2012: Émile Zola


The artist is nothing without the gift, but the gift is nothing without work.

~ Émile Zola

Émile Zola

Émile François Zola lahir di Paris pada tanggal 2 April 1840, dari pasangan François Zola (nama aslinya Francesco Zolla), seorang insinyur Italia, dan istrinya Émilie Aurélie Aubert. Ketiga Zola pindah ke Aix-en-Provence ketika Émile berusia tiga tahun, lalu kembali ke Paris pada tahun 1858, 11 tahun setelah kematian sang ayah. Zola sejak kecil bersahabat dengan seniman Paul Cézanne.

Pernah bekerja dalam sebuah perusahaan pelayaran dan penerbit Hachette, Zola menghabiskan tahun-tahun pertama dalam karirnya dengan menulis review sastra dan seni untuk surat kabar, dan kemudian sebagai jurnalis politik. Novel utamanya yang pertama adalah Thérèse Raquin (1867), dan setelah itu Zola mulai menulis seri Les Rougon-Macquart ,yang mengisahkan tentang dua keluarga, keluarga Rougon dan keluarga Macquart, sepanjang lima generasi dalam setting The Second Empire di Prancis, di bawah pemerintahan Napoleon III. Selain itu Zola juga menulis The Masterpiece (1886), l’Assommoir (1877), Germinal (1885), kemudian “kisah tiga kota”, Lourdes (1894), Rome (1896), dan Paris (1897).

Kamis pagi, 13 Januari 1898, Prancis dihebohkan dengan halaman pertama surat kabar L’Aurore. Halaman pertama harian itu memuat tulisan Zola dengan headline: “J’Accuse…!” (dalam bahasa Inggris: “I accuse…! Letter to the President of the Republic”). Surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Félix Faure ini mengungkapkan tentang Kapten Alfred Dreyfus, seorang opsir Yahudi dalam tentara Prancis. Dreyfus dituduh telah membocorkan rahasia militer Prancis ke pihak Jerman. Ia kemudian dinyatakan bersalah dan dipenjarakan seumur hidup di Devil’s Island, French Guiana. Belakangan, Letkol Georges Picquart menemukan bukti bahwa seorang opsir lain, Ferdinand Walsin Esterhazy, adalah orang yang bertanggung jawab atas bocornya rahasia militer tersebut dan bukannya Dreyfus. Anti-semitisme yang mengakar kuat pada saat itu mencegah Esterhazy diadili, sehingga nasib Dreyfus pun tidak mengalami perubahan. Zola mengambil risiko yang sangat besar dalam karir dan kehidupannya saat J’Accuse muncul . Kasus yang kemudian dikenal sebagai The Dreyfus Affair ini memecah Prancis menjadi dua kubu, kubu ketentaraan dan gereja yang reaksioner, dan kubu masyarakat yang cenderung lebih liberal. Kutipan Zola yang terkenal terkait The Dreyfus Affair adalah,

“The truth is on the march, and nothing shall stop it.”

Portrait of Emile Zola (1868) by Édouard Manet

Zola meninggal dunia pada umur 62 tahun, pada tanggal 29 September 1902 karena keracunan gas karbon monoksida, akibat cerobong asap yang ditutup. Banyak yang mencurigai bahwa musuh-musuh Zola terlibat dalam kematiannya ini, namun asumsi ini menguap begitu saja karena tidak ada bukti. Zola awalnya dikubur di Cimetière de Montmartre di Paris, namun 6 tahun kemudian jasadnya dipindahkan ke Panthéon, di sebuah kapel bawah tanah di mana jasad Victor Hugo dan Alexandre Dumas juga bersemayam.

Émile Zola yang karya sastranya banyak diinspirasi oleh Balzac (1799-1850), diakui sebagai bapak dari sastra naturalis, dan sastrawan yang tak kalah sinarnya dengan sastrawan-sastrawan Prancis lain, semisal Victor Hugo. Ciri khas karya-karya literatur Zola adalah bahasa yang jelas, sederhana, tepat, deskripsi kenyataan seakurat mungkin. Memulai karirnya sebagai jurnalis, saran Zola bagi penulis-penulis muda adalah dengan memulai karir dari jurnalisme untuk mencapai gaya menulis yang ringkas dan efektif.

Dari berbagai sumber

Links:
Émile Zola on Wikipedia
The Dreyfus Affair on Wikipedia
“J’Accuse…!” (letter) on Wikipedia
English translation of “J’Accuse…!”
Biographical film “The Life of Émile Zola” on IMDb

Classic Author of February 2012: Victor Hugo

Melanjutkan Classics Challenge bulan Januari 2012 yang mengulas sekilas mengenai penulis klasik Charles Dickens, maka menggunakan pertanyaan-pertanyaan dasar dari Classics Challenge Januari level 1, bulan ini saya mau memperkenalkan sosok penulis klasik yang terkenal lewat dua mahakaryanya yaitu The Hunchback of Notre Dame dan Les Misérables.

Who is the author?
Victor-Marie Hugo

What do they look like?

When were they born?
26 Februari 1802

Where did they live?
Victor Hugo menyewa sebuah apartemen di lantai dua Hôtel de Rohan-Guéménée di Place des Vosges, Paris selama 16 tahun (1832-1848). Tempat ini menjadi museum bernama Maison de Victor Hugo.

Maison de Victor Hugo

Hauteville House

Dan selama 15 tahun pembuangannya di Pulau Guernsey (1856-1870), beliau tinggal di Hauteville House, di 38 Rue Hauteville, St. Peter Port.

What does their handwriting look like?

What are some of the other novels they’ve written?
Selain The Hunchback of Notre Dame dan Les Misérables, Hugo juga menulis Bug-Jargal, The History of a Crime, The Last Day of a Condemned Man, The Man Who Laughs, Ninety-Three, dan Toilers of the Sea.

What is an interesting and random fact about their life?
Victor Hugo ternyata juga jago melukis. Semasa hidupnya ia menghasilkan lebih dari 4000 lukisan yang tidak pernah dipublikasikan karena beliau takut hal itu akan membayangi karya-karya sastranya. Lukisan-lukisan karya Hugo diapreasiasi oleh beberapa seniman besar seperti Van Gogh dan Delacroix, yang terakhir malah berpendapat bahwa jika Hugo memutuskan untuk menjadi seorang pelukis dan bukan seorang penulis, ia bisa mengalahkan seniman-seniman lain di masanya.

Ville avec le pont de Tumbledown, 1847

Lebih lanjut tentang lukisan-lukisan karya Victor Hugo, klik link ini.

Untuk merayakan 210 tahun Victor Hugo (1802-2012), tanggal 26 Februari nanti blog ini akan mempost review The Hunchback of Notre Dame, bersama dengan blog Fanda Classiclit yang akan mempost review Les Misérables. Tungguin yah!

[Classics Challenge 2012] January – Author Charles Dickens

Let’s read classics!

Tidak hanya sekedar membaca, melalui challenge yang ini pembaca buku klasik juga ditantang untuk memperdalam wawasan tentang buku klasik yang dibaca. Posting aslinya (dari blog luar) bisa dilihat di sini. Bertepatan dengan perayaan 200 tahun penulis besar asal Inggris Charles Dickens, maka classics challenge ini saya dedikasikan untuk beliau.

Level 1

Who is the author?

Charles John Huffam Dickens, lebih dikenal dengan nama Charles Dickens.

What do they look like?

Jika dicari melalui Google, foto Dickens hampir semuanya berkumis dan berjanggut…

When were they born?

7 Februari 1812

Where did they live?

2 Ordnance Terrace, Chatham

Dickens menghabiskan masa kecil (1817–1822) di 2 Ordnance Terrace, Chatham, di Kent. Tahun 1824, ayah Dickens dipenjarakan di Marshalsea debtors’ prison beserta seluruh keluarga, kecuali Charles yang pada saat itu dikirim untuk bekerja di Warren’s Shoe Blacking Factory. Saat itu Charles tinggal di rumah kos-kosan di Camden Town dan mengunjungi keluarganya di Marshalsea setiap minggu. Dickens tinggal di Gad’s Hill di Kent mulai tahun 1857 hingga 1870, tahun dimana beliau wafat. Gad’s Hill menjadi Gad’s Hill School sejak tahun 1924 hingga saat ini.

Gad's Hill Place

What does their handwriting look like?

What are some of the other novels they’ve written?

Dickens menghasilkan banyak karya sepanjang hidupnya. Selain A Tale of Two Cities yang laris manis di seluruh penjuru dunia, ada novel pertamanya, The Pickwick Papers, kemudian Oliver Twist, Great Expectations, Bleak House, A Christmas Carol, Little Dorrit, The Old Curiosity Shop, dan masih banyak lagi…

What is an interesting and random fact about their life?

Tidak banyak yang tahu, bahwa Dickens punya pengaruh terhadap sastra Amerika melalui suatu hal yang unik. Hewan peliharaan kesayangan Dickens, seekor burung raven bernama Grip, yang setelah kematiannya di tahun 1841 diawetkan (Grip masih disimpan di Free Library of Philadelphia sampai saat ini) ternyata adalah sumber inspirasi Edgar Allan Poe, penyair dan kritikus sastra Amerika, dalam menulis puisi “The Raven” yang fenomenal. Baca artikel lengkapnya di sini.

Untuk merayakan 2 abad Charles Dickens, review salah satu karyanya yang paling terkenal, A Tale of Two Cities (diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai “Kisah Dua Kota”) akan dipublish di blog ini tepat pada tanggal 7 Februari 2012 nanti.

Happy 200th Birthday, Charles Dickens! 🙂