Kumcer “1 Negeri, 10 Kisah” – Petra Career Center

1 negeri 10 kisah“Siapa bilang anak-anak muda kita masa bodoh dengan sejarah negeri sendiri?”

Pertanyaan inilah yang dicoba untuk dijawab melalui kumpulan cerpen self-published bertajuk “1 Negeri, 10 Kisah” ini. Jujur, ketika ditawari mengulas buku ini, saya sempat ragu. Masalahnya, saya terbilang jarang membaca buku karya pengarang Indonesia – apalagi yang debutan. Namun ketika diberi tahu bahwa sejarah menjadi tema utama kumcer ini, saya langsung tertarik. Sekali-kali mencoba rasa baru tak apalah. Dan kali ini, tidak ada kekecewaan di ujung pengalaman “icip-icip” ini.

Sejarah bagaimana kumcer ini bisa terbit terbilang menarik. Dimulai dari pelaksanaan Creative Writing Workshop yang diadakan Petra Career Center di Universitas Kristen Petra 28 Mei 2016 lalu, terbentuklah kerjasama antara panitia dan para pembicara workshop untuk mengadakan proyek membuat kumpulan cerpen bersama mahasiswa. Sepuluh cerpen dari mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari berbagai jurusan pun terpilih untuk dipublikasikan. Memang kesepuluh penulis muda ini masih boleh dibilang newbie, tapi karya merekalah yang dipilih oleh dua pembicara workshop yaitu Bapak Ang Tek Khun (Direktur Penerbit Gradien Mediatama) dan Bapak Brilliant Yotenega (Co-founder Nulisbuku.com), serta Jessie Monika selaku perwakilan dan penyelenggara workshop. Kisah selengkapnya tentang latar belakang terbitnya kumcer ini dapat dibaca pada bagian Prakata.

Sepuluh cerpen di dalam buku ini adalah sebagai berikut:

  1. Si Kelinci dan Si Singa, oleh Rina Pricelya Ibrahim

Kisah persahabatan antarsuku di tengah gejolak kerusuhan rasial yang terjadi pada Mei 1998.

“…saat melihat sekitarnya, teman-temannya, atau keluarganya, membenci suku yang berbeda dari mereka, akhirnya mereka belajar untuk membenci suku yang lain. Tapi, seperti mereka bisa belajar untuk membenci, mereka juga bisa belajar untuk saling memahami, kayak Zena dan Freya. Mereka juga harus sadar kalau perbedaan ada supaya kita sama-sama bisa maju, tidak untuk dipermasalahkan.”

  1. Galuh, oleh Monica Agnes

Sekilas seperti kisah Romeo dan Juliet, tapi yang pria adalah prajurit Majapahit, dan yang wanita adalah dayang putri Sunda, dan waktu itu terjadi Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda.

  1. Blue Amy, oleh Yomaldia Alfa Prilly Telussa

Di pedalaman Halmahera, hidup suku Lingon yang orang-orangnya memiliki mata biru dan rambut pirang. Ini secuplik kisah tentang mereka.

  1. Izakod Bekai, Izakod Kai, oleh Mozes Adiguna Setiyono

Berlatar belakang sejarah pembebasan Irian Barat, cerpen ini menyebut seorang tokoh nasional Papua yang mungkin belum banyak dikenal, J.A. Damari.

  1. Mei, oleh Ivonne Muliawati Harsono

Juga mengambil tema Mei 1998, namun kali ini lebih memfokuskan pada trauma yang dialami korban—yang membekas bahkan bertahun-tahun setelah kejadian, dan bermil-mil jauhnya dari tempat peristiwa itu terjadi.

“Aku masih ingat betapa aku dulu menjunjung tinggi rasa nasionalisme. Segala perjuanganku untuk mendekatkan orang-orang keturunan dan pribumi, seperti aku dan Dimas dulu, seakan tidak ada artinya lagi. Di mana negaraku saat aku membutuhkannya? Di mana nasionalisme saat mereka merenggut Mama?

  1. Le Soldat, oleh Natalia Angel

10 November 1945. Warga Surabaya bersiap bertempur melawan penjajah Inggris, termasuk seorang pemuda Prancis bernama Abelard Durand.

  1. Terpendam, oleh Jossy Vania Christiani

Salah satu cerpen yang paling menguras emosi, yang berkisah tentang bagaimana rasanya menjadi warga Tionghoa dan sekaligus keturunan orang yang dituduh pernah terlibat PKI, di zaman modern ini.

  1. Senja di Batavia, oleh Irene Priscilla Wibowo

Melihat jauh ke belakang ke tahun 1740, cerpen ini menengok kehidupan orang Cina yang tinggal di perkampungan di pinggiran Batavia, dan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

  1. Jalesveva di Antara Bintang-Bintang, oleh Yeremia Tulude Ambat

Kisah cinta muda-mudi berlatar belakang kota Surabaya, termasuk beberapa tempat yang terasa sangat familier bagi saya seperti Jalan Jakarta, Jalan Indrapura, hingga Monumen Jalesveva Jayamahe yang berdiri gagah di ujung utara kota Surabaya.

  1. Aku, Kamu, Kita, oleh Clarissa Monica

Cerpen penutup yang mengambil latar belakang kota Solo, dan, sekali lagi, Mei 1998. Kisahnya sederhana tapi memiliki makna yang dalam, tentang pentingnya “kita”, dan bagaimana upaya untuk terus-terusan mempertahankan “ke-aku-an” dapat menghancurkan “kita”, yaitu kepentingan bersama. Cerpen ini terasa relevan sekali dengan kondisi Indonesia sekarang ini…

“Nyali harus bergandengan dengan empati, kemauan untuk menghargai, dan untuk peduli kepada orang lain. Letak keberanian kita sesungguhnya adalah ketika si ‘aku’ itu berani menyingkirkan ke-aku-an, dan bersatu dengan ‘aku-aku’ yang lain menjadi ‘kita’. Dan itulah sumber kekuatan untuk melakukan perubahan bagi Indonesia…”

 


Secara keseluruhan saya menilai buku bercover merah terang ini bagus dan layak direkomendasikan. Cerpen favorit saya? Cerpen no. 5 dan no. 10. Memang ada beberapa penulis yang saya rasakan teknik menulisnya masih mentah, dan ada juga yang style-nya terlalu cheesy bagi selera saya, but still, it’s a good start. Usaha mereka untuk melakukan riset sebelum menulis juga patut diacungi jempol. Buku ini juga dilengkapi dengan profil singkat penulis di akhir masing-masing cerpen, dan ilustrasi yang semakin mempercantik buku.

Pada akhirnya, kumpulan cerpen ini membawa harapan.

Anak muda masih gemar menulis, dan mau berusaha melakukan riset dan membenahi tulisannya hingga matang.

Anak muda masih peduli dengan sejarah dan budaya Indonesia.

Anak muda menyimpan harapan bagi Indonesia yang bersatu, tidak terpecah belah; Indonesia yang kembali ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Dan satu tambahan harapan dari saya, agar langkah UK Petra mempublikasikan kumcer seperti ini diikuti oleh kampus-kampus lain.

Tertarik memiliki kumpulan cerpen “1 Negeri, 10 Kisah” ini? Hubungi CP Fano atau Jessie via SMS ke 081232273747 atau via e-mail ke careercenter@petra.ac.id. Harga Rp 57.000,-


Detail buku:

Kumpulan Cerpen “1 Negeri, 10 Kisah”, oleh Petra Career Center

141 halaman, diterbitkan tahun 2016 secara mandiri melalui Nulisbuku.com

Rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSCDalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

Belum banyak buku fiksi Indonesia yang saya baca, tapi mungkin Pulang adalah salah satu yang terbaik. Cerita mengalir begitu saja dan terasa nyata sehingga saya lupa kalau saya sedang membaca novel. Diksinya indah, blak-blakan di beberapa bagian, dan saya bisa sungguh-sungguh merasakan keberadaan dan emosi para karakter utama. Saya suka betapa novel ini begitu Indonesia (termasuk pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget), padahal banyak petikan percakapan dalam bahasa Prancis juga. Saya suka Dimas Suryo yang doyan melahap literatur klasik, sesuatu yang juga ia tularkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya yang membuat novel ini kurang lengkap, mungkin, adalah film dokumenter karya Lintang yang tidak disebut-sebut lagi pada akhir buku. Saya sangat ingin menonton film itu. Nah, saya sudah bilang tadi kan kalau saya lupa kalau Pulang hanya sebuah novel? Bagi yang ingin mencoba baca buku ini, jangan takut karena buku ini “kelihatan” berat, sebenarnya nggak seberat itu kok.

Rasanya sulit sekali untuk menunjukkan di dalam review, apa yang membuat buku ini begitu bagus di mata saya. Walaupun buku ini kental nuansa romance-nya, bagi saya itu tak menjadi masalah karena konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini. Yang jelas, novel ini membuat saya makin mencintai Indonesia. Novel ini membuat saya ingin menelusuri kembali sejarah Indonesia, walaupun mungkin apa yang saya baca tidak bisa mutlak dipercayai sebagai suatu kebenaran.

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2014 tema Historical Fiction Indonesia


Detail buku:

Pulang, oleh Leila S. Chudori
464 halaman, diterbitkan Desember 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

sktla

Masyarakat modern pada umumnya sudah terjebak dalam pola hidup yang sibuk, serba tergesa-gesa, dan mobilitas tinggi. Semua orang larut dalam peran sebagai “aktor” dalam kehidupan masing-masing. Hampir tak ada waktu untuk berhenti sejenak untuk sekedar menjadi “penonton” atau “pengamat.” Kumpulan cerita pendek bertajuk “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” (SKTLA) ditulis oleh Maggie Tiojakin setelah melakukan riset yang intens, dengan kata lain beliau mengamati kehidupan manusia dan mencatat detail-detail kecil yang sering terlewatkan oleh kita yang sibuk. Melalui SKTLA, Maggie menuturkan kembali pengalaman-pengalaman yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan satu bumbu istimewa: absurditas. Yang dimaksud dengan absurditas adalah hal-hal yang tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Lantas apa hubungan absurditas dengan pengalaman hidup sehari-hari? Bagi Maggie, semua tentang kehidupan adalah hal yang absurd (hal. 237).

Beberapa judul cerita yang berlatar belakang kehidupan sehari-hari dalam buku ini menyoroti pergumulan hubungan suami-istri. Misalnya dalam cerita Kota Abu-Abu (hal. 64), penulis membenturkan ide tentang comfort zone dengan komitmen sepasang suami-istri, Remos dan Greta, untuk terus hidup bersama. Dalam cerita lainnya, Dia, Pemberani (hal. 138), seorang istri bernama Zaleb terpaksa mengalah dan menuruti kehendak Masaai, sang suami, yang candu terhadap olahraga ekstrim. Sampai pada akhirnya harus ada konsekuensi yang dituai dari aktivitas sarat tantangan yang dilakoni Masaai. Ada juga cerita Tak Ada Badai di Taman Eden (hal. 1) yang mengisahkan konflik batin yang dialami Barney dan Anouk, yang telah mengalami satu peristiwa yang menyebabkan mereka tak lagi sehati sebagai suami-istri. Kemudian ada satu cerita kehidupan sehari-hari yang lebih bersifat individual. Cerita yang seakan-akan memindai pikiran seorang karyawan saat ia sedang mengikuti meeting adalah Jam Kerja (hal. 182). Bayangkan pikiran kita yang melanglang kemana-mana setiap harinya. Kemudian bayangkan bahwa pikiran-pikiran kita “ditelanjangi” dan dituangkan dalam kertas dengan sedemikian jujurnya sampai kita merasa malu membacanya.

Cerita-cerita lainnya menyuguhkan situasi yang tidak biasa, yaitu bencana alam, peperangan dan pembunuhan. Batasan kabur antara yang nyata dan yang khayal menjadi daya tarik cerita Lompat Indah (hal. 28). Ahi, seorang pemuda yang terperangkap banjir di atas genteng rumah, menganggap air yang terus naik adalah tangan-tangan ramah yang siap memeluknya. Sementara cerita dies irae, dies illa (hal. 71), memotret gambaran getir pengalaman penduduk sipil dalam kecamuk peperangan. Kengerian dan depresi dalam masa peperangan juga dapat dirasakan pembaca melalui cerita Kristallnacht (hal. 10), yang disajikan dalam bentuk wawancara dengan seseorang yang mengalami langsung peristiwa penyerangan besar-besaran kepada warga Yahudi di Jerman pada tahun 1938. Cerita berjudul Saksi Mata (hal. 92) juga menarik karena menyorot sungguh fatalnya sikap ketidakpedulian manusia.

Masih ada enam cerita absurd lainnya yang lebih membuat geleng-geleng karena tidak bisa diterima akal sehat. Misalnya Fatima (hal. 41) dan Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (hal. 188). Serta lima cerita bonus dalam bahasa Inggris yang diselipkan penulis selayaknya bonus track dalam album musik. Beberapa cerita pendek dalam SKTLA telah diterbitkan dalam majalah/jurnal antara lain Every Day Fiction, Kompas, Postcard Shorts, dan Writers’ Journal.

Mungkin cerita-cerita pendek dalam buku ini hampir sama absurd atau anehnya dengan, katakanlah, cerita-cerita pendek yang biasanya dimuat di koran atau majalah. Namun SKTLA tetaplah salah satu bukti kepiawaian menulis seorang Maggie Tiojakin dalam menyajikan cerita (pendek) yang kaya detail, emosional, dan dalam beberapa cerita penuh aksi. Setiap cerita dalam buku ini membawa rasa yang berbeda-beda, dan masing-masing menyisakan pertanyaan, yang kalau bukan retrospektif, ya kontemplatif. Seperti yang disampaikan Maggie dalam halaman Tentang SKTLA di akhir buku, tugas beliau adalah bukan untuk menginspirasi, melainkan bertanya. Pada akhirnya Maggie memberi ruang untuk imajinasi pembaca dengan akhir cerita yang menggantung dan tidak tuntas.

Tentang Pengarang
Maggie Tiojakin adalah seorang penulis sekaligus jurnalis yang tulisannya telah dimuat di banyak media lokal maupun internasional. Beberapa karyanya sebagai penulis antara lain kumpulan cerpen Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010, Gramedia Pustaka Utama), serta novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011, Gramedia Pustaka Utama). Selain itu Maggie juga menerjemahkan banyak karya sastra ke dalam bahasa Indonesia, antara lain kumpulan cerita pendek klasik karya Edgar Allan Poe dan Rudyard Kipling (keduanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama). Kecintaannya terhadap cerita pendek klasik jugalah yang mendorong Maggie untuk menerjemahkan banyak cerita pendek klasik mancanegara yang dapat diakses secara gratis dalam situs Fiksi Lotus (www.fiksilotus.com).

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Detail buku:

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Cerita-Cerita Absurd, oleh Maggie Tiojakin
241 halaman, diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Tanah Tabu – Anindita S. Thayf

Tanah Tabu adalah novel yang menceritakan tentang Papua, perjuangan, dan perempuan. Pusat cerita ada pada tiga perempuan tiga generasi yang terikat satu ikatan kasih sayang: Mabel, perempuan setengah baya yang tangguh dan cerdas; Mace, menantu Mabel yang ditinggalkan oleh suaminya; dan Leksi, anak perempuan Mace yang polos dan ceria. Bertiga, mereka berjuang hidup di lingkungan keras di Papua, tanah yang tabu itu. Mabel, yang semasa muda pernah tinggal bersama Tuan Piet dan Nyonya Hermine de Wissel, sepasang suami-istri Belanda yang baik hati, mewariskan prinsip dan pemikiran maju yang ia dapatkan dari mereka kepada Mace dan juga kepada cucunya, Leksi. Mabel dan Mace tak henti-hentinya berusaha agar Leksi dapat terus sekolah dan bebas dari kebodohan. Ada pula tokoh Pum, yang setia mendampingi Mabel sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau, dan Kwee yang tidak bisa lepas dari si kecil Leksi. Dua tokoh ini sama sekali bukan hiasan, melainkan dari mata merekalah pembaca akan menikmati perjalanan di tanah Papua: keindahannya sekaligus kekejamannya.

Tanah Tabu menyimpan banyak petuah atau kata-kata bijak, yang kebanyakan diucapkan oleh tokoh Mabel. Misalnya seperti di bawah ini:

“Kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang ia akan membuatmu jadi lebih kaya, bantingkan saja pintu di depan hidungnya. Tapi kalau orang itu bilang ia akan membuatmu lebih pintar dan maju, suruh dia masuk. Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ. Namun hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma-cuma. Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang, Nak. Ingat itu.” – hal 30

“Apa yang tampak baik dalam pandangan, belum tentu benar seperti itu dalam kenyataan. Apa yang kelihatan tenang mungkin saja menyimpan riak di dasar yang terdalam. Apa yang bagus di luar, bisa saja busuk isinya.” – hal 37-38

“Kita ini perempuan, Anabel. Tak akan mampu memanggul dunia. Jadi hendaknya kau merasa senang jika bisa menjalani bagianmu dalam kehidupan di dunia ini sebaik mungkin. Perempuan tetap akan menjadi perempuan, bukan laki-laki. Dan ingatlah selalu, perempuan tidak akan bisa memanggul dunia, Anabel. Tidak akan pernah.” – hal 123 –> yang ini diucapkan Nyonya Hermine kepada Mabel, yang malah semakin mencambuk keinginan Mabel untuk terus belajar dan tahu lebih banyak lagi.

“Ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan. Dan kebodohan—jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata—mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia.” – hal 163

Lalu kemana cerita bergulir? Pembaca akan disuguhi riwayat Mabel yang telah mengalami banyak hal dalam tahun-tahun kehidupannya, kemudian budaya patriarkal yang kuat di Papua yang mengakibatkan banyak perempuan menderita di bawah tangan suami-suami mereka, kekejaman perang antarsuku, dan juga bagaimana politik, pengusaha, orang-orang asing, dan modernisasi mendobrak masuk ke tanah Papua dengan cara-cara yang kadang tidak menghiraukan alam maupun manusia. Hasilnya, ketimpangan sosial yang eksplisit, di mana orang-orang asing menjadi kaya dengan mengeruk emas dan kekayaan alam Papua sementara penduduk asli Papua sendiri hidup miskin dan sengsara. Klimaks cerita terjadi saat Mabel dijebak sehingga tampaknya ia mendukung satu pihak tertentu dalam persaingan Pilkada. Saat Mabel dalam bahaya dan Mace serta Leksi tertinggal tak berdaya, bisakah Pum dan Kwee menolong Mabel?

***

Saya suka sekali dengan gaya bercerita Anindita S. Thayf, dan bagaimana ia menggunakan karakter Pum, Kwee, dan Leksi sebagai tiga sudut pandang dalam cerita ini. Penuturannya ringan dan gaya bahasa yang digunakan indah tanpa perlu terlalu “nyastra”. Apalagi “kejutan” yang disimpan pengarang di akhir novel mengenai siapa sesungguhnya Pum dan Kwee. Novel ini menjadi angin segar bagi saya yang notabene sangat jarang membaca karya sastra dalam negeri, dan haus akan bacaan berkualitas yang menyoroti kehidupan masyarakat Indonesia secara kritis dan realistis. Salut bagi pengarang yang berhasil menyelesaikan penulisan novel ini setelah melakukan riset selama 2 tahun, dan membuahkan sebuah novel indah yang menjadi Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008. Sekali lagi, saya sangat jarang membaca karya sastra Indonesia, namun saya rasa lima puluh tahun lagi, Tanah Tabu layak dinobatkan sebagai salah satu karya sastra klasik Indonesia, sebagaimana karya-karya Pramoedya Ananta Toer kita akui sebagai karya sastra klasik Indonesia pada zaman ini.

Detail buku:
Tanah Tabu, oleh Anindita S. Thayf
237 halaman, diterbitkan tahun 2009 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Entri #2 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge by ma petite bibliothèque

Thanks to Ndari buat pinjamannya! 🙂

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC – E.S. Ito

Serangkaian pembunuhan tokoh penting Indonesia.

Harta karun peninggalan VOC yang terpendam di perut bumi Jakarta.

Batu Noah Gultom, wartawan koran Indonesiaraya. Rafael, Erick, dan Robert, tiga orang peneliti asal Belanda. Cathleen Zwinkel, mahasiswa master yang sedang menyelesaikan tesis tentang sejarah ekonomi kolonial. Dan Attar Malaka alias Kalek, seorang anarkis yang diberitakan telah terbunuh tetapi sebenarnya dalam persembunyian.

Sementara yang satu menyelidiki serangkaian pembunuhan dengan motif yang mengherankan, yang lain menggali bawah tanah Jakarta untuk menemukan harta peninggalan VOC, yang lainnya lagi menelusuri arsip dokumen untuk membuktikan kebenaran harta peninggalan VOC tersebut, dan yang terakhir punya agenda sendiri yang didasarkan atas ketidaktundukan terhadap pemerintah RI.

Serangkaian pembunuhan itu disebut dengan pembunuhan Gandhi, karena setiap korbannya dibunuh dengan pesan salah satu dari Tujuh Dosa Sosial yang digagas oleh Gandhi. Yang lebih mencurigakan, setiap korban ditemukan di kota/daerah dengan huruf awal B. Apakah itu hanya kebetulan semata?

Het Geheim van Meede—Rahasia Meede, adalah rahasia seorang gadis Belanda yang lari karena menyandang nama keluarga yang terkutuk pada masanya, dengan membawa kunci atas emas VOC. Melalui sebuah perjalanan melintasi ratusan tahun sejarah Indonesia, pengarang E.S. Ito mencoba mengangkat sebuah thriller sejarah yang mencekam sekaligus memesona.

***

Satu hal yang paling menohok batin saya ketika membaca buku ini adalah—betapa minimnya pengetahuan saya tentang sejarah Indonesia. Dan saya hanyalah satu dari sekian banyak anak muda Indonesia yang lupa, atau malah tak mau tahu sejarah negeri sendiri. Pelajaran sejarah di sekolah tak lebih dari dongeng pengantar tidur yang berisi fakta-fakta yang tak bermakna. Membosankan. Siapa yang patut disalahkan? Kurikulum? Guru? Siswa? Sampai-sampai E.S. Ito harus menulis buku ini untuk “menggoda” orang-orang Indonesia (khususnya generasi muda) untuk sedikit memelekkan matanya terhadap sejarah.

Bagi manusia Indonesia, masa lalu dan masa sekarang tidak ada kaitannya sama sekali. Bekapan kemiskinan menghasilkan super-ego dan sinisme lingkungan. Waktu adalah uang. Yang lalu biarlah berlalu. Lihat ke depan, globalisasi menanti. Era pasar bebas akan menggilas mereka yang lengah. Manusia Indonesia, tentu dengan banyak keterbatasannya, melihat masa lalu sebagai perintang masa depan. – hal.173

Tokoh favorit saya adalah Guru Uban yang sampai akhir buku identitasnya tetap misterius, dan ternyata adalah seorang…… (baca sendiri deh supaya nggak spoiler) :D.

Beginilah cuplikan di halaman 62 saat Guru Uban mengajar sejarah di sebuah sekolah kecil di Bojonggede:

“Tetapi kita sekarang kan sudah merdeka, Pak?” Murid perempuan tadi merasa dapat angin.

“Raga, tetapi tidak jiwanya,” Guru Uban menelan ludah. Dialog ini seakan-akan menguras energinya. “Sekarang, lihatlah diri kalian anak-anakku. Miskin, tidak berdaya dan kalian sama sekali tidak merdeka bercita-cita. Sekarang, acungkan jari kalian, siapa yang ingin kuliah setelah ini?”

[…]

“Kalian tidak akan pernah berani bercita-cita untuk kuliah di kampus itu, sekalipun ada di antara kalian yang pintar. Kalian tidak merdeka, anak-anakku, sebab Belanda-Belanda cokelat jauh lebih bengis daripada kulit putih.”

Pengarang juga mengkritik habis-habisan kota Jakarta yang disebutnya “bukan lagi Ratu dari Timur, melainkan Ratu Terpuruk Lumpur” dan kawasan Menteng yang disebutnya sebagai “pengabdi kolonial abadi” dengan segala borjuismenya.

Salut kepada pengarang yang memasukkan banyak fakta sejarah dalam buku ini, sehingga saya sebagai pembaca yang kurang suka non fiksi mendapat lebih banyak informasi dengan membaca 675 halaman Rahasia Meede daripada membaca novel-novel lainnya. Apalagi di halaman 79-86 saya disuguhi sejarah akuntansi modern dan Luca Pacioli, beserta pengaruhnya terhadap Jan Pieterszoon Coen dan “perlakuan akuntansi” yang diterapkannya dalam serikat dagang Vereenigde Oost-Indische Compagnie alias VOC.

Pengarang cukup berhasil membangun ketegangan dalam thriller sejarah bercita rasa sastra Indonesia ini. Terlepas dari beberapa kekurangan, diantaranya beberapa bahasan sejarah yang dibahas sangat detail sehingga rasanya memusingkan, plot yang terasa agak dipaksakan dan beberapa hal yang masih menyisakan pertanyaan (misalnya motif asli Anarki Nusantara dalam pembunuhan Gandhi dan hubungannya dengan pencarian emas VOC); Rahasia Meede tetaplah sebuah karya yang tidak boleh dilewatkan setiap manusia Indonesia. Kalau tidak ada Rahasia Meede, bisa jadi seumur hidup saya tidak akan melirik topik yang kedengarannya saja sangat membosankan seperti sejarah ekonomi kolonial. Empat bintang buat buku ini.

“Belajar sejarah tujuannya agar kita memberikan arti pada masa sekarang. Supaya tidak ada ruang hampa dalam hidup ini. Dengan berpikir seperti itu, kalian akan menghargai setiap garis kehidupan yang kalian jalani. Kita tidak perlu kaya dan berkuasa untuk menikmati hidup.” – hal. 401

Detail buku:
Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC, oleh E.S. Ito
675 halaman, diterbitkan tahun 2007 oleh Penerbit Hikmah
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Entri #1 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge by ma petite bibliothèque

Dimsum Terakhir – Clara Ng

Dimsum TerakhirDimsum Terakhir by Clara Ng

My rating: 4 of 5 stars

Pasangan keturunan Cina Nung Atasana dan istrinya, Anas, setelah 13 tahun pernikahan, akhirnya dikaruniai empat orang anak kembar, semuanya perempuan.

Siska, Indah, Rosi, dan Novera.

Tahun-tahun berlalu setelah ibu mereka meninggal dunia, dan keempat gadis kembar yang telah dewasa menjalani kehidupan masing-masing di tempat berbeda.

Mereka dipersatukan kembali ketika Nung mengalami stroke dan harapan hidupnya tinggal sedikit.

Yang terjadi selanjutnya adalah rentetan peristiwa yang kadang konyol, kadang juga mengharukan. Karakter-karakter digambarkan dengan baik. Siska, si businesswoman yang tak percaya pernikahan dan terlalu enjoy menjadi single. Indah yang adalah “si tukang atur” di tengah-tengah keluarga. Si tomboi Rosi yang riang dan ceria, namun punya rahasia yang disembunyikan. Si bungsu Novera yang lembut dan cenderung tak percaya diri.

Mereka semua disatukan dalam perjuangan menemani Nung di saat-saat terakhir sang ayah. Kisah yang menyentuh banyak sisi manusiawi ini diwarnai dengan budaya Cina yang kental dan banyak flashback ke masa lalu, misalnya saat si kembar empat dilecehkan karena ras mereka.

Dimsum Terakhir menurut saya, adalah karya terbaik Clara Ng. Yang paling saya sukai dari Clara Ng adalah gaya penulisannya yang bisa kocak dan jenaka, bisa juga agak mengharu biru, yang dibungkus dengan perbendaharaan kata yang amat luas dan kombinasi kata-kata yang tak terduga.

Akhirnya saya menamatkan juga buku ini, setelah sekian lama dibeli dan ditelantarkan begitu saja. Sampai saat ini Clara Ng adalah satu dari sedikit pengarang Indonesia yang saya gandrungi. 🙂
View all my reviews

Softcover with flap, 361 pages
Published April 2006 by PT Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 55.000

Reuni Tsunami – Ita Sembiring

Reuni TsunamiReuni Tsunami by Ita Sembiring
My rating: 1 of 5 stars

Peringatan: review ini saya tulis dengan blak-blakan tanpa tedeng aling-aling!

Buku ini mungkin salah satu buku paling buruk yang pernah saya baca. Sebenarnya ide ceritanya cukup menarik walaupun njelimet dan tetap saja kurang masuk akal ala cerita sinetron. Buku ini saya temukan di tumpukan buku obralan dan saya tertarik ketika membaca sinopsis di bagian belakang buku yang berbunyi:

“Seperti karya-karya Ita Sembiring lainnya, Reuni Tsunami juga mencoba menangkap realitas yang terjadi di tanah airnya, Indonesia – meski penulis saat itu menetap di Roosendaal-Belanda. Jalinan cerita yang ditampilkannya hendak menangkap kegelisahan, kekalutan, kesedihan, bahkan keculasan yang terjadi ketika bencana tsunami melanda sebagian besar wilayah Aceh dan Sumatra Utara.

Lewat novel ini, Ita Sembiring mencoba secara spesifik mengangkat Pulau Nias sebagai setting cerita. Inilah novel yang penuh ekspresi dan emosi, serta sungguh berani memasuki isu-isu sensitif.”

Harus saya akui, apa yang disajikan dalam novel ini sangat jauh dari yang saya harapkan. Ini juga bukanlah karya pertama penulis jadi saya tidak tahu mengapa novel ini terkesan –maaf– seperti karya amatiran.

Berikut ini adalah apa yang saya temukan dalam novel ini.

1. Deskripsi setting kurang mendalam. Katanya setting dalam kisah ini adalah Pulau Nias, ternyata Pulau Nias tidak dijelaskan sedalam penulis menjelaskan Lugon de Sable, tempat pertanian anggur Chantal berada, dan Saint Emilion, kota penghasil wine terkenal di Prancis. Walaupun tentu saja kedua tempat itu pasti sangat eksotik, namun seharusnya tetap Indonesia yang ditonjolkan dalam kisah ini.

2. Terlalu banyak karakter, sehingga sekali lagi karakterisasi tidak mendalam sama sekali. Sifat satu tokoh protagonis dengan protagonis lainnya hampir tidak ada bedanya. Emosi tidak tergali dengan baik. Dan seakan-akan satu tokoh dan tokoh lainnya begitu gampang jatuh cinta.

3. Terlalu banyak tokoh bule dalam kisah ini. Kalau mau ada tokoh bule sebaiknya tidak lebih dari 2 orang, jikalau kisah ini mau mempertahankan ke-Indonesia-annya. Namun tidak demikian, dalam kisah ini ada Chantal, anak lelakinya Sardou, keponakannya Nigel, ada Duncan Bennett, dan Auguri McKendry.

4. Penggunaan bahasa pada dialog yang tak mungkin terjadi di dunia nyata. Contohnya seperti berikut:

“Masih ingat bagaimana malam-malam kau perkosa aku gara-gara kurang puas dengan ibu gendut itu? Sambil menggerayang paksa tak henti mulut kotormu menghina ibu gendut yang sudah memberi kau makan, memeliharamu sebagai pemuas seks, sekaligus anjing penjaga?”

Dialog diatas diucapkan seorang pelacur didepan orang banyak. Sekalipun seorang pelacur di dunia nyata hendak memaki orang yang pernah memerkosanya, saya kira kata-kata yang keluar tidak akan seperti diatas.

5. Penggunaan bahasa Inggris dengan grammar kacau. Bayangkan, adakah orang bule yang berkata, “Hey, what’s happen here?” Grammar yang benar adalah “Hey, what happened here?”. “Saved by the bell” bukannya “Save by the bell”. Saya heran mengapa yang seperti ini lolos proses editing. Semua kata dalam bahasa Inggris dan Prancis yang ada dalam novel ini tidak ada yang diset dengan font italic.

6. Penulis memulai setiap bab dengan puisi pendek, dan dari 14 bab dalam novel ini ada 11 bab yang diawali kutipan dari Alkitab Perjanjian Lama tanpa menyebut sumbernya. (!) Berikut ini ayat-ayat Perjanjian Lama yang dikutip penulis.

Bab 3 – Yesaya 5:20

Bab 4 – Yeremia 2:2

Bab 5 – Yeremia 8:4

Bab 6 – Yeremia 8:15

Bab 7 – Yesaya 48:6-7

Bab 8 – Yeremia 9:1. Pada pendahuluan bab ini bahkan penulis memotong ayat yang dikutip. Di buku tertulis “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangis.”

Sementara Yeremia 9:1 sesungguhnya berbunyi, “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangisi orang-orang puteri bangsaku yang terbunuh!”

Bab 9 – Yesaya 5:12

Bab 10 – Yesaya 3:24

Bab 11 – Kidung Agung 5:3

Bab 12 – Kidung Agung 5:9

Bab 13 – Yeremia 9:10

Saya tidak tahu apakah yang seperti ini bisa dikategorikan plagiat, karena mengutip tanpa mencantumkan sumbernya. Saya tidak tahu mengapa editor meloloskan hal ini. Saya juga tidak tahu menahu tentang keyakinan yang dianut penulis sampai ia berani memotong kutipan ayat kitab suci. Yang saya tahu ini tidak benar dan ini merupakan kesalahan fatal.

7. Ada dua kejanggalan yang amat ketara yang saya temukan. Yang pertama di halaman 171, ketika Mellisa bertemu dengan Gundari, perempuan Indonesia di Prancis. Awalnya dijelaskan bahwa Gundari serta suami dan anaknya selamat dari bencana tsunami karena mereka pergi ke Pematang Siantar. Kemudian Gundari mengatakan bahwa ia sudah lama menetap di Prancis, menikah dengan orang Prancis dan punya anak satu. Nah, yang mana yang benar? Apakah suaminya yang pertama meninggal sehingga ia menikahi orang Prancis?

8. Kejanggalan yang kedua, dan ini merupakan puncak kejengkelan saya terhadap novel ini. Pada hal 181 dikisahkan awal pertemuan Chantal dan Pagoh di kapal pesiar. Pagoh berkata, “Kupikir tadi diriku Leonardo di Caprio, jatuh cinta dengan Kate Winslet di kapal Titanic.”

Tsunami terjadi tahun 2004. Sedangkan film Titanic yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet keluar pada tahun 1997. Di hal 69 dijelaskan bahwa masa “kini” dalam kisah adalah 29,5 tahun setelah Pagoh meninggalkan tanah kelahirannya. Umur Sardou, anak Chantal dan Pagoh ketika disapu tsunami kira-kira pertengahan duapuluhan. Bagaimana mungkin pada awal pertemuannya dengan Chantal, Pagoh menyebut-nyebut film Titanic sementara seharusnya setting waktunya sekitar tahun 1975 hingga 1980?

Satu-satunya hal positif mengenai buku ini adalah buku ini membuat “ketajaman” saya sebagai pembaca terasah.

View all my reviews

Paperback, 198 pages
Published 2007 by Gramedia Widiasarana Indonesia

The (Un)Reality Show – Clara Ng

The (Un)Reality ShowThe (Un)Reality Show by Clara Ng
My rating: 3 of 5 stars

Fresh, funny, and intimidating. Itu yg saya rasakan saat membaca The (Un) Reality Show. Seperti biasa kelihaian Clara Ng membuat saya larut dalam cerita dan tak mampu meletakkan buku, dan membuat saya tersenyum kecil, cengengesan, sampai terbahak-bahak.

Tentang endingnya… Yah, saya rasa semua yang pernah membaca buku ini setuju bahwa endingnya sangat tak disangka-sangka, totally unpredictable.

Jujur saya tak terlalu suka endingnya,karena saya sudah terlanjur berharap bahwa tokoh Azuza, Jodi, Wendy, Primus, Richard, Meiying, Tara, Feivel sungguh-sungguh nyata dan hidup di kehidupan ini, hehehe.

Namun salut utk Clara Ng yg mampu meramu cerita yg berlapis-lapis, tanpa membuat kening pembaca berkerut terlalu dalam. Saya kasih tiga bintang utk buku ini.

View all my reviews

Paperback, 360 pages
Published 2005 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 50.000

Perjalanan Mata dan Hati – Prima Rusdi

Perjalanan Mata dan HatiPerjalanan Mata dan Hati by Prima Rusdi
My rating: 5 of 5 stars

Buku ini adalah kumpulan cerpen karya Prima Rusdi yang dimuat di majalah CosmoGIRL! pada rentang waktu tertentu (saya lupa). Yang jelas saya membeli buku ini ketika masih SMA, dan isi buku ini sangat mengena bagi remaja putri seperti saya (pada waktu itu).

Gaya tutur yang ringan dan enak, bentuk cerpen yg berbeda-beda (ada yg seperti skenario, penggalan-penggalan, dll) dan kepekaan Mbak Prima akan kehidupan cewek remaja membuat yang membaca buku ini seakan bercermin ketika melihat tingkah laku para tokoh dalam kumpulan cerpen ini, dan akhirnya menjadi suatu refleksi dan introspeksi diri.

Last word, buku ini adalah kumpulan cerpen sederhana yang mampu mengubah mindset banyak cewek remaja di Indonesia yang membacanya. Bahkan ketika saya membaca buku ini lagi (ketika saya sudah bukan lagi remaja ;P ) rasa-rasanya masih relevan dengan kehidupan saya yg sekarang.

Good one!

View all my reviews

Published 2004 by Terrant Books
Price IDR 39.500