Coloring Book for Adults: FANTASIA – Nicholas F. Chandrawienata

anti-stress-coloring-book-for-adults---fantasiaBukan untuk kali pertama saya menulis review buku mewarnai di blog ini, karena sebelumnya saya pernah mempost review Coloring Book for Adults: BATIK yang dihadiahkan oleh Secret Santa BBI pada akhir tahun 2015 yang lalu.

Nah kali ini, saya ingin mereview buku mewarnai terbitan dalam negeri yang berjudul FANTASIA. Fantasia ini merupakan buku mewarnai favorit saya sejauh ini (saya punya 7 buku mewarnai) dan karena itulah saya merasa ada yang kurang kalau saya belum menuliskan reviewnya, dan membagi kesenangan ini dengan teman-teman sekalian. 🙂

Mari simak Kata Pengantar dalam buku ini:

Semua perkembangan dan kemajuan yang dialami umat manusia berawal dari fantasi.

Fantasi adalah berkat yang diberikan Yang di Atas untuk semua umat manusia.

Sejak kecil kita berfantasi tentang makhluk-makhluk khayalan. Sampai akhirnya makhluk fantasi manusia seperti unicorn, peri, dan naga mendunia dan dikenal banyak orang.

Di dalam buku ini bisa Anda temukan berbagai makhluk fantasi seperti burung phoenix, chimaera, sampai kurcaci. Saya berharap buku ini bisa membantu untuk melepas stres, juga memberikan inspirasi kepada Anda.

Mari kita bersama membangkitkan lagi naluri untuk berfantasi seperti anak kecil. Karena dengan berfantasilah kita sebagai manusia bisa terus berkembang.

Mari berfantasi dan mewarnai!

Faktor utama yang membuat kamu harus punya buku ini adalah ilustrasi-ilustrasi keren karya Nicholas F. Chandrawienata (@nickfilbert) yang mengisi ke-64 halaman buku ini. Menurut saya, style gambarnya khas, garis-garisnya kuat, dan nggak kalah dengan hasil karya para illustrator luar negeri. Dan dari beberapa kali saya mengupload hasil mewarnai buku Fantasia di Instagram, ada beberapa orang (bukan orang Indonesia) yang menanyakan dimana bisa beli buku ini.

Covernya memang terlihat gahar, tapi sebenarnya isinya cukup beragam mulai dari ilustrasi-ilustrasi yang cenderung girlie seperti gambar peri, malaikat, putri duyung dan putri oriental, atau yang cenderung maskulin seperti gambar naga, dewa Zeus, dan bajak laut. Beberapa gambar lain berkesan seram, misalnya gambar scarecrow, tengkorak, dan anjing berkepala tiga. Gambar tiga burung hantu dan magician malah berkesan cute, dan Nick juga menyelipkan dua halaman bergambar Barong Bali dan Garuda sehingga ada sedikit cita rasa Indonesia di buku ini. Salah satu plusnya lagi, detail pada ilustrasi-ilustrasi di buku ini tidak terlalu kecil-kecil jelimet seperti di kebanyakan buku mewarnai, yang malah bisa membuat tambah stres bukannya mengusir stres. Ada beberapa halaman di mana sang illustrator mengajak pewarna untuk menambahkan detail, misalkan di gambar naga dan rusa jantan. Selain itu, kamu bebas berkreasi dan menambahkan detail sendiri jika mau.

Selanjutnya sneak peek beberapa halaman isi buku Fantasia bisa dilihat di gallery di bawah ini. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Ketebalan kertas cukup memadai untuk mewarnai dengan media pensil warna atau crayon, namun hati-hati jika menggunakan spidol/connector pens, pensil warna water soluble dan cat air, karena bisa tembus ke belakang. Perlu diketahui juga bahwa halaman-halaman di buku ini dilengkapi pattern yang memudahkan untuk menyobek halaman, namun bagi mereka yang tidak ingin menyobek halaman hal ini bisa jadi masalah.

Dan berikut ini adalah beberapa hasil mewarnai saya dari buku Fantasia. Ilustrasi-ilustrasi lainnya yang sudah diwarnai bisa kamu intip di Instagram dengan hashtag #fantasiacoloringbook dan #nickfilbert.

Nah, gimana, apakah review singkat dan gambar-gambar yang saya pamerkan sudah cukup membuatmu ingin mewarnai buku Fantasia juga? Mari berkreasi dengan warna dan jangan lupa pamerkan hasil karyamu! 😉

Tentang Ilustrator

Nicholas Filbert Chandrawienata memulai karier di dunia ilustrasi pada tahun 2013 dan kini telah mengerjakan proyek bergengsi di dalam dan luar negeri. Cover novel The Walled City karya Ryan Graudin yang versi terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama juga merupakan salah satu karya Nick. Pada tahun 2015 yang lalu Nick juga pernah menerbitkan mini art book bertajuk Serene yang hanya dicetak terbatas. Mari kita tunggu karya-karya Nick selanjutnya. 😉


Detail buku:

Anti-Stress: Coloring Book for Adults – FANTASIA, oleh Nicholas F. Chandrawienata
64 halaman (26×25 cm), diterbitkan Desember 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 

Advertisements

Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) 😛

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. 🙂

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! 🙂

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*