The Jungle Book – Rudyard Kipling, and a Wrap-Up for A Victorian Celebration!

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Ini review yang harusnya ditulis berbulan-bulan yang lalu, tapi better late than never kan ya? 😉

Awalnya sukar untuk menghilangkan kesan “Disney-ish” dalam benak saya terhadap buku ini, apalagi karena covernya memang mengadaptasi film kartun The Jungle Book versi Disney. Namun ketika saya mulai membacanya, saya pun larut dalam suatu Rimba ciptaan Rudyard Kipling yang begitu liar dan begitu nyata.

Buku yang memuat gabungan cerpen dan puisi ini dibuka dengan ditemukannya bayi manusia di hutan rimba, yang kita kenal dengan nama Mowgli. Dalam cerpen Mowgli dan Saudara Serigala, anak manusia yang dimangsa oleh Shere Khan si Harimau Pincang dibela mati-matian oleh Mama dan Papa Serigala, dan malah nantinya merekalah yang membesarkan Mowgli yang licin tak berbulu. Tumbuh besar di Bukit Batuan di tengah-tengah saudara-saudara serigala, Mowgli diajarkan bagaimana hidup di Rimba oleh Beruang Hitam Baloo dan Macan Kumbang Hitam Bagheera. Pada saatnya nanti (di cerpen Harimau Harimau), Mowgli harus berhadapan sendiri dengan Shere Khan, yang dari awal sudah menetapkan hati untuk menghabisi Mowgli. Di dalam cerita Mowgli juga bertemu dengan Kaa, si ular piton sepanjang tiga puluh kaki yang ditakuti kaum monyet, namun sebenarnya baik hati dan ikut andil menyelamatkan nyawa Mowgli.

“Kita ini satu darah, kau dan aku,” jawab Mowgli. “Aku berutang nyawa padamu, malam ini. Buruanku akan menjadi buruanmu jika kau lapar, wahai Kaa.”

Klimaks kisah Mowgli diceritakan dengan gemilang dalam adegan pertarungan menegangkan antara Mowgli dan Shere Khan. Di cerita yang lain, Mowgli dikisahkan kembali hidup di desa bersama dengan saudara-saudara manusianya, tetapi ia tidak merasa betah dan rindu kembali ke Rimba, rindu saudara-saudara serigalanya. Mowgli tidak mengerti sistem kasta yang berlaku di dunia manusia, sehingga ia gampang saja mengulurkan tangan untuk membantu seorang pembuat tembikar yang kastanya lebih rendah daripadanya.

Tidak semua bagian dari The Jungle Book berkisah tentang Mowgli. Dalam cerpen Anjing Laut Putih, Kipling menceritakan tentang Kotick, seekor bayi anjing laut berkulit putih, di tengah suasana migrasi para anjing laut. Saat Kotick sudah lebih dewasa, ia berkeinginan untuk mencari pulau yang baru untuk migrasi yang jauh dari manusia. Walau sempat menemui pertentangan anjing laut-anjing laut lain, dengan berusaha keras akhirnya ia mampu mewujudkan cita-citanya.

Beirkutnya cerpen “Rikki-Tikki-Tavi” yang menceritakan petualangan Rikki-tikki-tavi, seekor mongoose, yang berjuang melindungi tuannya, keluarga manusia yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki bernama Teddy, dari serangan ular kobra Nag dan Nagaina. Buku ditutup dengan cerpen Toomai Sang Penakluk Gajah. Toomai Mungil dikisahkan sangat beruntung karena bisa menyaksikan Tarian Para Gajah di jantung Bukit Garo, sesuatu yang tidak pernah disaksikan manusia manapun sebelumnya!

Dari semua puisi di buku ini, yang dibawah ini termasuk favorit saya (“Perburuan Kaa”)

Macan cintai tutulnya,
Banteng bangga pada tanduknya.
Waspadalah, bagaimana ia sembunyi
itulah kekuatannya.
Kau tahu sapi bisa menendangmu,
tanduk tebal Sambhur menerjangmu
Tak perlu kami kau beritahu,
kami tahu sedari sepuluh musim lalu.
Jangan sakiti anak si hewan liar,
anggaplah ia saudara
Walau kecil dan montok,
Beruanglah ibunda mereka
“Tak ada yang kalahkan kami!” ujar si kecil
bangga saat pertama berburu
Rimba begitu luas dan ia begitu mungil.
Ajari ia diam dan tak sok tahu.

Walaupun berkisah tentang binatang, ada banyak nilai moral yang bisa diambil pembaca dari fabel ini. Misalnya tentang persaudaraan serigala yang begitu erat dan kuat, juga Hukum Rimba yang diceritakan adil bagi semua pihak. Tiga bintang bagi Rimba ciptaan Rudyard Kipling. Juga karena terjemahan oleh Anggun Prameswari yang enak dibaca. Jujur saja sebenarnya saya kurang suka cover “Disney-ish” buku ini, tapi OK lah kalau memang menyasar ke segmen anak-anak.

Detail buku:
“The Jungle Book”, oleh Rudyard Kipling
246 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1894)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

 At first it was hard to get rid the “Disney-ish” aura from this book. But as I started reading, I found that the author is drowning me into a world, to be more specific a Jungle, where it all felt wild and strangely real. This book contains short stories and poems, which the first short story introduced us to Mowgli, a son of man that was raised by wolves in the Jungle. In order to defeat his enemy, the tiger Shere Khan, Mowgli was being taught how to to live in the jungle and to fight by Bagheera the black panther and Baloo the bear. There are other stories that don’t tell readers about Mowgli, like The White Seal, Rikki-Tikki-Tavi, and Toomai of the Elephants. This work of fable has a moral tone that we humans could learn from. Take the strong bond of brotherhood of the wolves, and how The Rule of the Jungle is fair to every living being in it. Overall, I gave three stars for Rudyard Kipling’s The Jungle Book.

10th review for The Classics Club Project, 4th review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classic Bribe


This post also marks my wrap-up for A Victorian Celebration.

From the 9 books I intended to read at the beginning of the event, I was only able to finish 5:

The Happy Prince by Oscar Wilde

Little Lord Fauntleroy by Frances Hodgson Burnett

Just So Stories by Rudyard Kipling

The Jungle Book by Rudyard Kipling

And one non-English Victorian novel, which is Anna Karenina by Leo Tolstoy. I haven’t got enough time to write its review, along with a review of Great Expectations BBC miniseries (2011) that I intend to write also. I’ll be writing them very soon!

I also wrote one author focus on Rudyard Kipling (in Bahasa) for A Victorian Celebration. I’m glad I joined this event, even though I haven’t had enough time to finish all the books in my reading list, and honestly I’m still having difficulties in understanding some Victorian idioms (like those in Charlotte Brontë’s Villette). But well, that won’t keep me from reading more of them Victorian works! So you see, A Victorian Celebration isn’t over for me yet! 😉

Advertisements

Just So Stories – Rudyard Kipling

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Adakah buku yang membuatmu ingin mengulang kembali masa kanak-kanak? Setelah membaca buku yang satu ini, saya jadi berangan-angan kembali menjadi anak kecil, mendengarkan cerita-cerita ini dibacakan oleh ayah atau ibu saya sebagai dongeng pengantar tidur.

Kenapa paus tidak memakan manusia? Tahukah kamu bagaimana unta mendapatkan punuknya? Atau dari mana macan mendapatkan tutulnya? Mengapa gajah punya belalai yang panjang? Mengapa kanguru melompat dengan kaki belakangnya? Dan tahukah kamu tentang asal muasal alfabet? Pembaca akan dibuat geleng-geleng oleh kejeniusan Rudyard Kipling dalam buku setebal 160 halaman ini. Setiap cerpen dalam buku ini diakhiri dengan puisi  yang jenaka.

Berikut ini adalah dua belas judul cerpen yang terkandung dalam Just So Stories:

  1. Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia (How the Whale Got His Throat)
  2. Bagaimana Unta Mendapat Punuknya (How the Camel Got His Hump)
  3. Kenapa Kulit Badak Penuh Lipatan (How the Rhinoceros Got His Skin)
  4. Dari Mana Macan Mendapat Tutulnya (How the Leopard Got His Spots)
  5. Kisah Si Anak Gajah (The Elephant’s Child)
  6. Tuntutan Seekor Kanguru (The Sing-song of Old Man Kangaroo)
  7. Asal-Muasal Armadilo (The Beginning of the Armadillos)
  8. Surat Bergambar (How the First Letter was Written)
  9. Bagaimana Alfabet Dirumuskan (How the Alphabet was Made)
  10. Kepiting dan Lautan Luas (The Crab that Played with the Sea)
  11. Kucing Penyendiri (The Cat that Walked by Himself)
  12. Entakan Kaki Kupu-Kupu (The Butterfly that Stamped)

Dua belas pourquoi stories (cerita yang mengisahkan asal-usul sesuatu) karya  Kipling dalam kumcer Just So Stories ini pertama kali terbit tahun 1902. Edisi asli Just So Stories juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi goresan tangan Kipling sendiri. Sekarang, 110 tahun kemudian, Just So Stories bisa dinikmati dalam bahasa Indonesia (diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin, yang juga menerjemahkan Kisah-kisah Tengah Malam dan Fiksi Lotus Vol. 1) lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar ulang oleh Staven Andersen.

Mengapa harus digambar ulang? Setelah membandingkan dengan ilustrasi karya Kipling yang asli, saya mengambil kesimpulan bahwa dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar ulang, Just So Stories tampil lebih segar dan menarik.

Perhatikan perbandingan ilustrasi asli karya Kipling dan reinterpretasi oleh Staven Andersen di bawah ini.

Ilustrasi oleh Rudyard Kipling

Ilustrasi oleh Staven Andersen

Kipling bahkan menyebutkan beberapa nama pulau di Indonesia pada cerpen Kepiting dan Lautan Luas.

”Kun?”* tanya Penyu.

”Payah kun,”** kata Penyihir Tua; dan ia meniup pasir dan bebatuan itu hingga jatuh ke laut dan menjadi gugusan pulau yang indah, dan yang bernama Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Jawa, berikut pulau lain yang berada di sekitar daerah kepulauan Malaka. Kalian bisa mencari lokasi ini di peta!

* ”Apakah benar begini?”
** ”Sudah cukup benar.”

Hetih Rusli sang editor boleh berkata bahwa Just So Stories adalah hasil ”proyek senang-senang” yang dikerjakan bersama dengan penerjemah dan ilustrator, namun hasilnya saya pun bersenang-senang dan sangat menikmati membaca buku ini dari awal hingga akhir. Saya bisa membuka buku ini lagi minggu depan, lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi tanpa merasa bosan dengan isinya. Tiga bintang untuk kejeniusan om Rudyard Kipling, satu bintang untuk terjemahan mbak Maggie Tiojakin dan editan mbak Hetih Rusli yang apik, dan satu lagi bintang untuk Staven Andersen yang sudah menggoreskan ilustrasi-ilustrasi yang ciamik!

Rudyard Kipling (1865-1936) adalah novelis, cerpenis, penyair, dan jurnalis asal Inggris yang terkenal dengan kisah-kisah fabel dalam kumpulan cerita pendek The Jungle Book. Beliau meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1907. Lebih lanjut mengenai Rudyard Kipling baca di sini.

Detail buku:
“Just So Stories” (“Sekadar Cerita”), oleh Rudyard Kipling
160 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1902)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 


Conclusion:

Is there any book that makes you want to repeat childhood? After reading this book, I wish I could go back being a child and listen to my dad or mom reading aloud this book while I’m tucked in bed, getting ready to sleep. I just love these twelve hilarious pourquoi stories Rudyard Kipling wrote, along with the poems at the end of every short story.

This is the poem at the end of The Crab That Played with the Sea:

To Penang instead of Lagos,
Or a fat Shaw-Savill bore
Passengers to Singapore,
Or a White Star were to try a
Little trip to Sourabaya,
Or a B.S.A. went on
Past Natal to Cheribon,
Then great Mr. Lloyds would come
With a wire and drag them home!

Could it be that Kipling mentioned my hometown in this poem? Because here in Indonesia I live in a city called Surabaya. (wonder where in the world is Surabaya? Check out the map below!)

In this short story Kipling also mentioned a few islands of Indonesia as follows:

‘Kun?’ said All-the-Turtle-there-was.

‘Payah kun,’ said the Eldest Magician; and he breathed upon the sand and the rocks, where they had fallen in the sea, and they became the most beautiful islands of Borneo, Celebes, Sumatra, Java, and the rest of the Malay Archipelago, and you can look them out on the map!

I just love that.

In the Indonesian version of Just So Stories, Kipling’s original illustrations were re-interpreted by a local illustrator, Staven Andersen, and I must say that he did one hell of a job! (see the comparison at the middle of the post)

I could reread this book next week, five years from now, or ten years from now without feeling bored of its contents. Five stars for a book that I read with delightful enjoyment from the first until the last page.

Read Just So Stories online here –> http://boop.org/jan/justso/

9th review for The Classics Club Project, 3rd review for A Victorian Celebration, 5th review for The Classic Bribe

Pangeran Bahagia – Oscar Wilde

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Dongeng untuk segala usia. Buku tipis yang berisi lima cerita pendek karya Oscar Wilde ini sungguh sayang untuk dilewatkan dan menyenangkan untuk dibaca berulang-ulang. Lewat untaian kata-kata yang indah, cenderung tragis, dan penuh sindiran, Wilde berusaha mengajak pembaca untuk berhenti dan merenungkan apa artinya menjadi manusia seutuhnya. Bahwa manusia diciptakan satu paket dengan kemampuan untuk mencintai dengan tulus, apakah kita sudah mampu untuk melakukannya? Inilah kelima cerpen yang termuat dalam kumcer Pangeran Bahagia:

1. Pangeran Bahagia (judul asli: The Happy Prince)

Pangeran Bahagia adalah sebuah patung yang berdiri di atas tiang tinggi dan menatap kota dari ketinggian. Tubuh sang Pangeran bersepuhkan emas murni, matanya dari batu safir, dan pedang yang dipegangnya berhiaskan batu delima besar yang berkilauan. Suatu ketika seekor burung Walet mungil terbang mendatangi sang Pangeran dan bertengger di bahunya. Saat itulah, Walet kecil mendapati bahwa sang Pangeran tidak bahagia sama sekali! Sang Pangeran kemudian memohon si Walet kecil untuk membantunya merasa bahagia, dan si Walet mengabulkan permintaannya, meskipun rencananya untuk terbang ke Mesir menyusul kawanannya yang migrasi karena musim dingin harus tertunda. Di akhir cerita, pembaca akan menemukan apa sebenarnya yang diperlukan untuk menjadi bahagia, dan bukan tidak mungkin akan menitikkan air mata haru. :’)

2. Bunga Mawar dan Burung Bulbul (judul asli: The Nightingale and the Rose)

Seorang Pelajar Muda hendak memberikan sekuntum bunga mawar merah untuk gadis yang dicintainya, namun ia tidak mendapatinya dimana-mana. Seekor burung bulbul mendengar si pemuda menangis karena putus asa, dan saat itu juga Burung Bulbul memutuskan untuk menolongnya.

“Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati,”  kata si Burung Bulbul. “Malam demi malam aku bernyanyi untuknya, meskipun aku tidak mengenalnya. Malam demi malam juga telah kuceritakan kepadanya cerita tentang bintang-bintang, dan akhirnya bisa juga kusaksikan sang kekasih sejati. Rambutnya sehitam bunga bakung, dan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; tapi keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan kesengsaraan tergambar jelas di keningnya.”

Maka dimulailah pencarian si Burung Bulbul akan sekuntum mawar merah, pencarian yang akan membuatnya melakukan pengorbanan yang amat menyakitkan…

3. Raksasa yang Egois (judul asli: The Selfish Giant)

Konon, ada seorang Raksasa yang memiliki sebuah taman yang besar dan indah, dan anak-anak sangat suka bermain di taman itu. Setelah kembali dari bepergian selama tujuh tahun, sang Raksasa merasa tidak senang akan anak-anak yang bermain di tamannya, dan ia memasang papan pengumuman yang berbunyi, “Barangsiapa yang sembarangan masuk akan dihukum”. Anak-anak merasa sedih, dan Musim Semi dan Musim Panas mendengar kesedihan mereka sehingga mereka enggan menghampiri kediaman sang Raksasa. Hasilnya, Musim Salju beserta kawan-kawannya yang berpesta pora melingkupi taman sang Raksasa. Suatu hari, tiba-tiba taman sang Raksasa dilingkupi Musim Semi yang paling indah, dan ia melihat seorang anak yang sangat mungil yang berusaha untuk mencapai cabang-cabang pohon. Hati sang Raksasa tersentuh melihatnya, namun sesudah itu ia tidak lagi melihat si anak mungil yang misterius tersebut. Siapakah ia?

4. Teman yang Setia (judul asli: The Devoted Friend)

Apakah kamu merasa bahwa dirimu seorang teman yang setia? Cobalah baca cerpen yang satu ini, dan simak percakapan antara seekor Tikus Air tua dan Burung Pipit. Burung Pipit bercerita kepada Tikus Air tua mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans, dan “teman sejati”nya, si Tukang Giling. Membaca kisah ini mengingatkan saya akan sebuah kisah yang diceritakan Nabi Natan kepada Daud* tentang seorang kaya yang memiliki banyak kambing domba, namun ia mengambil domba satu-satunya milik tetangganya yang miskin, untuk disajikan bagi tamunya. Egois! Demikian pula si Tukang Giling, karakter yang akan membuatmu sebal luar biasa. Namun setelah itu bercerminlah, apakah dirimu seorang teman yang sejati, tanpa tanda kutip?

*2 Samuel 12:1-4

5. Roket yang Luar Biasa (judul asli: The Remarkable Rocket)

Orang yang berkoar-koar bahwa dirinya paling penting, kemungkinan besar akan sampai pada akhir yang menunjukkan bahwa ia tidak sepenting yang ia kira. Sepertinya inilah pesan yang ingin disampaikan Oscar Wilde melalui cerpen ini. Kita akan melihat sebuah kerajaan yang sedang berpesta atas pernikahan sang putra mahkota dengan seorang putri yang sangat cantik. Semua kembang api berlomba-lomba memeriahkan pesta itu, mulai dari si Petasan mungil, Mercon besar, Kembang Api Kicir-kicir, Cerawat, dan si Lentera Terbang. Namun sang Roket yang Luar Biasa malah mengoceh tak karuan, dan akhirnya tidak berkesempatan untuk menunjukkan kebolehannya, dan malah jadi tersia-sia. Akibat omong besar, kejayaan berlalu begitu saja dari dirinya.

Empat bintang buat buku ini!

Detail buku:
“Pangeran Bahagia” (judul asli: “The Happy Prince and Other Stories”), oleh Oscar Wilde, penerjemah: Risyiana Muthia
108 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta (terbit pertama kali Mei 1888)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Tentang Oscar Wilde

Sastrawan legendaris bernama lengkap Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (inisialnya O.F.O’F.W.W.) yang hidup tahun 1854-1900 ini lahir di Dublin, Irlandia, dan terkenal akan karya-karyanya yang beragam, mulai cerpen, novel, puisi, esai, dan lakon, dan juga akan kisah hidupnya yang kontroversial. Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah The Happy Prince and Other Stories (1888), The Picture of Dorian Gray (novel, 1890), Lord Arthur Savile’s Crime (kumpulan cerpen, 1891), Lady Windermere’s Fan (lakon, 1892), A Woman of No Importance (lakon, 1893), An Ideal Husband (lakon, 1895), dan The Importance of Being Earnest (lakon, 1895). Berikut adalah kredo kepenulisan seorang Oscar Wilde yang termuat dalam pengantar novel The Picture of Dorian Gray:

“Tak ada yang namanya buku bermoral atau tak bermoral. Yang ada hanyalah buku yang ditulis dengan baik atau yang ditulis dengan buruk.”


 Conclusion:

I really don’t have much to say about this book. It was wonderful: beautiful, tragic, and satirical. It makes readers stop and contemplate from the stories; are we truly a complete human being? Are we capable of loving our neighbors with all our heart? Are we capable of loving so much that we are willing to make sacrifices for those we love? Are we selfish or selfless? Are we truly a devoted friend towards others? Do we boast much? These are the questions that popped into my head during and after reading this collection of short stories. This book is—with no doubt, a collection of tales for any age. 4 from 5 stars for The Happy Prince!

1st review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classics Club Project, 2nd review for The Classic Bribe

Fiksi Lotus, Vol. 1: Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

[Conclusion in English at the bottom of this post]

Jika buku diibaratkan makanan, maka buku ini tampilannya memikat dan menggugah selera. Diangkat dari situs cerita pendek klasik Fiksi Lotus yang diprakarsai Maggie Tiojakin, Fiksi Lotus Vol. 1 membukukan beberapa cerpen pilihan dari situs tersebut.

Tidak kurang dari 14 cerpen dikumpulkan dalam buku setebal 184 halaman ini, yaitu sebagai berikut:
1. Teka-teki (“The Riddle”) karya Walter De La Mare
2. Ramuan Cinta (“The Chaser”) karya John Collier
3. Sang Ayah (“The Father”) karya Bjornstjerne Bjornson
4. Pemberian Sang Magi (“The Gift of the Magi”) karya O. Henry
5. Menembus Batas (“The Interlopers”) karya Saki
6. Dilema Sang Komandan (“The Upturned Face”) karya Stephen Crane
7. Persinggahan Malam (“A Clean, Well-Lighted Place”) karya Ernest Hemingway
8. Gegap Gempita  (”Rapture”) karya Anton Chekov
9. Charles karya Shirley Jackson
10. Dering Telepon (“The Telephone Call”) karya Dorothy Parker
11. Pesan Sang Kaisar (“A Message from the Emperor”) karya Franz Kafka
12. Republick (“Evil Adored”) karya Naguib Mahfouz
13. Menjelang Fajar (“The Wall”) karya Jean-Paul Sartre
14. Kalung Mutiara (“A String of Beads”) karya W. Somerset Maugham

Dari keempat belas cerpen ini, 2 yang menjadi favorit saya, Sang Ayah karya Bjornstjerne Bjornson dan Pemberian Sang Magi karya O. Henry, sudah pernah saya baca di kumpulan cerpen klasik terjemahan dari penerbit lain. Sang Ayah menceritakan tentang dedikasi seorang ayah kepada putranya tercinta, dari saat putranya baru lahir hingga dewasa. Akhir ceritanya menyentuh dan mendorong pembaca untuk merenung. Sedangkan Pemberian Sang Magi, salah satu karya terbaik O. Henry menurut saya, menceritakan tentang sepasang suami-istri yang hendak memberikan hadiah Natal istimewa kepada pasangannya, meskipun sebenarnya mereka tidak punya uang. Cerpen lainnya yang menarik dari buku ini adalah Menembus Batas karya Saki, yang mengisahkan tentang dua keluarga yang bermusuhan selama tiga generasi. Suatu hari masing-masing kepala keluarga dari dua musuh bebuyutan itu bertemu dalam keadaan yang menentukan hidup dan mati mereka. Cerpen yang ini menunjukkan bahwa sekuat-kuatnya manusia dan rasa benci yang mereka rasakan, alam masih lebih kuat dan sekali alam diijinkan Sang Pencipta untuk memukul manusia, pukulannya tidak tanggung-tanggung. Satu lagi yang membuat saya merenungkan makna kebaikan dan kejahatan adalah cerpen Republick karya Naguib Mahfouz. Agak sulit mendeskripsikan cerpen yang satu ini, yang berusaha menyampaikan pesan bahwa dunia ini tidaklah sempurna, kalaupun kedamaian sempat bertahta untuk beberapa waktu, tidak lama kemudian kejahatan akan kembali merampas keadaan. Betapa samanya dengan kondisi dunia sekarang ini.

Empat cerpen itulah yang punya tempat khusus di hati saya, sementara 10 lainnya bagi saya biasa-biasa saja. Seperti yang saya singgung di awal review, buku yang satu ini tampilannya menggugah selera, namun setelah saya mencicipinya, kok ternyata tidak cocok dengan selera saya. Dalam Kata Pengantar (yang bagi saya merupakan “appetizer” yang memuaskan, tapi ternyata tidak diikuti dengan hidangan utama yang sama memuaskannya), Maggie Tiojakin menguraikan alasan memilih keempat belas cerpen tersebut untuk dikumpulkan dalam Fiksi Lotus Vol. 1, yaitu karena ia ingin mengangkat karya-karya cerpenis yang mungkin kurang terkenal, namun merupakan milestone dalam perkembangan cerita pendek. Dan satu lagi, entah karena saya yang agak o’on atau kurang berjiwa sastra; saya tidak menemukan mata rantai yang menghubungkan keempat belas cerpen dalam buku ini. Cerpen Teka-teki tak ubahnya (atau memang) dongeng anak-anak; sementara Sang Ayah, Pemberian Sang Magi, dan Charles menceritakan hubungan dalam keluarga; beberapa cerpen lainnya bersetting pada masa perang; dan sisanya membawa tema yang acak.

Kesimpulan yang saya ambil adalah; buku ini cocok sekali bagi:
1. Para pecinta cerpen dan followers blog Fiksi Lotus
2. Mereka yang ingin mempelajari cerpen dari sumber-sumber klasik
Jika kamu termasuk salah satu dari dua diatas, maka rasanya buku ini akan cocok bagi kamu. Sedangkan saya, setelah membaca buku ini saya akan berpikir lagi sebelum membaca kumcer keroyokan apapun (baik klasik maupun modern, dan bukannya saya tidak punya kumcer keroyokan di dalam timbunan).

Detail buku:
“Fiksi Lotus Vol. 1: Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia”, diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin
184 halaman, diterbitkan April 2012 (Cetakan I) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥


 

Conclusion:

Fiksi Lotus Vol. 1 is an anthology of classic short stories from various authors including Kafka, Hemingway and Maugham, translated into Indonesian language. It all started with a blog “Fiksi Lotus”, a collection of classic short stories translated into Indonesian language by Maggie Tiojakin. Maggie also translated some short stories by Edgar Allan Poe and it was published under the title “Kisah-kisah Tengah Malam”. However, from the 14 short stories in this anthology, there are only 4 that I really like; “The Father” by Bjornstjerne Bjornson, “The Gift of the Magi” by O. Henry, “The Interlopers” by Saki, and “Evil Adored” by Naguib Mahfouz. Overall, this book would really suit the need of those who want to study short stories from the classic sources, in Indonesian language. Two out of five stars for this book.

4th review for The Classics Club Project

Petualangan Sherlock Holmes – Sir Arthur Conan Doyle, Part II & Conclusion

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua. 🙂

7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)

Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.

8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)

Inilah  cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!

9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)

Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…

10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)

Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.

 11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)

Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…

12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)

Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.


Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.

Detail buku:

Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan 1891-1892)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.

5th review for The Classics Club Project, 1st review for  The Classic Bribe 2012 Challenge & Giveaway

Cinta yang Hilang: Kumcer Klasik – O. Henry


Cinta yang hilang. Sounds so cheesy. Jujur saja, itu pemikiran pertama saya saat mengetahui tentang buku ini. Namun, setelah ‘berkenalan’ untuk pertama kalinya dengan O. Henry dalam antologi cerpen klasik Cinta Tak Pernah Mati, saya pun jadi penasaran dan akhirnya membeli kumcer ini.

Buku setebal 118 halaman ini berisi 7 cerita pendek karya O. Henry, yang bernama asli William Sydney Porter (1862-1910), sang maestro cerpen yang namanya diabadikan sebagai nama penghargaan tahunan bergengsi bagi cerpen-cerpen terbaik di Amerika Serikat; O. Henry Award.

Yang tadinya saya kira roman picisan (dari kesan pertama terhadap judul kumcer ini), ternyata adalah cerita-cerita pendek bertema cinta yang padat, penuh humor, menghibur, kadang satir dan misterius, dan selalu punya ending mengejutkan. Sama sekali bukan cerita cinta yang cengeng. Ketujuh cerpen di dalam kumcer ini ditulis O. Henry dengan menggunakan karakter dan setting yang tidak jauh-jauh dari dunia seni.

William Sydney Porter a.k.a. O. Henry

Di cerpen pembuka yang bertajuk sama dengan judul kumcer ini; Cinta yang Hilang, pembaca akan diperkenalkan dengan seorang lelaki muda yang dengan gelisah mengitari rumah-rumah di area teater di West Side. Ia sebenarnya hanya punya satu tujuan: mencari seorang gadis bernama Eloise Vashner, seorang aktris teater dan cinta sejatinya. Saat si lelaki muda akhirnya menyewa kamar di sebuah rumah, tiba-tiba ia mencium wangi tajam bunga mignonette di dalam kamar itu, bau yang menjadi ciri khas Eloise! Apakah dia sudah gila?

Cinta membuatmu rela mengorbankan hartamu yang paling berharga. Demikian juga dengan Della, yang begitu ingin memberikan hadiah yang indah di malam Natal buat suami tercinta, Jim. Padahal mereka hanyalah sepasang suami-istri yang miskin. Begitulah kisah yang disajikan cerpen kedua yang berjudul Hadiah Kejutan (judul aslinya The Gift of the Magi). Magi yang dimaksud disini adalah orang Majus yang memberi hadiah pada malam Yesus Kristus dilahirkan di dunia. Cerpen yang ini favorit saya dari keseluruhan buku, karena walaupun singkat, tapi menghangatkan hati.

Dalam cerpen ketiga berjudul Bukti Cerita, kita akan diajak mengikuti perdebatan seru dua orang kenalan lama, Westbrook yang adalah seorang redaktur majalah, dan Dawe seorang penulis fiksi. Westbrook punya teori, jika seseorang tiba-tiba dihadapkan dengan krisis emosional, ucapan yang keluar dari mulut orang itu akan kacau, namun tetap menggunakan kata-kata dalam bahasa sehari-hari. Teori Dawe sebaliknya, sebagai penulis fiksi, menurutnya seseorang akan mengucapkan kata-kata dramatis nan lebay jika dihadapkan dengan krisis emosional. Nah, yang mana dari mereka yang benar?

Semata-mata Bisnis. Dunia pertunjukan kabaret merupakan bisnis yang menguntungkan. Jadi jangan heran ketika aktor dan aktris yang terlibat dalam satu pementasan “mengikat kontrak” satu sama lain demi suksesnya pertunjukan. Itulah yang dilakukan Bob Hart dan Winona Cherry, ketika mereka terlibat dalam pementasan bertajuk “Mice Will Play” yang kemudian sukses besar. Tapi benarkah semuanya hanya semata-mata demi uang?

“Aku benar-benar takut kalau semua pertunjukan mencerminkan dunia yang sebenarnya dan semua orang adalah aktor dan aktris.”

Demikian kata narator cerpen berjudul Kenyataan adalah Sandiwara. Ia lalu menguraikan kisah cinta segitiga antara seorang perempuan bernama Helen, Frank Barry, dan John Delaney. Di hari pernikahan Helen dengan Frank, John yang gila karena cinta menghambur ke kamar Helen dan memintanya untuk kabur bersamanya. Frank yang marah besar karena melihat adegan itu kabur dan tidak kembali. Helen kemudian menjalani hidup 18 tahun tanpa suami, sampai akhirnya beberapa orang pria secara misterius muncul untuk melamar Helen. Apakah suaminya yang menghilang selama 18 tahun akhirnya kembali?

Judul cerpen selanjutnya adalah Perempuan dan Suap Menyuap. Tidak, cerpen ini tidak mendiskreditkan perempuan, malah sang penulis mengakui bahwa “Lelaki adalah masalah tersulit yang harus dihadapi perempuan.” Inti cerpen ini sebenarnya adalah seberapa jauh, atau lebih tepatnya berapa banyak uang yang bersedia dikeluarkan oleh seseorang demi terciptanya sensasi yang membuatnya terkenal. Seorang pencoleng bernama Pogue membuat kesepakatan dengan seorang wanita bernama Artemisia Blye dan Tuan Vaucross, seorang pengusaha kaya. Vaucross harus berpura-pura jatuh cinta setengah mati kepada Nona Blye kemudian mencampakkannya. Nona Blye kemudian akan mengajukan tuntutan kepada Vaucross. Semua diuntungkan, uang dan ketenaran ada di tangan. Jika saja semuanya berjalan sesuai dengan rencana.

Cerpen terakhir yang berjudul Demi Cinta dibuka dengan kalimat:

“Ketika seseorang mencintai Seni, tidak ada yang terasa membebani.”

Hidup yang dijalani Joe dan Delia Larrabee berat, namun mereka tidak mau menganggapnya sebagai beban. Joe adalah seorang pelukis dan Delia adalah penyanyi lulusan sekolah musik. Suatu hari, Delia mengatakan pada Joe bahwa ia akan memberi les musik kepada anak perempuan seorang jenderal. Beberapa hari kemudian, Joe dengan gembira mengumumkan bahwa sketsa-sketsanya dibeli seorang lelaki dari Peoria. Mereka hidup dengan cinta dan seni di setiap helaan nafas, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa cinta jauh lebih besar daripada seni.

Empat bintang saya berikan untuk kumcer ini, karena gaya penulisan O. Henry yang khas mampu membuat saya merasa seakan terlempar ke dunia seni dan hiburan di New York pada akhir abad 19. Cerpen-cerpen O. Henry merupakan selebrasi kehidupan, sifat-sifat alami manusia, kejutan, dan tentu saja seni dan cinta. Dua hal yang mengganjal di hati saya, yang pertama adalah cover yang tidak mewakili isi buku yang bertema seni. Dengan cover seperti itu dan judul “Cinta yang Hilang”, jangan heran kalau orang mengira buku ini sebuah novel roman biasa. Kedua, salah ketik pada profil O. Henry di bagian belakang buku. Tertulis di buku ini bahwa O. Henry lahir pada tahun 1896 dan wafat 1910, sementara tahun kelahiran O. Henry yang benar adalah tahun 1862. Kesalahan ketik yang sama saya temui pada profil O. Henry di kumcer Cinta Tak Pernah Mati. Semoga penerbit bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan seperti ini, karena sungguh sayang jika sebuah buku yang bagus jadi “cacat” hanya gara-gara masalah sepele.

Detail Buku:

“Cinta yang Hilang” oleh O. Henry
118 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Penerbit Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Cinta Tak Pernah Mati : Antologi Cerpen Klasik

Kadang-kadang, pena bisa lebih tajam daripada pisau. Dan kadang-kadang, sebuah cerita pendek bisa bergaung lebih keras daripada novel setebal ratusan halaman.

Selama ini saya tidak terlalu tertarik dengan cerpen, sampai buku ini jatuh ke tangan saya. Saya baru ngeh bahwa sebuah cerpen bisa memiliki daya pikat yang kadangkala bisa melebihi sebuah novel. Dan membuat sebuah cerita yang “nendang” hanya dalam beberapa ribu kata saja, jelas bukan pekerjaan gampang! Edgar Allan Poe pernah berkata,

“Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.”

Dalam seri kumpulan cerpen klasik terbitan Serambi Ilmu Semesta yang diberi tajuk Cinta Tak Pernah Mati ini, tidak kurang dari 17 cerpen dari para maestro sastra dunia dikumpulkan. Masing-masing cerpen mengusung warna dan ciri khas dari pengarangnya mengenai satu hal yang sangat universal di dunia ini, yaitu cinta. Seperti apa jadinya jika 17 orang luar biasa ini digabungkan untuk menyuarakan cinta melalui kertas dan pena?

Kumcer ini menyentuh tema cinta dari berbagai sisi. Cinta antara sepasang kekasih, suami dan istri, ayah dan anak, Tuhan dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan bahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Cinta yang terang benderang membahagiakan, cinta yang ganjil, cinta yang berkorban, sampai cinta yang meremukkan hati dan jiwa, dan cinta yang membuat manusia jadi gila.

Berikut ini adalah daftar judul cerpen yang ada di dalam kumcer Cinta Tak Pernah Mati:

  1. Suatu Hari di Surga – Ryunosuke Akutagawa
  2. Cinta Tak Pernah Mati – Honoré de Balzac
  3. Ayah dan Anak – Bjornstjerne Bjornson
  4. Varka Hanya Ingin Tidur – Anton Chekov
  5. Maling yang Jujur – Fyodor Dostoevsky
  6. Kebajikan – John Galsworthy
  7. Tamu Pernikahan – O. Henry
  8. Ibunda – James Joyce
  9. Hantu Mantan Kekasih -Rudyard Kipling
  10. Bekas Luka – W. Somerset Maugham
  11. Senyum Schopenhauer – Guy de Maupassant
  12. Kucing Hitam – Edgar Allan Poe
  13. Perkawinan – August Strindberg
  14. Kesetiaan – Rabindranath Tagore
  15. Kebahagiaan – Leo Tolstoy
  16. Keberuntungan – Mark Twain
  17. Sepatu Bot – Émile Zola

Jujur saja, saya agak bingung bagaimana harus meresensi buku ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa mengerti kehebatan buku ini. Anda harus mengalami sendiri ‘didongengi’ oleh 17 pengarang kenamaan seantero dunia ini. Satu hal yang membuat buku ini semakin istimewa adalah foto dan biografi singkat masing-masing pengarang yang diselipkan di akhir masing-masing cerpen.

Jika anda penasaran, maka bacalah, dan jika anda penggemar karya sastra klasik, maka koleksi anda tidak akan lengkap sebelum buku ini nangkring di rak buku anda. Dijamin anda tidak akan rugi jika memilikinya! #bukanpromosi

Cinta Tak Pernah Mati dalam angka:
227 halaman
17 cerita pendek
17 pengarang ternama yang berasal dari 9 negara dan 3 benua
4 peraih Hadiah Nobel Sastra
kumpulan cerpen klasik ke-6 yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi
2 jempol dari saya untuk Serambi, Anton Kurnia dan Atta Verin 🙂

Detail buku:
“Cinta Tak Pernah Mati” oleh Ryunosuke Akutagawa, dkk
227 halaman, diterbitkan Juni 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Kisah-kisah Tengah Malam – Edgar Allan Poe

Kisah-kisah Tengah Malam Kisah-kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe

My rating: 4 of 5 stars

“Mereka yang berkeliaran di lembah itu
Melihat sesuatu di balik dua jendela istana
Roh gentayangan bergerak dan berdansa
Mengikuti irama suling yang ditiup;
Di atas takhta, duduklah
Seorang penguasa istana
Gagah dan penuh kemenangan.”

“Istana Berhantu” dari Misteri Rumah Keluarga Usher (1839)

Kisah-kisah Tengah Malam yang judul aslinya adalah Tales of Mystery and Terror, adalah kumpulan tiga belas cerita pendek bertema horor gotik karya Edgar Allan Poe.

Inilah judul ketiga belas cerita pendek yang ada dalam Kisah-kisah Tengah Malam sesuai daftar isi:

  1. Gema Jantung yang Tersiksa
  2. Pesan Dalam Botol (namun di halaman cerita judul yang tercantum adalah Catatan dalam Botol)
  3. Hop-Frog
  4. Potret Seorang Gadis
  5. Mengarungi Badai Maelström
  6. Kotak Persegi Panjang
  7. Obrolan dengan Mummy
  8. Setan Merah
  9. Kucing Hitam
  10. Jurang dan Pendulum
  11. Pertanda Buruk
  12. William Wilson
  13. Misteri Rumah Keluarga Usher

Jika Anda belum pernah mengenal atau mendengar nama Edgar Allan Poe, beliau adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, dan kritikus sastra kelahiran Boston, Amerika Serikat, yang hidup antara tahun 1809-1849 (umurnya pendek hanya 40 tahun), dan boleh disebut sebagai salah satu pelopor genre horor/misteri/teror/suspens di masanya.

Dalam Kisah-kisah Tengah Malam, pembaca akan dibawa ke dalam situasi dan tempat yang berbeda-beda; di dalam rumah tua yang seram, di atas kapal yang dilanda badai, di atas tebing curam, dalam istana raja, dan di dalam penjara yang gelap pekat.
Salah satu ciri khas Poe adalah penggunaan sudut pandang orang pertama atau “Aku” dalam setiap cerita dalam buku ini. Uniknya, hampir-hampir tak ada penjelasan mengenai “Aku” di setiap cerita. Tidak ada nama, kecuali dalam cerita pendek berjudul William Wilson ketika si “Aku” menyebut dirinya dengan nama yang sama dengan judul cerita pendek tersebut. Dalam beberapa cerita yang lain, disebutkan bahwa “Aku” memiliki istri, jadi jelaslah dalam cerita pendek itu sang tokoh utama adalah seorang laki-laki.

Ciri khas Poe yang kedua, yaitu penggambaran sedemikian rupa kondisi psikis sang tokoh utama dalam cerita, yang sarat kegilaan, dicekam ketakutan dan teror yang berkecamuk dalam jiwa dan benak. Pada cerita pertama, Gema Jantung yang Tersiksa, pembaca diajak menyelami kegilaan yang dialami sang tokoh utama, seseorang yang telah membunuh seorang tua dan menyembunyikan tubuhnya di bawah lantai kayu.
Selain itu, dari cerita-cerita yang dituturkan, kita dapat melihat betapa Poe adalah orang cerdas yang berpengetahuan luas.
Di dalam cerita Catatan Dalam Botol dan Mengarungi Badai Maelström, Poe memaparkan dengan panjang-lebar mengenai terjadinya badai yang menggulung laut. Saya pribadi berpendapat kedua cerita tersebut agak melelahkan untuk dibaca, karena panjangnya penjelasannya. Namun membaca Obrolan dengan Mummy menjadi angin segar bagi saya, karena wacana mengenai mumifikasi ras tertentu di Mesir adalah baru bagi saya.

Cerita favorit saya dari semuanya adalah Setan Merah, yang menurut saya paling menakutkan sekaligus menakjubkan. Dalam cerita ini Poe membuktikan bahwa beliau adalah benar-benar seorang master horor yang mampu membangun cerita yang membuat pembacanya tak berani menarik napas ketika membaca.

Secara keseluruhan, membaca Kisah-kisah Tengah Malam membuka jendela yang sama sekali baru bagi pembaca yang belum pernah mengecap karya Poe sebelumnya, membawa kita semua di alam yang mungkin asing, tapi sungguh menantang.
Sedikit saran saja bagi Anda yang agak penakut, walaupun judul buku ini Kisah-kisah Tengah Malam, saya tak akan menyarankan Anda untuk membacanya pada tengah malam, karena mungkin—mungkin saja, bisa timbul imajinasi liar dalam kepala Anda dan akhirnya Anda mengalami salah satu cerita horor khas Edgar Allan Poe. ;-P

View all my reviews

Softcover, 245 pages
Published December 28th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 40,000