Top 5 Book Boyfriends 2012

book-kaleidoscope-2012-button

Post ini termasuk bagian dari Book Kaleidoscope 2012 yang dihost oleh Fanda Classiclit yang sebenarnya sudah dimulai tahun lalu (tapi nggak ada hostnya) dengan post Top 5 Book Crushes… So Far. Kenapa tahun lalu saya namakan Book Crushes dan bukan Book Boyfriends? Karena di list itu ada Severus Snape, yang sejujurnya I don’t want him to be my “boyfriend”, I just had a crush on him. 😀

Nah, untuk tahun 2012 ini saya sudah menyusun (ceilah, emang proposal gitu ya disusun?) 5 karakter fiksi dari buku yang menjadi My Top 5 Book Boyfriends 2012. Kali ini memang pake nama top book boyfriends supaya kompak dengan teman-teman yang lain 😉

#5. Ben dari My Ridiculous, Romantic Obsessions

Ben adalah love interest Sarah, tokoh utama dalam novel YA yang mengklaim diri “bukan novel romantis biasa” ini. Sarah adalah cewek nggak pedean yang susah mempercayai bahwa Ben yang “setampan dewa Yunani” bisa jatuh suka padanya. Sementara Ben, yang digambarkan cakep dan populer, bukan tipe cowok yang sombong dan pilih-pilih teman. Yang paling saya suka dari Ben adalah bahwa dia nggak sesempurna kelihatannya dan nggak gengsian (terutama dalam hal cewek yang dia suka). Kayaknya sih, Nicholas d’Agosto yang main di film From Prada to Nada cocok untuk memerankan Ben. 😀

tumblr_m8twgq0FVK1qcxdq1o1_500

#4. Henry Tilney dari Northanger Abbey

Nggak salah juga kalo novel-novel Jane Austen dibilang chicklit atau metropop abad ke-19, sementara seorang Henry Tilney hampir bisa dibilang cowok metroseksual di abad itu. Eh tapi jangan bayangkan Henry seperti cowok-cowok metroseksual modern, lho! Saya bisa bilang Henry (hampir) metroseksual karena dia paham tentang jenis-jenis kain muslin (kain halus yang sebagai bahan gaun-gaun untuk acara istimewa yang dipakai para cewek di zaman itu.) Tapi bukan itu sih yang paling saya suka dari Henry. Bahwa dia sosok cowok yang ngemong (beberapa cewek suka banget dengan tipe cowok seperti ini) dan dia punya selera humor yang seringkali bikin saya ketawa-ketiwi sendiri membaca adegan percakapannya dengan Catherine di novel ini!

tilney2

JJ Feild as Henry Tilney (with Felicity Jones as Catherine Morland)

“…it is a nice book, and why should not I call it so?”

“Very true,” said Henry, “and this is a very nice day, and we are taking a very nice walk, and you are two very nice young ladies. Oh! It is a very nice word indeed! It does for everything. Originally perhaps it was applied only to express neatness, propriety, delicacy, or refinement—people were nice in their dress, in their sentiments, or their choice. But now every commendation on every subject is compromised in that one word.”

#3. Sydney Carton dari A Tale of Two Cities

Sebenarnya tokoh ini tidak likeable. Tidak sampai akhir buku. Sydney Carton adalah seorang pengacara dengan karakter eksentrik dan cenderung slengean. Secara kebetulan ia memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay, pria yang dicintai Lucie Manette. Sementara itu Sydney yang juga mencintai Lucie tidak mampu mengekspresikan cintanya dengan cara lain kecuali dengan sebuah pengorbanan (huaaaa….sediiih! T__T). Kedengarannya lebay banget ya, berkorban demi cinta. Tapi Sydney Carton melakukannya.

James Wilby as Sydney Carton

James Wilby as Sydney Carton

“It is a far, far better thing that I do, than I have ever done; it is a far, far better rest that I go to than I have ever known.”

#2. Gerold dari Pope Joan

Akhirnya, seorang oom-oom. #eh. Gerold yang adalah ayah angkat Joan pertama kali bertemu dengan gadis itu saat ia sudah menikah dan punya beberapa orang anak. Namun pernikahan itu tidak didasari dengan cinta, dan setelah sebuah tragedi menewaskan istri dan anak-anak Gerold, beberapa tahun kemudian ia bertemu lagi dengan Joan yang sudah menyamar sebagai seorang pria. Saya suka Gerold karena dia penyabar dan setia mendampingi Joan dalam segala sesuatu yang dialaminya. Dan… saya ngaku deh, fakta kalau yang memerankan Gerold di versi film Pope Joan adalah David Wenham (yang jadi Faramir di seri Lord of the Rings) juga menjadi faktor yang membuat saya memilih Gerold sebagai salah satu dari 5 book boyfriends tahun ini. Hehehe.

pope_joan38

David Wenham as Gerold

“But she had known, better than anyone else, what demons he had faced, had known how hard he had fought to free himself from them. That he had lost the fight in the end made the struggle no less honorable.”

#1. Rudy Steiner dari The Book Thief

Yap, yang menempati posisi pertama book boyfriends tahun 2012 adalah seorang anak kecil (eh, menjelang remaja kok!). Saya menyukai dia dari mata seorang Liesel Meminger lho, so don’t call me a pedophile. XD Saya sendiri juga tidak menyangka saya bisa begitu suka dengan karakter Rudy. Sahabat Liesel ini seorang anak laki-laki berambut sewarna lemon yang dibilang orang-orang “gila” karena dia pernah melumuri seluruh tubuhnya dengan arang dan berlari di lapangan dengan mengaku sebagai Jesse Owens, atlit kulit hitam favoritnya. Apa yang saya suka dari Rudy? He’s so playful and really fun to be with. I would love to have him as a childhood friend. Dan ia adalah sahabat sejati Liesel. Rudy adalah karakter favorit saya dari buku The Book Thief, selain sang bapak teladan Hans Hubermann. Saya nggak nemu foto aktor yang menurut saya pas untuk memerankan Rudy yang iseng, jadi saya pilih ilustrasi karakter yang dicomot dari Tumblr di bawah ini.

tumblr_m8rianDaQv1r3vpe8o2_1280

“The only thing worse than a boy who hates you: a boy that loves you.”

***

So those are my top 5 book boyfriends this year. Boleh dibilang nggak ada di antara mereka yang super duper istimewa, tapi mereka punya ciri khas dan kualitas masing-masing yang membuat saya suka banget sama mereka. Siapa saja top 5 book boy/girlfriends mu?

My Ridiculous, Romantic Obsessions – Becca Wilhite

Sarah–tokoh utama dalam kisah ini–sama sekali bukan tipikal tokoh utama dalam novel-novel romatis. Dia tidak langsing, malah cenderung gemuk. Rambutnya tidak berkilau keemasan dan selembut sutra, tapi ikal dan liar seperti rambut Medusa. Sarah mengalami krisis pede akut jika berhadapan dengan cowok (ganteng). Dan dia membaca terlalu banyak novel roman, yang hanya membuat Prince Charming complex yang diidapnya ini makin parah.

Awalnya Chel, sahabat karibnya, yang memprovokasi Sarah untuk berkuliah di kampusnya. Di kampus ini, konon ada seorang manusia yang sangat terkenal, berjenis kelamin laki-laki, dan dia luar biasa tampan. Dia adalah Asisten Dosen dalam kelas sejarah seni. Sang Asisten Dosen, sebagaimana Sarah menggambarkannya, punya ketampanan ala orang Iran, laksana Dewa dari Timur Tengah. Tak dinyana, dalam kelas yang sama pula, Sarah bertemu dengan makhluk yang tak kalah tampannya dari sang Asisten Dosen. Sarah menyebutnya Adonis (salah satu dewa dalam mitologi Yunani yang melambangkan ketampanan). Dasar Sarah yang malang, ia gelagapan ketika harus menghadapi si Adonis yang sedang mengkoordinir kelompok belajar. Padahal Adonis–nama sebenarnya Ben :D–sebenarnya sangat-sangat baik.

Lama-kelamaan hubungan Sarah dan Ben semakin dekat. Ben mengantar Sarah pulang sehabis kelompok belajar, main ke apartemennya, mereka bermain gitar bersama, makan es krim bersama, dan Ben mengajak Sarah ke acara pernikahan kakaknya di rumah orang tuanya. Belum lagi Ben selalu mengirim SMS dan menelponnya. Sarah rasa-rasanya tak percaya semua ini. Bagaimana mungkin–Ben yang setampan dewa Yunani ini, bisa tertarik padanya–cewek aneh yang sama sekali tidak menarik? Tokoh utama dalam novel romantis sama sekali tidak mirip diriku, pikir Sarah. Mereka cantik, tinggi langsing, anggun, dan punya rambut berkilau seperti mutiara yang tergerai lembut sepanjang punggung. Mereka bisa membuat laki-laki manapun bertekuk lutut hanya dengan mengibaskan rambut atau mengerjap-ngerjapkan mata. Teman-temannya menyebut Sarah sedang pacaran dengan Ben, tapi dia menolak mempercayainya. Ben mulai merasa insecure karena Sarah tidak merespon segala perhatian yang diberikan Ben kepadanya. Sementara Sarah begitu takut bahwa semua ini hanya permainan, dan ia akan berakhir dipermalukan seperti pengalaman di masa lalu. Novel ini punya happy ending dan ceritanya cukup gampang ditebak, tapi seru juga mengikuti ke-o’on-an Sarah menuju happy endingnya, hehehe.

Ini bukan novel romantis biasa. Itu kalimat tagline yang tercetak di bagian atas cover buku. Dan kurang lebih saya setuju (walaupun saya sangat jarang membaca novel romantis :p), karena: 1. Buku ini mbanyol sangat, mampu bikin saya cekikikan sendiri ketika membacanya, cukup menghibur lah. 2. Tokoh utama perempuannya sama sekali bukan heroine, tapi cewek yang dorky dan o’on gak ketulungan terutama jika berhadapan dengan cowok. 3. Punya pesan moral yang bagus. Bahwa setiap cewek harus percaya diri dengan diri mereka masing-masing. Dan setiap cewek layak mendapatkan cowok yang pantas bagi mereka. And never take the one you love for granted, you might regret it. 4. Saya suka warna-warna di covernya. 5. Saya suka dengan tokoh Ben yang ‘sempurna tapi sebenarnya tidak sempurna-sempurna banget’. He was so lovable, dan resmi menjadi kandidat untuk masuk daftar Top 5 Book Crushes tahun 2012. LOL.

Karena saya membaca buku ini berbarengan dengan nonton film From Prada to Nada, malah kebayang Ben itu seperti salah satu aktor yang main di film itu, yang punya nama Nicholas D’Agosto :p

Ada satu kalimat di hal. 115 yang saya suka, tidak disangka bisa muncul dalam novel roman jaman sekarang ini:


“Kau tidak bisa membiarkan orang-orang ini–bahkan yang benar-benar asing–untuk melihatmu bersama Ben jika hubungan kalian sewaktu-waktu tidak berhasil. Kau benar-benar yakin bahwa seharusnya kau tidak boleh terlihat dalam situasi romantis dengan orang yang tidak akan menjadi suamimu.”

Tiga bintang untuk novel romantis nan konyol ini!

Detail buku:
“My Ridiculous, Romantic Obsessions”, oleh Becca Wilhite
270 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥