The Adventures of Tom Sawyer – Mark Twain

tom sawyer

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Seluruh kepribadian seorang Tom Sawyer bisa disingkat dalam dua kata: anak bandel. Lihat saja bagaimana ia mengerjai temannya Ben Rogers yang sedang lewat sambil menggigit apel ketika Tom sedang melabur pagar di hari Sabtu di musim panas (hukuman dari Bibi Polly karena kenakalannya). Dengan siasat cerdik, akhirnya Ben yang bekerja melabur pagar sementara Tom bersantai dan menghabiskan apelnya. Lihat saja bagaimana dengan siasat cerdik lainnya, Tom berhasil mendapatkan sebuah Alkitab tanpa harus menghapalkan isinya, seperti yang telah anak-anak lainnya lakukan. Dan lihat saja bagaimana Tom dan sahabatnya Huckleberry Finn nekat mendatangi pemakaman pada tengah malam gara-gara percaya takhayul, dan tidak sengaja menjadi saksi sebuah perampokan makam dan sebuah pembunuhan. Dan tidak hanya itu… ternyata gerombolan penjahat itu menyembunyikan sejumlah harta rampasan entah dimana. Biarpun merasa takut setengah mati terhadap Joe Indian yang melakukan pembunuhan di makam, Tom dan Huck berniat untuk menemukan harta itu. Juga ada cerita petualangan Tom dan kawan-kawan bermain “menjadi bajak laut”, dan juga kisah cinta monyet yang bikin gemes antara Tom dan anak perempuan hakim setempat, Becky Thatcher.

Ya, Tom memang anak bandel. Tapi, jangan berpikiran buruk dulu ketika mendengar kata “anak bandel.” Tom sesungguhnya hanya seorang bocah lelaki yang, ehm… agak kelebihan energi? Suka berkhayal? Punya rasa ingin tahu yang besar (alias kepo)? Pemberani (bahkan cenderung nekat)? Tukang cari perhatian? Yah, sesungguhnya jika kita membaca kisah Tom, pasti kita bisa menemukan sebagian dari diri kita saat masih kecil. Saat masih kecil kita juga suka kelebihan energi, suka berkhayal, suka kepo, kadang-kadang nekat dan suka cari perhatian. Sungguh, ini salah satu buku yang membuat saya kangen akan masa kecil.

Google doodle tanggal 30 November 2011, memperingati HUT Mark Twain ke-176

Google doodle tanggal 30 November 2011, memperingati HUT Mark Twain ke-176

Moral of the story? Kalau seorang anak bandel, belum tentu berarti ia jahat. Hanya memang perlu pendekatan khusus untuk meladeni anak seperti ini (pendekatan yang bagaimana? Saya sendiri nggak tahu, belum pernah punya anak sih! :D). Yang jelas membatasi seorang anak secara berlebihan sama sekali bukan solusinya. Kalau kata iklan sabun cuci “nggak kotor, nggak belajar!” demikian juga kalau seorang anak sedikit-sedikit tidak boleh ini tidak boleh itu, maka ketika ia tumbuh besar bisa jadi ia menjadi penakut, kurang kreatif, atau kurang pergaulan. Saya suka dengan karakter Bibi Polly yang di satu sisi sangat tegas dan ketat terhadap Tom, tapi sebenarnya ia sangat menyayangi anak lelaki tersebut.

1360676368606

bookmarknya lucu!

Ada beberapa versi terjemahan The Adventures of Tom Sawyer yang diterbitkan beberapa penerbit yang berbeda di Indonesia, namun pilihan saya jatuh kepada versi Penerbit Atria semata-mata karena (jujur saja) covernya yang lebih menarik dari 2 versi Tom Sawyer terbitan penerbit lain. Cover versi Atria lebih berwarna dan menarik di mata anak-anak, dan ilustrasi Tom di cover dan bookmark betul-betul punya ekspresi “bandel”. Terjemahannya tidak mengecewakan, hanya saja ada kesalahan di halaman 118, “Tom dan Sid” seharusnya “Tom dan Huck”. Sayangnya, Atria tidak menerbitkan terjemahan The Adventures of Huckleberry Finn yang boleh dibilang adalah sekuel dari Tom Sawyer (walaupun masing-masing buku bisa dibaca secara independen). Mark Twain sukses besar dalam menggali pikiran seorang bocah lelaki dan menuangkannya di atas kertas. Saya suka banget gaya penulisannya yang witty. Secara keseluruhan, buku ini sangat menghibur baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Karena ada sedikit konten kekerasan di dalamnya, dan belum lagi berbagai macam kebandelan Tom, maka menurut saya buku ini cocok dibaca anak-anak berusia 11 tahun ke atas.

Detail buku:

The Adventures of Tom Sawyer, oleh Mark Twain
386 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1876)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

 


Review in English:

Tom Sawyer. What a naughty little boy. Just see how he tricked his friend Ben Rogers who was passing by when Tom was painting the fence. It was a punishment from Aunt Polly that Tom must do, but with a clever trick Tom got Ben to do his work while he ate Ben’s apple. And just see how Tom managed to get a Bible without having to memorize its verses, like other children did. And just see how belief in superstition made Tom and his friend Huckleberry Finn came to a graveyard in midnight just in time to be witnesses of a grave robbery, and a murder. That’s not all, the grave robbers turned out to keep a hidden treasure somewhere, and despite being afraid of Joe Indian who committed the murder, they made up a plan to search for the treasure. There was also the story about Tom and his friends’ adventure as “pirates” and the story about Tom’s crush, the cute and irresistible Becky Thatcher.

Moral of the story? A naughty boy doesn’t necessarily mean that he’s evil. Kids will be kids, sometimes they have too much energy, too much imagination, too much curiosity, too much nerve, and they need attention. Reading this made me miss childhood very much, and I can find myself in Tom: I was once had too much energy, imagination, and curiosity, and even though I didn’t have Tom’s nerve, I was once an ultimate attention-seeker. Honest. Hahaha. Overall, The Adventures of Tom Sawyer is a really entertaining read to both children and adults. Btw, I love the cover of the Indonesian version I read. You can see Tom’s naughty face on it. Do you agree?


21st review for The Classics Club Project | 3rd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013  | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for 2013 TBR Pile Challenge | 1st review for Fun Year with Children’s Literature event | 2nd review for Back to the Classics 2013

The Jungle Book – Rudyard Kipling, and a Wrap-Up for A Victorian Celebration!

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Ini review yang harusnya ditulis berbulan-bulan yang lalu, tapi better late than never kan ya? 😉

Awalnya sukar untuk menghilangkan kesan “Disney-ish” dalam benak saya terhadap buku ini, apalagi karena covernya memang mengadaptasi film kartun The Jungle Book versi Disney. Namun ketika saya mulai membacanya, saya pun larut dalam suatu Rimba ciptaan Rudyard Kipling yang begitu liar dan begitu nyata.

Buku yang memuat gabungan cerpen dan puisi ini dibuka dengan ditemukannya bayi manusia di hutan rimba, yang kita kenal dengan nama Mowgli. Dalam cerpen Mowgli dan Saudara Serigala, anak manusia yang dimangsa oleh Shere Khan si Harimau Pincang dibela mati-matian oleh Mama dan Papa Serigala, dan malah nantinya merekalah yang membesarkan Mowgli yang licin tak berbulu. Tumbuh besar di Bukit Batuan di tengah-tengah saudara-saudara serigala, Mowgli diajarkan bagaimana hidup di Rimba oleh Beruang Hitam Baloo dan Macan Kumbang Hitam Bagheera. Pada saatnya nanti (di cerpen Harimau Harimau), Mowgli harus berhadapan sendiri dengan Shere Khan, yang dari awal sudah menetapkan hati untuk menghabisi Mowgli. Di dalam cerita Mowgli juga bertemu dengan Kaa, si ular piton sepanjang tiga puluh kaki yang ditakuti kaum monyet, namun sebenarnya baik hati dan ikut andil menyelamatkan nyawa Mowgli.

“Kita ini satu darah, kau dan aku,” jawab Mowgli. “Aku berutang nyawa padamu, malam ini. Buruanku akan menjadi buruanmu jika kau lapar, wahai Kaa.”

Klimaks kisah Mowgli diceritakan dengan gemilang dalam adegan pertarungan menegangkan antara Mowgli dan Shere Khan. Di cerita yang lain, Mowgli dikisahkan kembali hidup di desa bersama dengan saudara-saudara manusianya, tetapi ia tidak merasa betah dan rindu kembali ke Rimba, rindu saudara-saudara serigalanya. Mowgli tidak mengerti sistem kasta yang berlaku di dunia manusia, sehingga ia gampang saja mengulurkan tangan untuk membantu seorang pembuat tembikar yang kastanya lebih rendah daripadanya.

Tidak semua bagian dari The Jungle Book berkisah tentang Mowgli. Dalam cerpen Anjing Laut Putih, Kipling menceritakan tentang Kotick, seekor bayi anjing laut berkulit putih, di tengah suasana migrasi para anjing laut. Saat Kotick sudah lebih dewasa, ia berkeinginan untuk mencari pulau yang baru untuk migrasi yang jauh dari manusia. Walau sempat menemui pertentangan anjing laut-anjing laut lain, dengan berusaha keras akhirnya ia mampu mewujudkan cita-citanya.

Beirkutnya cerpen “Rikki-Tikki-Tavi” yang menceritakan petualangan Rikki-tikki-tavi, seekor mongoose, yang berjuang melindungi tuannya, keluarga manusia yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki bernama Teddy, dari serangan ular kobra Nag dan Nagaina. Buku ditutup dengan cerpen Toomai Sang Penakluk Gajah. Toomai Mungil dikisahkan sangat beruntung karena bisa menyaksikan Tarian Para Gajah di jantung Bukit Garo, sesuatu yang tidak pernah disaksikan manusia manapun sebelumnya!

Dari semua puisi di buku ini, yang dibawah ini termasuk favorit saya (“Perburuan Kaa”)

Macan cintai tutulnya,
Banteng bangga pada tanduknya.
Waspadalah, bagaimana ia sembunyi
itulah kekuatannya.
Kau tahu sapi bisa menendangmu,
tanduk tebal Sambhur menerjangmu
Tak perlu kami kau beritahu,
kami tahu sedari sepuluh musim lalu.
Jangan sakiti anak si hewan liar,
anggaplah ia saudara
Walau kecil dan montok,
Beruanglah ibunda mereka
“Tak ada yang kalahkan kami!” ujar si kecil
bangga saat pertama berburu
Rimba begitu luas dan ia begitu mungil.
Ajari ia diam dan tak sok tahu.

Walaupun berkisah tentang binatang, ada banyak nilai moral yang bisa diambil pembaca dari fabel ini. Misalnya tentang persaudaraan serigala yang begitu erat dan kuat, juga Hukum Rimba yang diceritakan adil bagi semua pihak. Tiga bintang bagi Rimba ciptaan Rudyard Kipling. Juga karena terjemahan oleh Anggun Prameswari yang enak dibaca. Jujur saja sebenarnya saya kurang suka cover “Disney-ish” buku ini, tapi OK lah kalau memang menyasar ke segmen anak-anak.

Detail buku:
“The Jungle Book”, oleh Rudyard Kipling
246 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1894)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

 At first it was hard to get rid the “Disney-ish” aura from this book. But as I started reading, I found that the author is drowning me into a world, to be more specific a Jungle, where it all felt wild and strangely real. This book contains short stories and poems, which the first short story introduced us to Mowgli, a son of man that was raised by wolves in the Jungle. In order to defeat his enemy, the tiger Shere Khan, Mowgli was being taught how to to live in the jungle and to fight by Bagheera the black panther and Baloo the bear. There are other stories that don’t tell readers about Mowgli, like The White Seal, Rikki-Tikki-Tavi, and Toomai of the Elephants. This work of fable has a moral tone that we humans could learn from. Take the strong bond of brotherhood of the wolves, and how The Rule of the Jungle is fair to every living being in it. Overall, I gave three stars for Rudyard Kipling’s The Jungle Book.

10th review for The Classics Club Project, 4th review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classic Bribe


This post also marks my wrap-up for A Victorian Celebration.

From the 9 books I intended to read at the beginning of the event, I was only able to finish 5:

The Happy Prince by Oscar Wilde

Little Lord Fauntleroy by Frances Hodgson Burnett

Just So Stories by Rudyard Kipling

The Jungle Book by Rudyard Kipling

And one non-English Victorian novel, which is Anna Karenina by Leo Tolstoy. I haven’t got enough time to write its review, along with a review of Great Expectations BBC miniseries (2011) that I intend to write also. I’ll be writing them very soon!

I also wrote one author focus on Rudyard Kipling (in Bahasa) for A Victorian Celebration. I’m glad I joined this event, even though I haven’t had enough time to finish all the books in my reading list, and honestly I’m still having difficulties in understanding some Victorian idioms (like those in Charlotte Brontë’s Villette). But well, that won’t keep me from reading more of them Victorian works! So you see, A Victorian Celebration isn’t over for me yet! 😉

My Ridiculous, Romantic Obsessions – Becca Wilhite

Sarah–tokoh utama dalam kisah ini–sama sekali bukan tipikal tokoh utama dalam novel-novel romatis. Dia tidak langsing, malah cenderung gemuk. Rambutnya tidak berkilau keemasan dan selembut sutra, tapi ikal dan liar seperti rambut Medusa. Sarah mengalami krisis pede akut jika berhadapan dengan cowok (ganteng). Dan dia membaca terlalu banyak novel roman, yang hanya membuat Prince Charming complex yang diidapnya ini makin parah.

Awalnya Chel, sahabat karibnya, yang memprovokasi Sarah untuk berkuliah di kampusnya. Di kampus ini, konon ada seorang manusia yang sangat terkenal, berjenis kelamin laki-laki, dan dia luar biasa tampan. Dia adalah Asisten Dosen dalam kelas sejarah seni. Sang Asisten Dosen, sebagaimana Sarah menggambarkannya, punya ketampanan ala orang Iran, laksana Dewa dari Timur Tengah. Tak dinyana, dalam kelas yang sama pula, Sarah bertemu dengan makhluk yang tak kalah tampannya dari sang Asisten Dosen. Sarah menyebutnya Adonis (salah satu dewa dalam mitologi Yunani yang melambangkan ketampanan). Dasar Sarah yang malang, ia gelagapan ketika harus menghadapi si Adonis yang sedang mengkoordinir kelompok belajar. Padahal Adonis–nama sebenarnya Ben :D–sebenarnya sangat-sangat baik.

Lama-kelamaan hubungan Sarah dan Ben semakin dekat. Ben mengantar Sarah pulang sehabis kelompok belajar, main ke apartemennya, mereka bermain gitar bersama, makan es krim bersama, dan Ben mengajak Sarah ke acara pernikahan kakaknya di rumah orang tuanya. Belum lagi Ben selalu mengirim SMS dan menelponnya. Sarah rasa-rasanya tak percaya semua ini. Bagaimana mungkin–Ben yang setampan dewa Yunani ini, bisa tertarik padanya–cewek aneh yang sama sekali tidak menarik? Tokoh utama dalam novel romantis sama sekali tidak mirip diriku, pikir Sarah. Mereka cantik, tinggi langsing, anggun, dan punya rambut berkilau seperti mutiara yang tergerai lembut sepanjang punggung. Mereka bisa membuat laki-laki manapun bertekuk lutut hanya dengan mengibaskan rambut atau mengerjap-ngerjapkan mata. Teman-temannya menyebut Sarah sedang pacaran dengan Ben, tapi dia menolak mempercayainya. Ben mulai merasa insecure karena Sarah tidak merespon segala perhatian yang diberikan Ben kepadanya. Sementara Sarah begitu takut bahwa semua ini hanya permainan, dan ia akan berakhir dipermalukan seperti pengalaman di masa lalu. Novel ini punya happy ending dan ceritanya cukup gampang ditebak, tapi seru juga mengikuti ke-o’on-an Sarah menuju happy endingnya, hehehe.

Ini bukan novel romantis biasa. Itu kalimat tagline yang tercetak di bagian atas cover buku. Dan kurang lebih saya setuju (walaupun saya sangat jarang membaca novel romantis :p), karena: 1. Buku ini mbanyol sangat, mampu bikin saya cekikikan sendiri ketika membacanya, cukup menghibur lah. 2. Tokoh utama perempuannya sama sekali bukan heroine, tapi cewek yang dorky dan o’on gak ketulungan terutama jika berhadapan dengan cowok. 3. Punya pesan moral yang bagus. Bahwa setiap cewek harus percaya diri dengan diri mereka masing-masing. Dan setiap cewek layak mendapatkan cowok yang pantas bagi mereka. And never take the one you love for granted, you might regret it. 4. Saya suka warna-warna di covernya. 5. Saya suka dengan tokoh Ben yang ‘sempurna tapi sebenarnya tidak sempurna-sempurna banget’. He was so lovable, dan resmi menjadi kandidat untuk masuk daftar Top 5 Book Crushes tahun 2012. LOL.

Karena saya membaca buku ini berbarengan dengan nonton film From Prada to Nada, malah kebayang Ben itu seperti salah satu aktor yang main di film itu, yang punya nama Nicholas D’Agosto :p

Ada satu kalimat di hal. 115 yang saya suka, tidak disangka bisa muncul dalam novel roman jaman sekarang ini:


“Kau tidak bisa membiarkan orang-orang ini–bahkan yang benar-benar asing–untuk melihatmu bersama Ben jika hubungan kalian sewaktu-waktu tidak berhasil. Kau benar-benar yakin bahwa seharusnya kau tidak boleh terlihat dalam situasi romantis dengan orang yang tidak akan menjadi suamimu.”

Tiga bintang untuk novel romantis nan konyol ini!

Detail buku:
“My Ridiculous, Romantic Obsessions”, oleh Becca Wilhite
270 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥

Esperanza Rising – Pam Munoz Ryan

Esperanza. Ramona. Alfonso. Hortensia. Miguel. Membaca nama-nama ini membuat saya merasa seakan kembali ke tahun 90-an di mana telenovela lagi booming-boomingnya 😀

Esperanza Rising, yang sekilas ceritanya mirip A Little Princess versi Latin, memperkenalkan kita pada seorang gadis muda bernama Esperanza Ortega, anak pemilik perkebunan yang luas di Meksiko, yang belum pernah mengenal kesusahan sepanjang hidupnya. Kisah ini dirangkai dengan setting tahun 1930, sepuluh tahun setelah revolusi Meksiko, dan tahun dimulainya Depresi Besar di Amerika.

Tepat sehari sebelum ulang tahun Esperanza yang ketiga belas, terjadi musibah yang tak diharapkan dalam hidupnya. Ayahnya tercinta terbunuh oleh bandit-bandit dalam perjalanan pulang dari perkebunan. Fiesta ulang tahun yang dinanti-nantikan Esperanza lenyap sudah, digantikan duka mendalam. Dengan kematian sang pemilik perkebunan, maka kedua paman Esperanza, Tio Marco dan Tio Luis, memulai rencana busuk mereka untuk menguasai perkebunan itu. Tio Luis membujuk ibu Esperanza, Ramona, untuk menikah dengannya; sehingga Ramona, Esperanza, Abuelita (nenek Esperanza), beserta pekerja-pekerja perkebunan Sixto Ortega yang setia tidak perlu menguatirkan hidup mereka di masa mendatang. Ramona menolak lamaran Luis, kemudian rumah dan tanahnya ludes dilahap api dalam kebakaran besar.

Ramona dan Abuelita mempunyai kecurigaan kuat bahwa kebakaran itu memang direncanakan oleh Tio Luis, sebagai upaya untuk memaksa Ramona agar setuju menikah dengannya. Tak sudi menuruti ambisi licik Tio Luis, Ramona dan Esperanza akhirnya memutuskan kabur ke California, mengikuti pelayan-pelayan mereka, Alfonso, Hortensia, dan anak mereka Miguel. Di kereta menuju California mereka bertemu dengan Carmen, seorang janda dengan 8 orang anak yang baru saja ditinggal mati suaminya. Meskipun begitu, Carmen adalah seorang wanita yang kuat, dan ia berkata,

“Aku miskin, tapi aku kaya. Aku memiliki anak-anakku. Aku memiliki taman dengan bunga-bunga mawar, dan aku memiliki keyakinanku, serta kenangan akan orang-orang yang telah pergi mendahuluiku. Apa lagi yang kubutuhkan?”

Sesampainya di California mereka bekerja di suatu perkebunan milik perusahaan, bersama adik Alfonso yang bernama Juan, istrinya Josefina, serta ketiga anak mereka, Isabel serta bayi kembar Lupe dan Pepe. Sayangnya Abuelita tidak dapat ikut ke California karena sakit.

Di babak baru kehidupannya ini, Esperanza dipaksa untuk berubah dari nona muda yang kaya menjadi pekerja kasar yang miskin. Tidak ada lagi rumah yang megah dan luas, Esperanza dan ibunya harus tidur dalam pondok sempit yang diisi lima orang. Tidak ada lagi gaun-gaun yang indah dan mainan-mainan yang mewah. Ia kemudian bersahabat dengan Isabel, dan Esperanza iri kepadanya karena “…Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Ia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira.” Dan Esperanza rindu kepada sang ayah, yang pernah mengajarinya menempelkan telinga di tanah untuk mendengar denyut jantung bumi. Ia rindu mendengar ayahnya membisikkan kata-kata ini kepadanya;

“Aguántate tantito y la fruta caerá en tu mano” (“Tunggu beberapa saat dan buahnya akan jatuh ke tanganmu”).

Cobaan belum berhenti sampai disitu; beberapa bulan setelah pindah ke California, ibunya jatuh sakit karena infeksi yang diakibatkan oleh spora debu setelah terjadinya badai debu, dan juga karena depresi. Inilah saat bagi Esperanza mengambil alih tanggung jawab atas dirinya dan ibunya, dengan bekerja keras untuk membiayai pengobatan ibunya, dan sekaligus menabung untuk ongkos perjalanan Abuelita ke California untuk bisa bersama-sama dengan mereka lagi. Esperanza pun akhirnya paham, bahwa kehidupan itu naik turun, seperti alur zigzag pada selimut Abuelita: ada kalanya naik ke puncak gunung, ada kalanya turun ke lembah. Dan pada saat ia gagal, ia mengingat perkataan Abuelita: jangan takut untuk memulai lagi dari awal.

###

Novel indah yang ditulis Pam Munoz Ryan ini menceritakan riwayat neneknya, Esperanza Ortega. Buku ini unik karena setiap bab diberi judul buah-buahan, misalnya Las Uvas (buah-buah anggur), Las Papayas (buah-buah pepaya), Los Melones (buah-buah melon), dan sebagainya. Selain itu ada resep untuk membuat Jamaica Flower Punch dan cara membuat boneka benang di akhir buku. Nilai moral yang berharga terkandung di dalam buku ini sehingga saya merekomendasikan buku ini terutama kepada para remaja, sesuai segmen yang disasar Penerbit Atria. Terjemahan yang baik, cover yang manis (lebih manis daripada cover aslinya, walaupun hampir sama), dan banyaknya kutipan-kutipan indah nan bijak, membuat buku ini pantas dimasukkan dalam wishlist.

Detail buku:
“Esperanza Rising” oleh Pam Munoz Ryan
238 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Treasure Island – Robert Louis Stevenson


“Fifteen men on the dead man’s chest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!
Drink and the devil had done for the rest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!”

Jauh sebelum ada wahana Disneyland (dan kemudian franchise film) Pirates of the Caribbean, novel berjudul Treasure Island karya pengarang Skotlandia, Robert Louis Stevenson, terbit pada bulan Maret 1883. Treasure Island sebenarnya sudah dimuat sebagai cerita bersambung dalam majalah anak-anak Young Folks pada tahun 1881-1882 namun baru dibukukan pada tahun 1883.

Cerita bermula di Penginapan Admiral Benbow yang terletak di tepi laut di barat daya Inggris. Jim Hawkins, putra pemilik Admiral Benbow yang berusia 17 tahun, menjadi penutur cerita utama dan membuka kisah dengan datangnya seorang bajak laut tua bernama Billy Bones yang menetap di Admiral Benbow untuk waktu yang cukup lama. Bones yang mengaku pernah menjadi salah seorang kru almarhum Kapten Flint, seorang bajak laut yang ditakuti, ternyata sedang bersembunyi di Admiral Benbow, terutama dari seorang berkaki satu yang terus ia sebut-sebut kepada Jim agar mewaspadai kedatangan orang tersebut.

Bones mengaku bahwa ia membawa peti bajak laut yang berisi harta dan selembar peta Pulau Harta Karun. Peti bajak laut itulah yang membuat Bones diincar oleh berbagai pihak, seorang pelaut yang dipanggil Black Dog dan seorang buta bernama Pew. Pertemuan dengan Pew mengakibatkan kematian bagi Bones yang sebelumnya memang sudah jatuh sakit. Dengan kematian Bones, Jim dan ibunya mengambil sejumlah uang yang menjadi hak mereka dan gulungan kertas minyak yang diyakini adalah peta Pulau Harta Karun dari peti Bones, dan di tengah-tengah ancaman bajak laut yang mengincar peti tersebut mereka melarikan diri ke tempat yang aman.

Jim selanjutnya membawa peta itu untuk dilihat oleh Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, dan kemudian mereka membentuk kru untuk pergi ke pulau tersebut dengan kapal bernama Hispaniola. Beberapa orang yang menyertai perjalanan mereka antara lain Kapten Smollett sebagai kapten kapal, dan Long John Silver, seorang juru masak kapal berkaki satu. Jim baru menyadari kemudian bahwa Silver-lah orang berkaki satu yang ditakuti Billy Bones. Selanjutnya Silver membantu Hakim Trelawney merekrut pelaut-pelaut untuk menggenapkan jumlah kru kapal yang dibutuhkan.

Setelah mereka sampai di Pulau Harta Karun, Jim yang pada saat itu tertidur di dalam sebuah tong mencuri dengar pembicaraan antara Silver dan beberapa orang dari kru yang telah dipilihnya. Mereka ternyata menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan, merampas harta karun itu dan membunuh orang-orang yang tidak sepihak dengan mereka, termasuk Jim sendiri. Mendengar itu, Jim melarikan diri dan secara tidak sengaja bertemu Ben Gunn, yang juga adalah seorang mantan kru Kapten Flint yang ditinggalkan di Pulau Harta Karun dan tidak bertemu seorang manusia pun selama 3 tahun. Selanjutnya, terjadi pertempuran yang memakan banyak korban antara pihak Hakim Trelawney melawan pihak John Silver memperebutkan harta karun yang terpendam di pulau itu.

###

Salah satu karya klasik yang dikenang sepanjang masa karya Robert Louis Stevenson (1850-1894, juga menulis Kidnapped dan Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde) ini diceritakan melalui 2 sudut pandang, yang pertama dari sudut pandang Jim Hawkins selaku tokoh utama, dan sudut pandang Dr. Livesey. Peralihan kedua sudut pandang sebenarnya cukup mulus karena ada keterangan di bawah judul bab, namun kadang-kadang saya masih suka bingung siapa sebenarnya yang sedang membawakan cerita. Banyaknya tokoh di dalam Treasure Island membuat karakterisasi masing-masing tokoh penting menjadi sekeping-sekeping saja, dan terutama sih saya kurang puas dengan karakter Jim Hawkins sendiri. Di awal sampai pertengahan buku, Jim terkesan seperti ”anak manis”, dan salah rasanya menempatkan dia ditengah-tengah bajak laut yang beringas. Baru kemudian ketika Jim melarikan diri baru mulai kelihatan ”bengalnya”.

Walau saya biasanya menyenangi cover buku-buku terbitan penerbit Atria, untuk cover edisi terjemahan Treasure Island versi Atria ini rasanya terlalu lembut dan kekanak-kanakan untuk sebuah cerita yang aslinya keras dan maskulin. Dan secara keseluruhan, walaupun ceritanya sangat berpotensi untuk menjadi menarik, menurut saya ketegangan tidak cukup berhasil dibangun oleh penulis. Entah apakah ini pengaruh dari terjemahannya atau memang aslinya seperti itu. Rasanya saya lebih memilih untuk menonton filmnya saja… 😉

Detail buku:
“Treasure Island”, oleh Robert Louis Stevenson
345 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥

A Golden Web – Tidak Ada Kata Menyerah bagi Alessandra!

Malang benar nasib para perempuan yang hidup di Italia pada awal abad keempat belas. Hanya ada dua pilihan hidup bagi mereka: kalau tidak menjadi seorang istri, berarti menjadi biarawati. Kalaupun bekerja, paling-paling sebagai pelayan. Setiap perempuan yang menunjukkan kemampuan di bidang lainnya misalnya dalam bidang medis, hukum, dan sastra (yang di masa itu hanya dikuasai kaum lelaki), dianggap sebagai penyihir dan terancam menemui ajal di tiang pembakaran.

Namun Alessandra Giliani, putri seorang pengusaha percetakan di Persiceto, Italia, yang dikaruniai otak cemerlang, bukanlah seorang perempuan biasa. Ia telah membaca semua buku di perpustakaan ayahnya tapi tetap ingin untuk belajar lebih banyak hal lagi. Peristiwa kematian ibunya setelah melahirkan adik bungsunya memicu hasrat menggebu di hati Alessandra untuk menuntut ilmu kedokteran di universitas Bologna, yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan, karena menjadi mahasiswa adalah “haram” bagi seorang perempuan di masa itu.

Mengapa Tuhan memberinya hasrat dan benak yang selalu bertanya-tanya jika Tuhan tidak menghendaki dia menggunakannya?
Mengapa dunia dan seluruh Alam terhampar bagaikan sebuah buku terbuka, menunggu untuk dibaca dan dipahami, jika sang Pencipta tidak menginginkannya mengungkap rahasia-rahasia dan memahami kebijaksanaan di dalamnya?

Pada usia lima belas tahun, Alessandra dikirim ke biara oleh Ursula, ibu tirinya, untuk disiapkan menjadi seorang istri. Alessandra merana karena merasa terkucil di biara suram itu, dan ia ogah menikah karena masih bermimpi pergi ke Bologna untuk belajar anatomi tubuh manusia. Dan juga ia sama sekali tidak tahu menahu dengan siapa ia dijodohkan, bisa saja dengan seorang pria tua botak, begitu pikirnya dengan jijik.

Suatu hari di biara, Alessandra menerima pesan untuk kembali ke rumahnya di Persiceto. Ia tahu bahwa ini berarti pernikahan akan segera dilangsungkan. Namun alih-alih pulang ke rumah dan menjadi pengantin, ia malah melarikan diri ke Bologna dan menyamar menjadi seorang pemuda untuk mewujudkan mimpinya menjadi mahasiswa kedokteran. Beruntung bagi Alessandra karena memiliki Nicco, kakak lelaki yang sangat menyayangi dan memahaminya. Berkat bantuan Nicco dan Giorgio, seorang karyawan percetakan ayahnya, rencana nekat Alessandra dapat terwujud.

Selanjutnya Alessandra dikenal sebagai Sandro, dan kepandaiannya yang menonjol dengan cepat membuatnya menjadi salah satu mahasiswa paling ternama di universitas, walaupun dianggap kemayu (mirip perempuan) oleh teman-temannya. Pada masa itu, lazim untuk beberapa mahasiswa yang paling menonjol untuk mendapat kehormatan tinggal di rumah dosen yang mengajar mereka. Seorang dokter terkenal bernama Mondino de’ Liuzzi memberikan privilese itu kepada tiga orang mahasiswa yaitu Bene, Otto Agenio, serta Sandro sendiri. Bene adalah seorang pemuda miskin yang beruntung bisa menjadi mahasiswa di Bologna dengan dibiayai hasil patungan orang-orang di desanya.  Sedangkan Otto adalah seorang pemuda kaya yang tampan dan berkepribadian hangat. Bene secara tak sengaja mengetahui rahasia Sandro dan mengancam akan membongkarnya, namun segera dicegah Sandro dengan suap; sedangkan Otto sudah menaruh perhatian kepada Sandro dari pertama kali mereka bertemu. Alessandra – dibalik topeng Sandro – merasakan jantungnya berdebar-debar setiap kali berdekatan dengan Otto. Semua ini membuat Alessandra bingung setengah mati. Ia takut Bene suatu saat akan membongkar rahasianya. Dan bagaimana mungkin ia dapat memiliki suatu hubungan romantis dalam keadaan seperti yang sedang dijalaninya ini? Bagaimana pula dengan keluarganya yang belum mengetahui rahasia nekatnya, dan apa yang terjadi dengan tunangan yang telah dipilih oleh ayahnya untuk Alessandra?

###

A Golden Web adalah sebuah novel yang berusaha menghidupkan kembali sosok Alessandra Giliani, ahli anatomi perempuan pertama yang pernah hidup di Italia pada awal abad ke-14. Semasa hidupnya Alessandra tak mau menyerah pada keadaan dan terus berjuang mewujudkan impiannya, walaupun akhirnya ia tak mempunyai banyak waktu untuk menikmati hidupnya karena kelelahan bekerja membuatnya meninggal pada usia 19 tahun.

Sang penulis, Barbara Quick, menulis novel tentang Alessandra Giliani setelah menemukan sekelumit informasi tentangnya secara tak sengaja, saat sedang meneliti kehidupan dan hasil karya seorang ahli anatomi perempuan lain yang hidup pada abad ke-18. Selanjutnya, penulis melakukan riset mengenai kehidupan dan tatanan sosial yang berlaku pada abad ke-14, dan hasilnya, Alessandra dan tokoh-tokoh lainnya menjadi hidup dalam novel yang merupakan gabungan antara fiksi, sejarah, drama, dan romansa ini.

Saya secara pribadi menyukai buku ini karena mengenalkan sosok yang sebelumnya belum pernah dikenal dunia, nilai-nilai yang dapat diambil dari kegigihan Alessandra dalam meraih cita-citanya, dan juga kemauannya untuk bekerja keras dalam bidangnya, membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang setara dengan laki-laki.

Detail buku:
“A Golden Web”, oleh Barbara Quick
272 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya – Grimm Bersaudara


Ternyata memang ada beberapa cerita yang melekat pada diri kita dari masa kecil dan ketika kita membacanya lagi saat sudah dewasa, perasaan yang ditimbulkan oleh cerita-cerita itu sama seperti perasaan pada waktu kita membacanya sebagai seorang anak kecil.

Jacob dan Wilhelm Grimm atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Brothers Grimm (Grimm bersaudara) tidak mengakui diri mereka sebagai pendongeng bagi anak-anak, namun sebagai pahlawan folklor yang berjasa mengabadikan dongeng-dongeng rakyat Jerman yang disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan dalam bentuk tertulis. Tak dapat dipungkiri jika Grimm bersaudara tidak mengumpulkan dan menerbitkan dongeng-dongeng pada masanya dan jika Kinder-und Hausmärchen atau Children’s and Household Tales (kumpulan dongeng pertama yang mereka publikasikan pada tahun 1812) tidak pernah terbit, maka mungkin sampai pada era ini kita tidak akan pernah mendengar cerita tentang Snow White, Musisi dari Bremen, Tom Ibu Jari, Hansel dan Gretel, Pangeran Katak, ataupun Rapunzel.

grimm tales
Cover Grimm’s Kinder- und Hausmärchen (1812)

Dan jika sampai saat ini kita sudah membaca, mendengar, atau menonton berbagai versi dari dongeng-dongeng Grimm, maka melalui buku ini kita dapat mengetahui bagaimana cerita dalam versi aslinya.

Buku “Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya” besutan Penerbit Atria berisi 19 dongeng, antara lain:

1. Musisi dari Bremen
2. Teka-teki
3. Tom Ibu Jari
4. Briar Rose
5. Dua Belas Putri yang Menari
6. Pengantin Perampok
7. Ratu Lebah
8. Raja Janggut-Mengerikan
9. Peri Pembuat Sepatu
10. Aschenputtel
11. Hansel dan Gretel
12. Serigala dan Tujuh Kambing Kecil
13. Pangeran Katak
14. Frau Holle
15. Rumpelstiltskin
16. Tiga Pemintal
17. Gadis Angsa
18. Rapunzel
19. Snow-white

Buku ini seakan menjadi jawaban bagi penikmat buku yang ingin memiliki kumpulan dongeng dengan harga yang terjangkau. Karena sejauh pengamatan saya, buku kumpulan dongeng biasanya terbuat dari kertas tebal yang berat dan full color, sehingga harganya pun menjadi selangit. Tampilan fisik Hansel dan Gretel versi Atria menurut saya cukup cocok bagi pembaca anak-anak, dengan ilustrasi-ilustrasi hitam putih cantik yang dikemas secara modern di dalamnya akan semakin memanjakan mereka ketika menikmati buku ini. Sedangkan bagi pembaca remaja dan dewasa, buku ini dapat menjadi koleksi yang berharga, karena setiap dongeng dalam buku ini adalah cerita versi asli dari Grimm bersaudara yang telah diterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa Indonesia.

Namun ada beberapa kekurangan dan hal yang mengganjal bagi saya tentang buku ini, antara lain:

  1. Tidak adanya daftar isi. Rasanya sudah sepatutnya, sebuah buku kumpulan cerita (kumcer) menyertakan daftar isi di bagian awal buku. Absennya daftar isi ini cukup menyusahkan pembaca jika ingin langsung skip membaca cerita/dongeng tertentu di dalam buku.
  2. Castle, di dalam buku ini diterjemahkan menjadi kastel. Sungguh kata yang aneh, meskipun kata ini memang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengapa tidak menggunakan kata kastil saja, atau lebih baik lagi, istana.
  3. Pada hal. 126 dalam cerita Frau Holle, ada kalimat yang berbunyi, “Hatta, Frau Holle memegang tangannya dan menuntunnya ke sebuah gerbang”. Nah lho, apa lagi artinya “Hatta” ini?

Namun demikian, kerja keras Penerbit Atria untuk menghidupkan kembali dongeng-dongeng Grimm versi asli untuk dinikmati dalam bahasa Indonesia patut diapresiasi, karena itu saya memberikan 4 bintang untuk buku ini.

Dongeng-dongeng Grimm lainnya bisa dinikmati lewat berbagai situs di dunia maya, ini salah satunya yang menarik: http://www.nationalgeographic.com/grimm/

Detail buku:

“Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya”, oleh Grimm Bersaudara
192 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

Scones and Sensibility – Lindsay Eland

Saya ingin menampar Polly Madassa!

Yap, Polly Madassa, seandainya ia benar-benar nyata, pasti adalah gadis dua belas tahun paling menyebalkan di muka bumi. Dia kira dia sudah mengetahui semuanya tentang cinta dengan membaca Pride and Prejudice serta Anne of Green Gables berulang kali. Ia kecanduan segala sesuatu yang berbau romantis, setiap kata yang ia ucapkan (atau pikirkan) selalu berbunga-bunga dengan kata-kata seperti “indah”, “cantik”, “molek”, “anggun”, dan sebagainya.

Sebagai gadis muda yang salah abad, Polly lebih suka mengenakan gaun daripada t-shirt dan jeans, senang menulis dengan pencahayaan lilin menggunakan pena bulu daripada bolpoin, dan lebih memilih mesin tik daripada komputer.

Polly, yang bekerja membantu mengantarkan kue-kue selama musim panas untuk toko roti antik orangtuanya, merasa bahwa sudah panggilan hidupnya untuk membantu kehidupan percintaan orang-orang terdekatnya. Ia jengah melihat kakaknya, Clementine, yang berpacaran dengan cowok bernama Clint, yang menurutnya, kasar dan sama sekali tidak gentleman. Ia sedih melihat sahabat baiknya, Fran Fisk, dan ayahnya, yang telah hidup selama tiga tahun tanpa kehadiran sosok seorang ibu dan istri. Juga ada Mr. Nightquist, seorang kakek dari cucu lelaki yang nakal, yang telah lama ditinggal mati istrinya.

Maka Polly pun mulai menyusun rencana dan mencarikan “kandidat-kandidat” yang cocok bagi Clementine, Mr. Fisk, serta Mr. Nightquist. Yang masuk dalam kriterianya adalah orang-orang yang berpenampilan menawan dan “berbudaya”, kurang lebih seperti Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tokoh-tokoh dalam novel yang telah berulang kali dibacanya. Polly menganggap bahwa segala rencananya akan berjalan lancar, dan semua orang yang dijodohkannya akan “mereguk kebahagiaan cinta yang teramat manis”. Polly sama sekali tak sadar bahwa semua yang dilakukannya bisa mengarah kepada bencana…

###

Sayang sekali, saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai buku ini. Saya sudah membaca Pride and Prejudice yang menjadi “kitab suci” bagi Polly dan saya tidak menyukainya. Bagi saya karakter Elizabeth Bennet terlalu dangkal karena ia menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya dan bagaimana ia membawa dirinya. Hey, orang-orang yang rupawan tak selalu jujur dan baik hati. Dan sebagian orang paling baik di dunia tidak tahu cara membawa diri dengan ramah dan ceria di tengah-tengah orang banyak. Keramahan dan keceriaan bisa saja palsu. Polly, menurut saya, sama dangkalnya dengan Elizabeth. Karena ia dengan terburu-buru menilai seseorang sebelum benar-benar mengenal orang itu. Dan ia juga tidak mengerti bahwa sesuatu yang romantis itu relatif, tergantung pada tiap-tiap orang. Sebagian besar juga karena ia mengira ia tahu yang terbaik bagi orang-orang tercintanya.

Nilai moral dari cerita ini adalah, lebih baik tidak usah ikut campur dalam kehidupan cinta orang lain. Anda juga pasti tidak mau kalau ada orang yang melakukan itu kepada anda. Satu bintang saya berikan untuk gaya penulisan Lindsay Eland yang berhasil memadukan gaya bahasa buku-buku klasik dengan setting masa kini, dan sukses membuat saya sebal (dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh Mbak Uci) dan satu bintang lagi untuk nilai moral yang diberikan buku ini.

Detail buku:

“Scones and Sensibility”, oleh Lindsay Eland
308 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥

A Wrinkle in Time – Madeleine L’Engle

“Satu hal yang telah kupelajari, adalah kau tak perlu memahami sesuatu untuk menerima sesuatu itu ada.”


Margaret “Meg” Murry, anak tertua dari empat bersaudara, adalah seorang anak perempuan yang bermasalah di sekolah. Sepertinya ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar, para guru dan teman-temannya mencelanya, dan dengan penampilan fisiknya yang “mengerikan”: kawat gigi, kacamata tebal, dan rambut berantakan; ia semakin dianggap makhluk yang aneh. Orangtua Meg adalah sepasang ilmuwan jenius, sehingga orang-orang tak habis pikir mengapa Meg bisa menjadi begitu bodoh, demikian juga adik bungsunya, Charles Wallace. Padahal, mereka sama sekali tidak bodoh, mereka hanya melakukan segala sesuatunya tidak seperti kebanyakan orang. Dan itulah yang membuat Meg dan Charles Wallace berbeda, bahkan berbeda dengan saudara lelaki kembar mereka, Sandy dan Dennys.

Ditambah lagi, ayah Meg telah menghilang secara misterius setelah beliau pergi melakukan pekerjaan untuk pemerintah. Pada suatu malam berbadai yang aneh, Meg akhirnya terlibat perjalanan berbahaya menembus ruang dan waktu untuk menyelamatkan ayahnya, bersama-sama dengan Charles Wallace dan seorang anak lelaki bernama Calvin O’Keefe. Mereka dibantu oleh tiga individu yang masing-masing sangat ganjil; Mrs. Whatsit yang penampilannya seperti perempuan tua yang tenggelam dibawah mantel dan tumpukan syal, Mrs. Who yang memakai kacamata amat besar dan selalu mengutip peribahasa-peribahasa dan ungkapan-ungkapan kuno serta ucapan-ucapan para tokoh terkenal dari abad yang sudah berlalu; serta Mrs. Which yang sosok tubuhnya seakan transparan dan suaranya menggema tajam di udara ketika ia berbicara.

Meg, Charles Wallace dan Calvin melintasi dimensi kelima untuk pergi ke Camazotz, tempat Mr. Murry ditawan oleh ITU, suatu individu jahat yang mengendalikan segala sesuatunya sehingga semua makhluk hidup di tempat itu bergerak dalam satu irama yang sama, sehingga mereka tidak kelihatan benar-benar hidup tapi seperti selongsong kosong yang tak berjiwa. “Mengapa kau pikir orang-orang menjadi bingung dan tidak bahagia? Karena mereka semua menjalani kehidupan mereka masing-masing, terpisah, dan individual. Perbedaan hanya menciptakan masalah,” demikian alasan ITU. Bertiga mereka saling membantu untuk melewati segala bahaya dalam perjalanan mereka, dan pada akhirnya Meg sendirilah yang harus menghadapi ITU, dengan senjata rahasia yang ia miliki namun tidak dimiliki oleh ITU. Akankah Meg memenangkan pertempuran ini?

###

“Buku-buku yang paling melekat dalam kenangan masa kecil kita adalah buku-buku yang membuat kita merasa tidak kesepian, yang meyakinkan kita bahwa kelemahan dan keanehan kita sama individualnya dengan sidik jari dan sama universalnya dengan tangan yang terbuka.”

Demikian kalimat pembuka dari halaman apresiasi yang ditulis oleh Anna Quindlen, seorang penulis dan jurnalis Amerika yang pernah memenangkan Pulitzer Prize, yang entah mengapa diletakkan di bagian awal buku A Wrinkle In Time edisi terjemahan Indonesia terbitan Atria ini. Dalam enam halaman apresiasi ini Anna sudah merangkum isi buku ini, sehingga, bagi anda yang ingin membaca buku ini tanpa terganggu dengan spoiler, maka saya menyarankan anda untuk melewati halaman apresiasi ini dan langsung membaca bab pertama.

Jujur saja, saya agak bingung mengkategorikan buku ini. Pendapat saya ketika sekilas melihat covernya, ini adalah buku anak-anak. Setelah membacanya, saya berpendapat buku ini agak terlalu berat untuk anak-anak, mereka yang sudah memasuki usia remaja yang bisa membacanya. Namun, dalam beberapa bagian, sayapun yang sudah tergolong pembaca dewasa pun agak sulit memahami buku ini, terutama mengenai tesseract alias dimensi kelima, serta siapa sebenarnya Mrs. Whatsit, Mrs. Who, dan Mrs. Which, serta Medium Bahagia serta beberapa tokoh lain yang notabene bukan manusia. Karakter Charles Wallace kecil yang unik juga membuat saya bingung, sebab bagaimana mungkin seorang anak lelaki kecil yang berusia tak lebih dari 9 tahun, dapat berkata seperti ini, “Jalan menuju neraka dilapisi oleh niat-niat baik.”

Kesimpulan yang saya tarik ketika selesai membacanya, A Wrinkle in Time adalah kisah tentang perjuangan batin melawan rasa kesepian, tidak dicintai, dan ketakutan pribadi. (bagi saya buku ini seakan berteriak keras-keras “YOU ARE LOVED!” )
Dan pada akhirnya, perang antara kebaikan dan kejahatan, namun tidak dalam hingar bingar spektakuler seperti yang sering tampak di film-film Hollywood. Semua ini dibungkus rapat oleh penulis dengan rasa fiksi ilmiah dan unsur-unsur sains yang kental, serta imajinasi yang berbeda dengan apa yang sudah sering kita baca sebelumnya.

Dan tentu saja, kutipan-kutipan yang diucapkan oleh Mrs. Who adalah daya tarik tersendiri.


“Tidak ada yang mustahil; kita harus berharap akan segala sesuatu.” – Euripides


Ab honesto virum bonum nihil deterret. Tidak ada yang mampu menghalangi seseorang yang baik untuk melakukan sesuatu yang terhormat.” – Seneca


Qui plus sait, plus se tait. Jika seseorang tahu lebih banyak, dia akan lebih sedikit berbicara.” – peribahasa Prancis


Detail buku:

“Kerutan dalam Waktu” (judul asli: A Wrinkle in Time), oleh Madeleine L’Engle
267 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥

Tuck Everlasting – Natalie Babbitt

Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?

Pada minggu pertama bulan Agustus yang panas itu, serangkaian kejadian yang tampaknya tak saling berhubungan terjadi. Pada pagi hari Mae Tuck pergi dengan kudanya ke hutan di sisi Desa Treegap untuk menemui kedua anaknya. Siangnya, Winnie Foster, anak pemilik hutan Treegap bosan dengan hidupnya yang serba teratur, berpikir untuk melarikan diri. Sore harinya, seorang pria asing datang ke rumah keluarga Foster dengan maksud tertentu di benaknya.

Winnie Foster, anak perempuan keluarga Foster yang berusia sepuluh tahun, mengalami hari yang paling tidak terduga sepanjang hidupnya. Ia memasuki hutan Treegap dan melihat seorang pemuda tampan minum dari mata air yang tersembunyi di dekat sebuah pohon besar di pusat hutan itu. Pemuda yang ditemuinya bernama Jesse Tuck, dan Winnie langsung jatuh hati kepadanya. Dan ternyata, Jesse beserta ayah, ibu dan kakaknya telah hidup selama delapan puluh tujuh tahun tanpa menua barang semenit pun!

Keluarga Tuck pun menculik Winnie, namun mereka tidak berniat menyakitinya, hanya untuk memberikan penjelasan padanya bahwa tidak ada seorang pun yang boleh tahu keberadaan mata air keabadian itu. Di saat yang sama, pria asing yang datang ke kediaman keluarga Tuck menawarkan diri untuk menyelamatkan Winnie dari cengkeraman para penculik dan meminta hutan Treegap yang dimiliki keluarga Foster sebagai gantinya.

Winnie harus memilih. Ia harus memilih antara keluarganya sendiri dengan keluarga Tuck yang juga ia kasihi, terutama Jesse. Ia harus memilih antara membiarkan keberadaan mata air itu diketahui—dan dimanfaatkan, atau berjuang untuk menutup rapat-rapat rahasia itu, tidak peduli sebesar apapun harga yang harus dibayar.

###

Buku tipis yang ditulis dengan apik ini mungkin singkat, namun memiliki makna yang sangat bagus. Buku ini menyadarkan kita, bahwa hidup selamanya itu tak selamanya enak, seperti yang dipikirkan oleh banyak orang. Segala sesuatunya di dunia ini diciptakan Tuhan untuk mengecap kehidupan, dan kemudian mati, semua pada waktu dan perencanaan-Nya yang sempurna.

Tuck Everlasting pernah difilmkan pada tahun 2002 dengan bintang Alexis Bledel (Gilmore Girls) dan Jonathan Jackson. Saya tidak tahu apakah versi filmnya setia pada bukunya karena saya belum pernah menontonnya 🙂

Detail buku:
“Tuck Everlasting”, oleh Natalie Babbitt
173 halaman, diterbitkan November 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥