Gulliver’s Travels to Lilliput and Brobdingnag – Jonathan Swift

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Ketika mendengar “Gulliver’s Travels, yang terbayang di benak orang pastilah sesosok pria yang terjebak di Negeri Lilliput. Namun sesungguhnya, buku Gulliver’s Travels sendiri terdiri dari empat kisah perjalanan, sebagai berikut:

  • A Voyage to Lilliput
  • A Voyage to Brobdingnag
  • A Voyage to Laputa, Balnibarbi, Luggnagg, Glubbdubdrib, and Japan
  • A Voyage to the Country of the Houyhnhnms

Dua diantaranya yaitu Perjalanan ke Negeri Lilliput (negeri orang berukuran mini) dan Negeri Brobdingnag (negeri raksasa) dihimpun dalam buku yang saya baca ini. Pada awal buku, dijelaskan mengenai latar belakang Lemuel Gulliver, pekerjaan dan bidang yang ia tekuni, serta bagaimana ia memulai perjalanannya. Dikisahkan bahwa Gulliver adalah seorang pria yang gemar melakukan perjalanan. Sisanya, adalah berbagai hal yang dialami Gulliver selama berada di Negeri Lilliput dan Negeri Brobdingnag, yang mana plotnya tidak akan banyak saya bocorkan disini, lebih seru membacanya sendiri! 🙂

Jonathan Swift menulis Gulliver’s Travels dengan mendetail dan terasa realistis. Dari POV Gulliver, kita seperti membaca buku harian sang tokoh, lengkap dengan tanggal-tanggal kejadian dan urutan peristiwa yang dialaminya. Swift juga menciptakan bahasa yang digunakan penduduk Lilliput maupun Brobdignag.  Di negeri Lilliput, Gulliver dipanggil dengan sebutan Quinbus Flestrin yang berarti “Manusia Gunung Besar”. Walau pada awal kemunculannya Gulliver ditakuti rakyat Lilliput dan dianggap sebagai monster, lambat laun ia menjalin hubungan baik dengan Raja Lilliput dan beroleh kepercayaan dari Yang Mulia. Dengan sederetan syarat, termasuk bersedia membantu melawan musuh Lilliput yaitu Pulau Blefuscu, Gulliver dapat hidup di tengah-tengah rakyat Lilliput dan mendapatkan daging dan minuman sebanyak jatah 1.728 orang-orang Lilliput setiap harinya. Satu hal yang kocak adalah konflik berdarah selama bertahun-tahun antara Lilliput dan Blefuscu, yang ternyata didasari oleh persoalan remeh: masalah memecahkan telur! Dua kubu yang beroposisi adalah kubu yang memecahkan telur dari ujung yang lebih lebar (dikenal dengan kelompok Ujung-Lebar) dan kubu yang memecahkan telur dari ujung yang lebih lancip (dikenal dengan kelompok Ujung-Lancip). Menggelikan, bukan?

Pengalaman yang jauh berbeda dialami Gulliver ketika terdampar di Negeri Brobdingnag. Kali ini, Gulliver adalah manusia yang tak lebih besar daripada serangga diantara para raksasa yang menghuni Brobdingnag. Dengan ukuran sekecil itu, nyawa Gulliver terancam. Namun di tangan seorang gadis kecil anak petani yang merawat dan menjaganya dengan penuh kasih sayang, Gulliver dapat merasa aman. Gadis kecil yang dipanggil Glumdalclitch alias “perawat kecil” itu memberi nama Grildrig (yang artinya manekin) kepada Gulliver. Gulliver merasakan hari-hari yang melelahkan saat dipamerkan di kota, sampai suatu hari utusan dari istana datang dan membawa Gulliver beserta perawat kecilnya ke istana. Karena Gulliver terlalu kecil untuk memakai barang-barang yang ada di Brobdingnag, sebuah kotak kecil diciptakan sebagai “rumah” sekaligus alat untuk membawanya kemana-mana. Selama di Brobdingnag, Gulliver mengalami banyak hal termasuk kejatuhan embun yang berukuran hampir seribu delapan ratus kali ukuran embun Eropa, yang menyebabkan tubuhnya memar dan harus tinggal di tempat tidur selama sepuluh hari. Selama di Lilliput maupun Brobdingnag, Gulliver mempelajari bahasa, kebiasaan masyarakat setempat, sejarah, seni, dan juga sistem pendidikan yang berlaku di negara mereka. Apakah Gulliver bisa pulang kepada istri dan anak-anaknya setelah mengalami petualangan-petualangan tak terbayangkan di Lilliput dan Brobdingnag? Jawabannya adalah ya! Ia kemudian bepergian ke tempat-tempat aneh lain, yang sayangnya tidak ikut diterjemahkan dalam buku ini. Di balik empat perjalanan Gulliver, tersimpan satir tajam untuk pemerintahan Inggris dan Eropa pada masa itu. Terjemahan yang digarap Zuniriang Hendrato dalam buku ini tidak buruk, namun sayangnya editing dan proofreadingnya masih “longgar” dalam banyak bagian. Karena cerita Gulliver’s Travels sangat menarik dan mudah dibaca, maka empat bintang untuk buku ini.

“…aku dapat melihat bahwa mustahil seseorang dipertimbangkan secara serius bila ukuran tubuh mereka sangat berbeda. Aku sering memperhatikan hal ini juga terjadi di Inggris setelah kepulanganku. Bila seseorang berusaha untuk membuat dirinya sendiri penting, namun ia hanya berasal dari keluarga biasa dengan sedikit uang dan pendidikan, maka ia hanya akan dilihat sebagai orang tolol. Ia juga akan menjadi bahan tertawaan.”

Tentang Pengarang:

Jonathan Swift lahir di Dublin, Irlandia pada tanggal 30 November 1667. Setelah mengecap berbagai karir; sebagai sekretaris seorang politisi, menjadi pastor, kemudian editor jurnal politik, pada tahun 1714 ia diangkat menjadi Kepala Katedral St. Patrick di Dublin. Karyanya yang paling terkenal, Gulliver’s Travels yang terbagi menjadi empat bagian kisah perjalanan Lemuel Gulliver, pertama kali diterbitkan pada tahun 1726. Swift dikenal sebagai penentang kekerasan dalam segala bentuk. Fiksi dan satir digunakannya untuk menarik perhatian terhadap masalah politik pada masanya. Ia meninggal dunia pada tahun 1745.

Detail buku:

Gulliver’s Travels: Perjalanan Gulliver ke Negeri Liliput dan Negeri Brobdingnag (judul asli: Gulliver’s Travels: A Voyage to Lilliput and A Voyage to Brobdingnag), oleh Jonathan Swift
127 halaman, diterbitkan tahun 2007 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1726)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Review in English:

Gulliver’s Travels is so far the most interesting classic adventure I have ever read. Not just because of the idea of journeys to strange and desolate places, but because of Jonathan Swift’s writing style that is realistic and rich with details. Gulliver’s Travels, the most famous work by Jonathan Swift, is divided into four parts: A Voyage to Lilliput; A Voyage to Brobdingnag; A Voyage to Laputa, Balnibarbi, Luggnagg, Glubbdubdrib, and Japan; and A Voyage to the Country of the Houyhnhnms. But unfortunately, the edition I read only covered two parts: A Voyage to Lilliput and A Voyage to Brobdingnag. I would love to read the other two parts too! (And I don’t let myself to read the synopsis of the other two parts, because that, I think, would spoil the fun! :p)  About Jonathan Swift (1667-1745) : he was an Irish author, clergyman and satirist. He used fiction and satire to attract people into the political situations in his era.

Note: Okay this review is very brief, but I seriously think that Gulliver’s Travels is the type of book that you should read with knowing almost nothing about it at first. Because I really enjoyed this book, therefore, four stars.

14th review for The Classics Club Project

Anna Karenina – Leo Tolstoy, Simplified Version

[Review in Bahasa Indonesia and English]

Berangkat dari kehidupan pernikahan yang tidak bahagia, wanita bangsawan yang cantik dan cerdas Anna Karenina terpikat oleh pesona Count Vronsky, seorang perwira militer yang gagah dan tampan. Mereka pun jatuh dalam perzinahan, sesuatu yang juga dilakukan Oblonsky, kakak laki-laki Anna, terhadap istrinya Dolly. Cerita bergulir dengan menguraikan perkembangan hubungan Anna dan Vronsky, bagaimana mereka memutuskan untuk hidup bersama meskipun Anna belum bercerai dari Karenin, suaminya. Juga pergumulan Anna yang rindu agar putranya, Seriozha, hidup bersamanya dan Vronsky. Dan salah satu hal yang terpenting adalah keteguhan hati Anna yang bertekad tetap memunculkan diri di tengah masyarakat walaupun secara sosial ia telah dikucilkan dan segala pembicaraan tentangnya selalui bernafaskan sentimen negatif. Sampai akhir cerita, Anna berjuang menghadapi segala situasi yang menghimpitnya—sampai pada suatu titik ia memutuskan bahwa ia tidak sanggup lagi.

Kisah tragis Anna dalam Anna Karenina yang dibingkai dalam setting Rusia abad ke-19 ini langsung disandingkan oleh penulis Leo Tolstoy dengan kisah Levin, sahabat Oblonsky, yang meskipun mengalami berbagai hambatan di awal hubungannya dengan perempuan yang dicintainya, Kitty, namun akhirnya mereka menikah dan menjalani kehidupan yang bahagia. Saya membaca versi simplified (disederhanakan) dari Anna Karenina ini karena ingin sekedar mengetahui jalan ceritanya, mumpung versi terbaru filmnya yang dibintangi Keira Knightley sedianya akan mulai tayang November nanti. Beberapa hal yang bisa saya pelajari dari versi sederhana Anna Karenina ini:

1. Pernikahan yang tidak didasari dengan cinta adalah sumber masalah. Pada zaman novel ini ditulis, memang pernikahan yang demikian lazim terjadi, sehingga Tolstoy mengangkat isu ini ke dalam suatu karya tulis yang menunjukkan apa akibatnya jika suatu pernikahan tidak didasari dengan cinta.

2. Deretan karakter dalam novel ini begitu manusiawi. Ambil saja contoh Anna. Pada satu sisi, keteguhan Anna patut diacungi jempol. Sebagai heroine (tokoh utama wanita) yang tidak biasa dalam sebuah novel, Anna memilih untuk berpegang pada prinsipnya sendiri dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, walaupun masyarakat dan keadaan di sekitarnya tidak merestui. Anna juga bukanlah orang yang bebal, saat ia tengah sekarat pun ia memohon pengampunan dari Karenin, suaminya. Dan Karenin, walaupun digambarkan sebagai seorang pria yang kaku dan dingin, memaafkan Anna begitu rupa sampai-sampai saya berandai-andai akan bagaimana jadinya kalau Anna dan Karenin saling mencintai.

3. Ketika memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan seseorang, cinta saja tidak cukup. Perlu ada pengabdian terhadap orang tersebut dan pengorbanan akan kepentingan-kepentingan pribadi. Dua hal ini adalah perwujudan yang lebih sempurna dari perasaan cinta. Sehingga ketika pasangan hidupmu tidak lagi rupawan ataupun menyenangkan, anda tetap akan berada di sisinya, tidak peduli apapun yang terjadi.

“Aku akan selalu mencintaimu, dan jika seseorang mencintai orang lain, ia akan mencintai keseluruhan dari orang itu apa adanya dan bukan hanya apa yang ia sukai dari orang itu.”

*

Tiga bintang untuk Anna Karenina yang meskipun dalam versi telah disederhanakan, tetap banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Apakah suatu saat nanti saya akan membaca Anna Karenina versi unabridged yang setebal bantal itu? Well, why not? 😉

Baca juga: ulasan karakter Anna Karenina

 

Detail buku:
Anna Karenina, oleh Leo Tolstoy
198 halaman, diterbitkan tahun 2005 oleh Penerbit Narasi (pertama kali diterbitkan tahun 1877)
My rating: ♥ ♥ ♥


Review in English:

This is a short review of the simplified version of Anna Karenina. Why the simplified version, you might ask? Well, I found it at a book fair the other day and I was just curious with the storyline of Anna Karenina, I thought that at least I should have read the simplified version before the recent adaptation is out next November. So I bought it and read it within 2 days only (it’s only 198 pages thick). And what I got was the tragic story of Anna, an attractive young woman living in the high society of 19th century Russia. Sick and tired of her cold and boring husband Karenin, Anna seek solace in the arms of a handsome young officer named Count Vronsky. As their affair was going on, Anna still was troubled by her love for her son and Karenin’s, Seriozha. Anna wanted Seriozha to live with her and Vronsky, but Karenin, still wasn’t divorcing Anna, wouldn’t let Seriozha go. In the meantime, Anna was secluded from society as a form of punishment for her act of adultery with Vronsky. But being a rather unusual heroine, Anna was determined to keep her place in society, even though her presence was unwanted and disdained.

The oh-so-glamorous trailer of Anna Karenina (coming up December 2012)

Even though this was only a simplified version, there are a lot of moral values I can take from Anna Karenina. First, marriage without love is the source of trouble. Second, the characters of this novel were so human with their flaws. I was especially impressed in Anna’s determination to live her life in her own way, no matter how disgraced her life was, no matter what society said and think of her. The moment when Anna was dying and begging for forgiveness from Karenin drove me to tears and I wished that she loved her husband instead, so that any of the terrible things wouldn’t happen to her! But hey, there wouldn’t be the Anna Karenina we all know today if she did. Lastly, when you decided to spend your life with someone, love is not enough. You need to devote yourself to your partner and sacrifice your personal matters, so that one day if your partner is no longer pretty or nice, you will still be at his/her side and never leave no matter what happens. So, I gave three out of five stars for the simplified version of Anna Karenina. Will I read the unabridged version someday? Well, why not? I’m honestly tempted to do so.

11th review for The Classics Club Project, 7th review for The Classic Bribe