Real Short Review: Perempuan di Titik Nol


“Kembali ke rumah Ayah, saya memandang dengan hampa pada tembok-tembok dari tanah liat, bagaikan orang asing yang belum pernah masuk ke tempat ini. Saya melihat sekeliling hampir-hampir keheranan, seakan-akan saya tidak lahir di situ, tetapi tiba-tiba terjatuh dari langit, atau muncul entah dari mana dari dalam perut bumi, menemukan diri saya di suatu tempat di mana saya tidak termasuk di rumah yang bukan milik saya, lahir dari seorang ayah yang bukan ayah saya, dan dari seorang ibu yang bukan ibu saya.

Apakah itu karena cerita Paman tentang kota Kairo, tentang rakyat penghuni kota itu yang telah mengubah saya? Apakah saya benar-benar anak perempuan ibu saya, apakah ibu saya seorang yang lain pula? Apakah saya dilahirkan sebagai anak ibu saya dan berubah menjadi seorang yang lain? Ataukah ibu saya telah mengubah dirinya menjadi seorang perempuan lain yang sangat mirip dengannya, sehingga saya tidak dapat melihat perbedaannya?”

Duh, maap beribu maap, buku ini memang bukan buat saya. Ceritanya sebenarnya menarik, tapi saya nggak tahan dengan gaya menulis Saadawi. Narasi panjang-panjang memenuhi seluruh buku, belum lagi ada beberapa frase yang diulang, misalnya “cincin yang teramat putih di sekitar dua lingkaran yang hitam pekat”. Feminisme yang digaungkan di buku ini juga nggak terlalu sesuai dengan diri saya. Sudah berusaha untuk menikmati buku ini, tapi gagal. So sorry. –“

Detail buku:
“Perempuan di Titik Nol” (“Woman at Point Zero”), oleh Nawal El Saadawi
156 halaman, diterbitkan 2002 oleh Yayasan Obor Indonesia
My rating: ♥

Advertisements