Favorite Actor: Matthew Macfadyen

Don’t worry, this post is still bookish. I won’t post anything that doesn’t have anything to do with books here.

My favorite actor, Matthew Macfadyen, has played at least 7 different roles in classic literature adaptations. Of course I first knew him (and fell in love at first sight too, as I imagine many females out there did as well) in an adaptation of Jane Austen’s most renowned work; Pride and Prejudice (2005, directed by Joe Wright).

Many have said that he brought a whole new and fresh package of Mr. Darcy for this generation. Many have compared his portrayal of Mr. Darcy and Colin Firth’s. Proud, excessively rich, and judges people rather hastily and harshly, but turns out to have a loving heart deep inside, the character Mr. Darcy remains an archetype for romantic heroes in literature until today.

As Fitzwilliam Darcy in Pride and Prejudice (2005)

Oh, do I need to say more? He and Keira Knightley (as Elizabeth Bennet) shared amazing chemistry in this film. The cinematography was done beautifully. I found so many little things that made me smile, like *spoiler alert* when Lizzie met Georgiana Darcy for the first time, Darcy looked at her (Lizzie) so endearingly and then realized that his sister gave him an innocent smiling look as if she’s going to say, “oh-just-show-her-how-much-you-like-her-dear-brother”. His endearing expression disappeared instantly and he abruptly changed the subject of the conversation at the moment. *spoiler ends*

Back at 1998, he starred in a Wuthering Heights TV movie as Hareton Earnshaw. Jeez! That depressing nasty work by Emily Brontë! I don’t remember much about Hareton, except that he was uneducated and ended up with his cousin. But with this Hareton… ummmmm… I somehow lost words. 😀

As Hareton Earnshaw in Wuthering Heights (1998)

A few years later, in 2001, he transformed into a nineteenth-century Victorian bad boy called Sir Felix Carbury. Carbury is one of the characters in Anthony Trollope’s The Way We Live Now. In this BBC TV miniseries he flirted badly with Shirley Henderson (this generation recognizes her as Moaning Myrtle in Harry Potter franchise). He was hilarious in this 4-episode miniseries.

As Sir Felix Carbury with his mother and sister in The Way We Live Now (2001)

Post-Pride and Prejudice, he made a comeback to period drama in an adaptation of Charles Dickens’ work, Little Dorrit in 2008. In this 14-episode BBC TV miniseries he played the protagonist character Arthur Clennam, a kind-hearted businessman with mysterious family secrets. I love the character Arthur Clennam and loved how he was brought to reality by Matthew, this role just showed another side of Matthew’s acting, the softer and gentler side.

As Arthur Clennam in Little Dorrit (2008)

Even though it is really long and confusing sometimes, I enjoyed the miniseries so much. It was rich with wit and many colorful characters. I even wrote a review of the miniseries (in Bahasa) here.

In 2010 Matthew acted alongside Russell Crowe in Ridley Scott’s Robin Hood. Sheriff of Nottingham was a disturbingly small role and I don’t like how he looked in this film. Nuff said. 😀

As Sheriff of Nottingham in Robin Hood (2010)

Just last year in 2011, Alexandre Dumas’ The Three Musketeers was adapted in an almost-modern, full-action version by director Paul W.S. Anderson. Matthew was Athos, the leader of the three (four actually) main musketeers in this film. Betrayed by a loved one in the past, the melancholic Athos was played very charismatically by Matthew. I settled to enjoy the movie as an action film in fancy period costumes rather than as a classic literature adaptation.

As Athos in The Three Musketeers (2011)

Lastly, in this year’s awaited classic adaptation of Anna Karenina by Russian author Leo Tolstoy, Matthew starred as Prince Stiva Oblonsky, Anna’s unfaithful older brother. He reunited with Keira Knightley and director Joe Wright in this film, this time as a brother of Keira’s character, instead of a lover. I’m excited to see this film soon, because the trailer showed how grand and glamorous the movie will be (why November has to be months away? Why? Why?) even though I’m certain that I’m not going to like how he looked in the movie.  (That ridiculous, monstrous mustache! Ugh!) But hey, an actor’s gotta do what an actor’s gotta do, right?

As Prince Stiva Oblonsky, with Keira Knightley (as Anna) in the upcoming Anna Karenina (2012)

That was all of it. I’m eager to watch his other movies that aren’t adaptations of classic literature too, especially The Pillars of the Earth miniseries (2010). And I long to see more of Matthew in the future! 😉

One look to leave me breathless… 🙂

IMDb Links:

Wuthering Heights (TV movie, 1998)
The Way We Live Now (TV mini-series, 2001)
Pride and Prejudice (2005)
Little Dorrit (TV mini-series, 2008)
Robin Hood (2010)
The Three Musketeers (2011)
Anna Karenina (2012)

Advertisements

Scones and Sensibility – Lindsay Eland

Saya ingin menampar Polly Madassa!

Yap, Polly Madassa, seandainya ia benar-benar nyata, pasti adalah gadis dua belas tahun paling menyebalkan di muka bumi. Dia kira dia sudah mengetahui semuanya tentang cinta dengan membaca Pride and Prejudice serta Anne of Green Gables berulang kali. Ia kecanduan segala sesuatu yang berbau romantis, setiap kata yang ia ucapkan (atau pikirkan) selalu berbunga-bunga dengan kata-kata seperti “indah”, “cantik”, “molek”, “anggun”, dan sebagainya.

Sebagai gadis muda yang salah abad, Polly lebih suka mengenakan gaun daripada t-shirt dan jeans, senang menulis dengan pencahayaan lilin menggunakan pena bulu daripada bolpoin, dan lebih memilih mesin tik daripada komputer.

Polly, yang bekerja membantu mengantarkan kue-kue selama musim panas untuk toko roti antik orangtuanya, merasa bahwa sudah panggilan hidupnya untuk membantu kehidupan percintaan orang-orang terdekatnya. Ia jengah melihat kakaknya, Clementine, yang berpacaran dengan cowok bernama Clint, yang menurutnya, kasar dan sama sekali tidak gentleman. Ia sedih melihat sahabat baiknya, Fran Fisk, dan ayahnya, yang telah hidup selama tiga tahun tanpa kehadiran sosok seorang ibu dan istri. Juga ada Mr. Nightquist, seorang kakek dari cucu lelaki yang nakal, yang telah lama ditinggal mati istrinya.

Maka Polly pun mulai menyusun rencana dan mencarikan “kandidat-kandidat” yang cocok bagi Clementine, Mr. Fisk, serta Mr. Nightquist. Yang masuk dalam kriterianya adalah orang-orang yang berpenampilan menawan dan “berbudaya”, kurang lebih seperti Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tokoh-tokoh dalam novel yang telah berulang kali dibacanya. Polly menganggap bahwa segala rencananya akan berjalan lancar, dan semua orang yang dijodohkannya akan “mereguk kebahagiaan cinta yang teramat manis”. Polly sama sekali tak sadar bahwa semua yang dilakukannya bisa mengarah kepada bencana…

###

Sayang sekali, saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai buku ini. Saya sudah membaca Pride and Prejudice yang menjadi “kitab suci” bagi Polly dan saya tidak menyukainya. Bagi saya karakter Elizabeth Bennet terlalu dangkal karena ia menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya dan bagaimana ia membawa dirinya. Hey, orang-orang yang rupawan tak selalu jujur dan baik hati. Dan sebagian orang paling baik di dunia tidak tahu cara membawa diri dengan ramah dan ceria di tengah-tengah orang banyak. Keramahan dan keceriaan bisa saja palsu. Polly, menurut saya, sama dangkalnya dengan Elizabeth. Karena ia dengan terburu-buru menilai seseorang sebelum benar-benar mengenal orang itu. Dan ia juga tidak mengerti bahwa sesuatu yang romantis itu relatif, tergantung pada tiap-tiap orang. Sebagian besar juga karena ia mengira ia tahu yang terbaik bagi orang-orang tercintanya.

Nilai moral dari cerita ini adalah, lebih baik tidak usah ikut campur dalam kehidupan cinta orang lain. Anda juga pasti tidak mau kalau ada orang yang melakukan itu kepada anda. Satu bintang saya berikan untuk gaya penulisan Lindsay Eland yang berhasil memadukan gaya bahasa buku-buku klasik dengan setting masa kini, dan sukses membuat saya sebal (dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh Mbak Uci) dan satu bintang lagi untuk nilai moral yang diberikan buku ini.

Detail buku:

“Scones and Sensibility”, oleh Lindsay Eland
308 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥

Pride and Prejudice – Jane Austen

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”


Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.

Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda-beda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.

Suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet yang sangat ingin anak-anak perempuannya segera menikah, terutama si sulung Jane, begitu bersemangat mendengar kedatangan Mr. Bingley. Kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.

Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy. Pada bagian akhir cerita, ketika suatu masalah pelik menimpa keluarga Bennet, akhirnya Elizabeth pun dapat melihat kebaikan yang tersembunyi dalam diri Mr. Darcy, dan juga mulai membuka hatinya terhadap pria itu.

###

Saya banyak menyenangi novel-novel klasik, dan meskipun bukan penikmat roman, saya sangat menikmati membaca Jane Eyre karangan Charlotte Bronte. Ketika memutuskan membaca Pride and Prejudice, karya paling terkenal dari novelis roman ternama Jane Austen, saya berharap banyak bahwa novel ini, setidaknya, akan sebagus Jane Eyre. Ternyata saya sangat kecewa setelah membacanya. Isi Pride and Prejudice sangat mencerminkan judulnya (yang bila diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berarti Harga Diri dan Prasangka), diuraikan penulis menjadi 585 halaman dalam versi terjemahan Indonesianya. Ceritanya, walau tidak bisa dibilang beralur lamban, namun datar-datar saja, cenderung hambar, tanpa ada konflik yang berarti, dan sangat mudah ditebak. Kebanyakan hanya berkisah tentang kunjungan Mr. X ke tempat Y, pesta di Z, dan tokoh-tokoh yang mengagumi rumah yang mereka kunjungi, melontarkan pujian untuk entah taman atau perabotnya, dan tentu saja percakapan-percakapan panjang nan ngalor ngidul yang terjadi antar tokohnya. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”

Hal yang menarik mengenai Pride and Prejudice bahwa di Indonesia ini ada tiga penerbit yang hampir secara bersamaan merilis versi terjemahannya. Yang pertama adalah penerbit Bukune, yang kedua Qanita (Mizan Group) yaitu versi yang saya baca ini, dan yang terakhir Gramedia Pustaka Utama, yang sedianya akan terbit pertengahan tahun 2011. Tertarik membandingkannya? Kalau saya sih, jujur, angkat tangan. Nyerah. ;-P

Detail buku:
“Pride and Prejudice”, oleh Jane Austen
585 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating : ♥ ♥