Book Kaleidoscope 2014: Favorite Books

book-kaleidoscope-2014-button

Two historical fiction books, one history book, one modern classic and one Victorian classic, here are my top 5 favorite books of 2014:

#5. Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSC

The only Indonesian fiction in this list, Pulang (“Going Home” in English) connects three historical events: 1965 tragedy in Indonesia, 1968 student revolution in Paris, and May 1998 riots in Indonesia. This book is emotional and beautifully written. I rarely read Indonesian literature, but a few books that I have read – usually they contain historical and cultural themes – made me want to read more and to refresh my memory of Indonesian history.

#4. Silence – Shusaku Endo

silence

This book attempts to convey the great question of faith; if your faith in God is being challenged, or even persecuted, what will you do? Of course you will try with all your strength to keep your faith. But what if it will cause someone else to suffer? Sebastian Rodrigues is a Jesuit pastor who does missionary work in Japan. As he endured persecution and watched the members of his congregation being tortured as the result of his refusal to deny Christianity, he cried to God to take action, to end His people’s suffering—but He kept silent. This book is vividly written, thought-provoking and it possesses the ability to shake your spirituality.

 #3. The Giver – Lois Lowry

the giver

To think of a world that everything is carefully planned, meticulously ordered… so perfect it hurts. There is no difference, no jealousy, and no emotion in Jonas’s world. There is no love, only Sameness. Then Jonas was chosen to be a Receiver of Memory, and he saw, heard, and felt everything that was hidden before. All I could think after reading this book is: the world could have been a completely different place. Even though now we live in a world that suffers from war, injustice, famine, and terror, we still have love. If that’s not something to be grateful for, then what should be? I read this book in Indonesian translation, but I intend to read it in English soon.

 #2. The Professor and the Madman – Simon Winchester

professor and madman

The only non fiction on this list—but with a taste of fiction. This book tells the extraordinary tale of the people behind the making of Oxford English Dictionary, especially about two men: Professor James Murray and Dr. W. C. Minor. As Professor Murray led a team to collect entries for the dictionary, he realized that one Dr. W. C. Minor submitted more than ten thousand entries. Fascinated, Professor Murray then decided to pay Dr. Minor a visit. From there readers are being told about Minor’s long history: as an American Civil War veteran, as a genius, as a murderer and as an inmate of an asylum. I was lost easily in the story and forgot that this is a history book, not fiction. If only all history books are written in the way Simon Winchester wrote this book :).

 #1. Jane Eyre – Charlotte Bronte

jane eyre

Jane Eyre is one of my all-time favorite, it is a tale of a modest but strong-willed governess who found her equal in the form of her eccentric master, Mr. Rochester. I personally think this book as a parade of strong characters, Jane and Rochester being in the front row. I adore Jane’s qualities; that she desires more of the world than the 19th century society allow women to have, that she holds integrity in the face of making a tough decision, and that she doesn’t cease to love Mr. Rochester even after the incident that disabled him. On my first reading of Jane Eyre, I didn’t like Mr. Rochester and thought him insufferable—but then when reading it for the second time; I was able to put his character in a different light. I pitied him for what happened in his past—it still haunts him long after—and then he met Jane, which was the best thing that could have happened to him. Jane completes him, makes him a better man. He loves her in return, offered her an affectionate home that she never had before. They are just… the perfect couple, even though neither of them is perfect. This book has everything I love in a passionate romance, and it doesn’t even have any sex scenes (perhaps the author purposefully left that out to leave some space for the readers’ imagination). I will love this book for ever, and reread it once every 3 or 5 years, if possible. 🙂

Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSCDalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

Belum banyak buku fiksi Indonesia yang saya baca, tapi mungkin Pulang adalah salah satu yang terbaik. Cerita mengalir begitu saja dan terasa nyata sehingga saya lupa kalau saya sedang membaca novel. Diksinya indah, blak-blakan di beberapa bagian, dan saya bisa sungguh-sungguh merasakan keberadaan dan emosi para karakter utama. Saya suka betapa novel ini begitu Indonesia (termasuk pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget), padahal banyak petikan percakapan dalam bahasa Prancis juga. Saya suka Dimas Suryo yang doyan melahap literatur klasik, sesuatu yang juga ia tularkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya yang membuat novel ini kurang lengkap, mungkin, adalah film dokumenter karya Lintang yang tidak disebut-sebut lagi pada akhir buku. Saya sangat ingin menonton film itu. Nah, saya sudah bilang tadi kan kalau saya lupa kalau Pulang hanya sebuah novel? Bagi yang ingin mencoba baca buku ini, jangan takut karena buku ini “kelihatan” berat, sebenarnya nggak seberat itu kok.

Rasanya sulit sekali untuk menunjukkan di dalam review, apa yang membuat buku ini begitu bagus di mata saya. Walaupun buku ini kental nuansa romance-nya, bagi saya itu tak menjadi masalah karena konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini. Yang jelas, novel ini membuat saya makin mencintai Indonesia. Novel ini membuat saya ingin menelusuri kembali sejarah Indonesia, walaupun mungkin apa yang saya baca tidak bisa mutlak dipercayai sebagai suatu kebenaran.

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2014 tema Historical Fiction Indonesia


Detail buku:

Pulang, oleh Leila S. Chudori
464 halaman, diterbitkan Desember 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥