Beyond Sherlock Holmes – Muthia Esfand

beyond sherlock holmesSaya harus mengakui bahwa yang menjadi ide disusunnya buku ini sangat menarik. Apakah para pengarang kisah detektif terkenal sehebat tokoh-tokoh fiksi yang mereka ciptakan dalam memecahkan suatu kasus misteri? Apakah mereka juga pernah terlibat langsung dalam suatu kejadian misterius sehingga dapat menuangkannya dengan begitu piawai di atas kertas?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memenuhi benak penyusun buku Beyond Sherlock Holmes: Kisah Nyata Penulis Detektif Dunia Memecahkan Kasus Hukum sehingga buku ini bisa hadir di tangan pembaca. Ada tujuh kasus yang disorot dalam buku ini, masing-masing melibatkan nama-nama pengarang novel detektif terkenal dunia, antara lain:

Sir Arthur Conan Doyle dan Misteri Pembunuhan di Queens Terrace

Seorang perempuan kaya berusia senja ditemukan tewas di flatnya karena dipukul benda tumpul. Kasus ini membingungkan semua orang karena Miss Gilchrist tua dikenal sebagai kolektor perhiasan mewah, namun ketika peristiwa pembunuhan terjadi, benda yang hilang hanyalah sebuah bros permata kecil bersama beberapa dokumen penting. Apa yang menjadi motif pembunuhan ini? Dan siapa pelakunya? Sir Arthur Conan Doyle kemudian melibatkan diri dalam pemecahan kasus ini dengan berusaha membuktikan bahwa terdakwa yang ditangkap polisi atas kasus ini sebenarnya tidak bersalah.

Misteri 11 Hari Menghilangnya Agatha Christie

Bagi para penggemar Agatha Christie, kasus ini pastilah menjadi salah satu detail mengenai kehidupan Agatha Christie yang paling sensasional sekaligus misterius. Suatu pagi di musim dingin tahun 1926, mobil Mrs. Christie ditemukan di sekitar daerah Guildford, sebelah barat daya London, oleh seorang pemuda gipsi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pengemudi mobil. Peristiwa menghilangnya Queen of Crime ini menghebohkan seantero Inggris sampai 15.000 orang relawan ikut sibuk membantu aparat polisi mencari Mrs. Christie, demi imbalan 100 poundsterling. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Agatha Christie merilis salah satu novel terbaiknya, The Murder of Roger Ackroyd. Banyak pihak kemudian berasumsi bahwa peristiwa menghilang ini hanya akal-akalan promosi supaya novelnya semakin laris.

Sir Arthur Conan Doyle dan Skandal Great Wryley

Tahun 1906 boleh dibilang adalah tahun vakum bagi Conan Doyle. Saat itu beliau lebih sibuk mencoba menggali kasus George Edalji, seorang pengacara keturunan India yang dipenjarakan karena tuduhan membunuh dan memutilasi sejumlah hewan ternak pada tahun 1903. Berkat petisi yang ditandatangani sepuluh ribu orang, Edalji akhirnya hanya menjalani tiga tahun dari hukuman yang semestinya berlangsung tujuh tahun. Namun nama baiknya tidak dipulihkan dan ia tidak bisa meneruskan karir sebagai pengacara. Conan Doyle, yang percaya bahwa pria itu tidak bersalah, berusaha mengumpulkan fakta yang dapat membersihkan nama Edalji.

PD James vs. Dorothy L. Sayers: Pembunuhan Brutal di Anfield

Pembunuhan misterius pada kenyataannya dapat terjadi dimanapun, bahkan dalam rumah “bermartabat” yang ada di Anfield, Liverpool. Kasus pembunuhan brutal Julia Wallace di dalam rumahnya sendiri adalah salah satu kasus yang sampai saat ini tidak terpecahkan. Suami Julia, William Herbert Wallace, ditetapkan menjadi tersangka utama pembunuhan tersebut, namun ia akhirnya dibebaskan melalui banding. Dua orang pengarang novel misteri, Dorothy L. Sayers dan PD James,  menulis analisis versi masing-masing yang mencoba memecahkan kasus ini.

Patricia Cornwell dan DNA Sang Pencabik

Jack the Ripper adalah sosok pembunuh sadis yang sampai saat ini namanya masih membuat bulu roma meremang. Betapa tidak, setelah membunuh korbannya, pembunuh yang beroperasi di Distrik Whitechapel di London tahun 1800-an ini selalu mencabik lalu mengambil satu atau beberapa organ tubuh korbannya. Yang masih menjadi misteri, siapakah sesungguhnya Jack the Ripper? Banyak orang saling berlomba untuk menyelidiki jati diri Sang Pencabik. Salah satunya adalah pengarang novel kriminal Patricia Cornwell. Yang dilakukan Cornwell tidak tanggung-tanggung, ia membeli beberapa lukisan dengan obyek Jack the Ripper untuk melakukan tes DNA. Ia mencurigai bahwa sang pelukis, Walter Sickert, adalah Jack the Ripper.

Edgar Allan Poe dan Kasus Ganjil Mary Rogers

Yang ini adalah salah satu contoh kasus nyata yang kemudian “difiksikan”. Si cantik Mary Rogers yang tinggal di New York, pernah menghilang dua kali, yakni pada tanggal 4 Oktober 1838 dan 25 Juli 1841. Kalau pada peristiwa menghilang yang pertama kali Mary kembali tanpa cacat, pada peristiwa menghilang yang kedua ia baru ditemukan 3 hari kemudian, terapung di sebuah sungai dalam keadaan tak bernyawa. Publik langsung mencurigai bahwa Daniel Payne, tunangan Mary sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Namun kecurigaan ini patah ketika Daniel ditemukan tewas bunuh diri beberapa bulan setelahnya. Kasus yang tidak pernah terpecahkan ini kemudian difiksikan oleh Edgar Allan Poe dengan judul The Mystery of Marie Rogêt, diterbitkan tiga seri dalam majalah Snowden’s Ladies’ Companion tahun 1842-1843.

Steve Hodel dan Kasus Horor Black Dahlia

Pembunuhan sadis dan wanita cantik adalah kombinasi yang bisa menggegerkan seluruh negeri. Kali ini yang menjadi korban adalah Elizabeth Short, seorang aktris cantik yang mayatnya ditemukan tanpa busana dan terpotong menjadi dua bagian. Konon julukan “Black Dahlia” berasal dari berita yang mengatakan bahwa pakaian terakhir yang dikenakan Elizabeth Short adalah rok mini ketat dan blus tipis. Bertahun-tahun kemudian, kasus ini diselidiki ulang oleh Steve Hodel, yang adalah putra dari George Hodel yang pernah menjadi tersangka pembunuh Black Dahlia.


Saya sebenarnya bukan penggemar berat novel detektif. Saya hanya pernah membaca satu kumpulan cerita Sherlock Holmes, dua judul novel Agatha Christie, dan beberapa novel detektif lain, misalnya karya Jeffery Deaver dan The Cuckoo’s Calling-nya Robert Galbraith alias. J.K. Rowling. Namun saya mengakui membaca novel detektif itu mengasyikkan, karena pembaca akan ikut deg-degan saat tokoh detektif jagoan dalam novel berusaha memecahkan sebuah kasus. Belum lagi jika sang pengarang dengan briliannya “menipu” mentah-mentah para pembaca dengan ending yang tak terduga. Nah, buku ini mengupas sisi lain dari para pengarang novel detektif terkenal tersebut, khususnya dalam keterlibatan mereka dalam kasus misterius yang benar-benar pernah terjadi. Membaca buku ini mengasyikkan karena kita diajak menelusuri kasus-kasus tersebut. Buku ini juga dilengkapi dengan salinan dokumen terkait misalnya surat-surat, arsip surat kabar, peta lokasi kejadian, foto korban, foto tersangka, foto TKP, dan sebagainya. Bahkan ada beberapa area kosong yang disediakan bagi pembaca untuk menulis “temuan”. Hanya saja, ada beberapa kekurangan yang saya temukan dalam buku ini:

Halaman 53: “Jumat pagi, 3 Desember 1926, setelah naik ke lantai atas rumahnya untuk memberikan kecupan selamat tidur kepada putri tunggalnya, Rosalind, sekitar pukul 21.45 Agatha Christie terlihat memacu mobil Morris Cowley hijau meninggalkan rumahnya di Styles.” Sebentar, Jumat pagi?

Halaman 120, New York salah ketik menjadi “Ney York”.

Ada beberapa bagian yang membuat saya “salah fokus” alias kenikmatan membaca saya jadi sedikit terganggu:

Halaman 72-73: “Darah yang mengalir dalam diri Sharpuji sepenuhnya darah India-Parsi dan, yeah, nyaris seperti Hermione dalam Harry Potter, ada saja orang-orang yang menganggapnya berstatus ‘darah lumpur’.” Menurut saya penulis dapat menyampaikan maksudnya mengenai status keturunan campur Sharpuji Edalji tanpa harus menyebut-nyebut Hermione.

Halaman 122: “Bayangan Mary mungkin saja mengalami kecelakaan, mulai berkecamuk dalam kepala sang ibu. Itulah luar biasanya seorang ibu, apa-apa yang membuat buah hatinya menderita, dirasakannya dua kali lipat lebih dalam. Beri hormat pada seluruh ibu di muka bumi.Hmmm, dua kalimat yang saya garis bawahi itu kok rasanya tidak pada tempatnya, tidak cocok dengan isi buku ini secara keseluruhan.

Yang terakhir, halaman dedikasi yang letaknya di akhir buku (yang ini bukan kekurangan, sih, hanya aneh saja.)

Selain memperkaya pengetahuan pembaca, buku ini juga menyodorkan fakta bahwa ada banyak sekali kasus yang tak pernah terpecahkan sampai saat ini. Ternyata memang yang namanya misteri tak selalu bisa terjawab!


N.B.: Terima kasih buat Penerbit Visimedia dan bapak peri BBI Dion Yulianto buat kesempatan mereview buku ini. Sekedar informasi, buku ini adalah buku buntelan pertama yang saya terima sejak tahun 2012, dan post ini adalah post review pertama yang saya tulis sejak bulan Februari 2014. So, again, thanks. 🙂


Detail buku:

Beyond Sherlock Holmes: Kisah Nyata Penulis Detektif Dunia Memecahkan Kasus Hukum, oleh Muthia Esfand
158 halaman, diterbitkan 2014 oleh Penerbit Visimedia
My rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSCDalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

Belum banyak buku fiksi Indonesia yang saya baca, tapi mungkin Pulang adalah salah satu yang terbaik. Cerita mengalir begitu saja dan terasa nyata sehingga saya lupa kalau saya sedang membaca novel. Diksinya indah, blak-blakan di beberapa bagian, dan saya bisa sungguh-sungguh merasakan keberadaan dan emosi para karakter utama. Saya suka betapa novel ini begitu Indonesia (termasuk pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget), padahal banyak petikan percakapan dalam bahasa Prancis juga. Saya suka Dimas Suryo yang doyan melahap literatur klasik, sesuatu yang juga ia tularkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya yang membuat novel ini kurang lengkap, mungkin, adalah film dokumenter karya Lintang yang tidak disebut-sebut lagi pada akhir buku. Saya sangat ingin menonton film itu. Nah, saya sudah bilang tadi kan kalau saya lupa kalau Pulang hanya sebuah novel? Bagi yang ingin mencoba baca buku ini, jangan takut karena buku ini “kelihatan” berat, sebenarnya nggak seberat itu kok.

Rasanya sulit sekali untuk menunjukkan di dalam review, apa yang membuat buku ini begitu bagus di mata saya. Walaupun buku ini kental nuansa romance-nya, bagi saya itu tak menjadi masalah karena konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini. Yang jelas, novel ini membuat saya makin mencintai Indonesia. Novel ini membuat saya ingin menelusuri kembali sejarah Indonesia, walaupun mungkin apa yang saya baca tidak bisa mutlak dipercayai sebagai suatu kebenaran.

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2014 tema Historical Fiction Indonesia


Detail buku:

Pulang, oleh Leila S. Chudori
464 halaman, diterbitkan Desember 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Lust for Life – Irving Stone

lust-for-LIFE---smallSeberapa jauh engkau akan berlari demi mengejar panggilan hidup? Vincent Van Gogh (1853-1890) melalui proses yang panjang sebelum menyadari panggilan hidupnya yang sesungguhnya, dan berusaha sampai titik darah penghabisan demi panggilan hidupnya itu, yakni menjadi seorang pelukis. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk melukis, Van Gogh muda sempat menjadi seorang pramuniaga di galeri lukisan Goupil, yang dipimpin oleh pamannya. Namun bukannya menjadi pramuniaga yang baik yang mampu membujuk orang untuk membeli lukisan, Vincent malah dengan terang-terangan menyebut lukisan-lukisan tersebut jelek dan orang-orang yang membelinya sangat bodoh. Kegagalan menjadi seorang pramuniaga lukisan membawa Vincent kepada jalan hidup yang berikutnya, yaitu menjadi seorang pelayan Tuhan mengikuti jejak ayahnya. Vincent kemudian berkutat mempelajari bahasa Latin, bahasa Yunani, aljabar, dan tata bahasa dari seorang pria bernama Mendes da Costa. Beruntung bagi Vincent, Mijnheer da Costa merupakan seorang guru yang sangat bijaksana yang mampu menginspirasi muridnya sekaligus memberikan kebebasan bagi muridnya untuk memilih apa yang hendak ia lakukan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa dirimu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.” – hal. 53

Kata-kata Mendes membuka mata Vincent yang jengah terhadap pendidikan formal yang harus ditempuhnya sebagai pendeta, dan dengan begitu saja pergi kepada Komite Evangelis Belgia yang kemudian menugaskannya ke sebuah desa pertambangan bernama Borinage. Tempat itu dinamakan “desa hitam”, suatu tempat yang suram dan menyedihkan. Vincent mendapati bahwa yang dibutuhkan oleh para penambang yang kotor dan miskin di Borinage lebih daripada firman Tuhan adalah makanan dan pakaian yang layak, serta tempat tinggal yang hangat. Vincent akhirnya memberikan segala miliknya untuk penduduk Borinage, meski kemudian ia sendiri yang harus kelaparan, sakit dan kedinginan.

Menjelang akhir masa tinggalnya di Borinage, Vincent kembali menekuni aktivitas menggambar dan berkat dorongan dari adik terkasihnya, Theo, kali ini Vincent merasa sungguh-sungguh menemukan jati dirinya sebagai pelukis.

“Oh, Theo, selama berbulan-bulan aku berjuang untuk meraih sesuatu, mencoba untuk menggali semua tujuan yang nyata dan arti dari hidupku, dan aku tidak tahu ini! Tapi sekarang ketika aku benar-benar tahu, aku tidak akan patah semangat lagi. Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku.” – hal. 136

Perjalanan panjang kembali dilalui Vincent untuk membuktikan jati dirinya sebagai pelukis. Di Den Haag ia berguru pada Thomas Mauve yang adalah sepupunya sendiri, sementara berbagai pihak mengkritisi lukisannya terlalu kasar dan mentah. Di Paris kemudian Vincent memutuskan untuk mengubah gaya lukisannya menurut aliran impresionis yang memakai warna yang serba cerah dan goresan yang tajam. Semua ini dilaluinya dengan sokongan dana dari Theo. Pindah ke Arles yang panas menyengat, Vincent pun melukis, melukis, dan melukis, sampai-sampai ia menjadi seperti mesin lukis otomatis yang tidak dapat berhenti bekerja.

“Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya. Untuk kehidupan pribadi, dia tidak memilikinya. Dia hanyalah mesin lukis otomatis, buta dengan makanan, cairan, dan cat yang dituangkan setiap pagi, lalu pada malam harinya sebuah kanvas telah selesai dikerjakan. […] Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya. Dia dapat hidup tanpa istri, rumah, dan anak-anak; dia bisa hidup tanpa cinta, persahabatan, dan kesehatan; dia bisa hidup tanpa keamanan, kenyamanan, dan makanan; dia bahkan bisa hidup tanpa Tuhan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya—kekuatan dan kemampuan untuk mencipta.” – hal. 442

Di Arles-lah panggilan hidup Vincent sebagai seorang pelukis mulai menjadi pedang bermata dua. Mungkin ia telah mewujudkan apa yang Mendes da Costa pernah katakan, “pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu”, tapi di sisi lain ia telah bekerja melampaui batas sehingga pelan-pelan kewarasannya terkikis. Saat ia mendekam di rumah sakit jiwa di St. Remy-lah, untuk pertama kalinya Vincent mendengar kabar baik dari Theo: lukisannya yang diberi judul Ladang Anggur yang Merah (The Red Vineyard) terjual dengan harga empat ratus franc. Simak beberapa karya Van Gogh melalui video di bawah ini.

Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh dalam buku setebal 576 halaman ini, saya jadi semakin memahami bahwa hard work really pays off. Kerja keras pasti membuahkan hasil. Dari seorang Vincent Van Gogh saya belajar tentang keyakinan pada diri sendiri bahwa “jika saya merasa bisa melakukannya, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya melakukannya”, juga kegigihan dalam bekerja, dan saya memahami bahwa ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, kalau kita tidak mau menjadi seperti Vincent yang akhirnya “dikonsumsi” oleh pekerjaannya sendiri dan akhirnya kehilangan segala-galanya. Dari adik Vincent, Theo Van Gogh, saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Theo sangat mengasihi kakaknya sehingga ia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menyokong kakaknya, dan bukan hanya itu, Theo tidak menjauhi kakaknya ketika ia mulai sakit mental dan selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara bagi Vincent. Bagi kisah luar biasa yang mengubah cara pandang saya mengenai panggilan hidup dan kasih sayang terhadap sesama ini, saya menghadiahkan lima bintang.

N.B.: buku ini saya baca pada tahun 2013 dan masuk dalam 3 kategori Book Kaleidoscope 2013:

Baca juga: meme Scene on Three yang menggunakan salah satu adegan dalam buku ini.


Detail buku:

Lust for Life, oleh Irving Stone. Penerjemah: Rahmani Astuti, Copy-editor: Anton Kurnia
576 halaman, diterbitkan 2012 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

beekeeperMary Russell baru berusia lima belas tahun ketika ia bertemu dengan Sherlock Holmes untuk pertama kalinya. Dalam suatu pertemuan tanpa sengaja itu Holmes menyadari bahwa ia menemukan “permata yang terpendam”, yakni kecerdasan yang luar biasa yang tak disangkanya bisa ia temukan dalam diri seorang gadis muda. Saat itu Holmes yang sudah pensiun dan sudah memasuki usia paruh baya itu menyibukkan dirinya dengan beternak lebah. Tidak butuh waktu lama bagi Holmes untuk merekrut Mary sebagai muridnya. Mereka mulai bekerjasama dalam menangani berbagai kasus. Kasus yang pertama adalah suami seorang wanita yang tiba-tiba sakit secara mencurigakan, kemudian kasus penculikan seorang putri senator Amerika, dan yang terakhir teror bom yang mengancam nyawa Holmes, Russell, dan juga kawan-kawan dekat Holmes seperti Dr. Watson, Mrs. Hudson, dan juga Mycroft Holmes sehingga mereka harus berpencar ke segala arah demi mengatur strategi menghadapi musuh yang pintar dan licin ini.

[Spoiler Alert!]

Sebagai sebuah novel detektif, buku ini cukup menghibur. Dalam beberapa peristiwa pembaca dapat merasakan simpati yang dalam terhadap karakter Mary Russell yang kehilangan kedua orang tua dan adiknya melalui peristiwa yang sangat mengerikan dan memilukan, dan juga terhadap Sherlock Holmes, yang betapapun brilian otaknya, tetap seorang manusia yang tidak luput dari masa penuaan.

Bagi saya, ide mempertemukan sesosok tokoh detektif selevel Sherlock Holmes yang sudah mencapai usia senior (sekitar 60 tahun) dengan seorang gadis muda pintar yang kemudian menjadi murid dan selanjutnya partnernya—adalah sungguh-sungguh absurd. Namun, event Laurie R. King Read-A-Long yang dihost oleh Fanda bulan lalu membuat saya tertarik untuk membaca buku ini, dan mungkin juga karena faktor covernya yang merah dan mewah.

Dari beberapa novel yang mengambil era Regency (misalnya novel-novel Austen) dan era Victoria, memang pernikahan yang terjadi antara seorang gadis muda dan seorang lelaki yang lebih tua berpuluh-puluh tahun darinya sering terjadi dan mungkin dianggap lazim. Tapi bagaimana dalam setting waktu yang diambil buku ini, yaitu pada tahun 1920-an setelah Perang Dunia Pertama? Bagaimanapun, saya tetap merasa aneh bahwa karakter Mary Russell yang belum genap dua puluh tahun dan Sherlock Holmes yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun bisa memiliki hubungan yang romantis (atau setidaknya dalam buku ini, hampir romantis). Saya akan jauh lebih suka jika Mary Russell murni menjadi murid dan sidekick Sherlock Holmes tanpa membuat mereka menjadi pasangan romantis. Coba bayangkan Mary Russell yang beranjak dewasa memiliki pasangan dan Sherlock Holmes akan berperan menjadi “paman tua yang sok tahu dan selalu ikut campur”. Tak kalah menarik, bukan? Tapi, oh well, saya bukan sang penulis, dan seri ini toh telah diterbitkan sampai buku yang ke-12 (lihat semua serinya di sini).

Satu hal lagi yang saya tidak sukai dari buku ini, adalah adegan saat Holmes ingin mengerjakan sesuatu sendirian dan menolak melibatkan Russell, yang ditanggapi oleh Russell dengan: “Holmes, kau tidak bisa berbuat begini kepadaku. Kau tidak berkata apa-apa kepadaku, kau sama sekali tidak meminta saranku, hanya mendorongku ke sana kemari, mengabaikan segala rencana yang mungkin kumiliki, menyimpan rahasia dariku seakan aku adalah Watson, dan kini kau hendak pergi dan meninggalkanku dengan daftar belanjaan. Pertama-tama kalu menyebutku mitra, lalu kau mulai memperlakukanku seperti pelayan. Bahkan murid magang pun patut diperlakukan lebih baik dari pada itu.” – hal. 280

Dalam adegan yang lain pun Mary Russell menganggap Dr. Watson “tidak berguna” walaupun kemudian ia menyadari bahwa Watson sangat baik hati. Saya bukan pembaca setia seri Sherlock Holmes dan saya tidak tahu seperti apa hubungan Holmes-Watson yang sesungguhnya dalam tulisan Conan Doyle, namun bagi saya karakter Mary Russell dengan terang-terangan merendahkan peran Dr. Watson, and I dislike that. (Iya deh, mungkin ini efek dari terlalu banyak nonton seri Sherlock BBC di mana peran John Watson sangat signifikan bagi partnernya, Sherlock Holmes.)

Di luar hal-hal yang sudah saya sebutkan tersebut, The Beekeeper’s Apprentice tetap sebuah bacaan yang cukup mengasyikkan. Namun maaf sekali kepada Tante Laurie, dalam banyak hal, buku ini not really my cup of tea. Tiga bintang cukuplah buat buku ini.


Detail buku:

The Beekeeper’s Apprentice: Gadis Sherlock Holmes (Mary Russell #1), oleh Laurie R. King
428 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥

Generasi 90an – Marchella FP

Cover Generasi 90an.indd“Masa lalu jangan kita biarkan berlalu, mari kita ungkit-ungkit kembali.” – halaman 4 dari buku Generasi 90an

Sebelum banyak yang protes, saya mau bilang kalau yang layak diungkit-ungkit kembali cuma kenangan yang manis dan indah ya. Yang sedih-sedih mah, lupain aja. 😀

Beruntung banget bagi para generasi 90an (mereka-mereka yang di tahun 90an masih duduk di bangku SD-SMP-SMA), ada seorang “temen seangkatan” yang mau repot-repot menyusun segala tetek bengek memori tahun 90an ke dalam satu buku, untuk satu kegiatan penting berjudul nostalgia.

Buku setebal 144 halaman full color ini mengupas macam-macam hiburan yang hits di tahun 90an, mulai dari tontonan di TV (“What We Watch”), musik (“What We Hear”), fashion (“What We Wear”), bacaan (“What We Read”), sampai segala macam permainan (“What We Play”). Nggak ketinggalan tradisi anak-anak generasi 90an, jajanan, becandaan, dan… yah, masih banyak lagi.

Saya nggak akan merinci masing-masing bab ini membahas tentang apa saja karena itu pasti mengganggu kenikmatan mereka-mereka yang ingin baca buku ini, saya cuma mau meng-capture beberapa poin yang ketika melihat mereka di buku ini, saya langsung ngomong ke diri sendiri: “ini nih aku banget!”

20140131_150827

Pengakuan: yang diatas ini merupakan lima “tersangka” yang selalu bikin saya malas pergi ke sekolah Minggu setiap Minggu pagi. (Yep. True story.) Pada waktu itu saya pengen banget jadi salah seorang ksatria sailor (ganti-ganti antara Sailor Mars dan Sailor Jupiter, karena Mars punya rambut panjang dan seksi sedangkan Jupiter tomboy, persis kayak saya waktu itu :P), dan menurut saya cowok-cowok Saint Seiya itu guanteng banget (yang bisa ngalahin cuma Mamoru Chiba alias Tuxedo Bertopeng, ini sebelum eranya para boyband lho.) Kalo Doraemon, nggak ada matinya sampai sekarang. Remi menarik karena pertama kalinya ada kartun 3 dimensi di TV, dan yang terakhir Dragon Ball, saya doyan juga meski banyak yang bilang itu bukan tontonan anak cewek.

Sebagian besar generasi 90an adalah juga Anak Nongkrong MTV, termasuk saya yang betah banget nongkrongin layar kaca setiap acara MTV Asia ditayangkan oleh Anteve. Hampir semua acara MTV saya tonton, mulai MTV Most Wanted, MTV Ampuh, MTV Asia Hitlist sampe MTV Cribs dan MTV Pimp My Ride. Kalo ada yang nggak saya tonton paling itu MTV Salam Dangdut, hahaha. Nah, kalo gambar yang dibawah ini termasuk senjata andalan penikmat musik di era 90an. Di balik halaman yang saya foto ini ada juga trik merekam lagu ke kaset kosong dari radio atau dari kaset lain. Jaman dulu saya sering banget ngerekam dengan metode ini. 😀

20140131_150845

Ortu saya bolak balik menjadi korban putri remajanya yang masih labil masalah fashion. Ketika item X ngetrend, bagi saya PUNYA itu HARGA MATI. Termasuk barang aneh di bawah ini.

20140131_150912

Nggak paham ini benda apa? Namanya choker tattoo, kalung dari bahan kawat nilon yang nempel ketat di leher dan kalo dipake seakan-akan kayak punya tattoo melingkari leher. Dipake jadi gelang juga bisa.

Untuk masalah komunikasi, telepon umum koin jadi pilihan utama para generasi 90an untuk berhalo-halo ria dengan teman, pacar atau gebetan, atau sekadar nelpon minta jemput dari sekolah. Handphone baru ada yang pake di penghujung era 90an, itupun hanya anak-anak tertentu aja yang punya (yang mampu). Selain itu, ada juga pager, alat komunikasi yang  menjadi inspirasi lagu grup Sweet Martabak yang judulnya Tidit Tidit (Pagerku Berbunyiiii) #MalahIkutNyanyi. Kalo kangen sama lagu ini tonton aja videonya di sini. Pager saya juga sering pake buat request lagu ke stasiun radio favorit (ditambah salam buat ehm, seseorang).

Daaaan masih banyak lagi hal-hal yang menarik dari era tahun 90an. 😀 Banyak hal dalam buku ini yang nggak asal ditambahkan, tapi diambil dari hasil survey para generasi 90an. Akhir kata, membaca buku ini sangat-sangat menyenangkan. Memang membacanya nggak butuh waktu lama, baca langsung di toko buku pun bisa (kalo mau dan tahan dipelototin mbak dan mas SPG tobuk), tapi buku ini sudah dikemas dengan sedemikian lucunya oleh sang penulis, sehingga menurut saya sayang kalo kamu cuma membacanya di toko buku atau pinjam. Lebih baik punya, sehingga lewat gambar-gambar lucu coretan Marchella kamu bisa bernostalgia kapanpun dan dimanapun kamu mau, sendiri atau rame-rame, it’s your choice!

Nah, selamat bernostalgia! 🙂

Buku Generasi 90an plus bonus bookmark dan stickers :)

Buku Generasi 90an plus bonus bookmark dan stickers 🙂

Detail buku:

Generasi 90an, oleh Marchella FP
144 halaman, diterbitkan Februari 2013 oleh POP (lini produk KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

***

A Note to My Secret Santa:

Terima kasih buat Santaku yang baik yang sudah mau membelikan aku buku ini, pake bonus bookmarks lucu-lucu lagi. Jujur saja aku malas beli buku ini karena isinya lebih banyak gambar daripada kata-kata, hehehe. Aku nggak perlu waktu lama untuk menebak siapa dirimu, karena riddle-mu cukup gampang (riddle dari Santa udah saya post di sini), dan sekali googling lalu liat blogmu aku langsung tahu that it’s you! 😀

Dan Santaku adalah:

santa

Si Peri Hutan alias Sulis, intip blognya di Kubikel Romance

Makasih lagi yaaa! :*

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

sktla

Masyarakat modern pada umumnya sudah terjebak dalam pola hidup yang sibuk, serba tergesa-gesa, dan mobilitas tinggi. Semua orang larut dalam peran sebagai “aktor” dalam kehidupan masing-masing. Hampir tak ada waktu untuk berhenti sejenak untuk sekedar menjadi “penonton” atau “pengamat.” Kumpulan cerita pendek bertajuk “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” (SKTLA) ditulis oleh Maggie Tiojakin setelah melakukan riset yang intens, dengan kata lain beliau mengamati kehidupan manusia dan mencatat detail-detail kecil yang sering terlewatkan oleh kita yang sibuk. Melalui SKTLA, Maggie menuturkan kembali pengalaman-pengalaman yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan satu bumbu istimewa: absurditas. Yang dimaksud dengan absurditas adalah hal-hal yang tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Lantas apa hubungan absurditas dengan pengalaman hidup sehari-hari? Bagi Maggie, semua tentang kehidupan adalah hal yang absurd (hal. 237).

Beberapa judul cerita yang berlatar belakang kehidupan sehari-hari dalam buku ini menyoroti pergumulan hubungan suami-istri. Misalnya dalam cerita Kota Abu-Abu (hal. 64), penulis membenturkan ide tentang comfort zone dengan komitmen sepasang suami-istri, Remos dan Greta, untuk terus hidup bersama. Dalam cerita lainnya, Dia, Pemberani (hal. 138), seorang istri bernama Zaleb terpaksa mengalah dan menuruti kehendak Masaai, sang suami, yang candu terhadap olahraga ekstrim. Sampai pada akhirnya harus ada konsekuensi yang dituai dari aktivitas sarat tantangan yang dilakoni Masaai. Ada juga cerita Tak Ada Badai di Taman Eden (hal. 1) yang mengisahkan konflik batin yang dialami Barney dan Anouk, yang telah mengalami satu peristiwa yang menyebabkan mereka tak lagi sehati sebagai suami-istri. Kemudian ada satu cerita kehidupan sehari-hari yang lebih bersifat individual. Cerita yang seakan-akan memindai pikiran seorang karyawan saat ia sedang mengikuti meeting adalah Jam Kerja (hal. 182). Bayangkan pikiran kita yang melanglang kemana-mana setiap harinya. Kemudian bayangkan bahwa pikiran-pikiran kita “ditelanjangi” dan dituangkan dalam kertas dengan sedemikian jujurnya sampai kita merasa malu membacanya.

Cerita-cerita lainnya menyuguhkan situasi yang tidak biasa, yaitu bencana alam, peperangan dan pembunuhan. Batasan kabur antara yang nyata dan yang khayal menjadi daya tarik cerita Lompat Indah (hal. 28). Ahi, seorang pemuda yang terperangkap banjir di atas genteng rumah, menganggap air yang terus naik adalah tangan-tangan ramah yang siap memeluknya. Sementara cerita dies irae, dies illa (hal. 71), memotret gambaran getir pengalaman penduduk sipil dalam kecamuk peperangan. Kengerian dan depresi dalam masa peperangan juga dapat dirasakan pembaca melalui cerita Kristallnacht (hal. 10), yang disajikan dalam bentuk wawancara dengan seseorang yang mengalami langsung peristiwa penyerangan besar-besaran kepada warga Yahudi di Jerman pada tahun 1938. Cerita berjudul Saksi Mata (hal. 92) juga menarik karena menyorot sungguh fatalnya sikap ketidakpedulian manusia.

Masih ada enam cerita absurd lainnya yang lebih membuat geleng-geleng karena tidak bisa diterima akal sehat. Misalnya Fatima (hal. 41) dan Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (hal. 188). Serta lima cerita bonus dalam bahasa Inggris yang diselipkan penulis selayaknya bonus track dalam album musik. Beberapa cerita pendek dalam SKTLA telah diterbitkan dalam majalah/jurnal antara lain Every Day Fiction, Kompas, Postcard Shorts, dan Writers’ Journal.

Mungkin cerita-cerita pendek dalam buku ini hampir sama absurd atau anehnya dengan, katakanlah, cerita-cerita pendek yang biasanya dimuat di koran atau majalah. Namun SKTLA tetaplah salah satu bukti kepiawaian menulis seorang Maggie Tiojakin dalam menyajikan cerita (pendek) yang kaya detail, emosional, dan dalam beberapa cerita penuh aksi. Setiap cerita dalam buku ini membawa rasa yang berbeda-beda, dan masing-masing menyisakan pertanyaan, yang kalau bukan retrospektif, ya kontemplatif. Seperti yang disampaikan Maggie dalam halaman Tentang SKTLA di akhir buku, tugas beliau adalah bukan untuk menginspirasi, melainkan bertanya. Pada akhirnya Maggie memberi ruang untuk imajinasi pembaca dengan akhir cerita yang menggantung dan tidak tuntas.

Tentang Pengarang
Maggie Tiojakin adalah seorang penulis sekaligus jurnalis yang tulisannya telah dimuat di banyak media lokal maupun internasional. Beberapa karyanya sebagai penulis antara lain kumpulan cerpen Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010, Gramedia Pustaka Utama), serta novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011, Gramedia Pustaka Utama). Selain itu Maggie juga menerjemahkan banyak karya sastra ke dalam bahasa Indonesia, antara lain kumpulan cerita pendek klasik karya Edgar Allan Poe dan Rudyard Kipling (keduanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama). Kecintaannya terhadap cerita pendek klasik jugalah yang mendorong Maggie untuk menerjemahkan banyak cerita pendek klasik mancanegara yang dapat diakses secara gratis dalam situs Fiksi Lotus (www.fiksilotus.com).

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Detail buku:

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Cerita-Cerita Absurd, oleh Maggie Tiojakin
241 halaman, diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥