Thoughts Corner: Perjalanan Menemukan Sastra Indonesia dalam Film dan TV

Saya ingin mengakui dua hal. Yang pertama, saya telah mengabaikan blog ini selama beberapa bulan (I’m so sorry! 😦 ). Salah satu alasannya karena saya berkonsentrasi mengejar impian melanjutkan kuliah di luar negeri dengan mendaftar beasiswa LPDP. Dan ternyata saya gagal, saya belum diperbolehkan oleh Tuhan untuk menggapai impian yang satu ini. Mungkinkah saya gagal karena saya tidak bisa menyebutkan perbedaan antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen yang ditanyakan salah satu pewawancara? Bagi teman-teman yang berasal dari background akuntansi hal ini mungkin kedengaran sangat konyol, apa mungkin bekerja selama kurang lebih 6 tahun tanpa menyentuh textbooks sama sekali membuat saya melempem ketika disodori pertanyaan macam ini. Atau jangan-jangan saya salah jurusan? 😐

Yah, bagaimanapun, fase tersebut sudah berlalu, dan saya tidak bisa bilang saya menyesal sudah mencoba walaupun akhirnya gagal. Well, if you never try, you’ll never know, right? Ada satu tahap seleksi yang dilakukan LPDP yang bernama Leaderless Group Discussion. Pada tahap ini pelamar beasiswa dikelompokkan dengan 5-6 orang pelamar lain dan diberi artikel untuk didiskusikan bersama. Saya dan teman-teman sekelompok mendapat artikel dengan tema Budaya Asing di Indonesia. Kami diperhadapkan pada masalah budaya asing yang merajai musik, film, TV dan buku/komik di Indonesia (buku/sastra tidak disebut dalam artikel,tapi saya sempat menyinggungnya sedikit dalam diskusi) dan bagaimana caranya supaya budaya Indonesia bisa menjadi raja di negeri sendiri.

Nah, hal inilah yang melatarbelakangi pengakuan saya yang kedua. Saya sendiri sangat kurang mencintai produk-produk budaya dalam negeri (that is: buku & komik, musik, film, dan tayangan TV Indonesia). Saya bisa saja menggunakan alasan “selera kan tidak bisa dipaksa” tapi setelah melalui tahap LGD bersama teman-teman pelamar beasiswa LPDP, saya menyadari bahwa rasa cinta itu harus dimulai dari diri sendiri. Bagaimana mungkin mengajak orang lain mencintai budaya negeri kalau diri sendiri tidak melakukannya lebih dahulu?

Pertama, buku. Tanggal 17 Mei yang lalu kita merayakan Hari Buku Nasional, di mana orang berlomba-lomba memamerkan koleksi buku lokal yang mereka miliki. Saya termasuk di antara mereka, tanpa malu mengepos koleksi buku lokal saya ke Facebook, Path, dan Instagram walaupun jumlahnya cuma SEBELAS biji. Saya diam-diam membuat resolusi pribadi untuk mulai giat membaca buku lokal walaupun mungkin terbatas dalam genre tertentu (beberapa teman pasti tahu saya sangat pemilih soal genre buku) dan dengan progress yang sangat lambat (orang Jawa bilang alon-alon asal kelakon). Ada dua buku yang ingin saya habiskan dalam tahun ini, yaitu Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan Amba karya Laksmi Pamuntjak. Saya bertekad bahwa dua buku tersebut harus pindah dari rak “timbunan” ke rak “sudah dibaca” tahun ini juga! Wish me luck!

Kedua, film. Kamu akan tertawa kalau tahu film Indonesia apa yang terakhir saya tonton di bioskop. Film ini dibintangi oleh Shandy Aulia dan Samuel Rizal dan bersetting di tempat berjuluk City of Light. Got it? 😀 Namun, melihat bahwa belakangan ini film biopic mulai menjamur, maka rasanya ini start spot yang tepat bagi saya untuk memulai (lagi) nonton film-film buatan anak bangsa. Saya juga tertarik untuk nonton film yang diadaptasi dari buku, tapi tentunya setelah saya membaca bukunya dulu, hehehe. Untuk permulaan, saya mencatat Sang Penari (adaptasi Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari) dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (adaptasi karya Hamka) untuk saya tonton. Mungkin kamu bisa memberi saya rekomendasi film yang lain?

Ketiga, TV. Inilah yang paling susah bagi saya. Saya jarang sekali nonton TV. Mohon maaf, tapi bagi saya kebanyakan tayangan TV (baca: sinetron) Indonesia itu sampah. Dalam LGD, saya sempat melontarkan pendapat bahwa produsen film dan serial TV di Indonesia juga harus memperbaiki kualitas karya-karya seni mereka sehingga makin banyak orang (terutama anak muda) lebih memilih nonton film dan serial TV yang asli Indonesia, ketimbang, katakanlah, produk Hollywood, Bollywood, dan Korea. Lalu terpikirkan oleh saya, mengapa stasiun TV di Indonesia tidak mengikuti langkah BBC dan beberapa stasiun TV mancanegara lainnya, yang terus “menghidupkan kembali” karya sastra melalui adaptasi serial TV? Saya secara khusus menyebutkan BBC karena stasiun tv ini yang menurut saya paling produktif dalam menghasilkan adaptasi dari karya sastra (klasik), bahkan yang tidak terlalu populer seperti Little Dorrit karya Charles Dickens dan Cranford karya Elizabeth Gaskell. Negara Inggris memberi tempat yang sangat spesial untuk karya-karya sastra yang berasal dari putra-putri negaranya.

Ini beberapa “sinetron” produksi BBC yang diangkat dari karya sastra klasik selama 5 tahun terakhir:

Sumber: http://ladyandtherose.com/period-drama-tv-series/

Dan berikut ini beberapa film adaptasi karya sastra klasik yang rilis tahun 2015:

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah karya sastra klasik Indonesia masih dibaca sekarang ini? Atau jangan-jangan malah sudah dilupakan? Saya masih nol dalam hal membaca karya sastra klasik Indonesia, namun saya ingin memulai dan saya ingin supaya karya-karya sastra lokal diingat dan dicintai oleh Indonesia. Mungkinkah dengan “memberi nyawa” pada karya sastra klasik Indonesia melalui adaptasi TV/film, karya sastra tersebut bisa kembali populer? Para insan film dan TV di Indonesia, apakah suatu saat nanti kalian akan menjawab pertanyaan ini?

Monggo berkomentar, terutama bagi teman-teman yang sudah membaca lebih banyak karya sastra klasik Indonesia daripada saya 😉

Advertisements

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

sktla

Masyarakat modern pada umumnya sudah terjebak dalam pola hidup yang sibuk, serba tergesa-gesa, dan mobilitas tinggi. Semua orang larut dalam peran sebagai “aktor” dalam kehidupan masing-masing. Hampir tak ada waktu untuk berhenti sejenak untuk sekedar menjadi “penonton” atau “pengamat.” Kumpulan cerita pendek bertajuk “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” (SKTLA) ditulis oleh Maggie Tiojakin setelah melakukan riset yang intens, dengan kata lain beliau mengamati kehidupan manusia dan mencatat detail-detail kecil yang sering terlewatkan oleh kita yang sibuk. Melalui SKTLA, Maggie menuturkan kembali pengalaman-pengalaman yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan satu bumbu istimewa: absurditas. Yang dimaksud dengan absurditas adalah hal-hal yang tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Lantas apa hubungan absurditas dengan pengalaman hidup sehari-hari? Bagi Maggie, semua tentang kehidupan adalah hal yang absurd (hal. 237).

Beberapa judul cerita yang berlatar belakang kehidupan sehari-hari dalam buku ini menyoroti pergumulan hubungan suami-istri. Misalnya dalam cerita Kota Abu-Abu (hal. 64), penulis membenturkan ide tentang comfort zone dengan komitmen sepasang suami-istri, Remos dan Greta, untuk terus hidup bersama. Dalam cerita lainnya, Dia, Pemberani (hal. 138), seorang istri bernama Zaleb terpaksa mengalah dan menuruti kehendak Masaai, sang suami, yang candu terhadap olahraga ekstrim. Sampai pada akhirnya harus ada konsekuensi yang dituai dari aktivitas sarat tantangan yang dilakoni Masaai. Ada juga cerita Tak Ada Badai di Taman Eden (hal. 1) yang mengisahkan konflik batin yang dialami Barney dan Anouk, yang telah mengalami satu peristiwa yang menyebabkan mereka tak lagi sehati sebagai suami-istri. Kemudian ada satu cerita kehidupan sehari-hari yang lebih bersifat individual. Cerita yang seakan-akan memindai pikiran seorang karyawan saat ia sedang mengikuti meeting adalah Jam Kerja (hal. 182). Bayangkan pikiran kita yang melanglang kemana-mana setiap harinya. Kemudian bayangkan bahwa pikiran-pikiran kita “ditelanjangi” dan dituangkan dalam kertas dengan sedemikian jujurnya sampai kita merasa malu membacanya.

Cerita-cerita lainnya menyuguhkan situasi yang tidak biasa, yaitu bencana alam, peperangan dan pembunuhan. Batasan kabur antara yang nyata dan yang khayal menjadi daya tarik cerita Lompat Indah (hal. 28). Ahi, seorang pemuda yang terperangkap banjir di atas genteng rumah, menganggap air yang terus naik adalah tangan-tangan ramah yang siap memeluknya. Sementara cerita dies irae, dies illa (hal. 71), memotret gambaran getir pengalaman penduduk sipil dalam kecamuk peperangan. Kengerian dan depresi dalam masa peperangan juga dapat dirasakan pembaca melalui cerita Kristallnacht (hal. 10), yang disajikan dalam bentuk wawancara dengan seseorang yang mengalami langsung peristiwa penyerangan besar-besaran kepada warga Yahudi di Jerman pada tahun 1938. Cerita berjudul Saksi Mata (hal. 92) juga menarik karena menyorot sungguh fatalnya sikap ketidakpedulian manusia.

Masih ada enam cerita absurd lainnya yang lebih membuat geleng-geleng karena tidak bisa diterima akal sehat. Misalnya Fatima (hal. 41) dan Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (hal. 188). Serta lima cerita bonus dalam bahasa Inggris yang diselipkan penulis selayaknya bonus track dalam album musik. Beberapa cerita pendek dalam SKTLA telah diterbitkan dalam majalah/jurnal antara lain Every Day Fiction, Kompas, Postcard Shorts, dan Writers’ Journal.

Mungkin cerita-cerita pendek dalam buku ini hampir sama absurd atau anehnya dengan, katakanlah, cerita-cerita pendek yang biasanya dimuat di koran atau majalah. Namun SKTLA tetaplah salah satu bukti kepiawaian menulis seorang Maggie Tiojakin dalam menyajikan cerita (pendek) yang kaya detail, emosional, dan dalam beberapa cerita penuh aksi. Setiap cerita dalam buku ini membawa rasa yang berbeda-beda, dan masing-masing menyisakan pertanyaan, yang kalau bukan retrospektif, ya kontemplatif. Seperti yang disampaikan Maggie dalam halaman Tentang SKTLA di akhir buku, tugas beliau adalah bukan untuk menginspirasi, melainkan bertanya. Pada akhirnya Maggie memberi ruang untuk imajinasi pembaca dengan akhir cerita yang menggantung dan tidak tuntas.

Tentang Pengarang
Maggie Tiojakin adalah seorang penulis sekaligus jurnalis yang tulisannya telah dimuat di banyak media lokal maupun internasional. Beberapa karyanya sebagai penulis antara lain kumpulan cerpen Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010, Gramedia Pustaka Utama), serta novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011, Gramedia Pustaka Utama). Selain itu Maggie juga menerjemahkan banyak karya sastra ke dalam bahasa Indonesia, antara lain kumpulan cerita pendek klasik karya Edgar Allan Poe dan Rudyard Kipling (keduanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama). Kecintaannya terhadap cerita pendek klasik jugalah yang mendorong Maggie untuk menerjemahkan banyak cerita pendek klasik mancanegara yang dapat diakses secara gratis dalam situs Fiksi Lotus (www.fiksilotus.com).

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Detail buku:

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Cerita-Cerita Absurd, oleh Maggie Tiojakin
241 halaman, diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Tanah Tabu – Anindita S. Thayf

Tanah Tabu adalah novel yang menceritakan tentang Papua, perjuangan, dan perempuan. Pusat cerita ada pada tiga perempuan tiga generasi yang terikat satu ikatan kasih sayang: Mabel, perempuan setengah baya yang tangguh dan cerdas; Mace, menantu Mabel yang ditinggalkan oleh suaminya; dan Leksi, anak perempuan Mace yang polos dan ceria. Bertiga, mereka berjuang hidup di lingkungan keras di Papua, tanah yang tabu itu. Mabel, yang semasa muda pernah tinggal bersama Tuan Piet dan Nyonya Hermine de Wissel, sepasang suami-istri Belanda yang baik hati, mewariskan prinsip dan pemikiran maju yang ia dapatkan dari mereka kepada Mace dan juga kepada cucunya, Leksi. Mabel dan Mace tak henti-hentinya berusaha agar Leksi dapat terus sekolah dan bebas dari kebodohan. Ada pula tokoh Pum, yang setia mendampingi Mabel sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau, dan Kwee yang tidak bisa lepas dari si kecil Leksi. Dua tokoh ini sama sekali bukan hiasan, melainkan dari mata merekalah pembaca akan menikmati perjalanan di tanah Papua: keindahannya sekaligus kekejamannya.

Tanah Tabu menyimpan banyak petuah atau kata-kata bijak, yang kebanyakan diucapkan oleh tokoh Mabel. Misalnya seperti di bawah ini:

“Kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang ia akan membuatmu jadi lebih kaya, bantingkan saja pintu di depan hidungnya. Tapi kalau orang itu bilang ia akan membuatmu lebih pintar dan maju, suruh dia masuk. Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ. Namun hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma-cuma. Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang, Nak. Ingat itu.” – hal 30

“Apa yang tampak baik dalam pandangan, belum tentu benar seperti itu dalam kenyataan. Apa yang kelihatan tenang mungkin saja menyimpan riak di dasar yang terdalam. Apa yang bagus di luar, bisa saja busuk isinya.” – hal 37-38

“Kita ini perempuan, Anabel. Tak akan mampu memanggul dunia. Jadi hendaknya kau merasa senang jika bisa menjalani bagianmu dalam kehidupan di dunia ini sebaik mungkin. Perempuan tetap akan menjadi perempuan, bukan laki-laki. Dan ingatlah selalu, perempuan tidak akan bisa memanggul dunia, Anabel. Tidak akan pernah.” – hal 123 –> yang ini diucapkan Nyonya Hermine kepada Mabel, yang malah semakin mencambuk keinginan Mabel untuk terus belajar dan tahu lebih banyak lagi.

“Ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan. Dan kebodohan—jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata—mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia.” – hal 163

Lalu kemana cerita bergulir? Pembaca akan disuguhi riwayat Mabel yang telah mengalami banyak hal dalam tahun-tahun kehidupannya, kemudian budaya patriarkal yang kuat di Papua yang mengakibatkan banyak perempuan menderita di bawah tangan suami-suami mereka, kekejaman perang antarsuku, dan juga bagaimana politik, pengusaha, orang-orang asing, dan modernisasi mendobrak masuk ke tanah Papua dengan cara-cara yang kadang tidak menghiraukan alam maupun manusia. Hasilnya, ketimpangan sosial yang eksplisit, di mana orang-orang asing menjadi kaya dengan mengeruk emas dan kekayaan alam Papua sementara penduduk asli Papua sendiri hidup miskin dan sengsara. Klimaks cerita terjadi saat Mabel dijebak sehingga tampaknya ia mendukung satu pihak tertentu dalam persaingan Pilkada. Saat Mabel dalam bahaya dan Mace serta Leksi tertinggal tak berdaya, bisakah Pum dan Kwee menolong Mabel?

***

Saya suka sekali dengan gaya bercerita Anindita S. Thayf, dan bagaimana ia menggunakan karakter Pum, Kwee, dan Leksi sebagai tiga sudut pandang dalam cerita ini. Penuturannya ringan dan gaya bahasa yang digunakan indah tanpa perlu terlalu “nyastra”. Apalagi “kejutan” yang disimpan pengarang di akhir novel mengenai siapa sesungguhnya Pum dan Kwee. Novel ini menjadi angin segar bagi saya yang notabene sangat jarang membaca karya sastra dalam negeri, dan haus akan bacaan berkualitas yang menyoroti kehidupan masyarakat Indonesia secara kritis dan realistis. Salut bagi pengarang yang berhasil menyelesaikan penulisan novel ini setelah melakukan riset selama 2 tahun, dan membuahkan sebuah novel indah yang menjadi Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008. Sekali lagi, saya sangat jarang membaca karya sastra Indonesia, namun saya rasa lima puluh tahun lagi, Tanah Tabu layak dinobatkan sebagai salah satu karya sastra klasik Indonesia, sebagaimana karya-karya Pramoedya Ananta Toer kita akui sebagai karya sastra klasik Indonesia pada zaman ini.

Detail buku:
Tanah Tabu, oleh Anindita S. Thayf
237 halaman, diterbitkan tahun 2009 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Entri #2 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge by ma petite bibliothèque

Thanks to Ndari buat pinjamannya! 🙂

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC – E.S. Ito

Serangkaian pembunuhan tokoh penting Indonesia.

Harta karun peninggalan VOC yang terpendam di perut bumi Jakarta.

Batu Noah Gultom, wartawan koran Indonesiaraya. Rafael, Erick, dan Robert, tiga orang peneliti asal Belanda. Cathleen Zwinkel, mahasiswa master yang sedang menyelesaikan tesis tentang sejarah ekonomi kolonial. Dan Attar Malaka alias Kalek, seorang anarkis yang diberitakan telah terbunuh tetapi sebenarnya dalam persembunyian.

Sementara yang satu menyelidiki serangkaian pembunuhan dengan motif yang mengherankan, yang lain menggali bawah tanah Jakarta untuk menemukan harta peninggalan VOC, yang lainnya lagi menelusuri arsip dokumen untuk membuktikan kebenaran harta peninggalan VOC tersebut, dan yang terakhir punya agenda sendiri yang didasarkan atas ketidaktundukan terhadap pemerintah RI.

Serangkaian pembunuhan itu disebut dengan pembunuhan Gandhi, karena setiap korbannya dibunuh dengan pesan salah satu dari Tujuh Dosa Sosial yang digagas oleh Gandhi. Yang lebih mencurigakan, setiap korban ditemukan di kota/daerah dengan huruf awal B. Apakah itu hanya kebetulan semata?

Het Geheim van Meede—Rahasia Meede, adalah rahasia seorang gadis Belanda yang lari karena menyandang nama keluarga yang terkutuk pada masanya, dengan membawa kunci atas emas VOC. Melalui sebuah perjalanan melintasi ratusan tahun sejarah Indonesia, pengarang E.S. Ito mencoba mengangkat sebuah thriller sejarah yang mencekam sekaligus memesona.

***

Satu hal yang paling menohok batin saya ketika membaca buku ini adalah—betapa minimnya pengetahuan saya tentang sejarah Indonesia. Dan saya hanyalah satu dari sekian banyak anak muda Indonesia yang lupa, atau malah tak mau tahu sejarah negeri sendiri. Pelajaran sejarah di sekolah tak lebih dari dongeng pengantar tidur yang berisi fakta-fakta yang tak bermakna. Membosankan. Siapa yang patut disalahkan? Kurikulum? Guru? Siswa? Sampai-sampai E.S. Ito harus menulis buku ini untuk “menggoda” orang-orang Indonesia (khususnya generasi muda) untuk sedikit memelekkan matanya terhadap sejarah.

Bagi manusia Indonesia, masa lalu dan masa sekarang tidak ada kaitannya sama sekali. Bekapan kemiskinan menghasilkan super-ego dan sinisme lingkungan. Waktu adalah uang. Yang lalu biarlah berlalu. Lihat ke depan, globalisasi menanti. Era pasar bebas akan menggilas mereka yang lengah. Manusia Indonesia, tentu dengan banyak keterbatasannya, melihat masa lalu sebagai perintang masa depan. – hal.173

Tokoh favorit saya adalah Guru Uban yang sampai akhir buku identitasnya tetap misterius, dan ternyata adalah seorang…… (baca sendiri deh supaya nggak spoiler) :D.

Beginilah cuplikan di halaman 62 saat Guru Uban mengajar sejarah di sebuah sekolah kecil di Bojonggede:

“Tetapi kita sekarang kan sudah merdeka, Pak?” Murid perempuan tadi merasa dapat angin.

“Raga, tetapi tidak jiwanya,” Guru Uban menelan ludah. Dialog ini seakan-akan menguras energinya. “Sekarang, lihatlah diri kalian anak-anakku. Miskin, tidak berdaya dan kalian sama sekali tidak merdeka bercita-cita. Sekarang, acungkan jari kalian, siapa yang ingin kuliah setelah ini?”

[…]

“Kalian tidak akan pernah berani bercita-cita untuk kuliah di kampus itu, sekalipun ada di antara kalian yang pintar. Kalian tidak merdeka, anak-anakku, sebab Belanda-Belanda cokelat jauh lebih bengis daripada kulit putih.”

Pengarang juga mengkritik habis-habisan kota Jakarta yang disebutnya “bukan lagi Ratu dari Timur, melainkan Ratu Terpuruk Lumpur” dan kawasan Menteng yang disebutnya sebagai “pengabdi kolonial abadi” dengan segala borjuismenya.

Salut kepada pengarang yang memasukkan banyak fakta sejarah dalam buku ini, sehingga saya sebagai pembaca yang kurang suka non fiksi mendapat lebih banyak informasi dengan membaca 675 halaman Rahasia Meede daripada membaca novel-novel lainnya. Apalagi di halaman 79-86 saya disuguhi sejarah akuntansi modern dan Luca Pacioli, beserta pengaruhnya terhadap Jan Pieterszoon Coen dan “perlakuan akuntansi” yang diterapkannya dalam serikat dagang Vereenigde Oost-Indische Compagnie alias VOC.

Pengarang cukup berhasil membangun ketegangan dalam thriller sejarah bercita rasa sastra Indonesia ini. Terlepas dari beberapa kekurangan, diantaranya beberapa bahasan sejarah yang dibahas sangat detail sehingga rasanya memusingkan, plot yang terasa agak dipaksakan dan beberapa hal yang masih menyisakan pertanyaan (misalnya motif asli Anarki Nusantara dalam pembunuhan Gandhi dan hubungannya dengan pencarian emas VOC); Rahasia Meede tetaplah sebuah karya yang tidak boleh dilewatkan setiap manusia Indonesia. Kalau tidak ada Rahasia Meede, bisa jadi seumur hidup saya tidak akan melirik topik yang kedengarannya saja sangat membosankan seperti sejarah ekonomi kolonial. Empat bintang buat buku ini.

“Belajar sejarah tujuannya agar kita memberikan arti pada masa sekarang. Supaya tidak ada ruang hampa dalam hidup ini. Dengan berpikir seperti itu, kalian akan menghargai setiap garis kehidupan yang kalian jalani. Kita tidak perlu kaya dan berkuasa untuk menikmati hidup.” – hal. 401

Detail buku:
Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC, oleh E.S. Ito
675 halaman, diterbitkan tahun 2007 oleh Penerbit Hikmah
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Entri #1 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge by ma petite bibliothèque

Dimsum Terakhir – Clara Ng

Dimsum TerakhirDimsum Terakhir by Clara Ng

My rating: 4 of 5 stars

Pasangan keturunan Cina Nung Atasana dan istrinya, Anas, setelah 13 tahun pernikahan, akhirnya dikaruniai empat orang anak kembar, semuanya perempuan.

Siska, Indah, Rosi, dan Novera.

Tahun-tahun berlalu setelah ibu mereka meninggal dunia, dan keempat gadis kembar yang telah dewasa menjalani kehidupan masing-masing di tempat berbeda.

Mereka dipersatukan kembali ketika Nung mengalami stroke dan harapan hidupnya tinggal sedikit.

Yang terjadi selanjutnya adalah rentetan peristiwa yang kadang konyol, kadang juga mengharukan. Karakter-karakter digambarkan dengan baik. Siska, si businesswoman yang tak percaya pernikahan dan terlalu enjoy menjadi single. Indah yang adalah “si tukang atur” di tengah-tengah keluarga. Si tomboi Rosi yang riang dan ceria, namun punya rahasia yang disembunyikan. Si bungsu Novera yang lembut dan cenderung tak percaya diri.

Mereka semua disatukan dalam perjuangan menemani Nung di saat-saat terakhir sang ayah. Kisah yang menyentuh banyak sisi manusiawi ini diwarnai dengan budaya Cina yang kental dan banyak flashback ke masa lalu, misalnya saat si kembar empat dilecehkan karena ras mereka.

Dimsum Terakhir menurut saya, adalah karya terbaik Clara Ng. Yang paling saya sukai dari Clara Ng adalah gaya penulisannya yang bisa kocak dan jenaka, bisa juga agak mengharu biru, yang dibungkus dengan perbendaharaan kata yang amat luas dan kombinasi kata-kata yang tak terduga.

Akhirnya saya menamatkan juga buku ini, setelah sekian lama dibeli dan ditelantarkan begitu saja. Sampai saat ini Clara Ng adalah satu dari sedikit pengarang Indonesia yang saya gandrungi. 🙂
View all my reviews

Softcover with flap, 361 pages
Published April 2006 by PT Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 55.000

Reuni Tsunami – Ita Sembiring

Reuni TsunamiReuni Tsunami by Ita Sembiring
My rating: 1 of 5 stars

Peringatan: review ini saya tulis dengan blak-blakan tanpa tedeng aling-aling!

Buku ini mungkin salah satu buku paling buruk yang pernah saya baca. Sebenarnya ide ceritanya cukup menarik walaupun njelimet dan tetap saja kurang masuk akal ala cerita sinetron. Buku ini saya temukan di tumpukan buku obralan dan saya tertarik ketika membaca sinopsis di bagian belakang buku yang berbunyi:

“Seperti karya-karya Ita Sembiring lainnya, Reuni Tsunami juga mencoba menangkap realitas yang terjadi di tanah airnya, Indonesia – meski penulis saat itu menetap di Roosendaal-Belanda. Jalinan cerita yang ditampilkannya hendak menangkap kegelisahan, kekalutan, kesedihan, bahkan keculasan yang terjadi ketika bencana tsunami melanda sebagian besar wilayah Aceh dan Sumatra Utara.

Lewat novel ini, Ita Sembiring mencoba secara spesifik mengangkat Pulau Nias sebagai setting cerita. Inilah novel yang penuh ekspresi dan emosi, serta sungguh berani memasuki isu-isu sensitif.”

Harus saya akui, apa yang disajikan dalam novel ini sangat jauh dari yang saya harapkan. Ini juga bukanlah karya pertama penulis jadi saya tidak tahu mengapa novel ini terkesan –maaf– seperti karya amatiran.

Berikut ini adalah apa yang saya temukan dalam novel ini.

1. Deskripsi setting kurang mendalam. Katanya setting dalam kisah ini adalah Pulau Nias, ternyata Pulau Nias tidak dijelaskan sedalam penulis menjelaskan Lugon de Sable, tempat pertanian anggur Chantal berada, dan Saint Emilion, kota penghasil wine terkenal di Prancis. Walaupun tentu saja kedua tempat itu pasti sangat eksotik, namun seharusnya tetap Indonesia yang ditonjolkan dalam kisah ini.

2. Terlalu banyak karakter, sehingga sekali lagi karakterisasi tidak mendalam sama sekali. Sifat satu tokoh protagonis dengan protagonis lainnya hampir tidak ada bedanya. Emosi tidak tergali dengan baik. Dan seakan-akan satu tokoh dan tokoh lainnya begitu gampang jatuh cinta.

3. Terlalu banyak tokoh bule dalam kisah ini. Kalau mau ada tokoh bule sebaiknya tidak lebih dari 2 orang, jikalau kisah ini mau mempertahankan ke-Indonesia-annya. Namun tidak demikian, dalam kisah ini ada Chantal, anak lelakinya Sardou, keponakannya Nigel, ada Duncan Bennett, dan Auguri McKendry.

4. Penggunaan bahasa pada dialog yang tak mungkin terjadi di dunia nyata. Contohnya seperti berikut:

“Masih ingat bagaimana malam-malam kau perkosa aku gara-gara kurang puas dengan ibu gendut itu? Sambil menggerayang paksa tak henti mulut kotormu menghina ibu gendut yang sudah memberi kau makan, memeliharamu sebagai pemuas seks, sekaligus anjing penjaga?”

Dialog diatas diucapkan seorang pelacur didepan orang banyak. Sekalipun seorang pelacur di dunia nyata hendak memaki orang yang pernah memerkosanya, saya kira kata-kata yang keluar tidak akan seperti diatas.

5. Penggunaan bahasa Inggris dengan grammar kacau. Bayangkan, adakah orang bule yang berkata, “Hey, what’s happen here?” Grammar yang benar adalah “Hey, what happened here?”. “Saved by the bell” bukannya “Save by the bell”. Saya heran mengapa yang seperti ini lolos proses editing. Semua kata dalam bahasa Inggris dan Prancis yang ada dalam novel ini tidak ada yang diset dengan font italic.

6. Penulis memulai setiap bab dengan puisi pendek, dan dari 14 bab dalam novel ini ada 11 bab yang diawali kutipan dari Alkitab Perjanjian Lama tanpa menyebut sumbernya. (!) Berikut ini ayat-ayat Perjanjian Lama yang dikutip penulis.

Bab 3 – Yesaya 5:20

Bab 4 – Yeremia 2:2

Bab 5 – Yeremia 8:4

Bab 6 – Yeremia 8:15

Bab 7 – Yesaya 48:6-7

Bab 8 – Yeremia 9:1. Pada pendahuluan bab ini bahkan penulis memotong ayat yang dikutip. Di buku tertulis “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangis.”

Sementara Yeremia 9:1 sesungguhnya berbunyi, “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangisi orang-orang puteri bangsaku yang terbunuh!”

Bab 9 – Yesaya 5:12

Bab 10 – Yesaya 3:24

Bab 11 – Kidung Agung 5:3

Bab 12 – Kidung Agung 5:9

Bab 13 – Yeremia 9:10

Saya tidak tahu apakah yang seperti ini bisa dikategorikan plagiat, karena mengutip tanpa mencantumkan sumbernya. Saya tidak tahu mengapa editor meloloskan hal ini. Saya juga tidak tahu menahu tentang keyakinan yang dianut penulis sampai ia berani memotong kutipan ayat kitab suci. Yang saya tahu ini tidak benar dan ini merupakan kesalahan fatal.

7. Ada dua kejanggalan yang amat ketara yang saya temukan. Yang pertama di halaman 171, ketika Mellisa bertemu dengan Gundari, perempuan Indonesia di Prancis. Awalnya dijelaskan bahwa Gundari serta suami dan anaknya selamat dari bencana tsunami karena mereka pergi ke Pematang Siantar. Kemudian Gundari mengatakan bahwa ia sudah lama menetap di Prancis, menikah dengan orang Prancis dan punya anak satu. Nah, yang mana yang benar? Apakah suaminya yang pertama meninggal sehingga ia menikahi orang Prancis?

8. Kejanggalan yang kedua, dan ini merupakan puncak kejengkelan saya terhadap novel ini. Pada hal 181 dikisahkan awal pertemuan Chantal dan Pagoh di kapal pesiar. Pagoh berkata, “Kupikir tadi diriku Leonardo di Caprio, jatuh cinta dengan Kate Winslet di kapal Titanic.”

Tsunami terjadi tahun 2004. Sedangkan film Titanic yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet keluar pada tahun 1997. Di hal 69 dijelaskan bahwa masa “kini” dalam kisah adalah 29,5 tahun setelah Pagoh meninggalkan tanah kelahirannya. Umur Sardou, anak Chantal dan Pagoh ketika disapu tsunami kira-kira pertengahan duapuluhan. Bagaimana mungkin pada awal pertemuannya dengan Chantal, Pagoh menyebut-nyebut film Titanic sementara seharusnya setting waktunya sekitar tahun 1975 hingga 1980?

Satu-satunya hal positif mengenai buku ini adalah buku ini membuat “ketajaman” saya sebagai pembaca terasah.

View all my reviews

Paperback, 198 pages
Published 2007 by Gramedia Widiasarana Indonesia