Menerabas Batas: Kisah Tiga Saudari Brontë

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Jurnal Ruang pada tanggal 15 September 2017. https://jurnalruang.com/read/1504500406-menerabas-batas-kisah-tiga-saudari-bronte


bronte sisters

The Brontë Sisters (Anne Brontë; Emily Brontë; Charlotte Brontë) by Patrick Branwell Brontë. Credits: NPG, London

Suatu hari pada musim gugur 1845, di Yorkshire, Inggris, Charlotte Brontë menemukan buku catatan milik adiknya, Emily, berisi puisi yang baru ditulis. Charlotte dan adik-adiknya, Branwell (satu-satunya saudara laki-laki), Emily, dan Anne telah menulis puisi dan kisah-kisah fantasi sejak belia dan terbiasa saling menunjukkan hasil karya masing-masing. Namun, puisi Emily yang dibaca Charlotte hari itu menggerakkan hatinya karena di sana Charlotte melihat perkembangan mengagumkan; bahasa yang padat, tegas, dan kuat. Singkatnya, puisi-puisi Emily tidak seperti puisi yang pada umumnya ditulis oleh perempuan kala itu.

Charlotte, si sulung penuh tekad, menyuarakan kepada saudari-saudarinya bahwa karya-karya mereka layak diterbitkan. Kumpulan puisi terpilih karya Charlotte, Emily, dan Anne diterbitkan dengan biaya sendiri pada 1846, di bawah pseudonim androgini, yaitu Currer, Ellis, dan Acton Bell. Keputusan menggunakan pseudonim ini didorong oleh kesan umum bahwa penulis wanita pada zaman itu kerap dipandang dengan prasangka, belum lagi dengan gaya tulisan dan pemikiran Brontë bersaudari yang tidak ‘feminin’.

Sejarah menunjukkan bahwa kaum perempuan kerap kali dikungkung oleh norma-norma masyarakat yang kental akan budaya patriarki. Hal itu membatasi mereka untuk berkarya dalam level setara dengan laki-laki. Pada era Victoria di Inggris, nyaris segala bidang dikuasai oleh laki-laki, sedangkan perempuan diserahi segala urusan domestik. Perempuan yang cukup beruntung menemukan “keamanan” secara ekonomi dan sosial dalam ikatan pernikahan tidak perlu susah-susah bekerja. Namun, Brontë bersaudara yang lahir sebagai anak-anak seorang pendeta dengan penghasilan tak seberapa mau tak mau harus mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Baik Charlotte, Emily, maupun Anne pernah bekerja sebagai guru di sekolah maupun privat. Branwell, walaupun mempunyai talenta menjanjikan di bidang seni lukis, akhirnya terbukti tidak bisa diandalkan; ia jatuh dalam skandal dan mengalami ketergantungan obat-obatan dan alkohol.

Ketidakpuasan dengan profesi guru dan impitan ekonomi inilah yang mendorong tiga bersaudari Brontë memublikasikan karya mereka. Sayangnya, kumpulan puisi Currer, Ellis, dan Acton Bell yang terbit pada 1846 hanya terjual tiga eksemplar. Pantang menyerah, mereka memutuskan untuk menulis novel. Setahun berikutnya, Jane Eyre karya Currer (Charlotte), Wuthering Heights karya Ellis (Emily), dan Agnes Grey karya Acton (Anne) terbit dengan tingkat kesuksesan yang berbeda-beda. Ketiganya dipuji para kritikus sastra. Namun, Jane Eyre-lah yang menuai pujian paling banyak dan menjadi best seller pada masa itu. Kesuksesan ini membuat orang penasaran akan siapa sesungguhnya “Bell bersaudara”.

Seiring popularitas Jane Eyre, tersiar desas-desus bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell sebenarnya satu orang yang sama. Charlotte dan Anne, tanpa Emily, pergi ke London pada Juli 1848 untuk membuktikan pada penerbit Smith, Elder & Co. bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell adalah tiga pribadi berbeda. Peristiwa penting ini diadaptasi dengan sangat baik dalam film biopik Brontë bersaudari yang dirilis pada 2016 dengan judul “To Walk Invisible”. Di dalam film, George Smith (pemilik penerbitan Smith, Elder & Co.) menatap Charlotte, seorang wanita berpostur tubuh mungil dan gaya busana ‘ndeso’, dengan rasa tidak percaya ketika ia menyatakan bahwa dirinya adalah Currer Bell. Menanggapi ini, Charlotte pun melontarkan pertanyaan tajam, “Apa yang membuat Anda ragu, Mr. Smith? Aksen saya? Jenis kelamin saya? Postur tubuh saya?” Ada sesuatu di dalam pertanyaan dan nada suara Charlotte—determinasi, mungkin—yang membuat Mr. Smith sadar bahwa wanita di depannya benar-benar penulis Jane Eyre.

Jane Eyre, tokoh utama dari novel dengan judul sama itu, digambarkan sebagai figur wanita muda yang secara fisik tidak istimewa tapi memiliki pandangan dan pemikiran melampaui wanita pada umumnya di era Victoria. Walau masa lalunya kelam dan pahit, ia tidak merasa dendam kepada orang-orang yang telah memperlakukannya dengan tidak adil. Ia rindu dipandang setara oleh lawan jenisnya. Ia punya integritas dan harga diri yang membuatnya menolak dijadikan wanita simpanan. Hal-hal inilah yang membuat karakter Jane Eyre begitu dicintai, karena ia membuat “bungkus luar” (kecantikan, kekayaan, popularitas) menjadi sesuatu yang remeh belaka.

Karya-karya Brontë bersaudari merupakan ekspresi kemarahan terhadap profesi guru privat yang kerap direndahkan, dan terhadap kondisi perempuan pada umumnya pada zaman itu yang terisolasi dari kesempatan yang ditawarkan oleh dunia.

Di Indonesia masa kini, nyatanya masih banyak perempuan yang harus takluk di bawah kungkungan norma-norma masyarakat patriarkis. Hal itu membatasi kiprah mereka di berbagai bidang. Padahal kita punya figur-figur perempuan hebat yang prestasinya diakui dunia, seperti Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti. Indonesia bahkan sudah pernah punya presiden perempuan, sesuatu yang belum bisa disamai oleh negara adidaya Amerika Serikat. Begitu umumnya pandangan bahwa tempat perempuan hanya di kasur, dapur, dan sumur, membuat gagasan bahwa kaum perempuan dengan karya-karyanya dalam bidang yang dikuasai kaum pria begitu aneh dan sulit diterima.

Belum lama ini, sebuah meme yang mempertentangkan perempuan yang sekolah tinggi versus yang menikah viral di media sosial. Meme ini seakan kembali menggaungkan anggapan lama, “buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya juga melayani suami dan mengurus anak?” Seakan perempuan yang memilih melajang untuk mengejar cita-cita lebih rendah nilainya daripada perempuan yang fokus berumah tangga. Pada abad kedua puluh satu ini, masihkah relevan membatasi peran perempuan di bidang-bidang tertentu saja?

Jika nyaris dua abad lalu Brontë bersaudari ciut nyali untuk menerbitkan karya-karya mereka karena penulis dianggap sebagai profesi yang hanya sesuai untuk kaum pria, karya-karya mereka tidak akan pernah dikenal dunia dan menginspirasi banyak orang. Sejak awal, mereka telah “menerabas batas” dengan menggunakan pseudonim alih-alih nama asli. Kini, sinar mereka memancar terang: karya-karya mereka diakui sebagai kisah klasik dan diadaptasi dalam pementasan drama serta televisi. Tidak ketinggalan peringatan bicentennial untuk merayakan ulang tahun ke-200 tiga saudari Brontë: bicentennial Charlotte Brontë telah dirayakan pada 2016 lalu, untuk Emily akan dirayakan pada 2018 dan Anne pada 2020. Kediaman keluarga Brontë di Haworth, Yorkshire diubah menjadi Brontë Parsonage Museum yang dikunjungi puluhan ribu orang setiap tahunnya.

Charlotte, Emily, dan Anne tidak diberkati umur panjang; ketiganya meninggal pada usia yang relatif muda. Namun, di masa hidup yang singkat itu mereka berhasil menorehkan nama dalam sejarah. Meskipun harus berkarya di tengah-tengah kondisi keluarga yang tidak ideal, khususnya karena saudara laki-laki mereka, Branwell. Meskipun tinggal di wilayah yang terisolasi. Meskipun ada norma-norma masyarakat yang mengekang mereka dan kaum perempuan pada umumnya. Segala halangan ini tidak menghentikan mereka untuk menelurkan karya yang—walaupun waktu itu mereka tidak mengetahuinya—akan dibaca ratusan tahun kemudian. Dunia kerap memperlakukan perempuan semena-mena. Dan justru karena itulah perempuan harus makin berani berkarya, berani mendobrak. (*)


Referensi:

Artikel

David Barnett. 2017. “Brontë bicentenary: How the literary society is making a comeback from turmoil” dalam independent.co.uk. 7 Juli 2017. Diakses dari http://www.independent.co.uk/news/long_reads/bront-society-bicentenary-charlotte-haworth-kitty-wright-a7829276.html

Judith Shulevitz. 2016. “The Brontës’ Secret” dalam theatlantic.com. Juni 2016. Diakses dari https://www.theatlantic.com/magazine/archive/2016/06/the-Brontës-secret/480726/

Film

“To Walk Invisible: The Brontë Sisters” sebuah film televisi oleh Sally Wainwright, 2016.

Penulis

Melisa Mariani. Penikmat fiksi klasik dan fiksi sejarah yang sedang merambah buku-buku nonfiksi, dan kolektor Jane Eyre.

Advertisements

Rumah Kertas – Carlos María Domínguez

rumah-kertasSatu kata yang paling pas untuk menggambarkan novella yang hanya setebal 76 halaman ini adalah: Gila. Sinting. Edan. Crazy. Insane. Complete & utter madness. You name it lah…

Buku ini memang tentang orang-orang yang gila. Lebih spesifik lagi; gila buku. Tentang para kolektor buku dan pelahap bacaan yang rakus, yang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membangun ‘kerajaan’ berupa perpustakaan pribadi. Tentang kecemasan mereka yang sudah mengumpulkan begitu banyak buku sehingga tidak tahu lagi mau disimpan dimana buku-buku tersebut. (Don’t I know it!). Tentang sulitnya merawat dan memelihara koleksi buku, ketika jumlahnya sudah bukan lagi sebuah kebanggaan, tetapi mulai menjadi beban. Tentang terbatasnya waktu untuk membaca–padahal waktu-waktu menyepi bersama buku itulah yang paling dirindukan para pecinta buku.

Sekarang saya masuk ke bagian yang ‘gila’. Buku ini bercerita tentang Bluma Lennon, seorang dosen Universitas Cambridge yang meninggal tertabrak mobil, saat sedang asyik membaca buku kumpulan puisi Emily Dickinson. Tentang rekannya yang menerima paket yang dialamatkan kepada Bluma, yang berisi sebuah buku terjemahan Spanyol karya Joseph Conrad, yang dipenuhi serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Tentang penyelidikan yang dilakukan oleh sang rekan, yang membawa dia bertemu orang-orang gila buku lainnya, menelusuri kebiasaan-kebiasaan para bibliofil mulai yang normal hingga yang di luar batas kewajaran, dan menguak kebenaran mengerikan di balik misteri buku Joseph Conrad yang bersalut serpihan semen kering.

Rasanya saya sudah cukup mengungkapkan alasan mengapa buku ini layak dibaca. Bila perlu alasan lain:

1. Buku tentang buku selalu menarik untuk disimak.
2. Mungkin kita tidak akan pernah tahu keberadaan buku ini, boro-boro membacanya, jika tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Karena, saya pernah membaca bahwa Uruguay adalah negara paling kecil kedua di Amerika Selatan. Versi terjemahan buku ini belum lama terbit (September 2016 lalu) dan relatif gampang menemukannya di toko-toko buku terdekat.

Detail buku:
Rumah Kertas (judul asli: La casa de papel), oleh Carlos María Domínguez
76 halaman, diterbitkan 2016 oleh Marjin Kiri
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

tolstoyBuku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

Detail buku:
How Much Land Does A Man Need?, oleh Leo Tolstoy
64 halaman, diterbitkan 2015 oleh Penguin Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Princess Bride – William Goldman

OLYMPUS DIGITAL CAMERAIt comes to this: I was in need of a light read after spending one and a half month preparing for IELTS. I don’t know exactly why I chose this book—maybe because I suddenly remember my history with The Princess Bride. I first bought The Princess Bride on impulse. The truth is I don’t like fantasy books all that much, and I also didn’t really like the cover, so I sold it to Mbak Dewi (it was a copy with this cover, anyway). Some years later, while casually browsing a pile of used books in a bookshop, I found another copy of The Princess Bride. Having watched the film and seeing that the book has a vintage-looking cover, I decided to buy it. Ha! This time I didn’t regret buying it because in addition to the eyecatching cover, it also has a map. It would make a splendid addition to my collection!

Now, moving on to the story. I will list the characters first.

Buttercup, a Florinese village girl of unmatched beauty.

Westley, an orphaned farm boy who worked (or slaved) for Buttercup’s father.

Prince Humperdinck, a scheming and power-hungry prince who loved hunting above all else.

Count Rugen, Humperdinck’s sidekick and confidant who was obsessed with pain.

Vizzini the brainy Sicilian.

Inigo Montoya the sword-wielding Spaniard.

Fezzik the Turkish giant.

All the Farm Boy ever said to Buttercup was, “As you wish.” Of course what he meant was “I love you” but it took Buttercup some time before she realises this. Not until a visit from Count and Countess Rugen when she saw the Countess seemingly took a fancy of Westley. But just after them realising their true feelings for one another, Westley sailed off to America to seek his fortune, in order to become a man worthy of Buttercup. Buttercup waited and waited, but news came one day that Westley’s ship had been attacked by the Dread Pirate Roberts and he never takes prisoners, which means Westley was dead. Heartbroken, Buttercup accepted marriage proposal from Prince Humperdinck (confused? Hang on a bit) with “I can never love him” in mind. Well, it means death if she said no. So began the preparations of the royal wedding, including months of making the village girl into a princess. One day while riding her horse, a weird trio consisted of Vizzini, Inigo, and Fezzik kidnapped her. But the trio’s plan (or more accurately, Vizzini’s plan, since he was the head of the trio) was threatened by the man in black, who followed them as they were sailing to the neighbouring country of Guilder, up the Cliffs of Insanity to the ravines that led to the Fire Swamp. (I’m going to leave it at this moment, there are so much adventures thereafter, but I don’t want to ruin your fun by spoiling them all.) 😉

Thoughts:

This book is the abriged version of S. Morgenstern’s The Princess Bride, the “good parts” version by William Goldman. (SEE UPDATE AT THE END OF THE POST) I don’t think that this book belongs to the fantasy genre, let alone a fairy tale, even though my copy says “a hot fairy tale”. I think it’s an adventure book with bits of fantastical elements. My copy of The Princess Bride starts with a 29-page introduction, rather too long for my taste. I was tempted to skip it altogether but later realized that it was somewhat necessary to read, that is if you want to know the background on the abridgement of S. Morgenstern’s work by William Goldman. Goldman’s “commentaries” are also scattered all over the book, but mostly they are short so it wouldn’t be a burden to read these additional paragraphs typed in fancy italic. As someone who’s seen the film first then read the book, I must say that I think both are equally entertaining. The film adapted the book very well, from Westley’s wittiness (performed gorgeously by Cary Elwes) to the memorable lines of Inigo (“Hello. My name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die.”)

inigoand of Vizzini (“Inconceivable!”).

inconceivableInigo and Fezzik making rhymes is also my favourite part of both the book and the film. Miracle Max and his wife Valerie were hilarious. The one character I like the least is the princess bride herself, in both the book and the film. However, the book can give you much more interesting scenes that didn’t make it to the film. For example Fezzik and Inigo’s adventure when they went through all five levels of Prince Humperdinck’s Zoo of Death to retrieve Westley was thoroughly explained in the book, while in the film it was reduced to short scenes in the Pit of Despair. The writing feels modern, so it easily falls into the “light reading” category. Of course you need to ignore some stuff if you want to enjoy the book, for example Buttercup accepting Humperdinck, the torture scenes, and how a lump of clay coated in chocolate could bring someone back from the dead. All in all, this is a delightful read. You should read it then watch the film. Or vice versa, I don’t really care. Just read it and watch it, in whatever order you’d like. 🙂

P.S. : I know this review is crap but it doesn’t make the book any less entertaining.

Here is the movie trailer:


Book details:

The Princess Bride, by William Goldman
283 pages, published 1987 by Turtleback Books/Del Rey Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


UPDATE (15 Mar 2016):

I have just found out that S. Morgenstern is not a real author, thanks to Fingerprinttale and Chiipurai who kindly informed me of this. Explanation on Wikipedia: Simon Morgenstern is both a pseudonym and a narrative device invented by Goldman to add another layer to his novel The Princess Bride.[26] He presents his novel as an abridged version of a work by the fictional Morgenstern, an author from the equally fictional country of Florin. The name may be a reference to Johann Carl Simon Morgenstern, who coined the term Bildungsroman. (Read the rest on Wikipedia).

Very Good Lives – J.K. Rowling

very good lives

The first thing that crossed my mind when I found out about Very Good Lives was: “What? She has written another book? But Career of Evil will be released soon! I haven’t even read The Casual Vacancy! She positively wants to keep her readers surprised!” And so on… But then I found out that this is a commencement speech she delivered at Harvard, in 2008. Why did it take so long to be published, I do not know. I am thankful it finally got published anyway.

As the title suggests, she pointed out two things in her speech: the benefits of failure and the importance of imagination. Ms. Rowling undoubtedly is no stranger to failure; she endured a failed marriage, rejections from publishers, she knows what poverty means and how it feels. And yet she spoke of the benefits of failure. Seriously, what benefits can you gain from failing?

She wrote (and spoke):

“So why do I talk about the benefits of failure? Simply because failure meant a stripping away of the inessential. I stopped pretending to myself that I was anything other than what I was and began to direct all my energy into finishing the only work that mattered to me. Had I really succeed in anything else, I might never have found the determination to succeed in the one arena where I believe I truly belonged. I was set free, because my greatest fear had been realized, and I was still alive, and I still had a daughter whom I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.”

The second thing she pointed out was the importance of imagination. She was not talking about the magical world of Harry Potter here, but rather about “the power that enables us to empathize with humans whose experiences we have never shared.” Here she shared her experience when she worked at the African research department of Amnesty International, where she caught glimpses of the cruelty, torture, and horrors some people has gone through, people who had the temerity to speak against their governments. She spoke about how the power of human empathy can truly save lives. That human beings have a choice between thinking themselves into other people’s places—the not so fortunate ones—or not to exercise their imaginations at all and close their minds and hearts to any suffering that does not touch them personally.

“If you choose to use your status and influence to raise your voice on behalf of those who have no voice; if you choose to identify not only with the powerful but with the powerless; if you retain the ability to imagine yourself into the lives of those who do not have your advantages, then it will not only be your proud families who celebrate your existence but thousands and millions of people whose reality you have helped change. We do not need magic to transform our world; we carry all the power we need inside ourselves already: we have the power to imagine better.”

She encourages us to not shrink in the face of failure and to do more for our less fortunate neighbors. Truly, this is an inspiring piece of writing, one you can reflect upon, one that has the power to stay with you for years to come, even if you only need about 30 minutes to read it.


Book details:

Very Good Lives: The Fringe Benefits of Failure and the Importance of Imagination, by J.K. Rowling
80 pages, published April 2015 by Little, Brown and Company
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Surabaya Punya Cerita Vol. 1 – Dhahana Adi

sby punya ceritaJudul bukunya Surabaya Punya Cerita. Jujur saja, pertama kali saya tahu tentang buku ini (melalui tweet dari @indiebookcorner) saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen dengan setting kota Surabaya. Karena belum pernah baca buku bertemakan Surabaya, maka ketika saya melihat buku ini bertengger manis di rak di salah satu toko buku terbesar di kota saya, (Surabaya, di mana lagi?) tanpa berpikir panjang saya mengambilnya dan memasukkan di kantong belanjaan. Sebelumnya saya tidak tahu menahu tentang blog Surabaya Punya Cerita, dan bahwa artikel-artikel di dalam blog tersebut dituangkan dalam kertas dan tinta dalam buku ini .

Kalau boleh saya jelaskan seperti ini, Surabaya Punya Cerita berisi potongan-potongan sejarah tentang Surabaya yang kebanyakan tak terpublikasikan dan bahkan sudah terlupakan. Bentuknya macam-macam, mulai dari tradisi, tempat bersejarah, tokoh kenamaan, sampai musik dan film. Namun jika buku sejarah biasanya melulu berisi fakta, Surabaya Punya Cerita menyodorkan sejarah melalui cerita-cerita nostalgia.

Melalui beberapa cerita tentang tempat bersejarah di Surabaya, pembaca diajak mengingat kembali, atau disodorkan informasi baru jika sebelumnya tidak tahu, bahwa tempat-tempat tersebut ada sejarahnya. Jalan Baliwerti hari ini mungkin dikenal sebagai sentra pertokoan keramik, namun pada tanggal 10 November 1977, Hari Pahlawan, Baliwerti dipenuhi sekitar tiga ribu pemuda yang melakukan long march menuju Tugu Pahlawan sebagai bentuk protes terhadap degradasi moral dan ketidakadilan sosial yang sedang terjadi. Banyak yang lupa bahwa di dalam Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan, tersimpan makam salah satu pahlawan nasional, Dr. Soetomo. Orang Surabaya pasti tahu bahwa ada areal makam Belanda di Pemakaman Kembang Kuning, tapi mungkin tidak tahu siapa saja tokoh-tokoh penting yang dimakamkan disana. Beberapa diantaranya adalah Alfred Emille Rambaldo, perintis perjalanan udara pertama yang menemukan dan mengembangkan balon udara bermesin tahun 1908-1911; Everdina Bruring, istri dari Dr. Soetomo; dan G. Cosman Citroen yang adalah arsitek Balai Kota Surabaya dan Rumah Sakit Darmo.

Berbagai karya seni dan musik yang berjaya di Surabaya pada jamannya, juga disuguhkan dalam buku ini. Misalnya film nasional berjudul Soerabaia 45 yang rilis pada tahun 1990, yang melibatkan sejumlah insan seni yang tidak bisa dianggap main-main. Grup lawak Srimulat memulai sejarahnya dengan mementaskan dagelan Mataram di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada penghujung tahun 1960an, pada waktu itu masih menggunakan nama Gema Malam Srimulat. Ada The Tielman Brothers yang konon disebut-sebut sebagai salah satu grup band tertua di dunia yang memainkan musik rock n roll sebelum The Beatles, The Rolling Stones, bahkan Led Zeppelin. Band yang dipelopori Andy Tielman ini memadukan genre rock n roll dengan musik khas Indonesia seperti gamelan atau keroncong, hingga akhirnya genre musik ini disebut genre Indorock atau “Indonesian Rock N Roll”. Dari dunia seni rupa, Surabaya memiliki Tedja Suminar, pelukis peranakan Tionghoa yang dikenal njawani. Relief di stadion Gelora 10 November adalah hasil desain sketsa dari pelukis yang menjadikan Surabaya dan Bali sebagai sumber inspirasi utamanya itu. Dan, bukan hanya satu, namun tiga cerita disajikan mengenai Gombloh, musisi asal Kampung Embong Malang Surabaya yang paling dikenal dengan lagu “Di Radio” yang aslinya berjudul “Kugadaikan Cintaku”. Tak ketinggalan cerita tentang dedengkot musik jazz, Bubi Chen.

Masih banyak cerita lain yang tersimpan dalam buku yang relatif tipis ini (204 halaman). Kekurangan buku ini terletak pada editing-nya, yang jika diperhalus lagi bisa lebih enak dibaca, dan banyak foto hitam putih yang ditampilkan beresolusi rendah. Pada awalnya saya menganggap harganya agak kemahalan untuk buku setebal 204 halaman, namun pada akhirnya isi dari buku ini membayar setiap rupiah yang saya keluarkan untuk membelinya. Sayangnya, eksemplar yang saya beli cutting-nya kurang rapi, halaman-halaman buku melampaui batas sampul sekitar 2 mm.

Saya menamatkan buku ini hanya sehari sebelum HUT Surabaya ke-722, 31 Mei lalu, namun baru bisa menuliskan reviewnya sekarang. 😀 Kalau pada awalnya saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen, ternyata setelah menamatkannya buku ini melampaui ekspektasi saya. Sekarang, sedikit banyak saya jadi tahu potongan-potongan sejarah yang terlupakan tentang kota tercinta. Buku ini saya rekomendasikan bagi setiap warga Surabaya, mereka yang punya kenangan dan kesan khusus terhadap Surabaya, juga mereka yang tertarik dengan Surabaya. Dunia perlu tahu, bahwa sejarah dan sisik melik Surabaya penuh warna, dan tidak melulu berkaitan dengan pertempuran 10 November ataupun cerita rakyat Sura dan Baya. Tak sabar menanti Vol. 2 terbit!

Surabaya, kota tak terlupakan

Surabaya, kota tak terlupakan

Telusuri lebih banyak tentang Surabaya Punya Cerita di: Blog | Facebook | Twitter


Detail buku:

Surabaya Punya Cerita Vol. 1, oleh Dhahana Adi
204 halaman, diterbitkan 2014 oleh Indie Book Corner
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSCDalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

Belum banyak buku fiksi Indonesia yang saya baca, tapi mungkin Pulang adalah salah satu yang terbaik. Cerita mengalir begitu saja dan terasa nyata sehingga saya lupa kalau saya sedang membaca novel. Diksinya indah, blak-blakan di beberapa bagian, dan saya bisa sungguh-sungguh merasakan keberadaan dan emosi para karakter utama. Saya suka betapa novel ini begitu Indonesia (termasuk pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget), padahal banyak petikan percakapan dalam bahasa Prancis juga. Saya suka Dimas Suryo yang doyan melahap literatur klasik, sesuatu yang juga ia tularkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya yang membuat novel ini kurang lengkap, mungkin, adalah film dokumenter karya Lintang yang tidak disebut-sebut lagi pada akhir buku. Saya sangat ingin menonton film itu. Nah, saya sudah bilang tadi kan kalau saya lupa kalau Pulang hanya sebuah novel? Bagi yang ingin mencoba baca buku ini, jangan takut karena buku ini “kelihatan” berat, sebenarnya nggak seberat itu kok.

Rasanya sulit sekali untuk menunjukkan di dalam review, apa yang membuat buku ini begitu bagus di mata saya. Walaupun buku ini kental nuansa romance-nya, bagi saya itu tak menjadi masalah karena konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini. Yang jelas, novel ini membuat saya makin mencintai Indonesia. Novel ini membuat saya ingin menelusuri kembali sejarah Indonesia, walaupun mungkin apa yang saya baca tidak bisa mutlak dipercayai sebagai suatu kebenaran.

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2014 tema Historical Fiction Indonesia


Detail buku:

Pulang, oleh Leila S. Chudori
464 halaman, diterbitkan Desember 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Lust for Life – Irving Stone

lust-for-LIFE---smallSeberapa jauh engkau akan berlari demi mengejar panggilan hidup? Vincent Van Gogh (1853-1890) melalui proses yang panjang sebelum menyadari panggilan hidupnya yang sesungguhnya, dan berusaha sampai titik darah penghabisan demi panggilan hidupnya itu, yakni menjadi seorang pelukis. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk melukis, Van Gogh muda sempat menjadi seorang pramuniaga di galeri lukisan Goupil, yang dipimpin oleh pamannya. Namun bukannya menjadi pramuniaga yang baik yang mampu membujuk orang untuk membeli lukisan, Vincent malah dengan terang-terangan menyebut lukisan-lukisan tersebut jelek dan orang-orang yang membelinya sangat bodoh. Kegagalan menjadi seorang pramuniaga lukisan membawa Vincent kepada jalan hidup yang berikutnya, yaitu menjadi seorang pelayan Tuhan mengikuti jejak ayahnya. Vincent kemudian berkutat mempelajari bahasa Latin, bahasa Yunani, aljabar, dan tata bahasa dari seorang pria bernama Mendes da Costa. Beruntung bagi Vincent, Mijnheer da Costa merupakan seorang guru yang sangat bijaksana yang mampu menginspirasi muridnya sekaligus memberikan kebebasan bagi muridnya untuk memilih apa yang hendak ia lakukan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa dirimu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.” – hal. 53

Kata-kata Mendes membuka mata Vincent yang jengah terhadap pendidikan formal yang harus ditempuhnya sebagai pendeta, dan dengan begitu saja pergi kepada Komite Evangelis Belgia yang kemudian menugaskannya ke sebuah desa pertambangan bernama Borinage. Tempat itu dinamakan “desa hitam”, suatu tempat yang suram dan menyedihkan. Vincent mendapati bahwa yang dibutuhkan oleh para penambang yang kotor dan miskin di Borinage lebih daripada firman Tuhan adalah makanan dan pakaian yang layak, serta tempat tinggal yang hangat. Vincent akhirnya memberikan segala miliknya untuk penduduk Borinage, meski kemudian ia sendiri yang harus kelaparan, sakit dan kedinginan.

Menjelang akhir masa tinggalnya di Borinage, Vincent kembali menekuni aktivitas menggambar dan berkat dorongan dari adik terkasihnya, Theo, kali ini Vincent merasa sungguh-sungguh menemukan jati dirinya sebagai pelukis.

“Oh, Theo, selama berbulan-bulan aku berjuang untuk meraih sesuatu, mencoba untuk menggali semua tujuan yang nyata dan arti dari hidupku, dan aku tidak tahu ini! Tapi sekarang ketika aku benar-benar tahu, aku tidak akan patah semangat lagi. Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku.” – hal. 136

Perjalanan panjang kembali dilalui Vincent untuk membuktikan jati dirinya sebagai pelukis. Di Den Haag ia berguru pada Thomas Mauve yang adalah sepupunya sendiri, sementara berbagai pihak mengkritisi lukisannya terlalu kasar dan mentah. Di Paris kemudian Vincent memutuskan untuk mengubah gaya lukisannya menurut aliran impresionis yang memakai warna yang serba cerah dan goresan yang tajam. Semua ini dilaluinya dengan sokongan dana dari Theo. Pindah ke Arles yang panas menyengat, Vincent pun melukis, melukis, dan melukis, sampai-sampai ia menjadi seperti mesin lukis otomatis yang tidak dapat berhenti bekerja.

“Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya. Untuk kehidupan pribadi, dia tidak memilikinya. Dia hanyalah mesin lukis otomatis, buta dengan makanan, cairan, dan cat yang dituangkan setiap pagi, lalu pada malam harinya sebuah kanvas telah selesai dikerjakan. […] Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya. Dia dapat hidup tanpa istri, rumah, dan anak-anak; dia bisa hidup tanpa cinta, persahabatan, dan kesehatan; dia bisa hidup tanpa keamanan, kenyamanan, dan makanan; dia bahkan bisa hidup tanpa Tuhan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya—kekuatan dan kemampuan untuk mencipta.” – hal. 442

Di Arles-lah panggilan hidup Vincent sebagai seorang pelukis mulai menjadi pedang bermata dua. Mungkin ia telah mewujudkan apa yang Mendes da Costa pernah katakan, “pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu”, tapi di sisi lain ia telah bekerja melampaui batas sehingga pelan-pelan kewarasannya terkikis. Saat ia mendekam di rumah sakit jiwa di St. Remy-lah, untuk pertama kalinya Vincent mendengar kabar baik dari Theo: lukisannya yang diberi judul Ladang Anggur yang Merah (The Red Vineyard) terjual dengan harga empat ratus franc. Simak beberapa karya Van Gogh melalui video di bawah ini.

Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh dalam buku setebal 576 halaman ini, saya jadi semakin memahami bahwa hard work really pays off. Kerja keras pasti membuahkan hasil. Dari seorang Vincent Van Gogh saya belajar tentang keyakinan pada diri sendiri bahwa “jika saya merasa bisa melakukannya, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya melakukannya”, juga kegigihan dalam bekerja, dan saya memahami bahwa ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, kalau kita tidak mau menjadi seperti Vincent yang akhirnya “dikonsumsi” oleh pekerjaannya sendiri dan akhirnya kehilangan segala-galanya. Dari adik Vincent, Theo Van Gogh, saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Theo sangat mengasihi kakaknya sehingga ia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menyokong kakaknya, dan bukan hanya itu, Theo tidak menjauhi kakaknya ketika ia mulai sakit mental dan selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara bagi Vincent. Bagi kisah luar biasa yang mengubah cara pandang saya mengenai panggilan hidup dan kasih sayang terhadap sesama ini, saya menghadiahkan lima bintang.

N.B.: buku ini saya baca pada tahun 2013 dan masuk dalam 3 kategori Book Kaleidoscope 2013:

Baca juga: meme Scene on Three yang menggunakan salah satu adegan dalam buku ini.


Detail buku:

Lust for Life, oleh Irving Stone. Penerjemah: Rahmani Astuti, Copy-editor: Anton Kurnia
576 halaman, diterbitkan 2012 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

sktla

Masyarakat modern pada umumnya sudah terjebak dalam pola hidup yang sibuk, serba tergesa-gesa, dan mobilitas tinggi. Semua orang larut dalam peran sebagai “aktor” dalam kehidupan masing-masing. Hampir tak ada waktu untuk berhenti sejenak untuk sekedar menjadi “penonton” atau “pengamat.” Kumpulan cerita pendek bertajuk “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” (SKTLA) ditulis oleh Maggie Tiojakin setelah melakukan riset yang intens, dengan kata lain beliau mengamati kehidupan manusia dan mencatat detail-detail kecil yang sering terlewatkan oleh kita yang sibuk. Melalui SKTLA, Maggie menuturkan kembali pengalaman-pengalaman yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan satu bumbu istimewa: absurditas. Yang dimaksud dengan absurditas adalah hal-hal yang tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Lantas apa hubungan absurditas dengan pengalaman hidup sehari-hari? Bagi Maggie, semua tentang kehidupan adalah hal yang absurd (hal. 237).

Beberapa judul cerita yang berlatar belakang kehidupan sehari-hari dalam buku ini menyoroti pergumulan hubungan suami-istri. Misalnya dalam cerita Kota Abu-Abu (hal. 64), penulis membenturkan ide tentang comfort zone dengan komitmen sepasang suami-istri, Remos dan Greta, untuk terus hidup bersama. Dalam cerita lainnya, Dia, Pemberani (hal. 138), seorang istri bernama Zaleb terpaksa mengalah dan menuruti kehendak Masaai, sang suami, yang candu terhadap olahraga ekstrim. Sampai pada akhirnya harus ada konsekuensi yang dituai dari aktivitas sarat tantangan yang dilakoni Masaai. Ada juga cerita Tak Ada Badai di Taman Eden (hal. 1) yang mengisahkan konflik batin yang dialami Barney dan Anouk, yang telah mengalami satu peristiwa yang menyebabkan mereka tak lagi sehati sebagai suami-istri. Kemudian ada satu cerita kehidupan sehari-hari yang lebih bersifat individual. Cerita yang seakan-akan memindai pikiran seorang karyawan saat ia sedang mengikuti meeting adalah Jam Kerja (hal. 182). Bayangkan pikiran kita yang melanglang kemana-mana setiap harinya. Kemudian bayangkan bahwa pikiran-pikiran kita “ditelanjangi” dan dituangkan dalam kertas dengan sedemikian jujurnya sampai kita merasa malu membacanya.

Cerita-cerita lainnya menyuguhkan situasi yang tidak biasa, yaitu bencana alam, peperangan dan pembunuhan. Batasan kabur antara yang nyata dan yang khayal menjadi daya tarik cerita Lompat Indah (hal. 28). Ahi, seorang pemuda yang terperangkap banjir di atas genteng rumah, menganggap air yang terus naik adalah tangan-tangan ramah yang siap memeluknya. Sementara cerita dies irae, dies illa (hal. 71), memotret gambaran getir pengalaman penduduk sipil dalam kecamuk peperangan. Kengerian dan depresi dalam masa peperangan juga dapat dirasakan pembaca melalui cerita Kristallnacht (hal. 10), yang disajikan dalam bentuk wawancara dengan seseorang yang mengalami langsung peristiwa penyerangan besar-besaran kepada warga Yahudi di Jerman pada tahun 1938. Cerita berjudul Saksi Mata (hal. 92) juga menarik karena menyorot sungguh fatalnya sikap ketidakpedulian manusia.

Masih ada enam cerita absurd lainnya yang lebih membuat geleng-geleng karena tidak bisa diterima akal sehat. Misalnya Fatima (hal. 41) dan Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (hal. 188). Serta lima cerita bonus dalam bahasa Inggris yang diselipkan penulis selayaknya bonus track dalam album musik. Beberapa cerita pendek dalam SKTLA telah diterbitkan dalam majalah/jurnal antara lain Every Day Fiction, Kompas, Postcard Shorts, dan Writers’ Journal.

Mungkin cerita-cerita pendek dalam buku ini hampir sama absurd atau anehnya dengan, katakanlah, cerita-cerita pendek yang biasanya dimuat di koran atau majalah. Namun SKTLA tetaplah salah satu bukti kepiawaian menulis seorang Maggie Tiojakin dalam menyajikan cerita (pendek) yang kaya detail, emosional, dan dalam beberapa cerita penuh aksi. Setiap cerita dalam buku ini membawa rasa yang berbeda-beda, dan masing-masing menyisakan pertanyaan, yang kalau bukan retrospektif, ya kontemplatif. Seperti yang disampaikan Maggie dalam halaman Tentang SKTLA di akhir buku, tugas beliau adalah bukan untuk menginspirasi, melainkan bertanya. Pada akhirnya Maggie memberi ruang untuk imajinasi pembaca dengan akhir cerita yang menggantung dan tidak tuntas.

Tentang Pengarang
Maggie Tiojakin adalah seorang penulis sekaligus jurnalis yang tulisannya telah dimuat di banyak media lokal maupun internasional. Beberapa karyanya sebagai penulis antara lain kumpulan cerpen Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010, Gramedia Pustaka Utama), serta novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011, Gramedia Pustaka Utama). Selain itu Maggie juga menerjemahkan banyak karya sastra ke dalam bahasa Indonesia, antara lain kumpulan cerita pendek klasik karya Edgar Allan Poe dan Rudyard Kipling (keduanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama). Kecintaannya terhadap cerita pendek klasik jugalah yang mendorong Maggie untuk menerjemahkan banyak cerita pendek klasik mancanegara yang dapat diakses secara gratis dalam situs Fiksi Lotus (www.fiksilotus.com).

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Detail buku:

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Cerita-Cerita Absurd, oleh Maggie Tiojakin
241 halaman, diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

The Importance of Being Earnest – Oscar Wilde

earnestBunburying—a term that indicates a double life as an excuse for absence. (Source: Wikipedia)

Have you ever felt the need to escape some certain situations and create a fictitious character as your excuse? John (or “Jack”) Worthing, a landowner in Hertfordshire of twenty nine years of age, presents himself as Ernest Worthing in front of his love interest, Gwendolen Fairfax, her mother Lady Bracknell, and also to Gwendolen’s cousin who’s also Jack’s best friend, Algernon Moncrieff. On other occasions, in front of his ward Cecily Cardew and Miss Prism her guardian; Jack uses the character Ernest as his rebellious and irresponsible younger brother who always gets into trouble and requires Jack’s assistance all the time. Ernest was merely Jack’s tool to run away for a while from his responsibilities. Through one trivial accident, Jack was pushed to confess to Algernon that Ernest is just a product of his imagination. At the same time, Algy confesses to Jack that he also invented a character named Bunbury, who is said to be his invalid friend who has extraordinarily bad health. Algy called this activity of double life as “Bunburying” and that he and Jack were “Bunburyists”.

Jack’s problem continues when Gwendolen and Lady Bracknell came to visit Algy’s flat. Algy has agreed to give time to Jack to speak to Gwendolen by distracting Lady Bracknell’s attention. Jack then used the time to propose to Gwendolen, but then he got taken aback by Gwendolen’s speech that “her ideal has always been to love someone of the name of Ernest.” The proposal was interrupted by Lady Bracknell, who then enquired Jack for the matters of his property and family background.

On the next act, Algernon decided to steal the identity of Ernest and came to the Manor House in Hertforshire and met Jack’s young and beautiful ward, Cecily. At the same time as Algy’s “debut” as Ernest, Jack decided to “kill” his fictitious brother and showed up at the Manor House dressed in mourning clothes. You can imagine the confusion that would soon take place. Cecily and Gwendolen got entangled in confusion too when they met and realized that they both have fallen in love with a man with the name of Ernest. Of course they fell in love with two different men; Gwendolen fell in love with Jack and Cecily with Algernon. The play concludes with the revealing of Jack’s true identity, surprisingly by Lady Bracknell.

Two words that can perfectly describe this play: Funny and Absurd.

What’s funny? The interaction between Jack and Algy, especially when they fought over muffins. Algy’s craving for cucumber sandwiches.

What’s absurd? Gwendolen’s (and also Cecily’s) personal obsession about the name Ernest, Lady Bracknell’s points of view and her interview (or rather interrogation) to Jack regarding his proposal to Gwendolen, Cecily with her imaginative mind and her diary, and also Gwendolen and Cecily’s suspiciously fast growing friendship. One last thing that is absurd is how Jack and Algernon take the act of christening so casually. Interesting how the absurdities in this play are at the same time funny.

I really enjoyed reading this play, because it’s witty and easy to read (unlike Shakespeare plays which need double reading the modern version on NFS). In fact, I only have to look for some unfamiliar words on the dictionary, and voila! I finished reading it in about 3 hours. This play mocks duplicity and hypocrisy as well as Victorian traditions, social customs, and marriage. To modern readers, we may as well admit that we also practice “Bunburying” in some ways—we need not create fictional characters, but we simply tell lies or excuses to keep away from our duties. So it is now our decision whether to continue living as a “Bunburyist” or we can realize the vital importance of being earnest. 😉

5th review for Let’s Read Plays event / 25th review for The Classics Club Project / 6th review for Books in English Reading Challenge 2013

Book details:

The Importance of Being Earnest (as part of The Plays of Oscar Wilde, page 361-418), by Oscar Wilde
58 pages, published April 2000 by Wordsworth Classics/Wordsworth Editions Ltd (first published August 1894)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


This review is also counted for Books Into Movies Monthly Meme hosted by HobbyBuku’s Classic.

Books Into Movies Monthly Meme Button 1

Movie Review:

After reading the play I watched the movie adaptation of it, which was released in 2002 and directed by Oliver Parker with Colin Firth as Jack Worthing, Rupert Everett as Algernon Moncrieff, Frances O’Connor as Gwendolen, Reese Witherspoon as Cecily and Judi Dench as Lady Bracknell. Despite of some alterations on the set and timeline, it was quite faithful to the original play. I particularly liked how Judi Dench carried the role of Lady Bracknell perfectly. Well, she has always been amazing. Here are some differences between the play and the adaptation: (1)  Jack Worthing is thirty five in the adaptation, he should be only twenty nine. (2) In the adaptation, Jack is Algy’s younger brother while in the original play he is actually Algy’s older brother. (3) One interesting thing that Gwendolen tattooed the name Ernest on her body.  (4) And the ending is slightly different. Just slighty– if you have watched the movie, then you will get what I mean… Overall, both the play and the adaptation are essentially enjoyable and entertaining. See the trailer below.

The Importance of Being Earnest (2002) on IMDb