Real Short Review: Perempuan di Titik Nol


“Kembali ke rumah Ayah, saya memandang dengan hampa pada tembok-tembok dari tanah liat, bagaikan orang asing yang belum pernah masuk ke tempat ini. Saya melihat sekeliling hampir-hampir keheranan, seakan-akan saya tidak lahir di situ, tetapi tiba-tiba terjatuh dari langit, atau muncul entah dari mana dari dalam perut bumi, menemukan diri saya di suatu tempat di mana saya tidak termasuk di rumah yang bukan milik saya, lahir dari seorang ayah yang bukan ayah saya, dan dari seorang ibu yang bukan ibu saya.

Apakah itu karena cerita Paman tentang kota Kairo, tentang rakyat penghuni kota itu yang telah mengubah saya? Apakah saya benar-benar anak perempuan ibu saya, apakah ibu saya seorang yang lain pula? Apakah saya dilahirkan sebagai anak ibu saya dan berubah menjadi seorang yang lain? Ataukah ibu saya telah mengubah dirinya menjadi seorang perempuan lain yang sangat mirip dengannya, sehingga saya tidak dapat melihat perbedaannya?”

Duh, maap beribu maap, buku ini memang bukan buat saya. Ceritanya sebenarnya menarik, tapi saya nggak tahan dengan gaya menulis Saadawi. Narasi panjang-panjang memenuhi seluruh buku, belum lagi ada beberapa frase yang diulang, misalnya “cincin yang teramat putih di sekitar dua lingkaran yang hitam pekat”. Feminisme yang digaungkan di buku ini juga nggak terlalu sesuai dengan diri saya. Sudah berusaha untuk menikmati buku ini, tapi gagal. So sorry. –“

Detail buku:
“Perempuan di Titik Nol” (“Woman at Point Zero”), oleh Nawal El Saadawi
156 halaman, diterbitkan 2002 oleh Yayasan Obor Indonesia
My rating: ♥

Advertisements

Reuni Tsunami – Ita Sembiring

Reuni TsunamiReuni Tsunami by Ita Sembiring
My rating: 1 of 5 stars

Peringatan: review ini saya tulis dengan blak-blakan tanpa tedeng aling-aling!

Buku ini mungkin salah satu buku paling buruk yang pernah saya baca. Sebenarnya ide ceritanya cukup menarik walaupun njelimet dan tetap saja kurang masuk akal ala cerita sinetron. Buku ini saya temukan di tumpukan buku obralan dan saya tertarik ketika membaca sinopsis di bagian belakang buku yang berbunyi:

“Seperti karya-karya Ita Sembiring lainnya, Reuni Tsunami juga mencoba menangkap realitas yang terjadi di tanah airnya, Indonesia – meski penulis saat itu menetap di Roosendaal-Belanda. Jalinan cerita yang ditampilkannya hendak menangkap kegelisahan, kekalutan, kesedihan, bahkan keculasan yang terjadi ketika bencana tsunami melanda sebagian besar wilayah Aceh dan Sumatra Utara.

Lewat novel ini, Ita Sembiring mencoba secara spesifik mengangkat Pulau Nias sebagai setting cerita. Inilah novel yang penuh ekspresi dan emosi, serta sungguh berani memasuki isu-isu sensitif.”

Harus saya akui, apa yang disajikan dalam novel ini sangat jauh dari yang saya harapkan. Ini juga bukanlah karya pertama penulis jadi saya tidak tahu mengapa novel ini terkesan –maaf– seperti karya amatiran.

Berikut ini adalah apa yang saya temukan dalam novel ini.

1. Deskripsi setting kurang mendalam. Katanya setting dalam kisah ini adalah Pulau Nias, ternyata Pulau Nias tidak dijelaskan sedalam penulis menjelaskan Lugon de Sable, tempat pertanian anggur Chantal berada, dan Saint Emilion, kota penghasil wine terkenal di Prancis. Walaupun tentu saja kedua tempat itu pasti sangat eksotik, namun seharusnya tetap Indonesia yang ditonjolkan dalam kisah ini.

2. Terlalu banyak karakter, sehingga sekali lagi karakterisasi tidak mendalam sama sekali. Sifat satu tokoh protagonis dengan protagonis lainnya hampir tidak ada bedanya. Emosi tidak tergali dengan baik. Dan seakan-akan satu tokoh dan tokoh lainnya begitu gampang jatuh cinta.

3. Terlalu banyak tokoh bule dalam kisah ini. Kalau mau ada tokoh bule sebaiknya tidak lebih dari 2 orang, jikalau kisah ini mau mempertahankan ke-Indonesia-annya. Namun tidak demikian, dalam kisah ini ada Chantal, anak lelakinya Sardou, keponakannya Nigel, ada Duncan Bennett, dan Auguri McKendry.

4. Penggunaan bahasa pada dialog yang tak mungkin terjadi di dunia nyata. Contohnya seperti berikut:

“Masih ingat bagaimana malam-malam kau perkosa aku gara-gara kurang puas dengan ibu gendut itu? Sambil menggerayang paksa tak henti mulut kotormu menghina ibu gendut yang sudah memberi kau makan, memeliharamu sebagai pemuas seks, sekaligus anjing penjaga?”

Dialog diatas diucapkan seorang pelacur didepan orang banyak. Sekalipun seorang pelacur di dunia nyata hendak memaki orang yang pernah memerkosanya, saya kira kata-kata yang keluar tidak akan seperti diatas.

5. Penggunaan bahasa Inggris dengan grammar kacau. Bayangkan, adakah orang bule yang berkata, “Hey, what’s happen here?” Grammar yang benar adalah “Hey, what happened here?”. “Saved by the bell” bukannya “Save by the bell”. Saya heran mengapa yang seperti ini lolos proses editing. Semua kata dalam bahasa Inggris dan Prancis yang ada dalam novel ini tidak ada yang diset dengan font italic.

6. Penulis memulai setiap bab dengan puisi pendek, dan dari 14 bab dalam novel ini ada 11 bab yang diawali kutipan dari Alkitab Perjanjian Lama tanpa menyebut sumbernya. (!) Berikut ini ayat-ayat Perjanjian Lama yang dikutip penulis.

Bab 3 – Yesaya 5:20

Bab 4 – Yeremia 2:2

Bab 5 – Yeremia 8:4

Bab 6 – Yeremia 8:15

Bab 7 – Yesaya 48:6-7

Bab 8 – Yeremia 9:1. Pada pendahuluan bab ini bahkan penulis memotong ayat yang dikutip. Di buku tertulis “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangis.”

Sementara Yeremia 9:1 sesungguhnya berbunyi, “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangisi orang-orang puteri bangsaku yang terbunuh!”

Bab 9 – Yesaya 5:12

Bab 10 – Yesaya 3:24

Bab 11 – Kidung Agung 5:3

Bab 12 – Kidung Agung 5:9

Bab 13 – Yeremia 9:10

Saya tidak tahu apakah yang seperti ini bisa dikategorikan plagiat, karena mengutip tanpa mencantumkan sumbernya. Saya tidak tahu mengapa editor meloloskan hal ini. Saya juga tidak tahu menahu tentang keyakinan yang dianut penulis sampai ia berani memotong kutipan ayat kitab suci. Yang saya tahu ini tidak benar dan ini merupakan kesalahan fatal.

7. Ada dua kejanggalan yang amat ketara yang saya temukan. Yang pertama di halaman 171, ketika Mellisa bertemu dengan Gundari, perempuan Indonesia di Prancis. Awalnya dijelaskan bahwa Gundari serta suami dan anaknya selamat dari bencana tsunami karena mereka pergi ke Pematang Siantar. Kemudian Gundari mengatakan bahwa ia sudah lama menetap di Prancis, menikah dengan orang Prancis dan punya anak satu. Nah, yang mana yang benar? Apakah suaminya yang pertama meninggal sehingga ia menikahi orang Prancis?

8. Kejanggalan yang kedua, dan ini merupakan puncak kejengkelan saya terhadap novel ini. Pada hal 181 dikisahkan awal pertemuan Chantal dan Pagoh di kapal pesiar. Pagoh berkata, “Kupikir tadi diriku Leonardo di Caprio, jatuh cinta dengan Kate Winslet di kapal Titanic.”

Tsunami terjadi tahun 2004. Sedangkan film Titanic yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet keluar pada tahun 1997. Di hal 69 dijelaskan bahwa masa “kini” dalam kisah adalah 29,5 tahun setelah Pagoh meninggalkan tanah kelahirannya. Umur Sardou, anak Chantal dan Pagoh ketika disapu tsunami kira-kira pertengahan duapuluhan. Bagaimana mungkin pada awal pertemuannya dengan Chantal, Pagoh menyebut-nyebut film Titanic sementara seharusnya setting waktunya sekitar tahun 1975 hingga 1980?

Satu-satunya hal positif mengenai buku ini adalah buku ini membuat “ketajaman” saya sebagai pembaca terasah.

View all my reviews

Paperback, 198 pages
Published 2007 by Gramedia Widiasarana Indonesia