BBI Share the Love 2017: Kenalan dengan Athaya Irfan

bbi-share-the-loveHola!

Maafkan untuk post yang agak terlambat ini. Untuk meramaikan Hari Kasih Sayang sekaligus International Book Giving Day 14 Februari kemarin, saya mengikuti event yang diadakan BBI yang bertajuk BBI Share the Love 2017.

Konsepnya menarik, karena masing-masing anggota BBI yang mengikuti event ini dipertemukan dengan “pasangan” yang nantinya akan mengisi guest post di blognya. Menariknya, dua orang ini hampir bisa dipastikan memiliki selera baca yang berbeda. Selain itu, di akhir event mereka juga saling bertukar kado buku.

“Pasangan” saya adalah Athaya Irfan, yang blognya bisa kamu kunjungi di http://theboochconsultant.blogspot.com/. Sebelumnya Aya pernah memenangi salah satu giveaway yang saya adakan setahun lalu di Instagram, namun baru sekarang melalui event BBI Share the Love ini saya bisa mengenalnya lebih dekat. Saya masih ingat kegembiraannya waktu memenangkan buku To Kill a Mockingbird, dan ternyata ketika paketnya datang dia merasa kaget dan senang karena saya kasih hadiah tambahan berupa crochet bookmark yang cantik.

Dari akun Instagram Athaya – yang sudah lama nggak diisi update terbaru, kenapa ya?

Siapa sih, seorang Athaya Irfan? Berikut ini perkenalan cewek manis berhijab (dan masih single, lho!) yang menyukai genre Fantasy, Thriller, YA, dan Contemporary Romance ini. Kebanyakan memang saya copas dari percakapan di WA, karena Aya sendiri sudah menceritakan tentang dirinya begitu rupa sehingga saya nggak perlu repot-repot menyusun ulang hasil pembicaraan, hehehe.

aya-hans

Alkisah 19 tahun yg lalu, lahir anak perempuan bernama Athaya Irfan.

Lahir dari seorang ibu yg ngidam jeruk mandarin namun tidak dibelikan oleh suaminya.

Ia tumbuh mnjadi gadis tomboi, karena pengaruh kakak2 sepupunya. Setelah beberapa waktu tinggal di Semarang, ia kembali ke Jakarta dan memiliki satu orang adik laki-laki yang lahir ditengah ajang Piala Dunia di bulan Juni.

Athaya sekarang masih kuliah semester 2. Bapaknya berharap ia ambil jurusan Akuntansi dan kerja perbankan, tapi akhirnya ia mengambil jurusan yg belajar bumi dan seisinya, yaitu Pendidikan Geografi.

Aslinya Athaya ini pendiam bgt, makanya suka nulis, dan paling suka baca buku sambil mandangin hujan.

Hobinya baca buku kalo senggang, nonton film animasi dan mengoleksi potongan komik/artikel di koran. Biasanya yang bertema seni fotografi, destinasi negara , mural, seni graphic lainnya yang abstrak, dan kadang puisi di koran mingguan.

 

Itu perkenalan yang Aya tuliskan sendiri. Nah, setelah ubek-ubek blognya, walaupun genre preference kami berbeda, saya menemukan ada beberapa kesamaan antara saya dan Athaya:

  1. Nggak suka baca buku diselingi aktivitas lain, misal makan, nonton tv, masak, push up atau angkat beban. -> Sama nih, walau nggak pernah kepikiran baca buku sambil push up atau angkat beban, hahahaha. Saya juga nggak suka baca buku sambil dengerin musik, karena buntut-buntutnya malah pengen nyanyi dan hilanglah konsentrasi membaca.
  2. Sangat suka dengan buku-buku yang menyisipkan data sejarah di dalamnya -> Sama! Saya juga demen sama historical fiction, sebenarnya ingin memperbanyak baca buku-buku sejarah juga, tapi sayangnya banyak buku sejarah yang bikin ngantuk 😛
  3. Buku klasik pertama yang dibaca adalah Secret Garden. Masih ingat banget kalau buku ini punya logo mawar mewah di bawahnya yang jadi ciri khas Gramedia untuk beberapa buku tertentu saat itu. Dan sayang sekali lini buku seperti ini sudah sulit ditemukan. -> The Secret Garden bukan buku klasik pertama yang saya baca, tapi salah satu buku klasik favorit saya. Dan betul, karena sekarang bukunya sudah langka, maka jadi semacam “harta karun” di rak yang bisa membuat iri beberapa orang, hihihi.

Oya, kamu juga bisa kepoin cuitan-cuitan Athaya di akun Twitternya: @JerukNipisAnget.

Nah, segitu dulu postingan pembuka BBI Share the Love 2017 sekaligus perkenalan teman baru saya Athaya Irfan. Nantikan postingan selanjutnya yang akan mengambil tema genre-genre buku yang paling disukai Aya: Fantasy, Thriller, YA, dan Contemporary Romance!

Rumah Kertas – Carlos María Domínguez

rumah-kertasSatu kata yang paling pas untuk menggambarkan novella yang hanya setebal 76 halaman ini adalah: Gila. Sinting. Edan. Crazy. Insane. Complete & utter madness. You name it lah…

Buku ini memang tentang orang-orang yang gila. Lebih spesifik lagi; gila buku. Tentang para kolektor buku dan pelahap bacaan yang rakus, yang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membangun ‘kerajaan’ berupa perpustakaan pribadi. Tentang kecemasan mereka yang sudah mengumpulkan begitu banyak buku sehingga tidak tahu lagi mau disimpan dimana buku-buku tersebut. (Don’t I know it!). Tentang sulitnya merawat dan memelihara koleksi buku, ketika jumlahnya sudah bukan lagi sebuah kebanggaan, tetapi mulai menjadi beban. Tentang terbatasnya waktu untuk membaca–padahal waktu-waktu menyepi bersama buku itulah yang paling dirindukan para pecinta buku.

Sekarang saya masuk ke bagian yang ‘gila’. Buku ini bercerita tentang Bluma Lennon, seorang dosen Universitas Cambridge yang meninggal tertabrak mobil, saat sedang asyik membaca buku kumpulan puisi Emily Dickinson. Tentang rekannya yang menerima paket yang dialamatkan kepada Bluma, yang berisi sebuah buku terjemahan Spanyol karya Joseph Conrad, yang dipenuhi serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Tentang penyelidikan yang dilakukan oleh sang rekan, yang membawa dia bertemu orang-orang gila buku lainnya, menelusuri kebiasaan-kebiasaan para bibliofil mulai yang normal hingga yang di luar batas kewajaran, dan menguak kebenaran mengerikan di balik misteri buku Joseph Conrad yang bersalut serpihan semen kering.

Rasanya saya sudah cukup mengungkapkan alasan mengapa buku ini layak dibaca. Bila perlu alasan lain:

1. Buku tentang buku selalu menarik untuk disimak.
2. Mungkin kita tidak akan pernah tahu keberadaan buku ini, boro-boro membacanya, jika tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Karena, saya pernah membaca bahwa Uruguay adalah negara paling kecil kedua di Amerika Selatan. Versi terjemahan buku ini belum lama terbit (September 2016 lalu) dan relatif gampang menemukannya di toko-toko buku terdekat.

Detail buku:
Rumah Kertas (judul asli: La casa de papel), oleh Carlos María Domínguez
76 halaman, diterbitkan 2016 oleh Marjin Kiri
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

tolstoyBuku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

Detail buku:
How Much Land Does A Man Need?, oleh Leo Tolstoy
64 halaman, diterbitkan 2015 oleh Penguin Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Selamat Hari Blogger Nasional!

Walau terlambat beberapa hari, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Blogger Nasional!

Ya, tanggal 27 Oktober dicanangkan menjadi Hari Blogger Nasional sejak tahun 2007 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Bapak Muhammad Nuh.

Di akhir bulan Oktober 2016 ini juga, kebetulan blog Surgabukuku telah mencapai milestone 500.000 views, setelah hampir 6 tahun! 🙂 Yah, untuk blog yang frekuensi update-nya tidak teratur, bagi saya pencapaian ini cukup menggembirakan. Artinya, walaupun jarang ada post baru, post-post lama saya masih bisa berguna dan dinikmati oleh pembaca. Terima kasih kepada semua pembaca Surgabukuku! ♥

surgabukuku-500k

Surgabukuku Top 10 Posts (per 31 Oktober 2016, 2:42 PM):

surgabukuku-top-5

Dari kegiatan book blogging yang sederhana ini saya bisa bertemu dengan banyak orang dari dunia perbukuan, mulai dari sesama blogger buku (khususnya yang tergabung dalam Blogger Buku Indonesia/BBI), penulis, penerbit, sampai orang-orang yang bergerak di bidang literasi. Mungkin karena itulah juga salah seorang kawan meminta saya untuk menjadi salah satu pembicara dalam event diskusi literasi dalam acara Literaturia, 2 Oktober 2016 yang lalu. (baca artikelnya di sini) Walaupun secara pribadi saya merasa apa yang saya bagikan di acara tersebut masih jauh dari maksimal, tapi semoga masih bisa bermanfaat dan menginspirasi teman-teman yang sudah jauh-jauh datang ke acara tersebut.

Bagi saya, kegiatan blogging (khususnya tentang buku) menjadi pintu gerbang untuk cita-cita yang lebih besar: meningkatkan minat baca orang Indonesia. Wow, kelihatannya muluk-muluk banget ya. Tapi bukan mustahil terjadi lho, sekecil apapun aksi yang kita lakukan pasti ada dampaknya. Karena itu, saya ingin bilang kepada semua pegiat literasi di luar sana, baik yang bekerja secara online maupun offline: jangan patah semangat! Kerja keras kalian pasti ada buahnya suatu hari nanti.

Let’s get to work!

LPM: Literaturia, Surabaya 2 Oktober 2016

Selamat pagi BBI-ers,

Pernah ikutan festival literatur, baik lokal maupun internasional? 😀 Saya sih jarang, haha. Kadang karena di Surabaya sendiri, acara literatur semacam ini jarang dan jaraknya cukup jauh dari rumah saya, dan bikin saya malas berangkat.

Kalian mengenali salah satu pembicara pada poster diatas? Pada tanggal 2 Oktober 2016 kemarin, Kak Melisa Mariani, pemilik blog Surgabukuku, diundang menjadi pembicara pada Literaturia. Literaturia mengusung tagline “The first, biggest, and most diverting literary event in Surabaya”. Di acara ini, Kak Melisa menjadi perwakilan BBI sebagai komunitas perbukuan dan penggemar baca.

Anyway. Dari BBI Surabaya, sayangnya hanya saya yang bisa datang, padahal menurut saya acara ini cukup kece dan menginspirasi. Literaturia digagas oleh grup Surabaya Youth, dan mengusung beberapa jenis acara. Mulai dari coaching class mengenai menulis, Chatterbus bersama Bernard Batubara, baca puisi, dan juga music performance (menurut saya DJ-nya yang ngeremix My Way ganteng sih…) #jadisalahfokus Saya juga hanya berkesempatan mengintip kelas Drop-A-Line bersama Hipwee dan Di-sku-shion yang diadakan sore hari.

Selain Kak Mel, ada beberapa tamu lain sebagai narasumber yaitu Mutia Prawitasari, penulis Teman Imaji, Ivana Kurniawati perwakilan dari Pecandu Buku, dan Akhyari Hananto dari Good News from Indonesia. Dimoderatori oleh Kak Hasan Askari, acara ini berlangsung hangat dengan format diskusi bersama peserta.

Di-sku-shion mengangkat tema dunia perbukuan dan peran komunitas perbukuan dalam masyarakat. Selain itu, disinggung juga mengenai Surabaya sebagai Kota Literasi. Ada banyak cerita menarik dari para narasumber. Mulai dari pengalaman suka dan duka Pecandu Buku yang menyediakan lapak baca di Surabaya. Kisah-kisah pembaca dan juga pengalaman Kak Akhyari di luar negeri, yang jadi membuka mata saya betapa mundurnya negara kita ini. Dari penulis Kak Mutia, ada cerita mengenai penulis-penulis yang ingin terkenal secara instan sehingga buku-bukunya tidak mengikuti proses penerbitan yang benar, dan kondisi kualitas literatur Indonesia saat ini, yang menurut saya sendiri memang memprihatinkan. Kak Mel sendiri bercerita mengenai suka duka menjadi blogger buku.

Ada banyak kendala mengapa literatur dan budaya kita masih tidak berubah. Salah satunya adalah regulasi dan instruksi pemerintah tanpa adanya tindakan langsung dari pemerintah. Ada juga sentilan mengenai sikap pemerintah yang plinplan dan cenderung membiarkan. Pegiat kegiatan semacam ini memang kurang mendapat support dari pemerintah, terbukti dari cerita Kak Ivana kalau Pecandu Buku sering kena gusur. Masyarakat sendiri masih tidak membudayakan bercerita dan membaca yang baik, lagi-lagi terbukti dari banyaknya acara televisi yang tidak mendidik, budaya membajak dan minta gratisan, membicarakan sisi negatif dari sebuah kejadian saja dan tidak berfokus pada sisi positif, dan menjadikan berita-berita jelek (bahkan hoax) viral. Hal-hal ini dianggap menghambat kemajuan bangsa kita.

Kak Mel sedang menceritakan bagaimana buku dapat mengubah cara pandang seseorang

 

Dari diskusi ini juga ada definisi literasi yang menarik menurut para narasumber. Literasi adalah sesuatu yang mencerahkan, membuat kita merasa dan mendaya guna, serta sesuatu yang berproses dalam keberadaannya. Literasi tidak hanya tentang buku, tapi juga berbagai hal yang mengelilingi buku itu sendiri seperti pembaca, penulis, kritikus, dan lain-lain. Saya sendiri setuju dengan definisi ini. Dan saya juga berpendapat Indonesia memiliki banyak sekali PR untuk meningkatkan kualitas literasi, termasuk mengubah pola pemberian informasi sehingga lebih positif 🙂
Semoga kedepannya, kita bisa semakin memajukan dunia literasi di Indonesia dengan hal-hal yang positif, bermutu, dan bermanfaat. Because literacy and books can, literally, change our lives and our mindsets.
Kiri ke Kanan: Hasan Askari, Akhyari Hananto, Melisa Mariani, Mutia Prawitasari, Ivana Kurniawati
Sekian LPM dari saya. Karena saya bikinnya agak buru-buru, maafkan kesalahan dalam penulisan dan juga tata bahasa yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan EYD.
-Nina Ridyananda, The Bookaddict Diaries

Bacaan Liburan Campur Aduk a la Surgabukuku (dan Mini-Reviews)

Banner Posbar 2016Hola!

Post ini dibuat dalam rangka ikutan event Posbar BBI bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday. Di bawah ini adalah daftar bacaan liburan (campur aduk) a la Surgabukuku. Kok campur aduk? Soalnya isinya buku dari macam-macam genre, mulai buku anak, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, sampai sastra klasik.

Ada 2 daftar dalam post ini, yang pertama adalah buku-buku yang pernah saya baca selama liburan (Read on Holiday(s)) dan yang kedua adalah buku-buku yang menurut saya cocok untuk dibaca selama liburan (Recommended Holiday Reads).

 Off we go!

Read on Holiday(s)

Flora & Ulysses: The Illuminated Adventures – Kate DiCamillo

Dibaca: 2 Juli 2016

Saya yakin banyak di antara teman-teman yang sudah tidak asing dengan karya-karya pengarang ini, misalnya The Miraculous Journey of Edward Tulane dan Because of Winn-Dixie. Nah, di buku Flora & Ulysses ini humornya yang lebih ditonjolkan oleh Tante Kate, bukan seperti di buku-buku lainnya yang biasanya menyentuh (baca: bikin mewek).

Tokoh utamanya adalah gadis kecil bernama Flora Belle Buckman, seorang cynic dan nerd yang sudah membaca sampai habis tiap seri komik berjudul Terrible Things Can Happen to You! Suatu hari, tetangga Flora membeli vacuum cleaner berkekuatan “super” yang dinamakan Ulysses 200X. Saking supernya, si vacuum cleaner menyeret Tootie si tetangga ke halaman luar, dan menyedot seekor tupai malang sampai setengah gundul. Eh ternyata, setelah tersedot vaccum cleaner tersebut, si tupai (yang akhirnya diselamatkan oleh Flora Belle dan dinamai Ulysses) jadi memiliki kekuatan super!

Ceritanya agak tak biasa bagi yang sudah familier dengan karya-karya Kate DiCamillo, tapi tetap menghibur, dan tetap ada nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan yang biasanya menjadi sorotan di dalam setiap bukunya. Dan ilustrasi di dalamnya membuat feel-nya seperti membaca novel dan komik dalam 1 buku.

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

Dibaca: 17 Juli 2016

Buku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

Classics for holiday reads? Why not? 😛 Toh buku ini berisi cerita pendek dan menurut saya termasuk ringan untuk dinikmati selama liburan. How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

i capture

I Capture the Castle – Dodie Smith

Dibaca: 22 Mei 2016

Termasuk novel coming-of-age klasik, buku ini menarik karena tokoh-tokohnya yaitu keluarga Mortmain, tinggal di sebuah istana. Bukan, mereka bukan keluarga bangsawan. Jangan bayangkan istana yang megah dengan lusinan pelayan, istana yang mereka tinggali adalah istana yang sudah lama diabaikan, dan malah ada bagian yang hanya tinggal puing-puing. Namun pemandangan di sekitar istana itu sangat indah, dan ada danau yang bisa direnangi saat musim panas. Setiap karakter di dalam novel ini sangat menarik dengan kekhasannya masing-masing, namun yang menjadi sentral adalah kakak-beradik Rose dan Cassandra. Rose yang tertua, paling cantik, dan sudah capek hidup miskin. Cassandra tidak secantik Rose, tapi dialah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang akan kita lihat jatuh cinta dan berkembang menjadi lebih dewasa. Suatu hari, keturunan dari pemilik istana yang mereka tinggali datang. Mereka adalah kakak beradik Simon dan Neil Cotton yang berasal dari Amerika, dan Rose langsung melihat Simon sebagai kesempatan untuk keluar dari hidup keluarganya yang miskin. Sulit meringkas plot novel ini dalam satu paragraf karena untuk novel yang termasuk dalam genre young adult, cerita novel ini cukup kompleks. Namun ada banyak bagian yang menghibur, misalnya ketika Rose dan Cassandra dikejar-kejar karena dikira beruang, padahal mereka hanya mengenakan mantel bulu beruang warisan bibi mereka yang nyentrik. Walaupun saya agak merasa meh dengan endingnya, saya cukup menikmati novel ini, apalagi deskripsi keindahan alamnya yang khas Inggris bikin cocok banget untuk dibaca dalam suasana liburan.

pohon2 sesawi

Pohon-pohon Sesawi – Y.B. Mangunwijaya

Dibaca: 23 Desember 2015

Walaupun disebut sebagai novel, buku yang sesungguhnya berisi beberapa naskah milik Romo Mangun yang tercerai-berai ini lebih terasa seperti kumpulan cerita. Melalui tangan Joko Pinurbo dan Tri Kushardini-lah naskah-naskah ini disunting hingga bisa menjadi buku yang enak dibaca. Saya tadinya agak takut membaca karya Romo Mangun karena takut isinya terlalu “teologis” tapi ternyata ketakutan saya sama sekali tidak terbukti, malah saya sangat menikmati buku yang termasuk out-of-my-comfort-zone ini. Dalam buku ini Romo Mangun menceritakan suka duka kehidupan sebagai Romo di paroki, dengan gaya jenaka yang bisa membuat pembaca terbahak-bahak. Banyak istilah Katolik yang bisa jadi membingungkan pembaca non-Katolik, tapi saya rasa buku ini bisa dibaca semua kalangan (yang berpikiran terbuka). 🙂

Recommended Holiday Reads

Tidak Ada New York Hari Ini – M. Aan Mansyur

Oke, buku ini mungkin adalah buku puisi paling kekinian saat ini. Tapi serius, jika untuk liburan kamu ingin membawa buku yang tipis, gampang dan cepat dibaca maka buku ini pilihan yang tepat. Apalagi jika kamu bepergian dengan kereta atau berjalan-jalan di kota besar (tidak harus New York), foto-foto di dalam buku ini cocok banget untuk menemani liburanmu.

The Penderwicks at Point Mouette – Jeanne Birdsall

Seri The Penderwicks adalah seri buku anak dengan tokoh utama 4 bersaudari: Rosalind, Skye, Jane, dan Batty dan anjing mereka, Hound. Dari keempat buku yang sudah terbit (saya belum membaca buku ke-4), menurut saya yang paling cocok dibaca saat liburan adalah buku ke-3, The Penderwicks at Point Mouette. Ceritanya, Skye, Jane dan Batty berlibur di pantai di Maine dengan bibi Claire dan sahabat mereka Jeffrey, tanpa kehadiran Rosalind saudari mereka yang tertua. Otomatis Skye-lah yang menjadi OAP (oldest available Penderwick) yang bertanggung jawab atas saudari-saudarinya yang lebih muda. Selain usaha keras Skye agar semuanya under control, pembaca juga akan diberi kejutan melalui perkembangan cerita untuk karakter Jeffrey. Selain seri Harry Potter dan Narnia, seri The Penderwicks ini adalah buku anak yang paling saya sukai.

The Penderwicks (buku #1) pernah saya review di sini.

And Then There Were None – Agatha Christie

Bayangkan kamu diundang berlibur ke suatu pulau terpencil bersama 9 orang lainnya, lalu satu demi satu mereka terbunuh dengan mengerikan. Hehehe, semoga jangan pernah terjadi beneran ya, serem. 😄 Nah, jika kamu ingin sedikit ketegangan untuk spice up your holiday, maka buku inilah jawabannya. Buku ini akan bikin kamu jantungan menebak-nebak siapa yang akan mati berikutnya dan siapa pembunuhnya. Tapi tolong jangan buka halaman terakhir sebelum saatnya tiba ya!

And Then There Were None pernah saya review di sini.


Okeeeee, kali berikutnya kamu pergi liburan, mungkin satu atau dua buku dari tujuh buku di atas bisa jadi pilihanmu untuk bacaan liburan. Ciao!

Wishful Wednesday (31)

wishful-wednesday1Okeeee saya tahu ini hari Kamis, tapi karena kemarin saya cuti dan nggak sempat buka laptop, maka ijinkan saya posting Wishful Wednesday hari ini ya.

Meme Wishful Wednesday ini ternyata udah masuk post yang ke-200, lho. Woah, congratulations! Siapa tau saya kecipratan hoki bisa dapet giveaway dalam rangka WW ke-200 ini, jadi berikut ini buku yang jadi wishlist saya:

cinta semanis racun

Foto: Penerbit Diva Press

Sinopsis (dari Goodreads.com):

Antologi ini memuat 99 cerpen terjemahan karya 99 pengarang terkemuka dari pelbagai penjuru dunia dan zaman, dari sastrawan klasik semacam Leo Tolstoy hingga pengarang masa kini berusia awal 40-an serupa Liliana Blum. Lebih dari dua per tiganya, tepatnya 74 di antara 99 cerpen, pernah dipublikasikan sebelumnya di 20 media cetak nasional dan daerah.

Dalam antologi ini, kita bisa membaca pula jejak pencapaian para pengarang terkemuka di berbagai belahan dunia dan zaman. Dari para empu Eropa seperti Anton Chekov, Fyodor Dostoyevsky, Emile Zola, James Joyce, dan Franz Kafka hingga para maestro Amerika Latin semacam Jorge Luis Borges, Jorge Cortazar, Carlos Fuentes, Isabel Allende, dan Roberto Bolano. Tak ketinggalan juga para kampiun Nobel Sastra serupa Gabriel Garcia Marquez, Octavio Paz, Nadine Gordimer, Gao Xingjian, dan Mo Yan. Suara-suara utama masa kini dalam pentas sastra dunia antara lain diwakili oleh Horacio Castellanos Moya (pengarang Honduras yang disebut-sebut World Literature Today layak meraih Nobel Sastra), Etgar Keret (penulis Israel yang menarik perhatian dunia), dan Haruki Murakami (novelis laris yang berkali-kali menjadi kandidat pemenang Nobel Sastra).

Aku segera menyelesaikan dinding itu. Kurapatkan batu terakhir pada tempatnya. Lalu aku merekatkannya dengan semen. Terakhir, aku menumpuk belulang menutupi dinding baru itu. Hingga setengah abad tak seorang pun mengusik mereka. Beristirahat dengan damai! –Anggur Amontillado, Edgar Allan Poe

632 halaman, hardcover. Dikuratori dan diterjemahkan oleh salah seorang penerjemah favorit saya. Banyak nama pengarang di dalamnya yang termasuk pengarang klasik. Jadi, nampaknya memang ini buku yang wajib saya koleksi, walaupun kemungkinan besar bakal ditimbun dulu enggak langsung dibaca sampai habis. Harga aslinya Rp 155.000, tapi jika preorder sampai dengan tanggal 18 Agustus 2016 (informasi preorder di link ini) bisa membeli buku ini dengan harga Rp 124.000 (masih diatas harga maksimal hadiah WW yak, nanti selisihnya aku ganti deh :D).

Semoga saya beruntung! 🙂

N.B.: kamu juga bisa ikutan Giveaway dalam rangka WW ke-200 ini, sampai dengan hari Senin, 25 Juli 2016. Cek informasi lengkapnya di sini.

Coloring Book for Adults: FANTASIA – Nicholas F. Chandrawienata

anti-stress-coloring-book-for-adults---fantasiaBukan untuk kali pertama saya menulis review buku mewarnai di blog ini, karena sebelumnya saya pernah mempost review Coloring Book for Adults: BATIK yang dihadiahkan oleh Secret Santa BBI pada akhir tahun 2015 yang lalu.

Nah kali ini, saya ingin mereview buku mewarnai terbitan dalam negeri yang berjudul FANTASIA. Fantasia ini merupakan buku mewarnai favorit saya sejauh ini (saya punya 7 buku mewarnai) dan karena itulah saya merasa ada yang kurang kalau saya belum menuliskan reviewnya, dan membagi kesenangan ini dengan teman-teman sekalian. 🙂

Mari simak Kata Pengantar dalam buku ini:

Semua perkembangan dan kemajuan yang dialami umat manusia berawal dari fantasi.

Fantasi adalah berkat yang diberikan Yang di Atas untuk semua umat manusia.

Sejak kecil kita berfantasi tentang makhluk-makhluk khayalan. Sampai akhirnya makhluk fantasi manusia seperti unicorn, peri, dan naga mendunia dan dikenal banyak orang.

Di dalam buku ini bisa Anda temukan berbagai makhluk fantasi seperti burung phoenix, chimaera, sampai kurcaci. Saya berharap buku ini bisa membantu untuk melepas stres, juga memberikan inspirasi kepada Anda.

Mari kita bersama membangkitkan lagi naluri untuk berfantasi seperti anak kecil. Karena dengan berfantasilah kita sebagai manusia bisa terus berkembang.

Mari berfantasi dan mewarnai!

Faktor utama yang membuat kamu harus punya buku ini adalah ilustrasi-ilustrasi keren karya Nicholas F. Chandrawienata (@nickfilbert) yang mengisi ke-64 halaman buku ini. Menurut saya, style gambarnya khas, garis-garisnya kuat, dan nggak kalah dengan hasil karya para illustrator luar negeri. Dan dari beberapa kali saya mengupload hasil mewarnai buku Fantasia di Instagram, ada beberapa orang (bukan orang Indonesia) yang menanyakan dimana bisa beli buku ini.

Covernya memang terlihat gahar, tapi sebenarnya isinya cukup beragam mulai dari ilustrasi-ilustrasi yang cenderung girlie seperti gambar peri, malaikat, putri duyung dan putri oriental, atau yang cenderung maskulin seperti gambar naga, dewa Zeus, dan bajak laut. Beberapa gambar lain berkesan seram, misalnya gambar scarecrow, tengkorak, dan anjing berkepala tiga. Gambar tiga burung hantu dan magician malah berkesan cute, dan Nick juga menyelipkan dua halaman bergambar Barong Bali dan Garuda sehingga ada sedikit cita rasa Indonesia di buku ini. Salah satu plusnya lagi, detail pada ilustrasi-ilustrasi di buku ini tidak terlalu kecil-kecil jelimet seperti di kebanyakan buku mewarnai, yang malah bisa membuat tambah stres bukannya mengusir stres. Ada beberapa halaman di mana sang illustrator mengajak pewarna untuk menambahkan detail, misalkan di gambar naga dan rusa jantan. Selain itu, kamu bebas berkreasi dan menambahkan detail sendiri jika mau.

Selanjutnya sneak peek beberapa halaman isi buku Fantasia bisa dilihat di gallery di bawah ini. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Ketebalan kertas cukup memadai untuk mewarnai dengan media pensil warna atau crayon, namun hati-hati jika menggunakan spidol/connector pens, pensil warna water soluble dan cat air, karena bisa tembus ke belakang. Perlu diketahui juga bahwa halaman-halaman di buku ini dilengkapi pattern yang memudahkan untuk menyobek halaman, namun bagi mereka yang tidak ingin menyobek halaman hal ini bisa jadi masalah.

Dan berikut ini adalah beberapa hasil mewarnai saya dari buku Fantasia. Ilustrasi-ilustrasi lainnya yang sudah diwarnai bisa kamu intip di Instagram dengan hashtag #fantasiacoloringbook dan #nickfilbert.

Nah, gimana, apakah review singkat dan gambar-gambar yang saya pamerkan sudah cukup membuatmu ingin mewarnai buku Fantasia juga? Mari berkreasi dengan warna dan jangan lupa pamerkan hasil karyamu! 😉

Tentang Ilustrator

Nicholas Filbert Chandrawienata memulai karier di dunia ilustrasi pada tahun 2013 dan kini telah mengerjakan proyek bergengsi di dalam dan luar negeri. Cover novel The Walled City karya Ryan Graudin yang versi terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama juga merupakan salah satu karya Nick. Pada tahun 2015 yang lalu Nick juga pernah menerbitkan mini art book bertajuk Serene yang hanya dicetak terbatas. Mari kita tunggu karya-karya Nick selanjutnya. 😉


Detail buku:

Anti-Stress: Coloring Book for Adults – FANTASIA, oleh Nicholas F. Chandrawienata
64 halaman (26×25 cm), diterbitkan Desember 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 

Belanja Buku Cepat dan Gampang di Belbuk.com

Walaupun saya hidup di kota besar yang punya banyak toko buku, saya lebih sering berbelanja buku secara online, bahkan hampir 90% buku-buku saya dibeli secara online baik di toko buku online dalam dan luar negeri, yang punya website resmi ataupun yang jualan dengan menggunakan akun Instagram dan Facebook.

Ada banyak sekali toko buku yang tersebar di dunia maya, dan salah satunya adalah belbuk.com, yang baru-baru ini memberi saya kesempatan untuk memberikan review toko buku online. Sebagai imbalannya, saya dapat voucher yang saya gunakan untuk membeli buku-buku seperti di bawah ini:

P_20160512_171212.jpg

Jpeg

Di saat kantong lagi bolong karena kebanyakan beli art supplies, voucher buku ini sungguh-sungguh membahagiakan! Terima kasih belbuk.com. #malahcurhat

Oke, berikut review toko buku online belbuk.com seperti yang sudah saya janjikan.

belbuk logo

Sebenarnya saya sudah menerima e-mail dari belbuk.com tanggal 29 April 2016, tapi karena kesibukan saya hanya membacanya sekilas lalu lupa mereply XD. Akhirnya e-mail tersebut saya reply pada tanggal 4 Mei, dan syukur penawarannya masih berlaku, hehehe. Saya akhirnya meluncur ke website belbuk.com dan melakukan pembelian hari itu juga.

Tampilan Website

belbuk 1

Simple dan rapi, bahkan boleh dibilang standard. Plusnya, karena tampilan yang standard itulah website belbuk.com loadingnya cepat, hal ini sesuai dengan mottonya Cukup Diklik Buku Tiba di Rumah. Saya mencoba akses dengan koneksi internet yang kurang stabil pun lancar tanpa kendala.

Di sidebar sebelah kiri ada kategori buku, dan di atasnya ada pilihan Buku, CD/DVD, ATK, dan Komputer. Sayangnya selain Buku, jenis produk yang ditawarkan di CD/DVD, ATK, dan Komputer tidak banyak. Selain itu di laman awal kita dapat melihat Buku Terbaru dan Buku Laris.

Proses Pencarian Buku

Cepat dan mudah, tinggal ketik judul buku yang diinginkan di kolom search yang terpampang lebar di bagian atas. Hasil pencarian akan terpampang di layar, yaitu judul buku, nama pengarang dan penerbit, kategori, harga, dan ada notifikasi dalam font merah jika persediaan habis. Menurut saya ini fitur yang sangat membantu karena mencegah calon pembeli di-PHP-in ketika sudah klik link bukunya, eh ternyata persediaan habis.

Proses Pemesanan

belbuk 2Sekali lagi, cepat dan mudah. Kalau masih bingung, tinggal klik Cara Pembelian. Setelah memasukkan semua buku yang ingin dibeli di Troli, total pembelian (sebelum ongkos kirim) dan total berat akan muncul. Pilihan metode pengiriman hanya ada 2 yaitu JNE Reguler dan NEX Logistics S3+ (Reguler Plus), sementara pilihan untuk pembayaran cukup banyak, antara lain dengan transfer bank BCA, Mandiri, BNI, BRI dan yang terakhir dengan Paypal. Saya senang ada opsi pembayaran dengan Paypal karena setahu saya belum banyak toko online di Indonesia yang menyediakan opsi pembayaran ini. Sebelum menyelesaikan pemesanan pembeli bisa meninjau kembali alamat pengiriman, rincian pesanan, metode pengiriman dan metode pembayaran.

Proses Pengiriman

Saya melakukan pemesanan pada tanggal 4 Mei, nah karena besoknya tanggal 5 sampai 8 Mei adalah long weekend dan belbuk.com hanya memproses pemesanan pada hari kerja Senin-Jumat, maka pesanan saya baru diproses pada hari Seninnya, tanggal 9 Mei. Rinciannya dapat dilihat di Riwayat Pesanan, dan status pengiriman dapat dilihat di Riwayat Status., yang cukup detail mulai dari Menunggu Pembayaran, Pembayaran Diterima hingga Dikirim. Paket dikirim keesokan harinya tanggal 10 Mei dan saya terima tanggal 12 Mei sore (menggunakan NEX Logistics).

Kebetulan dari 4 buku yang saya pesan, ada satu yang ternyata persediaannya habis, padahal pada saat saya masukkan ke troli tidak ada keterangan Persediaan Habis. Cukup sedih sih, karena buku itu termasuk wishlist yang paling saya pengenin 😦 (bukunya People of the Book – Geraldine Brooks, btw). Nilai pesanan yang persediaannya habis dikembalikan ke Saldo Akun (di dalam menu Akun Saya), dan bisa dipergunakan untuk pembelian selanjutnya atau ditarik (menu Ajukan Penarikan Dana).

Kesimpulan
  1. Tampilan website sederhana tapi bagi saya tidak masalah, malah menguntungkan karena aksesnya cepat.
  2. Kategori buku beragam dan pencarian buku dapat dilakukan dengan gampang
  3. Proses pemesanan cepat, ringkas dan mudah
  4. Pengiriman cepat sesuai yang dijanjikan tiba dalam 2-3 hari.
Usulan
  1. Kalau boleh packingnya pakai pelindung tambahan misalkan cardboard atau bubble wrap, tidak hanya kertas coklat dan plastik. Untungnya paket saya sampai tanpa penyok sedikitpun.
  2. Stok kalau bisa diupdate secara berkala, sehingga ketika pembeli memasukkan barang ke dalam troli, pembeli bisa yakin kalau semua produk yang dibelinya masih tersedia.
  3. Koleksi dilengkapi dengan buku-buku terbitan terbaru dan diskonnya ditambah dong, hehehe. Karena saya lihat hanya penerbit-penerbit tertentu saja yang ada diskonnya.

Overall, pelayanan belbuk.com memuaskan dan layak jadi pilihan bagi kamu yang suka berbelanja buku (lokal) secara online. Sekali lagi terima kasih kepada belbuk.com yang sudah memberi saya kesempatan untuk memberikan review toko buku online, dan semoga review ini bermanfaat.

Ciao!

Pengumuman Pemenang World Book Day+Birthday Giveaway

surgabukuku GA mar16

Halo! Sebelumnya saya minta maaf kalau pengumuman pemenang ini terlambat beberapa hari, karena weekend lalu saya sempat sakit lalu disambung kepadatan pekerjaan menjelang long weekend.

Terima kasih untuk semua partisipan World Book Day+Birthday Giveaway, maaf saya tidak bisa reply komentarnya satu-satu, tapi saya menghargai banget setiap komentar yang masuk, dan setiap orang yang sudah follow dan share! 🙂 Total entri yang masuk sejumlah 57 dan dari jumlah tersebut hanya 48 entri yang valid untuk masuk dalam pool undian penentuan pemenang. Beberapa entri yang gugur antara lain karena:

  1. Tidak memberikan link share / link tidak aktif
  2. Tidak memberi komentar di review buku di blog Surgabukuku
  3. Submit Google Form lebih dari 2x. Di post giveaway saya sudah mensyaratkan untuk submit Google Form sekali saja, namun ada beberapa yang submit 2x dengan alasan takut nggak masuk, maka saya maklumi. Tapi yang submit lebih dari 2x saya anggap gugur.

Nah, langsung saja berikut ini adalah 4 orang yang beruntung terpilih sebagai pemenang World Book Day+Birthday Giveaway (dari hasil undian dengan Random.org):

Hadiah 1 (To Kill a Mockingbird): Athaya Irf

Hadiah 2 (Kisah Dua Kota): Nina Ridyananda

Hadiah 3 (Dongeng Ketiga Belas): Dwi Setianto

Hadiah 4 (3 buku Agatha Christie): Didi Syaputra

Selamat bagi semua pemenang! Saya akan mengirim e-mail ke masing-masing pemenang dan wajib dibalas dengan mencantumkan data pengiriman paling lambat hari Senin, 28 Maret 2016 pukul 16:00 WIB, kalau tidak saya akan memilih pemenang baru. Oh ya, keputusan penentuan pemenang tidak bisa diganggu gugat. 🙂

Demikian post kali ini, selamat liburan bagi semuanya dan selamat Hari Jumat Agung bagi teman-teman yang merayakan!